Friday, February 21

[Remake] Salang-Ui Ba Chapter 09

“Bagus, kabari aku kalau sudah beres.”
“Baiklah. Anda tidak akan kecewa karena telah menyewa saya untuk membunuh Jung Yunho.”
telepon ditutup, dan Siwon terkekeh dalam kegelapan. Menenggak minumannya, untuk perayaan awal.
Jung Yunho, musuh besarnya. Namja itu sudah menghancurkan bisnisnya dengan ekspansi yang dilakukannya. Dan bukan hanya itu, Siwon didera oleh perasaan iri dan benci yang luar biasa kepada Yunho. Entah kenapa Yunho diciptakan begitu sempurna, dari segi fisik. Dan semua wanita berhamburan untuk berlutut di kakinya. Siwon dengan wajah jeleknya sudah terlalu sakit hati karena ditolak yeoja, semua yeoja yang mau tidur dengannya hanyalah pelacur-pelacur yang harus dibayar. Jung Yunho harus dienyahkan, namja seperti itu tidak boleh hidup di dunia ini. Dan malam ini mungkin adalah malam terakhir namja itu hidup.
salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Yunho menggandeng tangan Jaejoong dengan formal ketika memasuki restoran itu, sang kepala restoran sendiri yang menyapa mereka dan mengantarkan mereka berdua ke meja yang sudah disiapkan. Yunho tampak akrab dengan kepala restoran itu, dan Jaejoong melihat kepala restoran, seorang namja jepang dengan logat Jepang yang kental, sesekali Yunho berbicara dalam bahasa Jepang yang lancar dan tersenyum menanggapi perkataan kepala restoran itu.
Dari informasi yang pernah di dapat Jaejoong, ayah Yunho adalah orang korea dan ibunya keturunan Jepang, Sementara Yunho sendiri pernah tinggal di Itali selama lima tahun, mungkin ini sebabnya Yunho lancar berbahasa Itali, meskipun itu bukan urusannya. Jaejoong cepat-cepat mengalihkan pikirannya dari Yunho.
Ketika kepala restoran itu pergi, Yunho menarikkan kursi untuk Jaejoong dan duduk di depan Jaejoong. “Restoran ini milik ibuku,” Yunho menatap kepergian kepala restoran itu, “Kris adalah asisten eomma sejak lama, dia mencintai restoran ini seperti mencintai hidupnya.”
Jaejoong terdiam menatap Yunho. Orangtua Yunho juga telah meninggal, itu yang dia tahu, tetapi entah kenapa, informasi tentang orang tua Yunho itu tersimpan rapat, jauh sekali hingga tidak ada seorangpun yang bisa menggalinya.
Seorang pelayan datang dan Yunho memesan lagi dalam bahasa Itali yang fasih. Ketika hidangan pembuka datang, Jaejoong terpesona dengan tampilannya,
Yunho menjelaskan bahwa makanan itu adalah L'imperial de saumon marine yang ternyata adalah filet salmon asap. Ditemani dengan creme, potongan jeruk citrus dan roti baggue. Penyajiannya begitu indah, seperti hamparan padang pasir di atas piring lengkap dengan suasana eksotisnya.
Jaejoong menyuap pertama kalinya dan mendesah, merasakan crème itu meleleh dimulutnya dan menciptakan cita rasa yang bercampur baur antara kemanisan dan kelembutan yang nikmat. Tak disadarinya bahwa Yunho menatap ekspresinya itu dengan tatapan kelaparan. Suasana hati Yunho luar biasa buruknya, hasratnya yang tidak terlampiaskan membuatnya frustrasi luar biasa. Dia amat sangat ingin meledak...di dalam tubuh Jaejoong.
Yunho memesan anggur Chardonnay sebagai teman makan mereka, sambil berharap malam ini Jaejoong sedikit mabuk sehingga mengendorkan pertahanannya. Tetapi pikiran bercinta dengan Jaejoong dalam kondisi perempuan itu mabuk sama sekali tidak menyenangkannya, dia ingin perempuan itu sukarela, melingkarkan pahanya di tubuhnya, ketika tubuh mereka bersatu. Saat itu akan datang pada akhirnya, kalau Yunho mau bersabar dan menundukkan perempuan keras ini pelan-pelan.
