Ia menarik tubuh Jaejoong lebih rapat dan mendesah ketika tubuh wanita itu bersentuhan dengan tubuhnya. "Keparat kau. Keparat kau, Jae."
Bibirnya didaratkannya
di bibir Jaejoong dengan penuh gairah, tetapi sekali ini Jaejoong memang sudah
menunggu. Ia membuka mulut dan membiarkan bibir Yunho melumatnya. Lidah Yunho
meluncur masuk ke mulut Jaejoong yang manis tapi hangat. Diciuminya Jaejoong
berlama-lama. Pertama ia memiringkan kepala ke satu sisi, kemudian pindah ke
sisi lain, seperti ingin menikmati seluruh bibir Jaejoong secara utuh.
Tangannya memegangi muka Jaejoong, sementara bibirnya menciumi bibir wanita
tersebut.
Mendadak Yunho
menghentikan ciumannya. yang membuat Jaejoong gamang. Suara Yunho parau, suara
orang yang terluka karena harus menahan kerinduan yang dalam pada Jaejoong.
"Brengsek kau, mengapa kau harus menjadi miliknya untuk pertama
kali?"
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
"Sungmin?" Kyuhyun
berlutut di antara jerami dan memegang bahu Sungmin. "Apa yang kaulakukan
di sini?"
"Hmmm?" Sungmin
terbangun dari tidur, berguling ke pinggir, lalu telentang lagi. "Kyuhyun?"
gumam Sungmin. "Sudah pagikah?" tanya gadis itu lembut sambil
menggeliat malas, melengkungkan punggung dan memajukan dadanya ke arah Kyuhyun.
"Hampir pagi,"
jawab Kyuhyun sambil memalingkan mata dari dada Sungmin. "Apa yang
kaulakukan disini?”
Sungmin duduk sambil
menepiskan jerami yang ada di rambutnya. Sinar matahari pagi yang lembut
menyelinap masuk ke kandang kuda, menerpa bahunya yang telanjang. Udaranya terasa
masih agak dingin seperti udara malam, tetapi tumpukan jerami tempat Sungmin
berbaring hangat dan baunya tajam menyengat hidung. Kuda-kuda di dalam kandang
meringkik, ber-teriak minta makan pagi. Titik-titik debu halus melayang-layang
beterbangan di udara yang bermandikan sinar matahari pagi.
Mata Sungmin yang masih
mengantuk tertuju pada Kyuhyun. Ia tersenyum dan mengelus pipi Kyuhyun, yang
kemerahan dan segar setelah bercukur. "Semalam Jaejoong dan Yunho
bertengkar. Aku dengar mereka saling berteriak dari kamarku. Boa sudah tidur,
karena itu aku tidak ke kamarnya. Membuatku merasa ingin pergi keluar dari
rumah. Mengapa Jaejoong dan Yunho selalu bertengkar? Aku tidak mengerti, Kyu."
Sungmin menyandarkan
tubuhnya, meletakkan kepalanya di dada Kyuhyun, tangannya memeluk pinggang Kyuhyun.
"Akhirnya, aku datang ke sini. Pintu kamarmu dikunci dan lampunya mati.
Aku tahu kau sudah tidur pulas. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku berbaring
saja di sini, di kandang kuda yang kosong, dan tertidur pulas. Perasaanku lebih
tenang bila berada di dekatmu."
Sungmin makin merapatkan
tubuhnya ke tubuh Kyuhyun. Perasaan Kyuhyun galau. Ia mengumpat Yunho dan
ancamannya setelah melihat kejadian di halaman rumah itu. Apakah Yunho mengira
ia tega menyakiti Sungmin? Tidak bisakah kakak laki-laki Sungmin yang keras
kepala itu melihat bahwa ia mencintai perempuan ini? Yang baginya bak mata air
kemurnian dan kebaikan di dunia ini, dunia yang selama ini dirasakannya hanya
penuh dengan kebencian, pembunuhan, darah, dan perang?
Semalam ia baru saja
berjanji takkan membiarkan dirinya berduaan saja dengan Sungmin, takkan pernah
menyentuh gadis itu. Karena kalau sampai tertangkap basah melakukan hal itu,
berarti ia harus meninggalkan tempat ini untuk selamanya. Itulah yang takkan
kuasa dilakukannya.
