"Tidak, aku tidak ingin meyakinkanmu soal itu. Kurasa, ia ingin melakukannya pada malam pengantin kami." Jaejoong memejamkan mata dan tubuhnya gemetar. "Ia masuk ke kamar ini. Waktu itu aku tidak tahu bagaimana menjalaninya, karena aku masih mencintaimu."
aejoong meletakkan
tangan Yunho ke pipinya, seperti orang linglung ia menggosok-gosokkan punggung
jari-jari Yunho ke pipinya. "Tetapi aku telah membuat kesepakatan dan
berniat menjalaninya."
Jaejoong terdiam. Yunho
menatap langit-langit, tidak ingin sedikit pun membayangkan Jaejoong berada di
tempat yang sama, menghirup udara yang sama dengan bandit tua itu. "Apa
yang terjadi kemudian, Jae?"
"Ia menciumku
beberapa kali. Hanya itu. Kemudian ia meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun.
Aku bingung. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Baru beberapa hari kemudian
aku tahu, waktu itu ia sedang sakit. Aku melihat hal-hal yang tak mungkin dapat
kulihat sehari hari bila tidak tinggal bersamanya. Ia menelan sejumlah obat
sakit perut, obat-obat seperti itulah.
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
"Aku sadar ketika
ia tidak datang ke kamarku lagi, ia rupanya impoten dan itu akibat penyakit di
perutnya. Tentu saja aku tahu pasti fakta itu sekarang. Kami tidak pernah
membicarakannya. Egonya pasti hancur bila ia mencoba dan ternyata gagal. Kami
hidup secara platonis."
Setelah diam sejenak, Yunho
bertanya, "Terpikirkah kau untuk menceritakan semua itu padaku?"
"Maksudmu, supaya
kita tidak membencinya? Entahlah, Yunho. Aku sendiri menanyakannya pada diriku
setiap hari. Mengapa aku tidak mengatakannya padamu dan mengakhirinya?" Jaejoong
menelusuri hidung Yunho dengan jari. "Aku juga punya harga diri. Aku ingin
kau mencintaiku lebih daripada apa pun."
"Cinta sekali. Aku
sangat menginginkanmu. Tetapi setiap kali aku membayangkan dirimu dan laki-laki
itu, aku...."
"Ssst," ujar Jaejoong,
menghentikan kata-kata Yunho dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir pria
itu. "Arra. Aku tahu siksaan yang harus kau tanggung."
"Kau tahu apa yang
ia katakan padaku setelah kau meninggalkan kamar rumah sakit di hari ia
meninggal?" Jaejoong menggeleng.
"Aku mengatakan
padamu ia meninggalkan warisan. Inilah warisannya. Siwon bilang aku takkan
pernah bisa memilikimu karena harga diriku takkan membiarkan aku melakukan hal
itu." Mata Yunho penuh cinta menatap Jaejoong, dan bibirnya bergerak, menyunggingkan
senyum. "Ia keliru, bukan? la tidak mengira cintaku sedemikian besar padamu."
Yunho mengelus wajah Jaejoong. "Kemudian ia mengatakan aku harus selalu
ingat kau sudah jadi istrinya, bahwa dialah yang memilikimu pertama kali."
Jaejoong menatap Yunho,
terkejut. "Maksudmu, ia dengan sengaja membuat kesan agar kau percaya
bahwa...."
"Ya."
"Oh, Yunnie." Jaejoong
mencium pipi Yunho dengan lembut dan menepiskan rambut yang jatuh di atas
alisnya. "Kukira, kau hanya mengira-ngira, tidak kusangka ia benar-benar
ingin kau memercayainya."
Yunho tertawa sinis.
"Ia kenal benar diriku. Hampir saja ia berhasil memisahkan kita."
"Aku senang kita
tidak berpisah."
"Oh, Tuhan,"
gumam Yunho, "begitu pun aku."
Diputar-putarnya
sejumput rambut Jaejoong. "Kalau kuingat detik-detik yang sangat
menyiksaku itu. Kubayangkan dirimu bersama dia, hatiku sakit sekali. Ternyata,
kau tetap orang yang sama." Yunho menyentuh bibir Jaejoong. "BooJae,
kekasih yang kukenal di suatu musim panas di pinggir hutan. Tetap sama. Selalu
sama." Yunho menarik tubuh Jaejoong dan menciuminya sampai mereka berdua
kehabisan napas. "Tetap sama, tapi tidak serupa."
