Tepat di bawah lantai
ia berdiri, Jaejoong melihat Yunho memasuki serambi. Yunho tampak terpaku di
anak tangga paling bawah dan melempar pandangan ke sekeliling rumah, yang Jaejoong
tahu pasti tempat yang sangat disayangi Yunho. Tempat yang sangat berarti untuk
Yunho, sepenting tarikan napasnya. Jaejoong merasa iba, membayangkan Yunho,
yang memaksakan diri bertahun-tahun tinggal jauh dari rumah yang sangat
disayanginya.
Bittersweet Rain
© SANDRA BROWN
yunjae version © Kitahara Saki
Yunho, Jaejoong, Siwon, Kyuhyun, Sungmin © diri mereka sendiri
Dengan langkah pelan Yunho
menuju mobil yang diparkir di depan rumah. Ia mengenakan celana jins dan mantel
bergaya sport, gaya berpakaian yang terlalu mewah, dan memang pakaian yang cocok
untuk seorang Jung. Jaejoong terus mengamati Yunho yang merogoh saku depan,
mencari-cari kunci mobil.
Yunho membuka pintu
mobil lebar-lebar. Saat itulah tanpa disengaja ia melihat Jaejoong yang
memandanginya dari teras rumah di lantai dua. Yunho menopangkan tangan pada
atap mobil, balas menatap Jaejoong.
.
.
Jaejoong tetap berdiri
terpaku, tidak berbicara, tidak pula memberi salam pada Yunho, hanya matanya
yang bicara. Mereka saling menatap. Saling memandang. Beberapa saat lamanya, di
pagi hari yang berlangit keemasan, mereka saling menatap. Di keremangan sinar
matahari pagi sosok mereka seperti tidak nyata, di luar jangkauan waktu. Dalam
keakraban yang hening itu mereka melepaskan semua pertahanan diri. Keduanya
hanyut mengikuti suara hati mereka.
.
.
Tak ada apa pun lagi
di dunia ini yang mampu menyelamatkan keduanya.
Sampai akhirnya, tanpa
mengucapkan sepatah kata pun, Yunho memasuk mobil Audinya dan melaju pergi.
Dengan perasaan sedih Jaejoong kembali ke kamar dan berganti pakaian.
Dipandanginya dirinya di depan cermin,
"Bagaimana bisa terjadi seperti
ini?"
Satu-satunya pria yang
pernah dicintainya, atau pria yang hampir pernah dicintainya, hanyalah Jung
Yunho. Meski hanya sesaat mereka menikmati sesuatu, yang sangat istimewa dan
langka. Paling tidak, begitulah buat Jaejoong. Dibiarkannya dirinya berkhayal
mendapatkan sesuatu yang kecil kemungkinannya bisa diraihnya. Ia bodoh sekali
waktu itu, dengan polosnya mempercayai cerita Yunho di musim panas itu. Padahal
kata-kata Yunho tidak punya arti apa-apa. Dirinya hanyalah sekadar mainan baru untuk Yunho.
Namun nasib yang tak
bisa ditebak menentukan lain, dia menikah dengan appa Yunho. Ketika Siwon
melamarnya untuk menjadi istri, lamaran itu bak jalan untuk mewujudkan
mimpi-mimpinya. Untuk mendapatkan kehormatan, uang. Orang-orang yang selama ini
merendahkannya, menghinanya selama hidupnya, harus menghormatinya.
Yunho sudah pergi,
takkan pernah muncul kembali. Mengapa tak pernah terlintas dalam benaknya ada
kemungkinan Yunho akan kembali? Bagaimana perasaannya bila Yunho benar-benar
kembali? Benarkah selama ini ia bersikap jujur terhadap dirinya? Apakah ia
menikah dengan Siwon karena ingin membahagiakan Siwon, membantu mengurus
bisnisnya, menjadi teman Sungmin, bukan karena ingin membuat Yunho cemburu dan
sedih sebab laki-laki itu meninggalkan dirinya seenaknya? Tidakkah ini hanya
pembalasan untuk perasaan sakit hati yang harus ditanggungnya ketika Yunho
meninggalkannya? Tidakkah diam-diam ia berharap Yunho mendengar kabar
pernikahannya, teringat peristiwa di musim panas dua belas tahun yang lalu,
menyulut murka dalam hati Yunho?
Jaejoong tersenyum
getir saat melihat pantulan dirinya di cermin.
"Ia hanya geli, Jaejoong.
Ia cuma geli dan jijik."
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Boa sudah ada di dapur
ketika Jaejoong turun beberapa saat kemudian untuk minum kopi. "Selamat
pagi."
"Pagi sekali kau
bangun," komentar Boa dari balik punggungnya.
