Yunho telah membangunkan gunung berapi di dalam tubuh Jaejoong. Ketika merasa gunung itu hendak memuntahkan laharnya, Yunho segera menindihnya.
Tangan yang mencengkeram
pahanya, kaki Jaejoong yang menjepit pahanya, kata-kata cinta yang meluncur
keluar dari bibir wanita itu, makin membangkitkan hasrat Yunho. Tubuhnya tak
menyisakan kesempatan untuk hal lain, kecuali mendorong tubuhnya untuk bergerak
makin cepat, sampai akhirnya mereka merasa tubuh mereka seperti meledak dan
bermandikan titik-titik cahaya yang terang benderang.
Setelah mereka berhasil
mencapai puncak, kembali ke dunia nyata, titik-titik cahaya pun meredup. Mereka
kembali berada di dunia yang remang-remang dan berkabut. Mereka terselubung
kabut warna keperakan yang melingkupi hati dan pikiran mereka beberapa saat
yang lalu. Dan tubuh mereka yang masih berpaut itu bermandikan air hujan yang
turun membasahi bumi.
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
Pengantin wanita
mengenakan gaun putih. Model gaun dari sutra itu sederhana namun serasi dengan
potongan tubuhnya yang ramping. Tubuhnya tidak tenggelam di balik gaunnya,
tidak seperti jika ia mengenakan gaun kuno berekor yang bermeter-meter
panjangnya dan berenda-renda. Kakinya dibalut stoking tipis dan sepatu putih.
Rambut di bagian pinggir ditarik sampai tengah, dijepit sepasang bunga camelia
putih, bunga kesayangannya. Ia kelihatan cantik sekali. Matanya berbinar-binar,
memancarkan kegembiraan hatinya. Ia tidak kelihatan gugup sama sekali.
Pengantin prianya justru
tampak gugup. Ia kelihatan resah dan berkali-kali menelan ludah, mengubah
posisi kaki. Ia menarik-narik ujung dasinya, setelan pakaian yang tidak akrab
dengannya. Ia diberitahu tidak harus mengenakan setelan seperti itu, tetapi ia
memaksa. Ia ingin menjadikan hari ini tak terlupakan bagi pengantinnya, sang
kekasih tercintanya. Ia ingin memperlihatkan kepada setiap orang perkawinannya
adalah sah dan keduanya melakukannya dengan kesadaran penuh dan perasaan
bangga.
Jaejoong menyentuh
tangan Kyuhyun, menenangkannya ketika mereka berdiri menunggu pengantin wanita.
Kyuhyun tersenyum penuh rasa terima kasih pada Jaejoong. Tetapi ketika istri
pendeta mulai memainkan lagu pernikahan dengan piano, mata Kyuhyun hanya
tertuju pada Sungmin. Begitu pun mata Sungmin. Matanya yang besar dan
kecokelatan mencari-cari Kyuhyun begitu memasuki ruang depan dan tertuju
padanya ketika ia menuruni tangga yang melingkar, pandangannya tetap tidak
beralih dari Kyuhyun.
Hanya beberapa orang
yang diundang untuk menyaksikan upacara pernikahan tersebut. Yunho dan
Jaejoong. Pendeta, yang memimpin upacara pemakaman ayahnya, beserta istri, dan Yoochun.
Dan Boa, yang menangis ketika sepasang pengantin itu mengucapkan janji setia
mereka. Untunglah, upacaranya singkat.
Kyuhyun mengecup lembut
bibir istrinya dan segera mencopot dasi.
"Kyuhyun."
Kyuhyun berbalik dan melihat Yunho mengulurkan tangan. "Selamat datang di
keluarga kami."
Kyuhyun tersenyum lebar
sambil menyalami kakak iparnya. "Gomawo, hyung. Aku bahagia bisa menjadi
anggota keluarga ini."
"Chukkae,
Kyu," kata Jaejoong dan mencium pipi Kyuhyun. "Minnie." Jaejoong
memeluk Sungmin erat-erat. "Semoga selalu bahagia."
