Thursday, February 20

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 05

Ia mendengar suara pintu depan di lantai bawah dibuka dan ditutup kembali dengan perlahan sekali. Disibakkannya penutup ranjangnya, lalu berjalan menyusuri lorong yang menuju teras rumah di lantai dua. Sinar matahari belum lagi menerangi pucuk pepohonan, namun cahayanya yang berwarna jingga sudah mewarnai langit di ufuk timur. Sebuah bintang dan bulan separo tampak jelas di langit yang bersih. Kabut bergulung naik, meninggalkan permukaan rumput yang berembun. Lagi-lagi udara akan lembap hari ini.
Tepat di bawah lantai ia berdiri, Jaejoong melihat Yunho memasuki serambi. Yunho tampak terpaku di anak tangga paling bawah dan melempar pandangan ke sekeliling rumah, yang Jaejoong tahu pasti tempat yang sangat disayangi Yunho. Tempat yang sangat berarti untuk Yunho, sepenting tarikan napasnya. Jaejoong merasa iba, membayangkan Yunho, yang memaksakan diri bertahun-tahun tinggal jauh dari rumah yang sangat disayanginya.

Bittersweet Rain
© SANDRA BROWN
yunjae version © Kitahara Saki
Yunho, Jaejoong, Siwon, Kyuhyun, Sungmin © diri mereka sendiri



