Sunday, February 23

[Remake] Salang-Ui Ba Chapter 12

"Ini beberapa orang yang mungkin bisa kita curigai."
Yunho mengambil berkas itu dan membacanya, lalu membolak-baliknya. Matanya terpaku pada salah satu foto di berkas itu,

"Kenapa dia masuk ke daftar ini?"

Changmin melirik berkas itu. 

"Karena kami memfilter semua pegawai rumah sakit yang masuk kurang dari 2 bulan sebelum kejadian kecelakaan itu."

Yunho mengernyit lama. Sebelum kemudian wajahnya menegang.

"Dia punya akses bebas masuk ke ruangan Jaejoong, kita harus ke rumah sakit segera!"

Yunho meraih jasnya dan melangkah tergesa ke pintu diikuti Changmin. Dan pada sat bersamaan, pintu di sisi lainnya terbuka, beberapa pengawal Yunho masuk dengan wajah panik dan nafas terengah.

"Tuan Yunho, Jaejoong melarikan diri dari rumah sakit!!"


salang-ui ba

©Kitahara Saki

Kim Jaejoong, Jung Yunho

©their self

Sleep with the Devil

©Shanty Agatha

Woohyun mengendarai mobilnya dengan tenang menembus kemacetan jalan raya, mereka lalu tiba di belokan ke luar kota, menuju jalanan yang sepi. Jaejoong yang selama ini diam karena menahan rasa tegang dalam perjalanan menoleh dan menatap Woohyun penuh rasa ingin tahu,

“Kita akan kemana dokter?”

Woohyun menoleh lalu tersenyum manis, “Ke rumah di pinggiran kota, tempatnya seperti villa di pegunungan, kau akan aman di sana dan Tuan Jung tidak akan bisa menjangkaumu.”

Jaejoong menganggukkan kepalanya dan menatap lurus ke depan, pemandangan di luar adalah hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, malam makin gelap dan Jaejoong mulai merasa mengantuk. Akhirnya dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi dan mulai tertidur.

.

.

.

.
.
.
.

Yunho menatap marah pada perawat yang dibius untuk menggantikan Jaejoong di ranjang. Dua pengawalnya yang tadi berjaga di kamar Jaejoong berdiri ketakutan dengan wajah lebam bekas pukulan Yunho,

“Kenapa kalian bisa sebodoh itu hah?” suara Yunho terdengar tenang, tetapi intensitas kemarahannya membuat bulu kuduk dua anak buahnya berdiri.

Para pengawal itu saling bertatapan mencoba berkata-kata, tetapi tak bisa. Mereka memang bersalah. Changmin sebagai atasan mereka telah menginstruksikan untuk memeriksa siapapun sebelum masuk dan keluar dari ruangan Jaejoong. Tetapi karena Dokter Lee Woohyun tampaknya terbiasa keluar masuk ruangan ini dengan bebas, mereka jadi lengah dan membiarkannya. Siapa sangka kalau dokter itu adalah Jackal yang ditakuti itu?

Yunho masih menatap marah kepada kedua pengawalnya, memikirkan hukuman apa yang cukup kejam untuk dilimpahkan atas kebodohan mereka. Jaejoong melarikan diri, dan bukan hanya melarikan diri, Demi Tuhan! Perempuan itu sekarang ada di tangan Jackal.

Changmin datang, menyerahkan setumpuk berkas lagi, mengalihkan perhatian Yunho,

“Sepertinya dugaan Anda benar Tuan Yunho, profil Dokter Lee sangat mirip dengan profil Jackal. Dia lulusan jenius dari kedokteran, kehidupannya sangat misterius, dan menurut desas desus, ibunya meninggal karena bunuh diri. Dia baru masuk mendaftar ke rumah sakit ini dua bulan yang lalu, dan ketika kami melakukan pengecekan terhadap masa lalunya, semuanya kosong, tidak ada satupun data tentangnya, seolah semuanya dihapus.”

“Cari sampai dapat,” Yunho menggertakkan giginya, “Apapun itu, alamat, nomor mobilnya, apapun untuk bisa mengarahkan kita kepadanya. Kita harus menemukan Jaejoong, sebelum terlambat.” Yunho memejamkan mata, sejenak merasakan sesak di dadanya.

Jaejoong harus selamat, meskipun sekarang hal itu diragukan, karena Jaejoong berada di tangan Jackal yang sangat kejam. Yunho akan menempuh segala cara untuk mendapatkan Jaejoong kembali, selamat, dan hidup-hidup.

.

.

.
.
.
.
.

.

“Jae, kita sudah sampai,” Woohyun mengguncang bahu Jaejoong lembut. Jaejoong membuka matanya dan menemukan mobil mereka diparkir di sebuah villa tua berwarna putih yang sangat indah dihujani cahaya lampu yang remang-remang.