Melihat air muka Yunho
yang melembut, Jaejoong menangkap kesan Yunho menganggap pernikahannya dengan Siwon
sudah berakhir. "Tidak serupa? Bagaimana bisa?" tanya Jaejoong nakal,
sambil menekuk lutut dan menjulurkan kaki ke udara. Dijulurkannya kakinya
seperti penari balet. Yunho memerhatikannya. Kaki itu indah sekali, ramping,
panjang. Kuku kakinya dipoles cat kuku warna cokelat muda Yunho membayangkan
hal-hal yang erotik melihat ibu jari tersebut.
Yunho menanggapi godaan Jaejoong.
"Misalnya...." Yunho menyelipkan tangannya ke bawah tubuh Jaejoong.
"Payudaramu." Ia memegang salah satunya dan meremasnya.
"Kenapa dengan
payudaraku?"
"Lebih besar."
Ia menggelitik puncaknya.
"Ada yang
lain?"
"Kau lebih lembut,
lebih berisi, lebih dewasa, tetapi sikapmu tetap malu-malu seperti yeoja
remaja. Kau seperti yang kukhayalkan selama bertahun-tahun. Bahkan lebih."
"Kau kecewa?"
Yunho menelusuri tulang
leher Jaejoong dengan lidah lalu menciumi lekuk payudaranya. "Tidak, oh,
tidak." Yunho melirik Jaejoong. Sorot matanya penuh penyesalan.
"Tetapi aku takut kau berubah."
"Tidak akan pernah,
Jung Yunho," Jaejoong mencium alis Yunho. "Tidak akan pernah."
"Tetapi kau
tidak... kau tahu. Yang ditulis di majalah-majalah perempuan."
Tiga jari Jaejoong
mempermainkan bibir Yunho. "Itu sama sekali bukan masalah bagiku. Aku
sudah merasakan milikmu. Aku melihatnya, merasakannya di dalam tubuhku, tahu
bagaimana rasanya ketika bersamamu. Aku ingin melihat kau mencintaiku."
Tangan Yunho erat
mendekap tubuh Jaejoong. "Aku sangat mencintaimu, kau tahu itu.
Mencintaimu. Tingkahku seperti bajingan beberapa minggu ini, mencemoohmu,
menyakitimu. Semakin aku mencintaimu, semakin buruk kelakuanku."
Sambil tertawa kecil, Jaejoong
merebahkan kepala di dada Yunho dan meletakkan tangannya di bagian bawah perut
laki-laki itu. "Kau memang menyakitiku kadang-kadang. Tetapi aku tahu apa
sebabnya. Dan aku memaafkanmu. Aku mencintaimu. Saranghae Yunnie"
Yunho memegang tangan Jaejoong
dan menurunkannya. "Keberatan?"
Jaejoong menggenggam
tubuh Yunho. "Sama sekali tidak. Aku juga suka menyentuh tubuhmu.
Tangan Yunho langsung ke
dada Jaejoong dan mengelusnya. "Ayo tidur sebentar."
"Kau ingin
tidur?"
"Tidak juga. Tetapi
aku ingin kau di sampingku ketika aku bangun."
Hari menjelang petang
ketika mereka berdua turun. Sambil bergandengan, saling tersenyum, mereka tidak
melihat Sungmin dan Kyuhyun sampai tiba di teras rumah.
"Kyu ingin bicara
denganmu, oppa," Sungmin memberitahu. Tingkah Sungmin seperti gadis kecil
yang tidak sabar hendak membuka kado ulang tahunnya. Matanya berbinar-binar. Ia
kelihatan resah.
Yunho menatapnya dulu,
kemudian Kyuhyun, yang dengan gelisah memutar-mutar topi jeraminya. "Jaejoong
dan aku sudah lapar sekali. Bisakah kita membicarakannya setelah makan
siang?"
"Ya."
"Tidak."
Mereka menjawab serentak.
Jaejoong, menangkap apa
yang ada di benak Kyuhyun, menyela dengan diplomatis. "Aku yakin akan
lebih baik bila kita bicara setelah makan siang." Sambil memandang mesra Yunho,
Jaejoong melepaskan gandengan tangannya dan menghampiri Sungmin. "Apa Boa
sudah menyiapkannya?" Diajaknya gadis itu ke ruang makan. "Apa yang
akan disampaikan Kyuhyun kepada Yunho?" tanya Jaejoong lembut.
"Kami akan
menikah," Sungmin menjawab.
"Kalau begitu,
kusarankan kita menunggunya sampai Yunho mengisi perut." Jaejoong
menggenggam tangan Sungmin, memberi dukungan.
Ketika makan siang, Boa
membawa telepon nirkabel ke ruang makan. "Dari polisi."
