“Kalau kau berjanji mau bersikap baik, mungkin aku akan menawarimu tempat yang nyaman, di sebelahku di dalam mobil.”
“Mati saja kau!” sembur Jaejoong penuh
kemarahan.
Yunho terkekeh lagi,
Yunho terkekeh lagi,
“Oke, kau yang
minta.” dengan isyarat anggukan kepala Yunho memerintahkan para bodyguardnya,
“Masukkan dia ke bagasi.”
.
.
Perjalanan itu terasa menyiksa dan
panjang. Tubuh Jaejoong dilempar begitu saja dengan kasar oleh bodyguard Yunho
ke bagasi dan dikunci dari luar.
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Jaejoong berusaha menendang, berteriak,
meronta, tetapi pada akhirnya dia kelelahan dan kehabisan oksigen. Menyadari
bahwa ruang bagasi ini begitu sempit dan pengap dengan asupan oksigen yang
makin menipis, Jaejoong terdiam, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar
keras, campur aduk antara rasa takut dan ingin tahu, akan dibawa kemanakah
dirinya?
Lama sekali Jaejoong menunggu, sampai
akhirnya mobil itu melambat, terdengar suara pintu gerbang yang berat dibuka,
lalu mobil itu melaju lagi, melambat, dan kemudian berhenti.
Suara pintu mobil di banting. Dan Syukurlah, ada gerakan membuka bagasi. Jaejoong bersiap melompat dan menyerang siapa saja yang membuka pintu bagasi itu, lalu kabur.
Suara pintu mobil di banting. Dan Syukurlah, ada gerakan membuka bagasi. Jaejoong bersiap melompat dan menyerang siapa saja yang membuka pintu bagasi itu, lalu kabur.
“Ah ya Tuhan, semoga semudah itu.” Doanya dalam hati
Pintu bagasi terbuka sedikit dan secercah cahaya masuk melalui celah yang hanya dibuka sempit.
“Jaejoong,” itu suara Yunho dan namja itu memanggil namanya. Wajah Jaejoong langsung pucat pasi.
Pintu bagasi terbuka sedikit dan secercah cahaya masuk melalui celah yang hanya dibuka sempit.
“Jaejoong,” itu suara Yunho dan namja itu memanggil namanya. Wajah Jaejoong langsung pucat pasi.
“Namja itu sejak awal sudah mengetahui
penyamarannya!”
“Aku akan membuka pintu bagasi ini, tapi kau harus berjanji untuk bersikap tenang dan tidak memberontak.” Ada seberkas senyum di suara Yunho.
“Aku akan membuka pintu bagasi ini, tapi kau harus berjanji untuk bersikap tenang dan tidak memberontak.” Ada seberkas senyum di suara Yunho.
“Kurang ajar.” namja itu pasti
dari tadi sudah menertawakan kebodohannya!
“Kau ada di rumahku, dan perlu kau tahu,
para pengawalku sangat tidak ramah, kusarankan kau turun dengan sikap penurut
dan tenang, demi dirimu sendiri, karena para pengawalku mungkin akan melukaimu
kalau kau bertindak bodoh.”
“Rumah Yunho!” Jaejoong
memejamkan matanya frustrasi.
Dari informasi yang dia dapatkan, Rumah Yunho
yang terletak di atas tanah begitu luas di kawasan elite pinggiran kota. Rumah
itu dipagari dengan pagar tinggi di sekelilingnya dan setiap akses masuk dijaga
oleh pengawal-pengawal Yunho. Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke area
rumah ini tanpa sepengetahuan Yunho. Begitupun, tidak akan ada orang yang bisa
keluar dari rumah ini tanpa seizin Yunho.
“Ottokhe Jae? Apakah kau berjanji untuk
bersikap baik, dan aku akan mengeluarkanmu secara manusiawi. Atau kau memilih
bertindak bodoh lalu mungkin aku akan mengikatmu dalam karung dan kusekap di
gudang.” Suara Yunho di luar menyadarkan Jaejoong dari lamunannya.
