Hati Jaejoong melonjak
kegirangan, tetapi itu hanya reaksi sementara. Dengan sikap angkuh ia menaikkan
dagu. "Apa yang membuatmu berubah pikiran? Apakah kau takut, ketika kau
tidak ada, aku akan memengaruhi adik perempuanmu dan menghancurkan reputasi
keluargamu?"
Yunho menatap Jaejoong
dalam-dalam, baru menjawab, "Seperti itulah."
Mata Jaejoong
berkaca-kaca. Yunho tahu persis bagaimana menyakiti Jaejoong. Bagimu, aku hanya
barang mainan, bukan, Yunho? Kau menciumku, bila kau merasa ingin menciumku,
tetapi tidak cukup baik untuk menjadi anggota keluargamu."
"Aku tidak jadi
pergi."
Hanya itu yang dikatakan
Yunho sebelum melangkah ke luar ruangan.
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
"Selamat pagi, Nyonya
Jung."
"Nyonya Jung, hari
ini cuaca cerah ya?" Jaejoong membalas salam yang ditujukan kepadanya
ketika memasuki pabrik. Musim panen sudah di depan mata. Para pekerja mulai
lembur mengolah ginseng yang mulai berdatangan. Jam kerja yang panjang, jamjam
kerja yang melelahkan, debu, panas, dan berisik. Namun tetap terpancar kesan
bangga di wajah para pekerja di pabrik pabrik itu. air muka yang sudah bertahun-tahun
lamanya tak pernah terlihat di wajah mereka. Bukan rahasia lagi, setiap orang
tahu dari mana datangnya perasaan seperti itu. Yunho.
Semua peralatan, setelah
diperbaiki baru-baru ini, bisa kembali dioperasikan dengan hasil memuaskan.
Para petani ginseng yang pada musim-musim panen yang lalu menjual hasil
panennya ke pabrik lain, kini kembali membawanya ke pabrik keluarga Jung. Bukan
rahasia lagi, setiap orang tahu mengapa terjadi hal itu, juga.
Yunho.
Keberadaannya di pabrik
yang hanya beberapa minggu itu membawa perubaban drastis. Umumnya para pekerja
menyambut kedatangan Yunho. Yang bersedia bekerja keras mendapat kenaikan upah.
Yang biasanya datang terlambat atau melalaikan tugas dipecat. Jaejoong melihat
yang dipecat adalah para pekerja yang suka melalaikan tugas. Mereka adalah
orang-orang yang dipekerjakan Siwon untuk tugas khusus, pekerjaan, yang menurut
perkiraan Jaejoong, lebih baik tidak diketahuinya. Dulu ia pernah meminta Siwon
memberhentikan mereka. Dari peristiwa itu ia sadar, lebih baik baginya jika
tidak mencampuri urusan pribadi Siwon.
"Ia suka bikin
masalah," kata Jaejoong.
Siwon waktu itu hanya
tersenyum manis. "Ia melakukan... tugas-tugas... bagiku, Jae. Kalau mereka
'membuat onar dengan salah satu karyawan pabrik, tolonglah, tak usah kau hiraukan."
"Tetapi ia pekerja
pabrik juga."
"Memang seharusnya
begitulah kesannya." Melihat ekspresi Jaejoong yang tidak menerima, Siwon
hanya menambahkan secara diplomatis. "Aku akan bicara dengannya, bila ia
menimbulkan banyak masalah bagimu."
Sekarang barulah Jaejoong
tahu mereka itulah yang diperintahkan Siwon memata-matai Yunho musim panas itu.
Yunho, dengan
persetujuan Jaejoong, tidak mau menunda waktu semenit pun untuk menendang orang-orang
yang tak berguna dan menaikkan gaji karyawan yang bisa dipercaya lagi setia.