Hidangan utama datang, yakni Parmentier de canard et son bouquet de verdure, hidangan daging bebek yang dipanggang hingga cokelat muda dan berminyak bersama dengan kentang lembut yang dihancurkan, dan disajikan bersama semangkuk salad. Rasanya luar biasa lezat dengan paduan bumbu-bumbu yang tidak biasa dan khas, membuat Jaejoong terpesona akan citarasa masakan khas Jepang ini. Pantas saja restoran ini dianugerahi lima bintang.
“Kau menyukainya?” dalam cahaya lampu yang temaram, Yunho tampak lebih lembut. Garis kejam di bibirnya tampak memudar dan itu membuatnya tampak lebih santai.
Jaejoong ingin membantah, tetapi tidak ingin merusak suasana indah ini. Terkurung selama berminggu-minggu di dalam kamar terkutuk itu dan sekarang entah kenapa Yunho berbaik hati membawanya keluar, meskipun dengan pengawalan ketat. Jaejoong sempat melirik ke arah pengawal-pengawal Yunho yang berdiri seperti biasa di akses pintu keluar.
Jaejoong menganggukkan kepalanya. Dia memang sangat menikmati semua ini, bukan hanya makanan, meskipun makanan di rumah Yunho tidak kalah nikmatnya, tetapi bisa makan dengan pemandangan bebas, bukan pintu kamar dan ruangan yang selalu terkunci sangat menyenangkannya.
“Bagus,” Yunho bergumam puas, lalu memanggil pelayan untuk menghidangkan hidangan penutup, dan kopi, “Aku ingin gencatan senjata.”
Jaejoong mengalihkan pandangan tertariknya pada hidangan penutup yang baru datang itu. Itu adalah crème brûlée, hidangan cantik dari krim yang dibakar di permukaan atasnya sehingga membentuk lapisan karamel renyah tapi lembut dibagian bawahnya.
“Gencatan senjata?” ketika menyadari arti dari kata-kata Yunho, Jaejoong waspada sepenuhnya.
“Aku akan memperlakukanmu dengan baik, bukan sebagai tawanan, tetapi sebagai kekasihku. Menurutku kita bisa menjalin hubungan kerjasama yang cukup baik.”
Jaejoong tergoda. Bukan, bukan tergoda menjadi kekasih Yunho, tetapi tergoda akan janji itu, bahwa Yunho tidak akan memperlakukannya sebagai tawanan, yang berarti akan melonggarkan kemanan ketat yang selama ini menjaganya. Itu berarti kesempatannya untuk melarikan diri akan...
Yunho sepertinya bisa membaca pikiran Jaejoong dari raut wajahnya, bibirnya mengetat marah dan namja itu menggeram.
“Lupakan saja!” dengan Marah Yunho melempar serbetnya, lalu berdiri, “Changmin!”
Dengan cepat Changmin menyiapkan mobil Yunho, dan Jaejoong mendapati dirinya ditarik pergi meninggalkan rumah makan itu.
.
.
.
Dalam kegelapan sosok itu mengawasi, Kabel rem mobil itu sudah berhasil dipotongnya. Susah memang, mengingat pengawal-pengawal Yunho selalu siaga. Tetapi jangan panggil dia Jackal, nama samarannya di dunia gelap yang cukup populer sebagai pembunuh bayaran paling ahli.
Potongannya sudah diatur dengan rapi, ketika diperiksa sekarangpun tidak akan ada yang menyadarinya. Tetapi seiring dengan berjalannya mobil, dan kira-kira 10 kilometer dari sini, tepat ketika mereka memasuki area pinggiran kota dengan jalan berliku dan pohon besar di kiri kanannya menuju rumah Yunho...Kabel itu akan putus.
Jackal terus mengawasi sampai mobil itu berjalan dan menghilang di tikungan, lalu tersenyum jahat, sekarang saatnya menagih bayarannya kepada Siwon yang menyedihkan.
.
.
.
