Sunday, February 23

[Remake] Salang-Ui Ba Chapter 13



Yunho melihat Jaejoong kehilangan kesadarannya, mulai oleng dalam kondisi terikat di kursi, Perhatian Yunho teralih, dan dia berdiri untuk meraih Jaejoong, pada saat itulah, Dokter Woohyun yang sudah babak belur mencoba meraih pisau yang dilemparkan Yunho tadi, dia berhasil meraihnya dan mengarahkannya untuk menikam punggung Yunho dan...
DOR!!!
Tubuh Dokter Woohyun ambruk ke lantai karena tembakan itu. Yunho menoleh ke belakang, melihat Dokter Woohyun ambruk dengan pisau masih di tangannya, dan dia lalu menoleh ke pintu, ke arah Changmin yang memegang pistol di tangannya.
“Bereskan dia.” Yunho memerintah cepat, lalu perhatiannya sepenuhnya terarah kepada Jaejoong, tidak dirasakannya telapak tangannya yang tersayat dalam, dia membuka ikatan Jaejoong, dan perempuan itu langsung jatuh ambruk ke pelukannya.
salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Ketika kesadarannya kembali, Jaejoong berada di ruangan putih itu, dan dia memejamkan matanya lagi, tak pernah sebelumnya dia merasa begitu bersyukur berada di ruangan ini.
Kengerian masih merayapinya, membayangkan pisau yang berkelebatan di mukanya, di tubuhnya, di lengannya...Argh!
Jaejoong merasa nyeri yang amat sangat dan menoleh ke arah lengannya, lengannya itu sudah dibalut perban yang amat tebal, nyerinya masih terasa tetapi lebih karena trauma mendalam Jaejoong akibat pengalaman buruknya itu.
Jaejoong terduduk, Yunho telah menyelamatkannya, sekali lagi. Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Apakah benar karena dia dianggap sebagai pelacur istimewa Yunho? Karena dia melayani Yunho dengan tubuhnya? Dengan pucat Jaejoong memalingkan mukanya, merasa dirinya begitu rendah.
Lelaki itu menyelamatkannya. Jaejoong memejamkan matanya, membayangkan bagaimana Yunho, menghalangi pisau yang hendak menikamnya dengan tangannya. Jaejoong masih ingat darah yang mengalir itu, dan mau tidak mau Jaejoong menyadari kalau dihitung-hitung sudah beberapa kali dia diselamatkan oleh Yunho. Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Itu adalah pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Bertahun-tahun Jaejoong menumbuhkan kebencian di hatinya, memupuk rasa dendam yang mendalam, dengan pengetahuan bahwa Yunho yang jahat telah menghancurkan keluarganya. Yah, Yunho memang jahat. Tetapi selain mengurung Jaejoong, dia memperlakukan Jaejoong dengan baik....Apakah dia memang menganggap Jaejoong sebagai kekasihnya?
Pipi Jaejoong memerah membayangkan itu semua. Apakah semua kebaikan Yunho murni disebabkan karena dorongan gairah?
Seharusnya Jaejoong merasa terhina, tetapi tidak, perasaannya terasa hangat tanpa dia mau. Dia tidak boleh merasa seperti ini. Kebenciannya adalah satu-satunya senjata menghadapi lelaki itu... Kalau sampai Jaejoong merasakan perasaan lebih kepada Yunho... Jaejoong menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir perasaan yang menggayutinya.
Dengan gemetar dia meraba lengannya yang di perban, dan menangis. Seluruh kehidupannya berubah hanya dalam waktu singkat, seluruh rencana yang dibuatnya matang-matang telah hancur, dan dia sekarang terpuruk di sini. Kembali dalam cengkeraman lelaki iblis itu, dan bahkan sekarang berutang nyawa kepadanya.
“Jangan menangis.”
Jaejoong terlonjak ketika suara itu terdengar di dekatnya, dengan ketakutan dia menoleh dan mendapati Yunho di sana, duduk di sofa tak jauh dari ranjang dan mengamatinya.
Dengan kasar Jaejoong menghapus air matanya dan menatap Yunho marah,
“Semua ini gara-gara kau!” serunya menuduh, “Kalau kau tidak melibatkanku dalam kehidupanmu yang penuh musuh itu, aku tidak akan mengalami ini!”
“Dan kalau kau tidak gampang tertipu oleh bujuk rayu dokter yang selalu tersenyum itu, kau tidak akan diculik dengan mudah.” sela Yunho tajam.