“Kenapa kau membawaku kemari?” gumam Jaejoong
penuh keberanian.
Terdengar suara Yunho terkekeh di luar sana,
Terdengar suara Yunho terkekeh di luar sana,
“Menurutmu kenapa Jae? Apa kau pikir aku
semudah itu diracuni di tempat umum? Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau
selama ini mengendus-endus mencari kesempatan untuk membalaskan dendammu?”
Suara Yunho terdengar dekat.
“Kau sudah bermain api,” bisiknya,
“sekarang saatnya kau untuk terbakar.”
.
.
.
Pintu bagasi itu terbuka tiba-tiba dan Jaejoong
belum siap meronta. Lagipula, percuma meronta. Dibelakang Yunho yang berdiri
dengan pongahnya, ada beberapa bodyguard dengan tubuh kekar bertampang seperti
batu. Dan melihat tampang dan penampilan mereka, Jaejoong tahu, mereka tidak
akan segan-segan melukainya kalau Jaejoong berbuat sesuatu yang sekiranya akan
mencelakakan majikan mereka.
Yunho mundur selangkah, lalu mengulurkan
tangannya setengah membungkuk,
“Silahkan tuan puteri, biarkan aku membantumu keluar.” gumamnya mengejek.
Jaejoong menatap tangan itu lalu menggeram marah, “kurang ajar sekali iblis yang satu ini!”
Dengan marah, ditepiskannya tangan Yunho dan dia berusaha keluar sendiri dari bagasi sempit itu meskipun sedikit kesulitan karena kaki dan tangannya kaku dilipat di ruangan sempit dan menempuh perjalanan entah berapa puluh kilo.
“Silahkan tuan puteri, biarkan aku membantumu keluar.” gumamnya mengejek.
Jaejoong menatap tangan itu lalu menggeram marah, “kurang ajar sekali iblis yang satu ini!”
Dengan marah, ditepiskannya tangan Yunho dan dia berusaha keluar sendiri dari bagasi sempit itu meskipun sedikit kesulitan karena kaki dan tangannya kaku dilipat di ruangan sempit dan menempuh perjalanan entah berapa puluh kilo.
Akhirnya Jaejoong berhasil berdiri keluar
dari bagasi, dengan sepenuh harga dirinya.
Yunho mengamati Jaejoong dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan melecehkan, lalu senyum muncul lagi di sudut bibirnya,
Yunho mengamati Jaejoong dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan melecehkan, lalu senyum muncul lagi di sudut bibirnya,
“Mari, silahkan masuk, selamat datang di
rumahku.” Setengah memaksa namja itu mencengkeram lengan Jaejoong yang kaku
lalu membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Bagian depan ruang tamu Yunho sangat megah, dengan arsitektur gaya lama yang entah kenapa bisa tampak modern. Lantai marmernya berkilauan dengan warna gading, dan pilar-pilar besar di ruang tamu dengan warna serupa begitu menjulang tinggi, dipadukan dengan nuansa warna merah dan emas.
Bagian depan ruang tamu Yunho sangat megah, dengan arsitektur gaya lama yang entah kenapa bisa tampak modern. Lantai marmernya berkilauan dengan warna gading, dan pilar-pilar besar di ruang tamu dengan warna serupa begitu menjulang tinggi, dipadukan dengan nuansa warna merah dan emas.
.
.
Yunho membawa Jaejoong menuju ke sebuah
tangga besar melingkar berwarna putih dan sekali lagi setengah menyeretnya
menaiki tangga. Mereka berdua berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna
putih,
“Kau akan tinggal di kamar ini mulai
sekarang.” gumam Yunho datar.
“Mwo!” Jaejoong membelalakkan mata marah
pada Yunho.
“Atas dasar apa kau memutuskan aku harus
tinggal dimana. Aku mau pulang.”
