Yunho
duduk di kursi sebelah Jaejoong dan menatap lurus, "Aku ulangi, jangan
pernah kau terpesona pada dokter muda itu, dia pasti dari kalangan keluarga
konvensional dan aku yakin, pendidikan moral dan keluarganya tidak akan
menoleransi kau, perempuan yang sudah dinodai oleh Jung yunho."
"Hentikan!!"
Jaejoong menggeram, tak tahan akan kata-kata Yunho yang sepertinya sengaja
digunakan untuk menyakitinya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, seperti
ditusuk dengan tongkat besi. Dia meringis dan memegang kepalanya.
Ekspresi
Yunho langsung berubah, namja itu berdiri dari kursinya dan setengah duduk di
ranjang, memeluk Jaejoong, "Jae?
Gwenchana? Jae...?"
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung
Yunho
©their self
Sleep with the
Devil
"Gwenchana,
mian, kepalaku cuma sedikit sakit."
"Berbaringlah."
Yunho membantu merapikan bantal-bantal di belakang Jaejoong, lalu dengan pelan
membaringkan Jaejoong di ranjang.
Jaejoong
memejamkan matanya, merasakan denyutan itu mulai mereda, dan mendesah. "Otte?"
Jaejoong
menarik napas panjang dan membuka mata, menemukan wajah luar biasa tampan itu
menatapnya dengan cemas, benar-benar cemas, bukan sesuatu yang dibuat-buat. Apakah
Yunho benar-benar cemas? Tapi bagaimana mungkin? Bukankah namja ini adalah namja
kejam yang menghancurkan keluarga dan orangtuanya?
Tapi
ingatan Jaejoong kembali kepada malam kecelakaan itu, sekarang terpatri jelas
dalam ingatannya kalau Yunho benar-benar merengkuhnya malam itu, memeluknya
erat-erat dan menahan guncangan-guncangan untuk melindunginya. Mungkin kalau
bukan karena dipeluk Yunho, tubuh Jaejoong sudah terlempar, dan bukan hanya
kepalanya saja yang terluka. Malam itu, Yunho jelas-jelas melindunginya. Tapi,
kenapa?
Pertanyaan-pertanyaan
itu kembali membuat kepala Jaejoong sakit, dia memejamkan matanya lagi.
Hening
sejenak, kemudian Yunho menghela napas,
"Istirahatlah,
kalau kau perlu apa-apa, kau tinggal menekan tombol di dekat ranjang."
Dan
kemudian Yunho pergi menutup pintu dengan pelan dari luar.
.
.
.
Yunho
menyandarkan tubuhnya di dinding dan memijit dahinya yang berdenyut, dadanya
terasa sakit dan nyeri. Jadi, seperti ini rasanya...Melihat Jaejoong kesakitan
hampir membuatnya meledak dalam kecemasan, dan itu semua karena musuh-musuhnya
yang hendak mencelakainya.
"Apakah
semua baik-baik saja Tuan?" Changmin muncul, dia memang sedang bertugas
berjaga di sana dan cemas melihat Yunho hanya bersandar di pintu,
Yunho
menoleh, menatap Changmin dan mengernyit, "Ah...Ya, dia baik-baik saja,
hanya tadi ada serangan di kepalanya, dia kesakitan."
Changmin
menganggukkan kepalanya dan merenung. Yunho juga tampak sibuk dengan pikirannya
sendiri, "Kenapa tidak anda katakan saja kepadanya?" gimamnya
akhirnya.
Yunho
menyentakkan kepalanya, "Apa?"
"Semuanya,
seharusnya dia tahu semuanya, itu akan membebaskannya dan juga membebaskan
anda."
Yunho
menggelengkan kepalanya,
"Itu
akan menghancurkan hatinya." Dengan cepat Yunho mengalihkan pembicaraan,
"Dokter bilang dia harus seminggu lagi di sini, kau atur penjagaan disini,
jangan sampai ada yang lengah. Hanya dokter dan perawat khusus Jaejoong yang
boleh masuk ke ruangan itu, instruksikan pada semuanya."
Yunho
lalu melangkah pergi, dan Changmin tercenung menatap tuannya itu.
