Sunday, February 23

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 27


"Tetapi apa yang akan dikatakan orang bila satu-satunya alasan Siwon menikah denganmu adalah untuk menarikku pulang ke rumah. bahwa perkawinanmu hanyalah kepura-puraan? Apakah kau masih bisa mendongakkan kepala?"
Kebungkaman Jaejoong menjawab pertanyaan Yunho. Ia menjatuhkan diri di kursi. Bahu Yunho terkulai. Dengan suara yang lebih tenang, Yunho berkata, "Aku tak tahan membayangkan mereka berpikir kau istri ayahku. Dan kau tidak tahan mereka berpikir yang sebaliknya tentang dirimu." Yunho menengadah dan tertawa. "Oh, Tuhan, betapa manis pembalasan yang dilakukannya. Kendati siasat pertamanya tidak berhasil, memisahkan kita, berusaha meyakinkanku bahwa ia sudah tidur denganmu, siasatnya yang ini membuat kita menyerah."
Yunho melangkah ke pintu. "Aku benci mengakuinya, Jae, tetapi kita berhasil dipermainkannya. Seperti yang diyakininya."
Jaejoong merasa hatinya hancur berkeping-keping ketika Yunho menutup pintu, meninggalkan ruangan itu.

.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
 Aku menyuruh anak itu berlutut di hadapanku, itu yang ingin kulakukan," gerutu Boa sambil menarik seprai Jaejoong. "Bila ada anak muda yang perlu dihukum...."
Jaejoong duduk di depan cermin, memijat-mijat kepala, berusaha menghilangkan rasa pening yang menyerangnya. Tetapi usahanya tak berhasil Sekujur tubuhnya sakit seakan ia habis digebuki. Memang demikianlah yang dirasakan Jaejoong. Gara-gara habis bertengkar dengan Yunho.
Boa, si pengurus rumah, menumpuk seprai di lantai dan membentangkan seprai baru. Terdengar suara gemeresik ketika ia menghamparkannya di tempat tidur. Rapi seperti tentara, Boa menyelipkannya di bawah kasur. "Apa ia tidak bilang padamu semalam, meninggalkan pesan, ia akan keluar rumah malam-malam seperti maling?"
"Tidak, ia... eh... kami mengobrol sebentar. Ia naik, beberapa menit kemudian aku tidur. Aku tidak tahu ia sudah pergi sampai kau membangunkan aku pagi ini."
"Aku sudah mengajarkan tatakrama pada anak itu, begitu pun ibunya. Bayangkan, bisa-bisanya ia mengepak barang lalu pergi tanpa pamit. Naik mobilnya ke bandara, langsung terbang dengan pesawatnya. Sumpah, aku tak tahu apa masalah anak itu."
Sekali itu Jaejoong berharap Boa tidak terlalu banyak mengoceh. Satu-satunya orang yang ingin ia ajak bicara hanyalah Yunho. Luka hatinya masih belum lenyap. Tiap kali mendengar nama Yunho disebut, lukanya kembali membuka dan hatinya berdarah. "Kurasa, ia hanya merasa terlalu lama menelantarkan bisnisnya di Jepang."
Boa memandang sinis. Aku tahu apa yang terjadi, begitu batin Boa kepada wanita muda itu. Yang ia ingin tahu, apa yang terjadi di antara mereka, yang menyebabkan Yunho mendadak meninggalkan rumah. Berminggu-minggu mereka bersama dan saling menggoda. Pasti ada yang menyebabkan Yunho pergi terburu-buru, tentu hal yang berkaitan dengan Jaejoong. Boa membungkuk dan mengambil cucian kotor. "Aku tak tahu apa yang harus kusampaikan pada Sungmin. Pasti ia sedih sekali karena Yunho pergi tanpa pamit padanya."
"Kau bilang ia meninggalkan surat untuk Sungmin."
