Jaejoong menoleh lagi dan menatap Yunho dengan menantang, “Entah apa yang kau katakan tentang memberikan kebebasan padaku itu bohong, atau kau memang suka mengatur-atur dan menggangguku. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan kuharap kau tidak menggangguku.”
“Oke.”
Tatapan Yunho kepada Jaejoong terasa membakar di suasana hujan yang begitu
dingin, “Terserah, silahkan buat dirimu sendiri sakit, aku harap kau tidak
merepotkanku nantinya."
Namja
itu membalikkan badan, tetapi setelah beberapa langkah dia memutar tubuhnya
kembali dan menatap Jaejoong, “Setelah kau siap aku ingin bicara denganmu.”
“Tentang
apa?” Jaejoong mengernyitkan kening, mulai merasa terganggu dengan
interupsi-interupsi dari Yunho. Dia sedang ingin menikmati hujan dan namja itu
tampaknya selalu muncul di saat yang tidak tepat dan mengucapkan kata-kata yang
tidak tepat pula.
“Nanti,
ini mengenai ulang tahunmu yang ke dua puluh lima.”
salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim
Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep
with the Devil
©Shanty Agatha
Jaejoong tertegun. Ulang tahunnya yang ke dua puluh
lima sebentar lagi. Kenapa Yunho bisa
mengetahui detail hari ulang tahunnya? Jaejoong tertarik, tetapi dia akan
memuaskan Yunho kalau dia mengikuti Yunho untuk berbicara dengannya.
Jangan-jangan memang itu tujuan Yunho, supaya dia tidak berhujan-hujanan dan
mengikuti Yunho.
“Nanti aku akan menyusulmu kalau aku sudah puas
disini.”
Api menyala di mata Yunho, dan tampak jelas namja
itu mencoba menahan diri,
“Terserah, nanti temui aku di ruang kerjaku.”
suaranya lebih seperti geraman, kemudian membalikkan badan dengan marah.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah puas menikmati hujan, Jaejoong masuk ke
kamarnya untuk berganti pakaian dan makan malam. Dia sengaja tidak menemui
Yunho, lagipula sepertinya namja tadi hanya asal bicara ketika bilang ingin
berbicara tentang hari ulang tahunnya. Dan Jaejoong tidak yakin kalau Yunho
akan menunggunya. Namja itu sepertinya sangat sibuk dan punya banyak urusan.
“Kenapa kau tidak menemuiku di ruang kerjaku?”
suara di kegelapan itu mengagetkan Jaejoong. Dia menajamkan matanya dan melihat
Yunho duduk di sana, di keremangan kamarnya.
“Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa izin?” Jaejoong
berteriak kaget, tangannya meraba-raba saklar lampu di diniding, berusaha
menghilangkan kegelapan yang menyelubungi Yunho, karena namja itu tampak lebih
menyeramkan di antara cahaya yang remang-remang.
Jaejoong berhasil menyalakan lampu dan cahaya
itu langsung menyelubungi Yunho. Namja
itu duduk di sofanya, dengan santai, hanya memakai piyama sutera warna hitam
dan disebelah tangannya memegang gelas minuman. Jaejoong melirik ke botol wine
yang entah berasal dari mana, yang sepertinya sudah dituang Yunho selama
menunggunya. Apakah namja itu mabuk? Jantung jaejoong mulai berdegup. Dalam
keadaan sadar saja emosi Yunho sangat tidak mudah ditebak, apalagi dalam
kondisi mabuk.
“Apa yang kau lakukan disini Yun?”
Yunho mendengus dan menatap Jaejoong dengan tajam,
“Kau pikir apa? Aku menunggumu di ruang kerjaku dan kemudian menyadari bahwa
kau, dengan kepalamu yang keras kepala itu memutuskan untuk melawanku.”
Jaejoong mundur ke belakang, melirik pintu putih
itu, dan berusaha sedekat mungkin di sana, sehingga ketika Yunho bertindak di
luar batas dia bisa segera melarikan diri.
