Saturday, February 22

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 25


Yunho telah membangunkan gunung berapi di dalam tubuh Jaejoong. Ketika merasa gunung itu hendak memuntahkan laharnya, Yunho segera menindihnya.
Tangan yang mencengkeram pahanya, kaki Jaejoong yang menjepit pahanya, kata-kata cinta yang meluncur keluar dari bibir wanita itu, makin membangkitkan hasrat Yunho. Tubuhnya tak menyisakan kesempatan untuk hal lain, kecuali mendorong tubuhnya untuk bergerak makin cepat, sampai akhirnya mereka merasa tubuh mereka seperti meledak dan bermandikan titik-titik cahaya yang terang benderang.
Setelah mereka berhasil mencapai puncak, kembali ke dunia nyata, titik-titik cahaya pun meredup. Mereka kembali berada di dunia yang remang-remang dan berkabut. Mereka terselubung kabut warna keperakan yang melingkupi hati dan pikiran mereka beberapa saat yang lalu. Dan tubuh mereka yang masih berpaut itu bermandikan air hujan yang turun membasahi bumi.

.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
Pengantin wanita mengenakan gaun putih. Model gaun dari sutra itu sederhana namun serasi dengan potongan tubuhnya yang ramping. Tubuhnya tidak tenggelam di balik gaunnya, tidak seperti jika ia mengenakan gaun kuno berekor yang bermeter-meter panjangnya dan berenda-renda. Kakinya dibalut stoking tipis dan sepatu putih. Rambut di bagian pinggir ditarik sampai tengah, dijepit sepasang bunga camelia putih, bunga kesayangannya. Ia kelihatan cantik sekali. Matanya berbinar-binar, memancarkan kegembiraan hatinya. Ia tidak kelihatan gugup sama sekali.
Pengantin prianya justru tampak gugup. Ia kelihatan resah dan berkali-kali menelan ludah, mengubah posisi kaki. Ia menarik-narik ujung dasinya, setelan pakaian yang tidak akrab dengannya. Ia diberitahu tidak harus mengenakan setelan seperti itu, tetapi ia memaksa. Ia ingin menjadikan hari ini tak terlupakan bagi pengantinnya, sang kekasih tercintanya. Ia ingin memperlihatkan kepada setiap orang perkawinannya adalah sah dan keduanya melakukannya dengan kesadaran penuh dan perasaan bangga.
Jaejoong menyentuh tangan Kyuhyun, menenangkannya ketika mereka berdiri menunggu pengantin wanita. Kyuhyun tersenyum penuh rasa terima kasih pada Jaejoong. Tetapi ketika istri pendeta mulai memainkan lagu pernikahan dengan piano, mata Kyuhyun hanya tertuju pada Sungmin. Begitu pun mata Sungmin. Matanya yang besar dan kecokelatan mencari-cari Kyuhyun begitu memasuki ruang depan dan tertuju padanya ketika ia menuruni tangga yang melingkar, pandangannya tetap tidak beralih dari Kyuhyun.
Hanya beberapa orang yang diundang untuk menyaksikan upacara pernikahan tersebut. Yunho dan Jaejoong. Pendeta, yang memimpin upacara pemakaman ayahnya, beserta istri, dan Yoochun. Dan Boa, yang menangis ketika sepasang pengantin itu mengucapkan janji setia mereka. Untunglah, upacaranya singkat.
Kyuhyun mengecup lembut bibir istrinya dan segera mencopot dasi.
"Kyuhyun." Kyuhyun berbalik dan melihat Yunho mengulurkan tangan. "Selamat datang di keluarga kami."
Kyuhyun tersenyum lebar sambil menyalami kakak iparnya. "Gomawo, hyung. Aku bahagia bisa menjadi anggota keluarga ini."