"Itu tidak sama, bukan?"
Kesabaran Jaejoong menyusut. Ia berjalan ke lemari, mengambil pakaian untuk mandi, dan secara halus mengisyaratkan ingin sendirian di kamar. "Ia tidak akan terlalu sedih Yunho pergi, karena ada Kyuhyun yang menjaganya."
"Lalu siapa yang akan menjagamu?"
Langkah Jaejoong terhenti sebelum mencapai pintu kamar mandi, ia membalikkan badan menatap Boa. Boa menaikkan alis, lalu melenggang keluar, merasa menang, dengan tangan penuh seprai kotor.
Jaejoong mandi dan berpakaian. Ia tidak memedulikan penampilannya. Ia tidak akan bertemu Yunho di rumah. Ia akan bekerja sebagaimana biasanya, ke pabrik, memeriksa kemajuan pembangunannya. Lebih baik ia menampilkan diri sebagai penanggung jawab dan pengambil keputusan. Mungkin saja beberapa karyawan memanfaatkan ketidakhadiran Yunho sebagai kesempatan untuk bekerja malas-malasan.
.
.
.
.
Sewaktu tiba di pabrik, ia menyadari Yunho bukan hendak menurutkan kata hatinya ketika pergi ke Jepang malam itu. Changmin sudah menunggunya di kantor.
Karyawan itu berdiri ketika Jaejoong masuk dengan langkah terseret, resah, ia berusaha menghindari pandangan Jaejoong. "Yunho, tuan Jung, menghubungi saya dari Jepang pagi tadi."
Jaejoong berusaha bersikap biasa-biasa ketika mendengar berita itu, tetapi tangannya gemetar ketika ia membuka laci meja untuk menyimpan tasnya. "Oh?"
Changmin menelan ludah. "Ya, nyonya. Dan ia bilang saya harus membantu Anda semampu saya agar semuanya berjalan lancar. Ia juga mengatakan kepada saya agar segera meneleponnya bila ada yang tidak biasa."
"Terima kasih, Changmin," sahut Jaejoong tenang. Yunho tidak benar-benar meninggalkannya. Ia masih peduli, memastikan dirinya tidak ditinggalkan di pabrik yang belum berjalan. Tapi mungkin saja ia semata-mata ingin melindungi warisan milik Sungmin.
Mandor itu memutar-mutar topi di tangannya. "Anda kenal saya dan beberapa karyawan lain... hmmm, kami biasa bersama Yunho. Memang, ia masih muda ketika meninggalkan tempat ini untuk pertama kalinya, tetapi kami tetap menyukainya. Ia selalu memerhatikan kami, Anda tahu yang saya maksud? Sangat berbeda dengan ayahnya yang keji, maksud saya, tak pernah menghargai orang lain. Yunho selalu peduli pada kami, meskipun kami hanya pekerja."
"Ya, aku mengerti apa yang kaumaksud, Changmin."
"Baiklah, begitu saja," ujar Changmin sambil melangkah ke pintu, dalam hati memaki-maki. Ya ampun, ia tidak bermaksud membuat Jaejoong sedih. "Bila Anda perlu sesuatu, Anda tinggal menelepon saya."
"Ya. Terima kasih."
Setelah Changmin pergi, Jaejoong berjalan ke jendela, dan menatap pemandangan di luar. Musim panas sudah hampir berlalu. Bunga dan pepohonan tidak lagi hijau berseri. Mereka mulai sekarat, mengerut dan kering karena letih, menunggu ajal. Begitu pula yang ia rasakan. Minggu-minggu yang sangat indah yang dilewatinya bersama Yunho membuat jiwanya hidup. Sekarang ia merasa dirinya mengerut layu seperti bunga-bunga musim panas yang mulai kehilangan keceriaan hidup.
