Yunho mengerem mobil
di halaman parkir rumah sakit dengan mendadak, lalu berbalik menghadap ke arah Jaejoong.
Air mukanya menunjukkan kemurkaan, seperti juga Jaejoong. Jaejoong sudah
memulai, jadi sekarang tak ada gunanya bertindak setengah-setengah.
"Kau jelas sangat
paham soal memanfaatkan gadis lugu, membohonginya, membuat janji-janji yang
tidak akan pernah kau tepati."
"Maksudmu soal
janji di musim panas itu?"
"Ya! Aku heran,
bisa-bisanya kau menjalin hubungan denganku tapi menghamili Ahra. Kau pasti
kehabisan tenaga. Atau kauanggap aku hanya sebagai pemanasan sebelum menikmati
hal yang lebih menyenangkan?"
Yunho membiarkan Jaejoong
bicara panjang-lebar sebelum membuka pintu mobil dan menutupnya kembali
keras-keras.
© SANDRA BROWN
yunjae version © Kitahara Saki
Yunho, Jaejoong, Siwon, Kyuhyun, Sungmin © diri mereka sendiri
Masitge deuseyo…
.
.
.
Saat itulah Jaejoong
baru menyadari Boa dan Sungmin sudah berdiri menunggu di pintu masuk rumah
sakit dan memandangi mereka. Jaejoong merasakan jari-jemarinya dingin ketika ia
mengepalkannya, tetapi ia mencoba tetap bersikap tenang ketika Yunho membukakan
pintu mobil dan membantunya keluar. Ia berusaha menunjukkan sikap tenang saat
mereka bersama-sama memasuki lobi rumah sakit lalu menaiki lift.
Perawat yang bertugas di
lantai kamar Siwon memberitahu mereka boleh masuk sekaligus asal tidak terlalu
lama. "Ia tidak bisa tidur. Kesakitan," kata perawat itu kepada
mereka dengan sedih.
"Mungkin sebaiknya
aku masuk lebih dulu dan memberitahu Siwon kalian datang menjenguknya,"
kata Jaejoong. Tak ada yang keberatan. Yunho bersikap dingin dan menjauhkan
diri. Boa, tidak seperti biasanya, berdiam diri. Sungmin membelalak dan tampak
ingin kabur.
.
.
Jaejoong mendorong pintu
kamar rumah sakit yang berat dan melangkah memasuki kamar. Rumah sakit
memberikan kamar yang paling besar dan paling mahal. Karangan bunga berderet-deret
di sepanjang kusen jendela dan di meja tv. Jaejoong tidak suka mengakuinya,
tapi Siwon memang tidak disukai orang-orang yang pernah berurusan dengannya.
Tetapi banyak yang menghormati atau takut padanya, terbukti dari tumpukan kartu
ucapan cepat sembuh dan deretan karangan bunga yang dikirim untuknya.
Siwon tidak tampak
menakutkan sekarang ketika ia membuka mata dan melihat kedatangan Jaejoong.
Kulitnya abu-abu kekuningan, pucat seperti mayat. Lingkaran hitam tampak di
seputar matanya. Bibirnya biru. Tetapi matanya tetap tajam dan berbinar-binar
sebagaimana biasanya.
"Anyoong wonni-ah." Jaejoong membungkukkan badan ke
arah Siwon, menggenggam tangan Siwon dan mencium keningnya.
"Kata perawat
kau tidak tenang sepanjang malam. Sama sekali tidak bisa istirahat?"
"Tak usah
mengatur-ngaturku, Jae." Siwon menarik tangannya. "Aku akan segera
pergi ke alam keabadian untuk beristirahat." Siwon tertawa dengan susah
payah. "Atau untuk dibakar, aku yakin demikian. Kau sudah menyelesaikan
semua pembayaran gaji?"
"Ya," jawab Jaejoong,
sambil melangkah mundur dan menerima penolakan Siwon atas perhatian yang
diberikannya dengan penuh pengertian. Siwon sakit parah. Bisa dipahami kalau
ada sikapnya yang tidak menyenangkan. "Pagi ini. Aku akan mengantarkan
ceknya ke pabrik sore nanti."