"Pasti akan selalu,
selalu," jawab Sungmin gembira, sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Ayo kita minum sekarang. Kurasa Kyuhyun ingin minuman dingin."
Semua orang kelihatan
gembira ketika memasuki ruang makan, yang sudah siap dengan hidangan gejeulpan,
bermacam salad, sayur-sayuran, kue pengantin tiga susun dan makanan-makanan
kecil lain, yang disiapkan Boa. Juga tersedia kopi dan jus, serta soju.
Setelah semua selesai
makan, juru foto mengabadikan momen mereka. Dasi yang tadi dilepas Kyuhyun
hilang sehingga harus diganti. Jaejoong merapikan rambut Sungmin dan menambah
lipstiknya. Setelah acara pemotretan selesai, tak seorang pun yang matanya
tidak berbinar-binar.
Para tamu mohon diri,
meninggalkan para penghuni rumah dengan meja makan yang porak poranda.
Pengantin pria dan wanita istirahat di lantai dua. Menjelang pernikahannya,
barang-barang Kyuhyun dipindahkan ke kamar Siwon. Pasangan pengantin itu akan
menempati kamar tersebut karena lebih besar daripada kamar Sungmin. Jaejoong
merencanakan mendekorasi ulang agar lebih menarik dan sesuai dengan kepribadian
penghuninya.
Setelah membantu Boa
bersih-bersih, Yunho dan Jaejoong pergi menonton di bioskop di kota. Sewaktu
pulang ke rumah, suasana sunyi dan gelap. Mereka mengendap-endap ke lantai dua,
tidak ingin mengganggu si pengantin baru. Mereka naik ke kamar tidur Yunho.
Setelah mengunci pintu, Yunho menyalakan lampu di samping ranjang.
"Aku bosan harus
mengendap-endap seperti ini terus," keluh Yunho. "Aku benci salah
satu di antara kita harus turun dari ranjang dan menyelinap ke lorong menjelang
pagi. Mengapa kau tidak pindah saja ke sini bersamaku, atau aku pindah ke kamar
tidurmu?"
"Karena."
"Alasan yang masuk
akal." Yunho membuka sepatu bot dan kemejanya dan melepas celana
panjangnya. "Mungkin aku harus menuliskannya supaya ingat."
"Sudahlah, jangan
menggodaku. Aku belum ingin siapa pun tahu soal ini."
"Mereka sudah
tahu," kata Yunho yang telah melepas celana dalamnya. Diempaskannya tubuhnya
ke sofa empuk berlapis kulit, tempat yang paling disukainya di rumah.
Jaejoong membuka sweter
dan menatap Yunho dengan kaget. "Benarkah?"
Tanpa menjawab sepatah
kata pun, Yunho mengangguk dan memerhatikan Jaejoong yang melipat kemejanya
dengan rapi dan meletakkannya di sandaran kursi. Branya sewarna kulit. Ada
sulaman bunga mawar pada branya. Kelopak bunganya mengelilingi bagian puncak.
Seakan hendak membalas tahun-tahun saat tidak punya bra cantik, kini Jaejoong
selalu memakai bra yang indah.
Menangkap nada suara
Jaejoong, Yunho berkata, "Kyuhyun dan Boa, aku yakin tahu. Mereka tidak
buta, Jae. Dua belas tahun aku menyimpan perasaan cintaku padamu. Aku rasa
tidak mungkin bisa disembunyikan lagi beberapa hari terakhir ini. Sekarang aku
lebih bahagia dibandingkan sebelumnya. Dan itu jelas terpancar, boo."
Wajah Jaejoong memerah
ketika ia melepas rok, tampil dengan celana dalam yang warnanya senada dengan
bra, berenda dan terbuat dari sutra. Kejantanan Yunho langsung bereaksi.
"Aku juga tidak
suka sembunyi-sembunyi, tetapi demi reputasiku, jangan biarkan setiap orang
tahu rahasia ini. Nanti aku dianggap perempuan murahan."
Jaejoong mengambil sikat
dan menyikat rambutnya. Cahaya lampu menerpa helai-helai rambut yang tergerai.