Mereka menghormati Yunho. Mereka bekerja keras bukan karena takut pada Yunho,
seperti waktu mereka bekerja pada ayah Yunho, mereka bersedia bekerja keras
karena menyukai Yunho. Yunho punya kemampuan memotivasi mereka. Ia memberi
kritik-kritik yang membangun pada mereka. Ia memberikan pujian bila mereka
pantas dipuji. Ia ikut bekerja keras bersama mereka. Tak heran, batin Jaejoong,
Yunho menjadi pebisnis yang sukses.
Sepuluh hari telah
berlalu sejak peristiwa perkelahian di kandang kuda antara Kyuhyun dan Yunho. Yunho
lebih banyak menghabiskan waktu di pabrik. Jaejoong senang Yunho di sana.
Keberadaannya menambah kepercayaan diri Jaejoong. Jaejoong tahu beberapa pekerja
itu dipecat karena mengkritik Jaejoong.
Meskipun tidak
diungkapkan secara gamblang, keduanya berusaha berdamai.
♥
♥Kitahara Saki♥
♥
Suatu pagi di pabrik,
waktu Jaejoong sibuk mengurus surat-surat bisnis, Yunho masuk ke ruangannya
tanpa mengetuk terlebih dahulu. "Jae, aku ingin memperkenalkan seseorang
padamu, bila kau tidak sibuk."
Jaejoong tersenyum manis
dan merentangkan tangan ke arah kertas-kertas yang berserakan di mejanya.
"Oh, tidak. Aku tidak sibuk."
Yunho tersenyum ganjil.
"Ini penting, kalau tidak, aku tidak akan mengganggumu."
Sambil berdiri, Jaejoong
bertanya, penasaran, "Nugu?" Kejutan.
Dengan jari-jari menempel
di punggung Jaejoong, Yunho mengajak wanita itu melewati ruang pabrik yang
bising, ke luar, menuju mobil yang memuat ginseng, siap diantar ke gudang.
.
.
Seorang pria bertubuh
tambun dengan setelan warna putih tampak mengambil ginseng sambil mengisap
cerutu yang menyebarkan bau menyengat dan tidak menyenangkan, mengingatkan Jaejoong
pada Siwon. Tetapi tak terlihat kepribadian mendominasi seperti Siwon pada
orang itu, yang kini mengangkat kepala dan tersenyum ramah ketika melihat Jaejoong
yang bersama Yunho berjalan menghampirinya.
"Tuan Kim Kangin, kenalkan, Jung Jaejoong."
"Tuan Kangin." Jaejoong menjulurkan tangan. Tangan Jaejoong
yang kecil tenggelam dalam genggaman tangan Kangin yang menyalami Jaejoong
dengan tulus. Andai kenal kakeknya, ingin Jaejoong membayangkan rupa kakeknya
seperti Tuan Kangin ini.
"Senang bisa
berkenalan dengan Anda, Nyonya Jung. Sangat senang sekali. Anda punya... uh...
ehm... anak tiri Anda, Yunho, ini, mengatakan pada saya, berkat pengelolaan
Anda yang saksama, pabrik keluarga Jung berkembang pesat."
Pipi Jaejoong langsung
memerah ketika ia melirik Yunho, kemudian kembali menghadap tamunya. "Yunho
sangat banyak membantu saya, saya rasa. Tetapi saya sangat bangga dengan produk
ginseng yang kami hasilkan sekarang."
"Tuan Kangin calon
pembeli ginseng kita dari Kim Corp di Seoul."
Jaejoong menghadap ke
arah Yunho, karena itu hanya Yunho yang melihat alis Jaejoong yang terangkat
dan mulutnya yang ternganga kecil karena terkejut. Mata Yunho berbinar nakal.
Susah payah ia menekan dorongan hatinya untuk tertawa.
"Saya... saya
mengerti," gagap Jaejoong lalu kembali menghadap ke arah calon pembeli ginsengnya.
Setiap petani ginseng di daerah Selatan atau penjual ginseng kenal baik
perusahaan Kim Corp. Mereka memproduksi produk kualitas terbaik di
dunia.