Saat ini, ia tahu tak
mungkin ia mampu mengindahkan peringatan Jung Yunho padanya. Keberadaannya yang
demikian dekat dengan tubuh Sungmin yang lembut menghalau semua ancaman itu
dari benaknya. Tanpa merencanakan atau memikirkan konsekuensi tindakannya, tangan
Kyuhyun mendekap Sungmin erat-erat.
"Aku yakin, itu
karena mereka berduka kehilangan ayahmu. Mereka akan segera meluruskan
perbedaan di antara mereka. Wajar buat seseorang yang biasanya mengurus rumah
tangga mengalami stres ketika seseorang yang biasanya tinggal bersamanya
pergi."
"Aku sangat
menyayangi mereka berdua. Aku ingin mereka bisa bersahabat."
Kyuhyun membenamkan
pipinya di rambut Sungmin. Tangannya yang besar lagi kasar mengelus punggung
gadis itu. Ketika itu Sungmin mengenakan baju tidur dari bahan katun lembut,
dengan hiasan renda di bagian dada. Baju tidur model tangan setali yang
diikatkan di bahunya. Mantel tipis yang tadinya dikenakan Sungmin menutupi baju
tidurnya dilepaskannya ketika duduk. Kulit Sungmin terasa hangat dan lembut.
"Kalau segalanya
sudah beres, mereka bisa bersahabat. Mereka tidak akan bertengkar lagi. Aku
yakin."
Sungmin mengangkat
kepalanya dari dada Kyuhyun, menengadah, menatap Kyuhyun. Sorot matanya yang
kecokelatan memancarkan keyakinan dan penuh cinta. "Kau begitu baik, Kyu.
Mengapa tidak semua orang sebaik dirimu?"
"Aku tidak
baik," jawab Kyuhyun, tercenung, sambil menelusuri pipi Sungmin dengan
jari telunjuknya. "Aku bukan orang baik-baik, sampai aku berjumpa
denganmu. Kebaikan apa pun yang kumiliki, berasal dari dirimu."
"Saranhae, Kyu."
Kyuhyun memejamkan mata,
menekan perasaan marah. Didekapnya tubuh Sungmin makin erat, ditekannya kepala Sungmin
dalam-dalam ke lehernya "Jangan katakana itu, sungmin."
"Aku ingin
mengatakannya padamu. Karena aku memang sangat mencintaimu. Kurasa, bila kau
mencintai seseorang, kau harus mengungkapkannya, bukan?"
"Kurasa begitu,
ya," jawab Kyuhyun.
Tanggul pertahanan emosi
yang dibangunnya mulai retak. Tekanan yang datang demikian besar. Ia harus
menemukan jalan keluar untuk menyalurkannya dan berharap ia berhasil. Oh Tuhan,
tolonglah.
Sungmin menjauhkan
tubuhnya dan menatap Kyuhyun dengan sorot mata menuntut. Bulu mata Sungmin yang
panjang lagi lembut seperti rangkaian rambut halus menghiasi matanya, mengelus
lembut perasaan laki-laki yang keras lagi sinis dan tak berperasaan seperti Kyuhyun.
Sungmin menatap Kyuhyun dengan penuh harap, menye-rahkan putusan ke tangan Kyuhyun.
Kyuhyun harus menyuarakan perasaannya.
"Aku juga
mencintaimu, Sungmin."
Sambil tersenyum, Sungmin
mendekap Kyuhyun. Seperti anak kecil, ia melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun
dan memeluknya.
"Oh, Kyu. Aku cinta
padamu. Aku cinta padamu." Diciuminya seluruh wajah Kyuhyun selembut kepak
sayap kupu-kupu. "Aku cinta padamu." Sungmin sampai di bibir Kyuhyun,
sejenak ragu, teringat kata-kata Jaejoong yang mengingatkannya untuk
berhati-hati.
Kyuhyun menghirup napas Sungmin,
merasakan getaran kegembiraan yang terpancar dari tubuh perempuan yang demikian
dekat dengan tubuhnya. Ia seperti orang yang hampir mati tenggelam. Persetan!
Ia berkata pada dirinya sendiri. Jung Yunho tidak bisa berbuat apa-apa padanya
untuk hal yang tak pernah dilakukannya. Sekali seseorang pernah mengalami
ancaman kematian ratusan kali, tiap kali ia harus meng-hadapinya,
menyongsongnya.