"Aku harus
membayar gaji karyawan, ingin kuselesaikan secepatnya supaya bisa
beristirahat." Jaejoong menyeruput kopi. "Kau juga bangun lebih pagi
daripada biasanya."
"Aku ingin
menyiapkan sarapan istimewa untuk Yunho."
"Ia sudah pergi, Boa."
Boa berbalik dan
menatap Jaejoong, seakan memintanya menegaskan kembali apa yang didengarnya.
"Sudah pergi?"
"Ya, kira-kira
sejam yang lalu."
Boa menggelengkan
kepala, sambil berdecak. "Kebiasaan makannya yang tidak teratur tidak
berbah. Aku sibuk membuat sarapan, ia malah keluar lebih cepat, bahkan sebelum
aku sempat menghidangkannya.”
Jaejoong meletakkan
tangannya di pundak Boa, menghiburnya. "Mengapa tidak diberikan kepada Sungmin?
Minta Sungmin memanggil Kyuhyun ke sini untuk menikmatinya bersamanya. Aku
yakin mereka akan senang."
"Baiklah,"
sahutnya, sambil menggerutu. "Tetapi suasana tetap lain kalau tanpa Yunho.
Tidak ada yang sama lagi di rumah ini sejak Yunho menikah dengan perempuan itu
dan meninggalkan kota ini."
.
.
Boa benar, batin Jaejoong
sambil berjalan ke pintu belakang menuju ruang kerja Siwon. Dengan perasaan
sakit ia mengenang peristiwa yang terjadi hari itu, hari Yunho tidak muncul di
tempat pertemuan mereka. Hari itu, di tempat kerjanya, dengan perasaan hancur Jaejoong
mendengar kabar tentang Jung Yunho yang akan menikah dengan Go Ahra, gadis dari
keluarga Go, salah satu pemilik peternakan domba disana. Dunia Jaejoong pun
berubah.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Jaejoong memeriksa
pembukuan cepat-cepat tanpa berpikir. Waktu ia menelepon ke pabrik ginseng, sang
mandor melaporkan segalanya berjalan lancar.
"Tetapi ada satu
mesin yang tidak beres. Namun Anda tak perlu mencemaskannya pada saat seperti
sekarang ini."
"Aku yakin kau
mampu mengatasinya, seperti biasa, Changmin. Selama Siwon masih hidup, tanggung
jawab tetap ada pada Siwon, aku akan memberikan laporan kepadanya."
"Baik, nyonya
Jung," jawab mandor itu sebelum menutup telepon.
.
.
Jaejoong tahu beberapa
karyawan namja di pabrik tidak menyukai perintah dari seorang yeoja, terutama
perintah darinya, putri Kim Hyunjoong. Namun, andai pun perkiraannya itu benar,
mereka tidak akan pernah berani mengungkapkan pendapat mereka itu. Mereka
sangat takut pada Siwon. Tetapi apa yang akan terjadi bila Siwon tiada?
.
.
"Ada
masalah?"
Jaejoong seketika
mendongak dan melihat Yunho di ambang pintu. Jaejoong sadar alis matanya
berkerut karena dilanda perasaan cemas, tapi ia berusaha menenangkan diri.
"Masalah kecil. Kau kan paham keadaan di pabrik ginseng ini."
"Sebetulnya, aku
tidak tahu." Yunho menjawab sambil melangkah masuk. mantelnya ia sampirkan
dikursi. Tiga kancing pertama kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan
lehernya yang kecokelatan. "Aku meninggalkan kota kelahiranku ini sebelum
banyak terlibat dengan urusan di pabrik." Kini Yunho berdiri di dekat
mejanya. Tubuhnya dicondongkan ke depan, sampai wajahnya sejajar dengan wajah Jaejoong.
"Bagaimana kalau kau beritahu aku, kwajangnim?” ledeknya
Tersulut perasaan
marah, Jaejoong langsung bangkit, menyebabkan kursi berodanya meluncur ke
belakang. Mereka berhadapan seperti dua petinju yang siap bertanding di arena,
menantikan bunyi peluit untuk memulai pertandingan.
.
.
"Oppa, Boa
memintaku datang ke sini untuk memberitahumu. Ia menyiapkan sarapan untukmu dan
ia ingin kau memakannya." Dengan riang Sungmin memasuki ruangan dan memeluk
Yunho, kakak laki-lakinya. "Selamat pagi, Joongie. Aku juga diminta
membawakan sarapan untukmu. Boa berpesan kau tidak boleh menolaknya."