Woohyun turun terlebih dahulu, lalu membuka pintu penumpang dan membantu Jaejoong turun. Mereka berjalan bersisian memasuki teras rumah, ketika Woohyun membuka kunci pintu rumah itu, Jaejoong mengernyit dan bertanya,

“Ini rumah uisanim?”

Lelaki itu tersenyum lagi dan menggeleng,

“Bukan, ini properti milik sahabatku yang dititipkan kepadaku, sekarang dia sedang di luar negeri. Kupikir tempat ini adalah tempat yang paling aman untukmu sekarang-sekarang ini...Kau bisa bersembunyi di sini sementara, karena aku tahu Tuan Jung pasti sedang sangat marah sekarang dan pasti dia akan menggunakan segala cara untuk mencarimu.”

Jaejoong menggigil mendengar kemungkinan itu, dan membiarkan dirinya didorong masuk ke dalam vila itu. Bagian dalam villa itu sangat indah, secantik bagian luarnya, dengan ornamen Belanda yang kuno dan rapi, tampak begitu nyaman untuk ditinggali,

“Ayo, kuantar kau ke kamar sementaramu, kau bisa beristirahat di sana, aku yakin kau pasti capek setelah perjalanan panjang.” Woohyun melangkah melalui anak tangga dan Jaejoong mengikutinya.

Kamar untuk Jaejoong adalah kamar sederhana yang tertata rapi, dan ranjang bulu angsa berseprai putih di tengah ranjang tampak sangat empuk dan menggoda untuk ditiduri. Tanpa sadar Jaejoong menguap dan Woohyun terkekeh,

‘Tidurlah Jae, semoga besok pagi kau bangun dengan lebih segar.”

Jaejoong menganggukkan kepalanya,

“Gomapta uisa, terima kasih atas segalanya, saya tidak tahu bagaimana harus berterimakasih kepada dokter karena sudah menyelamatkan saya dari Yunho.”

Dokter Woohyun melangkah ke pintu, senyumnya tampak misterius di balik cahaya remang-remang,

“Tidak apa-apa Jae, aku senang bisa membawamu ke sini.” Lalu lelaki itu melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.

.

.

.

.
.
.
.
.

Jaejoong terbangun karena rasa haus yang amat sangat, dia terduduk di ranjang dan sedikit terbatuk-batuk. Dengan pelan dia memandang ke sekeliling, masih gelap. Mungkin ini masih dini hari.

Dengan langkah hati-hati Jaejoong turun dari ranjang, dan keluar dari kamar. Dimanakah dapurnya? Dia ingin minum...

Lorong lantai dua tampak gelap, tetapi ada cahaya putih di ujung sana, mungkin itu dapurnya, pikir Jaejoong dalam diam. Dia lalu melangkah hati-hati menuju cahaya itu, dan terbawa ke sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong.

Jaejoong membukanya, dan tertegun. Ini bukan dapur. Dia sudah hendak membalikkan badan, ketika pandangan matanya terpaku pada sesuatu, dan wajahnya memucat.

Di sana, di salah satu sisi tembok itu penuh dengan foto-foto yang ditempel. Dan itu bukan foto-foto biasa, itu foto-foto Yunho sedang melakukan aktivitasnya, beberapa di antaranya ada Yunho yang sedang bersama Jaejoong. Dan melihat ekspresi Yunho di sana, tampaknya foto-foto itu diambil dengan kamera tersembunyi, tanpa seizin objeknya.

“Ada pepatah, kalau rasa ingin tahu yang besar suatu saat akan menjadi penyebab kematianmu.”

Jaejoong terlonjak kaget, mendengarkan suara yang mendesis itu, dia membalikkan badannya dan berhadapan dengan Dokter Woohyun yang berdiri diam di balik bayang-bayang. Lelaki itu tersenyum, seperti biasanya, tetapi senyumnya yang sekarang bukanlah senyum manis secerah Matahari, melainkan seringai jahat yang menakutkan.

.

.

.

.
.
.
.
.

“Kita sudah berhasil melacak mobilnya,” Changmin datang dengan terengah, mendatangi Yunho yang menunggu sambil mondar-mandir tak tenang di ruangannya.

Yunho langsung berdiri dan bergegas, dia menyiapkan senjatanya, belati berat yang selama ini ada di kakinya dan sebuah magnum miliknya. Kalau dia harus membunuh demi Jaejoong, akan dia lakukan. Lelaki itu memejamkan matanya, semoga dia tidak terlambat datang.

.

.
.
.
.
.

.