“Aku hanya ingin lepas darimu, kenapa kau tidak melepaskanku!” kali ini Jaejoong  berteriak penuh frustrasi, “Aku mohon aku sudah muak berada di sini...aku...”
“Tidakkah engkau bahagia di sini Jaejoong?” Yunho mendekat ke ranjang dan menyentuh dagu Jaejoong dengan jemarinya. Pada saat itulah Jaejoong melihat, telapak tangan Yunho di balut perban, “Aku memenuhi kebutuhanmu, aku memberimu apa yang tidak bisa kau beli dengan uangmu sendiri, apakah menurutmu itu tidak cukup?”
“Aku bukan pelacur,” desis Jaejoong tajam, “Kekayaan dan ketampananmu sama sekali tidak ada pengaruhnya untukku, yang aku inginkan hanya kematianmu, karena kau telah menghancurkan keluargaku. Tetapi jika itupun tidak kudapatkan, aku sudah cukup puas bisa lepas darimu!” Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan menantang.
Lelaki itu menatap Jaejoong tajam, lalu mengangkat bahunya dan menatap Jaejoong lurus-lurus,
"Sudahlah, Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu,” ditatapnya Jaejoong dengan serius, “Bagaimana kondisimu?" Yunho menunduk dan mengamati Jaejoong.
Jaejoong terdiam, otomatis memalingkan wajah dari Yunho,
"Jae..." Yunho memanggil Jaejoong dengan penuh penekanan, membuat Jaejoong akhirnya mau menatap matanya,
"Aku baik-baik saja," jawab Jaejoong ketus, "Biarpun aku tahu semua ini terjadi karena kau dan musuh-musuhmu."
Yunho terkekeh, "Hmm... Mengingat kau sudah kembali galak kepadaku, aku yakin kau sudah sembuh," Yunho menyentuhkan jemarinya di pipi Jaejoong, "Mianhe."
Jaejoong tertegun karena permintaan maaf Yunho, dia menatap Yunho dengan hati-hati. "Mian? Wae?”
"Karena membuatmu terlibat dalam situasi ini," lelaki itu mengangkat bahu, "Situasi seperti ini tidak akan bisa terhindarkan, mengingat kondisiku. Tetapi kau harus tahu, ketika kau bersamaku, aku akan menjagamu."
Jaejoong mendengus,
"Aku lebih memilih tidak bersamamu. Kalau aku sendirian aku pasti akan lebih baik-baik saja."
Yunho menatap Jaejoong tajam,
"Tidak bisa, situasi kemarin membuat kau dikenal sebagai kesayanganku. Orang yang mengincarku pasti akan mengincarmu, karena kaulah yang paling lemah. Itu membuatmu harus selalu bersamaku, di bawah perlindunganku," Yunho menatap Jaejoong lurus-lurus, "Kau adalah kelemahanku."
Pipi Jaejoong memerah, bukan cuma karena arti mendalam dalam kata-kata Yunho. Tetapi karena cara Yunho mengucapkannya, begitu erotis dan penuh makna seolah-olah Yunho mengucapkan sesuatu yang sensual dari perkataannya yang biasa itu.
Dan Yunho tampaknya sengaja. Sialan lelaki itu. Dia sengaja mengucapkan kata-katanya dengan nada sensual untuk mempengaruhi Jaejoong.
“Kau bebas keluar masuk seisi rumah ini, tapi aku mohon padamu, jangan mencoba melarikan diri dari rumah ini. Aku memang jahat, tapi aku akan menjagamu, tidak demikian halnya dengan musuh-musuhku.” Yunho mengangkat tangannya yang terluka untuk mengusap rambutnya, dan Jaejoong langsung teringat peristiwa itu, ketika Yunho dengan cepat menggenggam pisau itu, menghalanginya untuk terluka, tanpa sadar dia bergidik ngeri.
“Ya,” gumam Yunho, memperhatikan reaksi Jaejoong, “Kau seharusnya takut Jae, karena mereka semua akan melakukan apa saja untuk melukaiku lewat dirimu. Kau aman disini, bersamaku. Dan aku yakin kau berpikiran sehat sehingga tahu bahwa kau lebih baik bertahan di sini.”
.
.
.
.
.
.
.
Kebebasan keluar masuk kamar ini dinikmati oleh Jaejoong sepenuhnya. Oh, dia memang masih bermaksud pergi, tapi tidak sekarang. Dia masih trauma akan kejadian itu. Setidaknya di rumah ini dia aman. Changmin masih mengawasinya diam-diam ketika dia mondar-mandir keluar kamar, terutama ketika dia berjalan-jalan di taman. Tetapi Jaejoong belajar untuk mengabaikannya.