Semua
orang selalu takut pada Yunho. Namja itu setampan malaikat, tetapi hatinya
sehitam iblis, begitu kata orang-orang. Semua orang memujanya sekaligus menjaga
jarak karena ketakutan. Yang mereka tidak tahu, kadang-kadang, Tuannya itu bisa
seperti malaikat seutuhnya, baik tampilan fisiknya maupun hatinya.
.
.
.
"Selamat
pagi, sepertinya kau sudah lebih sehat." Dokter Lee menyapa lagi di sore
harinya setelah memeriksa Jaejoong, "Dan kulihat makan malammu masih utuh,
kenapa kau tak memakannya?"
Jaejoong
mengernyit meskipun mencoba tersenyum lemah kepada dokter Nam,
"Saya
masih mual dan muntah-muntah dokter."
"Tapi
kau harus tetap makan, aku akan memesankan menu lain untukmu mungkin sup panas
dan jus buah bisa menggugah seleramu?"
Mau tak
mau Jaejoong tersenyum melihat betapa bersemangatnya dokter Nam,
"Gomapta
uisanim."
Dokter Lee
menganggukkan kepalanya,
"Aku
cuma tidak menyangka perempuan seperti kau yang menjadi kekasih Tuan jung."
Tertegun
Jaejoong mendengar perkataan dokter Lee itu, "Mwo?"
wajah
dokter Lee memerah karena malu, dia tampak menyesal telah mengucapkan kata-kata
itu,
"Ah
mianhe Jae, lupakan aku telah mengucapkannya ya?"
Jaejoong
menggelengkan kepalanya, "Gwenchanayo uisanim, semua yang melihat pasti
akan menyangka aku adalah kekasih Yunho."
"Apalagi
melihat tingkah tuan jung di ruang gawat darurat kemarin." dokter Lee terkekeh.
Jaejoong
mengernyitkan matanya lagi, memangnya apa yang dilakukan Yunho di ruang gawat
darurat kemarin?
Dokter Lee
sepertinya tahu bahwa Jaejoong bertanya-tanya, dia mengangkat bahunya, "Jangan
bilang padanya kalau aku membicarakan tentangnya di belakangnya, ya, sampai
sekarang aku masih merinding mengingat tatapan membunuhnya ketika mengancam
akan menghabisi semua dokter dan perawat disini kalau mereka tidak berhasil
menyelamatkanmu,"
ditatapnya
Jaejoong dengan tatapan menyesal, "sungguh, siapapun yang melihat
kelakuannya kemarin pasti akan mengambil kesimpulan yang sama, bahwa Tuan jung
adalah kekasih yang amat sangat mencintai dan mencemaskanmu."
Jaejoong
memalingkan muka, tidak tahu harus berkata apa, masih tidak dipercayainya
kata-kata dokter Lee kepadanya,
"Ah
ya, dan sebenarnya dia turut andil dalam menyelamatkan nyawamu."
Ketika Jaejoong
menatap dokter Lee dengan bingung, dokter Lee mendesah, "hmm. Dia tidak
bilang padamu, ya? jangan bilang kalau kau tahu dari aku, ya."
"tahu
tentang apa?"
"Malam
itu kau kehabisan banyak darah, dan Tuan jung yang kebetulan golongan darahnya
sama denganmu, memaksa kami mengambil darahnya untukmu. Sebenarnya kami tidak
boleh melakukannya, Tuan jung juga baru selamat dari kecelakaan yang sama,
tetapi dia memaksa, dan mengancam, dan benar apa kata orang, tidak akan ada
seorangpun yang berani melawan apa yang dikatakan oleh Jung. Lagipula dia
adalah pemilik rumah sakit ini, perintahnya harus kami laksanakan."
Kejutan
Lagi. Jaejoong tidak suka dia harus berhutang nyawa kepada namja iblis itu. Tetapi
entah kenapa, perasaan bahwa darah namja itu mengalir di pembuluh nadinya
membuat dadanya berdesir oleh suatu perasaan aneh, seolah-olah bagian diri Yunho
sekarang ada di dalam tubuhnya, di dalam dirinya.
Dokter Lee
menghela napas melihat Jaejoong termenung, "Ah seharusnya aku tidak
terlalu banyak bicara, kau harus segera beristirahat."
ketika
dokter Lee sudah sampai di pintu, Jaejoong memanggilnya, "Uisanim..."
