Friday, February 21

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 24


"Tidak, aku tidak ingin meyakinkanmu soal itu. Kurasa, ia ingin melakukannya pada malam pengantin kami." Jaejoong memejamkan mata dan tubuhnya gemetar. "Ia masuk ke kamar ini. Waktu itu aku tidak tahu bagaimana menjalaninya, karena aku masih mencintaimu."
aejoong meletakkan tangan Yunho ke pipinya, seperti orang linglung ia menggosok-gosokkan punggung jari-jari Yunho ke pipinya. "Tetapi aku telah membuat kesepakatan dan berniat menjalaninya."
Jaejoong terdiam. Yunho menatap langit-langit, tidak ingin sedikit pun membayangkan Jaejoong berada di tempat yang sama, menghirup udara yang sama dengan bandit tua itu. "Apa yang terjadi kemudian, Jae?"
"Ia menciumku beberapa kali. Hanya itu. Kemudian ia meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun. Aku bingung. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Baru beberapa hari kemudian aku tahu, waktu itu ia sedang sakit. Aku melihat hal-hal yang tak mungkin dapat kulihat sehari hari bila tidak tinggal bersamanya. Ia menelan sejumlah obat sakit perut, obat-obat seperti itulah.

.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.

"Aku sadar ketika ia tidak datang ke kamarku lagi, ia rupanya impoten dan itu akibat penyakit di perutnya. Tentu saja aku tahu pasti fakta itu sekarang. Kami tidak pernah membicarakannya. Egonya pasti hancur bila ia mencoba dan ternyata gagal. Kami hidup secara platonis."
Setelah diam sejenak, Yunho bertanya, "Terpikirkah kau untuk menceritakan semua itu padaku?"
"Maksudmu, supaya kita tidak membencinya? Entahlah, Yunho. Aku sendiri menanyakannya pada diriku setiap hari. Mengapa aku tidak mengatakannya padamu dan mengakhirinya?" Jaejoong menelusuri hidung Yunho dengan jari. "Aku juga punya harga diri. Aku ingin kau mencintaiku lebih daripada apa pun."
"Cinta sekali. Aku sangat menginginkanmu. Tetapi setiap kali aku membayangkan dirimu dan laki-laki itu, aku...."
"Ssst," ujar Jaejoong, menghentikan kata-kata Yunho dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu. "Arra. Aku tahu siksaan yang harus kau tanggung."
"Kau tahu apa yang ia katakan padaku setelah kau meninggalkan kamar rumah sakit di hari ia meninggal?" Jaejoong menggeleng.
"Aku mengatakan padamu ia meninggalkan warisan. Inilah warisannya. Siwon bilang aku takkan pernah bisa memilikimu karena harga diriku takkan membiarkan aku melakukan hal itu." Mata Yunho penuh cinta menatap Jaejoong, dan bibirnya bergerak, menyunggingkan senyum. "Ia keliru, bukan? la tidak mengira cintaku sedemikian besar padamu." Yunho mengelus wajah Jaejoong. "Kemudian ia mengatakan aku harus selalu ingat kau sudah jadi istrinya, bahwa dialah yang memilikimu pertama kali."
Jaejoong menatap Yunho, terkejut. "Maksudmu, ia dengan sengaja membuat kesan agar kau percaya bahwa...."
"Ya."
"Oh, Yunnie." Jaejoong mencium pipi Yunho dengan lembut dan menepiskan rambut yang jatuh di atas alisnya. "Kukira, kau hanya mengira-ngira, tidak kusangka ia benar-benar ingin kau memercayainya."
Yunho tertawa sinis. "Ia kenal benar diriku. Hampir saja ia berhasil memisahkan kita."
"Aku senang kita tidak berpisah."
"Oh, Tuhan," gumam Yunho, "begitu pun aku."
Diputar-putarnya sejumput rambut Jaejoong. "Kalau kuingat detik-detik yang sangat menyiksaku itu. Kubayangkan dirimu bersama dia, hatiku sakit sekali. Ternyata, kau tetap orang yang sama." Yunho menyentuh bibir Jaejoong. "BooJae, kekasih yang kukenal di suatu musim panas di pinggir hutan. Tetap sama. Selalu sama." Yunho menarik tubuh Jaejoong dan menciuminya sampai mereka berdua kehabisan napas. "Tetap sama, tapi tidak serupa."
