Jaejoong menekankan tubuhnya yang penuh gairah ke tubuh pria itu. Yunho mendaratkan ciuman di leher Jaejoong, hendak menggigit dan menggelitiknya. Tangannya menggenggam payudara Jaejoong dan mengelus-elusnya.
"Kau tak boleh bebas seperti
ini," gumam Jaejoong. "Aku atasannya."
"Bukan atasanku. Secara hukum,
aku tidak bekerja untuk perusahaan ini, ingat?"
Jaejoong mengerang pelan ketika
jari-jari Yunho mempermainkan payudaranya dari balik blus. Sambil menunduk,
Yunho membuka kancing blus Jaejoong yang paling atas dengan giginya, kemudian
bibirnya dengan panas menikmati bagian hangat di balik blus tersebut.
"Tetapi aku tetap punya hak mengontrol hal tertentu," kata Jaejoong
dengan napas tersengal.
"Tidak diriku, kau tidak
berhak." Tangan Jaejoong menyelinap ke balik celana jins Yunho dan menekan
bagian keras di situ. "Arra. Nan gotjimal," kata Yunho dengan suara
parau. "Kau punya hak penuh untuk mengontrol segalanya."
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra
Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee
Sungmin
©their
self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara
Saki
♥
.
"Aku merasa tempat ini selalu
bising," kata Jaejoong sambil memandang ke sekeliling bangunan yang berdinding
seng itu.
"Memang begitu. Namun ini
tempat minum paling enak disini. Kau mau daging babi?"
“Ya tentu.”
Mereka tersenyum ketika pelayan
berlalu setelah menerima pesanan mereka. Mereka harus bicara dengan berteriak
karena suara musik yang terdengar dari soundsystem di sudut ruangan terlalu
nyaring.
Poster seorang model yang tengah
tersenyum lebar, berambut palsu dan berdada montok, menghiasi dinding. Di
belakang bar, jam dinding bergetar di bawah air terjun yang mengalir. Hiasan
yang digerakkan listrik itu membuat Jaejoong pusing bila memandanginya terlalu
lama.
Jaejoong dan Yunho menikmati
kebersamaan mereka. Mereka punya kebiasaan mencari tempat-tempat baru untuk
dilewatkan bersama selama beberapa jam setiap malam, demi memberi waktu
berduaan buat Kyuhyun dan Sungmin di rumah. Kyuhyun mengatakan kepada mereka
secara sembunyi-sembunyi ia sudah mengutarakan pada Sungmin niatnya berbulan
madu, tetapi ia merasa Sungmin pasti takut kalau bepergian terlalu jauh.
Ia.hanya bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan yang indah-indah saja. Karena
itu ia tidak ingin menyinggung soal bulan madu tersebut.
"Kau sering datang ke
sini?" tanya Jaejoong, sambil meletakkan tangan di meja dan agak mencondongkan
tubuh ke arah Yunho.
"Sering. Ketika aku masih SMP,
waktu belum cukup umur untuk membeli bir, aku dan teman-temanku datang ke
tempat ini dengan mobil. Mereka tidak takut menjual bir kepada kami. Kata appa...."
Mendadak Yunho menghentikan kata-katanya, Jaejoong tahu itu karena Yunho
menyebut Siwon dengan akrab.
"Lanjutkan," desak Jaejoong
lembut. "Apa yang Siwon katakan padamu?"
"Ia memberitahu aku pada masa
larangan menjual minuman keras, ini tempat berkumpul para peminum yang
kekurangan uang. Dan jelas tempat ini juga mengijinkan para anak dibawah umur
untuk minum."
Yunho merenung sambil mempermainkan
tempat garam seperti orang linglung. Jaejoong menggenggam tangan Yunho, membuat
pria itu mengarahkan pandangan kepadanya. "Kalian berdua selalu
bertengkar? Apa tidak ada saat manis sedikit pun yang bisa kauingat, untuk
melupakan yang tidak enak?"
Yunho tersenyum getir. "Ada
beberapa, ya. Seperti ketika aku ingin mengisap cerutu. Usiaku waktu itu dua
belas tahun. Ia memperbolehkan aku mengisapnya. Aku seperti anjing sakit dan ia
gembira melihatnya. Ia selalu mengejek aku soal itu selama beberapa tahun,
tetapi aku tidak keberatan. Kemudian waktu aku tertangkap karena mencoret-coret
bus sekolah sainganku. Siwon membelaku mati-matian di hadapan pengurus sekolah,
malah mengingatkan mereka bahwa anak laki-laki harus nakal, kalau tidak mereka
tidak normal."
