Yunho
melihat Jaejoong kehilangan kesadarannya, mulai oleng dalam kondisi terikat di
kursi, Perhatian Yunho teralih, dan dia berdiri untuk meraih Jaejoong, pada
saat itulah, Dokter Woohyun yang sudah babak belur mencoba meraih pisau yang
dilemparkan Yunho tadi, dia berhasil meraihnya dan mengarahkannya untuk menikam
punggung Yunho dan...
DOR!!!
Tubuh
Dokter Woohyun ambruk ke lantai karena tembakan itu. Yunho menoleh ke belakang,
melihat Dokter Woohyun ambruk dengan pisau masih di tangannya, dan dia lalu menoleh
ke pintu, ke arah Changmin yang memegang pistol di tangannya.
“Bereskan
dia.” Yunho memerintah cepat, lalu perhatiannya sepenuhnya terarah kepada
Jaejoong, tidak dirasakannya telapak tangannya yang tersayat dalam, dia membuka
ikatan Jaejoong, dan perempuan itu langsung jatuh ambruk ke pelukannya.
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung
Yunho
©their self
Sleep with the
Devil
©Shanty Agatha
Ketika
kesadarannya kembali, Jaejoong berada di ruangan putih itu, dan dia memejamkan
matanya lagi, tak pernah sebelumnya dia merasa begitu bersyukur berada di
ruangan ini.
Kengerian
masih merayapinya, membayangkan pisau yang berkelebatan di mukanya, di
tubuhnya, di lengannya...Argh!
Jaejoong
merasa nyeri yang amat sangat dan menoleh ke arah lengannya, lengannya itu
sudah dibalut perban yang amat tebal, nyerinya masih terasa tetapi lebih karena
trauma mendalam Jaejoong akibat pengalaman buruknya itu.
Jaejoong
terduduk, Yunho telah menyelamatkannya, sekali lagi. Kenapa lelaki itu
menyelamatkannya? Apakah benar karena dia dianggap sebagai pelacur istimewa Yunho?
Karena dia melayani Yunho dengan tubuhnya? Dengan pucat Jaejoong memalingkan
mukanya, merasa dirinya begitu rendah.
Lelaki
itu menyelamatkannya. Jaejoong memejamkan matanya, membayangkan bagaimana Yunho,
menghalangi pisau yang hendak menikamnya dengan tangannya. Jaejoong masih ingat
darah yang mengalir itu, dan mau tidak mau Jaejoong menyadari kalau
dihitung-hitung sudah beberapa kali dia diselamatkan oleh Yunho. Kenapa lelaki
itu menyelamatkannya? Itu adalah pertanyaan yang tak bisa dijawabnya.
Bertahun-tahun Jaejoong menumbuhkan kebencian di hatinya, memupuk rasa dendam
yang mendalam, dengan pengetahuan bahwa Yunho yang jahat telah menghancurkan
keluarganya. Yah, Yunho memang jahat. Tetapi selain mengurung Jaejoong, dia
memperlakukan Jaejoong dengan baik....Apakah dia memang menganggap Jaejoong
sebagai kekasihnya?
Pipi Jaejoong
memerah membayangkan itu semua. Apakah semua kebaikan Yunho murni disebabkan
karena dorongan gairah?
Seharusnya
Jaejoong merasa terhina, tetapi tidak, perasaannya terasa hangat tanpa dia mau.
Dia tidak boleh merasa seperti ini. Kebenciannya adalah satu-satunya senjata
menghadapi lelaki itu... Kalau sampai Jaejoong merasakan perasaan lebih kepada Yunho...
Jaejoong menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir perasaan yang
menggayutinya.
Dengan
gemetar dia meraba lengannya yang di perban, dan menangis. Seluruh kehidupannya
berubah hanya dalam waktu singkat, seluruh rencana yang dibuatnya matang-matang
telah hancur, dan dia sekarang terpuruk di sini. Kembali dalam cengkeraman
lelaki iblis itu, dan bahkan sekarang berutang nyawa kepadanya.
“Jangan
menangis.”
Jaejoong
terlonjak ketika suara itu terdengar di dekatnya, dengan ketakutan dia menoleh
dan mendapati Yunho di sana, duduk di sofa tak jauh dari ranjang dan
mengamatinya.
Dengan
kasar Jaejoong menghapus air matanya dan menatap Yunho marah,
“Semua
ini gara-gara kau!” serunya menuduh, “Kalau kau tidak melibatkanku dalam
kehidupanmu yang penuh musuh itu, aku tidak akan mengalami ini!”
“Dan
kalau kau tidak gampang tertipu oleh bujuk rayu dokter yang selalu tersenyum
itu, kau tidak akan diculik dengan mudah.” sela Yunho tajam.
