Yunho
mengambil berkas itu dan membacanya, lalu membolak-baliknya. Matanya terpaku
pada salah satu foto di berkas itu,
"Kenapa
dia masuk ke daftar ini?"
Changmin
melirik berkas itu.
"Karena
kami memfilter semua pegawai rumah sakit yang masuk kurang dari 2 bulan sebelum
kejadian kecelakaan itu."
Yunho
mengernyit lama. Sebelum kemudian wajahnya menegang.
"Dia
punya akses bebas masuk ke ruangan Jaejoong, kita harus ke rumah sakit
segera!"
Yunho
meraih jasnya dan melangkah tergesa ke pintu diikuti Changmin. Dan pada sat
bersamaan, pintu di sisi lainnya terbuka, beberapa pengawal Yunho masuk dengan
wajah panik dan nafas terengah.
"Tuan
Yunho, Jaejoong melarikan diri dari rumah sakit!!"
salang-ui
ba
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their
self
Sleep with the Devil
©Shanty
Agatha
Woohyun
mengendarai mobilnya dengan tenang menembus kemacetan jalan raya, mereka lalu
tiba di belokan ke luar kota, menuju jalanan yang sepi. Jaejoong yang selama
ini diam karena menahan rasa tegang dalam perjalanan menoleh dan menatap Woohyun
penuh rasa ingin tahu,
“Kita
akan kemana dokter?”
Woohyun
menoleh lalu tersenyum manis, “Ke rumah di pinggiran kota, tempatnya seperti
villa di pegunungan, kau akan aman di sana dan Tuan Jung tidak akan bisa
menjangkaumu.”
Jaejoong
menganggukkan kepalanya dan menatap lurus ke depan, pemandangan di luar adalah
hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, malam makin gelap dan Jaejoong mulai
merasa mengantuk. Akhirnya dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi
dan mulai tertidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunho
menatap marah pada perawat yang dibius untuk menggantikan Jaejoong di ranjang.
Dua pengawalnya yang tadi berjaga di kamar Jaejoong berdiri ketakutan dengan
wajah lebam bekas pukulan Yunho,
“Kenapa
kalian bisa sebodoh itu hah?” suara Yunho terdengar tenang, tetapi intensitas
kemarahannya membuat bulu kuduk dua anak buahnya berdiri.
Para
pengawal itu saling bertatapan mencoba berkata-kata, tetapi tak bisa. Mereka
memang bersalah. Changmin sebagai atasan mereka telah menginstruksikan untuk
memeriksa siapapun sebelum masuk dan keluar dari ruangan Jaejoong. Tetapi
karena Dokter Lee Woohyun tampaknya terbiasa keluar masuk ruangan ini dengan
bebas, mereka jadi lengah dan membiarkannya. Siapa sangka kalau dokter itu
adalah Jackal yang ditakuti itu?
Yunho
masih menatap marah kepada kedua pengawalnya, memikirkan hukuman apa yang cukup
kejam untuk dilimpahkan atas kebodohan mereka. Jaejoong melarikan diri, dan
bukan hanya melarikan diri, Demi Tuhan! Perempuan itu sekarang ada di tangan
Jackal.
Changmin
datang, menyerahkan setumpuk berkas lagi, mengalihkan perhatian Yunho,
“Sepertinya
dugaan Anda benar Tuan Yunho, profil Dokter Lee sangat mirip dengan profil
Jackal. Dia lulusan jenius dari kedokteran, kehidupannya sangat misterius, dan
menurut desas desus, ibunya meninggal karena bunuh diri. Dia baru masuk
mendaftar ke rumah sakit ini dua bulan yang lalu, dan ketika kami melakukan
pengecekan terhadap masa lalunya, semuanya kosong, tidak ada satupun data
tentangnya, seolah semuanya dihapus.”
“Cari
sampai dapat,” Yunho menggertakkan giginya, “Apapun itu, alamat, nomor
mobilnya, apapun untuk bisa mengarahkan kita kepadanya. Kita harus menemukan
Jaejoong, sebelum terlambat.” Yunho memejamkan mata, sejenak merasakan sesak di
dadanya.
Jaejoong
harus selamat, meskipun sekarang hal itu diragukan, karena Jaejoong berada di
tangan Jackal yang sangat kejam. Yunho akan menempuh segala cara untuk
mendapatkan Jaejoong kembali, selamat, dan hidup-hidup.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Jae,
kita sudah sampai,” Woohyun mengguncang bahu Jaejoong lembut. Jaejoong membuka
matanya dan menemukan mobil mereka diparkir di sebuah villa tua berwarna putih
yang sangat indah dihujani cahaya lampu yang remang-remang.