"Kami akan dengan
senang hati memberikan contoh ginseng kami kepada Anda, Tuan Kangin," kata
Jaejoong setenang mungkin. Ia merasa adrenalinnya mengalir cepat ke seluruh
tubuhnya. Bila ia dan Yunho berhasil menjual ginseng mereka ke perusahaan Kim
Corp, itu berarti lompatan bisnis besar buat mereka.
"Terima kasih atas
sambutanmu, Yunho, aku sudah mengambil contohnya." Ia mengambil sejumput ginseng
dan mengamatinya sehingga ia dapat mengirakualitasnya.
"Ini ginseng
berkualitas prima," katanya kagum. "Kurasa kau bisa menjualnya kepada
kami sebagian."
Baik Jaejoong maupun Yunho
berusaha menekan lonjakan kegembiraan hati mereka. "Kami sudah
menandatangani kontrak kerja sama dengan pembeli lain," kata Yunho, pura-pura
menolak.
"Aku menghormati
keputusanmu, Yunho," kata pembeli itu. "Berapa banyak ginseng yang
bisa kau jual kepadaku?"
Sementara Jaejoong
berdiri di sampingnya, dengan perasaaan resah berganti-ganti posisi berdirinya,
Yunho tawar-menawar dengan si calon pembeli. Akhirnya mereka sepakat atas
sejumlah ginseng yang akan dikirim dan harganya. Harga paling mahal yang pernah
diperoleh Jung Corp.
"Tentu saja, kami
akan mengantar ginseng Anda dengan pesawat," kata Yunho tanpa pikir
panjang ketika mengantar Tuan Kangin menuju kamar kerja Jaejoong untuk
menandatangani kontrak.
"Dengan
pesawat?" tanya Tuan Kangin, menatap Yunho tidak percaya. Tetapi bukan
hanya Tuan Kangin yang terkejut, Jaejoong juga.
"Kami berikan
servis istimewa kepada pembeli pilihan kami," jawab Yunho sambil tersenyum
memperlihatkan deretan giginya yang putih. Ketika Tuan Kangin berbalik hendak
melangkah masuk ke ruang kantor, Yunho mengedipkan mata pada Jaejoong yang
masih terkejut dan tidak dapat berkata-kata.
Setelah Kangin
meninggalkan tempat itu, Jaejoong memandang Yunho dengan jengkel.
.
.
"Dengan
pesawat?" tanyanya, dengan nada tinggi. "Mengapa tidak dikirim dengan
kereta api?"
Yunho tertawa, lalu
membuka laci, membuka lemari, mencari-cari sesuatu. "Tidak masalah,"
jawab Yunho seenaknya.
"Aha, aku tahu
pasti ada di sini." Ia mengeluarkan sebotol minuman bourbon dari laci
lemari paling bawah.
"Ada gelas minuman?
Ah, persetan dengan gelas." Yunho membuka tutup botol, mendongakkan kepala
dan langsung menenggak minuman dari botol. Wajahnya meringis ketika carian yang
membakar itu mengalir turun ke tenggorokannya.
"Aku punya pesawat
barang yang sudah ku perbaiki sendiri. Kita kan ingin menanamkan citra baik
pada perusahaan Kim Corp, bukan? Apa kau pikir mereka akan mengacuhkan
perusahaan yang bisa mengantarkan ginseng mereka dengan pesawat terbang?"
"Tetapi biaya bahan
bakarnya saja sudah berapa... Yunho, biayanya sangat mahal."
"Tidak, bila aku
yang mengangkut dan menerbangkan pesawat itu," jawab Yunho, sambil
melempar senyum lebar pada Jaejoong. "Yang harus dibayar cuma biaya bahan
bakar dan beberapa jam terbangku. Tetapi bila kontrak kerja sama dengan Kim
Corp berkesinambungan, itu investasi besar, menurutku. Bagi kita."
Yunho mengangkat botol
sebagai tanda hormat pada Jaejoong sebelum kembali menenggak minuman bourbon itu,
kemudian menyodorkannya ke hadapan Jaejoong. "Ini."