"Chukkae, Kyu," kata Jaejoong dan mencium pipi Kyuhyun. "Minnie." Jaejoong memeluk Sungmin erat-erat. "Semoga selalu bahagia."
"Pasti akan selalu, selalu," jawab Sungmin gembira, sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Ayo kita minum sekarang. Kurasa Kyuhyun ingin minuman dingin."
Semua orang kelihatan gembira ketika memasuki ruang makan, yang sudah siap dengan hidangan gejeulpan, bermacam salad, sayur-sayuran, kue pengantin tiga susun dan makanan-makanan kecil lain, yang disiapkan Boa. Juga tersedia kopi dan jus, serta soju.
Setelah semua selesai makan, juru foto mengabadikan momen mereka. Dasi yang tadi dilepas Kyuhyun hilang sehingga harus diganti. Jaejoong merapikan rambut Sungmin dan menambah lipstiknya. Setelah acara pemotretan selesai, tak seorang pun yang matanya tidak berbinar-binar.
Para tamu mohon diri, meninggalkan para penghuni rumah dengan meja makan yang porak poranda. Pengantin pria dan wanita istirahat di lantai dua. Menjelang pernikahannya, barang-barang Kyuhyun dipindahkan ke kamar Siwon. Pasangan pengantin itu akan menempati kamar tersebut karena lebih besar daripada kamar Sungmin. Jaejoong merencanakan mendekorasi ulang agar lebih menarik dan sesuai dengan kepribadian penghuninya.
Setelah membantu Boa bersih-bersih, Yunho dan Jaejoong pergi menonton di bioskop di kota. Sewaktu pulang ke rumah, suasana sunyi dan gelap. Mereka mengendap-endap ke lantai dua, tidak ingin mengganggu si pengantin baru. Mereka naik ke kamar tidur Yunho. Setelah mengunci pintu, Yunho menyalakan lampu di samping ranjang.
"Aku bosan harus mengendap-endap seperti ini terus," keluh Yunho. "Aku benci salah satu di antara kita harus turun dari ranjang dan menyelinap ke lorong menjelang pagi. Mengapa kau tidak pindah saja ke sini bersamaku, atau aku pindah ke kamar tidurmu?"
"Karena."
"Alasan yang masuk akal." Yunho membuka sepatu bot dan kemejanya dan melepas celana panjangnya. "Mungkin aku harus menuliskannya supaya ingat."
"Sudahlah, jangan menggodaku. Aku belum ingin siapa pun tahu soal ini."
"Mereka sudah tahu," kata Yunho yang telah melepas celana dalamnya. Diempaskannya tubuhnya ke sofa empuk berlapis kulit, tempat yang paling disukainya di rumah.
Jaejoong membuka sweter dan menatap Yunho dengan kaget. "Benarkah?"
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Yunho mengangguk dan memerhatikan Jaejoong yang melipat kemejanya dengan rapi dan meletakkannya di sandaran kursi. Branya sewarna kulit. Ada sulaman bunga mawar pada branya. Kelopak bunganya mengelilingi bagian puncak. Seakan hendak membalas tahun-tahun saat tidak punya bra cantik, kini Jaejoong selalu memakai bra yang indah.
Menangkap nada suara Jaejoong, Yunho berkata, "Kyuhyun dan Boa, aku yakin tahu. Mereka tidak buta, Jae. Dua belas tahun aku menyimpan perasaan cintaku padamu. Aku rasa tidak mungkin bisa disembunyikan lagi beberapa hari terakhir ini. Sekarang aku lebih bahagia dibandingkan sebelumnya. Dan itu jelas terpancar, boo."
Wajah Jaejoong memerah ketika ia melepas rok, tampil dengan celana dalam yang warnanya senada dengan bra, berenda dan terbuat dari sutra. Kejantanan Yunho langsung bereaksi.
"Aku juga tidak suka sembunyi-sembunyi, tetapi demi reputasiku, jangan biarkan setiap orang tahu rahasia ini. Nanti aku dianggap perempuan murahan."
