Setelah melempar pandang minta maaf pada Kyuhyun, Jaejoong buru-buru mengejar Yunho. Ia berhasil mengejarnya ketika sampai di teras, ditariknya tangan Yunho berbalik menghadap ke arahnya.
"Kau keterlaluan!
Apakah memuntahkan kemarahanmu pada Kyuhyun memberikan kepuasan padamu? Kau
merasa lebih enak sekarang?"
"Tidak juga."
Yunho membalik situasi,
kini ia yang menjadi penyerang. Dicengkeramnya kedua lengan Jaejoong, didorongnya
masuk sampai ke ruang tamu, lalu ditutupnya pintu ruang tamu. Dipepetnya Jaejoong
ke dinding dengan tubuhnya, mukanya ditundukkan sampai dekat sekali de-ngan
wajah Jaejoong, napasnya memburu.
Ia bertanya,
"Bagaimana kau bisa sampai hati tidur dengan ayahku? Bagaimana mungkin, Jaejoong?"
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
Ciuman Yunho makin lama
makin liar. Bibirnya berputar-putar di bibir Jaejoong, memaksa Jaejoong membuka
mulut dan membiarkan lidahnya masuk ke mulutnya. Pahanya dimajukan, menghimpit
tubuh Jaejoong. Satu tangannya yang bebas meremas payudara Jaejoong. Yunho
melakukannya tanpa kelembutan sedikit pun. Yang sengaja dilakukan Yunho untuk
merendahkan Jaejoong.
Jaejoong meronta-ronta.
Tangannya yang bebas mendorong dada Yunho yang kokoh dan memukul-mukuli
bahunya. Ia berusaha menghindarkan bibirnya dari ciuman Yunho, tetapi sia-sia.
Teriakan Jaejoong dibungkam bibir Yunho.
Ini bukan Yunho. Jaejoong
yakin, Yunho takkan pernah menyakitinya seperti ini. Yunho bertingkah seperti
orang kesetanan karena perasaan marah yang dipendam selama bertahun-tahun.
Musuh besarnya sudah mati, yang menyebabkan ia tak tahu lagi siapa yang harus
diajak bertengkar. Frustrasi yang menyergap perasaannya mendorong ia
memuntahkan kemarahannya pada Jaejoong, yang tanpa disadarinya diperalat untuk
mewujudkan rencana Siwon. Memahami situasi itu, cara paling baik untuk membela
dirinya adaJah dengan tidak melawan Yunho sama sekali. Ia pasrah dalam pelukan Yunho.
Setelah beberapa saat
berlalu, akal sehat Yunho kembali bekerja. Ia menyadari Jaejoong tidak lagi
meronta-ronta melawannya. Bibirnya dengan lembut mencium bibir Jaejoong.
Tangannya tidak lagi meremas-remas payudara Jaejoong, melainkan mengelusnya
dengan lembut, dan ia menarik tangannya dengan perasaan sesal.
Kelembutan seperti
inilah yang harus dilawan Jaejoong. Kekasaran yang dialaminya beberapa saat
lalu bukanlah berasal dari pria yang ia kenal dan cintai, melainkan dari
laki-laki yang hidupnya hancur berkeping-keping oleh kelicikan dan kegetiran
hidup. Kini sentuhan Yunho adalah sentuhan yang amat dikenalnya, yang mengingatkannya
akan kenangan manis di musim panas itu, sentuhan yang telah menawan hatinya.
"Yun."
Panggilan itu lebih mirip desah lembut, menyiratkan kerinduan dan keputusasaan.
"Apakah aku
menyakitimu?"
"Ani."
"Aku tidak
bermaksud begitu"
"Arra."
Yunho mencondongkan
tubuh ke depan, meletakkan tangannya, dari siku sampai ke ujung jari, ke
dinding di belakang Jaejoong. Dahinya disandarkan pada dinding di atas kepala Jaejoong.
Embusan napas Yunho menyentuh rambut Jaejoong.
"Mengapa
keinginanku tidur denganmu melebihi keinginanku bernapas? Mengapa aku tidak
bisa melupakanmu? Setelah semua yang terjadi saat ini, mengapa aku masih saja
ingin memilikimu?"
Yunho merapatkan tubuhnya
ke tubuh Jaejoong. Posisi tubuh seperti itu jelas membuat mereka bergairah,
membuat jantung mereka berdebar-debar. "Seharusnya kita bisa berbaring di
ranjang dengan posisi seperti ini kan, Jaejoong?"
"Oh, Tuhan." Jaejoong
menenggelamkan hidungnya ke leher Yunho. "Jangan bicara seperti itu, Yunho."
"Itu yang kau bayangkan.
Itu yang aku bayangkan."
