Saturday, February 22

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 26


Jaejoong menekankan tubuhnya yang penuh gairah ke tubuh pria itu. Yunho mendaratkan ciuman di leher Jaejoong, hendak menggigit dan menggelitiknya. Tangannya menggenggam payudara Jaejoong dan mengelus-elusnya.
"Kau tak boleh bebas seperti ini," gumam Jaejoong. "Aku atasannya."
"Bukan atasanku. Secara hukum, aku tidak bekerja untuk perusahaan ini, ingat?"
Jaejoong mengerang pelan ketika jari-jari Yunho mempermainkan payudaranya dari balik blus. Sambil menunduk, Yunho membuka kancing blus Jaejoong yang paling atas dengan giginya, kemudian bibirnya dengan panas menikmati bagian hangat di balik blus tersebut. "Tetapi aku tetap punya hak mengontrol hal tertentu," kata Jaejoong dengan napas tersengal.
"Tidak diriku, kau tidak berhak." Tangan Jaejoong menyelinap ke balik celana jins Yunho dan menekan bagian keras di situ. "Arra. Nan gotjimal," kata Yunho dengan suara parau. "Kau punya hak penuh untuk mengontrol segalanya."

.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
"Aku merasa tempat ini selalu bising," kata Jaejoong sambil memandang ke sekeliling bangunan yang berdinding seng itu.
"Memang begitu. Namun ini tempat minum paling enak disini. Kau mau daging babi?"
“Ya tentu.”
Mereka tersenyum ketika pelayan berlalu setelah menerima pesanan mereka. Mereka harus bicara dengan berteriak karena suara musik yang terdengar dari soundsystem di sudut ruangan terlalu nyaring.
Poster seorang model yang tengah tersenyum lebar, berambut palsu dan berdada montok, menghiasi dinding. Di belakang bar, jam dinding bergetar di bawah air terjun yang mengalir. Hiasan yang digerakkan listrik itu membuat Jaejoong pusing bila memandanginya terlalu lama.
Jaejoong dan Yunho menikmati kebersamaan mereka. Mereka punya kebiasaan mencari tempat-tempat baru untuk dilewatkan bersama selama beberapa jam setiap malam, demi memberi waktu berduaan buat Kyuhyun dan Sungmin di rumah. Kyuhyun mengatakan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi ia sudah mengutarakan pada Sungmin niatnya berbulan madu, tetapi ia merasa Sungmin pasti takut kalau bepergian terlalu jauh. Ia.hanya bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan yang indah-indah saja. Karena itu ia tidak ingin menyinggung soal bulan madu tersebut.
"Kau sering datang ke sini?" tanya Jaejoong, sambil meletakkan tangan di meja dan agak mencondongkan tubuh ke arah Yunho.
"Sering. Ketika aku masih SMP, waktu belum cukup umur untuk membeli bir, aku dan teman-temanku datang ke tempat ini dengan mobil. Mereka tidak takut menjual bir kepada kami. Kata appa...." Mendadak Yunho menghentikan kata-katanya, Jaejoong tahu itu karena Yunho menyebut Siwon dengan akrab.
"Lanjutkan," desak Jaejoong lembut. "Apa yang Siwon katakan padamu?"
"Ia memberitahu aku pada masa larangan menjual minuman keras, ini tempat berkumpul para peminum yang kekurangan uang. Dan jelas tempat ini juga mengijinkan para anak dibawah umur untuk minum."
Yunho merenung sambil mempermainkan tempat garam seperti orang linglung. Jaejoong menggenggam tangan Yunho, membuat pria itu mengarahkan pandangan kepadanya. "Kalian berdua selalu bertengkar? Apa tidak ada saat manis sedikit pun yang bisa kauingat, untuk melupakan yang tidak enak?"
Yunho tersenyum getir. "Ada beberapa, ya. Seperti ketika aku ingin mengisap cerutu. Usiaku waktu itu dua belas tahun. Ia memperbolehkan aku mengisapnya. Aku seperti anjing sakit dan ia gembira melihatnya. Ia selalu mengejek aku soal itu selama beberapa tahun, tetapi aku tidak keberatan. Kemudian waktu aku tertangkap karena mencoret-coret bus sekolah sainganku. Siwon membelaku mati-matian di hadapan pengurus sekolah, malah mengingatkan mereka bahwa anak laki-laki harus nakal, kalau tidak mereka tidak normal."