Selain itu, ia sangat
mencintai perempuan ini.
Bibir Kyuhyun mencium
bibir Sungmin dengan lembut. Getaran-getaran kecil yang keluar dari dada Sungmin
mengalir ke tenggorokan Kyuhyun, bergetar seirama dengan getar tubuhnya. Tidak
pernah ia merasakan perasaan seperti yang dirasakannya ketika bersama Sungmin.
Ia kenal banyak perempuan, tetapi bukan perempuan seperti Sungmin, bukan
perempuan yang penuh cinta dan bisa dipercaya, polos, tulus, dan tidak
mementingkan diri sendiri.
Secara alamiah Sungmin
membuka mulutnya, membiarkan bibir Kyuhyun melumat bibirnya, membuat Kyuhyun
mendesah. Lidahnya menjelajahi bibir Sungmin, menikmatinya. Sungmin menekan-kan
bibirnya makin kuat ke bibir Kyuhyun, tubuhnya yang dirapatkan ke tubuh Kyuhyun
membuat Kyuhyun dapat merasakan payudara Sungmin dan puncaknya yang menegang
menyentuh dadanya. Kyuhyun makin erat mendekap tubuh Sungmin sementara lidahnya
bermain-main di dalam mulut Sungmin.
Kedua orang itu
berguling-guling, hanyut dalam kenikmatan yang baru mereka temukan. Pengalaman
baru buat Kyuhyun juga buat Sungmin. Keduanya berbaring di atas jerami. Kyuhyun
meletakkan kakinya yang utuh di atas paha Sungmin, dan kaki gadis itu yang
ramping menjepit kaki Kyuhyun.
"Sungmin." Kyuhyun
menyebut namanya. Dengan berani ia mencoba menekan dorongan seksualnya yang
menggelora, tetapi payudara Sungmin ada di bawah tangannya, payudara yang
kencang. Akhirnya Kyuhyun tak tahan lagi untuk tidak menyentuh payudara itu
dengan jari-jarinya.
"Kyuhyun, Kyuhyun,"
desah Sungmin. "Oh, Kyu, bercintalah denganku, Kyu."
Kyuhyun rersentak.
Ditatapnya wajah Sungmin yang berbinar-binar. "Tidak bisa," jawab Kyuhyun
lembut. "Kau sadar apa yang kau katakan?"
"Ya."
Jari-jari Sungmin menelusuri wajah Kyuhyun yang keras dengan penuh cinta.
"Aku tahu apa yang dilakukan perempuan dan laki-laki. Aku ingin kita
melakukannya."
"Kita tidak boleh
melakukan itu."
Sungmin membasahi bibir
dan matanya memancarkan keraguan. "Kau tidak mencintaiku?"
"Aku cinta padamu.
Karena itulah aku tidak bisa melakukannya denganmu. Aku tidak bisa melakukan
itu denganmu, kecuali kau sudah menjadi istriku."
"Oh." Sungmin
tampak kecewa. Matanya memandang bibir Kyuhyun. Jari-jarinya menyentuh
wajahnya. "Apakah kita harus berhenti berciuman?"
Sambil tersenyum, Kyuhyun
menundukkan wajah dan menciumi bibir Sungmin. "Tidak." jawab Kyuhyun.
"Tidak."
.
.
♥Kitahara Saki♥
.
.
"Selamat
pagi." Jaejoong memasuki dapur dan langsung melangkah ke mesin pembuat
kopi. Dituangkannya secangkir penuh kopi. Ketika ia berjalan menuju meja,
matanya berusaha menghindari pandangan Yunho, yang sudah duduk lebih dulu di
ruangan itu.
"Aku menelepon
dokter pagi ini," kata Boa, sambil membalik-balik telur di wajan.
"Dokter? Wae?"
"Wajahmu itu tidak
keruan, itulah sebabnya," jawab Boa tanpa merasa bersalah. "Aku tahu
kau kurang tidur. Lihat lingkaran hitam di bawah matamu. Kau lihat, Yunho? Kau
perlu obat tidur atau penenang atau obat sejenis itulah."