Dengan langkah pelan Yunho menuju mobil yang diparkir di depan rumah. Ia mengenakan celana jins dan mantel bergaya sport, gaya berpakaian yang terlalu mewah, dan memang pakaian yang cocok untuk seorang Jung. Jaejoong terus mengamati Yunho yang merogoh saku depan, mencari-cari kunci mobil.
Yunho membuka pintu mobil lebar-lebar. Saat itulah tanpa disengaja ia melihat Jaejoong yang memandanginya dari teras rumah di lantai dua. Yunho menopangkan tangan pada atap mobil, balas menatap Jaejoong.
.
.
Jaejoong tetap berdiri terpaku, tidak berbicara, tidak pula memberi salam pada Yunho, hanya matanya yang bicara. Mereka saling menatap. Saling memandang. Beberapa saat lamanya, di pagi hari yang berlangit keemasan, mereka saling menatap. Di keremangan sinar matahari pagi sosok mereka seperti tidak nyata, di luar jangkauan waktu. Dalam keakraban yang hening itu mereka melepaskan semua pertahanan diri. Keduanya hanyut mengikuti suara hati mereka.
.
.
Tak ada apa pun lagi di dunia ini yang mampu menyelamatkan keduanya.
Sampai akhirnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Yunho memasuk mobil Audinya dan melaju pergi. Dengan perasaan sedih Jaejoong kembali ke kamar dan berganti pakaian. Dipandanginya dirinya di depan cermin,
"Bagaimana bisa terjadi seperti ini?"
Satu-satunya pria yang pernah dicintainya, atau pria yang hampir pernah dicintainya, hanyalah Jung Yunho. Meski hanya sesaat mereka menikmati sesuatu, yang sangat istimewa dan langka. Paling tidak, begitulah buat Jaejoong. Dibiarkannya dirinya berkhayal mendapatkan sesuatu yang kecil kemungkinannya bisa diraihnya. Ia bodoh sekali waktu itu, dengan polosnya mempercayai cerita Yunho di musim panas itu. Padahal kata-kata Yunho tidak punya arti apa-apa. Dirinya hanyalah sekadar mainan baru untuk Yunho.
Namun nasib yang tak bisa ditebak menentukan lain, dia menikah dengan appa Yunho. Ketika Siwon melamarnya untuk menjadi istri, lamaran itu bak jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Untuk mendapatkan kehormatan, uang. Orang-orang yang selama ini merendahkannya, menghinanya selama hidupnya, harus menghormatinya.
Yunho sudah pergi, takkan pernah muncul kembali. Mengapa tak pernah terlintas dalam benaknya ada kemungkinan Yunho akan kembali? Bagaimana perasaannya bila Yunho benar-benar kembali? Benarkah selama ini ia bersikap jujur terhadap dirinya? Apakah ia menikah dengan Siwon karena ingin membahagiakan Siwon, membantu mengurus bisnisnya, menjadi teman Sungmin, bukan karena ingin membuat Yunho cemburu dan sedih sebab laki-laki itu meninggalkan dirinya seenaknya? Tidakkah ini hanya pembalasan untuk perasaan sakit hati yang harus ditanggungnya ketika Yunho meninggalkannya? Tidakkah diam-diam ia berharap Yunho mendengar kabar pernikahannya, teringat peristiwa di musim panas dua belas tahun yang lalu, menyulut murka dalam hati Yunho?
Jaejoong tersenyum getir saat melihat pantulan dirinya di cermin. 
"Ia hanya geli, Jaejoong. Ia cuma geli dan jijik."
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Boa sudah ada di dapur ketika Jaejoong turun beberapa saat kemudian untuk minum kopi. "Selamat pagi."
"Pagi sekali kau bangun," komentar Boa dari balik punggungnya.
"Aku harus membayar gaji karyawan, ingin kuselesaikan secepatnya supaya bisa beristirahat." Jaejoong menyeruput kopi. "Kau juga bangun lebih pagi daripada biasanya."
"Aku ingin menyiapkan sarapan istimewa untuk Yunho."
"Ia sudah pergi, Boa."
Boa berbalik dan menatap Jaejoong, seakan memintanya menegaskan kembali apa yang didengarnya. "Sudah pergi?"
"Ya, kira-kira sejam yang lalu."
Boa menggelengkan kepala, sambil berdecak. "Kebiasaan makannya yang tidak teratur tidak berbah. Aku sibuk membuat sarapan, ia malah keluar lebih cepat, bahkan sebelum aku sempat menghidangkannya.”
Jaejoong meletakkan tangannya di pundak Boa, menghiburnya. "Mengapa tidak diberikan kepada Sungmin? Minta Sungmin memanggil Kyuhyun ke sini untuk menikmatinya bersamanya. Aku yakin mereka akan senang."
"Baiklah," sahutnya, sambil menggerutu. "Tetapi suasana tetap lain kalau tanpa Yunho. Tidak ada yang sama lagi di rumah ini sejak Yunho menikah dengan perempuan itu dan meninggalkan kota ini."
.
.
Boa benar, batin Jaejoong sambil berjalan ke pintu belakang menuju ruang kerja Siwon. Dengan perasaan sakit ia mengenang peristiwa yang terjadi hari itu, hari Yunho tidak muncul di tempat pertemuan mereka. Hari itu, di tempat kerjanya, dengan perasaan hancur Jaejoong mendengar kabar tentang Jung Yunho yang akan menikah dengan Go Ahra, gadis dari keluarga Go, salah satu pemilik peternakan domba disana. Dunia Jaejoong pun berubah.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Jaejoong memeriksa pembukuan cepat-cepat tanpa berpikir. Waktu ia menelepon ke pabrik ginseng, sang mandor melaporkan segalanya berjalan lancar.
"Tetapi ada satu mesin yang tidak beres. Namun Anda tak perlu mencemaskannya pada saat seperti sekarang ini."
"Aku yakin kau mampu mengatasinya, seperti biasa, Changmin. Selama Siwon masih hidup, tanggung jawab tetap ada pada Siwon, aku akan memberikan laporan kepadanya."
"Baik, nyonya Jung," jawab mandor itu sebelum menutup telepon.
.
.
Jaejoong tahu beberapa karyawan namja di pabrik tidak menyukai perintah dari seorang yeoja, terutama perintah darinya, putri Kim Hyunjoong. Namun, andai pun perkiraannya itu benar, mereka tidak akan pernah berani mengungkapkan pendapat mereka itu. Mereka sangat takut pada Siwon. Tetapi apa yang akan terjadi bila Siwon tiada?
.
.
"Ada masalah?"
Jaejoong seketika mendongak dan melihat Yunho di ambang pintu. Jaejoong sadar alis matanya berkerut karena dilanda perasaan cemas, tapi ia berusaha menenangkan diri. "Masalah kecil. Kau kan paham keadaan di pabrik ginseng ini."
"Sebetulnya, aku tidak tahu." Yunho menjawab sambil melangkah masuk. mantelnya ia sampirkan dikursi. Tiga kancing pertama kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan lehernya yang kecokelatan. "Aku meninggalkan kota kelahiranku ini sebelum banyak terlibat dengan urusan di pabrik." Kini Yunho berdiri di dekat mejanya. Tubuhnya dicondongkan ke depan, sampai wajahnya sejajar dengan wajah Jaejoong. "Bagaimana kalau kau beritahu aku, kwajangnim?” ledeknya
Tersulut perasaan marah, Jaejoong langsung bangkit, menyebabkan kursi berodanya meluncur ke belakang. Mereka berhadapan seperti dua petinju yang siap bertanding di arena, menantikan bunyi peluit untuk memulai pertandingan.
.
.
"Oppa, Boa memintaku datang ke sini untuk memberitahumu. Ia menyiapkan sarapan untukmu dan ia ingin kau memakannya." Dengan riang Sungmin memasuki ruangan dan memeluk Yunho, kakak laki-lakinya. "Selamat pagi, Joongie. Aku juga diminta membawakan sarapan untukmu. Boa berpesan kau tidak boleh menolaknya."
Mereka tidak jadi berdebat lagi, tetapi Yunho tidak membiarkan Jaejoong lolos begitu saja. Ia menjulurkan tangan ke hadapan Jaejoong. "Kkaja Jae." Jaejoong tidak punya pilihan lain, kecuali membiarkan tangannya digenggam tangan Yunho dan membiarkan dirinya dituntun ke meja makan. Namun Yunho tidak melepaskan genggaman tangannya meski mereka sudah berada di ruang makan. Tak jadi masalah jika tangan Sungmin yang digenggam Yunho. Tetapi bila telapak tangan Yunho bersentuhan dengan telapak tangannya, jari-jarinya mencengkeram kuat jemarinya seakan ia miliknya, bulu roma Jaejoong jadi bergidik.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Kendati makanan yang dihidangkan Boa sangat istimewa, Jaejoong tidak dapat menikmatinya. Yunho kelihatan tidak terlalu senang melihat Kyuhyun duduk di samping Sungmin. Kyuhyun berkali-kali melemparkan pandangan resah ke sekeliling ruangan, seperti mengisyaratkan ingin segera diizinkan meninggalkan ruang makan. Aura permusuhan antara Yunho dan Jaejoong demikian kentara, meskipun mereka tetap bersikap sopan. Boa tidak habis pikir, ia tersinggung karena ketegangan di antara kedua orang itu menghancurkan segala upayanya untuk menjadikan saat itu sebagai hari istimewa menyambut kepulangan kembali Yunho ke rumah.
"Mengapa semua marah-marah?" tanya Sungmin tiba-tiba.
Semua mata tertuju padanya, terkesima. Hanya Sungmin yang kelihatan gembira, menikmati kehadiran orang yang disayanginya. Tetapi komentarnya memang benar, dan ia bisa menangkap ketegangan yang terjadi di meja makan.
Jaejoonglah akhirnya yang membuka suara, "Kami semua mengkhawatirkan kondisi Appamu," katanya lembut, sambil mengulurkan tangan, mengelus tangan Sungmin.
"Tetapi Oppa sudah di sini. Juga ada Kyunnie." Sungmin menatap Kyuhyun dengan mesra. "Kita harus bergembira."
.
.
Sungmin membuat yang lain merasa malu pada diri mereka sendiri. Yunho tidak lagi menatap Kyuhyun dengan pandangan curiga atau kelihatan tegang setiap kali mendapati Kyuhyun menatap Sungmin. Ia dan Jaejoong berhenti saling menatap penuh permusuhan. Keduanya bahkan mengobrol tentang orang-orang yang dikenal Yunho beberapa tahun yang lalu. Jaejoong memberitahu Yunho siapa saja yang menikah, bercerai, yang makin kaya, dan bahkan siapa yang menjadi miskin.