Langkah
dokter Lee berhenti seketika, dia menoleh dan menatap Jaejoong bertanya-tanya, "Ada
apa Jae? Ada yang bisa kubantu? Apakah kau kesakitan?"
Jaejoong
menggelengkan kepalanya, "Ah tidak apa-apa dokter, lupakan saja,
terimakasih sudah merawat saya."
Dokter Lee
tersenyum,
"Aku
hanya melakukan tugasku, tapi sekaligus aku senang kalau pasienku makin
membaik.
Ketika
dokter Lee pergi, Jaejoong tercenung. Cerita doker Lee tadi membuatnya bingung.
Benarkah itu semua? Bahwa Yunho sangat mencemaskan keselamatannya?
Pikiran
Jaejoong teralihkan oleh kesadarannya bahwa dia saat ini tidak sedang dikurung
di rumah Yunho yang berpenjagaan ketat, dia ada di area publik, sebuah rumah
sakit, dan itu berarti kesempatannya untuk melarikan diri semakin besar. Dia
harus melepaskan diri dari cengkeraman Yunho karena dia merasa takut. Ya...Jaejoong
takut semakin lama dia berada di bawah Yunho, pada akhirnya dia akan bertekuk
lutut di bawah kaki Yunho, jatuh ke dalam pesonanya.
Jaejoong
hanya perlu seseorang untuk menolongnya...bisakah dokter Lee menolongnya? Jika Jaejoong
meminta tolong padanya, akankah dokter Lee mengerti? Dari perkataannya tadi,
tampak jelas kalau dokter Lee menganggap Jaejoong adalah kekasih Yunho,
Bagaimana jika dia menceritakan yang sebenarnya? Mungkinkah dokter Lee jatuh
simpati dan menolongnya? Atau mungkin dokter Lee malah melaporkannya pada Yunho,
mengingat rumah sakit ini adalah milik Yunho. Malam itu Jaejoong tertidur
dengan mimpi buruk, dimana Yunho terus menerus mengucapkan ancaman itu di
telinganya, bahwa dia akan membunuh siapapun yang menolong Jaejoong dan
siapapun yang lengah hingga Jaejoong bisa melarikan diri. Kalimat itu terngiang
jelas sepanjang malam
"Kebebasanmu
akan digantikan dengan nyawa seseorang, Jae..."
.
.
.
.
Changmin
melapor pagi-pagi sekali kepada Yunho, "Kami berhasil menangkap Siwon."
Yunho
yang sedang menyesap kopinya langsung membanting gelasnya ke meja,
"Hidup-hidup?" tanyanya sambil menyipitkan matanya. Changmin
mengangguk.
"Hidup-hidup."
"Bagaimana
kondisinya?"
"Kakinya
sedikit luka, tetapi tidak parah, dia berusaha melarikan diri dari kami, tetapi
kami berhasil menggagalkannya."
"Bagus,
bawa dia padaku."
.
.
.
.
Sosok
yang selalu berada dalam bayangan gelap itu mengawasi semuanya dari mobil yang
diparkir secara tidak kentara dekat dari gerbang Yunho.
Bagus.
Mereka sudah menangkap Siwon, itu akan mengalihkan perhatian mereka untuk
sementara. Dan dia bisa berbuat apapun yang dia mau untuk menyusun rencana
menghabisi Yunho...Dan pelacurnya. Jackal tidak pernah gagal membunuh
targetnya. Ketika targetnya terlepas, Jackal akan memburunya sampai mati, dan
kali keduanya, dia tak akan pernah gagal.
.
.
.
Yunho
masuk ke kamar perawatan Jaejoong tengah malam, saat itu Jaejoong sudah
tertidur pulas. Dengan langkah pelan tak bersuara, Yunho berjalan menuju tepi
tempat tidur dan berdiri dekat disana mengawasi Jaejoong.
Begitu
damai perempuan ini terpejam dalam lelapnya, seolah tak menyadari bahwa
sekarang bahaya yang amat besar sedang mengintainya.
Yunho
sedikit membungkuk, lalu menyentuh pelan pipi Jaejoong. Perempuan itu mengerang
pelan lalu mengubah posisi tidurnya, tetapi tidak terbangun.