Yunho tersenyum melihat tingkah Jaejoong,
“Kau seperti kelinci ketakutan lagi Jae, apakah kau
takut aku akan melakukan sesuatu yang kejam? Seperti mencampurkan obat di
minumanmu, atau…melemparkanmu dari balkon lagi?” Yunho menyeringai, meletakkan
gelasnya dan berdiri, makin lama makin mendekati Jaejoong.
“Apakah kau mabuk Yun?” Jaejoong melirik ke arah
pintu, hanya butuh beberapa detik kalau Jaejoong ingin melarikan diri dari
Yunho. Dia pasti bisa melakukannya.
“Jung yunho tidak pernah mabuk,” Yunho melangkah
mendekat dengan tenang, seperti singa yang mengendap-endap mengincar mangsanya.
“Dan kau…Seharusnya kau mendengarkan apa yang kuperintahkan, Jae.”
Jaejoong tahu di situlah titiknya. Di situlah titik
Yunho kehilangan kesabarannya, karena itulah Jaejoong langsung melompat dan
mencoba melarikan diri ke pintu. Dia berhasil membuka pintu itu sedikit,
sebelum dengan gerakan lebih cepat dan tanpa suara, Yunho sudah ada
dibelakangnya, mendorong pintu itu menutup kembali sebelum sempat terbuka.
Yunho mendorongnya rapat ke pintu, dan dengan
terkejut Jaejoong bisa merasakan kejantanan Yunho yang mendesak keras di bagian
belakang tubuhnya. Dia ingin bergerak dan menghindar, tetapi ternyata Yunho
sudah menahannya di semua sisi.
Jaejoong ketakutan. Apakah dia akan dipaksa lagi?
Udara mulai terasa menyesakkan dan Jaejoong mulai terengah-engah.
“Aku tidak pernah bercinta sambil berdiri,” Yunho
berbisik di telinganya dengan bisikan panas yang membuat sekujur tubuh Jaejoong
menggelenyar, “Dan kau membuatku ingin melakukannya.”
Jaejoong terkesiap, mencoba meronta sekuat tenaga.
Tetapi percuma karena Yunho begitu kuatnya,
“Apakah kau akan memaksaku lagi, Jung?” Jaejoong
berteriak di tengah usahanya membebaskan diri, “Kalau iya, maka kau sudah
membuktikan kepadaku, kalau kau memang adalah namja bajingan yang hanya bisa
mendapatkan yeoja dari pemerkosaan.”
Kata-kata Jaejoong rupanya berhasil membuat
kesadaran Yunho kembali. Namja itu tertegun. Dan sedetik kemudian yang
melegakan, Yunho melepaskan Jaejoong,
“Sialan kau dasar yeoja!!” Yunho berbisik marah di
telinga Jaejoong dan meninggalkannya.
Sendirian, Jaejoong berusaha menyandarkan dirinya
di pintu, napasnya terengah-engah dan dia merasa lepas. Gairah Yunho ternyata
juga mempengaruhinya. Dan Jaejoong semakin takut akan tiba saatnya baginya,
menyerah ke dalam pelukan Yunho.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini hari Minggu, seharusnya menjadi hari
istirahat yang menyenangkan bagi semua orang. Tetapi emosi Yunho luar biasa
buruknya pagi itu dan menyebar ke seluruh penjuru rumah. Suasana rumah jadi
menegangkan. Seluruh pelayan berbicara sambil berbisik-bisik ketakutan,
membicarakan Tuan mereka yang marah-marah seharian ini.
Pagi tadi Yunho sudah membanting gelas di meja
hingga anggurnya berceceran menodai taplak meja yang berwarna putih, hanya
karena minumannya tidak cocok dengan seleranya, dia memanggil Changmin dan
membentaknya karena beberapa pengawal belum berjaga di gerbang depan. Bahkan
sekretaris dan pengatur keuangan rumah tangganya pun ikut kena semprot ketika
dia memeriksa laporan di ruang kerjanya tadi.
