"Tetapi apa yang akan dikatakan orang bila satu-satunya alasan Siwon menikah denganmu adalah untuk menarikku pulang ke rumah. bahwa perkawinanmu hanyalah kepura-puraan? Apakah kau masih bisa mendongakkan kepala?"
Kebungkaman Jaejoong
menjawab pertanyaan Yunho. Ia menjatuhkan diri di kursi. Bahu Yunho terkulai.
Dengan suara yang lebih tenang, Yunho berkata, "Aku tak tahan membayangkan
mereka berpikir kau istri ayahku. Dan kau tidak tahan mereka berpikir yang
sebaliknya tentang dirimu." Yunho menengadah dan tertawa. "Oh, Tuhan,
betapa manis pembalasan yang dilakukannya. Kendati siasat pertamanya tidak
berhasil, memisahkan kita, berusaha meyakinkanku bahwa ia sudah tidur denganmu,
siasatnya yang ini membuat kita menyerah."
Yunho melangkah ke
pintu. "Aku benci mengakuinya, Jae, tetapi kita berhasil dipermainkannya.
Seperti yang diyakininya."
Jaejoong merasa hatinya
hancur berkeping-keping ketika Yunho menutup pintu, meninggalkan ruangan itu.
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
Aku menyuruh anak itu
berlutut di hadapanku, itu yang ingin kulakukan," gerutu Boa sambil
menarik seprai Jaejoong. "Bila ada anak muda yang perlu dihukum...."
Jaejoong duduk di depan
cermin, memijat-mijat kepala, berusaha menghilangkan rasa pening yang
menyerangnya. Tetapi usahanya tak berhasil Sekujur tubuhnya sakit seakan ia
habis digebuki. Memang demikianlah yang dirasakan Jaejoong. Gara-gara habis
bertengkar dengan Yunho.
Boa, si pengurus rumah,
menumpuk seprai di lantai dan membentangkan seprai baru. Terdengar suara
gemeresik ketika ia menghamparkannya di tempat tidur. Rapi seperti tentara, Boa
menyelipkannya di bawah kasur. "Apa ia tidak bilang padamu semalam,
meninggalkan pesan, ia akan keluar rumah malam-malam seperti maling?"
"Tidak, ia... eh...
kami mengobrol sebentar. Ia naik, beberapa menit kemudian aku tidur. Aku tidak
tahu ia sudah pergi sampai kau membangunkan aku pagi ini."
"Aku sudah
mengajarkan tatakrama pada anak itu, begitu pun ibunya. Bayangkan, bisa-bisanya
ia mengepak barang lalu pergi tanpa pamit. Naik mobilnya ke bandara, langsung
terbang dengan pesawatnya. Sumpah, aku tak tahu apa masalah anak itu."
Sekali itu Jaejoong
berharap Boa tidak terlalu banyak mengoceh. Satu-satunya orang yang ingin ia
ajak bicara hanyalah Yunho. Luka hatinya masih belum lenyap. Tiap kali
mendengar nama Yunho disebut, lukanya kembali membuka dan hatinya berdarah.
"Kurasa, ia hanya merasa terlalu lama menelantarkan bisnisnya di Jepang."
Boa memandang sinis. Aku
tahu apa yang terjadi, begitu batin Boa kepada wanita muda itu. Yang ia ingin
tahu, apa yang terjadi di antara mereka, yang menyebabkan Yunho mendadak
meninggalkan rumah. Berminggu-minggu mereka bersama dan saling menggoda. Pasti
ada yang menyebabkan Yunho pergi terburu-buru, tentu hal yang berkaitan dengan Jaejoong.
Boa membungkuk dan mengambil cucian kotor. "Aku tak tahu apa yang harus
kusampaikan pada Sungmin. Pasti ia sedih sekali karena Yunho pergi tanpa pamit
padanya."
"Kau bilang ia
meninggalkan surat untuk Sungmin."
"Itu tidak sama,
bukan?"