Dahi Yunho berkerut. "Ada polanya, Boo, yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Bila aku terlibat dalam tindakan kenakalan, Siwon selalu membelaku. Ia menyukaiku bila aku membuat onar. Bila aku melakukan sesuatu yang baik, ia tidak mentolerir tindakanku. Ia ingin aku seperti dirinya, suka membuat keributan, huru-hara, selalu melanggar aturan. Aku tidak dididiknya menjadi anak baik, tetapi aku tidak pernah memperdaya siapa pun atau menyakiti seseorang." Yunho melihat Jaejoong menatapnya dalam-dalam. "Aku ingin kau tahu soal ini. Aku menyesali ia dan aku tidak saling menyayangi."
"Aku tahu kau ingin bisa menyayanginya, bear."
"Andai nanti aku punya anak laki-laki atau perempuan, aku ingin menyayangi mereka apa adanya. Aku takkan pernah mencoba mengubah kepribadian mereka. Aku bersumpah untuk itu."
Mereka bergenggaman tangan di atas meja dan tidak melepaskannya sampai makanan mereka datang.
.
.
.
Menjelang mereka selesai makan, tempat itu makin gaduh. Suara mereka sangat hingar bingar. Begitu menerima bon dari pelayan, mereka langsung pergi ke kasir di ujung bar. Tagihan makanan mereka sedang dijumlah ketika Jaejoong mendengar suara orang bicara.
"Pasti senang ya, Hae, langsung masuk setelah appa pergi?"
Tangan Yunho yang tengah memegang uang seketika tak bergerak. Jaejoong melihat urat nadi di pelipis Yunho menonjol dan rahangnya mengeras karena marah.
Donghae mengikik. "Benar sekali, Hyuk. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada membiarkan ayahmu menyelesaikan masalahmu, begitulah."
Dengan tenang Yunho meletakkan uang di bar. "Yunho, ayo pergi," ajak Jaejoong sambil menggandeng lengan Yunho. Pria itu menepis tangan Jaejoong seperti mengusir lalat. Jaejoong melirik ke sekelilingnya. Seseorang mengecilkan suara musik dari jukebox. Seketika para penari berhenti.
Yang lain bergerak menjauhi Donghaeae dan Enhyuk, yang jelas terlalu mabuk dan bodoh untuk menyadari apa yang baru mereka sulut. Ketika Yunho berbalik menghadapi mereka, sorot matanya memancarkan binar yang membuat Jaejoong takut.
"Apa katamu tadi?" Bibir Yunho hampir tak bergerak ketika mengucapkan pertanyaan tersebut, suaranya tenang dan mematikan. Salah seorang dari mereka melirik temannya, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Tuan Jung," ujar manajer bar, "mereka orang baru di kota ini. Mereka tidak tahu apa-apa tentang keluarga Anda. Mereka hanya bergurau. Tak perlu Anda pedulikan. Saya yang akan mengusir mereka pergi."
Manajer itu seharusnya tidak usah ikut campur, karena Yunho tidak akan memedulikannya. "Apa yang kaukatakan tadi?" ulang Yunho dengan suara lebih keras. Ia maju mendekati kedua pria itu, yang berdiri di dekat bar.
"Hmmm, kami tadi hanya bilang, betapa beruntungnya Anda, karena punya aboji yang sudah melatihnya lebih dulu sebelum ia meninggal."
Jaejoong mengangkat tangannya yang gemetar untuk menutupi mulutnya dan mencoba menghindari sorot mata ingin tahu orang-orang yang diarahkan padanya. Ia tahu bahwa yang mereka ingat adalah meskipun ia sekarang hidup lebih baik, ia tetaplah putri Kim Hyunjoong, keluarga miskin.
Donghae hampir tak bisa bicara karena tertawa geli mendengar kepiawaian Enhyuk berkata-kata. "Kurasa seprainya pun belum dingin ketika kau masuk. Apakah abojimu mengajarinya beberapa taktik yang menyenangkan, kuma? Apakah ia memberimu apa yang ia...."