Jaejoong mengambil sikat dan menyikat rambutnya. Cahaya lampu menerpa helai-helai rambut yang tergerai. Jaejoong membelakangi Yunho. Lekuk tubuhnya sangat indah. Celana dalam itu hampir tak dapat menyembunyikan daya tarik seksual Jaejoong. Bagian tubuh yang tertutup renda dan stoking tersebut adalah bagian tubuh yang ingin sekali disentuh Yunho. "Bagaimana bisa kau dianggap perempuan murahan?" tanya Yunho dengan suara berat.
Jaejoong mengeluarkan botol kecil dari tas, lalu menuangkan beberapa tetes isinya ke telapak tangan. Digosok-gosokkannya dan dibalurkannya ke lengannya. Oh, Tuhan! Perempuan ini sungguh membuatnya gila!
"Karena secara hukum kau anak tiriku."
"Dan di luar hukum?"
Jaejoong membalikkan badan, menghadap ke arah Yunho yang duduk di kursi, melihat tubuhnya yang bergairah. Jaejoong tersenyum malu tapi amat menawan. "Di luar hukum, kau kekasihku."
"Kemarilah." Buru-buru Yunho melepas celana dalamnya dan melemparkannya ke lantai.
Jaejoong menghampirinya dan berdiri dengan patuh ketika Yunho melepas celananya, menyebabkan pengikat stokingnya tergantung rendah di pinggul dan tali stokingnya menjuntai di paha sampai ke bagian atas stoking. Yunho menyelipkan tangannya ke balik bagian atas salah satu stoking dan dengan lembut mencubitnya. Jari-jari Jaejoong memegang telinga Yunho ketika pria itu mencondongkan tubuh untuk menciumi paha dan perutnya.
Yunho meminta Jaejoong duduk di pangkuannya, dan kejantanannya pun lenyap dalam tubuh Jaejoong. Tangan Jaejoong melingkari leher Yunho dan punggungnya melengkung, menyebabkan laki-laki tersebut bisa beraksi di dadanya. Yunho menciumi payudaranya. Akhirnya bra Jaejoong berhasil dibukanya. Dibenamkannya wajahnya.
Paha Jaejoong rapat menjepit paha Yunho ketika ia bergerak di pangkuan kekasihnya, menggerakkan pinggul dengan gerakan berputar. Tangan Yunho mengelus bagian belakang paha Jaejoong sampai ke pinggul, memegangnya erat-erat. Sambil membenamkan kepala pria itu di dadanya, Jaejoong membungkuk dan membisikkan kata-kata cinta seirama gerakan Yunho. Yunho bergerak makin cepat, terus makin cepat. Kemudian, ketika tubuh Jaejoong bergetar karena kenikmatan yang melandanya, Yunho pun mencapai puncak.
Jaejoong terpuruk di sisi tubuh Yunho dan selama beberapa menit mereka tidak bergerak. Akhirnya Yunho membelai bagian belakang kepala Jaejoong. Diciumnya pundak wanita itu. Ketika melihat Jaejoong masih saja tidak bergerak, ia bertanya lembut, "Ada yang tidak beres?"
"Di kursi? Jadi apa aku sekarang?"
Sambil tersenyum, Yunho mencium telinga Jaejoong. "Perempuan istimewa, perempuan cantik dengan gairah yang diidamkan laki-laki." Dipeluknya Jaejoong erat-erat. "Aku biasa duduk di kursi ini dan mengkhayalkan dirimu. Di sinilah aku membayangkanmu, membayangkan bagaimana bercinta denganmu." Yunho mengelus pipi Jaejoong dengan buku-buku jarinya. "Khayalan yang selalu memenuhi benakku, boo."
Jaejoong mengangkat kepala. Sinar matanya selembut sinar rembulan yang tenang menghanyutkan. "Gurae?'
"Ya." Yunho menyentuh rambut Jaejoong, bibirnya, payudaranya. "Aku masih tidak percaya ini sungguh-sungguh nyata."
"Aku tidak percaya ini diriku, bertingkah seperti ini. Kau selalu memberi pengaruh buruk padaku bear."