Dahi Yunho berkerut. "Ada
polanya, Boo, yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Bila aku terlibat
dalam tindakan kenakalan, Siwon selalu membelaku. Ia menyukaiku bila aku
membuat onar. Bila aku melakukan sesuatu yang baik, ia tidak mentolerir
tindakanku. Ia ingin aku seperti dirinya, suka membuat keributan, huru-hara,
selalu melanggar aturan. Aku tidak dididiknya menjadi anak baik, tetapi aku tidak
pernah memperdaya siapa pun atau menyakiti seseorang." Yunho melihat Jaejoong
menatapnya dalam-dalam. "Aku ingin kau tahu soal ini. Aku menyesali ia dan
aku tidak saling menyayangi."
"Aku tahu kau ingin bisa
menyayanginya, bear."
"Andai nanti aku punya anak
laki-laki atau perempuan, aku ingin menyayangi mereka apa adanya. Aku takkan
pernah mencoba mengubah kepribadian mereka. Aku bersumpah untuk itu."
Mereka bergenggaman tangan di atas
meja dan tidak melepaskannya sampai makanan mereka datang.
.
.
.
Menjelang mereka selesai makan,
tempat itu makin gaduh. Suara mereka sangat hingar bingar. Begitu menerima bon
dari pelayan, mereka langsung pergi ke kasir di ujung bar. Tagihan makanan
mereka sedang dijumlah ketika Jaejoong mendengar suara orang bicara.
"Pasti senang ya, Hae, langsung
masuk setelah appa pergi?"
Tangan Yunho yang tengah memegang
uang seketika tak bergerak. Jaejoong melihat urat nadi di pelipis Yunho
menonjol dan rahangnya mengeras karena marah.
Donghae mengikik. "Benar
sekali, Hyuk. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada membiarkan ayahmu
menyelesaikan masalahmu, begitulah."
Dengan tenang Yunho meletakkan uang
di bar. "Yunho, ayo pergi," ajak Jaejoong sambil menggandeng lengan Yunho.
Pria itu menepis tangan Jaejoong seperti mengusir lalat. Jaejoong melirik ke
sekelilingnya. Seseorang mengecilkan suara musik dari jukebox. Seketika para
penari berhenti.
Yang lain bergerak menjauhi Donghaeae
dan Enhyuk, yang jelas terlalu mabuk dan bodoh untuk menyadari apa yang baru
mereka sulut. Ketika Yunho berbalik menghadapi mereka, sorot matanya memancarkan
binar yang membuat Jaejoong takut.
"Apa katamu tadi?" Bibir Yunho
hampir tak bergerak ketika mengucapkan pertanyaan tersebut, suaranya tenang dan
mematikan. Salah seorang dari mereka melirik temannya, kemudian tertawa
terbahak-bahak.
"Tuan Jung," ujar manajer
bar, "mereka orang baru di kota ini. Mereka tidak tahu apa-apa tentang
keluarga Anda. Mereka hanya bergurau. Tak perlu Anda pedulikan. Saya yang akan
mengusir mereka pergi."
Manajer itu seharusnya tidak usah
ikut campur, karena Yunho tidak akan memedulikannya. "Apa yang kaukatakan
tadi?" ulang Yunho dengan suara lebih keras. Ia maju mendekati kedua pria
itu, yang berdiri di dekat bar.
"Hmmm, kami tadi hanya bilang,
betapa beruntungnya Anda, karena punya aboji yang sudah melatihnya lebih dulu
sebelum ia meninggal."
Jaejoong mengangkat tangannya yang
gemetar untuk menutupi mulutnya dan mencoba menghindari sorot mata ingin tahu
orang-orang yang diarahkan padanya. Ia tahu bahwa yang mereka ingat adalah
meskipun ia sekarang hidup lebih baik, ia tetaplah putri Kim Hyunjoong,
keluarga miskin.
Donghae hampir tak bisa bicara
karena tertawa geli mendengar kepiawaian Enhyuk berkata-kata. "Kurasa
seprainya pun belum dingin ketika kau masuk. Apakah abojimu mengajarinya
beberapa taktik yang menyenangkan, kuma? Apakah ia memberimu apa yang
ia...."
