Monday, February 24

[Remake] Salang-Ui Ba Chapter 14


Jaejoong menoleh lagi dan menatap Yunho dengan menantang, “Entah apa yang kau katakan tentang memberikan kebebasan padaku itu bohong, atau kau memang suka mengatur-atur dan menggangguku. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan kuharap kau tidak menggangguku.”
“Oke.” Tatapan Yunho kepada Jaejoong terasa membakar di suasana hujan yang begitu dingin, “Terserah, silahkan buat dirimu sendiri sakit, aku harap kau tidak merepotkanku nantinya."
Namja itu membalikkan badan, tetapi setelah beberapa langkah dia memutar tubuhnya kembali dan menatap Jaejoong, “Setelah kau siap aku ingin bicara denganmu.”
“Tentang apa?” Jaejoong mengernyitkan kening, mulai merasa terganggu dengan interupsi-interupsi dari Yunho. Dia sedang ingin menikmati hujan dan namja itu tampaknya selalu muncul di saat yang tidak tepat dan mengucapkan kata-kata yang tidak tepat pula.
“Nanti, ini mengenai ulang tahunmu yang ke dua puluh lima.”

salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Jaejoong tertegun. Ulang tahunnya yang ke dua puluh lima sebentar lagi.  Kenapa Yunho bisa mengetahui detail hari ulang tahunnya? Jaejoong tertarik, tetapi dia akan memuaskan Yunho kalau dia mengikuti Yunho untuk berbicara dengannya. Jangan-jangan memang itu tujuan Yunho, supaya dia tidak berhujan-hujanan dan mengikuti Yunho.
“Nanti aku akan menyusulmu kalau aku sudah puas disini.”
Api menyala di mata Yunho, dan tampak jelas namja itu  mencoba menahan diri,
“Terserah, nanti temui aku di ruang kerjaku.” suaranya lebih seperti geraman, kemudian membalikkan badan dengan marah.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah puas menikmati hujan, Jaejoong masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian dan makan malam. Dia sengaja tidak menemui Yunho, lagipula sepertinya namja tadi hanya asal bicara ketika bilang ingin berbicara tentang hari ulang tahunnya. Dan Jaejoong tidak yakin kalau Yunho akan menunggunya. Namja itu sepertinya sangat sibuk dan punya banyak urusan.
“Kenapa kau tidak menemuiku di ruang kerjaku?” suara di kegelapan itu mengagetkan Jaejoong. Dia menajamkan matanya dan melihat Yunho duduk di sana, di keremangan kamarnya.
“Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa izin?” Jaejoong berteriak kaget, tangannya meraba-raba saklar lampu di diniding, berusaha menghilangkan kegelapan yang menyelubungi Yunho, karena namja itu tampak lebih menyeramkan di antara cahaya yang remang-remang.
Jaejoong berhasil menyalakan lampu dan cahaya itu  langsung menyelubungi Yunho. Namja itu duduk di sofanya, dengan santai, hanya memakai piyama sutera warna hitam dan disebelah tangannya memegang gelas minuman. Jaejoong melirik ke botol wine yang entah berasal dari mana, yang sepertinya sudah dituang Yunho selama menunggunya. Apakah namja itu mabuk? Jantung jaejoong mulai berdegup. Dalam keadaan sadar saja emosi Yunho sangat tidak mudah ditebak, apalagi dalam kondisi mabuk.
“Apa yang kau lakukan disini Yun?”
Yunho mendengus dan menatap Jaejoong dengan tajam, “Kau pikir apa? Aku menunggumu di ruang kerjaku dan kemudian menyadari bahwa kau, dengan kepalamu yang keras kepala itu memutuskan untuk melawanku.”
Jaejoong mundur ke belakang, melirik pintu putih itu, dan berusaha sedekat mungkin di sana, sehingga ketika Yunho bertindak di luar batas dia bisa segera melarikan diri.