Binar-binar cinta di mata Yunho berganti dengan sorot mata nakal. "Tidakkah itu membuatmu bahagia?"
"Ho.." Mengimbangi gaya Yunho, Jaejoong memutar pinggulnya.
Yunho mengerang. "Astaga, booJae. Kau mau membunuhku? Tidak bisakah kita menunggu sampai di ranjang?"
Setelah itu, bertutupkan selimut tipis, Yunho menemukan telinga Jaejoong dalam kegelapan dan berbisik, "Kau tahu, andai Boa juga punya pacar, kita bisa membentuk club." Jaejoong menarik bulu dada Yunho, menyebabkan laki-laki itu menjerit perlahan. "Maksudku, Kyuhyun dan Sungmin di satu kamar, dan kita…."
"Arra." Jaejoong berhenti tersenyum, dan menguap. "Tak terbayangkan olehku bagaimana perasaan Kyuhyun sekarang ini, tetapi aku tidak tahu apa pendapat Sungmin tentang perkawinan."
.
.
.
.
Mereka tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui hal itu. Keesokan paginya, pasangan pengantin baru itu sarapan bersama Jaejoong dan Yunho. Mereka berdiri di pintu dapur dengan tangan bergandengan. Kyuhyun tersenyum malu-malu. Sungmin berseri-seri. Kepada mereka, gadis itu mengatakan dengan gembira, "Kurasa semua orang di muka bumi ini harus menikah."
.
.
.
.
Pabrik mulai dibereskan. Jaejoong bersyukur Yunho berada di dekatnya. Ia tidak tahu harus mulai membersihkan dari mana setelah kebakaran itu. Tak lama sesudah pembersihan selesai, Yunho menyinggung soal merenovasinya. Yunho mengungkapkan semua rencananya pada Jaejoong, dan Jaejoong menyetujuinya. Rencana itu termasuk mengganti semua mesin tua dan membeli yang baru, mengganti kabel-kabel, dan membuat pabrik ginseng keluarga Jung menjadi pabrik ginseng paling modern di negara ini.
"Kita dapat untung besar sekali tahun ini. Bank bersedia memberikan kredit pinjaman jangka panjang untuk biaya renovasi dengan bunga ringan. Kita harus memanfaatkan kemurahan hati mereka."
"Aku setuju."
Mereka bekerja lembur di musim panas yang terik, tetapi keduanya tetap bersemangat. Kerap mereka harus menahan diri untuk tidak saling menyentuh. Banyak mata memerhatikan, dan mereka tahu hal itu dan tidak ingin memberi kesempatan kepada orang-orang untuk menggosipkan mereka. Gosip tentang mengapa Yunho tidak segera kembali ke Jepang telah beredar. Itu saja sudah membuat Jaejoong cemas.
"Yun?" Mereka beristirahat sejenak di ruangan kantor pabrik.
"Hmmm?" Yunho menyentuhkan kaleng minuman dingin ke dahinya.
"Kapan kau kembali ke Jepang?" Jaejoong berusaha bicara sewajarnya tetapi tahu ia tidak berhasil ketika Yunho menurunkan kaleng minuman dan menatapnya tajam.
Yunho menyeruput minumannya. "Ingin menjauhkan diri dariku?" Yunho menggoda.
Sorot mata Jaejoong memancarkan binar-binar cinta. "Tentu saja tidak," sahut Jaejoong tenang. "Aku hanya ingin tahu mengapa kau melakukan semua ini di pabrik ini. Aku kan mendapat gaji, tetapi tak ada alasan bagimu untuk menghabiskan waktu dan tenagamu di sini."
Yunho meletakkan kaleng minumannya di meja, di tumpukan majaJah bisnis lama. Sambil berdiri, pria itu menggeliat dan berjalan ke jendela, tempat ia biasa memerhatikan para pekerja menurunkan bahan bangunan dari truk. "Pabrik ini punya arti besar bagiku, terlepas dari suka atau tidak suka aboji padaku. Aku tidak mendapat keuntungan finansial darinya, gara-gara surat wasiatnya, tetapi pabrik ini tetap sangat menarik minatku. Pabrik ini milik keluarga eommaku sebelum aboji mengambil alih dan menjadikannya miliknya. Karena ini bagian dari warisan keluargaku dan membawa namaku, aku harus peduli padanya. Andai alasan-alasan itu tidak cukup kuat, anggap saja aku melindungi warisan adik perempuanku."