"Jangan membayangkannya."
"Aku selalu
membayangkannya."
Tubuh mereka saling
memancarkan panas. Dada Jaejoong rapat menekan dada Yunho yang bidang. Perut
mereka saling menggesek diiringi tarikan napas berat. Yunho memperbaiki posisi
tubuhnya sehingga Jaejoong bisa merasakan dorongan hasratnya yang menggebu.
Kejantanan Yunho menutup kewanitaan Jaejoong. Paha mereka saling menekan.
Dengan masih berpakaian,
masih berdiri, tanpa bergerak, mereka bercumbu. Mereka bercinta.
Keintiman rohaniah,
bukan jasmaniah. Namun masing-masing merasakan kenikmatan yang jauh lebih dalam
dibanding percintaan nyata.
Yunho membenamkann
wajahnya ke rambut Jaejoong, menelusupkan hidungnya di antara helai-helai
rambut Jaejoong. Berulang-ulang Yunho menggumamkan nama Jaejoong. Emosi mereka
yang menggelora membuat tubuh mereka ge-metar. Kemudian mereka diam tak
bergerak.
Menit-menit berlalu dan
mereka masih saja tidak bergerak atau bicara. Mereka hanya berdiri dalam diam,
menikmati kedekatan tubuh satu sama lain, menyesali apa yang tak pernah
terjadi, meratapi mimpi yang takkan pernah terwujud.
Perlahan-lahan Yunho
menarik tubuhnya, sampai tubuh mereka tak lagi bersentuhan. Yunho menatap wajah
Jaejoong dengan sorot mata penuh kemarahan dan tuntutan. Jaejoong
menengadah-kan kepala, balik menatap Yunho.
"Bagaimana kau bisa
hidup bersamanya, Jaejoong?" tanya Yunho.
Yunho menjauhkan diri
dari dinding dan menyibakkan rambut. Ia tidak mengulang pertanyaannya, tetapi
ekspresi mukanya yang tegang menuntut Jaejoong menjawab pertanyaannya.
"Ia suamiku."
Pernyataan sederhana
yang diucapkan Jaejoong itu cukup menjawab semua pertanyaan Yunho. Tetapi
ternyata pernyataan itu malah menyulut kemarahan Yunho.
"Mengapa kau
menikah dengannya? Mengapa, oh Tuhan? Setelah apa yang terjadi di antara kita,
bagaimana bisa kau menikah dengan ayahku?"
"Kau tidak adil, Yun!"
tukas Jaejoong, yang tersulut kemarahan juga. "Kau yang meninggalkan aku,
bukan sebaliknya."
"Kau tahu apa
sebabnya aku kawin dengan Ahra."
"Ani, sebelum
kejadian dua hari yang lalu, aku tidak tahu apa alasanmu."
Yunho meletakkan tangan
di paha dan menatap Jaejoong marah. "Jadi, kau menganggap aku main-main
dengan perempuan lain, sementara aku menantang semua, bahkan akal sehatku, demi
memilikimu?"
Kekasaran sikap Yunho
mendorong Jaejoong untuk menantang balik. "Bagaimana seharusnya aku
bersikap? Kau meninggalkan aku tanpa pesan satu kata pun. Aku dengar kau
menikah dengan Go Ahra karena ia hamil. Apa lagi yang harus kupikirkan?"
Yunho mengumpat dan
membalikkan badan karena tidak ingin mendengar alasan yang dikemukakan Jaejoong.
"Aku tidak bisa menemuimu untuk menyampaikan kenyataan itu. Kau tidak akan
percaya padaku, sebagaimana yang lainnya."
"Aku mungkin
bisa."
"Kau bisa?"
tanya Yunho sambil membelalakkan mata ke arah Jaejoong. Mata Jaejoong menentang
tuduhan Yunho. "Tidak, tidak mungkin kau percaya," ujar Yunho pada Jaejoong.
"Kau akan
beranggapan seperti yang lain, bahwa akulah ayah si bayi itu."
Yunho berjalan ke sofa
dan mengempaskan tubuhnya di situ. Kakinya diselonjorkan. Ia menggosok-gosok
mata dengan ibu jari dan jari tengahnya. "Selain itu, aku takut kau
terlibat terlalu jauh, bila aku mencoba menemuimu lagi. Aku tahu, orang di kota
ini suka bergosip dan aku diawasi seperti pesakitan. Segala yang kulakukan akan
dilaporkan. Aku tidak mau mengambil risiko melibatkanmu dalam kesulitan."
Jaejoong berjalan
keliling ruangan, mengumpulkan kartu-kartu di karangan bunga yang dikirimkan
sebelum pemakaman.