Terhanyut kegembiraan
untuk merayakannya, Jaejoong menatap botol minuman, dan tergoda ingin
meminumnya juga. "Tapi aku tidak biasa," katanya, berbohong dan malu-malu,
dan melempar pandang ke arah pintu.
"Tentu saja kau
bisa minum."
"Bagaimana bila ada
yang datang dan melihat kita minum-minum di sini?"
"Mereka akan
mengerti. Kita baru saja menandatangani kontrak kerja besar. Di samping itu,
aku sudah memberitahu mereka, siapa pun tidak boleh masuk ke ruang kerja ini
tanpa mengetuk pintu lebih dulu."
"Kau selalu masuk
tanpa mengetuk."
Yunho kelihatan jengkel.
"Kau mau minum atau tidak?"
Dengan berani Jaejoong
memegang leher botol dan meniru gerakan Yunho, kepalanya ditengadahkan dan ia
membiarkan minuman itu meluncur turun ke tenggorokannya. Jaejoong terbatuk-batuk
dan berdecap-decap, air matanya menitik dan ia merasakan perutnya terbakar. Yunho
mengambil botol minuman dari tangan Jaejoong ketika melihat Jaejoong terbungkuk-bungkuk
karena batuk. Ia menepukkan telapak tangannya pada punggung Jaejoong dan
tertawa terbahak-bahak.
"Lebih enak?"
Perlahan Jaejoong menegakkan tubuh, menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"Kurasa ya,"
jawab Jaejoong dengan suara parau, lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Oh Tuhan, Jae.
Tadi aku khawatir sekali," kata Yunho penuh semangat. "Aku takut ia
bilang tidak atau meninggalkan kita tanpa membuat kesepakatan pasti."
"Mengapa kau tidak
memberitahu aku lebih dulu ia akan ke sini?"
"Aku tidak ingin
membuatmu berharap."
"Aku senang kau
tidak memberitahuku. Aku suka kejutan."
“Oh ya?”
"Ya." Jaejoong
melempar senyum pada Yunho, senyumnya makin lebar ketika menyadari kembali apa
yang tengah mereka rayakan. "Ya, ya, ya."
Semua itu tidak
direncanakan. Sama sekali tidak direncanakan. Yunho memeluk pinggang Jaejoong,
mengangkat tubuh perempuan itu beberapa sentimeter dari lantai lalu memutar-mutarnya.
Keduanya tertawa-tawa. Yunho menengadah ketika memandang Jaejoong. Jaejoong
tersenyum dengan posisi tubuh yang masih terangkat dan meletakkan tangannya di
bahu Yunho.
"Kita berhasil!
Kita berhasil membuat kontrak kerja sama paling mahal dalam sejarah perusahaan Jung.
Kau sadar apa arti kesepakatan ini, Jaejoong? Pembeli-pembeli baru akan
berdatangan ke sini. Petani ginseng akan berdatangan ke tempat kita," kata
Yunho, menjawab pertanyaan Jaejoong.
"Bukan tahun ini,
tetapi tahun depan. Kita bisa mengembangkan perusahaan ini." Yunho
mendekap Jaejoong, memutarnya seperti orang yang berdansa waltz.
♥
♥Kitahara Saki♥
♥
Ketika Yunho menurunkan
tubuh Jaejoong, wajar bila timbul keinginan Yunho untuk mencium wanita itu.
Bibir Yunho mencium bibir Jaejoong. Bukan ciuman kekasih, tetapi ciuman antar kawan,
merayakan kesuksesan pekerjaan mereka.
Namun begitu bibir
mereka bersentuhan, nuansa ciuman pun berubah. Mustahil mereka bersentuhan
tanpa merasakan sentuhan itu sebagai sentuhan sepasang kekasih. Sewaktu
merasakan bibir Jaejoong yang lembut, basah, dan pasrah menyentuh bibirnya,
seketika gelora hasrat langsung menguasai Yunho. Yunho mengangkat kepala hendak
melihat reaksi Jaejoong.