Melihat air muka Yunho yang melembut, Jaejoong menangkap kesan Yunho menganggap pernikahannya dengan Siwon sudah berakhir. "Tidak serupa? Bagaimana bisa?" tanya Jaejoong nakal, sambil menekuk lutut dan menjulurkan kaki ke udara. Dijulurkannya kakinya seperti penari balet. Yunho memerhatikannya. Kaki itu indah sekali, ramping, panjang. Kuku kakinya dipoles cat kuku warna cokelat muda Yunho membayangkan hal-hal yang erotik melihat ibu jari tersebut.
Yunho menanggapi godaan Jaejoong. "Misalnya...." Yunho menyelipkan tangannya ke bawah tubuh Jaejoong. "Payudaramu." Ia memegang salah satunya dan meremasnya.
"Kenapa dengan payudaraku?"
"Lebih besar." Ia menggelitik puncaknya.
"Ada yang lain?"
"Kau lebih lembut, lebih berisi, lebih dewasa, tetapi sikapmu tetap malu-malu seperti yeoja remaja. Kau seperti yang kukhayalkan selama bertahun-tahun. Bahkan lebih."
"Kau kecewa?"
Yunho menelusuri tulang leher Jaejoong dengan lidah lalu menciumi lekuk payudaranya. "Tidak, oh, tidak." Yunho melirik Jaejoong. Sorot matanya penuh penyesalan. "Tetapi aku takut kau berubah."
"Tidak akan pernah, Jung Yunho," Jaejoong mencium alis Yunho. "Tidak akan pernah."
"Tetapi kau tidak... kau tahu. Yang ditulis di majalah-majalah perempuan."
Tiga jari Jaejoong mempermainkan bibir Yunho. "Itu sama sekali bukan masalah bagiku. Aku sudah merasakan milikmu. Aku melihatnya, merasakannya di dalam tubuhku, tahu bagaimana rasanya ketika bersamamu. Aku ingin melihat kau mencintaiku."
Tangan Yunho erat mendekap tubuh Jaejoong. "Aku sangat mencintaimu, kau tahu itu. Mencintaimu. Tingkahku seperti bajingan beberapa minggu ini, mencemoohmu, menyakitimu. Semakin aku mencintaimu, semakin buruk kelakuanku."
Sambil tertawa kecil, Jaejoong merebahkan kepala di dada Yunho dan meletakkan tangannya di bagian bawah perut laki-laki itu. "Kau memang menyakitiku kadang-kadang. Tetapi aku tahu apa sebabnya. Dan aku memaafkanmu. Aku mencintaimu. Saranghae Yunnie"
Yunho memegang tangan Jaejoong dan menurunkannya. "Keberatan?"
Jaejoong menggenggam tubuh Yunho. "Sama sekali tidak. Aku juga suka menyentuh tubuhmu.
Tangan Yunho langsung ke dada Jaejoong dan mengelusnya. "Ayo tidur sebentar."
"Kau ingin tidur?"
"Tidak juga. Tetapi aku ingin kau di sampingku ketika aku bangun."
Hari menjelang petang ketika mereka berdua turun. Sambil bergandengan, saling tersenyum, mereka tidak melihat Sungmin dan Kyuhyun sampai tiba di teras rumah.
"Kyu ingin bicara denganmu, oppa," Sungmin memberitahu. Tingkah Sungmin seperti gadis kecil yang tidak sabar hendak membuka kado ulang tahunnya. Matanya berbinar-binar. Ia kelihatan resah.
Yunho menatapnya dulu, kemudian Kyuhyun, yang dengan gelisah memutar-mutar topi jeraminya. "Jaejoong dan aku sudah lapar sekali. Bisakah kita membicarakannya setelah makan siang?"
"Ya."
"Tidak." Mereka menjawab serentak.
Jaejoong, menangkap apa yang ada di benak Kyuhyun, menyela dengan diplomatis. "Aku yakin akan lebih baik bila kita bicara setelah makan siang." Sambil memandang mesra Yunho, Jaejoong melepaskan gandengan tangannya dan menghampiri Sungmin. "Apa Boa sudah menyiapkannya?" Diajaknya gadis itu ke ruang makan. "Apa yang akan disampaikan Kyuhyun kepada Yunho?" tanya Jaejoong lembut.
"Kami akan menikah," Sungmin menjawab.
"Kalau begitu, kusarankan kita menunggunya sampai Yunho mengisi perut." Jaejoong menggenggam tangan Sungmin, memberi dukungan.
Ketika makan siang, Boa membawa telepon nirkabel ke ruang makan. "Dari polisi."