Yunho tersenyum melihat tingkah Jaejoong,
“Kau seperti kelinci ketakutan lagi Jae, apakah kau takut aku akan melakukan sesuatu yang kejam? Seperti mencampurkan obat di minumanmu, atau…melemparkanmu dari balkon lagi?” Yunho menyeringai, meletakkan gelasnya dan berdiri, makin lama makin mendekati Jaejoong.
“Apakah kau mabuk Yun?” Jaejoong melirik ke arah pintu, hanya butuh beberapa detik kalau Jaejoong ingin melarikan diri dari Yunho. Dia pasti bisa melakukannya.
“Jung yunho tidak pernah mabuk,” Yunho melangkah mendekat dengan tenang, seperti singa yang mengendap-endap mengincar mangsanya. “Dan kau…Seharusnya kau mendengarkan apa yang kuperintahkan, Jae.”
Jaejoong tahu di situlah titiknya. Di situlah titik Yunho kehilangan kesabarannya, karena itulah Jaejoong langsung melompat dan mencoba melarikan diri ke pintu. Dia berhasil membuka pintu itu sedikit, sebelum dengan gerakan lebih cepat dan tanpa suara, Yunho sudah ada dibelakangnya, mendorong pintu itu menutup kembali sebelum sempat terbuka.
Yunho mendorongnya rapat ke pintu, dan dengan terkejut Jaejoong bisa merasakan kejantanan Yunho yang mendesak keras di bagian belakang tubuhnya. Dia ingin bergerak dan menghindar, tetapi ternyata Yunho sudah menahannya di semua sisi.
Jaejoong ketakutan. Apakah dia akan dipaksa lagi? Udara mulai terasa menyesakkan dan Jaejoong mulai terengah-engah.
“Aku tidak pernah bercinta sambil berdiri,” Yunho berbisik di telinganya dengan bisikan panas yang membuat sekujur tubuh Jaejoong menggelenyar, “Dan kau membuatku ingin melakukannya.”
Jaejoong terkesiap, mencoba meronta sekuat tenaga. Tetapi percuma karena Yunho begitu kuatnya,
“Apakah kau akan memaksaku lagi, Jung?” Jaejoong berteriak di tengah usahanya membebaskan diri, “Kalau iya, maka kau sudah membuktikan kepadaku, kalau kau memang adalah namja bajingan yang hanya bisa mendapatkan yeoja dari pemerkosaan.”
Kata-kata Jaejoong rupanya berhasil membuat kesadaran Yunho kembali. Namja itu tertegun. Dan sedetik kemudian yang melegakan, Yunho melepaskan Jaejoong,
“Sialan kau dasar yeoja!!” Yunho berbisik marah di telinga Jaejoong dan meninggalkannya.
Sendirian, Jaejoong berusaha menyandarkan dirinya di pintu, napasnya terengah-engah dan dia merasa lepas. Gairah Yunho ternyata juga mempengaruhinya. Dan Jaejoong semakin takut akan tiba saatnya baginya, menyerah ke dalam pelukan Yunho.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini hari Minggu, seharusnya menjadi hari istirahat yang menyenangkan bagi semua orang. Tetapi emosi Yunho luar biasa buruknya pagi itu dan menyebar ke seluruh penjuru rumah. Suasana rumah jadi menegangkan. Seluruh pelayan berbicara sambil berbisik-bisik ketakutan, membicarakan Tuan mereka yang marah-marah seharian ini.
Pagi tadi Yunho sudah membanting gelas di meja hingga anggurnya berceceran menodai taplak meja yang berwarna putih, hanya karena minumannya tidak cocok dengan seleranya, dia memanggil Changmin dan membentaknya karena beberapa pengawal belum berjaga di gerbang depan. Bahkan sekretaris dan pengatur keuangan rumah tangganya pun ikut kena semprot ketika dia memeriksa laporan di ruang kerjanya tadi.