"Memang tidak berjodoh, Jae," batin Jaejoong pada dirinya sendiri. Benarkah pepatah yang mengatakan jodoh sudah ditentukan jauh sebelum orang dilahirkan? Apa benar nasib yang menentukan malapetaka yang menimpa seseorang? Atau semua ini terjadi karena ia harus menebus dosa-dosa ayah mereka, seperti yang ditulis dalam Alkitab?
Bukan penyebabnya yang jadi masalah, karena akhir ceritanya tak bisa diubah lagi. Yunho benar. Mereka berdua terlalu angkuh. Ia suka jadi keluarga Lancaster. Yunho yakin ia tidak akan melepaskannya. Daripada harus mengemis-ngemis, Yunho memilih tidak bertemu dengannya selama ia memiliki Jung mansion.
Jaejoong menegakkan kepala. Jantungnya berdebar cepat.
Selama ia memiliki Jung mansion.
Apakah ia rela melepaskan rumah itu? Apa arti rumah itu tanpa Yunho di rumah itu? Tidakkah bagian itu yang senantiasa menjadi misterinya, bagian yang menariknya untuk masuk ke dalamnya? Rumah yang dulu menjadi tempat tinggal Jung Yunho. Bahkan sewaktu tinggal bersama Siwon di rumah itu, menyusuri lorong-lorongnya, ia mengkhayalkan Yunho yang tinggal di sana, sewaktu masih anak-anak, semasa remaja, dan sebagai pemuda. Tanpa Yunho, rumah itu terasa seperti kumpulan kamar cantik yang dikelilingi empat dinding.
Rumah itu takkan pernah menjadi miliknya. Rumah itu senantiasa milik Yunho. Keputusan hukum secara tertulis di atas kertas takkan bisa mengubahnya.
Tetapi mampukah ia melepaskannya?
.
.
.
.
Suara ketukan perlahan di pintu membuatnya mengalihkan pandangan dari buku besar. "Masuk."
Yoochun melangkah masuk ke ruangan yang remang-remang, yang hanya diterangi cahaya lampu kehijauan di meja Siwon. "Boa bilang kau ada di sini. Aku harap kedatanganku tidak mengganggumu."
Jaejoong tersenyum pada si pengacara. "Masuklah, Chun. Aku tak merasa diganggu."
"Kau lembur. Apa perlu seperti itu?"
Ya, harus. Karena kalau tidak menyibukkan diri dengan bekerja, ia akan teringat pada Yunho. Kendati sibuk bekerja ia tetap ingat pada Yunho, tetapi paling tidak, kesibukan itu mengurangi rasa sakitnya. Sebulan sesudah Yunho pergi, rasa sakitnya tidak terlalu parah lagi, meskipun tetap terasa karena tidak ada obatnya.
"Tugas pembukuan harus diselesaikan. Kalau dikerjakan di pabrik, selalu terganggu, jadi aku mengerjakannya di rumah setelah jam kerja. Boa sudah menawarimu minum? Kopi?"
"Tidak usah, terima kasih." Yoochun duduk di hadapan Jaejoong, di kursi bersandaran tegak. "Bagaimana keadaan di pabrik?"
"Sibuk, bising, tapi baik-baik saja, kau tahu sendiri. Kemarin kau ke sana. Apakah ada masalah, chun?" Air muka Yoochun seperti orang yang hendak dihukum gantung. "Ada apa menemuiku?" Wajah Jaejoong pucat. Yunho. Ada sesuatu yang menimpa Yunho.
Yoochun menangkap kepanikan yang menyergap Jaejoong. "Tidak, tidak. Aku bukan hendak menakut-nakutimu. Tidak ada masalah besar." Yoochun memerhatikan permadani di bawah kursinya sejenak. "Hanya saja kau telah diundang dan aku tidak tahu bagaimana kau akan menanggapinya."
"Undangan apa?"
"Undangan untuk acara penghargaan Siwon sebagai warga kota terbaik pada festival musim gugur ini."
Yang dimaksud Yoochun adalah pekan raya yang setiap tahun diadakan. Jaejoong tak mengira dirinya terlibat festival itu, begitu pun Siwon. "Mereka ingin memberikan penghargaan? Mengapa? Mengapa mereka tidak memberikan penghargaan itu kepada orang yang masih hidup?"
