“Baiklah.
Anda tidak akan kecewa karena telah menyewa saya untuk membunuh Jung Yunho.”
telepon ditutup, dan Siwon terkekeh dalam kegelapan. Menenggak minumannya, untuk perayaan awal.
telepon ditutup, dan Siwon terkekeh dalam kegelapan. Menenggak minumannya, untuk perayaan awal.
Jung
Yunho, musuh besarnya. Namja itu sudah menghancurkan bisnisnya dengan ekspansi
yang dilakukannya. Dan bukan hanya itu, Siwon didera oleh perasaan iri dan
benci yang luar biasa kepada Yunho. Entah kenapa Yunho diciptakan begitu
sempurna, dari segi fisik. Dan semua wanita berhamburan untuk berlutut di
kakinya. Siwon dengan wajah jeleknya sudah terlalu sakit hati karena ditolak
yeoja, semua yeoja yang mau tidur dengannya hanyalah pelacur-pelacur yang harus
dibayar. Jung Yunho harus dienyahkan, namja seperti itu tidak boleh hidup di
dunia ini. Dan malam ini mungkin adalah malam terakhir namja itu hidup.
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim
Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with
the Devil
Yunho
menggandeng tangan Jaejoong dengan formal ketika memasuki restoran itu, sang
kepala restoran sendiri yang menyapa mereka dan mengantarkan mereka berdua ke
meja yang sudah disiapkan. Yunho tampak akrab dengan kepala restoran itu, dan
Jaejoong melihat kepala restoran, seorang namja jepang dengan logat Jepang yang
kental, sesekali Yunho berbicara dalam bahasa Jepang yang lancar dan tersenyum
menanggapi perkataan kepala restoran itu.
Dari
informasi yang pernah di dapat Jaejoong, ayah Yunho adalah orang korea dan
ibunya keturunan Jepang, Sementara Yunho sendiri pernah tinggal di Itali selama
lima tahun, mungkin ini sebabnya Yunho lancar berbahasa Itali, meskipun itu
bukan urusannya. Jaejoong cepat-cepat mengalihkan pikirannya dari Yunho.
Ketika
kepala restoran itu pergi, Yunho menarikkan kursi untuk Jaejoong dan duduk di
depan Jaejoong. “Restoran ini milik ibuku,” Yunho menatap kepergian kepala
restoran itu, “Kris adalah asisten eomma sejak lama, dia mencintai restoran ini
seperti mencintai hidupnya.”
Jaejoong
terdiam menatap Yunho. Orangtua Yunho juga telah meninggal, itu yang dia tahu,
tetapi entah kenapa, informasi tentang orang tua Yunho itu tersimpan rapat,
jauh sekali hingga tidak ada seorangpun yang bisa menggalinya.
Seorang
pelayan datang dan Yunho memesan lagi dalam bahasa Itali yang fasih. Ketika
hidangan pembuka datang, Jaejoong terpesona dengan tampilannya,
Yunho
menjelaskan bahwa makanan itu adalah L'imperial de saumon marine yang ternyata
adalah filet salmon asap. Ditemani dengan creme, potongan jeruk citrus dan roti
baggue. Penyajiannya begitu indah, seperti hamparan padang pasir di atas piring
lengkap dengan suasana eksotisnya.
Jaejoong
menyuap pertama kalinya dan mendesah, merasakan crème itu meleleh dimulutnya
dan menciptakan cita rasa yang bercampur baur antara kemanisan dan kelembutan
yang nikmat. Tak disadarinya bahwa Yunho menatap ekspresinya itu dengan tatapan
kelaparan. Suasana hati Yunho luar biasa buruknya, hasratnya yang tidak
terlampiaskan membuatnya frustrasi luar biasa. Dia amat sangat ingin
meledak...di dalam tubuh Jaejoong.
Yunho
memesan anggur Chardonnay sebagai teman makan mereka, sambil berharap malam ini
Jaejoong sedikit mabuk sehingga mengendorkan pertahanannya. Tetapi pikiran
bercinta dengan Jaejoong dalam kondisi perempuan itu mabuk sama sekali tidak
menyenangkannya, dia ingin perempuan itu sukarela, melingkarkan pahanya di
tubuhnya, ketika tubuh mereka bersatu. Saat itu akan datang pada akhirnya,
kalau Yunho mau bersabar dan menundukkan perempuan keras ini pelan-pelan.