Donghae tidak bisa menyelesaikan pertanyaannya. Bahkan ia tidak ingat kapan ia mulai menanyakannya. Tinju Yunho mendarat di dagunya, membuatnya terempas dari bangku dan melayang jatuh ke panggung. Ia sudah pingsan sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
Enhyuk menyaksikan apa yang terjadi pada temannya dengan mulut ternganga karena terkejut. Ia segera turun dari kursi dengan ketakutan. Ia meringis ke arah Yunho.
"Ia... ia... ia tidak bermaksud apa-apa dengan perkataannya, tuan... eh... Jung. Kami hanya bercanda dengan...."
Ia melihat tinju melayang, mencoba menghindar, tetapi tinju Yunho keburu mendarat di tulang pipinya. Ia menjerit kesakitan dan jatuh terjerembab. Yunho berdiri di hadapannya, mengangkang, napasnya memburu, tinjunya dikepalkan kemudian diturunkannya ke samping.
"Minta maaf padanya," perintahnya dengan suara perlahan tapi mengancam. "Sekarang."
Enhyuk berjalan sempoyongan menahan sakit, kedua tangannya memegang pipinya, seakan hendak menjaganya supaya tidak retak. Satu-satunya suara yang bisa diucapkannya hanya gumaman tak jelas.
"Minta maaf padanya!" bentak Yunho.
Jaejoong segera mendekati Yunho dan memegangi lengannya. "Sudahlah, Yun," mohon Jaejoong mengiba. "Ayo pergi. Ia sudah tidak bisa bicara. Tidak apa-apa. Cepat tinggalkan tempat ini. Aku tidak tahan melihat semua mata memandangku. Ayo, cepat pergi!"
Yunho menggeleng seperti hendak menjernihkan pikiran. Kemudian ia berbalik ke arah kasir, dengan marah menepiskan tumpukan bon, sambil memasukkan uang kembalian ke saku celana jins, menggandeng tangan Jaejoong, dan menuntunnya ke pintu.
.
.
.
.
.
Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah, tetapi ditengah perjalanan Yunho menyumpah-nyumpah ketika akhirnya mesinnya terbatuk-batuk dan tidak bisa lari secepat yang diinginkannya. Ketika tiba di rumah, ia segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Jaejoong, tetapi ia tidak menunggu Jaejoong turun, ia langsung masuk ke rumah. Jaejoong mengikutinya dan menemukannya mondar-mandir di ruang kerja seperti kucing yang terperangkap. Dengan bijaksana Jaejoong menutup pintu ketika memasuki ruangan dan melemparkan tas ke kursi terdekat.
Yunho melotot pada Jaejoong. "Kaulihat apa yang dipikirkan orang-orang? Mereka mengira kau sudah tidur dengan ayahku."
"Dulu aku kan memang istrinya. Mereka seharusnya mengira apa?"
Yunho mengumpat dan menyibakkan rambut. "Aku rasa aku jadi bahan tertawaan penduduk kota ini. Pasti setiap orang senang menggosipkan hal itu. Aku mengambil alih apa yang ditinggalkan si bandot tua."
Keegoisan Yunho membuat Jaejoong bingung. "Apakah kau pernah memikirkan bagaimana perasaanku, apa yang mereka pikir tentang diriku, Jaejoong memegang dadanya. "Mereka mengira aku merayu ayahmu agar mau mengawiniku. Kini mereka berpikir aku merayu anak tiriku. Apa pun yang mereka katakan tentang dirimu tidak seburuk yang mereka katakan tentang aku. Aku benar-benar anak miskin, ingat? Bagi mereka aku tetap orang miskin dan selalu miskin. Semua itu tidak ada kaitannya dengan aku punya moral atau tidak. Itu stigma yang kubawa sejak lahir."
"Tetapi sebagai istri Siwon kau harus bisa menghapus stigma itu, bukan?"
Jaejoong menghindar menjawab pertanyaan itu, tetapi ketika ia melihat senyum mengejek di wajah Yunho, ia merasa harus menjawab. "Ya."
"Hmmm, mungkin demi nama baikmu, sayang ia meninggal," kata Yunho keji. "Paling tidak, kau punya uang banyak. Aku yakin isi surat wasiatnya kini sudah menjadi rahasia umum. Setiap orang tahu aku tidak diwarisi apa pun. Seluruh kota mungkin tahu aku mengemis-ngemis padamu karena kau yang mendapat Jung Mansion."