Ketika mereka dalam perjalanan pulang, suasana hati Yunho tampaknya lebih buruk dari sebelumnya, Jaejoong mengernyit menatapnya. Apakah Yunho selalu melalui hari-harinya dengan marah-marah seperti ini? Namja itu pasti akan mati muda, pikirnya dengan puas.  Perjalanan itu berlangsung sedikit lama dan Jaejoong mengantuk mungkin karena pengaruh anggur dan makanan tadi, Jaejoong mulai memejamkan mata dan godaan untuk tidur terasa sangat nikmat.
“Jaejoong!!” teriakan itu mengejutkan Jaejoong membuatnya terperanjat kaget, ketika sadar dia merasakan dirinya ada dalam dekapan Yunho, didekap dengan begitu kuat hingga merasa sakit. Seluruh tubuh Yunho melingkupinya seolah melindunginya. Melindunginya dari apa...?
Sekejap kemudian, mereka berguling dan benturan keras mengenai kepalanya, membuat semuanya gelap dan Jaejoong tidak ingat apa-apa lagi.
.
.
.
“Bagaimana dia?” Yunho menyeruak di antara kerumunan perawat itu. Para perawat di ruangan lain tampak mengejarnya karena luka di lengannya belum selesai di balut.
Dokter dan perawat yang menangani Jaejoong menoleh serentak dan sedikit terpana ketika menyadari bahwa di pintu ruangan gawat darurat itu, berdiri sosok Namja yang luar biasa tampan, mengenakan kemeja putih yang penuh darah, dan tampak begitu marah.
“Bagaimana dia?!” sekali lagi Yunho bertanya, dengan nada sedikit berteriak.
Dokter Lee, yang bertugas di sana, cukup mengetahui reputasi Yunho yang begitu kejam dan cepat naik darah . Lagipula, namja itu adalah pemilik rumah sakit ini.
Dia menghampiri Yunho dan mencoba menjelaskan.
“Dia baik-baik saja Tuan jung, kami sudah menjahit luka di kepalanya. Tetapi dia kehilangan banyak darah, dan saat ini kami sedang mencari darah dari penyedia terdekat...”
“Cari darah itu…Changmin!!” Yunho berteriak dan Changmin, yang daritadi sebenarnya sudah berdiri di belakangnya, “Dia akan membantu mencari darah untuk Jaejoong, apa golongan darahnya?”
“AB.” dokter itu menjawab cepat, tiba-tiba merasa takut akan api yang menyala di mata berwarna cokelat muda itu.
Yunho tertegun sejenak, “Ambil darahku, aku juga AB.”
“Tuan jung, anda juga habis terluka karena kecelakaan ini.” Changmin menyela cemas.
“Kami tidak bisa mengambil darah anda, kondisi anda tidak memungkinkan.” Dokter itu menyela tak kalah cepat hampir bersamaan dengan Changmin.
Yunho mengepalkan tangannya marah,
“Dengar, ini hanya luka lecet kecil, dan aku ingin semua perkataanku dituruti, ambil darahku dan selamatkan dia! Dan kalau...” Yunho terengah, matanya melirik ke arah tubuh Jaejoong yang terkulai lemas di sana, “Dan kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya, aku akan membuat kalian menerima ganjarannya.” gumamnya dengan nada mengancam yang menakutkan.
.
.
.
Yunho duduk di pinggir ranjang dan menatap Jaejoong yang masih tertidur karena pengaruh obat. Transfusi darah sudah dilaksanakan dan kondisi Jaejoong berangsur membaik. Kali ini barulah Yunho merasakan sedikit pusing dan sakit di lengannya yang tersayat besi mobil yang terguling tiga kali sebelum terhempas ke turunan jalan tadi.
“Kondisinya sudah membaik,” Changmin yang berdiri di sana berusaha memecah keheningan, “Kami sudah menyelidiki pelakunya.”
“Siwon,” Yunho menggeram, dia sudah tahu bahkan sebelum Changmin memberitahunya. Bajingan busuk itu berani-beraninya melakukan ini. Dia tidak tahu apa yang menantinya. Yunho pasti akan mencincangnya sampai menjadi bubur. ”Kau sudah menemukannya?”
Changmin bergerak sedikit gelisah, “Belum tuan, ketika dia sadar bahwa dia gagal membunuh anda, dia langsung melarikan diri entah kemana.”