Sekarang semua orang saling bersembunyi berusaha menghindari berurusan dengan tuan mereka yang begitu mengancam, seperti beruang yang terluka.
Changmin masuk dengan hati-hati ke ruang kerja Yunho,
“Ada apa?”
“Baju-baju untuk Nona Jaejoong sudah datang.”
“Bagus.”
“Apakah kita harus memesan pakaian sebanyak itu? Bukankah tuan sendiri bilang tidak akan menahan Jaejoong lebih lama?”
“Tutup mulutmu Changmin!” Yunho menggeram, “Biarkan aku mengurus apa yang menjadi urusanku sendiri!”
Changmin mengangguk, menyadari bahwa tuannya sudah hampir meledak marah dan memilih pergi daripada terkena dampratannya seperti pagi tadi.
Yunho berdiri mondar-mandir di ruangannya, kemudian berhenti dan menuangkan segelas vodka murni untuk dirinya sendiri. Dia meneguknya, dan cairan putih itu serasa begitu membakar di ternggorokannya.
Tubuhnya begitu bergairah. Mengingat sekian lama dia menahan diri. Dia bisa saja melampiaskan gairahnya kepada yeoja-yeoja yang memujanya dan pasti bersedia melakukan apapun untuknya. Tetapi dia tidak ingin sembarang yeoja, dia ingin Jaejoong. Sialan! Kenapa pikirannya terus-menerus tertuju kepada yeoja itu?
Dengan rasa frustrasi yang masih memenuhinya, ia melangkah panjang-panjang ke arah kamar Jaejoong, membuka kamar itu tanpa permisi, dan menemukan Jaejoong ada di kamar.
Hyunjoong ada di sana, memamerkan baju-baju pesanan yang baru datang untuk Jaejoong, sedangkan yeoja itu hanya duduk di sana, menatap pakaian-pakaian mahal itu dengan bosan.
Hyunjoong langsung menghentikan kegiatannya dan meminta izin keluar begitu Yunho masuk dengan wajah muram.
“Kau menyukai pakaian-pakaian itu?
“Apakah pendapatku penting?”
Yunho menatap Jaejoong marah, “Apa maksudmu?”
“Bukankah dirumah ini apa yang diinginkan Jung yunho bagaikan perintah raja yang harus dituruti? Aku melihat sendiri bagaimana orang-orang hilir mudik, panik seharian mengatasi sikap marah-marahmu yang tak ada habisnya itu.”
“Oh ya? Dan kau pikir itu karena siapa?”
Jaejoong menegakkan dagunya menantang, “Karena siapa?”
“Karena kau, dasar yeoja kecil keras kepala!”
Jaejoong mengernyit marah,
“Dan apa yang kulakukan padamu wahai tuan Jung yang baik hati?”
“Kau selalu menantangku hingga aku harus menahan diri di batas kesabaranku, sikapmu itu membuatku muak!”
“Kau pikir aku harus bagaimana Jung? Kau musuhku, meskipun sekarang aku memutuskan sedikit bekerjasama dengan tidak mencoba kabur, kau tetap musuhku. Dan ketika aku merasa keadaan sudah baik, aku tetap menuntut dibebaskan.”
“Selalu ke arah itu,” gumam Yunho kesal, “Aku masih belum ingin membahasnya,” namja itu menatap Jaejoong tajam, “Aku memintamu melakukan sesuatu untukku.”
Jaejoong mengangkat alisnya, tertarik, Yunho tidak pernah meminta sesuatu. Namja itu terbiasa memerintah lalu ketika itu tidak dituruti, dia akan memaksakan apapun yang diinginkannya.
“Ya aku memintamu menghilangkan rasa permusuhanmu itu dan mencoba menerimaku sebagai kekasihmu.”
Jaejoong melangkah mundur tanpa sadar, “Menerimamu sebagai apa…? Nun Micheosso?”