Woohyun
turun terlebih dahulu, lalu membuka pintu penumpang dan membantu Jaejoong
turun. Mereka berjalan bersisian memasuki teras rumah, ketika Woohyun membuka
kunci pintu rumah itu, Jaejoong mengernyit dan bertanya,
“Ini rumah
uisanim?”
Lelaki
itu tersenyum lagi dan menggeleng,
“Bukan,
ini properti milik sahabatku yang dititipkan kepadaku, sekarang dia sedang di
luar negeri. Kupikir tempat ini adalah tempat yang paling aman untukmu
sekarang-sekarang ini...Kau bisa bersembunyi di sini sementara, karena aku tahu
Tuan Jung pasti sedang sangat marah sekarang dan pasti dia akan menggunakan
segala cara untuk mencarimu.”
Jaejoong
menggigil mendengar kemungkinan itu, dan membiarkan dirinya didorong masuk ke
dalam vila itu. Bagian dalam villa itu sangat indah, secantik bagian luarnya,
dengan ornamen Belanda yang kuno dan rapi, tampak begitu nyaman untuk
ditinggali,
“Ayo,
kuantar kau ke kamar sementaramu, kau bisa beristirahat di sana, aku yakin kau
pasti capek setelah perjalanan panjang.” Woohyun melangkah melalui anak tangga
dan Jaejoong mengikutinya.
Kamar
untuk Jaejoong adalah kamar sederhana yang tertata rapi, dan ranjang bulu angsa
berseprai putih di tengah ranjang tampak sangat empuk dan menggoda untuk
ditiduri. Tanpa sadar Jaejoong menguap dan Woohyun terkekeh,
‘Tidurlah
Jae, semoga besok pagi kau bangun dengan lebih segar.”
Jaejoong
menganggukkan kepalanya,
“Gomapta
uisa, terima kasih atas segalanya, saya tidak tahu bagaimana harus
berterimakasih kepada dokter karena sudah menyelamatkan saya dari Yunho.”
Dokter
Woohyun melangkah ke pintu, senyumnya tampak misterius di balik cahaya
remang-remang,
“Tidak
apa-apa Jae, aku senang bisa membawamu ke sini.” Lalu lelaki itu melangkah
keluar dan menutup pintu di belakangnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong
terbangun karena rasa haus yang amat sangat, dia terduduk di ranjang dan
sedikit terbatuk-batuk. Dengan pelan dia memandang ke sekeliling, masih gelap.
Mungkin ini masih dini hari.
Dengan
langkah hati-hati Jaejoong turun dari ranjang, dan keluar dari kamar. Dimanakah
dapurnya? Dia ingin minum...
Lorong
lantai dua tampak gelap, tetapi ada cahaya putih di ujung sana, mungkin itu
dapurnya, pikir Jaejoong dalam diam. Dia lalu melangkah hati-hati menuju cahaya
itu, dan terbawa ke sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong.
Jaejoong
membukanya, dan tertegun. Ini bukan dapur. Dia sudah hendak membalikkan badan,
ketika pandangan matanya terpaku pada sesuatu, dan wajahnya memucat.
Di
sana, di salah satu sisi tembok itu penuh dengan foto-foto yang ditempel. Dan
itu bukan foto-foto biasa, itu foto-foto Yunho sedang melakukan aktivitasnya,
beberapa di antaranya ada Yunho yang sedang bersama Jaejoong. Dan melihat
ekspresi Yunho di sana, tampaknya foto-foto itu diambil dengan kamera
tersembunyi, tanpa seizin objeknya.
“Ada
pepatah, kalau rasa ingin tahu yang besar suatu saat akan menjadi penyebab
kematianmu.”
Jaejoong
terlonjak kaget, mendengarkan suara yang mendesis itu, dia membalikkan badannya
dan berhadapan dengan Dokter Woohyun yang berdiri diam di balik bayang-bayang.
Lelaki itu tersenyum, seperti biasanya, tetapi senyumnya yang sekarang bukanlah
senyum manis secerah Matahari, melainkan seringai jahat yang menakutkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Kita
sudah berhasil melacak mobilnya,” Changmin datang dengan terengah, mendatangi
Yunho yang menunggu sambil mondar-mandir tak tenang di ruangannya.
Yunho
langsung berdiri dan bergegas, dia menyiapkan senjatanya, belati berat yang
selama ini ada di kakinya dan sebuah magnum miliknya. Kalau dia harus membunuh
demi Jaejoong, akan dia lakukan. Lelaki itu memejamkan matanya, semoga dia
tidak terlambat datang.
.
.
.
.
.
.
.
Mata
Jaejoong hanya bisa menatap dalam ketakutan, lelaki di depannya ini sudah
berubah total, dari lelaki ramah dan baik hati menjadi monster yang menakutkan,
Tubuh Jaejoong diikat di sebuah kursi dan Jaejoong sepenuhnya tidak bisa
bergerak, di bawah kuasa psikopat gila yang sekarang sedang berjalan
mondar-mandir sambil memainkan pisau di tangannya.