Polisi menelepon hendak memberitahu mereka sudah menangkap orang-orang yang membakar pabrik. Salah seorang di antaranya adalah yang menelepon Changmin dan memperingatkannya soal kebakaran. Ia mengaku sakit hati dan menghasut yang lain. "Tak ada gunanya mereka mengaku tidak bersalah. Aku tahu, kami sudah mendapat pengakuan resmi dari tiga orang lainnya menjelang makan malam."
"Terima kasih, pak. Tetapi usahakan keluarga mereka tetap aman, terjamin makan, sewa, apa pun kebutuhan mereka selama beberapa bulan. Kirimkan tagihannya kepada saya."
Yunho meletakkan telepon dan menyampaikan berita itu kepada yang lain. Begitu acara makan selesai, meja langsung dibereskan, Sungmin dengan gembira meminta semua orang ke ruang baca. "Ayo, Kyu," katanya sambil menyenggol Kyuhyun.
Kyuhyun menelan ludah. "Yunho, dengan restumu, aku ingin menikahi Sungmin."
Tanpa menunjukkan perasaannya tentang permintaan itu, Yunho duduk di kursi kulit di belakang meja lebar. Ia menyeruput es teh yang dibawanya dari ruang makan. "Dan bila aku tidak merestui?"
Mata Kyuhyun tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. "Aku akan tetap menikahinya."
Yunho menatap Kyuhyun lama, suasana tegang. Tak satu pun mengalihkan pandangan. Akhirnya Yunho berkata, "Sayang, maafkan, kami ingin bicara empat mata. Dan, Jae, tolong tutup pintu itu.
.
.
.
"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"
"Naluri." Ia menepis ranting pohon cemara dan berjalan ke arah tempat terbuka. Jaejoong duduk di bawah pohon, sebuah buku tergeletak di pangkuannya. Ia belum selesai membacanya, matanya tertuju ke depan, melihat Yunho muncul di antara pepohonan. Yunho berjalan ke dekat pohon, meletakkan tangannya di batang pohon, menatap Jaejoong yang mendongakkan wajah. "Tidak tahukah kau, berbahaya bagimu berada di hutan sendirian?"
"Wae? Ini hutanku."
"Tetapi pemerkosa bisa muncul dan memperkosamu."
"Itulah yang kumau."
Sambil tertawa, Yunho duduk di sisinya dan memeluknya. Beberapa kali Yunho mengecup wajah Jaejoong, menekankan bibirnya, menyiratkan kepemilikannya atas Jaejoong. Jaejoong membiarkan pria itu melakukannya beberapa saat, baru kemudian mendorongnya. "Tunggu. Pertama, aku ingin tahu apa yang kaukatakan pada Kyuhyun."
"Kukatakan padanya, bila ia sekali saja menyakiti Sungmin, aku akan membunuhnya."
"Kau tidak boleh begitu!"
Yunho mengangkat bahu dan tersenyum jail. "Yah, aku mengatakannya dengan baik-baik."
"Tetapi kau setuju mereka menikah?"
"Ya, aku setuju," jawab Yunho.
Jaejoong mendekap Yunho erat-erat. "Yunho, aku bahagia sekali."
Yunho agak menjauhkan diri, menatap Jaejoong. "Oya? Kau rasa itu yang terbaik untuk Sungmin.
"Ya, aku yakin. Sungmin sangat mencintainya. Dan kau tidak perlu khawatir Kyuhyun menyakitinya. Kyuhyun sangat memuja Sungmin. Kyuhyun tak pernah menyinggung soal masa lalunya, tetapi aku yakin itu masa yang sangat tidak menyenangkan. Waktu perang, ia kehilangan kaki. Aku yakin sosok Sungmin bagai peri baginya. Kyuhyun hampir tak tahan untuk tidak menyentuhnya."
"Kelihatannya ia juga orang yang tulus," kata Yunho. "Aku mengajukan syarat bahwa Sungmin harus tetap tinggal di rumah ini. Aku tidak yakin Sungmin bisa betah tinggal di rumah lain. Kyuhyun setuju, tetapi ia minta diberi tanggung jawab lebih. Ia tidak mau dianggap menikahi Sungmin karena harta warisannya, dan ia hanya karyawan biasa."
"Itu yang aku harapkan darinya. Ia bekerja lebih keras dibandingkan yang lain, padahal ia cacat.”