“Hmm…. Aku bahkan punya rencana yang lebih gila dari itu, lebih daripada yang bisa kau bayangkan,  kau akan tahu nanti,” matanya menatap Jaejoong penuh rahasia, “Tapi yang pasti, gairah di antara kita begitu membara dan aku tidak munafik mengakuinya di depanmu, aku selalu terangsang ketika melihatmu. Aku terangsang ketika membayangkanmu, aku ingin menidurimu setiap waktu.”
“Hentikan kata-kata vulgarmu itu!!!” Jaejoong berteriak ingin menutup telinganya yang terasa panas.
Yunho terkekeh, “Mungkin kau perlu merasakan sendiri, bagaimana aku tergila-gila pada tubuhmu,”  Namja itu meraih Jaejoong ke dalam pelukannya dengan lembut, dan langsung melumat bibirnya.. Yunho melumat seluruh bibir Jaejoong, dan kemudian lidahnya masuk, menjelajahi lidah Jaejoong, bertautan dengan lidah Jaejoong dan kemudian menjelajahi seluruh diri Jaejoong, bibirnya bergerak melumat bibir Jaejoong tanpa ampun. Namja itu begitu bergairah tetapi tetap bersalut kelembutan, dan sejenak Jaejoong terhanyut dalam ciuman yang luar biasa itu, sampai kemudian dia merasakan kejantanan Yunho yang begitu keras kembali menekan tubuhnya.
Dengan napas terengah-engah Jaejoong melepaskan dirinya dari pelukan Yunho,
“Jae.. sudah siap untukku,” mata Yunho menyala penuh gairah, “Kenapa kau tidak mau mengakuinya dan kita berhenti saling menyiksa seperti ini?”
“Aku tidak menginginkanmu sebagai kekasihku dan aku tidak siap untuk apapun yang berhubungan denganmu.” Bantah Jaejoong keras.
Yunho menyipitkan mata, menatap Jaejoong dengan tatapan menuduh,
“Oh ya? Tadi kau hanyut dalam ciumanku, bibirmu panas dan melembut untukku, siap menerimaku.”
Siapa yang tidak menginginkan namja yang luar biasa tampan ini? Semua yeoja pasti bermimpi bisa ada di dalam pelukannya, semua pasti membayangkan bagaimana kalau namja sekejam Yunho berperilaku lembut. Oh, Jaejoong pernah merasakannya, beberapa kali malahan, dan ingatan tentang hal itu membuat tubuhnya memanas
“Kau adalah pembunuh orangtuaku,” Jaejoong menatap Yunho dengan penuh kebencian, “Dan bagiku itu adalah dosa tak termaafkan, aku akan selalu menyalahkanmu atas hal itu.”
Tertegun sejenak, lalu Yunho mundur selangkah dengan begitu dingin,
“Oke.”
Dan ketika Jaejoong mengangkat kepalanya, Yunho sudah keluar dari ruangan itu. Jaejoong menghembuskan nafas panjang. Apakah dia salah? Tetapi bukankah semua yang dilakukan Yunho atas dasar nafsu? Namja itu jelas-jelas bergairah kepadanya dan menginginkannya. Tetapi setelah itu apa? Jaejoong tidak mau jatuh dalam jerat rayuan Yunho seperti yeoja murahan. Seperti para kekasih Yunho yang dicampakkan begitu saja setelah namja itu puas. Setidaknya meskipun dia gagal membalaskan dendamnya, dia bisa pergi dari kehidupan Yunho dengan penuh harga diri.
.
.
.
.
.
.
.
Yunho berdiri malam itu di tengah taman di depan rumahnya, berharap udara dingin bisa meredakan gairahnya yang membuat tubuhnya begitu panas. Ditatapnya jendela kamar Jaejoong di lantai dua.
Jendela itu terbuka, dan cahaya temaram memantul dari sana, tampak begitu jelas. Yunho menatap jendela itu dengan frustrasi. Yeoja itu ada di sana dan Yunho seharusnya bisa dengan mudah memilikinya. Tetapi sikap yeoja itu seolah-olah membuatnya merasa menjadi bajingan menjijikkan kalau dia sampai memaksakan kehendaknya kepada Jaejoong.