“Membunuh
dengan pisau adalah favoritku,” Woohyun memainkan pisau itu di dekat Jaejoong,
membuat kilatannya menyilaukan dalam kegelapan. “Karena itulah aku dipanggil
Jackal,” lelaki itu terkekeh mengerikan melihat sinar ketakutan yang terpancar
dari mata Jaejoong, “Yah kenalkan, akulah Jackal yang kalian cari-cari itu.”
Jaejoong
mencoba meronta, kengerian merayapi dirinya ketika menyadari bahwa lelaki di
depannya ini bukan saja orang jahat, tetapi dia adalah psikopat menakutkan yang
diceritakan oleh Yunho.
Woohyun
tertawa melihat usaha Jaejoong yang sia-sia untuk melarikan diri, kemudian
mendorong kursi Jaejoong ke dinding dan menekankan pisaunya di pipi Jaejoong,
“Pisau
ini sangat tajam,” Dokter Woohyun memain-mainkan pisau itu di pipi Jaejoong,
“Aku ragu apakah Yunho masih mau menjadikanmu pelacurnya kalau mukamu rusak,”
diletakkannya besi dingin itu di pipi Jaejoong membuat mata Jaejoong terpejam
ketakutan.
Tetapi
kemudian kata-kata Dokter Woohyun menyulut amarahnya, dia bukan pelacur Yunho!
“Aku
bukan pelacur Yunho!” dengan Lantang Jaejoong meneriakkan bantahannya. Dan
rupanya bantahannya itu malahan memancing emosi Woohyun,
“Bukan
pelacurnya katamu? Kau tidur dengannya dan menikmatinya, kau menerima segala
fasilitas darinya dengan suka rela, dan kau membayar dengan tubuhmu. Dari
pengamatanku, kau adalah pelacur yang paling disukai dan istimewa di mata Yunho
dibandingkan pelacur-pelacurnya yang lain, dan aku membayangkan kepuasan yang
kudapatkan ketika dia menyaksikan tubuhmu yang sudah mati, penuh dengan sayatan
pisau.”
Lalu Woohyun
tertawa dengan mengerikan, “Mari kita mulai ritual ini...Aku akan menyayatmu
pelan-pelan di bagian-bagian tubuhmu hingga kau akan mati pelan-pelan kehabisan
darah...” pisau itu berkelebatan dengan main-main di depan Jaejoong, “Lalu aku
akan membuang tubuhmu tepat di depan mata Yunho, pasti aku akan puas
sekali...Sebelum kemudian akan kuhabisi Yunho dengan tanganku sendiri.” Dengan
tawa mengerikannya yang terkekeh dan menakutkan, Woohyun mengayunkan pisaunya,
dan sekejap, Jaejoong merasakan pedih karena sayatan besi tajam itu di
lengannya.
.
.
.
.
.
.
.
Yunho
memasuki rumah itu dengan marah, Changmin dan yang lain-lain sudah mengepung
villa putih itu. Villa itu tenang dan sepi seolah tidak ada siapapun di sana.
Lalu mata Yunho mengarah ke pintu di ujung lorong yang setengah terbuka, dan
melangkah kesana, lalu masuk dengan marah ketika melihat apa yang terjadi di
sana.
Woohyun
sudah melukai Jaejoong dengan dua sayatan berdarah di lengan Jaejoong, membuat
Jaejoong meringis menahan sakit dan nyeri dalam kondisi terikat di kursi dan
hampir kehilangan kesadarannya.
“Lepaskan
dia, Lee Woohyun, Ani Nam Woohyun, atau aku harus memanggilmu Jackal,” suara
Yunho dingin, mencoba menahan kemarahannya dengan terkendali. Lelaki itu sedang
memegang pisau di dekat Jaejoong, dia tidak ingin Jaejoong terluka lebih dari
ini.
Woohyun
membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat Yunho berdiri di ruangan itu,
“Ah…
sang pangeran penyelamat akhirnya datang,” dengan tenang Woohyun mengacungkan
pisaunya ke arah Yunho, “Kau lihat Yunho, pelacurmu ini sedang dalam proses
meregang nyawa, tadinya aku ingin mempersembahkannya mati dan tersayat
kepadamu. Tetapi rupanya kau terlalu cepat datang.”
“Aku
akan membunuhmu, kau tahu itu.” geram Yunho marah.
Tawa Woohyun
membahana ke seluruh ruangan. “Tentu saja, sekarangpun aku tahu bahwa seluruh
pengawalmu sedang mengepung tempat ini, siap menembakku kapanpun aku lengah,”
dengan cepat Woohyun bergerak ke sebelah Jaejoong dan menempelkan pisau tajam
itu ke lehernya, “Tapi sebelum kau membunuhku, aku akan membunuh pelacur ini
dulu.”