Bibir Yunho masih menyiratkan senyum, tapi matanya tidak, mata itu bersinar dengan tatapan tajam dan dingin,
Bibir Yunho masih menyiratkan senyum, tapi matanya tidak, mata itu bersinar dengan tatapan tajam dan dingin,
“Kau tidak bisa pulang. Sekarang ini
adalah rumahmu. Bersamaku.”
Dengan cepat namja itu merengkuh pundak Jaejoong, dan detik itu Jaejoong menyadari bahwa namja itu akan menciumnya, secepat mungkin dia memalingkan muka, mencoba memberontak, hingga bibir Yunho hanya mendarat di pelipisnya.
Dengan cepat namja itu merengkuh pundak Jaejoong, dan detik itu Jaejoong menyadari bahwa namja itu akan menciumnya, secepat mungkin dia memalingkan muka, mencoba memberontak, hingga bibir Yunho hanya mendarat di pelipisnya.
Cengkeraman Yunho di pundaknya makin kuat
sehingga terasa menyakitkan,
“Aku sudah memutuskan untuk memilikimu.
Dan satu-satunya cara kau lepas dariku adalah ketika aku memutuskan untuk
melepaskanmu, atau ketika kau… Mati.” Dengan kalimat penutupnya yang begitu
kejam, Yunho membuka pintu putih itu, dan mendorong Jaejoong masuk, lalu
menguncinya dari luar, meninggalkan Jaejoong yang menggedor-gedor dan
menendang-nendang pintu itu dari dalam dengan histeris.
♥Kitahara
Saki♥
“Menurutmu apakah dia sudah siap
untukku?” Yunho mengenakan jubah tidurnya, sutera hitam, dan duduk di sofa
dikamarnya, hidangan lengkap tersedia untuknya di meja. Dengan tenang, namja
itu menyesap anggurnya, lalu menatap Changmin, pengawal pribadinya sekaligus
orang kepercayaannya yang berdiri depannya dengan wajah khasnya yang tanpa
ekspresi.
“Saya pikir dia sudah siap, bukan untuk
menyerah kepada anda, tetapi siap membunuh anda, tatapan matanya adalah tatapan
pembunuh yang penuh kebencian.”
Yunho tersenyum tipis mendengar jawaban Changmin
itu,
“Ya, tatapan matanya membakar, penuh
kebencian.” Yunho menyesap anggurnya lagi, memejamkan matanya, “Tapi kau tahu
bagaimana aku sangat ingin memilikinya malam ini.”
“Ya saya tahu,” jawab Changmin tenang, “apakah
anda akan memaksanya…?”
“Aku tidak suka memaksa yeoja, kau tentu
tahu.”
Yunho terbiasa dikelilingi yeoja yang
menyerahkan diri padanya. Tidak ada seorang yeojapun, yang mampu menolak pesona
Jung Yunho. Dengan rambut hitam legam yang sedikit panjang mengena kerah, mata
cokelat pucat dan wajah aristrokatnya hampir bisa dikatakan sempurna seperti
malaikat…… kalau saja matanya tidak begitu dingin, tanpa perasaan dan menyimpan
kebencian mendalam, menakutkan. Yunho bagaikan iblis yang terperangkap dalam
raga malaikat.
“Aku ingin dia menyerahkan dirinya padaku
dengan sukarela.”
“Tentu saja.” Gumam Changmin dalam hati.
Kata-kata Yunho bagaikan perintah baginya.
♥Kitahara Saki♥
Obat ini sangat keras, dan tidak bisa digunakan untuk main-main. Changmin
mengamati bubuk putih dalam wadah kecil di depannya. Sangat keras, sekaligus
sangat efektif. Dan kalau yeoja itu meminumnya, maka yeoja itu akan menyerah
pada Yunho, dan menyenangkan tuannya.Dengan gerakan pelan penuh perhitungan, Changmin mencampurkan bubuk putih tanpa rasa itu ke dalam minuman Jaejoong.
Obat ini akan membuat yeoja tersiksa,
meminta dipuaskan. Kalau tidak ada yang memuaskannya, yeoja itu akan merasa
seluruh tubuhnya terbakar, kesakitan. Dan Changmin yakin, Jaejoong akan
meminta, bahkan memohon-mohon pada tuannya malam ini.