Mereka tidak jadi
berdebat lagi, tetapi Yunho tidak membiarkan Jaejoong lolos begitu saja. Ia
menjulurkan tangan ke hadapan Jaejoong. "Kkaja Jae." Jaejoong tidak
punya pilihan lain, kecuali membiarkan tangannya digenggam tangan Yunho dan
membiarkan dirinya dituntun ke meja makan. Namun Yunho tidak melepaskan genggaman
tangannya meski mereka sudah berada di ruang makan. Tak jadi masalah jika
tangan Sungmin yang digenggam Yunho. Tetapi bila telapak tangan Yunho
bersentuhan dengan telapak tangannya, jari-jarinya mencengkeram kuat jemarinya
seakan ia miliknya, bulu roma Jaejoong jadi bergidik.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Kendati makanan yang
dihidangkan Boa sangat istimewa, Jaejoong tidak dapat menikmatinya. Yunho
kelihatan tidak terlalu senang melihat Kyuhyun duduk di samping Sungmin. Kyuhyun
berkali-kali melemparkan pandangan resah ke sekeliling ruangan, seperti
mengisyaratkan ingin segera diizinkan meninggalkan ruang makan. Aura permusuhan
antara Yunho dan Jaejoong demikian kentara, meskipun mereka tetap bersikap
sopan. Boa tidak habis pikir, ia tersinggung karena ketegangan di antara kedua
orang itu menghancurkan segala upayanya untuk menjadikan saat itu sebagai hari
istimewa menyambut kepulangan kembali Yunho ke rumah.
"Mengapa semua
marah-marah?" tanya Sungmin tiba-tiba.
Semua mata tertuju
padanya, terkesima. Hanya Sungmin yang kelihatan gembira, menikmati kehadiran
orang yang disayanginya. Tetapi komentarnya memang benar, dan ia bisa menangkap
ketegangan yang terjadi di meja makan.
Jaejoonglah akhirnya
yang membuka suara, "Kami semua mengkhawatirkan kondisi Appamu,"
katanya lembut, sambil mengulurkan tangan, mengelus tangan Sungmin.
"Tetapi Oppa
sudah di sini. Juga ada Kyunnie." Sungmin menatap Kyuhyun dengan mesra.
"Kita harus bergembira."
.
.
Sungmin membuat yang
lain merasa malu pada diri mereka sendiri. Yunho tidak lagi menatap Kyuhyun
dengan pandangan curiga atau kelihatan tegang setiap kali mendapati Kyuhyun
menatap Sungmin. Ia dan Jaejoong berhenti saling menatap penuh permusuhan. Keduanya
bahkan mengobrol tentang orang-orang yang dikenal Yunho beberapa tahun yang
lalu. Jaejoong memberitahu Yunho siapa saja yang menikah, bercerai, yang makin
kaya, dan bahkan siapa yang menjadi miskin.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Begitu selesai makan, Kyuhyun
berdiri, mengucapkan terima kasih pada Boa, membungkuk sedikit kemudian
langsung berjalan ke arah dapur.
"Tunggu sebentar, Kyunnie," panggil Sungmin.
"Aku ikut, aku ingin menengok anak kuda itu."
"Kita akan pergi
mengunjungi appa, minnie," kata Yunho singkat.
"Tetapi aku ingin
melihat anak kuda itu. Aku sudah janji pada Kyunnie akan menengoknya di kandang
pagi ini."
Kyuhyun mengerti maksud
Yunho. "Minnie, appamu akan kecewa bila kau tidak menjenguknya. Anak kuda
itu tidak akan pergi kemana-mana," canda Kyuhyun. "Kau bisa menjenguknya
kapan saja kau mau."
"Baiklah, Kyunnie,"
Sungmin menyetujui dengan suara lirih. "Aku akan menemuimu begitu kembali."
Kyuhyun mengangguk,
sekali lagi berterima kasih pada Boa dan cepat-cepat berlalu. Ia tidak menatap Yunho
ketika meninggalkan ruangan.
Jaejoong buru-buru
bangkit. "Aku akan bersiap-siap, Yun. Minnie, kau mau mengganti pakaianmu
sebelum pergi?"
"Ya,
kurasa."
.
.
Mereka selesai bersiap
beberapa menit kemudian. Yunho sudah menunggu mereka di teras. Boa berdiri di
sampingnya, memegang vas berisi bunga-bunga mawar yang baru dipotong. "Boa
akan menyusul dengan mobilnya, karena ia ingin membawa bunga mawar untuk Appa.
Dan ia ingin pulang dari rumah sakit lebih dulu. Minnie, kau ikut mobil Boa ne,
pegangi vas bunganya supaya airnya tidak tumpah."
"Biar aku saja
yang memeganginya." Jaejoong buru-buru menawarkan diri. Tatapan mata Yunho
yang tajam padanya mengisyaratkan sikap tidak setuju.