Hidangan
utama datang, yakni Parmentier de canard et son bouquet de verdure, hidangan
daging bebek yang dipanggang hingga cokelat muda dan berminyak bersama dengan
kentang lembut yang dihancurkan, dan disajikan bersama semangkuk salad. Rasanya
luar biasa lezat dengan paduan bumbu-bumbu yang tidak biasa dan khas, membuat
Jaejoong terpesona akan citarasa masakan khas Jepang ini. Pantas saja restoran
ini dianugerahi lima bintang.
“Kau
menyukainya?” dalam cahaya lampu yang temaram, Yunho tampak lebih lembut. Garis
kejam di bibirnya tampak memudar dan itu membuatnya tampak lebih santai.
Jaejoong
ingin membantah, tetapi tidak ingin merusak suasana indah ini. Terkurung selama
berminggu-minggu di dalam kamar terkutuk itu dan sekarang entah kenapa Yunho
berbaik hati membawanya keluar, meskipun dengan pengawalan ketat. Jaejoong
sempat melirik ke arah pengawal-pengawal Yunho yang berdiri seperti biasa di
akses pintu keluar.
Jaejoong
menganggukkan kepalanya. Dia memang sangat menikmati semua ini, bukan hanya
makanan, meskipun makanan di rumah Yunho tidak kalah nikmatnya, tetapi bisa
makan dengan pemandangan bebas, bukan pintu kamar dan ruangan yang selalu
terkunci sangat menyenangkannya.
“Bagus,”
Yunho bergumam puas, lalu memanggil pelayan untuk menghidangkan hidangan
penutup, dan kopi, “Aku ingin gencatan senjata.”
Jaejoong
mengalihkan pandangan tertariknya pada hidangan penutup yang baru datang itu.
Itu adalah crème brûlée, hidangan cantik dari krim yang dibakar di permukaan
atasnya sehingga membentuk lapisan karamel renyah tapi lembut dibagian
bawahnya.
“Gencatan
senjata?” ketika menyadari arti dari kata-kata Yunho, Jaejoong waspada
sepenuhnya.
“Aku
akan memperlakukanmu dengan baik, bukan sebagai tawanan, tetapi sebagai
kekasihku. Menurutku kita bisa menjalin hubungan kerjasama yang cukup baik.”
Jaejoong
tergoda. Bukan, bukan tergoda menjadi kekasih Yunho, tetapi tergoda akan janji
itu, bahwa Yunho tidak akan memperlakukannya sebagai tawanan, yang berarti akan
melonggarkan kemanan ketat yang selama ini menjaganya. Itu berarti
kesempatannya untuk melarikan diri akan...
Yunho
sepertinya bisa membaca pikiran Jaejoong dari raut wajahnya, bibirnya mengetat
marah dan namja itu menggeram.
“Lupakan
saja!” dengan Marah Yunho melempar serbetnya, lalu berdiri, “Changmin!”
Dengan
cepat Changmin menyiapkan mobil Yunho, dan Jaejoong mendapati dirinya ditarik
pergi meninggalkan rumah makan itu.
.
.
.
Dalam
kegelapan sosok itu mengawasi, Kabel rem mobil itu sudah berhasil dipotongnya.
Susah memang, mengingat pengawal-pengawal Yunho selalu siaga. Tetapi jangan
panggil dia Jackal, nama samarannya di dunia gelap yang cukup populer sebagai
pembunuh bayaran paling ahli.
Potongannya
sudah diatur dengan rapi, ketika diperiksa sekarangpun tidak akan ada yang
menyadarinya. Tetapi seiring dengan berjalannya mobil, dan kira-kira 10
kilometer dari sini, tepat ketika mereka memasuki area pinggiran kota dengan
jalan berliku dan pohon besar di kiri kanannya menuju rumah Yunho...Kabel itu
akan putus.
Jackal
terus mengawasi sampai mobil itu berjalan dan menghilang di tikungan, lalu
tersenyum jahat, sekarang saatnya menagih bayarannya kepada Siwon yang
menyedihkan.
.
.
.