Polisi menelepon hendak
memberitahu mereka sudah menangkap orang-orang yang membakar pabrik. Salah
seorang di antaranya adalah yang menelepon Changmin dan memperingatkannya soal
kebakaran. Ia mengaku sakit hati dan menghasut yang lain. "Tak ada gunanya
mereka mengaku tidak bersalah. Aku tahu, kami sudah mendapat pengakuan resmi
dari tiga orang lainnya menjelang makan malam."
"Terima kasih, pak.
Tetapi usahakan keluarga mereka tetap aman, terjamin makan, sewa, apa pun
kebutuhan mereka selama beberapa bulan. Kirimkan tagihannya kepada saya."
Yunho meletakkan telepon
dan menyampaikan berita itu kepada yang lain. Begitu acara makan selesai, meja
langsung dibereskan, Sungmin dengan gembira meminta semua orang ke ruang baca.
"Ayo, Kyu," katanya sambil menyenggol Kyuhyun.
Kyuhyun menelan ludah.
"Yunho, dengan restumu, aku ingin menikahi Sungmin."
Tanpa menunjukkan perasaannya
tentang permintaan itu, Yunho duduk di kursi kulit di belakang meja lebar. Ia
menyeruput es teh yang dibawanya dari ruang makan. "Dan bila aku tidak
merestui?"
Mata Kyuhyun tidak
menunjukkan keraguan sedikit pun. "Aku akan tetap menikahinya."
Yunho menatap Kyuhyun
lama, suasana tegang. Tak satu pun mengalihkan pandangan. Akhirnya Yunho
berkata, "Sayang, maafkan, kami ingin bicara empat mata. Dan, Jae, tolong
tutup pintu itu.
.
.
.
"Bagaimana kau tahu
aku ada di sini?"
"Naluri." Ia
menepis ranting pohon cemara dan berjalan ke arah tempat terbuka. Jaejoong
duduk di bawah pohon, sebuah buku tergeletak di pangkuannya. Ia belum selesai
membacanya, matanya tertuju ke depan, melihat Yunho muncul di antara pepohonan.
Yunho berjalan ke dekat pohon, meletakkan tangannya di batang pohon, menatap Jaejoong
yang mendongakkan wajah. "Tidak tahukah kau, berbahaya bagimu berada di
hutan sendirian?"
"Wae? Ini
hutanku."
"Tetapi pemerkosa
bisa muncul dan memperkosamu."
"Itulah yang
kumau."
Sambil tertawa, Yunho
duduk di sisinya dan memeluknya. Beberapa kali Yunho mengecup wajah Jaejoong,
menekankan bibirnya, menyiratkan kepemilikannya atas Jaejoong. Jaejoong
membiarkan pria itu melakukannya beberapa saat, baru kemudian mendorongnya.
"Tunggu. Pertama, aku ingin tahu apa yang kaukatakan pada Kyuhyun."
"Kukatakan padanya,
bila ia sekali saja menyakiti Sungmin, aku akan membunuhnya."
"Kau tidak boleh
begitu!"
Yunho mengangkat bahu
dan tersenyum jail. "Yah, aku mengatakannya dengan baik-baik."
"Tetapi kau setuju
mereka menikah?"
"Ya, aku
setuju," jawab Yunho.
Jaejoong mendekap Yunho
erat-erat. "Yunho, aku bahagia sekali."
Yunho agak menjauhkan
diri, menatap Jaejoong. "Oya? Kau rasa itu yang terbaik untuk Sungmin.
"Ya, aku yakin. Sungmin
sangat mencintainya. Dan kau tidak perlu khawatir Kyuhyun menyakitinya. Kyuhyun
sangat memuja Sungmin. Kyuhyun tak pernah menyinggung soal masa lalunya, tetapi
aku yakin itu masa yang sangat tidak menyenangkan. Waktu perang, ia kehilangan
kaki. Aku yakin sosok Sungmin bagai peri baginya. Kyuhyun hampir tak tahan
untuk tidak menyentuhnya."
"Kelihatannya ia
juga orang yang tulus," kata Yunho. "Aku mengajukan syarat bahwa Sungmin
harus tetap tinggal di rumah ini. Aku tidak yakin Sungmin bisa betah tinggal di
rumah lain. Kyuhyun setuju, tetapi ia minta diberi tanggung jawab lebih. Ia
tidak mau dianggap menikahi Sungmin karena harta warisannya, dan ia hanya
karyawan biasa."
"Itu yang aku
harapkan darinya. Ia bekerja lebih keras dibandingkan yang lain, padahal ia
cacat.”