Mata Jaejoong hanya bisa menatap dalam ketakutan, lelaki di depannya ini sudah berubah total, dari lelaki ramah dan baik hati menjadi monster yang menakutkan, Tubuh Jaejoong diikat di sebuah kursi dan Jaejoong sepenuhnya tidak bisa bergerak, di bawah kuasa psikopat gila yang sekarang sedang berjalan mondar-mandir sambil memainkan pisau di tangannya.

“Membunuh dengan pisau adalah favoritku,” Woohyun memainkan pisau itu di dekat Jaejoong, membuat kilatannya menyilaukan dalam kegelapan. “Karena itulah aku dipanggil Jackal,” lelaki itu terkekeh mengerikan melihat sinar ketakutan yang terpancar dari mata Jaejoong, “Yah kenalkan, akulah Jackal yang kalian cari-cari itu.”

Jaejoong mencoba meronta, kengerian merayapi dirinya ketika menyadari bahwa lelaki di depannya ini bukan saja orang jahat, tetapi dia adalah psikopat menakutkan yang diceritakan oleh Yunho.

Woohyun tertawa melihat usaha Jaejoong yang sia-sia untuk melarikan diri, kemudian mendorong kursi Jaejoong ke dinding dan menekankan pisaunya di pipi Jaejoong,

“Pisau ini sangat tajam,” Dokter Woohyun memain-mainkan pisau itu di pipi Jaejoong, “Aku ragu apakah Yunho masih mau menjadikanmu pelacurnya kalau mukamu rusak,” diletakkannya besi dingin itu di pipi Jaejoong membuat mata Jaejoong terpejam ketakutan.

Tetapi kemudian kata-kata Dokter Woohyun menyulut amarahnya, dia bukan pelacur Yunho!

“Aku bukan pelacur Yunho!” dengan Lantang Jaejoong meneriakkan bantahannya. Dan rupanya bantahannya itu malahan memancing emosi Woohyun,

“Bukan pelacurnya katamu? Kau tidur dengannya dan menikmatinya, kau menerima segala fasilitas darinya dengan suka rela, dan kau membayar dengan tubuhmu. Dari pengamatanku, kau adalah pelacur yang paling disukai dan istimewa di mata Yunho dibandingkan pelacur-pelacurnya yang lain, dan aku membayangkan kepuasan yang kudapatkan ketika dia menyaksikan tubuhmu yang sudah mati, penuh dengan sayatan pisau.”

Lalu Woohyun tertawa dengan mengerikan, “Mari kita mulai ritual ini...Aku akan menyayatmu pelan-pelan di bagian-bagian tubuhmu hingga kau akan mati pelan-pelan kehabisan darah...” pisau itu berkelebatan dengan main-main di depan Jaejoong, “Lalu aku akan membuang tubuhmu tepat di depan mata Yunho, pasti aku akan puas sekali...Sebelum kemudian akan kuhabisi Yunho dengan tanganku sendiri.” Dengan tawa mengerikannya yang terkekeh dan menakutkan, Woohyun mengayunkan pisaunya, dan sekejap, Jaejoong merasakan pedih karena sayatan besi tajam itu di lengannya.

.

.

.
.
.
.

.

Yunho memasuki rumah itu dengan marah, Changmin dan yang lain-lain sudah mengepung villa putih itu. Villa itu tenang dan sepi seolah tidak ada siapapun di sana. Lalu mata Yunho mengarah ke pintu di ujung lorong yang setengah terbuka, dan melangkah kesana, lalu masuk dengan marah ketika melihat apa yang terjadi di sana.

Woohyun sudah melukai Jaejoong dengan dua sayatan berdarah di lengan Jaejoong, membuat Jaejoong meringis menahan sakit dan nyeri dalam kondisi terikat di kursi dan hampir kehilangan kesadarannya.

“Lepaskan dia, Lee Woohyun, Ani Nam Woohyun, atau aku harus memanggilmu Jackal,” suara Yunho dingin, mencoba menahan kemarahannya dengan terkendali. Lelaki itu sedang memegang pisau di dekat Jaejoong, dia tidak ingin Jaejoong terluka lebih dari ini.

Woohyun membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat Yunho berdiri di ruangan itu,

“Ah… sang pangeran penyelamat akhirnya datang,” dengan tenang Woohyun mengacungkan pisaunya ke arah Yunho, “Kau lihat Yunho, pelacurmu ini sedang dalam proses meregang nyawa, tadinya aku ingin mempersembahkannya mati dan tersayat kepadamu. Tetapi rupanya kau terlalu cepat datang.”

“Aku akan membunuhmu, kau tahu itu.” geram Yunho marah.

Tawa Woohyun membahana ke seluruh ruangan. “Tentu saja, sekarangpun aku tahu bahwa seluruh pengawalmu sedang mengepung tempat ini, siap menembakku kapanpun aku lengah,” dengan cepat Woohyun bergerak ke sebelah Jaejoong dan menempelkan pisau tajam itu ke lehernya, “Tapi sebelum kau membunuhku, aku akan membunuh pelacur ini dulu.”