"Aku ingin bicara
denganmu selama perjalanan." Tanpa bisa dibantah, Yunho membuka pintu
penumpang mobil Audinya untuk Jaejoong, menutupnya setelah Jaejoong masuk, dan
segera berangkat, sementara Boa melaju dengan mobil pickup keluaran Hyundai, salah
satu milik keluarga Jung tetapi dipercayakan kepadanya.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
"Apakah kau
bertemu dokternya tadi pagi?" tanya Jaejoong, memecah keheningan.
"Ya. Ia
menceritakan apa yang disampaikannya padamu dan Yoochun."
"Apakah... apakah
dokter memberitahukan kapan..."
"Bisa terjadi
kapan saja."
Mereka melaju di jalan
tol, menuju pusat kota, sebelum Yunho menyinggung hal lain, "Siapa Kyuhyun?"
"Cho Kyuhyun."
Jaejoong langsung bersikap defensif. Ia yakin tahu apa yang bakal terjadi dan
tidak ingin hal itu terjadi.
Yunho mencibir kesal.
"Bisa memberi penjelasan lebih mendetail lagi?"
"Ia veteran
Perang Vietnam."
"Karena itukah
jalannya pincang? Cedera sewaktu perang?"
"Ia kehilangan kaki
kirinya dari lutut ke bawah." Jaejoong mengatakan hal itu sambil memalingkan
wajah ke arah Yunho. Yunho terus mengarahkan pandangan ke jalan, namun Jaejoong
melihat tangan Yunho mencengkeram kemudi dan otot-otot tangannya menonjol. Air
mukanya tegang, menyiratkan kekerasan hati, tak tergoyahkan. Dan keangkuhan.
Keangkuhan vang berlebihan.
Jaejoong tahu Yunho
ingin tidak menyukai Kyuhyun. Mengetahui Kyuhyun cacat seumur hidup akan
membuatnya sulit melakukannya. "Ketika melamar pekerjaan, ia bersikap
getir dan agak kasar. Tetapi aku yakin itu cuma cara yang digunakannya untuk
mempertahankan diri menghadapi penolakan. Sebetulnya Kyuhyun pribadi yang
sangat berhati-hati, pekerja keras, dan jujur."
"Aku tidak suka
kedekatannya dengan Sungmin."
"Wae?"
"Kau masih perlu
bertanya?" tanya Yunho, sambil memalingkan kepala. "Tidak sehat dan
berbahaya. Sungmin tidak punya urusan untuk berkeliaran di dekat laki-laki
lajang sepanjang waktu."
"Aku tidak
melihat salahnya. Sungmin juga lajang."
"Dan masih lugu
soal seks. Sangat lugu. Aku tidak yakin Sungmin paham perbedaan antara
laki-laki dan perempuan, dan mengapa ada perbedaan."
"Ia pasti
tahu!"
"Baiklah, kalau
begitu makin kuat alasan Sungmin tidak boleh sering bersama Kyuhyun. Karena aku
yakin Kyuhyun mengerti perbedaan itu."
"Kurasa Kyuhyun
baik terhadap Sungmin. Ia sangat baik hati dan penyabar. Ia memang pernah
terluka, bukan hanya secara fisik. Kyuhyun tahu bagaimana rasanya menjadi orang
yang terbuang dan merasa ditolak seperti yang dirasakan Sungmin selama
ini."
"Bagaimana jika
ia memanfaatkan rasa suka Sungmin? Secara seksual...."
"la tidak akan
melakukan hal seperti itu."
Yunho mendengus.
"Pasti begitu. Ia kan laki-laki dan Sungmin perempuan cantik, sementara
banyak kesempatan bagi mereka untuk hal itu."
"Sepertinya kau
tahu banyak."
Kata-kata tajam itu
meluncur keluar dari bibir Jaejoong tanpa bisa ditahannya. Yunho mengerem mobil
di halaman parkir rumah sakit dengan mendadak, lalu berbalik menghadap ke arah Jaejoong.
Air mukanya menunjukkan kemurkaan, seperti juga Jaejoong. Jaejoong sudah
memulai, jadi sekarang tak ada gunanya bertindak setengah-setengah.
"Kau jelas sangat
paham soal memanfaatkan gadis lugu, membohonginya, membuat janji-janji yang
tidak akan pernah kautepati."
"Maksudmu soal
janji di musim panas itu?"
"Ya! Aku heran,
bisa-bisanya kau menjalin hubungan denganku tapi menghamili Ahra. Kau pasti
kehabisan tenaga. Atau kauanggap aku hanya sebagai pemanasan sebelum menikmati
hal yang lebih menyenangkan?"
Yunho membiarkan Jaejoong
bicara panjang-lebar sebelum membuka pintu mobil dan menutupnya kembali
keras-keras.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
To Be Continued

yun kan yg salah
ReplyDeletedia menikah dgn ahra trs ninggalin jae
Oalaaaah gitu tooooh, =______=
ReplyDeleteno coment deh
ah Yunho maah gitu T_T