Yunho
mengambil resiko dengan menunduk dan mengecup bibir Jaejoong, merasakan
manisnya bibir itu, sampai kemudian dia larut dalam gairahnya yang tertahan dan
melumat bibir Jaejoong.
.
.
.
Jaejoong
merasakan gelenyar panas di seluruh tubuhnya, dan dia menggeliat, ada gairah
menjalar dari bibirnya yang terasa nikmat dilumat seseorang. Dengan lemah
Jaejoong mengerjap setengah tidur dan membuka mata.
Lelaki
itu, yang sedang membungkuk di atas tubuhnya dan melumat bibirnya, adalah Jung
yunho.
Yunho
sedang melumat bibir Jaejoong, kemudian dia berhenti dan menatap mata Jaejoong,
menyadari bahwa Jaejoong sudah terbangun.
Dengan
lembut Yunho menelusurkan tangannya di pipi Jaejoong, lalu bibirnya mengikuti
gerakan jemarinya.
Jaejoong
memejamkan matanya, ini pasti mimpi. Jung yunho di dunia nyata tidak mungkin
berbuat selembut ini, lelaki itu pasti akan langsung memaksanya, memperkosanya
dan memperlakukannya dengan kasar.
Ini
pasti mimpi, karena sebelum tidur Jaejoong berbaring dengan gelisah, mencoba
menghapus memori bercintanya dengan Yunho yang seolah-olah selalu muncul dalam
benaknya.
Dan
karena ini mimpi, tak ada salahnya untuk menikmati. Jaejoong setengah
tersenyum, lalu menyentuh pipi Yunho dengan lembut. Dalam sekejap tubuh Yunho
langsung kaku seperti terkejut merasakan sentuhan lembut jemari Jaejoong di
pipinya.
Jaejoong
langsung menarik tangannya panik, apakah Yunho dalam mimpinya ini akan berubah
lagi menjadi Yunho dalam dunia nyata yang jahat?
Ternyata
tidak, Yunho dalam dunia mimpi ini sangat lembut dan penuh kebaikan, lelaki itu
mengambil jari Jaejoong dan meletakkannya di pipinya,
"Sentuh
aku dimanapun kau suka, jangan berhenti..." bisik Yunho penuh gairah.
Jaejoong
tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ini benar-benar mimpi yang sangat
menyenangkan, di bawah tatapan tajam Yunho, Jaejoong menyusurkan jemarinya di
wajah Yunho, mengagumi setiap kesempurnaan yang terpatri di sana, ketika
jemarinya hampir menyentuh bibir Yunho, lelaki itu meraih tangannya, dan mengecupnya
lembut, satu persatu jemarinya, Yunho menggulingkan tubuhnya kesamping
Jaejoong, ranjang rumah sakit yang lembut itu membuat tubuh mereka bersentuhan
rapat, tangan Yunho menggenggam jemari Jaejoong, lalu menyentuhkan jemarinya ke
kejantanannya yang sudah sangat siap,
"Sentuh
aku boo." bisiknya parau.
Wajah
Jaejoong memerah merasakan kekerasan yang panas di telapak tangannya, dengan
lembut Yunho membuka ikat pinggangnya dan menurunkan cejaejoongnya,
"Rasakanlah tubuhku yang amat sangat mendambamu."
Jaejoong
meremas kejantanan itu dan Yunho mengerang, perasaan bahwa Yunho benar-benar
bergairah atas sentuhannya membuat Jaejoong merasa senang. Oh ya ampun, ini
adalah mimpi erotis terbaik yang pernah dia alami.
Jemari
Jaejoong bereksplorasi di tubuh Yunho, dan lelaki itu membiarkannya
sebebas-bebasnya. akhirnya, ketika bibir Jaejoong dengan penuh ingin tahu
mencecap kejantanan itu, Yunho mengangkat kepala Jaejoong dengan tatapan tajam
berkabut yang penuh gairah.
"Giliranku."
geramnya serak.
Jaejoong
dibaringkan dengan Yunho berbaring miring menghadapnya, lelaki itu mengecup
dahinya, pelipisnya, ujung hidungnya, pipinya, bibirnya dengan kecupan-kecupan
kecil yang lembut, Lalu bibir itu berhenti di bibir Jaejoong, mencicipinya
sedikit-sedikit di tiap ujungnya, meniupkan kehangatan yang basah di sana,
membuat Jaejoong membuka bibirnya dengan penuh perasaan mendamba.