Matanya memandang wajah Jaejoong
lekat-lekat, mengamati garis-garisnya. Pipinya yang kemerahan, rambutnya yang
pirang, sorot matanya yang bening bak titik hujan yang berkilau, bibirnya,
semua menarik hatinya.
Jaejoong menanti penuh
harap, merasakan napas Yunho yang makin memburu, melihat sorot matanya yang
makin berbinar.
Ia menginginkannya. Oh,
Tuhan, ia masih menginginkan Jaejoong. Betapa ingin ia melumat Jaejoong,
menjadikannya pelabuhan terakhirnya, selamalamanya. Namun Jaejoong sudah
bersumpah akan setia sampai mati pada ayahnya. Dan Yunho yakin, kendati telah
meninggal dunia, pengaruh orang seperti ayahnya yang sudah di liang kubur akan
tetap ada. Jaejoong masih menjadi milik Siwon dan karena alasan itulah Yunho
tak berani mewujudkan apa yang sangat didambakannya. Gejolak hasrat dalam
tubuhnya seperti mencekik dirinya, ia harus melepaskan cengkeraman itu dan
melepaskan Jaejoong.
Ia tidak ingin
melakukannya.
Pertama, ia menarik
tangannya dari belakang pinggang Jaejoong ke samping. Dibiarkannya kedua
tangannya terkulai di sisi tubuhnya. Seperti ada perekat tak kasatmata yang
melekatkan keduanya, perlahan-lahan mereka saling menarik diri sebelum akhirnya
Yunho melangkah mundur. Yang terakhir dilepaskannya dari Jaejoong adalah
matanya, yang tetap memandangi Jaejoong dan harus dipaksanya agar berpaling.
Jaejoong kecewa dan
terguncang, tetapi berusaha tidak memperlihatkannya ketika Yunho membalikkan
badan untuk melihatnya sebelum membuka pintu.
"Kurasa aku akan
mengundang seluruh karyawan minum bir untuk merayakan peristiwa ini. Ini bisa
mendorong mereka bekerja lebih giat lagi untuk menghasilkan ginseng berkualitas
untuk perusahaan Kim Corp."
"Kurasa itu hal
yang baik sekali, Yunho. Kutunggu kau di rumah?"
Yunho mengangguk.
"Aku takkan terlambat."
.
.
Di pusat perbelanjaanlah
pertama kali Jaejoong mendengar hal yang ramai digosipkan orang-orang.
Boa menelepon pabrik,
meminta Jaejoong singgah ke toko sebelum pulang. Jaejoong mencatat barang-barang
yang diminta Boa. "Terima kasih atas bantuanmu."
"Terima kasih
kembali," jawab Jaejoong.
"Aku akan pulang
secepatnya. Yunho akan keluar seusai kerja, berarti kau bisa menyiapkan makan
malam setengah jam lebih lambat daripada biasanya."
Jaejoong tengah
mendorong kereta belanja di lorong toserba sambil memeriksa daftar barang yang
harus dibeli waktu ia melihat dua ibu yang memandanginya terang-terangan. Jaejoong
kenal mereka. Salah seorang di antaranya penggosip nomor satu di kota itu. Ia
punya putri yang usianya sama dengan Jaejoong, yang kini menikah dengan buruh
pabrik. Kabarnya, karena suka mabuk, menantunya itu sering dipecat dari
pekerjaannya. Sementara putrinya dulu sangat populer, salah satu anggota
"geng", kelompok yang tidak mau bergaul dengan Jaejoong. Namun yang
menyakitkan, kini justru putri keluarga Kim yang pemabuk itu menikah baik-baik!
Ibu yang satunya lagi menuju ke bagian penatu, bertukar gosip sambil memeriksa
pakaian kotor yang akan dicuci.
.
.
Tidak perlu menghindari
mereka, batin Jaejoong, meyakinkan diri agar bisa melakukan hal itu. la
mengangkat dagu dan sengaja mendorong kereta belanja melewati mereka.