“Cari dia, temukan lalu bawa dia ke depanku, hidup-hidup.” suara Yunho terdengar mengerikan dan Changmin tahu Yunho sedang sangat marah, saat ini seharusnya Siwon berdoa supaya dia ditangkap dalam kondis sudah mati, karena kalau Yunho sudah menemukannya dalam kondisi hidup...Changmin tidak berani membayangkan bagaimana jadinya.
“Ada satu lagi tuan...” Changmin tiba-tiba teringat.
Yunho hanya melirik tidak berminat, “Apalagi?”
“Siwon tidak melakukan semuanya sendiri, dia menyewa seorang pembunuh bayaran yang sangat terkenal di dunia gelap, Jackal.”
Jackal. Yunho pernah mendengar nama sebutan itu. Jackal adalah pembunuh jenius bermental psikopat yang sangat keji dan maniak. Dia membunuh korbannya dengan perhitungan yang sangat matang dan terkadang bisa sangat kejam. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu sosok asli pembunuh itu, mereka semua menyebutnya Jackal karena dia selalu berhasil membunuh korbannya...sampai sekarang.
“Jackal terkenal tidak pernah gagal. Dia akan terobsesi kepada korbannya kalau tidak bisa membunuhnya. Dan sekarang, dia pasti akan mengejar anda, anda harus berhati-hati karena sampai saat ini kita tidak tahu siapa dirinya.”
Yunho menganggukkan kepalanya. Merasa siap karena marah. Siwon dan pembunuh psikopat yang entah siapa itu telah berani-beraninya melukai Jaejoong, miliknya, kalau mereka memutuskan berhadapan dengannya, berarti mereka telah memilih musuh yang salah.
.
.
.
Jaejoong terbangun ketika merasakan lengannya disengat. Dia membuka mata dan bertatapan dengan wajah muda berkacamata yang sangat tampan dan ramah.
“Ups aku membangunkanmu,” namja itu tersenyum ramah, “Aku sedang mennyuntikan obat untuk lukamu, aku sudah berusaha melakukannya selembut mungkin, tetapi sepertinya aku tak selembut yang kukira.”
Jaejoong mengamati namja itu dari jas putih yang dikenakannya, dia adalah dokter.
Namja itu mengikuti arah pandangan Jaejoong dan tersenyum.
“Perkenalkan, aku Woohyun, aku dokter yang merawatmu kemarin ketika kau dibawa ke sini, kepalamu pasti sakit ya? Kau terbentur cukup keras. Aku menjahit 12 jahitan di sana.”
“Kecelakaan?” Jaejoong berusaha mengingat semuanya, tetapi ingatan terakhirnya hanya sampai pada teriakan Yunho dan pelukannya yang begitu erat, sebelum semuanya menjadi gelap.
“Ya kecelakaan, kata polisi mobil kalian di sabotase dan remnya blong, mobil kalian terguling dan kepalamu membentur, untung kami dapat menyelamatkanmu.”
“Bagaimana dengan Yunho?” Jaejoong bertanya cepat, sabotase itu pasti dilakukan oleh musuh Yunho yang mendendam kepadanya, apakah Yunho terluka? Ataukah namja itu sudah mati? Dan kenapa bukannya senang tetapi Jaejoong malahan merasa cemas?
“Maafkan aku mengecewakanmu,” suara khas itu terdengar dari pintu, “Tetapi aku masih hidup.”
Jaejoong menoleh dan melihat Yunho berjalan memasuki ruangannya, dengan kemeja hitam dan penampilan yang luar biasa sehat dan tak kelihatan kalau dia baru saja mengalami kecelakaan. Tanpa sadar Jaejoong mengernyit, menyesal telah mencemaskan Yunho. Namja itu mungkin iblis, jadi susah mati, gumam Jaejoong menyumpah dalam hati.
"Bagaimana kondisinya dokter?” Yunho mengalihkan tatapan matanya dan menatap dokter Lee yang masih berdiri di sana, memeriksa infus Jaejoong.