Yunho tertegun ketika melihat bayangan Jaejoong terpantul dari kamar. Sepertinya Jaejoong berdiri dekat lampu tidur di samping ranjangnya, karena bayangannya muncul dari gorden jendela bagaikan siluet gelap yang erotis.
Jaejoong tampak sedang berjalan mondar-mandir di kamarnya, dan Yunho menatapnya dengan penuh minat. Lalu yeoja itu membuat gerakan membuka bajunya. Yunho menelan ludah, melirik ke sekelilingnya yang sepi, mulai merasa tidak nyaman karena membuat dirinya seperti seorang pengintip mesum yang mengintip siluet yeoja berganti baju dengan penuh gairah.
Siluet Jaejoong melepas kemejanya, dan tubuh bagian atasnya yang polos terpantul dalam bayangan gelap dengan bentuk tubuh yang menggoda. Lalu...Sialan! Yunho mulai mengumpat ketika bayangan Jaejoong di jendela membuat gerakan  mengangkat salah satu kakinya ke ranjang dan tampaknya melepas celana panjangnya.
Gerakan itu tampak sangat seksi di bawah sini, dan Yunho menggertakkan giginya dengan marah. Ia benar-benar siap meledak, dan Jaejoong malahan memperburuk keadaan dengan pantulan bayangannya di jendela , meskipun dia tidak sengaja. Dan Yunho sungguh-sungguh siap meledak dalam arti yang sebenarnya saat ini mengingat kejantanannya sudah begitu keras hingga terasa menyakitkan. Dengan geraman marah, Yunho melangkah terburu-buru menaiki tangga, membanting kakinya di setiap langkahnya, dibukanya pintu kamar itu dengan kasar. Matanya membara dan dia siap untuk bertengkar, dan menemukan Jaejoong sedang duduk di sofa, sudah berganti dengan gaun tidurnya dan sedang membaca sebuah buku.
Jaejoong mengangkat alis melihatnya, tampak begitu tenang, “Wae?”
Yunho terengah menahan kemarahan, “Jendela itu!” tunjuknya marah, lalu melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan dan menutup kaca jendela itu dengan kasar, dia membalikkan tubuhnya menghadap Jaejoong dengan posisi siap bertarung, “Lain kali tutup rapat-rapat jendela itu kalau sudah malam!!” teriaknya marah.
Jaejoong menatap Yunho bingung, “He, Wae?”
Karena aku melihatmu berganti pakaian bagaikan siluet erotis dari bawah!! Karena pemandangan itu membuatku terangsang sampai terasa nyeri!! Karena….
Yunho berdiri dengan tatapan membakar, siap memuntahkan emosinya, tetapi kemudian menyadari bahwa dia hanya akan tampak bodoh kalau meluapkan apa yang ada di pikirannya. Ditatapnya Jaejoong dengan dingin dan mendesis pelan, “Pokoknya tutup jendela itu kalau sudah malam!” Dan dengan penuh harga diri, Yunho melangkah keluar dari kamar Jaejoong, meninggalkan pintu berdebam di belakangnya.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. Kkkkkk....bnr2 cinta bs menjungkir balikkan hidup seseorang, termasuk si arogan yunho

    ReplyDelete
  2. Anonymous10:45 AM

    Hahaha.. yunho bnr 2 jd sedikut frustrasi. . Sedkit?? Yg bnr appa ? Yunho jd bersikap kekanakan demi meraih hati jaejoong

    ReplyDelete
  3. Yah gimana Yun kaga membara, Jae begitu menggoda untuk Yun
    Ah sayang sekali Yun harus nahan-nahan #pletak

    ReplyDelete
  4. Kasian itu Yun udh nahan lama bgt, bentar lg meledak itu...

    ReplyDelete