"Bagus. Aku tidak
ingin mereka mengira aku sudah mati." Siwon meletakkan salah satu
tangannya di perut dan meringis kesakitan, sambil menyumpah-nyumpah.
Ketika rasa sakit Siwon
mereda, Jaejoong berkata lembut, "Kau bersedia menerima tamu lain?"
"Siapa?"
"Sungmin dan Boa."
"Boa! Perempuan
munafik. Ia sangat membenciku sejak pertama kali mengenalku. Ia mengira aku
menikahi Kibum karena uangnya dan ingin memiliki Jung Mansion. Ia menyalahkan
aku sebagai orang yang menyebabkan Yunho kabur dari rumah. Ia menimpakan
kesalahan padaku atas setiap kejadian yang tidak beres dalam keluarga Jung."
Jaejoong pura-pura
menentang Siwon. "Mengapa kau tidak memecatnya beberapa tahun yang
lalu?"
Siwon tertawa
keras-keras dan baru berhenti ketika rasa sakit kembali menyerangnya.
"Karena aku suka bertengkar dengannya. Ia mempertajam otakku. Sekarang ia
menjengukku untuk mengejekku yang terkapar di ranjang ini. Ha!" Jaejoong
pernah menyaksikan sikap Siwon yang seperti ini, tetapi ia tidak pernah
memedulikannya dan membiarkannya sampai semua berlalu. Jaejoong menyesali Siwon
yang memilih bersikap seperti itu selama hari-hari terakhir mereka bersama.
"Sudahlah, Wonnie. Tak usah marah-marah. Boa memetik bunga mawar dari
taman untukmu."
Siwon mendengus
menyetujui bertemu Boa, pengurus rumah tangganya. "Sungmin tidak perlu
datang ke sini. Tempat ini pasti sangat menakutkan bagi anak bodoh itu. Apakah
ia tahu aku tidak akan pulang ke rumah lagi?"
Jaejoong mengalihkan
pandangannya, menghindari tatapan mata Siwon yang tajam menembus. "Ya. Aku
memberitahu dia kemarin."
"Apa katanya?"
"Ia bilang kau akan
pergi ke surga menemani Kibum."
Siwon tertawa sampai
sakit kembali menyerangnya. "Hmmm, hanya orang tolol yang berpikir
demikian."
Kata-kata yang diucapkan
Siwon sungguh menyinggung perasaan Jaejoong, tetapi ia berusaha tetap tenang.
Hampir tak pernah ia mendebat Siwon tentang apa pun, bahkan termasuk cara Siwon
menyelesaikan masalah. "Boleh ku ajak mereka masuk?"
"Ya, ya,"
jawab Siwon, sambil melambaikan tangan dengan gerakan lemah. "Lebih baik
kita. segera menyelesaikannya."
"Ada seorang lagi, Siwon."
Suara Jaejoong yang
tenang membuat mata Siwon kembali menatapnya nanar. Siwon memandang Jaejoong
dengan tatapan mata tajam,, menyelidik, membuat Jaejoong merasa tidak enak.
"Yunho? Yunho yang datang?"
Jaejoong mengangguk.
"Begitu Yoochun meneleponnya." ·
"Bagus, bagus, aku
ingin berjumpa putraku, untuk menyampaikan beberapa hal padanya sebelum ajalku
tiba."
Hati Jaejoong dipenuhi
perasaan gembira. Inilah saat bagi kedua laki-laki keras kepala itu untuk
menyelesaikan pertengkaran di antara mereka. Cepat-cepat Jaejoong berjalan ke
pintu, tidak sempat menangkap sorot mata dingin dan licik yang terpancar dari
mata Siwon ketika melihat Jaejoong melangkah keluar dari kamarnya.
.
.
Sungmin yang pertama
kali masuk ke kamar. Ia lari menghambur ke ranjang dan melingkarkan tangan di
leher appanya, memeluknya erat-erat. "Aku merindukan appa pulang ke
rumah," katanya. "Kita punya seekor anak kuda. Cantik sekali."