Kesabaran Jaejoong
menyusut. Ia berjalan ke lemari, mengambil pakaian untuk mandi, dan secara
halus mengisyaratkan ingin sendirian di kamar. "Ia tidak akan terlalu
sedih Yunho pergi, karena ada Kyuhyun yang menjaganya."
"Lalu siapa yang
akan menjagamu?"
Langkah Jaejoong
terhenti sebelum mencapai pintu kamar mandi, ia membalikkan badan menatap Boa. Boa
menaikkan alis, lalu melenggang keluar, merasa menang, dengan tangan penuh
seprai kotor.
Jaejoong mandi dan
berpakaian. Ia tidak memedulikan penampilannya. Ia tidak akan bertemu Yunho di
rumah. Ia akan bekerja sebagaimana biasanya, ke pabrik, memeriksa kemajuan pembangunannya.
Lebih baik ia menampilkan diri sebagai penanggung jawab dan pengambil
keputusan. Mungkin saja beberapa karyawan memanfaatkan ketidakhadiran Yunho
sebagai kesempatan untuk bekerja malas-malasan.
.
.
.
.
Sewaktu tiba di pabrik,
ia menyadari Yunho bukan hendak menurutkan kata hatinya ketika pergi ke Jepang
malam itu. Changmin sudah menunggunya di kantor.
Karyawan itu berdiri
ketika Jaejoong masuk dengan langkah terseret, resah, ia berusaha menghindari
pandangan Jaejoong. "Yunho, tuan Jung, menghubungi saya dari Jepang pagi
tadi."
Jaejoong berusaha
bersikap biasa-biasa ketika mendengar berita itu, tetapi tangannya gemetar
ketika ia membuka laci meja untuk menyimpan tasnya. "Oh?"
Changmin menelan ludah.
"Ya, nyonya. Dan ia bilang saya harus membantu Anda semampu saya agar
semuanya berjalan lancar. Ia juga mengatakan kepada saya agar segera
meneleponnya bila ada yang tidak biasa."
"Terima kasih, Changmin,"
sahut Jaejoong tenang. Yunho tidak benar-benar meninggalkannya. Ia masih
peduli, memastikan dirinya tidak ditinggalkan di pabrik yang belum berjalan.
Tapi mungkin saja ia semata-mata ingin melindungi warisan milik Sungmin.
Mandor itu memutar-mutar
topi di tangannya. "Anda kenal saya dan beberapa karyawan lain... hmmm,
kami biasa bersama Yunho. Memang, ia masih muda ketika meninggalkan tempat ini
untuk pertama kalinya, tetapi kami tetap menyukainya. Ia selalu memerhatikan
kami, Anda tahu yang saya maksud? Sangat berbeda dengan ayahnya yang keji,
maksud saya, tak pernah menghargai orang lain. Yunho selalu peduli pada kami,
meskipun kami hanya pekerja."
"Ya, aku mengerti
apa yang kaumaksud, Changmin."
"Baiklah, begitu
saja," ujar Changmin sambil melangkah ke pintu, dalam hati memaki-maki. Ya
ampun, ia tidak bermaksud membuat Jaejoong sedih. "Bila Anda perlu
sesuatu, Anda tinggal menelepon saya."
"Ya. Terima
kasih."
Setelah Changmin pergi, Jaejoong
berjalan ke jendela, dan menatap pemandangan di luar. Musim panas sudah hampir
berlalu. Bunga dan pepohonan tidak lagi hijau berseri. Mereka mulai sekarat,
mengerut dan kering karena letih, menunggu ajal. Begitu pula yang ia rasakan.
Minggu-minggu yang sangat indah yang dilewatinya bersama Yunho membuat jiwanya
hidup. Sekarang ia merasa dirinya mengerut layu seperti bunga-bunga musim panas
yang mulai kehilangan keceriaan hidup.
"Memang tidak
berjodoh, Jae," batin Jaejoong pada dirinya sendiri. Benarkah pepatah yang
mengatakan jodoh sudah ditentukan jauh sebelum orang dilahirkan? Apa benar
nasib yang menentukan malapetaka yang menimpa seseorang? Atau semua ini terjadi
karena ia harus menebus dosa-dosa ayah mereka, seperti yang ditulis dalam
Alkitab?