Ketika
mereka dalam perjalanan pulang, suasana hati Yunho tampaknya lebih buruk dari
sebelumnya, Jaejoong mengernyit menatapnya. Apakah Yunho selalu melalui
hari-harinya dengan marah-marah seperti ini? Namja itu pasti akan mati muda,
pikirnya dengan puas. Perjalanan itu
berlangsung sedikit lama dan Jaejoong mengantuk mungkin karena pengaruh anggur
dan makanan tadi, Jaejoong mulai memejamkan mata dan godaan untuk tidur terasa
sangat nikmat.
“Jaejoong!!”
teriakan itu mengejutkan Jaejoong membuatnya terperanjat kaget, ketika sadar
dia merasakan dirinya ada dalam dekapan Yunho, didekap dengan begitu kuat
hingga merasa sakit. Seluruh tubuh Yunho melingkupinya seolah melindunginya.
Melindunginya dari apa...?
Sekejap
kemudian, mereka berguling dan benturan keras mengenai kepalanya, membuat
semuanya gelap dan Jaejoong tidak ingat apa-apa lagi.
.
.
.
“Bagaimana
dia?” Yunho menyeruak di antara kerumunan perawat itu. Para perawat di ruangan
lain tampak mengejarnya karena luka di lengannya belum selesai di balut.
Dokter
dan perawat yang menangani Jaejoong menoleh serentak dan sedikit terpana ketika
menyadari bahwa di pintu ruangan gawat darurat itu, berdiri sosok Namja yang
luar biasa tampan, mengenakan kemeja putih yang penuh darah, dan tampak begitu
marah.
“Bagaimana
dia?!” sekali lagi Yunho bertanya, dengan nada sedikit berteriak.
Dokter
Lee, yang bertugas di sana, cukup mengetahui reputasi Yunho yang begitu kejam
dan cepat naik darah . Lagipula, namja itu adalah pemilik rumah sakit ini.
Dia menghampiri
Yunho dan mencoba menjelaskan.
“Dia
baik-baik saja Tuan jung, kami sudah menjahit luka di kepalanya. Tetapi dia
kehilangan banyak darah, dan saat ini kami sedang mencari darah dari penyedia
terdekat...”
“Cari
darah itu…Changmin!!” Yunho berteriak dan Changmin, yang daritadi sebenarnya
sudah berdiri di belakangnya, “Dia akan membantu mencari darah untuk Jaejoong,
apa golongan darahnya?”
“AB.”
dokter itu menjawab cepat, tiba-tiba merasa takut akan api yang menyala di mata
berwarna cokelat muda itu.
Yunho
tertegun sejenak, “Ambil darahku, aku juga AB.”
“Tuan
jung, anda juga habis terluka karena kecelakaan ini.” Changmin menyela cemas.
“Kami
tidak bisa mengambil darah anda, kondisi anda tidak memungkinkan.” Dokter itu
menyela tak kalah cepat hampir bersamaan dengan Changmin.
Yunho
mengepalkan tangannya marah,
“Dengar,
ini hanya luka lecet kecil, dan aku ingin semua perkataanku dituruti, ambil
darahku dan selamatkan dia! Dan kalau...” Yunho terengah, matanya melirik ke
arah tubuh Jaejoong yang terkulai lemas di sana, “Dan kalau sampai terjadi
sesuatu kepadanya, aku akan membuat kalian menerima ganjarannya.” gumamnya
dengan nada mengancam yang menakutkan.
.
.
.
Yunho
duduk di pinggir ranjang dan menatap Jaejoong yang masih tertidur karena
pengaruh obat. Transfusi darah sudah dilaksanakan dan kondisi Jaejoong
berangsur membaik. Kali ini barulah Yunho merasakan sedikit pusing dan sakit di
lengannya yang tersayat besi mobil yang terguling tiga kali sebelum terhempas
ke turunan jalan tadi.
“Kondisinya
sudah membaik,” Changmin yang berdiri di sana berusaha memecah keheningan,
“Kami sudah menyelidiki pelakunya.”
“Siwon,”
Yunho menggeram, dia sudah tahu bahkan sebelum Changmin memberitahunya.
Bajingan busuk itu berani-beraninya melakukan ini. Dia tidak tahu apa yang
menantinya. Yunho pasti akan mencincangnya sampai menjadi bubur. ”Kau sudah
menemukannya?”
Changmin
bergerak sedikit gelisah, “Belum tuan, ketika dia sadar bahwa dia gagal
membunuh anda, dia langsung melarikan diri entah kemana.”