"Saranghae bear."
Yunho berbalik menghadap ke arah Jaejoong seketika. Ungkapannya tak terduga dan tampaknya tak ada kaitan dengan bahan pembicaraan sebelumnya. "Wae? Maksudku, apa yang membuatmu mengatakan itu sekarang?"
"Karena, andai situasi ini menimpa laki-laki lain, ia pasti sudah meninggalkan tempat ini sejak lama, karena perasaan pedih dan marah mengalami situasi di sini."
"Itulah yang diinginkan aboji. Tetapi sekarang, aku tidak mau terperangkap siasatnya."
"Itulah alasan satu-satunya kau masih di sini, untuk menantang Siwon?"
Yunho tersenyum dan mendekati Jaejoong. Yunho menarik tangan Jaejoong, mendorongnya ke sudut, di antara dinding dan lemari arsip. Ruangan sempit itu cukup untuk membuat mereka terhindar dari pandangan orang yang tiba-tiba masuk ke ruangan. "Kau tak ada sangkut pautnya dengan keberadaanku di sini," kata Yunho, dan mulai menciumi Jaejoong.
Yunho terasa asin. Ia mandi keringat. Ia benar-benar laki-laki sejati. Jaejoong menyukai sifat jantannya. Feminitasnya bereaksi terhadap kejantanan Yunho. Sambil merapat, Jaejoong menekankan tubuhnya yang penuh gairah ke tubuh pria itu. Yunho mendaratkan ciuman di leher Jaejoong, hendak menggigit dan menggelitiknya. Tangannya menggenggam payudara Jaejoong dan mengelus-elusnya.
"Kau tak boleh bebas seperti ini," gumam Jaejoong. "Aku atasannya."
"Bukan atasanku. Secara hukum, aku tidak bekerja untuk perusahaan ini, ingat?"
Jaejoong mengerang pelan ketika jari-jari Yunho mempermainkan payudaranya dari balik blus. Sambil menunduk, Yunho membuka kancing blus Jaejoong yang paling atas dengan giginya, kemudian bibirnya dengan panas menikmati bagian hangat di balik blus tersebut. "Tetapi aku tetap punya hak mengontrol hal tertentu," kata Jaejoong dengan napas tersengal.
"Tidak diriku, kau tidak berhak." Tangan Jaejoong menyelinap ke balik celana jins Yunho dan menekan bagian keras di situ. "Arra. Nan gotjimal," kata Yunho dengan suara parau. "Kau punya hak penuh untuk mengontrol segalanya."
.
.
.
.
.
To Be Continue

5 comments:

  1. Wew...jae udh mulai berani...12 th dipaksa pisah sm org tercinta, gilaa bnr nih karakter siwon disini, raja tega!

    ReplyDelete
  2. Aaaaaaaaaaaaaaaaa ><
    Saya ngebut baca dari awal :3
    Request encehnya KyuMin dong :3
    Penasaran si polos ming ehem ehem ama si Kyu xD

    YunJae hot pake banget dah, saya ampe basah bacanya :D
    Keep writing, Saki-ssi :)
    Saya penggemarmu :D

    ReplyDelete
  3. Waaaahh tiada hari tanpa Sex.. Full sama lovey dovey nya yunjae.. Puas aku

    ReplyDelete
  4. yunjaeddiction8:08 AM

    tipikal yunjae.. pantang menyia-yiakan waktu dan tempat. genjot terus..
    huahhh sungmin.. bener2 polos ~_~
    haha tolong kasih boa seseorang jg donk. biar ga kedinginan kl malam #plak

    ReplyDelete
  5. Anonymous10:36 PM

    Iye..kasih dah abang kangta...hahahha

    ReplyDelete