"Hmmm, baguslah, Sungmin,"
jawab Siwon, lalu dengan lembut mendorong badan Sungmin menjauh darinya. Jaejoong
mengamati, berharap sekali saat itu Siwon membalas luapan sayang spontan yang
diperlihatkan putrinya kepadanya. "Memetik bunga mawar, kulihat," Siwon
menggumam dengan nada marah sambil melirik pengurus rumah tangganya dengan alis
berkerut.
Boa kerap jadi sasaran
kemarahan Siwon selama bertahun-tahun. Ia tidak akan termakan kata-kata Siwon
sekarang. "Ya. Ini hanya sebagian dari mawar yang ada. Yang lainnya diletakkan
di ruang makan."
Siwon mengagumi
keberanian Boa. Sudah tiga puluh tahun mereka perang dingin, dan Siwon
menganggap Boa sebagai lawan yang seimbang baginya. "Persetan dengan
bunga-bunga itu. Kau tidak bawa makanan untukku?"
"Kau tahu, kau
tidak boleh menyantap makanan yang bukan berasal dari rumah sakit."
"Apa bedanya?"
teriak Siwon. "Hah? Coba jawab."
Siwon menatap
perempuan-perempuan itu seorang demi seorang dengan tatapan marah, baru
kemudian memalingkan kepala ke arah putranya dengan sorot mata berapi-api.
Beberapa saat kedua pria itu saling menatap. Tak ada yang bergerak. Akhirnya
dada Siwon bergerak perlahan, memperdengarkan suara tawa rendah, dengan nada
yang agak parau. "Kau masih marah pada appamu ini, Yunho?"
"Aku sudah
melupakan kemarahan itu beberapa tahun yang lalu, sir."
"Itukah sebabnya
kau pulang kembali? Berdamai dengan orang tua ini sebelum ia meninggal. Atau
ingin menghadiri pembacaan surat wasiatnya?"
"Aku tidak punya
kepentingan dengan surat wasiat itu."
Dengan bijaksana Boa maju
selangkah. Ia khawatir pertemuan ini berubah menjadi tidak menyenangkan.
"Aku akan mengajak Sungmin pulang sekarang. Sungmin, cium appamu, ayo kita
pulang." Gadis itu dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan Boa.
.
.
Siwon tidak memedulikan
kepergian mereka. Matanya tetap tertuju pada putranya. Jaejoong dibiarkan
sendirian bersama dua generasi Jung yang hidup terpisah selama bertahun-tahun
itu.
"Kau tampak tampan,
Yunho," kata Siwon menganalisis. "Keras dan licik juga. Kelicikanmu
tidak kelihatan di foto-foto penuh senyum yang muncul di surat kabar, tetapi
aku melihatnya."
"Aku punya guru
yang hebat." Tawa yang sama, tawa yang penuh kelicikan, kembali menggema
di dalam ruangan. "Kau benar sekali, nae adeul, kau memang punya guru yang
hebat. Satu-satunya orang yang tahu cara bertahan hidup di dunia ini. Bersikap
licik terhadap setiap orang dan tak seorang pun bisa mengalahkanmu." Siwon
memberi isyarat dengan sikap tidak sabar, "Kalian berdua, duduk."
"Aku lebih suka
berdiri, terima kasih," jawab Yunho. Jaejoong duduk di bangku yang
tersedia. Tak pernah ia melihat air muka Siwon semasam itu. Pantas saja Yunho
terpaksa meninggalkan rumah. Ia tahu persaingan di antara mereka, tetapi tak
terbayangkan situasinya seperti ini.
"Dari berita-berita
yang kubaca, perusahaan penerbanganmu membuatmu kaya raya."
"Rekanku dan aku
sejak semula melihat peluang untuk Eastar Jet. Sampai saat ini kami
memang sudah melampaui target."
"Kau punya filosofi
bagus. Mengangkut penumpang, menurunkan penumpang, tarif rendah, pesawat tak
pernah berhenti terbang. Kau meraup untung sementara penerbangan lain tak
sanggup bertahan di bisnis penerbangan." Andaipun Yunho terkejut mendengar
ternyata ayahnya mengikuti kesuksesan perusahan penerbangannya, ia tidak
memperlihatkannya. "Seperti yang kukatakan, kami senang dengan kesuksesan
ltu.”