"Anyonghaseyo, Nyonya
Hwang, nyonya Song."
"Nyonya Jung,"
jawab mereka serentak. Sikap pura-pura mereka jelas terlihat. "Kasihan
sekali Anda," kata salah seorang ibu. "Bagaimana keadaan Anda
sekarang, setelah tuan Jung meninggal?"
"Saya rasa
pemakamannya berjalan sangat baik.”
“Sangat baik,"
sahut ibu yang lain.
"Gomawoyo, Nega
gwencanayo." Seharusnya Jaejoong langsung mendorong kereta belanjanya,
karena ia berhasil memaksa ibuibu itu untuk bersikap santun, tetapi salah
seorang di antara mereka mengajak Jaejoong bicara.
"Pasti Anda
terhibur Yunho ada di rumah pada saat seperti ini."
“Hati-hati, Jae.” batin Jaejoong mengingatkan dirinya. Mereka ganas seperti ikan
piranha, dan mereka bisa mencabik-cabik dirimu.
"Kepulangan Yunho
ke Jung mansion sangat berarti buat Sungmin dan Boa, pengurus rumah tangga
kami. Terutama, dalam situasi seperti sekarang ini, mereka senang sekali Yunho
ada di rumah lagi."
Ibu-ibu itu benar-benar
menyimak setiap kata yang meluncur keluar dari mulut Jaejoong. "Berapa
lama ia akan tinggal di sini? Bukankah bisnisnya sukses di Jepang? Di mata dia,
pastilah kita hanya orang-orang kampung."
"Yunho sangat mencintai
Korea. Jung mansion akan senantiasa menjadi rumahnya."
Jawaban Jaejoong makin
membangkitkan rasa ingin tahu mereka. Mereka makin rapat, seperti binatang buas
yang mengerumuni mangsa dan siap melahapnya.
"Tetapi bagaimana
dengan Anda? Setelah Anda menikah dengan Mr. Jung, tidakkah Jung mansion itu
akan menjadi milik Anda? Atau Anda merencanakan tinggal di sana bersama-sama?
Seperti satu keluarga besar?"
"Kami memang satu
keluarga besar," sabut Jaejoong sambil tersenyum dingin. "Satu
keluarga besar yang sangat bahagia."
"Oh, pasti,"
jawab mereka, mengiakan penuh semangat.
"Salam saya untuk Tiffany,"
kata Jaejoong kepada ibu teman sekelasnya sambil menjauh. "Saya dengar ia
punya anak lagi."
"Yang keempat."
Mata yang tak berwarna itu memandangi Jaejoong yang memakai gaun dari katun
dengan iri. "Sayang sekali Mr. Jung tidak memberikan seorang anak pun.
Anak bisa menjadi hiburan yang menyenangkan di saat duka."
keprihatinan yang paling
palsu yang pernah didengar Jaejoong dalam hidupnya. Andai Jaejoong tidak sedang
bergulat menahan marah, ia pasti sudah menertawai sikap yang sangat berpura-pura
itu.
"Untuk apa anak
baginya, Hwang?" Sepasang mata yang lain, yang sama dengkinya, penuh
prasangka, menatap tubuh Jaejoong. "Kan ada Yunho yang bisa menemaninya
tinggal di rumah itu dan memberikan hiburan yang dibutuhkannya.
"Oh, ya, Yunho.
Kita tidak boleh lupa, ada Yunho tinggal bersama dia."
"Selamat sore, nyonya"
sahut Jaejoong, bergegas. Ia memaksakan diri mengambil barang-barang dalam
daftar yang harus dibeli sebelum langsung pergi ke kasir dan meninggalkan tempat
itu. Penghinaan itu membuat matanya terasa
panas.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

orgnya udh meninggal tp msh ky org hidup :'(
ReplyDeletesiwon rip (lagi)
Ternyata siwon tetep berpengaruh neee
ReplyDeletehoalah, sabar umma, jangan dengerin ibu-ibu ga penting itu
ReplyDelete