Jaejoong membelakangi Yunho. Lekuk tubuhnya sangat indah. Celana dalam itu
hampir tak dapat menyembunyikan daya tarik seksual Jaejoong. Bagian tubuh yang
tertutup renda dan stoking tersebut adalah bagian tubuh yang ingin sekali
disentuh Yunho. "Bagaimana bisa kau dianggap perempuan murahan?"
tanya Yunho dengan suara berat.
Jaejoong mengeluarkan
botol kecil dari tas, lalu menuangkan beberapa tetes isinya ke telapak tangan.
Digosok-gosokkannya dan dibalurkannya ke lengannya. Oh, Tuhan! Perempuan ini
sungguh membuatnya gila!
"Karena secara
hukum kau anak tiriku."
"Dan di luar
hukum?"
Jaejoong membalikkan
badan, menghadap ke arah Yunho yang duduk di kursi, melihat tubuhnya yang
bergairah. Jaejoong tersenyum malu tapi amat menawan. "Di luar hukum, kau
kekasihku."
"Kemarilah."
Buru-buru Yunho melepas celana dalamnya dan melemparkannya ke lantai.
Jaejoong menghampirinya
dan berdiri dengan patuh ketika Yunho melepas celananya, menyebabkan pengikat
stokingnya tergantung rendah di pinggul dan tali stokingnya menjuntai di paha sampai
ke bagian atas stoking. Yunho menyelipkan tangannya ke balik bagian atas salah
satu stoking dan dengan lembut mencubitnya. Jari-jari Jaejoong memegang telinga
Yunho ketika pria itu mencondongkan tubuh untuk menciumi paha dan perutnya.
Yunho meminta Jaejoong
duduk di pangkuannya, dan kejantanannya pun lenyap dalam tubuh Jaejoong. Tangan
Jaejoong melingkari leher Yunho dan punggungnya melengkung, menyebabkan
laki-laki tersebut bisa beraksi di dadanya. Yunho menciumi payudaranya.
Akhirnya bra Jaejoong berhasil dibukanya. Dibenamkannya wajahnya.
Paha Jaejoong rapat
menjepit paha Yunho ketika ia bergerak di pangkuan kekasihnya, menggerakkan
pinggul dengan gerakan berputar. Tangan Yunho mengelus bagian belakang paha
Jaejoong sampai ke pinggul, memegangnya erat-erat. Sambil membenamkan kepala
pria itu di dadanya, Jaejoong membungkuk dan membisikkan kata-kata cinta
seirama gerakan Yunho. Yunho bergerak makin cepat, terus makin cepat. Kemudian,
ketika tubuh Jaejoong bergetar karena kenikmatan yang melandanya, Yunho pun
mencapai puncak.
Jaejoong terpuruk di
sisi tubuh Yunho dan selama beberapa menit mereka tidak bergerak. Akhirnya
Yunho membelai bagian belakang kepala Jaejoong. Diciumnya pundak wanita itu.
Ketika melihat Jaejoong masih saja tidak bergerak, ia bertanya lembut,
"Ada yang tidak beres?"
"Di kursi? Jadi apa
aku sekarang?"
Sambil tersenyum, Yunho
mencium telinga Jaejoong. "Perempuan istimewa, perempuan cantik dengan
gairah yang diidamkan laki-laki." Dipeluknya Jaejoong erat-erat. "Aku
biasa duduk di kursi ini dan mengkhayalkan dirimu. Di sinilah aku membayangkanmu,
membayangkan bagaimana bercinta denganmu." Yunho mengelus pipi Jaejoong
dengan buku-buku jarinya. "Khayalan yang selalu memenuhi benakku, boo."
Jaejoong mengangkat
kepala. Sinar matanya selembut sinar rembulan yang tenang menghanyutkan. "Gurae?'
"Ya." Yunho
menyentuh rambut Jaejoong, bibirnya, payudaranya. "Aku masih tidak percaya
ini sungguh-sungguh nyata."
"Aku tidak percaya
ini diriku, bertingkah seperti ini. Kau selalu memberi pengaruh buruk padaku
bear."