"Ani, aku tidak
memerlukannya," jawab Jaejoong sambil duduk di seberang Yunho. Meskipun Yunho
dilibatkan dalam percakapan itu, Jaejoong tidak menatapnya dan Yunho pun tetap
membisu.
"Jangan sok
tahu," nasihat Boa. "Tak ada yang orang yang menyediakan hadiah untuk
menjadi janda paling berani tahun ini. Tak ada yang akan menyalahkanmu bila kau
sedih dan mengungkapkan semua kedukaanmu. Wajar seseorang berduka bila
kehilangan suami."
Mendengar perkataan itu,
Jaejoong memberanikan diri melirik Yunho. Yunho tengah menatapnya dari balik
cangkir kopi. Jaejoong membuang pandang lebih dulu. "Aku tidak perlu
dokter."
Boa menarik napas, tidak
memedulikan kegusaran Jaejoong. "Hmmm, sarapan yang banyak, paling
tidak," kata Boa. Ditumpuknya telur di piring, lalu disodorkannya ke
hadapan Jaejoong. "Ayo, makanlah. Aku akan ke atas, membangunkan Sungmin.
Kupikir ada baiknya membiarkan ia tidur."
"Ia tidak
tidur," jawab Jaejoong, sambil mengaduk krim di dalam kopinya. "Tadi
aku ke kamarnya sebelum turun." Jaejoong ingin turun bersama Sungmin,
memakainya sebagai perisai untuk menghadapi perasaan Yunho, apa pun situasinya
pagi itu. "Ia tidak ada di kamar."
Yunho meletakkan
garpunya di piring. Boa berbalik, tangannya memegang piring berisi roti bakar.
"Ke mana dia? Kau tidak melihatnya sepagian ini?" tanya Yunho pada Boa.
"Bukankah tadi
sudah kubilang, ia masih tidur?"
Yunho melemparkan serbet
ke meja dan bangkit. Ia melangkah ke pintu belakang dan menendangnya.
"Yunho!" Jaejoong
berteriak dari kursinya dan mengejarnya. Ketika ia sampai di anak tangga teras,
Yunho tampak menuju kandang kuda.
"Yunho!"
panggil Jaejoong sambil terus mengejarnya dan mempercepat langkah.
Sesampainya di pintu
kandang kuda, ia berbalik ke arah Jaejoong. "Diam!"
"Kau tidak boleh
memperlakukan mereka begitu, Yun!" cegah Jaejoong, keberatan, tapi dengan
suara hampir berbisik.
"Jangan ikut
campur."
Jaejoong merasa harus
ikut campur karena melihat Yunho akan lebih bijaksana bila tidak melakukan
sesuatu yang bisa menghancurkan kesempatan Sungmin untuk mendapatkan
kebahagiaan. "Sungmin bukan anak kecil lagi."
"Berdasarkan
kemampuan berpikirnya, ia masih kecil." Yunho membuka pintu. Berkat
perawatan cermat yang dilakukan Kyuhyun, pintu itu tidak bersuara. Yunho
memasuki bangunan yang hanya diterangi lampur kecil itu, Jaejoong mengikuti di
belakangnya. Sepatu botnya mengeluarkan suara gemerisik di lantai ketika ia
tiba di kandang kuda di tempat Kyuhyun dan Sungmin berbaring.
Keduanya mendengar langkah
itu, melihat ekspresi marah di wajah Yunho, yang membuat mereka saling
menjauhkan diri. Sialnya, Yunho sempat melihat Kyuhyun mencium Sungmin,
adiknya, dengan mesra. Melihat tubuh Sungmin yang dirapatkan ke tubuh Kyuhyun,
melihat Kyuhyun mengelus-elus payudara Sungmin.
Teriakan marah Yunho
membuat darah Jaejoong serasa membeku seketika. Yunho langsung menghampiri Kyuhyun,
mencengkeram kemejanya, dan mengempaskannya ke lantai. Perbuatan Yunho, Jaejoong
yakin, hampir meretakkan kaki palsu Kyuhyun.
Yunho mendaratkan
tinjunya di perut Kyuhyun dan membuat Kyuhyun terpental ke sisi kandang.
Kemudian, sebelum sempat ia berdiri, tinju Yunho kembali menghantam dagunya.