“Cari
dia, temukan lalu bawa dia ke depanku, hidup-hidup.” suara Yunho terdengar
mengerikan dan Changmin tahu Yunho sedang sangat marah, saat ini seharusnya
Siwon berdoa supaya dia ditangkap dalam kondis sudah mati, karena kalau Yunho
sudah menemukannya dalam kondisi hidup...Changmin tidak berani membayangkan
bagaimana jadinya.
“Ada
satu lagi tuan...” Changmin tiba-tiba teringat.
Yunho
hanya melirik tidak berminat, “Apalagi?”
“Siwon
tidak melakukan semuanya sendiri, dia menyewa seorang pembunuh bayaran yang
sangat terkenal di dunia gelap, Jackal.”
Jackal.
Yunho pernah mendengar nama sebutan itu. Jackal adalah pembunuh jenius
bermental psikopat yang sangat keji dan maniak. Dia membunuh korbannya dengan
perhitungan yang sangat matang dan terkadang bisa sangat kejam. Sampai saat
ini, tidak ada yang tahu sosok asli pembunuh itu, mereka semua menyebutnya
Jackal karena dia selalu berhasil membunuh korbannya...sampai sekarang.
“Jackal
terkenal tidak pernah gagal. Dia akan terobsesi kepada korbannya kalau tidak
bisa membunuhnya. Dan sekarang, dia pasti akan mengejar anda, anda harus
berhati-hati karena sampai saat ini kita tidak tahu siapa dirinya.”
Yunho
menganggukkan kepalanya. Merasa siap karena marah. Siwon dan pembunuh psikopat
yang entah siapa itu telah berani-beraninya melukai Jaejoong, miliknya, kalau
mereka memutuskan berhadapan dengannya, berarti mereka telah memilih musuh yang
salah.
.
.
.
Jaejoong
terbangun ketika merasakan lengannya disengat. Dia membuka mata dan bertatapan
dengan wajah muda berkacamata yang sangat tampan dan ramah.
“Ups
aku membangunkanmu,” namja itu tersenyum ramah, “Aku sedang mennyuntikan obat
untuk lukamu, aku sudah berusaha melakukannya selembut mungkin, tetapi
sepertinya aku tak selembut yang kukira.”
Jaejoong
mengamati namja itu dari jas putih yang dikenakannya, dia adalah dokter.
Namja
itu mengikuti arah pandangan Jaejoong dan tersenyum.
“Perkenalkan,
aku Woohyun, aku dokter yang merawatmu kemarin ketika kau dibawa ke sini,
kepalamu pasti sakit ya? Kau terbentur cukup keras. Aku menjahit 12 jahitan di
sana.”
“Kecelakaan?”
Jaejoong berusaha mengingat semuanya, tetapi ingatan terakhirnya hanya sampai
pada teriakan Yunho dan pelukannya yang begitu erat, sebelum semuanya menjadi
gelap.
“Ya
kecelakaan, kata polisi mobil kalian di sabotase dan remnya blong, mobil kalian
terguling dan kepalamu membentur, untung kami dapat menyelamatkanmu.”
“Bagaimana
dengan Yunho?” Jaejoong bertanya cepat, sabotase itu pasti dilakukan oleh musuh
Yunho yang mendendam kepadanya, apakah Yunho terluka? Ataukah namja itu sudah
mati? Dan kenapa bukannya senang tetapi Jaejoong malahan merasa cemas?
“Maafkan
aku mengecewakanmu,” suara khas itu terdengar dari pintu, “Tetapi aku masih
hidup.”
Jaejoong
menoleh dan melihat Yunho berjalan memasuki ruangannya, dengan kemeja hitam dan
penampilan yang luar biasa sehat dan tak kelihatan kalau dia baru saja
mengalami kecelakaan. Tanpa sadar Jaejoong mengernyit, menyesal telah
mencemaskan Yunho. Namja itu mungkin iblis, jadi susah mati, gumam Jaejoong
menyumpah dalam hati.
"Bagaimana
kondisinya dokter?” Yunho mengalihkan tatapan matanya dan menatap dokter Lee
yang masih berdiri di sana, memeriksa infus Jaejoong.