Senyum di wajah dokter Lee tak pernah pudar hingga Jaejoong menyadari dua namja di depannya ini begitu kontras, yang satu begitu dingin dengan nuansa muram gelap yang melingkupinya, dan yang satunya tampak begitu cerah, penuh senyum seolah-olah dia membawa matahari di atas kepalanya.
“Kondisinya sudah membaik, tetapi dia masih harus istirahat dan berbaring beberapa hari di sini, saya belum bisa merekomendasikan dia dibawa pulang seperti permintaan anda tuan jung,” ekspresi dokter Lee berubah serius meskipun masih penuh senyum, “Itu akan berbahaya untuknya, kepalanya terbentur parah dan goncangan sekecil apapun akan membuatnya mual dan muntah dan kesakitan, anda tentu tidak ingin hal itu terjadi kepadanya kan?”
“Berapa hari sampai dia bisa normal kembali?” Yunho membicarakan Jaejoong seolah-olah Jaejoong tidak ada di ruangan itu.
Dokter Lee tampak menghitung.
“Maksimal tujuh hari, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau kurang dari tujuh hari perkembangannya sudah membaik, kami akan merekomendasikannya untuk bisa dirawat di rumah.”
Yunho tercenung. Tujuh hari, dan Jaejoong berada dalam area publik yang cukup berbahaya. Otaknya berputar memikirkan keamanan seperti apa yang harus diterapkannya untuk menjaga Jaejoong. Siwon masih dalam pengejaran dan Jackal berada entah dimana, masih mengincar mereka. Yunho harus menjaga Jaejoong dengan ekstra hati-hati.
Dokter Lee mengangkat bahunya, dan tersenyum pada Jaejoong.
"Baiklah nona Kim, saya harus kembali bertugas. Saya yakin anda akan akan segera sembuh." Senyumnya yang secerah matahari memancar lagi, membuat Jaejoong terpesona, bahkan setelah dokter Lee pergi.
Yunho menatap Jaejoong dan mencibir, "Jangan bermimpi." desahnya kesal.
Jaejoong menatap Yunho dan mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Kau menatap dokter itu dengan tatapan bodoh dan terpesona seperti perawan yang melihat namja pertamanya...Oh maaf," senyum Yunho benar-benar mengejek, "Aku lupa kalau kau sudah tidak perawan dan akulah namja pertamamu."
Jaejoong benar-benar marah kepada Yunho, namja itu benar-benar perpaduan dari semua yang dia benci, kurang ajar, tidak sopan, dan menjengkelkan. Mungkin karena itulah Tuhan menciptakannya dengan kesempurnaan fisik yang luar biasa, untuk mengimbangi sifat buruknya.
Yunho duduk di kursi sebelah Jaejoong dan menatap lurus, "Aku ulangi, jangan pernah kau terpesona pada dokter muda itu, dia pasti dari kalangan keluarga konvensional dan aku yakin, pendidikan moral dan keluarganya tidak akan menoleransi kau, perempuan yang sudah dinodai oleh Jung yunho."
"Hentikan!!" Jaejoong menggeram, tak tahan akan kata-kata Yunho yang sepertinya sengaja digunakan untuk menyakitinya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, seperti ditusuk dengan tongkat besi. Dia meringis dan memegang kepalanya.
Ekspresi Yunho langsung berubah, namja itu berdiri dari kursinya dan setengah duduk di ranjang, memeluk Jaejoong,  "Jae? Gwenchana? Jae...?"
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. yunho cemburu haha..
    tapi cemburunya bikin jae sakit hati, yunho cobalah ngomong yang lembut sama jae

    ReplyDelete
  2. cemburu tanda nya cinta ...sampe segitunya yunho sampe bikin jae uring2 an terus siwon jahat bngt untung yunjae ga parah lukanya ...

    ReplyDelete
  3. Eeeh #cubitinYun bibir nya Yun yah gak bisa kalo gak tajem , dasar pervert :v

    Ah Siwon dan Jackal apa lagi, nyeremin ih, siapa pula Jackal itu

    ReplyDelete
  4. Ternyata Siwon ga main2..
    Jgn bilang dokter Lee bakal ngerusak hubungan yunjae.
    Tp kl Jaejoong knp2 knp Yunho jd stress bgt ya...Apakah....?

    ReplyDelete