Jaejoong
terkesiap, menahan sakit dan ketakutan ketika besi dingin itu menempel di
lehernya, lapisannya yang tajam telah menyayat lehernya, menimbulkan sedikit
perih di sana.
“Kalau
kau lakukan sesuatu kepadanya, aku bersumpah kau akan mati dengan mengerikan,”
Kali ini Yunho sudah tidak bisa menahan kemarahannya, “Aku akan membunuhmu
dengan pelan dan mengerikan hingga kau akan merasakan setiap detik-detik
menjelang kematianmu.”
“Kau
ketakutan Jung, kau takut aku menyakiti pelacurmu, bisa kulihat di matamu,” Woohyun
menatap Yunho dengan senyuman gilanya, memain-mainkan pisaunya di leher
Jaejoong, “Satu sayatan saja, aku akan memotong nadinya, tepat di
leher...darahnya akan memancar keluar dan dia akan mati dengan cepat...tepat di
depan kedua matamu...dan aku rela mati demi kepuasan menyaksikan adegan itu.”
Lalu dengan gerakan secepat kilat, Woohyun mengangkat pisaunya, lalu membuat
gerakan menghujam untuk menikam leher Jaejoong.
Jaejoong
memejamkan matanya, menanti detik-detik kematiannya. Tetapi kemudian dia tidak
merasakan sakit, apakah memang kematian tidak terasa sakit? Dengan ragu di
bukanya matanya, dan dia terkesiap dengan pemandangan di depannya.
Yunho
sedang menahan pisau itu, dengan tangan telanjang. Bagian tajam pisau itu
mengiris telapak tangannya, tetapi lelaki itu menggenggam pisau itu tanpa
ekspresi, meskipun darah mulai bercucuran dari tangannya, mengenai Jaejoong.
Sekali lagi, Yunho menyelamatkan Jaejoong dari kematian.
Woohyun
tampak terperangah dengan gerakan Yunho yang tak disangkanya itu, dia berusaha
menarik pisaunya dari genggaman Yunho, tetapi Yunho menarik pisau itu dan
melemparnya jauh-jauh,
“Aku
akan menghajarmu sebelum membunuhmu...” Yunho menerjang Woohyun ke lantai, dan
mereka bergulat saling memukul. Tetapi Woohyun, Jackal itu tidak terbiasa
berkelahi dengan tangan kosong sehingga dia kewalahan, Yunho terus dan terus
menghajarnya tanpa ampun, ketika kemudian rintihan Jaejoong menghentikannya.
Yunho
melihat Jaejoong kehilangan kesadarannya, mulai oleng dalam kondisi terikat di
kursi, Perhatian Yunho teralih, dan dia berdiri untuk meraih Jaejoong, pada
saat itulah, Woohyun yang sudah babak belur mencoba meraih pisau yang
dilemparkan Yunho tadi, dia berhasil meraihnya dan mengarahkannya untuk menikam
punggung Yunho...
DOR!!!
Tubuh Woohyun
ambruk ke lantai karena tembakan itu. Yunho menoleh ke belakang, melihat Woohyun
ambruk dengan pisau masih di tangannya, dan dia lalu menoleh ke pintu, ke arah
Changmin yang memegang pistol di tangannya.
“Bereskan
dia.” Yunho memerintah cepat, lalu perhatiannya sepenuhnya terarah kepada
Jaejoong, tidak dirasakannya telapak tangannya yang tersayat dalam, dia membuka
ikatan Jaejoong, dan perempuan itu langsung jatuh ambruk ke pelukannya.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Semoga jae gpp lukanya...huft so manly yunho
ReplyDeleteYunho berkorban lagi buat jae.. Dan itu cukup bkin aku yakin, kalo yun emang cinta m jae..
ReplyDeleteEntah sadar atau tidak yuhosdh jth cnta oada uri lady..hmmm
ReplyDeleteuntung yun keburu dateng klo ga jae udh di apa2 in sama woohyun.... dan beruntung lgi krna changmin segera dateng dan nyelametin yunho
ReplyDeleteFiuuh~ syukurlah spikopat itu berkhir, itu baru yang namanya spikopat.
ReplyDeleteJae jangan kabur-kabur lagi dari Yun, Yun beneran perduli dan sayang sama kamu, cuma yah gitu, untuk sekarang ini.
Tapi Yun terbukti melindungi kan
So romantic...
ReplyDeleteYunho bagaikan seorang pangeran berkuda putih yg datang menyelamatkan tuan putri.
Kira2 abis ini mereka berdua bakalan sadar sama perasaan Yunho ke Jaejoong ga ya?