Senyum
di wajah dokter Lee tak pernah pudar hingga Jaejoong menyadari dua namja di
depannya ini begitu kontras, yang satu begitu dingin dengan nuansa muram gelap
yang melingkupinya, dan yang satunya tampak begitu cerah, penuh senyum
seolah-olah dia membawa matahari di atas kepalanya.
“Kondisinya
sudah membaik, tetapi dia masih harus istirahat dan berbaring beberapa hari di
sini, saya belum bisa merekomendasikan dia dibawa pulang seperti permintaan
anda tuan jung,” ekspresi dokter Lee berubah serius meskipun masih penuh
senyum, “Itu akan berbahaya untuknya, kepalanya terbentur parah dan goncangan
sekecil apapun akan membuatnya mual dan muntah dan kesakitan, anda tentu tidak
ingin hal itu terjadi kepadanya kan?”
“Berapa
hari sampai dia bisa normal kembali?” Yunho membicarakan Jaejoong seolah-olah
Jaejoong tidak ada di ruangan itu.
Dokter
Lee tampak menghitung.
“Maksimal
tujuh hari, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau kurang dari tujuh hari
perkembangannya sudah membaik, kami akan merekomendasikannya untuk bisa dirawat
di rumah.”
Yunho
tercenung. Tujuh hari, dan Jaejoong berada dalam area publik yang cukup
berbahaya. Otaknya berputar memikirkan keamanan seperti apa yang harus
diterapkannya untuk menjaga Jaejoong. Siwon masih dalam pengejaran dan Jackal
berada entah dimana, masih mengincar mereka. Yunho harus menjaga Jaejoong
dengan ekstra hati-hati.
Dokter
Lee mengangkat bahunya, dan tersenyum pada Jaejoong.
"Baiklah
nona Kim, saya harus kembali bertugas. Saya yakin anda akan akan segera
sembuh." Senyumnya yang secerah matahari memancar lagi, membuat Jaejoong
terpesona, bahkan setelah dokter Lee pergi.
Yunho
menatap Jaejoong dan mencibir, "Jangan bermimpi." desahnya kesal.
Jaejoong
menatap Yunho dan mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Kau
menatap dokter itu dengan tatapan bodoh dan terpesona seperti perawan yang
melihat namja pertamanya...Oh maaf," senyum Yunho benar-benar mengejek,
"Aku lupa kalau kau sudah tidak perawan dan akulah namja pertamamu."
Jaejoong
benar-benar marah kepada Yunho, namja itu benar-benar perpaduan dari semua yang
dia benci, kurang ajar, tidak sopan, dan menjengkelkan. Mungkin karena itulah
Tuhan menciptakannya dengan kesempurnaan fisik yang luar biasa, untuk
mengimbangi sifat buruknya.
Yunho
duduk di kursi sebelah Jaejoong dan menatap lurus, "Aku ulangi, jangan
pernah kau terpesona pada dokter muda itu, dia pasti dari kalangan keluarga
konvensional dan aku yakin, pendidikan moral dan keluarganya tidak akan
menoleransi kau, perempuan yang sudah dinodai oleh Jung yunho."
"Hentikan!!"
Jaejoong menggeram, tak tahan akan kata-kata Yunho yang sepertinya sengaja
digunakan untuk menyakitinya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, seperti
ditusuk dengan tongkat besi. Dia meringis dan memegang kepalanya.
Ekspresi
Yunho langsung berubah, namja itu berdiri dari kursinya dan setengah duduk di
ranjang, memeluk Jaejoong, "Jae?
Gwenchana? Jae...?"
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

yunho cemburu haha..
ReplyDeletetapi cemburunya bikin jae sakit hati, yunho cobalah ngomong yang lembut sama jae
cemburu tanda nya cinta ...sampe segitunya yunho sampe bikin jae uring2 an terus siwon jahat bngt untung yunjae ga parah lukanya ...
ReplyDeleteEeeh #cubitinYun bibir nya Yun yah gak bisa kalo gak tajem , dasar pervert :v
ReplyDeleteAh Siwon dan Jackal apa lagi, nyeremin ih, siapa pula Jackal itu
Ternyata Siwon ga main2..
ReplyDeleteJgn bilang dokter Lee bakal ngerusak hubungan yunjae.
Tp kl Jaejoong knp2 knp Yunho jd stress bgt ya...Apakah....?