Sekarang semua orang saling bersembunyi berusaha
menghindari berurusan dengan tuan mereka yang begitu mengancam, seperti beruang
yang terluka.
Changmin masuk dengan hati-hati ke ruang kerja
Yunho,
“Ada apa?”
“Baju-baju untuk Nona Jaejoong sudah datang.”
“Bagus.”
“Apakah kita harus memesan pakaian sebanyak itu?
Bukankah tuan sendiri bilang tidak akan menahan Jaejoong lebih lama?”
“Tutup mulutmu Changmin!” Yunho menggeram, “Biarkan
aku mengurus apa yang menjadi urusanku sendiri!”
Changmin mengangguk, menyadari bahwa tuannya sudah
hampir meledak marah dan memilih pergi daripada terkena dampratannya seperti
pagi tadi.
Yunho berdiri mondar-mandir di ruangannya, kemudian
berhenti dan menuangkan segelas vodka murni untuk dirinya sendiri. Dia
meneguknya, dan cairan putih itu serasa begitu membakar di ternggorokannya.
Tubuhnya begitu bergairah. Mengingat sekian lama
dia menahan diri. Dia bisa saja melampiaskan gairahnya kepada yeoja-yeoja yang
memujanya dan pasti bersedia melakukan apapun untuknya. Tetapi dia tidak ingin
sembarang yeoja, dia ingin Jaejoong. Sialan! Kenapa pikirannya terus-menerus
tertuju kepada yeoja itu?
Dengan rasa frustrasi yang masih memenuhinya, ia
melangkah panjang-panjang ke arah kamar Jaejoong, membuka kamar itu tanpa
permisi, dan menemukan Jaejoong ada di kamar.
Hyunjoong ada di sana, memamerkan baju-baju pesanan
yang baru datang untuk Jaejoong, sedangkan yeoja itu hanya duduk di sana,
menatap pakaian-pakaian mahal itu dengan bosan.
Hyunjoong langsung menghentikan kegiatannya dan
meminta izin keluar begitu Yunho masuk dengan wajah muram.
“Kau menyukai pakaian-pakaian itu?
“Apakah pendapatku penting?”
Yunho menatap Jaejoong marah, “Apa maksudmu?”
“Bukankah dirumah ini apa yang diinginkan Jung
yunho bagaikan perintah raja yang harus dituruti? Aku melihat sendiri bagaimana
orang-orang hilir mudik, panik seharian mengatasi sikap marah-marahmu yang tak
ada habisnya itu.”
“Oh ya? Dan kau pikir itu karena siapa?”
Jaejoong menegakkan dagunya menantang, “Karena
siapa?”
“Karena kau, dasar yeoja kecil keras kepala!”
Jaejoong mengernyit marah,
“Dan apa yang kulakukan padamu wahai tuan Jung yang
baik hati?”
“Kau selalu menantangku hingga aku harus menahan
diri di batas kesabaranku, sikapmu itu membuatku muak!”
“Kau pikir aku harus bagaimana Jung? Kau musuhku,
meskipun sekarang aku memutuskan sedikit bekerjasama dengan tidak mencoba
kabur, kau tetap musuhku. Dan ketika aku merasa keadaan sudah baik, aku tetap
menuntut dibebaskan.”
“Selalu ke arah itu,” gumam Yunho kesal, “Aku masih
belum ingin membahasnya,” namja itu menatap Jaejoong tajam, “Aku memintamu
melakukan sesuatu untukku.”
Jaejoong mengangkat alisnya, tertarik, Yunho tidak
pernah meminta sesuatu. Namja itu terbiasa memerintah lalu ketika itu tidak
dituruti, dia akan memaksakan apapun yang diinginkannya.
“Ya aku memintamu menghilangkan rasa permusuhanmu
itu dan mencoba menerimaku sebagai kekasihmu.”
Jaejoong melangkah mundur tanpa sadar, “Menerimamu
sebagai apa…? Nun Micheosso?”