Sore itu, suasana rumah sangat sepi, dan Jaejoong berjalan menelusuri area lantai satu rumah itu. Rumah itu sangat luas dengan lorong-lorong yang tidak tahu akan menuju kemana, sepertinya tidak cukup satu hari untuk menjelajahi keseluruhan rumah itu. Jaejoong berhenti di sebuah pintu yang terbuka dan sedikit mengintip. Dia terpesona menemukan rak-rak tinggi yang memenuhi dinding-dindingnya, penuh dengan buku!
Dengan bersemangat Jaejoong memasuki ruangan itu, dan berdiri terkagum-kagum sambil mengamati buku-buku di dalam rak itu. Yunho rupanya penggemar buku-buku sastra klasik, berbagai bacaan tampak menggoda siap untuk dinikmati,
“Kau sepertinya suka membaca,” suara Yunho mengejutkan Jaejoong, dia menoleh dan saat itu baru menyadari kalau Yunho duduk di sudut ruangan, di meja kerjanya yang besar dan mempelajari berkas-berkas perusahaannya, lelaki itu menatapnya dengan mata cokelatnya yang tajam.
Dengan angkuh Jaejoong mendongakkan dagunya, “Ya aku suka membaca, tetapi buku-buku mahal di sini termasuk yang tidak bisa kubeli.” Jaejoong tanpa sadar mengernyit.
“Kau boleh membaca di sini,” Yunho menawarkan tampak begitu berbaik hati. Tetapi Jaejoong merasakan ada sesuatu di sana, sesuatu yang berbeda yang sedikit menakutkan baginya. Ketegangan seksual yang memenuhi ruangan ini terasa begitu tidak nyaman. Dan meskipun tawaran Yunho terasa begitu menggoda, Jaejoong tidak berani.
“Aku tidak akan mengganggumu,” Yunho mengangkat alis melihat Jaejoong nampak ragu-ragu. “Aku tidak akan mengganggumu, Jae,” lelaki itu mengulang lagi kata-katanya, “Aku bahkan tidak akan berdiri dari kursi ini.”
Jaejoong menatap Yunho curiga, “Tidak bisakah aku meminjam buku-buku ini dan membawanya ke kamarku?”
Yunho menggelengkan kepalanya. Oh, tentu saja bisa, gumam Yunho dalam hati, tetapi dia akan kehilangan kenikmatan menggoda Jaejoong, dia ingin Jaejoong terpaksa berada di ruangan ini, bersamanya, “Tidak bisa buku-buku itu mahal, aku tidak yakin kau akan menjaganya dan tidak merusakkannya.”
Kata-kata Yunho terasa menyinggung Jaejoong, jangan-jangan Yunho bahkan menyangka Jaejoong ingin mencuri buku-buku mahalnya. Kurang ajar lelaki itu. Tetapi ajakan Yunho untuk membaca buku di ruangan yang sama terasa begitu menggoda. Dan lelaki itu jelas-jelas menantangnya, menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara mereka, dan memaksa Jaejoong menunjukkan diri apakah akan menjadi pengecut ataukah berani menghadapi Yunho.
Jaejoong sedikit mengentakkan kakinya dan melangkah mendekati sofa, diambilnya salah satu buku di rak itu dan dia duduk, berusaha tampil nyaman di sana.
Yunho tersenyum. Gadis itu jelas-jelas ingin menantangnya. Dan kehadiran Jaejoong di ruangannya sangat menarik perhatiannya, dia bahkan tidak tertarik lagi akan pekerjaan di mejanya. Dilipatnya kedua tangannya di meja dan dia mengamati Jaejoong yang sedang berakting membaca itu dengan intens.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Jaejoong akhirnya mencetuskan apa yang ada di dalam pikirannya, Yunho sudah sejak beberapa menit lalu hanya duduk dan menatapnya. Lelaki itu memang tidak mengganggu, bahkan lelaki itu sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya. Tetapi pandangan matanya yang intens dan penuh gairah itu terasa sangat mengganggu. Membuat seluruh saraf tubuh Jaejoong mengejang ke dalam gelenyar panas yang membuat suhu ruangan ber-AC itu tiba-tiba terasa panas.
“Aku hanya ingin mengetahui seberapa jauh kau akan pura-pura berakting membaca. Setelah itu mungkin kau bisa menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara kita,” gumam Yunho dengan tenang, tidak bergeser sedikitpun dari tempat duduknya, tetapi tampak begitu mengancam.
Pipi Jaejoong memerah mendengar perkataan Yunho itu, dengan marah dibantingnya buku itu di sofa dan berdiri, “Kurasa sebaiknya aku pergi.”