"Jadi siapa ayah
bayi itu, Yun?"
Dengan acuh tak acuh Yunho
menyebutkan nama seorang pria. Jaejoong berbalik karena terkejut.
"Bukankah dia pria yang menikah dengan Ahra setelah kau bercerai?"
Yunho tertawa. "Ahra
ingin segera kembali kepada kekasihnya. Tetapi sebelum perceraian, ia menguras
uangku. Itulah hukuman yang harus kuterima karena tidak menginginkannya."
"Kau pernah
menginginkannya," ujar Jaejoong dengan suara lirih yang hampir tak
terdengar, teringat yang dikatakan Yunho pada malam mereka berada di kamar Siwon
di rumah sakit.
Yunho mendongak.
"Kau menuduhku begitu? Astaga, waktu itu aku masih muda, Jae." Yunho
kelihatan tersinggung. "Sekadar mengumbar nafsu. Ya, aku kencan dengannya
beberapa kali. Setiap laki-laki di kota pernah kencan dengannya. Tetapi aku
masih ingat untuk memakai kontrasepsi, agar ia tidak hamil. Teman-teman mainku
yakin aku tak pernah ingin menikahinya."
Jaejoong menunduk,
mengamati ibu jarinya. "Benarkah kau tidak...."
"Jae." Kepala Jaejoong
terangkat mendengar panggilan Yunho yang lembut. "Kau ingin tahu apakah
aku kencan ketika bersamamu?" Mata Jaejoong nanar menatap Yunho. "Ani,"
jawab Yunho. "Aku tidak bersama perempuan lain sepanjang musim panas
itu."
"Apakah kau
benar-benar mengatakan kepada Siwon... ayahmu... kau ingin rnenikah denganku?"
"Ya. Aku mengatakan
padanya aku sudah menemukan gadis yang ingin kunikahi."
Mereka saling pandang
beberapa saat, sebelum Jaejoong mengangkat kepala dan berbalik. "Bayinya, Junsu?"
Yunho tersenyum, sebelum
berkata dengan air muka sedih, "Ia yeoja yang baik."
Suara Yunho yang lembut
membuat Jaejoong kembali menghadap ke arahnya.
"Kau
menyayanginya?" tanya Jaejoong.
Tanpa malu-malu Yunho
mengangkat wajahnya. "Ya," jawabnya, sambil tertawa kecil.
"Sinting, ya? Tetapi setelah ia lahir, aku ingin membesarkannya."
Hati Jaejoong tersentuh
mendengar perkataan Yunho. Ia duduk di sebelah Yunho di sofa. "Bukan ingin
ikut campur urusanmu, Yunho. Tetapi bila kau bersedia menceritakannya padaku,
aku akan mendengarkan."
Yunho memandang wajah Jaejoong.
"Kau selalu bersedia mendengarkan. Coba ceritakan, apakah kau duduk di
dekat kaki Appa dan mendengarkan baik-baik ketika ia mencurahkan isi hatinya
padamu?"
Jaejoong menggumamkan
suara seperti tercekik sambil berdiri. Yunho menangkap tangannya dan memintanya
tetap duduk di sofa. "Maafkan aku. Duduklah."
Ketika Jaejoong meronta
berusaha melepaskan tangannya, dengan gerakan cepat Yunho menariknya dan
mendudukkannya kembali di sofa. "Aku sudah minta maaf. Aku tak sengaja,
itu kebiasaan yang sulit kuhilangkan. Bila kau ingin mendengar cerita tentang
perkawinanku yang menyakitkan itu, aku bersedia menceritakannya padamu. Kau
sudah tahu tentang kebrengsekan diriku yang lainnya, kau juga harus tahu soal
itu."
"Sudah kubilang,
aku tidak ingin ikut campur urusanmu."
"Dan aku
percaya," potong Yunho. "Oke?" Setelah Jaejoong mengangguk, Yunho
melepaskan genggamannya pada tangan Jaejoong.
"Ahra tidak lagi
mencintaiku, seperti yang kuharapkan. Siwon benar tentang hal itu. Ia mengakui
ia harus mengatakan aku ayah anaknya hanya agar tidak dibuang keluarganya.
Akhirnya kami meninggalkan kota ini, yang tak bisa ditolaknya, kami pindah ke Jepang.
Di sana aku harus bekerja karena tidak ingin minta satu sen pun dari ayahku.
Perkawinan kami memburuk, tetapi aku sangat menyayangi Junsu. Begitu dia
dilahirkan, ayah kandungnya muncul lalu ia dan Ahra membawanya pergi."
"Kau tidak
keberatan?"