.
.
Perawat masuk ruangan
dengan membawa baki berisi jarum suntik. "Saya ingin menyuntikkan obat
penghilang rasa sakit, tuan Jung."
"Suntikkan saja
jarum itu ke bokongmu sendiri, jangan ganggu bokongku," teriak Siwon pada
si perawat.
"Wonnie," ujar
Jaejoong, terkejut dengan kekasarannya.
"Dokter yang
memerintahkannya, tuan Jung," jawab perawat itu tegas.
"Aku tak peduli
omong kosong dokter. Ini hidupku, hanya ini yang kumiliki, dan aku tidak ingin
mendapat suntikan penghilang rasa sakit. Aku ingin merasakan segalanya.
Mengerti? Sekarang, cepatlah keluar dari sini."
Si perawat mengatupkan
bibir, menunjukkan sikap tidak setuju, tetapi ia keluar juga dari kamar.
"Wonnie, ia hanya
melakukan...."
"Tak usah
mengatur-aturku, Jae!" Tak pernah Siwon bicara dengan nada seperti itu
pada Jaejoong sebelumnya. Jaejoong segera mundur, seperti habis ditampar. Ia
diam, mengatupkan bibir. "Jika yang kudapat darimu hanyalah perasaan iba
yang menyebalkan, kau tak usah datang lagi."
.
.
Sambil menarik napas
panjang, Jaejoong menyambar tas lalu meninggalkan kamar dengan sikap penuh
wibawa. Begitu pintu kamar tertutup kembali, Yunho berbalik ke arah ayahnya.
"Kau memang manusia
brengsek." Mata Yunho yang keemasan tampak berapi-api. Setiap otot di
tubuhnya yang atletis menegang karena menahan marah. "Kau tidak berhak
bicara padanya seperti itu, aku tak peduli betapa parah sakitmu."
Siwon tertawa geli,
suara tawanya seperti tawa iblis, sejahat ekspresi yang terpancar di wajahnya.
"Aku punya hak. Dia istriku. Ingat?"
Yunho mengepalkan
tinjunya di paha. Ia tidak tahan untuk tidak mendengus marah sebelum
meninggalkan kamar itu.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Mula-mula Yunho tidak
melihat Jaejoong. Terapi kemudian ia melihat Jaejoong di ujung lorong. Ia
tersandar di dinding, memandang jauh ke luar jendela. Yunho mendekatinya dari
belakang. Ia mengangkat tangan hendak menyentuhnya, sejenak berhenti untuk
mempertimbangkan tindakannya, tetapi kemudian berpikir, Persetan, lalu ia pun
meletakkan tangannya di pundak Jaejoong. Serta merta Jaejoong bereaksi, diam
terpaku.
"Gwenchana?"
Oh, Tuhan, batin Jaejoong.
Mengapa ia mengajukan pertanyaan itu, dengan suara yang khas tersebut? Nada
bertanyanya, pertanyaan yang diajukan Yunho persis seperti yang pernah
diajukannya pada suatu waktu dulu. Kata-kata yang sama, kalimat yang sama,
kepedulian yang menyentuh perasaan, dengan getar suara parau yang sama pula. Perlahan
Jaejoong menoleh sedikit dan memandang Yunho dari balik pundak. Matanya berkaca-kaca.
Bisa jadi air matanya karena penghinaan yang dilontarkan suaminya. Namun
sesungguhnya bukan karena alasan itu. Air mata Jaejoong air mata penuh
kenangan. Jaejoong menatap mata Yunho, terlambung ke kenangan lama, ke masa
dulu, ke malam pertama itu....
.
.
.
.
To Be Continued

siwon mmg brengsek nie
ReplyDeletediperhatikan mlh sengak gtu sikapnya
what happen with yunjae
Ey~ Siwon nyebelin banget, di perhatiin malah begitu, tapi mungkin juga karena suatu alasan, kesakitan bisa membuat orang emosi.. who know? atau emang dianya yg geje
ReplyDelete