Binar-binar cinta di
mata Yunho berganti dengan sorot mata nakal. "Tidakkah itu membuatmu
bahagia?"
"Ho.."
Mengimbangi gaya Yunho, Jaejoong memutar pinggulnya.
Yunho mengerang. "Astaga,
booJae. Kau mau membunuhku? Tidak bisakah kita menunggu sampai di
ranjang?"
Setelah itu, bertutupkan
selimut tipis, Yunho menemukan telinga Jaejoong dalam kegelapan dan berbisik,
"Kau tahu, andai Boa juga punya pacar, kita bisa membentuk club."
Jaejoong menarik bulu dada Yunho, menyebabkan laki-laki itu menjerit perlahan.
"Maksudku, Kyuhyun dan Sungmin di satu kamar, dan kita…."
"Arra."
Jaejoong berhenti tersenyum, dan menguap. "Tak terbayangkan olehku
bagaimana perasaan Kyuhyun sekarang ini, tetapi aku tidak tahu apa pendapat
Sungmin tentang perkawinan."
.
.
.
.
Mereka tidak perlu
menunggu lama untuk mengetahui hal itu. Keesokan paginya, pasangan pengantin
baru itu sarapan bersama Jaejoong dan Yunho. Mereka berdiri di pintu dapur
dengan tangan bergandengan. Kyuhyun tersenyum malu-malu. Sungmin berseri-seri.
Kepada mereka, gadis itu mengatakan dengan gembira, "Kurasa semua orang di
muka bumi ini harus menikah."
.
.
.
.
Pabrik mulai dibereskan.
Jaejoong bersyukur Yunho berada di dekatnya. Ia tidak tahu harus mulai
membersihkan dari mana setelah kebakaran itu. Tak lama sesudah pembersihan
selesai, Yunho menyinggung soal merenovasinya. Yunho mengungkapkan semua
rencananya pada Jaejoong, dan Jaejoong menyetujuinya. Rencana itu termasuk
mengganti semua mesin tua dan membeli yang baru, mengganti kabel-kabel, dan
membuat pabrik ginseng keluarga Jung menjadi pabrik ginseng paling modern di
negara ini.
"Kita dapat untung
besar sekali tahun ini. Bank bersedia memberikan kredit pinjaman jangka panjang
untuk biaya renovasi dengan bunga ringan. Kita harus memanfaatkan kemurahan
hati mereka."
"Aku setuju."
Mereka bekerja lembur di
musim panas yang terik, tetapi keduanya tetap bersemangat. Kerap mereka harus
menahan diri untuk tidak saling menyentuh. Banyak mata memerhatikan, dan mereka
tahu hal itu dan tidak ingin memberi kesempatan kepada orang-orang untuk
menggosipkan mereka. Gosip tentang mengapa Yunho tidak segera kembali ke Jepang
telah beredar. Itu saja sudah membuat Jaejoong cemas.
"Yun?" Mereka
beristirahat sejenak di ruangan kantor pabrik.
"Hmmm?" Yunho
menyentuhkan kaleng minuman dingin ke dahinya.
"Kapan kau kembali
ke Jepang?" Jaejoong berusaha bicara sewajarnya tetapi tahu ia tidak
berhasil ketika Yunho menurunkan kaleng minuman dan menatapnya tajam.
Yunho menyeruput
minumannya. "Ingin menjauhkan diri dariku?" Yunho menggoda.
Sorot mata Jaejoong
memancarkan binar-binar cinta. "Tentu saja tidak," sahut Jaejoong
tenang. "Aku hanya ingin tahu mengapa kau melakukan semua ini di pabrik
ini. Aku kan mendapat gaji, tetapi tak ada alasan bagimu untuk menghabiskan
waktu dan tenagamu di sini."