“Hmm…. Aku bahkan punya rencana yang lebih gila dari
itu, lebih daripada yang bisa kau bayangkan,
kau akan tahu nanti,” matanya menatap Jaejoong penuh rahasia, “Tapi yang
pasti, gairah di antara kita begitu membara dan aku tidak munafik mengakuinya
di depanmu, aku selalu terangsang ketika melihatmu. Aku terangsang ketika
membayangkanmu, aku ingin menidurimu setiap waktu.”
“Hentikan kata-kata vulgarmu itu!!!” Jaejoong
berteriak ingin menutup telinganya yang terasa panas.
Yunho terkekeh, “Mungkin kau perlu merasakan
sendiri, bagaimana aku tergila-gila pada tubuhmu,” Namja itu meraih Jaejoong ke dalam pelukannya
dengan lembut, dan langsung melumat bibirnya.. Yunho melumat seluruh bibir
Jaejoong, dan kemudian lidahnya masuk, menjelajahi lidah Jaejoong, bertautan
dengan lidah Jaejoong dan kemudian menjelajahi seluruh diri Jaejoong, bibirnya
bergerak melumat bibir Jaejoong tanpa ampun. Namja itu begitu bergairah tetapi
tetap bersalut kelembutan, dan sejenak Jaejoong terhanyut dalam ciuman yang
luar biasa itu, sampai kemudian dia merasakan kejantanan Yunho yang begitu
keras kembali menekan tubuhnya.
Dengan napas terengah-engah Jaejoong melepaskan
dirinya dari pelukan Yunho,
“Jae.. sudah siap untukku,” mata Yunho menyala
penuh gairah, “Kenapa kau tidak mau mengakuinya dan kita berhenti saling
menyiksa seperti ini?”
“Aku tidak menginginkanmu sebagai kekasihku dan aku
tidak siap untuk apapun yang berhubungan denganmu.” Bantah Jaejoong keras.
Yunho menyipitkan mata, menatap Jaejoong dengan
tatapan menuduh,
“Oh ya? Tadi kau hanyut dalam ciumanku, bibirmu
panas dan melembut untukku, siap menerimaku.”
Siapa yang tidak menginginkan namja yang luar biasa
tampan ini? Semua yeoja pasti bermimpi bisa ada di dalam pelukannya, semua
pasti membayangkan bagaimana kalau namja sekejam Yunho berperilaku lembut. Oh,
Jaejoong pernah merasakannya, beberapa kali malahan, dan ingatan tentang hal
itu membuat tubuhnya memanas
“Kau adalah pembunuh orangtuaku,” Jaejoong menatap
Yunho dengan penuh kebencian, “Dan bagiku itu adalah dosa tak termaafkan, aku
akan selalu menyalahkanmu atas hal itu.”
Tertegun sejenak, lalu Yunho mundur selangkah
dengan begitu dingin,
“Oke.”
Dan ketika Jaejoong mengangkat kepalanya, Yunho
sudah keluar dari ruangan itu. Jaejoong menghembuskan nafas panjang. Apakah dia
salah? Tetapi bukankah semua yang dilakukan Yunho atas dasar nafsu? Namja itu
jelas-jelas bergairah kepadanya dan menginginkannya. Tetapi setelah itu apa?
Jaejoong tidak mau jatuh dalam jerat rayuan Yunho seperti yeoja murahan.
Seperti para kekasih Yunho yang dicampakkan begitu saja setelah namja itu puas.
Setidaknya meskipun dia gagal membalaskan dendamnya, dia bisa pergi dari
kehidupan Yunho dengan penuh harga diri.
.
.
.
.
.
.
.
Yunho berdiri malam itu di tengah taman di depan
rumahnya, berharap udara dingin bisa meredakan gairahnya yang membuat tubuhnya
begitu panas. Ditatapnya jendela kamar Jaejoong di lantai dua.