“Malam ini yeoja itu akan menyerah dalam
tanganmu, Tuanku.” Changmin
tersenyum dalam hati, menanti apa yang akan terjadi.
♥Kitahara Saki♥
Sudah hampir satu jam Jaejoong dikurung
di dalam kamar ini, kamar mewah bernuansa putih, di karpet, di ranjang, di
semua furniturenya. Kamar ini dibuat untuk yeoja, dan Jaejoong merasa jijik
membayangkan bahwa mungkin kekasih-kekasih Yunho yang sebelumnya juga
ditempatkan di ruangan ini.
Salah seorang pengawal Yunho yang
bertampang paling dingin, setengah jam yang lalu masuk, membawa nampan makanan,
meletakkannya di meja. Lalu tanpa berkata apa-apa pergi dan mengunci kembali
pintu itu dari luar.
Dan selama setengah jam yang panjang itu
pula, Jaejoong mencoba setengah mati untuk tidak melirik pada nampan yang
sangat menggoda itu. Perutnya keroncongan, dan dia merasa haus. Dia belum makan
dari siang karena terlalu gugup merencanakan pembalasan dendamnya pada Yunho,
dan sekarang dia kena batunya.
Aroma makanan itu terasa begitu menggoda,
aroma manis dan gurih masakan yang masih panas.
“Mungkin
jika aku mengintip sedikit apa makanannya…..tidak!” Jaejoong menghardik dirinya sendiri
dalam hati. Dia tidak akan makan, lebih baik dia mati kelaparan daripada harus
menyerahkan pada kekuasaan Yunho.
Tapi jika hanya minum mungkin tidak
apa-apa. Jaejoong melirik haus pada minuman di nampan itu. Sari jeruk segar
yang tampak begitu menggoda.
Akhirnya Jaejoong menyerah. Dia haus
sampai terasa mau pingsan, dan dia harus minum, kalau tidak dia mungkin akan
benar-benar pingsan. Jaejoong tidak boleh pingsan, dia harus mencari cara untuk
melarikan diri dari kamar ini, dari rumah ini.
Dengan cepat disambarnya gelas itu,
diminumnya langsung berteguk-teguk karena begitu hausnya. Aliran dingin air itu
terasa begitu segar ketika membasahi kerongkongannya.
Tanpa sadar segelas minuman itu sudah tandas, Jaejoong meletakkan gelas itu dengan pelan, sedikit merasa bersalah, Tapi bagaimanapun juga dia tidak menyesal. Dia merasa lebih baik. Sekarang dia bisa memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini,
Tanpa sadar segelas minuman itu sudah tandas, Jaejoong meletakkan gelas itu dengan pelan, sedikit merasa bersalah, Tapi bagaimanapun juga dia tidak menyesal. Dia merasa lebih baik. Sekarang dia bisa memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini,
Mata Jaejoong berputar, ke sekeliling
ruangan, mencari cara untuk melarikan diri. Ada jendela besar di ujung sana,
yang dilapisi gorden berwarna putih, mungkin Jaejoong bisa mencari cara keluar
dari sana.
Dengan hati-hati Jaejoong melangkah ke
arah jendela itu untuk memeriksanya, tetapi seketika itu juga hatinya kecewa,
Jendela itu sudah dilapisi kaca tebal, dan penuh dengan teralis besi yang
sangat kuat, lagipula Jaejoong baru menyadari bahwa dia ada di lantai dua,
kalaupun dia bisa membuka jendela itu, dia harus mencari cara agar bisa turun dari
lantai dua dengan selamat.