Yunho meletakkan kaleng
minumannya di meja, di tumpukan majaJah bisnis lama. Sambil berdiri, pria itu
menggeliat dan berjalan ke jendela, tempat ia biasa memerhatikan para pekerja
menurunkan bahan bangunan dari truk. "Pabrik ini punya arti besar bagiku,
terlepas dari suka atau tidak suka aboji padaku. Aku tidak mendapat keuntungan
finansial darinya, gara-gara surat wasiatnya, tetapi pabrik ini tetap sangat
menarik minatku. Pabrik ini milik keluarga eommaku sebelum aboji mengambil alih
dan menjadikannya miliknya. Karena ini bagian dari warisan keluargaku dan
membawa namaku, aku harus peduli padanya. Andai alasan-alasan itu tidak cukup
kuat, anggap saja aku melindungi warisan adik perempuanku."
"Saranghae bear."
Yunho berbalik menghadap
ke arah Jaejoong seketika. Ungkapannya tak terduga dan tampaknya tak ada kaitan
dengan bahan pembicaraan sebelumnya. "Wae? Maksudku, apa yang membuatmu
mengatakan itu sekarang?"
"Karena, andai
situasi ini menimpa laki-laki lain, ia pasti sudah meninggalkan tempat ini
sejak lama, karena perasaan pedih dan marah mengalami situasi di sini."
"Itulah yang
diinginkan aboji. Tetapi sekarang, aku tidak mau terperangkap siasatnya."
"Itulah alasan
satu-satunya kau masih di sini, untuk menantang Siwon?"
Yunho tersenyum dan mendekati
Jaejoong. Yunho menarik tangan Jaejoong, mendorongnya ke sudut, di antara
dinding dan lemari arsip. Ruangan sempit itu cukup untuk membuat mereka
terhindar dari pandangan orang yang tiba-tiba masuk ke ruangan. "Kau tak
ada sangkut pautnya dengan keberadaanku di sini," kata Yunho, dan mulai
menciumi Jaejoong.
Yunho terasa asin. Ia
mandi keringat. Ia benar-benar laki-laki sejati. Jaejoong menyukai sifat
jantannya. Feminitasnya bereaksi terhadap kejantanan Yunho. Sambil merapat,
Jaejoong menekankan tubuhnya yang penuh gairah ke tubuh pria itu. Yunho
mendaratkan ciuman di leher Jaejoong, hendak menggigit dan menggelitiknya.
Tangannya menggenggam payudara Jaejoong dan mengelus-elusnya.
"Kau tak boleh
bebas seperti ini," gumam Jaejoong. "Aku atasannya."
"Bukan atasanku.
Secara hukum, aku tidak bekerja untuk perusahaan ini, ingat?"
Jaejoong mengerang pelan
ketika jari-jari Yunho mempermainkan payudaranya dari balik blus. Sambil
menunduk, Yunho membuka kancing blus Jaejoong yang paling atas dengan giginya,
kemudian bibirnya dengan panas menikmati bagian hangat di balik blus tersebut.
"Tetapi aku tetap punya hak mengontrol hal tertentu," kata Jaejoong
dengan napas tersengal.
"Tidak diriku, kau
tidak berhak." Tangan Jaejoong menyelinap ke balik celana jins Yunho dan
menekan bagian keras di situ. "Arra. Nan gotjimal," kata Yunho dengan
suara parau. "Kau punya hak penuh untuk mengontrol segalanya."
.
.
.
.
.
To Be Continue

Wew...jae udh mulai berani...12 th dipaksa pisah sm org tercinta, gilaa bnr nih karakter siwon disini, raja tega!
ReplyDeleteAaaaaaaaaaaaaaaaa ><
ReplyDeleteSaya ngebut baca dari awal :3
Request encehnya KyuMin dong :3
Penasaran si polos ming ehem ehem ama si Kyu xD
YunJae hot pake banget dah, saya ampe basah bacanya :D
Keep writing, Saki-ssi :)
Saya penggemarmu :D
Waaaahh tiada hari tanpa Sex.. Full sama lovey dovey nya yunjae.. Puas aku
ReplyDeletetipikal yunjae.. pantang menyia-yiakan waktu dan tempat. genjot terus..
ReplyDeletehuahhh sungmin.. bener2 polos ~_~
haha tolong kasih boa seseorang jg donk. biar ga kedinginan kl malam #plak
Iye..kasih dah abang kangta...hahahha
ReplyDelete