"Itu sudah karakternya. Ia bilang padaku, atau mungkin memperingatkan aku, itu kata yang lebih baik, bahwa pernikahan mereka tulus." Alisnya berkerut. "Menurutmu, Sungmin bisa tidur dengan namja?"
Jaejoong tertawa dan membenamkan hidungnya ke leher Yunho. "Aku malah punya kesan Sungmin mengejar-ngejar Kyuhyun berbulan-bulan lamanya. Justru Kyuhyun yang mencoba menjauh demi kebaikannya."
"Tetapi apakah Sungmin mengerti tanggung jawab yang berkaitan dengan seks?"
"Yunnie." Sambil meletakkan tangan di pipi Yunho dan meminta seluruh perhatiannya, Jaejoong berkata, "Sungmin dilahirkan dengan kekurangan dalam hal belajar. Tetapi emosi dan tubuhnya tetap perempuan. Tak ada yang bisa menghapus kebutuhan biologis, juga kebutuhan akan makanan atau udara. Sungmin pasti lebih bahagia daripada hari-hari sebelumnya. Kyuhyun sangat mencintainya. Ia akan mengasihi Sungmin. Mereka bisa mengatasi masalah di antara mereka."
Jaejoong melihat ketegangan Yunho menyurut, air mukanya tampak lebih santai. Hal itu menyulut rasa ingin tahu Jaejoong, tentang seberapa jauh Yunho menghargai pendapatnya.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku?" tanya Jaejoong.
"Bagaimana dengan kebutuhanmu selama bertahun-tahun belakangan itu, apa yang kaulakukan pada dirimu?"
"Aku hidup dalam kenangan dan mimpi. Kenangan akan dirimu di tempat ini. Mimpi yang kutahu takkan pernah terwujud."
Yunho duduk di rumput yang lembut bersama Jaejoong dan membuka kancing blus wanita itu. "Kau memikirkan aku?"
"Setiap hari. Setiap jam. Meskipun tak pernah bisa berjumpa denganmu lagi, aku akan mengingatmu sampai ajal menjemputku."
Sesaat Yunho memejamkan mata, meresapi kata-kata Jaejoong. Ketika membuka mata, ia menatap Jaejoong dengan sorot berbinar-binar. "Aku mendengar suara guntur. Atau itu suara debar jantungku?"
Jaejoong tersenyum. Ia pernah mengatakan hal itu suatu ketika dulu. "Guntur. Sebentar lagi hujan turun."
"Kau takut?"
"Aku lebih suka hujan."
"Sayangku, oh, BooJae," bisik Yunho di mulut Jaejoong. "Oh, Tuhan, aku cinta padamu."
Jaejoong menolong Yunho melepas kemejanya. Yunho berdiri dan Jaejoong seperti penonton yang sudah tidak tahan hendak membuka ikat pinggang Yunho, membuka ritsleting celananya, dan melepaskannya. Yunho memegang celana dalam biru mudanya, lalu meloloskannya.
Tanpa pakaian selembar pun. Di bawah cahaya malam, deru hujan, tubuhnya berdiri tegak seperti ma-nusia purba. Apalagi ketika melihat titik hujan jatuh menerpa kulitnya yang kecokelatan.
Sambil berlutut di samping Jaejoong, Yunho menariknya duduk ke sisinya, membuka blusnya. Bra Jaejoong berenda cantik, sangat berbeda dengan bra yang dipakainya beberapa tahun yang lalu. Yunho menyentuh payudara Jaejoong yang berbalut bahan sutra.
"Lihat akibat perbuatanmu," kata Jaejoong ketika melepas branya setelah Yunho membuka pengaitnya. "Kau tidak malu pada dirimu sendiri?"
"Ya," jawab Yunho dengan menyesal, tetapi wajahnya sama sekali tak menampakkan penyesalan.
Yunho membuka kancing rok Jaejoong dan melepaskannya, membiarkan tubuh Jaejoong hanya terbalut celana dalam. Kemudian ia membungkuk untuk melepaskan tali sepatu sandal yang dipakai Jaejoong, yang melingkari kakinya yang indah. Ketika sandal sudah terlepas, Yunho mengeluselus dan memijat kakinya. Jaejoong memiringkan badan, menopang tubuh dengan siku. Ia memerhatikan apa yang dibuat Yunho dengan bahagia. Tetapi ketika Yunho menunduk dan mencium ujung ibu jari kakinya, ia tergetar karena bergairah.
"Yunho," gumam Jaejoong lembut, dan merebahkan tubuh di rerumputan yang hijau.