Jendela itu terbuka, dan cahaya temaram memantul
dari sana, tampak begitu jelas. Yunho menatap jendela itu dengan frustrasi. Yeoja
itu ada di sana dan Yunho seharusnya bisa dengan mudah memilikinya. Tetapi
sikap yeoja itu seolah-olah membuatnya merasa menjadi bajingan menjijikkan
kalau dia sampai memaksakan kehendaknya kepada Jaejoong.
Yunho tertegun ketika melihat bayangan Jaejoong
terpantul dari kamar. Sepertinya Jaejoong berdiri dekat lampu tidur di samping
ranjangnya, karena bayangannya muncul dari gorden jendela bagaikan siluet gelap
yang erotis.
Jaejoong tampak sedang berjalan mondar-mandir di
kamarnya, dan Yunho menatapnya dengan penuh minat. Lalu yeoja itu membuat
gerakan membuka bajunya. Yunho menelan ludah, melirik ke sekelilingnya yang
sepi, mulai merasa tidak nyaman karena membuat dirinya seperti seorang
pengintip mesum yang mengintip siluet yeoja berganti baju dengan penuh gairah.
Siluet Jaejoong melepas kemejanya, dan tubuh bagian
atasnya yang polos terpantul dalam bayangan gelap dengan bentuk tubuh yang
menggoda. Lalu...Sialan! Yunho mulai mengumpat ketika bayangan Jaejoong di
jendela membuat gerakan mengangkat salah
satu kakinya ke ranjang dan tampaknya melepas celana panjangnya.
Gerakan itu tampak sangat seksi di bawah sini, dan
Yunho menggertakkan giginya dengan marah. Ia benar-benar siap meledak, dan
Jaejoong malahan memperburuk keadaan dengan pantulan bayangannya di jendela ,
meskipun dia tidak sengaja. Dan Yunho sungguh-sungguh siap meledak dalam arti
yang sebenarnya saat ini mengingat kejantanannya sudah begitu keras hingga
terasa menyakitkan. Dengan geraman marah, Yunho melangkah terburu-buru menaiki
tangga, membanting kakinya di setiap langkahnya, dibukanya pintu kamar itu
dengan kasar. Matanya membara dan dia siap untuk bertengkar, dan menemukan
Jaejoong sedang duduk di sofa, sudah berganti dengan gaun tidurnya dan sedang
membaca sebuah buku.
Jaejoong mengangkat alis melihatnya, tampak begitu
tenang, “Wae?”
Yunho terengah menahan kemarahan, “Jendela itu!”
tunjuknya marah, lalu melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan dan menutup
kaca jendela itu dengan kasar, dia membalikkan tubuhnya menghadap Jaejoong
dengan posisi siap bertarung, “Lain kali tutup rapat-rapat jendela itu kalau
sudah malam!!” teriaknya marah.
Jaejoong menatap Yunho bingung, “He, Wae?”
Karena aku melihatmu berganti pakaian bagaikan
siluet erotis dari bawah!! Karena pemandangan itu membuatku terangsang sampai
terasa nyeri!! Karena….
Yunho berdiri dengan tatapan membakar, siap
memuntahkan emosinya, tetapi kemudian menyadari bahwa dia hanya akan tampak
bodoh kalau meluapkan apa yang ada di pikirannya. Ditatapnya Jaejoong dengan
dingin dan mendesis pelan, “Pokoknya tutup jendela itu kalau sudah malam!” Dan
dengan penuh harga diri, Yunho melangkah keluar dari kamar Jaejoong,
meninggalkan pintu berdebam di belakangnya.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Kkkkkk....bnr2 cinta bs menjungkir balikkan hidup seseorang, termasuk si arogan yunho
ReplyDeleteHahaha.. yunho bnr 2 jd sedikut frustrasi. . Sedkit?? Yg bnr appa ? Yunho jd bersikap kekanakan demi meraih hati jaejoong
ReplyDeleteYah gimana Yun kaga membara, Jae begitu menggoda untuk Yun
ReplyDeleteAh sayang sekali Yun harus nahan-nahan #pletak
Kasian itu Yun udh nahan lama bgt, bentar lg meledak itu...
ReplyDelete