Yunho
melumat bibir Jaejoong yang membuka itu dan menyelipkan lidahnya ke dalamnya.
Lidah mereka bertautan, panas dan basah. Bibir Yunho melumat bibir Jaejoong
tanpa ampun, mencecap setiap sisinya, dengan penuh gairah.
Jaejoong
merasakan jemari Yunho mulai membuka satu-persatu pakaian rumah sakit Jaejoong,
kemudian tangan yang panas itu serasa membakar di kulitnya yang telanjang,
menyentuhnya dengan intens di semua sisi, menimbulkan geletar tiada duanya,
yang membuat Jaejoong menggeliat penuh gairah.
Jemari
Yunho menyentuh kewanitaannya, dan mencumbunya dengan keahlian luar biasa
hingga paha Jaejoong terbuka, panas dan basah siap untuknya.
Yunho
sudah berada di atasnya dan menindihnya, Jaejoong merasakan kejantanannya yang
begitu panas menyentuhnya,
"Apakah..."
napas Yunho yang panas sedikit terengah terasa begitu erotis di bibirnya, Yunho
mengecupnya lagi, "apakah aku akan menyakitimu kalau aku..."
Jaejoong
menggoyangkan pinggulnya putus asa, gairahnya memuncak tanpa ampun, dia ingin
Yunho ada di dalam dirinya, oh Ya ampun, dia sangat ingin!
Gerakan-gerakan
Jaejoong yang tak berpengalaman itu membuat Yunho menggertakkan giginya menahan
gairahnya yang memuncak, akhirnya dengan satu gerakan yang mulus, Yunho menekan
dirinya, menyatukan tubuhnya dengan Jaejoong.
Percintaan
mereka sangat penuh gairah dan luar biasa nikmatnya. Jaejoong mencengkeram
punggung Yunho yang berotot, melupakan rasa sakit di kepalanya, terlalu larut
dalam kenikmatan yang mendera tubuhnya. Yunho berusaha bergerak selembut
mungkin tetapi gairahnya mengalahkan akal sehatnya, dia bergerak dengan penuh
gejolak, membawa Jaejoong bersamanya. Dan akhirnya ketika puncak itu datang,
tubuh mereka menyatu dengan begitu eratnya, dalam ombak kepuasan yang
bergulung-gulung menghantam tubuh mereka.
Ketika
Yunho menarik tubuhnya dengan hati-hati dari Jaejoong dan berbaring di
sebelahnya dengan lengan masih memeluknya erat, Jaejoong sudah terlalu kelelahan
untuk bergerak - sungguh mimpi yang luar biasa nikmatnya - desah Jaejoong dalam
hati, masih menggelenyar dalam sisa-sisa kenikmatan yang begitu memuaskan.
Ah,
bahkan dalam mimpinya itu, dia bisa merasakan dengan jelas kecupan lembut Yunho
di dahinya sebelum lelaki itu pergi.
.
.
.
.
To Be Continue

Omo! Di rumah sakit malah nc-an...#fiuuuhh
ReplyDeletesemoga jae th perasaan yun yg sebenernya
Jae kira itu mimpi..hahaha
ReplyDeleteuntuk pertama kalinya yunjae NC an ga pke kasar2 an atw pemaksaan makanya jae mau dengan suka rela tapi jae mikir itu cuma mimpi padahal itu jelas nyata. hihihi
ReplyDeleteJae itu bukan mimpi loooh, OMG~ #smirk
ReplyDeleteEh Yun nyembunyiin sesuatu, tentang orang tua Jae kah?
Memang Yun itu jatuh cinta sama Jae, cuma di awali dengan perlakuan yang 'sedikit' atau 'lebih' berbeda dan special pake cinta~
Ah Jackal nya siapa sih? Berbahaya, Selain ngincer Yun dia juga ngincer Jae
Bgus skrang yunho agak sdikit klem gmna nanti klue ada yg melihat.a
ReplyDeleteYunho pervertnya udh ga ketulungan..
ReplyDeleteMasa Jae msh sakit gt masih dikerjain jg, di RS lg. ckckck...
Parahnya Jae mikirnya cm mimpi..