.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Begitu selesai makan, Kyuhyun berdiri, mengucapkan terima kasih pada Boa, membungkuk sedikit kemudian langsung berjalan ke arah dapur. 
"Tunggu sebentar, Kyunnie," panggil Sungmin. "Aku ikut, aku ingin menengok anak kuda itu."
"Kita akan pergi mengunjungi appa, minnie," kata Yunho singkat.
"Tetapi aku ingin melihat anak kuda itu. Aku sudah janji pada Kyunnie akan menengoknya di kandang pagi ini."
Kyuhyun mengerti maksud Yunho. "Minnie, appamu akan kecewa bila kau tidak menjenguknya. Anak kuda itu tidak akan pergi kemana-mana," canda Kyuhyun. "Kau bisa menjenguknya kapan saja kau mau."
"Baiklah, Kyunnie," Sungmin menyetujui dengan suara lirih. "Aku akan menemuimu begitu kembali."
Kyuhyun mengangguk, sekali lagi berterima kasih pada Boa dan cepat-cepat berlalu. Ia tidak menatap Yunho ketika meninggalkan ruangan.
Jaejoong buru-buru bangkit. "Aku akan bersiap-siap, Yun. Minnie, kau mau mengganti pakaianmu sebelum pergi?"
"Ya, kurasa."
.
.
Mereka selesai bersiap beberapa menit kemudian. Yunho sudah menunggu mereka di teras. Boa berdiri di sampingnya, memegang vas berisi bunga-bunga mawar yang baru dipotong. "Boa akan menyusul dengan mobilnya, karena ia ingin membawa bunga mawar untuk Appa. Dan ia ingin pulang dari rumah sakit lebih dulu. Minnie, kau ikut mobil Boa ne, pegangi vas bunganya supaya airnya tidak tumpah."
"Biar aku saja yang memeganginya." Jaejoong buru-buru menawarkan diri. Tatapan mata Yunho yang tajam padanya mengisyaratkan sikap tidak setuju.
"Aku ingin bicara denganmu selama perjalanan." Tanpa bisa dibantah, Yunho membuka pintu penumpang mobil Audinya untuk Jaejoong, menutupnya setelah Jaejoong masuk, dan segera berangkat, sementara Boa melaju dengan mobil pickup keluaran Hyundai, salah satu milik keluarga Jung tetapi dipercayakan kepadanya.