“Aku
hanya ingin lepas darimu, kenapa kau tidak melepaskanku!” kali ini Jaejoong berteriak penuh frustrasi, “Aku mohon aku
sudah muak berada di sini...aku...”
“Tidakkah
engkau bahagia di sini Jaejoong?” Yunho mendekat ke ranjang dan menyentuh dagu Jaejoong
dengan jemarinya. Pada saat itulah Jaejoong melihat, telapak tangan Yunho di
balut perban, “Aku memenuhi kebutuhanmu, aku memberimu apa yang tidak bisa kau
beli dengan uangmu sendiri, apakah menurutmu itu tidak cukup?”
“Aku
bukan pelacur,” desis Jaejoong tajam, “Kekayaan dan ketampananmu sama sekali
tidak ada pengaruhnya untukku, yang aku inginkan hanya kematianmu, karena kau
telah menghancurkan keluargaku. Tetapi jika itupun tidak kudapatkan, aku sudah
cukup puas bisa lepas darimu!” Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan menantang.
Lelaki
itu menatap Jaejoong tajam, lalu mengangkat bahunya dan menatap Jaejoong
lurus-lurus,
"Sudahlah,
Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu,” ditatapnya Jaejoong dengan serius,
“Bagaimana kondisimu?" Yunho menunduk dan mengamati Jaejoong.
Jaejoong
terdiam, otomatis memalingkan wajah dari Yunho,
"Jae..."
Yunho memanggil Jaejoong dengan penuh penekanan, membuat Jaejoong akhirnya mau
menatap matanya,
"Aku
baik-baik saja," jawab Jaejoong ketus, "Biarpun aku tahu semua ini
terjadi karena kau dan musuh-musuhmu."
Yunho
terkekeh, "Hmm... Mengingat kau sudah kembali galak kepadaku, aku yakin kau
sudah sembuh," Yunho menyentuhkan jemarinya di pipi Jaejoong, "Mianhe."
Jaejoong
tertegun karena permintaan maaf Yunho, dia menatap Yunho dengan hati-hati.
"Mian? Wae?”
"Karena
membuatmu terlibat dalam situasi ini," lelaki itu mengangkat bahu,
"Situasi seperti ini tidak akan bisa terhindarkan, mengingat kondisiku.
Tetapi kau harus tahu, ketika kau bersamaku, aku akan menjagamu."
Jaejoong
mendengus,
"Aku
lebih memilih tidak bersamamu. Kalau aku sendirian aku pasti akan lebih
baik-baik saja."
Yunho
menatap Jaejoong tajam,
"Tidak
bisa, situasi kemarin membuat kau dikenal sebagai kesayanganku. Orang yang
mengincarku pasti akan mengincarmu, karena kaulah yang paling lemah. Itu
membuatmu harus selalu bersamaku, di bawah perlindunganku," Yunho menatap Jaejoong
lurus-lurus, "Kau adalah kelemahanku."
Pipi Jaejoong
memerah, bukan cuma karena arti mendalam dalam kata-kata Yunho. Tetapi karena
cara Yunho mengucapkannya, begitu erotis dan penuh makna seolah-olah Yunho
mengucapkan sesuatu yang sensual dari perkataannya yang biasa itu.
Dan Yunho
tampaknya sengaja. Sialan lelaki itu. Dia sengaja mengucapkan kata-katanya
dengan nada sensual untuk mempengaruhi Jaejoong.
“Kau
bebas keluar masuk seisi rumah ini, tapi aku mohon padamu, jangan mencoba
melarikan diri dari rumah ini. Aku memang jahat, tapi aku akan menjagamu, tidak
demikian halnya dengan musuh-musuhku.” Yunho mengangkat tangannya yang terluka
untuk mengusap rambutnya, dan Jaejoong langsung teringat peristiwa itu, ketika Yunho
dengan cepat menggenggam pisau itu, menghalanginya untuk terluka, tanpa sadar
dia bergidik ngeri.
“Ya,”
gumam Yunho, memperhatikan reaksi Jaejoong, “Kau seharusnya takut Jae, karena
mereka semua akan melakukan apa saja untuk melukaiku lewat dirimu. Kau aman
disini, bersamaku. Dan aku yakin kau berpikiran sehat sehingga tahu bahwa kau
lebih baik bertahan di sini.”
.
.
.
.
.
.
.
Kebebasan
keluar masuk kamar ini dinikmati oleh Jaejoong sepenuhnya. Oh, dia memang masih
bermaksud pergi, tapi tidak sekarang. Dia masih trauma akan kejadian itu.
Setidaknya di rumah ini dia aman. Changmin masih mengawasinya diam-diam ketika
dia mondar-mandir keluar kamar, terutama ketika dia berjalan-jalan di taman.
Tetapi Jaejoong belajar untuk mengabaikannya.