Bukan penyebabnya yang
jadi masalah, karena akhir ceritanya tak bisa diubah lagi. Yunho benar. Mereka
berdua terlalu angkuh. Ia suka jadi keluarga Lancaster. Yunho yakin ia tidak
akan melepaskannya. Daripada harus mengemis-ngemis, Yunho memilih tidak bertemu
dengannya selama ia memiliki Jung mansion.
Jaejoong menegakkan
kepala. Jantungnya berdebar cepat.
Selama ia memiliki Jung
mansion.
Apakah ia rela
melepaskan rumah itu? Apa arti rumah itu tanpa Yunho di rumah itu? Tidakkah
bagian itu yang senantiasa menjadi misterinya, bagian yang menariknya untuk
masuk ke dalamnya? Rumah yang dulu menjadi tempat tinggal Jung Yunho. Bahkan
sewaktu tinggal bersama Siwon di rumah itu, menyusuri lorong-lorongnya, ia
mengkhayalkan Yunho yang tinggal di sana, sewaktu masih anak-anak, semasa
remaja, dan sebagai pemuda. Tanpa Yunho, rumah itu terasa seperti kumpulan
kamar cantik yang dikelilingi empat dinding.
Rumah itu takkan pernah
menjadi miliknya. Rumah itu senantiasa milik Yunho. Keputusan hukum secara
tertulis di atas kertas takkan bisa mengubahnya.
Tetapi mampukah ia
melepaskannya?
.
.
.
.
Suara ketukan perlahan
di pintu membuatnya mengalihkan pandangan dari buku besar. "Masuk."
Yoochun melangkah masuk
ke ruangan yang remang-remang, yang hanya diterangi cahaya lampu kehijauan di
meja Siwon. "Boa bilang kau ada di sini. Aku harap kedatanganku tidak
mengganggumu."
Jaejoong tersenyum pada
si pengacara. "Masuklah, Chun. Aku tak merasa diganggu."
"Kau lembur. Apa
perlu seperti itu?"
Ya, harus. Karena kalau
tidak menyibukkan diri dengan bekerja, ia akan teringat pada Yunho. Kendati
sibuk bekerja ia tetap ingat pada Yunho, tetapi paling tidak, kesibukan itu
mengurangi rasa sakitnya. Sebulan sesudah Yunho pergi, rasa sakitnya tidak
terlalu parah lagi, meskipun tetap terasa karena tidak ada obatnya.
"Tugas pembukuan
harus diselesaikan. Kalau dikerjakan di pabrik, selalu terganggu, jadi aku
mengerjakannya di rumah setelah jam kerja. Boa sudah menawarimu minum?
Kopi?"
"Tidak usah, terima
kasih." Yoochun duduk di hadapan Jaejoong, di kursi bersandaran tegak.
"Bagaimana keadaan di pabrik?"
"Sibuk, bising,
tapi baik-baik saja, kau tahu sendiri. Kemarin kau ke sana. Apakah ada masalah,
chun?" Air muka Yoochun seperti orang yang hendak dihukum gantung.
"Ada apa menemuiku?" Wajah Jaejoong pucat. Yunho. Ada sesuatu yang
menimpa Yunho.
Yoochun menangkap
kepanikan yang menyergap Jaejoong. "Tidak, tidak. Aku bukan hendak
menakut-nakutimu. Tidak ada masalah besar." Yoochun memerhatikan permadani
di bawah kursinya sejenak. "Hanya saja kau telah diundang dan aku tidak
tahu bagaimana kau akan menanggapinya."
"Undangan
apa?"
"Undangan untuk
acara penghargaan Siwon sebagai warga kota terbaik pada festival musim gugur
ini."
Yang dimaksud Yoochun
adalah pekan raya yang setiap tahun diadakan. Jaejoong tak mengira dirinya
terlibat festival itu, begitu pun Siwon. "Mereka ingin memberikan
penghargaan? Mengapa? Mengapa mereka tidak memberikan penghargaan itu kepada
orang yang masih hidup?"