"Itu sudah
karakternya. Ia bilang padaku, atau mungkin memperingatkan aku, itu kata yang
lebih baik, bahwa pernikahan mereka tulus." Alisnya berkerut.
"Menurutmu, Sungmin bisa tidur dengan namja?"
Jaejoong tertawa dan
membenamkan hidungnya ke leher Yunho. "Aku malah punya kesan Sungmin mengejar-ngejar
Kyuhyun berbulan-bulan lamanya. Justru Kyuhyun yang mencoba menjauh demi
kebaikannya."
"Tetapi apakah Sungmin
mengerti tanggung jawab yang berkaitan dengan seks?"
"Yunnie."
Sambil meletakkan tangan di pipi Yunho dan meminta seluruh perhatiannya, Jaejoong
berkata, "Sungmin dilahirkan dengan kekurangan dalam hal belajar. Tetapi
emosi dan tubuhnya tetap perempuan. Tak ada yang bisa menghapus kebutuhan
biologis, juga kebutuhan akan makanan atau udara. Sungmin pasti lebih bahagia
daripada hari-hari sebelumnya. Kyuhyun sangat mencintainya. Ia akan mengasihi Sungmin.
Mereka bisa mengatasi masalah di antara mereka."
Jaejoong melihat
ketegangan Yunho menyurut, air mukanya tampak lebih santai. Hal itu menyulut
rasa ingin tahu Jaejoong, tentang seberapa jauh Yunho menghargai pendapatnya.
"Bagaimana
denganmu?"
"Aku?" tanya Jaejoong.
"Bagaimana dengan
kebutuhanmu selama bertahun-tahun belakangan itu, apa yang kaulakukan pada
dirimu?"
"Aku hidup dalam
kenangan dan mimpi. Kenangan akan dirimu di tempat ini. Mimpi yang kutahu
takkan pernah terwujud."
Yunho duduk di rumput
yang lembut bersama Jaejoong dan membuka kancing blus wanita itu. "Kau
memikirkan aku?"
"Setiap hari.
Setiap jam. Meskipun tak pernah bisa berjumpa denganmu lagi, aku akan
mengingatmu sampai ajal menjemputku."
Sesaat Yunho memejamkan
mata, meresapi kata-kata Jaejoong. Ketika membuka mata, ia menatap Jaejoong
dengan sorot berbinar-binar. "Aku mendengar suara guntur. Atau itu suara
debar jantungku?"
Jaejoong tersenyum. Ia
pernah mengatakan hal itu suatu ketika dulu. "Guntur. Sebentar lagi hujan
turun."
"Kau takut?"
"Aku lebih suka
hujan."
"Sayangku, oh, BooJae,"
bisik Yunho di mulut Jaejoong. "Oh, Tuhan, aku cinta padamu."
Jaejoong menolong Yunho
melepas kemejanya. Yunho berdiri dan Jaejoong seperti penonton yang sudah tidak
tahan hendak membuka ikat pinggang Yunho, membuka ritsleting celananya, dan
melepaskannya. Yunho memegang celana dalam biru mudanya, lalu meloloskannya.
Tanpa pakaian selembar
pun. Di bawah cahaya malam, deru hujan, tubuhnya berdiri tegak seperti ma-nusia
purba. Apalagi ketika melihat titik hujan jatuh menerpa kulitnya yang
kecokelatan.
Sambil berlutut di
samping Jaejoong, Yunho menariknya duduk ke sisinya, membuka blusnya. Bra Jaejoong
berenda cantik, sangat berbeda dengan bra yang dipakainya beberapa tahun yang
lalu. Yunho menyentuh payudara Jaejoong yang berbalut bahan sutra.
"Lihat akibat
perbuatanmu," kata Jaejoong ketika melepas branya setelah Yunho membuka
pengaitnya. "Kau tidak malu pada dirimu sendiri?"
"Ya," jawab Yunho
dengan menyesal, tetapi wajahnya sama sekali tak menampakkan penyesalan.
Yunho membuka kancing
rok Jaejoong dan melepaskannya, membiarkan tubuh Jaejoong hanya terbalut celana
dalam. Kemudian ia membungkuk untuk melepaskan tali sepatu sandal yang dipakai Jaejoong,
yang melingkari kakinya yang indah. Ketika sandal sudah terlepas, Yunho
mengeluselus dan memijat kakinya. Jaejoong memiringkan badan, menopang tubuh
dengan siku. Ia memerhatikan apa yang dibuat Yunho dengan bahagia. Tetapi
ketika Yunho menunduk dan mencium ujung ibu jari kakinya, ia tergetar karena
bergairah.