Donghae tidak bisa menyelesaikan
pertanyaannya. Bahkan ia tidak ingat kapan ia mulai menanyakannya. Tinju Yunho
mendarat di dagunya, membuatnya terempas dari bangku dan melayang jatuh ke
panggung. Ia sudah pingsan sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
Enhyuk menyaksikan apa yang terjadi
pada temannya dengan mulut ternganga karena terkejut. Ia segera turun dari
kursi dengan ketakutan. Ia meringis ke arah Yunho.
"Ia... ia... ia tidak bermaksud
apa-apa dengan perkataannya, tuan... eh... Jung. Kami hanya bercanda
dengan...."
Ia melihat tinju melayang, mencoba
menghindar, tetapi tinju Yunho keburu mendarat di tulang pipinya. Ia menjerit
kesakitan dan jatuh terjerembab. Yunho berdiri di hadapannya, mengangkang,
napasnya memburu, tinjunya dikepalkan kemudian diturunkannya ke samping.
"Minta maaf padanya,"
perintahnya dengan suara perlahan tapi mengancam. "Sekarang."
Enhyuk berjalan sempoyongan menahan
sakit, kedua tangannya memegang pipinya, seakan hendak menjaganya supaya tidak
retak. Satu-satunya suara yang bisa diucapkannya hanya gumaman tak jelas.
"Minta maaf padanya!"
bentak Yunho.
Jaejoong segera mendekati Yunho dan
memegangi lengannya. "Sudahlah, Yun," mohon Jaejoong mengiba.
"Ayo pergi. Ia sudah tidak bisa bicara. Tidak apa-apa. Cepat tinggalkan
tempat ini. Aku tidak tahan melihat semua mata memandangku. Ayo, cepat
pergi!"
Yunho menggeleng seperti hendak menjernihkan
pikiran. Kemudian ia berbalik ke arah kasir, dengan marah menepiskan tumpukan
bon, sambil memasukkan uang kembalian ke saku celana jins, menggandeng tangan Jaejoong,
dan menuntunnya ke pintu.
.
.
.
.
.
Ia mengemudikan mobilnya dengan
kecepatan tinggi menuju rumah, tetapi ditengah perjalanan Yunho
menyumpah-nyumpah ketika akhirnya mesinnya terbatuk-batuk dan tidak bisa lari
secepat yang diinginkannya. Ketika tiba di rumah, ia segera turun dan
membukakan pintu mobil untuk Jaejoong, tetapi ia tidak menunggu Jaejoong turun,
ia langsung masuk ke rumah. Jaejoong mengikutinya dan menemukannya
mondar-mandir di ruang kerja seperti kucing yang terperangkap. Dengan bijaksana
Jaejoong menutup pintu ketika memasuki ruangan dan melemparkan tas ke kursi
terdekat.
Yunho melotot pada Jaejoong.
"Kaulihat apa yang dipikirkan orang-orang? Mereka mengira kau sudah tidur
dengan ayahku."
"Dulu aku kan memang istrinya.
Mereka seharusnya mengira apa?"
Yunho mengumpat dan menyibakkan
rambut. "Aku rasa aku jadi bahan tertawaan penduduk kota ini. Pasti setiap
orang senang menggosipkan hal itu. Aku mengambil alih apa yang ditinggalkan si
bandot tua."
Keegoisan Yunho membuat Jaejoong
bingung. "Apakah kau pernah memikirkan bagaimana perasaanku, apa yang
mereka pikir tentang diriku, Jaejoong memegang dadanya. "Mereka mengira
aku merayu ayahmu agar mau mengawiniku. Kini mereka berpikir aku merayu anak
tiriku. Apa pun yang mereka katakan tentang dirimu tidak seburuk yang mereka
katakan tentang aku. Aku benar-benar anak miskin, ingat? Bagi mereka aku tetap
orang miskin dan selalu miskin. Semua itu tidak ada kaitannya dengan aku punya
moral atau tidak. Itu stigma yang kubawa sejak lahir."
"Tetapi sebagai istri Siwon kau
harus bisa menghapus stigma itu, bukan?"
Jaejoong menghindar menjawab
pertanyaan itu, tetapi ketika ia melihat senyum mengejek di wajah Yunho, ia
merasa harus menjawab. "Ya."
"Hmmm, mungkin demi nama
baikmu, sayang ia meninggal," kata Yunho keji. "Paling tidak, kau
punya uang banyak. Aku yakin isi surat wasiatnya kini sudah menjadi rahasia
umum. Setiap orang tahu aku tidak diwarisi apa pun. Seluruh kota mungkin tahu
aku mengemis-ngemis padamu karena kau yang mendapat Jung Mansion."
"Pakai akal sehatmu, Yun. Itu
tidak mungkin. Setiap orang tahu kesuksesan usaha penerbanganmu.