Jaejoong mencoba berpikir, dia belum memeriksa kamar mandi yang ada di ujung kamar, mungkin ada jalan keluar dari sana yang lolos dari pengawasan, dengan cepat dia melangkah ke kamar mandi, tetapi langkahnya terhuyung, entah kenapa kepalanya terasa pening, dan seluruh tubuhnya menggelenyar…. Kepanasan…
Jaejoong mencoba berpikir, dia belum memeriksa kamar mandi yang ada di ujung kamar, mungkin ada jalan keluar dari sana yang lolos dari pengawasan, dengan cepat dia melangkah ke kamar mandi, tetapi langkahnya terhuyung, entah kenapa kepalanya terasa pening, dan seluruh tubuhnya menggelenyar…. Kepanasan…
“Ada
apa ini?” Jaejoong
meraba dahinya sendiri, terasa panas, Apakah dia demam? Napas Jaejoong
terengah, semuanya terasa panas….. terasa panas… Jaejoong sangat butuh….
♥Kitahara Saki♥
Yunho membuka pintu kamar tempat Jaejoong
dikurung dengan pelan. Sudah larut malam, dan Yunho tidak mengharapkan Jaejoong
masih bangun.
Kamar itu gelap dan remang-remang, tapi
mata Yunho menangkap nampan makanan yang masih utuh, hanya minumannya yang
habis.
Gadis keras kepala. Geram Yunho dalam
hati, dia pikir dia bisa mengancam Yunho dengan membiarkan dirinya sendiri
kelaparan, dia tidak tahu bahwa Yunho akan menggunakan segala cara untuk
membuat Jaejoong menyerah padanya…
Gerakan gemerisik di ranjang membuat Yunho
menoleh waspada. Dalam keremangan kamar itu, Yunho melihat Jaejoong terbaring
di sana, gelisah. Yeoja itu belum tidur rupanya…. Dan dia tampak… tidak
tenang.
Ingin tahu, Yunho mendekat, dan menemukan
Jaejoong berbaring disana dengan tatapan mata tersiksa, tubuhnya menggeliat di
atas ranjang berseprei satin putih itu seperti kepanasan,
“Tolong…panas….” Suara Jaejoong mendesah,
serak seperti kesakitan.
Mengernyitkan keningnya, Yunho duduk di tepi ranjang, dan menyentuhkan jemarinya ke dahi Yunho, suhunya normal, dia tidak demam. Kerutan di kening Yunho makin dalam, lalu kenapa yeoja ini bilang kalau dia kepanasan?
Mengernyitkan keningnya, Yunho duduk di tepi ranjang, dan menyentuhkan jemarinya ke dahi Yunho, suhunya normal, dia tidak demam. Kerutan di kening Yunho makin dalam, lalu kenapa yeoja ini bilang kalau dia kepanasan?
“Kau mau minum?” Dengan cekatan Yunho
mengambil gelas air di meja pinggir ranjang, “Sini, aku bantu kau minum.” Yunho
bangkit dan mengangkat tubuh Jaejoong, lalu mencoba membuatnya berdiri. Tubuh Jaejoong
menggayut lemah di lengannya, dan napas yeoja itu terengah,
“Panas…. Tolong… panas….” Sekali lagi Jaejoong
mendesahkan suara itu, suara kepanasan, seperti tersiksa.
Yunho meminumkan air itu kepada Jaejoong,
dan dengan rakus Jaejoong menghirup air itu, tetapi napasnya tetap terengah,
dan dia masih tampak tersiksa oleh rasa panas yang mendera tubuhnya.
“Pasti ada sesuatu…. Jangan-jangan….”
Yunho memundurkan tubuh Jaejoong yang
bersandar padanya, supaya dia bisa mengamati Jaejoong dengan jelas.
Wajah Jaejoong merona kemerahan, napasnya
terengah, dan matanya sedikit tidak fokus, dia selalu mengeluh kepanasan….
Jangan-jangan…
Dengan cepat Yunho membaringkan Jaejoong
di ranjang, dan melangkah keluar dari kamar bernuansa putih itu, membanting
pintunya, dan berteriak,
“Changmin!”
Sekejap, tanpa suara seolah menggunakan
sihir, Changmin muncul di depan Yunho,
“Ya Tuan.”