Sungmin berteriak dan
menghentak-hentakkan kaki. Ia menghambur ke arah kedua laki-laki yang berkelahi
itu, tetapi Jaejoong menyambarnya dan menariknya ke tepi. Naluri petarung Kyuhyun
bangkit dan ia berdiri untuk membalas si penyerang. Ketika hantaman tinju
bersarang di hidung Yunho, membuat hidungnya mengucurkan darah, Sungmin kembali
berteriak dan lari meninggalkan tempat itu.
"Hentikan!"
teriak Jaejoong. "Hentikan, kalian berdua!"
Tinju dan kaki saling
hantam. Mereka bergulat di kandang kuda itu, saling mendaratkan tinju.
Jaejoong menghambur di
antara dua lelaki yang tengah berkelahi itu. "Hentikan. Kalian berdua.
Demi Tuhan, apakah kalian sudah kehilangan akal sehat?" Akhirnya Jaejoong
berhasil berdiri di antara kedua petarung tersebut, yang megap-megap dan
berlumuran darah.
Ketika Yunho akhirnya
bisa bernapas normal lagi, ia menatap Kyuhyun dengan penuh kebencian. "Aku
ingin kau meninggalkan tempat ini petang ini juga."
"Ia tetap tinggal
di sini," sergah Jaejoong yang membelakangi Kyuhyun dan dengan tegas
menghadapi Yunho. "Ia tetap di sini sampai aku memecatnya. Siwon yang
memintaku mempekerjakannya di sini. Akulah satu-satunya orang yang boleh
memecatnya. Paling tidak, sampai saat pembacaan surat wasiat itu dan kau
mengambil hartamu, Jung Mansion. Sementara ini, sebagai janda Siwon, aku yang
mengambil keputusan mengenai segala sesuatu yang menyangkut apa pun di
sini."
"Persetan
denganmu," jawab Yunho. "Ini soal Sungmin, bukan Jung Mansion. Ia
memang putri tirimu, tetapi ia adikku."
"Aku tahu. Semua
ini berkaitan dengan Sungmin." Dada Jaejoong turun-naik karena letupan
emosi. Ketika menatap Yunho dengan sikap menantang, ia justru merasa makin
mencintai Yunho dan ingin menghapus luka di wajahnya. Tetapi ia tidak mau
menyerah oleh perasaan itu. "Kyuhyun sama sekali tidak memperalat Sungmin.
Ia mencintainya, Yunho. Sungmin juga mencintainya."
"Sungmin tidak tahu
apa yang dilakukannya.
"Ani, ia tahu. Ia
mencintai Kyuhyun. Apakah kau tak punya perasaan lagi? Emosimu tumpul?
Membuatmu tidak mampu melihat hal yang demikian jelas? Kalau kau menyuruh Kyuhyun
pergi, bayangkan apa pendapat Sungmin tentang dirimu. Kau orang yang dipujanya.
Ia mengagumi setiap langkah yang kau lakukan. Segalanya akan hancur bila kau
mematahkan hatinya dengan bertindak seperti itu. Tolong, jangan lakukan hal
itu, kumohon."
"Ini demi
kebaikannya."
"Bagaimana kau tahu
apa yang terbaik untuk dirinya?"
"Aku tahu."
"Seperti Siwon yang
tahu apa yang terbaik untukmu? Apakah kau akan memisahkan mereka seperti Siwon
memisahkan kita?"
Yunho seperti orang yang
kena tinju, bahkan lebih mematikan daripada hantaman tinju Kyuhyun. Matanya
nanar menatap Jaejoong, tetapi Jaejoong bergeming. Akhirnya Yunho mengalihkan
pandangan pada Kyuhyun, yang tanpa sadar mengelus pahanya yang terluka. Yunho
memandanginya tetapi tidak mengucapkan sepatah katapun sebelum meninggalkan
kandang.
Jaejoong merasa seluruh
jiwa raganya seperti terbang, ia merasa tubuhnya lemas. Beberapa saat lamanya
ia berdiri di tempat, memandangi jerami yang berserakan di lantai dengan mata
berkaca-kaca. Ia berhasil menyudutkan Yunho dan pria itu pasti sangat membenci
tindakannya itu. Sambil menarik napas panjang, ia mengangkat kepala dan
berbalik menghadap Kyuhyun. Wajahnya bengkak-bengkak.