.
.
_Kitahara Saki_
.
.
"Apakah kau bertemu dokternya tadi pagi?" tanya Jaejoong, memecah keheningan.
"Ya. Ia menceritakan apa yang disampaikannya padamu dan Yoochun."
"Apakah... apakah dokter memberitahukan kapan..."
"Bisa terjadi kapan saja."
Mereka melaju di jalan tol, menuju pusat kota, sebelum Yunho menyinggung hal lain, "Siapa Kyuhyun?"
"Cho Kyuhyun." Jaejoong langsung bersikap defensif. Ia yakin tahu apa yang bakal terjadi dan tidak ingin hal itu terjadi.
Yunho mencibir kesal. "Bisa memberi penjelasan lebih mendetail lagi?"
"Ia veteran Perang Vietnam."
"Karena itukah jalannya pincang? Cedera sewaktu perang?"
"Ia kehilangan kaki kirinya dari lutut ke bawah." Jaejoong mengatakan hal itu sambil memalingkan wajah ke arah Yunho. Yunho terus mengarahkan pandangan ke jalan, namun Jaejoong melihat tangan Yunho mencengkeram kemudi dan otot-otot tangannya menonjol. Air mukanya tegang, menyiratkan kekerasan hati, tak tergoyahkan. Dan keangkuhan. Keangkuhan vang berlebihan.
Jaejoong tahu Yunho ingin tidak menyukai Kyuhyun. Mengetahui Kyuhyun cacat seumur hidup akan membuatnya sulit melakukannya. "Ketika melamar pekerjaan, ia bersikap getir dan agak kasar. Tetapi aku yakin itu cuma cara yang digunakannya untuk mempertahankan diri menghadapi penolakan. Sebetulnya Kyuhyun pribadi yang sangat berhati-hati, pekerja keras, dan jujur."
"Aku tidak suka kedekatannya dengan Sungmin."
"Wae?"
"Kau masih perlu bertanya?" tanya Yunho, sambil memalingkan kepala. "Tidak sehat dan berbahaya. Sungmin tidak punya urusan untuk berkeliaran di dekat laki-laki lajang sepanjang waktu."
"Aku tidak melihat salahnya. Sungmin juga lajang."
"Dan masih lugu soal seks. Sangat lugu. Aku tidak yakin Sungmin paham perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan mengapa ada perbedaan."
"Ia pasti tahu!"
"Baiklah, kalau begitu makin kuat alasan Sungmin tidak boleh sering bersama Kyuhyun. Karena aku yakin Kyuhyun mengerti perbedaan itu."
"Kurasa Kyuhyun baik terhadap Sungmin. Ia sangat baik hati dan penyabar. Ia memang pernah terluka, bukan hanya secara fisik. Kyuhyun tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang terbuang dan merasa ditolak seperti yang dirasakan Sungmin selama ini."
"Bagaimana jika ia memanfaatkan rasa suka Sungmin? Secara seksual...."
"la tidak akan melakukan hal seperti itu."
Yunho mendengus. "Pasti begitu. Ia kan laki-laki dan Sungmin perempuan cantik, sementara banyak kesempatan bagi mereka untuk hal itu."
"Sepertinya kau tahu banyak."
Kata-kata tajam itu meluncur keluar dari bibir Jaejoong tanpa bisa ditahannya. Yunho mengerem mobil di halaman parkir rumah sakit dengan mendadak, lalu berbalik menghadap ke arah Jaejoong. Air mukanya menunjukkan kemurkaan, seperti juga Jaejoong. Jaejoong sudah memulai, jadi sekarang tak ada gunanya bertindak setengah-setengah.
"Kau jelas sangat paham soal memanfaatkan gadis lugu, membohonginya, membuat janji-janji yang tidak akan pernah kautepati."
"Maksudmu soal janji di musim panas itu?"
"Ya! Aku heran, bisa-bisanya kau menjalin hubungan denganku tapi menghamili Ahra. Kau pasti kehabisan tenaga. Atau kauanggap aku hanya sebagai pemanasan sebelum menikmati hal yang lebih menyenangkan?"
Yunho membiarkan Jaejoong bicara panjang-lebar sebelum membuka pintu mobil dan menutupnya kembali keras-keras.
.
.
.
.
.
To Be Continued

2 comments:

  1. yun kan yg salah
    dia menikah dgn ahra trs ninggalin jae

    ReplyDelete
  2. Oalaaaah gitu tooooh, =______=
    no coment deh
    ah Yunho maah gitu T_T

    ReplyDelete