“Kau campurkan apa di minuman Jaejoong?”
Changmin sedikit membungkukkan tubuhnya,
wajahnya tanpa ekspresi, “Saya mencampurkan obat milik saya, Tuan tahu itu obat
apa.”
Wajah Yunho mengeras, “Ya. Aku tahu itu
obat apa. Dan aku menolak memperalat wanita dalam pengaruh obat. Kau melakukan
sendiri tanpa meminta izinku, kau tahu kalau aku marah aku bisa menghukummu.”
Changmin tampak tidak terpengaruh dengan
kata-kata Yunho, “Anda memerintahkan saya untuk membuat yeoja itu menyerah. Dia
sangat membenci anda, dan pasti akan berontak mati-matian, obat itulah
satu-satunya cara membuat dia menyerah,” Changmin menatap mata Yunho, “anda
bisa meninggalkan kamar ini kalau anda tidak ingin memanfaatkannya.”
“Dia kesakitan, kau tahu itu.” geram Yunho
marah, Changmin mengangkat bahunya,
“Anda bisa meredakan sakitnya. Dan besok,
setelah anda memilikinya, mungkin dia akan menjadi lebih penurut.”
“Berapa banyak obat yang kau berikan
padanya?”
“Dosis biasa tuan, tetapi efeknya berbeda-beda
tergantung orangnya.”
“Jadi ini bisa berlangsung selama ber
jam-jam atau sepanjang malam?”
“Selama anda ingin bersenang-senang,
Tuan.”
Yunho terdiam. Kata-kata Changmin terasa
begitu menggoda.
♥Kitahara Saki♥
Yunho kembali masuk ke dalam kamar,
didorong perasaan yang kuat untuk melihat Jaejoong kembali.
Jaejoong masih menggeliat dan
mengerang-erang di atas ranjang, ketika Yunho duduk di ranjang, Jaejoong
menatap Yunho dengan mata berkabut, seolah tidak mengenalinya.
“Aku sakit….tubuhku… panas…”
Yunho tersenyum dengan kelembutan yang
aneh, Jaejoong benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya, bahwa
hanya ada satu cara untuk menyembuhkan Jaejoong dari kesakitannya. Dan Jaejoong
membutuhkan Yunho untuk itu.
Yunho mencondongkan tubuhnya dan menyapu
lembut bibir Jaejoong, mendapati mata Jaejoong membelalak kaget. Yunho tidak
bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Sungguh luar biasa, perpaduan antara
kepolosan dan gairah yang kuat sungguh-sungguh menggodanya.
“Kau tidak menyukainya?” Bisik Yunho lembut.
“Kau tidak menyukainya?” Bisik Yunho lembut.
Jaejoong menatap Yunho, atau setidaknya
mencoba menatap dengan matanya yang sulit fokus,
“Aku… apa yang terjadi pada diriku?”
“Aku… apa yang terjadi pada diriku?”
Yunho mengulurkan jemarinya, dan
menyapukannya di pipi Jaejoong, membuat tubuh Jaejoong bergetar. “Anak buahku
mengambil keputusan sendiri dan mencampurkan obat di minumanmu…”
“Obat…? Apakah aku diracuni?”
“Itu bukan racun Jae, obat itu akan
merangsangmu sampai hasratmu tak terkendali, dan kau akan kesakitan jika dirimu
tidak dipuaskan.”
Jaejoong butuh waktu sesaat untuk
mencerna, sampai kemudian menyadari arti kata-kata Yunho, sedikit kesadarannya
meneriakkan peringatan akan bahaya. Dan tubuhnya langsung beringsut,
susah payah mencoba menjauhi Yunho.
Tetapi Yunho merengkuh Jaejoong lagi dan
berbisik lembut di telinga Jaejoong,
“Aku bisa membantumu menyembuhkan rasa sakitmu,” sambil berbicara, tangannya yang bebas turun ke dada Jaejoong, erangan Jaejoong ketika merasakan jemari Yunho terdengar begitu menderita, “terlalu sensitif, sayang? Kau membutuhkan pelampiasan dengan segera bukan?” Tangan Yunho bergerak ke pusat gairah Jaejoong.