Yunho menindih tubuh Jaejoong. Jaejoong merenggut rambut Yunho yang basah ketika pria itu menciuminya dengan panas. Yunho menikmati bibir Jaejoong seperti orang yang tengah me-makan buah yang lezat. Kemudian, selembut titik hujan, bibirnya menciumi pipinya, berhenti di daun telinganya. Lidah Yunho mempermainkan lubang telinganya. Diciuminya leher dan dadanya.
Titik-titik hujan jatuh menimpa dada Jaejoong, membuat bagian itu mengilap. Yunho menyeruput titik-titik air tersebut. Bibir Yunho terasa hangat di kulitnya yang dingin ketika laki-laki tersebut menciumi payudaranya. "Aku tak pernah lupa bagaimana rasanya dirimu. Tidak pernah."
Jaejoong menggeliat di bawah tubuh Yunho, bergoyang, mencengkeram kejantanan Yunho. Me-reka memang pasangan yang serasi, napas mereka melayang ke udara. Yunho mengelus bagian yang diinginkan Jaejoong tapi tidak diungkapkannya. Jaejoong menggumamkan nama Yunho dengan lirih.
"Jangan dulu," ujar Yunho dengan suara gemetar di atas perut Jaejoong. 'Yang ini untukmu."
Yunho bergerak makin ke bawah, menghujani rusuk Jaejoong dengan ciuman. Bibirnya terus bergerak turun sampai pusar, menciumi bagian itu, membuat Jaejoong menggeliat dan mengerang. Beberapa kali Yunho memasukkan ujung lidahnya ke dalam pusar Jaejoong. Kemudian, menggunakan hidung dan dagunya, ia menurunkan celana dalam Jaejoong sampai ke kaki, baru melepaskannya dengan menggunakan kakinya.
Jaejoong merasa hampir hancur berkeping-keping karena menahan tekanan gairah di dalam tubuhnya. Ia merasa tidak mampu menahan lebih lama lagi. Tetapi Yunho baru saja mulai. Bibir pria itu menciumi bagian bawah tubuhnya, mengembuskan napas di situ.
"Yunho...." Panggilannya tenggelam di antara bibirnya yang gemetar ketika mencengkeram rambut Yunho.
Dengan lembut tangan Yunho membetulkan posisi Jaejoong, menyentuhnya. Tapi Jaejoong tidak siap menerima ciuman manis Yunho di bagian tubuhnya itu. Bibirnya yang penuh cinta, lidahnya yang terus menggoda, melambungkan Jaejoong ke puncak kenikmatan dunia, yang merampas semua akal sehatnya. Yunho terus membangkitkan gairah Jaejoong, sampai wanita itu merasa seluruh tubuhnya seperti hendak meledak. Yunho telah membangunkan gunung berapi di dalam tubuh Jaejoong. Ketika merasa gunung itu hendak memuntahkan laharnya, Yunho segera menindihnya.
Tangan yang mencengkeram pahanya, kaki Jaejoong yang menjepit pahanya, kata-kata cinta yang meluncur keluar dari bibir wanita itu, makin membangkitkan hasrat Yunho. Tubuhnya tak menyisakan kesempatan untuk hal lain, kecuali mendorong tubuhnya untuk bergerak makin cepat, sampai akhirnya mereka merasa tubuh mereka seperti meledak dan bermandikan titik-titik cahaya yang terang benderang.
Setelah mereka berhasil mencapai puncak, kembali ke dunia nyata, titik-titik cahaya pun meredup. Mereka kembali berada di dunia yang remang-remang dan berkabut. Mereka terselu-bung kabut warna keperakan yang melingkupi hati dan pikiran mereka beberapa saat yang lalu. Dan tubuh mereka yang masih berpaut itu ber-mandikan air hujan yang turun membasahi bumi.
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. yunjaeddiction7:43 AM

    hoaaaahhh kyumin mau nikah!!! chukhahae :)
    yunjae.. cie cie..
    di hutan nie yeh..jd inget masa lalu ^^

    ReplyDelete
  2. Anonymous10:18 PM

    Aigoooo

    ReplyDelete
  3. Anonymous7:44 AM

    ehem..hutan.ehem *tutup mata*

    ReplyDelete
  4. Udah deh sekalinya mereka pasrah sama gejolak masing-masing, tiada hari tanpa sesuatu yg panas untuk hari-hari berikutnya
    Yun kan rajin nabung ke Jae haha

    ReplyDelete