"Pakai akal sehatmu, Yun. Itu tidak mungkin. Setiap orang tahu kesuksesan usaha penerbanganmu.
"Mereka semua tahu betapa aku sangat mencintai tempat ini juga. Mereka mungkin mengira aku ini tak ubahnya kuda pejantan buatmu sehingga bisa tetap tinggal di sini."
Jaejoong seakan habis ditampar tangan Yunho. "Aku tidak suka kau bicara seperti itu."
"Mengapa kau tidak mau membicarakannya? Mari hadapi kenyataan. Tidakkah memang itu yang kulakukan?" tanya Yunho. "Apa tujuanku ada di sini? Sungmin sudah punya Kyuhyun yang bisa menjaganya. Boa sibuk sepanjang hari seperti induk ayam. Yang kulakukan hanyalah menjaga nyonya rumah agar tetap bahagia dan puas di tempat tidur."
"Jangan berani-berani mengatakan kau mengorbankan diri. Kau juga bahagia."
Jaejoong mengutuki matanya yang berkaca-kaca karena perasaan marah dan sakit hati.
"Aku merasa begitu sampai akhirnya aku sadar setiap orang mengira aku menggantikan Siwon di tempat tidur."
"Tetapi kau kan tidak seperti itu! Kau tahu itu, Yunho."
"Akibatnya sama saja."
"Karena mereka berpikir aku sudah tidur dengan ayahmu?"
"Ya." Kata-kata itu meluncur keluar dari mulut Yunho seperti roket. Akibat pernyataan itu adalah keheningan yang mencekam.
Akhirnya Yunho berkata, "Bahkan sudah mati pun, ia masih bisa memisahkan kita."
Jaejoong berbalik menghadap Yunho, kemarahannya memuncak. "Bukan dia. Kau. Keangkuhanmu. Keangkuhan dirimulah yang memisahkan kita."
"Bagaimana dengan keangkuhanmu?" Yunho balik bertanya.
"Aku?" tanya Jaejoong, marah.
"Ya, keangkuhanmu."
"Apa yang pernah aku banggakan?"
"Bahwa kau sarjana. Bahwa kau menikah dengan laki-laki paling kaya di daerah ini. Bahwa kau tinggal di rumahnya yang besar. Bahwa status sosialmu lebih tinggi daripada orang-orang yang dulu memandang rendah dirimu."
"Aku sudah bilang sejak pertama kali kau kembali ke sini bahwa aku suka tinggal di sini."
"Tetapi apa yang akan dikatakan orang bila satu-satunya alasan Siwon menikah denganmu adalah untuk menarikku pulang ke rumah. bahwa perkawinanmu hanyalah kepura-puraan? Apakah kau masih bisa mendongakkan kepala?"
Kebungkaman Jaejoong menjawab pertanyaan Yunho. Ia menjatuhkan diri di kursi. Bahu Yunho terkulai. Dengan suara yang lebih tenang, Yunho berkata, "Aku tak tahan membayangkan mereka berpikir kau istri ayahku. Dan kau tidak tahan mereka berpikir yang sebaliknya tentang dirimu." Yunho menengadah dan tertawa. "Oh, Tuhan, betapa manis pembalasan yang dilakukannya. Kendati siasat pertamanya tidak berhasil, memisahkan kita, berusaha meyakinkanku bahwa ia sudah tidur denganmu, siasatnya yang ini membuat kita menyerah."
Yunho melangkah ke pintu. "Aku benci mengakuinya, Jae, tetapi kita berhasil dipermainkannya. Seperti yang diyakininya."
Jaejoong merasa hatinya hancur berkeping-keping ketika Yunho menutup pintu, meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. Omg! Knapa ada konflik lagi diantara mreka.. Kasian jae!!! :(

    ReplyDelete
  2. yunjaeddiction8:18 AM

    apa yg dipergunjingkan orang2 emank ga bs dihindari.. jae cantik dan msh muda. yunho duda tampan nan kaya. suami dan appa keduanya sudah meninggal, gosip pasti tak terhindarkan..
    smg mrk faithful dg cinta mrk u.u

    ReplyDelete
  3. Anonymous10:45 PM

    Hmmnnn.. konflik baru muncul.. keegoisan.

    ReplyDelete
  4. Tuhkan, tersulut deh tersulut.
    tu orang-orang embuh harus di katain gimana lagi, sotoynya luar binasa!

    Masa harus sih mereka membeberkan kenyataa, kalo sebenarnya mereka korban permainan siwon, hedeeh, ntar jadi bahan gosip baru lagi cih.

    ReplyDelete