Sore
itu, suasana rumah sangat sepi, dan Jaejoong berjalan menelusuri area lantai
satu rumah itu. Rumah itu sangat luas dengan lorong-lorong yang tidak tahu akan
menuju kemana, sepertinya tidak cukup satu hari untuk menjelajahi keseluruhan
rumah itu. Jaejoong berhenti di sebuah pintu yang terbuka dan sedikit
mengintip. Dia terpesona menemukan rak-rak tinggi yang memenuhi
dinding-dindingnya, penuh dengan buku!
Dengan
bersemangat Jaejoong memasuki ruangan itu, dan berdiri terkagum-kagum sambil
mengamati buku-buku di dalam rak itu. Yunho rupanya penggemar buku-buku sastra
klasik, berbagai bacaan tampak menggoda siap untuk dinikmati,
“Kau
sepertinya suka membaca,” suara Yunho mengejutkan Jaejoong, dia menoleh dan
saat itu baru menyadari kalau Yunho duduk di sudut ruangan, di meja kerjanya
yang besar dan mempelajari berkas-berkas perusahaannya, lelaki itu menatapnya
dengan mata cokelatnya yang tajam.
Dengan
angkuh Jaejoong mendongakkan dagunya, “Ya aku suka membaca, tetapi buku-buku
mahal di sini termasuk yang tidak bisa kubeli.” Jaejoong tanpa sadar mengernyit.
“Kau
boleh membaca di sini,” Yunho menawarkan tampak begitu berbaik hati. Tetapi Jaejoong
merasakan ada sesuatu di sana, sesuatu yang berbeda yang sedikit menakutkan
baginya. Ketegangan seksual yang memenuhi ruangan ini terasa begitu tidak
nyaman. Dan meskipun tawaran Yunho terasa begitu menggoda, Jaejoong tidak
berani.
“Aku
tidak akan mengganggumu,” Yunho mengangkat alis melihat Jaejoong nampak
ragu-ragu. “Aku tidak akan mengganggumu, Jae,” lelaki itu mengulang lagi
kata-katanya, “Aku bahkan tidak akan berdiri dari kursi ini.”
Jaejoong
menatap Yunho curiga, “Tidak bisakah aku meminjam buku-buku ini dan membawanya
ke kamarku?”
Yunho
menggelengkan kepalanya. Oh, tentu saja bisa, gumam Yunho dalam hati, tetapi
dia akan kehilangan kenikmatan menggoda Jaejoong, dia ingin Jaejoong terpaksa
berada di ruangan ini, bersamanya, “Tidak bisa buku-buku itu mahal, aku tidak
yakin kau akan menjaganya dan tidak merusakkannya.”
Kata-kata
Yunho terasa menyinggung Jaejoong, jangan-jangan Yunho bahkan menyangka Jaejoong
ingin mencuri buku-buku mahalnya. Kurang ajar lelaki itu. Tetapi ajakan Yunho
untuk membaca buku di ruangan yang sama terasa begitu menggoda. Dan lelaki itu
jelas-jelas menantangnya, menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di
antara mereka, dan memaksa Jaejoong menunjukkan diri apakah akan menjadi
pengecut ataukah berani menghadapi Yunho.
Jaejoong
sedikit mengentakkan kakinya dan melangkah mendekati sofa, diambilnya salah
satu buku di rak itu dan dia duduk, berusaha tampil nyaman di sana.
Yunho tersenyum.
Gadis itu jelas-jelas ingin menantangnya. Dan kehadiran Jaejoong di ruangannya
sangat menarik perhatiannya, dia bahkan tidak tertarik lagi akan pekerjaan di
mejanya. Dilipatnya kedua tangannya di meja dan dia mengamati Jaejoong yang
sedang berakting membaca itu dengan intens.
“Kenapa
kau menatapku seperti itu?” Jaejoong akhirnya mencetuskan apa yang ada di dalam
pikirannya, Yunho sudah sejak beberapa menit lalu hanya duduk dan menatapnya.
Lelaki itu memang tidak mengganggu, bahkan lelaki itu sama sekali tidak
beranjak dari tempat duduknya. Tetapi pandangan matanya yang intens dan penuh
gairah itu terasa sangat mengganggu. Membuat seluruh saraf tubuh Jaejoong
mengejang ke dalam gelenyar panas yang membuat suhu ruangan ber-AC itu
tiba-tiba terasa panas.
“Aku
hanya ingin mengetahui seberapa jauh kau akan pura-pura berakting membaca.
Setelah itu mungkin kau bisa menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di
antara kita,” gumam Yunho dengan tenang, tidak bergeser sedikitpun dari tempat
duduknya, tetapi tampak begitu mengancam.