Yoochun mengangkat bahu. "Itulah yang menjadi pertanyaanku. Bukan berarti aku tidak menghargai Siwon," katanya, cepat-cepat menambahkan, selalu loyal. "Tetapi tampaknya komite penghargaan ini sudah memutuskan hal itu sejak musim semi lalu. Mereka tidak ingin berubah pikiran dan ingin kau mewakili menerima penghargaan itu pada pembukaan festival."
Jaejoong berdiri sambil berkacak pinggang, melangkah ke jendela. Hari hujan, hujan bulan September yang menyedihkan. Hujan yang membuatnya sedih. Tidak seperti hujan rintik-rintik di musim panas yang mencium dan mengelus kulit yang telanjang seperti tangan atau bibir. Ia menekankan dahinya ke kaca jendela yang di-ngin. Mampukah ia menghilangkan kerinduannya pada Yunho?
Foto pria itu terpampang di koran dua hari yang lalu. Kyuhyun melihatnya dan Sungmin buru-buru memperlihatkannya pada Jaejoong. Satu lagi kota yang memberi izin mendarat pada perusahaan penerbangan Eastar Jet. Di foto itu Yunho bersalaman dengan Walikota, tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih di wajahnya yang hitam. Rambutnya tergerai di dahi. Betapa ingin Jaejoong menyentuh wajah itu, mengelusnya seperti dulu.
"Kau merindukannya ya?" tanya Yoochun perlahan.
"Siwon?"
"Yunho."
Jaejoong berbalik. "Kau tahu?"
Wajah Yoochun yang penuh keriput mirip anjing bassethound tersenyum penuh arti. "Aku menangkap sesuatu di antara kau dan Yunho jauh sebelum ia kembali ke rumah. Dengar dulu" Ia mengangkat tangan ketika melihat Jaejoong membuka mulut "aku bukan memancing-mancing. Memang sebaiknya aku tidak tahu hal itu. Tetapi hari itu, waktu di sini untuk menghadiri pernikahan Sungmin, aku melihat kalian berdua. Aku yakin betul kalian berdua saling jatuh cinta. Betulkah?"
"Ya."
Jaejoong kembali ke posisinya di dekat jendela, sesaat mereka terdiam. "Apakah aku dianggap ikut campur bila ingin tahu ke mana Yunho pergi?"
Jaejoong menggeleng. "Kau sahabat baikku, Chun. Ketika Siwon menikah denganku, aku tahu kau terkejut, tetapi kau tetap menghormati dan bersikap sopan padaku. Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu untuk hal itu." Jaejoong kembali menghadap Yoochun. "Saat ini pun aku sangat berterima kasih padamu. Sebagai teman, aku mau mengatakan padamu bahwa terlalu banyak orang yang tidak senang bila Yunho dan aku tinggal serumah."
"Terutama Appanya."
"Benar, Appanya. Dan pernikahanku dengannya."
"Harga diri Yunho."
"Oh, ya, aku tahu." Jaejoong tersenyum. Kemudian ia menatap si pengacara dan berkata dengan suara rendah, "Meski menikah dengan Siwon, aku tidak pernah tidur dengannya."
"Aku tahu itu."
Jaejoong tertawa kecil. "Kau penuh dengan kejutan malam ini. Kukira kau akan terkejut."
"Aku lega. Kau terlalu baik untuk Siwon, Jae."
Jaejoong kembali duduk di kursinya. "Ia memang melakukan hal-hal yang menakutkan, tetapi yang paling mengerikan adalah yang dilakukannya terhadap Yunho."
"Aku setuju."
"Kau tahu semua akal busuknya?"
"Lebih dari yang kaukira."
"Lalu mengapa kau tetap berteman dengannya begitu lama?"