Yoochun mengangkat bahu.
"Itulah yang menjadi pertanyaanku. Bukan berarti aku tidak menghargai Siwon,"
katanya, cepat-cepat menambahkan, selalu loyal. "Tetapi tampaknya komite
penghargaan ini sudah memutuskan hal itu sejak musim semi lalu. Mereka tidak
ingin berubah pikiran dan ingin kau mewakili menerima penghargaan itu pada
pembukaan festival."
Jaejoong berdiri sambil
berkacak pinggang, melangkah ke jendela. Hari hujan, hujan bulan September yang
menyedihkan. Hujan yang membuatnya sedih. Tidak seperti hujan rintik-rintik di
musim panas yang mencium dan mengelus kulit yang telanjang seperti tangan atau
bibir. Ia menekankan dahinya ke kaca jendela yang di-ngin. Mampukah ia
menghilangkan kerinduannya pada Yunho?
Foto pria itu terpampang
di koran dua hari yang lalu. Kyuhyun melihatnya dan Sungmin buru-buru
memperlihatkannya pada Jaejoong. Satu lagi kota yang memberi izin mendarat pada
perusahaan penerbangan Eastar Jet. Di foto itu Yunho bersalaman dengan Walikota,
tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih di wajahnya yang hitam. Rambutnya
tergerai di dahi. Betapa ingin Jaejoong menyentuh wajah itu, mengelusnya
seperti dulu.
"Kau merindukannya
ya?" tanya Yoochun perlahan.
"Siwon?"
"Yunho."
Jaejoong berbalik.
"Kau tahu?"
Wajah Yoochun yang penuh
keriput mirip anjing bassethound tersenyum penuh arti. "Aku menangkap
sesuatu di antara kau dan Yunho jauh sebelum ia kembali ke rumah. Dengar
dulu" Ia mengangkat tangan ketika melihat Jaejoong membuka mulut "aku
bukan memancing-mancing. Memang sebaiknya aku tidak tahu hal itu. Tetapi hari
itu, waktu di sini untuk menghadiri pernikahan Sungmin, aku melihat kalian
berdua. Aku yakin betul kalian berdua saling jatuh cinta. Betulkah?"
"Ya."
Jaejoong kembali ke
posisinya di dekat jendela, sesaat mereka terdiam. "Apakah aku dianggap
ikut campur bila ingin tahu ke mana Yunho pergi?"
Jaejoong menggeleng.
"Kau sahabat baikku, Chun. Ketika Siwon menikah denganku, aku tahu kau
terkejut, tetapi kau tetap menghormati dan bersikap sopan padaku. Aku tidak
tahu bagaimana harus berterima kasih padamu untuk hal itu." Jaejoong
kembali menghadap Yoochun. "Saat ini pun aku sangat berterima kasih
padamu. Sebagai teman, aku mau mengatakan padamu bahwa terlalu banyak orang
yang tidak senang bila Yunho dan aku tinggal serumah."
"Terutama Appanya."
"Benar, Appanya.
Dan pernikahanku dengannya."
"Harga diri Yunho."
"Oh, ya, aku
tahu." Jaejoong tersenyum. Kemudian ia menatap si pengacara dan berkata
dengan suara rendah, "Meski menikah dengan Siwon, aku tidak pernah tidur
dengannya."
"Aku tahu
itu."
Jaejoong tertawa kecil.
"Kau penuh dengan kejutan malam ini. Kukira kau akan terkejut."
"Aku lega. Kau
terlalu baik untuk Siwon, Jae."
Jaejoong kembali duduk
di kursinya. "Ia memang melakukan hal-hal yang menakutkan, tetapi yang
paling mengerikan adalah yang dilakukannya terhadap Yunho."
"Aku setuju."
"Kau tahu semua
akal busuknya?"
"Lebih dari yang
kaukira."
"Lalu mengapa kau
tetap berteman dengannya begitu lama?"