“Takut, Jae?” Yunho bergumam dengan nada mencemooh, “Kau takut kalau kau akan menyerah dalam pelukanku ya? Aku tadi menawarimu di sini, ingin melihat seberapa jauh kau berani berdua saja bersamaku di dalam satu ruangan...ternyata kau lari ketakutan seperti kelinci yang akan dimangsa.”
Oh Ya! Tatapan Yunho kepadanya memang seperti elang yang akan memangsa kelinci buruannya. Jaejoong merasa sudah sewajarnya dia ingin menyelamatkan diri.
“Aku akan keluar dari sini.”
"Kau memang harus keluar dari sini, karena kalau tidak pilihanmu hanya satu, berbaring di ranjangku.”
“Itu hanya ada dalam mimpimu!” Jaejoong setengah berteriak, berlari ke pintu dan membanting pintunya keras-keras, masih didengarnya tawa Yunho mengiringi kepergiannya.
.
.
.
.
.
.
.
“Jae...” suara Yunho mengagetkan Jaejoong yang sedang termenung di balkon. Balkon yang sama tempat dia dilempar Yunho dengan cara mengerikan ke kolam di bawahnya beberapa waktu yang lalu.
Jaejoong menoleh dan mendapati Yunho sedang berdiri di ambang pintu balkon, menatapnya dengan tenang. Lelaki itu sepertinya baru saja pulang dari tempat kerjanya, Jaejoong tidak tahu, karena dari balkon ini pemandangannya hanyalah halaman belakang dan kolam renang yang luas.
“Kenapa kau berdiri di balkon malam-malam begini?” Yunho mengernyit mengamati hujan rintik-rintik yang turun makin deras, bahkan airnya bercipratan mulai membasahi Jaejoong yang memang berdiri sambil menatap halaman di bawah.
Sejak Jaejoong dibebaskan, inilah pertama kalinya dia bisa menikmati hujan secara langsung. Dulu ketika dikurung di kamar putih Jaejoong hanya bisa menikmati hujan dari jendela, tanpa menyentuhnya. Sekarang bisa merasakan percikan air membasahi tubuhnya terasa begitu luar biasa untuknya.
“Aku sedang menikmati hujan.” Jaejoong membalikkan tubuhnya membelakangi Yunho, mencoba mengacuhkan lelaki itu.
“Kau akan membuat dirimu sendiri sakit.” Yunho mulai menggeram, tampaknya lelaki itu menahan marah.
Jaejoong menoleh lagi dan menatap Yunho dengan menantang, “Entah apa yang kau katakan tentang memberikan kebebasan padaku itu bohong, atau kau memang suka mengatur-atur dan menggangguku. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan kuharap kau tidak menggangguku.”
“Oke.” Tatapan Yunho kepada Jaejoong terasa membakar di suasana hujan yang begitu dingin, “Terserah, silahkan buat dirimu sendiri sakit, aku harap kau tidak merepotkanku nantinya."
Lelaki itu membalikkan badan, tetapi setelah beberapa langkah dia memutar tubuhnya kembali dan menatap Jaejoong, “Setelah kau siap aku ingin bicara denganmu.”
“Tentang apa?” Jaejoong mengernyitkan kening, mulai merasa terganggu dengan interupsi-interupsi dari Yunho. Dia sedang ingin menikmati hujan dan lelaki itu tampaknya selalu muncul di saat yang tidak tepat dan mengucapkan kata-kata yang tidak tepat pula.
“Nanti, ini mengenai ulang tahunmu yang ke dua puluh lima.”
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

7 comments:

  1. Untung dech semua selamat, suka dech pas bag yunho godain jae

    ReplyDelete
  2. Saki... Di novel aslinya yunho itu Rink kan??? Yunho masuk bgt sama karakter.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rink itu di bittersweet unnie... kalau di Salang dia jadi mikail...

      Delete
  3. Haha... Salah... Sorry sorry... Iya bru inget Rink di bittersweet.. Kalo si SWTD itu yunho jadi Mikail, jae jadi Lana. Ya kan??

    ReplyDelete
  4. Anonymous11:14 PM

    Yyyyyy... appa tetep dechh.. cool

    ReplyDelete
  5. Aaah di kira akan ada sesuatu di perpustakaan #plaaaaaak

    Udah Jae jangan kabuuuur #plak
    Walau dengan gayanya, Yunho benar-benar ingin memilikimu, serius deeh

    ReplyDelete
  6. Aku jg mengharapkan sesuatu terjadi di perpustakaan. hehehe...
    Suka bgt sama gayanya Yunho kl lg godain Jaejoong.

    ReplyDelete