"Sebagai pengacaranya. Siwon tidak punya teman. Ia tidak mau berteman dengan siapa pun. Aku tetap bersamanya, sebagian supaya ia tetap pada jalurnya. Aku juga banyak mendapat perlakuan kasar darinya, tetapi aku ridak suka melihat apa yang akan ia lakukan bila aku tidak melindungi bisnisnya."
Jaejoong menumpukan siku di meja dan bertopang dagu, sambil menggosok-gosok dahi. "Ia tidak pantas menerima penghargaan itu."
"Kau mau dengar nasihatku?"
"Ya."
"Terima saja, tersenyum dengan anggun."
"Dan jadi munafik?"
"Jangan mengecewakan mereka, Jae," kata Yoochun, bicara atas nama seluruh penduduk kota. "Mereka butuh sosok panutan untuk disayang dan dibenci, dicemburui dan ditiru. Berikan apa yang mereka inginkan. Cuma satu jam, beri kesempatan pada Siwon apa yang seharusnya ia lakukan."
"Kurasa kau benar juga."
Yoochun berdiri dan Jaejoong berjalan di sisinya. Sambil bergandengan tangan mereka berjalan ke arah pintu. "Aku akan menyampaikan kepada mereka besok bahwa kau bersedia menerima penghargaan itu mewakili Siwon.”
"Yoochun," ujar Jaejoong, berhenti di pintu. "Apa yang harus dilakukan, secara hukum, untuk mengalihkan akte Jung mansion kepada orang lain?"
Kali ini Jaejoong benar-benar membuat Yoochun terkejut. "Kau tidak hendak menjualnya, kan?" tanya Yoochun, sangat terkejut.
"Tidak. Aku ingin memberikannya kepada orang lain."
Yoochun mengamati wajah Jaejoong dan menemukan jawabannya di sana. Karena itu ia tidak menanyakannya lebih lanjut. Ketika merenungkan pertanyaan Jaejoong, ia menarik daun telinganya sendiri, membuatnya tampak semakin lebar. " Jung mansion sudah menjadi milikmu, kau bisa berbuat sesukamu terhadap rumah itu. Kurasa itu mungkin keteledoran Siwon, tetapi tidak ada ketentuan yang melarangmu mengalihkannya kepada orang lain, hanya saja Sungmin harus diperbolehkan tetap tinggal di rumah itu seumur hidupnya."
"Aku paham. Yang itu tidak akan memengaruhinya."
"kalau bagitu tidak ada masalah bila kau hendak mengalihkan kepemilikannya. Bila kau yakin benar itu yang kau mau."
Sambil mcrenung, Jaejoong mengangguk. "Kapan festival musim gugur itu diselenggarakan?"
"Minggu ketiga bulan Oktober. Masih sebulan lagi." Yoochun meletakkan tangannya pada pegangan pintu. "Mereka minta alamat Yunho. Aku yakin mereka ingin mengundangnya juga."
Jaejoong mengalihkan pandangan dari Yoochun. "Apakah kau bisa mengubah aktenya sebelum minggu ketiga bulan Oktober?" Ketika ia kembali memandang Yoochun, pria itu tersenyum padanya dengan penuh kasih.
"Kau tahu, andai tidak terlibat dengan keluarga Jung, kurasa aku sudah jatuh cinta padamu."
.
.
.
.
.
To Be Continue

3 comments:

  1. Wah g sabar pgn baca terus en terus sampai habis

    ReplyDelete
  2. Di novel aslinya Aku blum baca sampe abis, jadi tiap chapter ff mu ini aku bener2 nunggu..!

    Mmm.. Ternyata makin rumit, yun gitu ja ninggalin jae..!

    ReplyDelete
  3. Ya Chun, seandainya saya tidak tahu tentang Jae milik Yun saya juga pasti jatuh cinta pada keindahan jiwa raga nya Jae~ , menginginkannya, jadi seme nya hahaha tapi gak mungkin #kecupinYunJae

    ReplyDelete