Jaejoong terkesiap, menahan sakit dan ketakutan ketika besi dingin itu menempel di lehernya, lapisannya yang tajam telah menyayat lehernya, menimbulkan sedikit perih di sana.

“Kalau kau lakukan sesuatu kepadanya, aku bersumpah kau akan mati dengan mengerikan,” Kali ini Yunho sudah tidak bisa menahan kemarahannya, “Aku akan membunuhmu dengan pelan dan mengerikan hingga kau akan merasakan setiap detik-detik menjelang kematianmu.”

“Kau ketakutan Jung, kau takut aku menyakiti pelacurmu, bisa kulihat di matamu,” Woohyun menatap Yunho dengan senyuman gilanya, memain-mainkan pisaunya di leher Jaejoong, “Satu sayatan saja, aku akan memotong nadinya, tepat di leher...darahnya akan memancar keluar dan dia akan mati dengan cepat...tepat di depan kedua matamu...dan aku rela mati demi kepuasan menyaksikan adegan itu.” Lalu dengan gerakan secepat kilat, Woohyun mengangkat pisaunya, lalu membuat gerakan menghujam untuk menikam leher Jaejoong.

Jaejoong memejamkan matanya, menanti detik-detik kematiannya. Tetapi kemudian dia tidak merasakan sakit, apakah memang kematian tidak terasa sakit? Dengan ragu di bukanya matanya, dan dia terkesiap dengan pemandangan di depannya.

Yunho sedang menahan pisau itu, dengan tangan telanjang. Bagian tajam pisau itu mengiris telapak tangannya, tetapi lelaki itu menggenggam pisau itu tanpa ekspresi, meskipun darah mulai bercucuran dari tangannya, mengenai Jaejoong. Sekali lagi, Yunho menyelamatkan Jaejoong dari kematian.

Woohyun tampak terperangah dengan gerakan Yunho yang tak disangkanya itu, dia berusaha menarik pisaunya dari genggaman Yunho, tetapi Yunho menarik pisau itu dan melemparnya jauh-jauh,

“Aku akan menghajarmu sebelum membunuhmu...” Yunho menerjang Woohyun ke lantai, dan mereka bergulat saling memukul. Tetapi Woohyun, Jackal itu tidak terbiasa berkelahi dengan tangan kosong sehingga dia kewalahan, Yunho terus dan terus menghajarnya tanpa ampun, ketika kemudian rintihan Jaejoong menghentikannya.

Yunho melihat Jaejoong kehilangan kesadarannya, mulai oleng dalam kondisi terikat di kursi, Perhatian Yunho teralih, dan dia berdiri untuk meraih Jaejoong, pada saat itulah, Woohyun yang sudah babak belur mencoba meraih pisau yang dilemparkan Yunho tadi, dia berhasil meraihnya dan mengarahkannya untuk menikam punggung Yunho...

DOR!!!

Tubuh Woohyun ambruk ke lantai karena tembakan itu. Yunho menoleh ke belakang, melihat Woohyun ambruk dengan pisau masih di tangannya, dan dia lalu menoleh ke pintu, ke arah Changmin yang memegang pistol di tangannya.

“Bereskan dia.” Yunho memerintah cepat, lalu perhatiannya sepenuhnya terarah kepada Jaejoong, tidak dirasakannya telapak tangannya yang tersayat dalam, dia membuka ikatan Jaejoong, dan perempuan itu langsung jatuh ambruk ke pelukannya.

.

.

.

.
.
.
.

To Be Continue

6 comments:

  1. Semoga jae gpp lukanya...huft so manly yunho

    ReplyDelete
  2. Yunho berkorban lagi buat jae.. Dan itu cukup bkin aku yakin, kalo yun emang cinta m jae..

    ReplyDelete
  3. Anonymous10:57 PM

    Entah sadar atau tidak yuhosdh jth cnta oada uri lady..hmmm

    ReplyDelete
  4. untung yun keburu dateng klo ga jae udh di apa2 in sama woohyun.... dan beruntung lgi krna changmin segera dateng dan nyelametin yunho

    ReplyDelete
  5. Fiuuh~ syukurlah spikopat itu berkhir, itu baru yang namanya spikopat.

    Jae jangan kabur-kabur lagi dari Yun, Yun beneran perduli dan sayang sama kamu, cuma yah gitu, untuk sekarang ini.
    Tapi Yun terbukti melindungi kan

    ReplyDelete
  6. So romantic...
    Yunho bagaikan seorang pangeran berkuda putih yg datang menyelamatkan tuan putri.
    Kira2 abis ini mereka berdua bakalan sadar sama perasaan Yunho ke Jaejoong ga ya?

    ReplyDelete