Pipi Jaejoong
memerah mendengar perkataan Yunho itu, dengan marah dibantingnya buku itu di
sofa dan berdiri, “Kurasa sebaiknya aku pergi.”
“Takut,
Jae?” Yunho bergumam dengan nada mencemooh, “Kau takut kalau kau akan menyerah
dalam pelukanku ya? Aku tadi menawarimu di sini, ingin melihat seberapa jauh
kau berani berdua saja bersamaku di dalam satu ruangan...ternyata kau lari
ketakutan seperti kelinci yang akan dimangsa.”
Oh Ya!
Tatapan Yunho kepadanya memang seperti elang yang akan memangsa kelinci
buruannya. Jaejoong merasa sudah sewajarnya dia ingin menyelamatkan diri.
“Aku
akan keluar dari sini.”
"Kau
memang harus keluar dari sini, karena kalau tidak pilihanmu hanya satu,
berbaring di ranjangku.”
“Itu
hanya ada dalam mimpimu!” Jaejoong setengah berteriak, berlari ke pintu dan
membanting pintunya keras-keras, masih didengarnya tawa Yunho mengiringi
kepergiannya.
.
.
.
.
.
.
.
“Jae...”
suara Yunho mengagetkan Jaejoong yang sedang termenung di balkon. Balkon yang
sama tempat dia dilempar Yunho dengan cara mengerikan ke kolam di bawahnya
beberapa waktu yang lalu.
Jaejoong
menoleh dan mendapati Yunho sedang berdiri di ambang pintu balkon, menatapnya
dengan tenang. Lelaki itu sepertinya baru saja pulang dari tempat kerjanya, Jaejoong
tidak tahu, karena dari balkon ini pemandangannya hanyalah halaman belakang dan
kolam renang yang luas.
“Kenapa
kau berdiri di balkon malam-malam begini?” Yunho mengernyit mengamati hujan
rintik-rintik yang turun makin deras, bahkan airnya bercipratan mulai membasahi
Jaejoong yang memang berdiri sambil menatap halaman di bawah.
Sejak Jaejoong
dibebaskan, inilah pertama kalinya dia bisa menikmati hujan secara langsung.
Dulu ketika dikurung di kamar putih Jaejoong hanya bisa menikmati hujan dari
jendela, tanpa menyentuhnya. Sekarang bisa merasakan percikan air membasahi
tubuhnya terasa begitu luar biasa untuknya.
“Aku
sedang menikmati hujan.” Jaejoong membalikkan tubuhnya membelakangi Yunho,
mencoba mengacuhkan lelaki itu.
“Kau
akan membuat dirimu sendiri sakit.” Yunho mulai menggeram, tampaknya lelaki itu
menahan marah.
Jaejoong
menoleh lagi dan menatap Yunho dengan menantang, “Entah apa yang kau katakan
tentang memberikan kebebasan padaku itu bohong, atau kau memang suka
mengatur-atur dan menggangguku. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan kuharap
kau tidak menggangguku.”
“Oke.”
Tatapan Yunho kepada Jaejoong terasa membakar di suasana hujan yang begitu
dingin, “Terserah, silahkan buat dirimu sendiri sakit, aku harap kau tidak
merepotkanku nantinya."
Lelaki
itu membalikkan badan, tetapi setelah beberapa langkah dia memutar tubuhnya
kembali dan menatap Jaejoong, “Setelah kau siap aku ingin bicara denganmu.”
“Tentang
apa?” Jaejoong mengernyitkan kening, mulai merasa terganggu dengan
interupsi-interupsi dari Yunho. Dia sedang ingin menikmati hujan dan lelaki itu
tampaknya selalu muncul di saat yang tidak tepat dan mengucapkan kata-kata yang
tidak tepat pula.
“Nanti,
ini mengenai ulang tahunmu yang ke dua puluh lima.”
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Untung dech semua selamat, suka dech pas bag yunho godain jae
ReplyDeleteSaki... Di novel aslinya yunho itu Rink kan??? Yunho masuk bgt sama karakter.
ReplyDeleteRink itu di bittersweet unnie... kalau di Salang dia jadi mikail...
DeleteHaha... Salah... Sorry sorry... Iya bru inget Rink di bittersweet.. Kalo si SWTD itu yunho jadi Mikail, jae jadi Lana. Ya kan??
ReplyDeleteYyyyyy... appa tetep dechh.. cool
ReplyDeleteAaah di kira akan ada sesuatu di perpustakaan #plaaaaaak
ReplyDeleteUdah Jae jangan kabuuuur #plak
Walau dengan gayanya, Yunho benar-benar ingin memilikimu, serius deeh
Aku jg mengharapkan sesuatu terjadi di perpustakaan. hehehe...
ReplyDeleteSuka bgt sama gayanya Yunho kl lg godain Jaejoong.