"Yunho," gumam
Jaejoong lembut, dan merebahkan tubuh di rerumputan yang hijau.
Yunho menindih tubuh Jaejoong.
Jaejoong merenggut rambut Yunho yang basah ketika pria itu menciuminya dengan
panas. Yunho menikmati bibir Jaejoong seperti orang yang tengah me-makan buah
yang lezat. Kemudian, selembut titik hujan, bibirnya menciumi pipinya, berhenti
di daun telinganya. Lidah Yunho mempermainkan lubang telinganya. Diciuminya
leher dan dadanya.
Titik-titik hujan jatuh
menimpa dada Jaejoong, membuat bagian itu mengilap. Yunho menyeruput
titik-titik air tersebut. Bibir Yunho terasa hangat di kulitnya yang dingin
ketika laki-laki tersebut menciumi payudaranya. "Aku tak pernah lupa
bagaimana rasanya dirimu. Tidak pernah."
Jaejoong menggeliat di
bawah tubuh Yunho, bergoyang, mencengkeram kejantanan Yunho. Me-reka memang
pasangan yang serasi, napas mereka melayang ke udara. Yunho mengelus bagian
yang diinginkan Jaejoong tapi tidak diungkapkannya. Jaejoong menggumamkan nama Yunho
dengan lirih.
"Jangan dulu,"
ujar Yunho dengan suara gemetar di atas perut Jaejoong. 'Yang ini
untukmu."
Yunho bergerak makin ke
bawah, menghujani rusuk Jaejoong dengan ciuman. Bibirnya terus bergerak turun
sampai pusar, menciumi bagian itu, membuat Jaejoong menggeliat dan mengerang.
Beberapa kali Yunho memasukkan ujung lidahnya ke dalam pusar Jaejoong.
Kemudian, menggunakan hidung dan dagunya, ia menurunkan celana dalam Jaejoong
sampai ke kaki, baru melepaskannya dengan menggunakan kakinya.
Jaejoong merasa hampir
hancur berkeping-keping karena menahan tekanan gairah di dalam tubuhnya. Ia
merasa tidak mampu menahan lebih lama lagi. Tetapi Yunho baru saja mulai. Bibir
pria itu menciumi bagian bawah tubuhnya, mengembuskan napas di situ.
"Yunho...."
Panggilannya tenggelam di antara bibirnya yang gemetar ketika mencengkeram
rambut Yunho.
Dengan lembut tangan Yunho
membetulkan posisi Jaejoong, menyentuhnya. Tapi Jaejoong tidak siap menerima
ciuman manis Yunho di bagian tubuhnya itu. Bibirnya yang penuh cinta, lidahnya
yang terus menggoda, melambungkan Jaejoong ke puncak kenikmatan dunia, yang
merampas semua akal sehatnya. Yunho terus membangkitkan gairah Jaejoong, sampai
wanita itu merasa seluruh tubuhnya seperti hendak meledak. Yunho telah membangunkan
gunung berapi di dalam tubuh Jaejoong. Ketika merasa gunung itu hendak
memuntahkan laharnya, Yunho segera menindihnya.
Tangan yang mencengkeram
pahanya, kaki Jaejoong yang menjepit pahanya, kata-kata cinta yang meluncur
keluar dari bibir wanita itu, makin membangkitkan hasrat Yunho. Tubuhnya tak
menyisakan kesempatan untuk hal lain, kecuali mendorong tubuhnya untuk bergerak
makin cepat, sampai akhirnya mereka merasa tubuh mereka seperti meledak dan
bermandikan titik-titik cahaya yang terang benderang.
Setelah mereka berhasil
mencapai puncak, kembali ke dunia nyata, titik-titik cahaya pun meredup. Mereka
kembali berada di dunia yang remang-remang dan berkabut. Mereka terselu-bung
kabut warna keperakan yang melingkupi hati dan pikiran mereka beberapa saat
yang lalu. Dan tubuh mereka yang masih berpaut itu ber-mandikan air hujan yang
turun membasahi bumi.
.
.
.
.
To Be Continue

hoaaaahhh kyumin mau nikah!!! chukhahae :)
ReplyDeleteyunjae.. cie cie..
di hutan nie yeh..jd inget masa lalu ^^
Aigoooo
ReplyDeleteehem..hutan.ehem *tutup mata*
ReplyDeleteUdah deh sekalinya mereka pasrah sama gejolak masing-masing, tiada hari tanpa sesuatu yg panas untuk hari-hari berikutnya
ReplyDeleteYun kan rajin nabung ke Jae haha