"Sebagai
pengacaranya. Siwon tidak punya teman. Ia tidak mau berteman dengan siapa pun.
Aku tetap bersamanya, sebagian supaya ia tetap pada jalurnya. Aku juga banyak
mendapat perlakuan kasar darinya, tetapi aku ridak suka melihat apa yang akan
ia lakukan bila aku tidak melindungi bisnisnya."
Jaejoong menumpukan siku
di meja dan bertopang dagu, sambil menggosok-gosok dahi. "Ia tidak pantas
menerima penghargaan itu."
"Kau mau dengar
nasihatku?"
"Ya."
"Terima saja,
tersenyum dengan anggun."
"Dan jadi
munafik?"
"Jangan
mengecewakan mereka, Jae," kata Yoochun, bicara atas nama seluruh penduduk
kota. "Mereka butuh sosok panutan untuk disayang dan dibenci, dicemburui
dan ditiru. Berikan apa yang mereka inginkan. Cuma satu jam, beri kesempatan
pada Siwon apa yang seharusnya ia lakukan."
"Kurasa kau benar
juga."
Yoochun berdiri dan Jaejoong
berjalan di sisinya. Sambil bergandengan tangan mereka berjalan ke arah pintu.
"Aku akan menyampaikan kepada mereka besok bahwa kau bersedia menerima
penghargaan itu mewakili Siwon.”
"Yoochun,"
ujar Jaejoong, berhenti di pintu. "Apa yang harus dilakukan, secara hukum,
untuk mengalihkan akte Jung mansion kepada orang lain?"
Kali ini Jaejoong
benar-benar membuat Yoochun terkejut. "Kau tidak hendak menjualnya,
kan?" tanya Yoochun, sangat terkejut.
"Tidak. Aku ingin
memberikannya kepada orang lain."
Yoochun mengamati wajah Jaejoong
dan menemukan jawabannya di sana. Karena itu ia tidak menanyakannya lebih
lanjut. Ketika merenungkan pertanyaan Jaejoong, ia menarik daun telinganya
sendiri, membuatnya tampak semakin lebar. " Jung mansion sudah menjadi
milikmu, kau bisa berbuat sesukamu terhadap rumah itu. Kurasa itu mungkin
keteledoran Siwon, tetapi tidak ada ketentuan yang melarangmu mengalihkannya
kepada orang lain, hanya saja Sungmin harus diperbolehkan tetap tinggal di
rumah itu seumur hidupnya."
"Aku paham. Yang
itu tidak akan memengaruhinya."
"kalau bagitu tidak
ada masalah bila kau hendak mengalihkan kepemilikannya. Bila kau yakin benar
itu yang kau mau."
Sambil mcrenung, Jaejoong
mengangguk. "Kapan festival musim gugur itu diselenggarakan?"
"Minggu ketiga
bulan Oktober. Masih sebulan lagi." Yoochun meletakkan tangannya pada
pegangan pintu. "Mereka minta alamat Yunho. Aku yakin mereka ingin
mengundangnya juga."
Jaejoong mengalihkan
pandangan dari Yoochun. "Apakah kau bisa mengubah aktenya sebelum minggu
ketiga bulan Oktober?" Ketika ia kembali memandang Yoochun, pria itu
tersenyum padanya dengan penuh kasih.
"Kau tahu, andai
tidak terlibat dengan keluarga Jung, kurasa aku sudah jatuh cinta padamu."
.
.
.
.
.
To Be Continue

Wah g sabar pgn baca terus en terus sampai habis
ReplyDeleteDi novel aslinya Aku blum baca sampe abis, jadi tiap chapter ff mu ini aku bener2 nunggu..!
ReplyDeleteMmm.. Ternyata makin rumit, yun gitu ja ninggalin jae..!
Ya Chun, seandainya saya tidak tahu tentang Jae milik Yun saya juga pasti jatuh cinta pada keindahan jiwa raga nya Jae~ , menginginkannya, jadi seme nya hahaha tapi gak mungkin #kecupinYunJae
ReplyDelete