“Aku bisa membantumu menyembuhkan rasa sakitmu,” sambil berbicara, tangannya yang bebas turun ke dada Jaejoong, erangan Jaejoong ketika merasakan jemari Yunho terdengar begitu menderita, “terlalu sensitif, sayang? Kau membutuhkan pelampiasan dengan segera bukan?” Tangan Yunho bergerak ke pusat gairah Jaejoong.
“Ani!” Jaejoong mencoba berteriak dan
mencengkeram lengan Yunho, “Jangan! Kau tidak boleh melakukannya!”
“Ini satu-satunya cara, sayang,” suara Yunho
terdengar sedikit parau, “biarkan aku membantumu.”
Jaejoong mengerang ketika denyutan itu
meningkat seiring dengan sentuhan Yunho. Otaknya memberontak atas apa yang
dilakukan pria itu dengan jari-jarinya, tapi tubuhnya tak kuasa menolaknya. Jaejoong
membutuhkan jemari Yunho itu…. Ia membutuhkan….
“Aku akan menolongmu Jae, tapi kau juga
harus membantuku, aku juga butuh pelepasan, Lihat aku Jae.”
Yunho membuka jubah satin hitamnya, dan
tubuhnya telanjang di balik jubah itu. Dan napas Jaejoong tercekat ketika
melihat bukti gairah Yunho begitu keras. “Gunakan aku Jaejoong, biarkan aku ada
di dalam dirimu.”
Itu adalah satu-satunya kata yang
mendekati permohonan yang pernah Yunho gunakan pada yeoja, dan hanya dia
lakukan kepada Jaejoong. Yunho melakukannya karena dia sangat bergairah kepada Jaejoong,
dia amat sangat bergairah, dan Jaejoong tidak dalam kondisi untuk menolak
gairahnya.
Tubuh Yunho sudah menindih Jaejoong, dan yeoja
itu menggodanya dengan pinggulnya yang menggeliat dan mengundang. Yunho
menyangga tubuhnya dengan siku, menjaga agar dadanya yang keras tidak menindih tubuh
Jaejoong, Yunho menunduk dan mencicipi bibir Jaejoong yang begitu menggoda dan
menggairahkan, bibir itu begitu manis dan menggoda,
“Tenang sayang, aku mungkin akan
menyakitimu,” Yunho menahan pinggul Jaejoong dengan tangannya, karena pinggul
itu bergerak-gerak mendesaknya dengan mengundang, Jaejoong sudah sepenuhnya ada
di bawah pengaruh obat itu, “tapi aku berjanji, setelah rasa sakit itu, kau
akan merasakan kenikmatan.”
Detik itu juga Yunho mendesakkan dirinya
ke dalam tubuh Jaejoong. Hati-Hati. Yunho menggertakkan giginya, mencoba
menahan gairahnya yang begitu kuat, mencoba meredakan dorongan untuk menerjang
dan menenggelamkan tubuhnya dalam-dalam ke dasar balutan sutera panas milik Jaejoong.
“Hati-hati, yeoja ini masih perawan.” Yunho mencoba mengingatkan dirinya
lagi. Penghalang itu ada, seolah mencoba menahan Yunho memasukinya, dan Yunho
mendesak maju, mengklaim apa yang menjadi miliknya.
Jaejoong adalah miliknya!
.
.
.
To Be
Continued

ntu ulah changmin jae yg ngasih lu obat
ReplyDeleteyun cm menolong loh hehe
Changmin emang jenius #prokprokprok
ReplyDeleteJadi, mungkin Jae spesial yah untuk Yun, bisakah di anggap begitu ._.
Aigoooo... Knp jd Min yg punya inisiatif seliar itu??
ReplyDeleteTp Yunho yg menikmati hasilnya.
Jaejoong jg sih.....^^