"Kau tidak
apa-apa?"
Kyuhyun mengangguk,
sambil menyeka bibirnya yang sudah tak keruan bentuknya dengan sapu-tangan.
"Aku lebih
parah." Kyuhyun mencoba tersenyum tetapi kemudian meringis kesakitan.
"Biar kuminta Boa
mengobati lukamu."
Kyuhyun kembali
mengangguk dan Jaejoong berbalik. Ketika tiba di ambang pintu kandang, Kyuhyun
berkata, "Nyonya Jung." Jaejoong menatapnya. Dengan langkah
terpincang-pincang Kyuhyun menghampiri Jaejoong. "Gomapta. Apa pun
akibatnya, saya sangat menghargai pembelaan Anda untuk saya."
Jaejoong tersenyum getir
dan langsung menuju rumah. Dengan galau ia masuk lewat pintu belakang.
Dilihatnya Yunho duduk memangku Sungmin. Sungmin membenamkan wajah ke leher Yunho
dan menangis tersedu-sedu.
"Kau marah padaku.
Aku tahu kau marah."
"Ani," hibur Yunho
lembut sambil mengelus punggungnya. "Aku tidak marah. Aku hanya tidak mau
hal buruk menimpa dirimu, Sungmin, hanya itu."
"Yang dilakukan Kyuhyun
padaku bukan hal buruk. Aku mencintainya, Yunho."
Mata Yunho bertemu mata Jaejoong
dari balik kepala Sungmin. "Aku tidak yakin kau mengerti apa arti
mencintai pria, Sungmin. Atau apa makna laki-laki itu mencintaimu."
"Aku tahu! Aku
mencintai Kyuhyun dan Kyuhyun mencintaiku. Ia takkan menyakiti aku."
Yunho tidak mau mengakui
kekeliruannya. "Kita akan bicara soal ini nanti. Maafkan aku, aku
kehilangan kesabaran."
Namun Sungmin tidak mau
ditenangkan dengan cara itu. Ia mengangkat kepala dan mencengkeram kemeja Yunho.
"Kau tidak boleh berkelahi dengan Kyuhyun lagi. Berjanjilah, kau tidak
akan berkelahi lagi dengannya."
Yunho tidak dapat
menyembunyikan keterkejutannya. Ia menatap mata Sungmin yang tajam dan akhirnya
berkata, "Aku berjanji, aku tidak akan berkelahi dengan Kyuhyun
lagi."
Perlahan Sungmin
melepaskan cengkeraman tangannya pada kemeja Yunho dan dengan manis mencium
pipi Yunho. "Aku akan membantu Boa mengobati luka-lukanya." Bagi Sungmin,
persoalan sudah selesai. Ia meninggalkan dapur dan menaiki anak tangga.
"Aku tidak jadi
pergi hari ini," kata Yunho dengan nada tertahan ketika tinggal mereka
berdua di ruangan itu.
Hati Jaejoong melonjak
kegirangan, tetapi itu hanya reaksi sementara. Dengan sikap angkuh ia menaikkan
dagu. "Apa yang membuatmu berubah pikiran? Apakah kau takut, ketika kau
tidak ada, aku akan memengaruhi adik perempuanmu dan menghancurkan reputasi
keluargamu?"
Yunho menatap Jaejoong
dalam-dalam, baru menjawab, "Seperti itulah."
Mata Jaejoong
berkaca-kaca. Yunho tahu persis bagaimana menyakiti Jaejoong. Bagimu, aku hanya
barang mainan, bukan, Yunho? Kau menciumku, bila kau merasa ingin menciumku,
tetapi tidak cukup baik untuk menjadi anggota keluargamu."
"Aku tidak jadi
pergi."
Hanya itu yang dikatakan
Yunho sebelum melangkah ke luar ruangan.
.
.
.
.
.
To Be Continued

hoaaaaahhh..
ReplyDeletepertarungan yg sangat seru.. bs bayangin betapa sexynya yunho pas bertarung ma kyuhyun!!! *inget2 foto yunho latihan boxing*
kyumin, haha
ReplyDeletesabar yun, jangan emosi gitu napa?
sungmin cute disini :)
lanjut next chap
Oalaah , cmon! Di sini terlihat sulit sekali mereka bisa bersama
ReplyDelete