"Mereka semua tahu betapa aku
sangat mencintai tempat ini juga. Mereka mungkin mengira aku ini tak ubahnya
kuda pejantan buatmu sehingga bisa tetap tinggal di sini."
Jaejoong seakan habis ditampar
tangan Yunho. "Aku tidak suka kau bicara seperti itu."
"Mengapa kau tidak mau
membicarakannya? Mari hadapi kenyataan. Tidakkah memang itu yang
kulakukan?" tanya Yunho. "Apa tujuanku ada di sini? Sungmin sudah
punya Kyuhyun yang bisa menjaganya. Boa sibuk sepanjang hari seperti induk
ayam. Yang kulakukan hanyalah menjaga nyonya rumah agar tetap bahagia dan puas
di tempat tidur."
"Jangan berani-berani
mengatakan kau mengorbankan diri. Kau juga bahagia."
Jaejoong mengutuki matanya yang
berkaca-kaca karena perasaan marah dan sakit hati.
"Aku merasa begitu sampai akhirnya
aku sadar setiap orang mengira aku menggantikan Siwon di tempat tidur."
"Tetapi kau kan tidak seperti
itu! Kau tahu itu, Yunho."
"Akibatnya sama saja."
"Karena mereka berpikir aku
sudah tidur dengan ayahmu?"
"Ya." Kata-kata itu
meluncur keluar dari mulut Yunho seperti roket. Akibat pernyataan itu adalah
keheningan yang mencekam.
Akhirnya Yunho berkata, "Bahkan
sudah mati pun, ia masih bisa memisahkan kita."
Jaejoong berbalik menghadap Yunho,
kemarahannya memuncak. "Bukan dia. Kau. Keangkuhanmu. Keangkuhan dirimulah
yang memisahkan kita."
"Bagaimana dengan
keangkuhanmu?" Yunho balik bertanya.
"Aku?" tanya Jaejoong,
marah.
"Ya, keangkuhanmu."
"Apa yang pernah aku
banggakan?"
"Bahwa kau sarjana. Bahwa kau
menikah dengan laki-laki paling kaya di daerah ini. Bahwa kau tinggal di
rumahnya yang besar. Bahwa status sosialmu lebih tinggi daripada orang-orang
yang dulu memandang rendah dirimu."
"Aku sudah bilang sejak pertama
kali kau kembali ke sini bahwa aku suka tinggal di sini."
"Tetapi apa yang akan dikatakan
orang bila satu-satunya alasan Siwon menikah denganmu adalah untuk menarikku
pulang ke rumah. bahwa perkawinanmu hanyalah kepura-puraan? Apakah kau masih
bisa mendongakkan kepala?"
Kebungkaman Jaejoong menjawab
pertanyaan Yunho. Ia menjatuhkan diri di kursi. Bahu Yunho terkulai. Dengan
suara yang lebih tenang, Yunho berkata, "Aku tak tahan membayangkan mereka
berpikir kau istri ayahku. Dan kau tidak tahan mereka berpikir yang sebaliknya
tentang dirimu." Yunho menengadah dan tertawa. "Oh, Tuhan, betapa manis
pembalasan yang dilakukannya. Kendati siasat pertamanya tidak berhasil, memisahkan
kita, berusaha meyakinkanku bahwa ia sudah tidur denganmu, siasatnya yang ini
membuat kita menyerah."
Yunho melangkah ke pintu. "Aku
benci mengakuinya, Jae, tetapi kita berhasil dipermainkannya. Seperti yang
diyakininya."
Jaejoong merasa hatinya hancur
berkeping-keping ketika Yunho menutup pintu, meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
.
To Be Continue

Omg! Knapa ada konflik lagi diantara mreka.. Kasian jae!!! :(
ReplyDeleteapa yg dipergunjingkan orang2 emank ga bs dihindari.. jae cantik dan msh muda. yunho duda tampan nan kaya. suami dan appa keduanya sudah meninggal, gosip pasti tak terhindarkan..
ReplyDeletesmg mrk faithful dg cinta mrk u.u
Hmmnnn.. konflik baru muncul.. keegoisan.
ReplyDeleteTuhkan, tersulut deh tersulut.
ReplyDeletetu orang-orang embuh harus di katain gimana lagi, sotoynya luar binasa!
Masa harus sih mereka membeberkan kenyataa, kalo sebenarnya mereka korban permainan siwon, hedeeh, ntar jadi bahan gosip baru lagi cih.