"Tidak. Aku juga
ingin cepat-cepat terbebas darinya. Tetapi aku mengkhawatirkan Junsu. Ahra
bukanlah ibu yang baik. Ketika ia mengajukan gugatan cerai dengan alasan
mendapatkan penyiksaan mental, aku tidak menyangkal, tetapi ia masih belum
puas. Ia menuntut uang jaminan. Di satu sisi, aku ingin membiarkan ia dan
kekasihnya yang brengsek itu. Pendek cerita, aku harus kerja siang-malam
bertahun-tahun hanya agar terbebas darinya. Aku sedih harus kehilangan Junsu,
tetapi Ahra menuntut anak itu di bawah asuhannya."
"Apa Junsu tahu kau
bukan ayah kandungnya?" Jaejoong tidak dapat menahan rasa ingin tahunya
tentang gadis yang terpaksa hidup terpisah dengan ayah kandung yang tak pernah
dilihatnya.
"Oh ya," jawab
Yunho kesal. "Usia Junsu hampir tiga tahun ketika surat cerainya keluar.
Ia menangis, memelukku erat-erat ketika Ahra menariknya dari dekapanku. Mereka
kembali ke Korea, aku tetap tinggal di Jepang. Junsu memanggilku Appa, menangis
ingin bersama ayahnya. Namun, Ahra mengatakan padanya bila ia ingin bersama
ayahnya, ia harus ikut ibunya tinggal di Korea karena aku bukanlah
ayahnya."
"Oh, Yunho,"
gumam Jaejoong, gemetar membayangkan peristiwa yang mengerikan itu.
"Sekarang usianya
sebelas tahun. Kudengar ia agak binal, momok bagi siswa SMP di Korea." Yunho
menggeleng sedih. "Memalukan sekali, karena Junsu itu gadis kecil
baik-baik. Seperti yang kau ketahui, ia punya sederet 'ayah tiri'. Aku tidak
yakin ia ingat padaku."
Setelah diam beberapa
saat, Jaejoong berkata, "Apakah perusahaan pesawat terbang tempat kerjamu
berjalan baik sekarang ini?"
"Belum sepenuhnya.
Aku mendapat izin terbang ketika kuliah semester pertama. Waktu tinggal di Jepang,
aku dapat banyak jam terbang, aku dapat izin jadi pilot penerbangan carter. Aku
terus mengumpulkan jam terbang, meningkatkan kualifikasiku agar mendapat izin
menerbangkan pesawat yang lebih besar. Aku bertemu rekan kerjaku dan kami
merencanakan punya pesawat carter sendiri. Kalau ada perusahaan penerbangan
yang bangkrut, pesawat-pesawatnya dijual dengan harga murah, dan kami berhasil
mengumpulkan uang untuk membelinya. Bisnis kami maju sekali sehingga kami
berhasil melunasi utang jauh sebelum waktu yang ditetapkan, banyak permintaan
yang tak dapat kami penuhi. Kami membeli pesawat yang lebih besar, makin lama
makin banyak."
"Dan akhirnya
sampai di sini."
"Ya."
.
.
♥Kitahara Saki♥
.
.
Lingkaran cahaya lampu
jatuh menyinari mereka. Rambut Jaejoong yang hitam tergerai sampai ke bahu,
menyatu dengan rok hitam yang dipakainya. Hanya sebagian wajah dan lehernya
yang kelihatan putih di bawah sinar lampu yang kekuningan itu. Matanya
berbinar-binar ketika menatap mata Yunho.
"Jae?" panggil
Yunho lembut.
Dada Jaejoong berdegup
cepat. Tidak pantas sebenarnya merasa seperti itu di hari pemakaman suaminya,
tetapi Jaejoong yakin, andai saja Yunho berani melangkah lebih berani, ia akan
pasrah dan tak ada yang bisa menghalanginya. Ia masih mencintai pria ini, dan
tak pernah berhenti mencintainya. Tetapi cintanya terhadap Yunho bukan lagi
cinta remaja. Cintanya pada Yunho adalah cinta perempuan dewasa terhadap pria
dewasa. Kendati cepat naik darah, tidak bisa menerima kelemahan manusia lain,
marah terhadap hubungannya dengan Siwon, cinta Jaejoong pada Yunho tidak
berkurang.
"Ya, Yun?"
"Apakah kau pernah
ingat aku sewaktu tidur dengan ayahku?"
Barangkali belati yang
dihujamkan ke dadanya takkan lebih sakit ketimbang kata-kata yang dilontarkan Yunho
padanya saat itu. Jaejoong menangis pilu dan bangkit dari sofa. "Keparat
kau, Yunho! Jangan pernah menyinggung soal itu denganku."
Yunho pun bangkit dari
duduk dan berhadap-hadapan dengan Jaejoong. Dagunya agak diangkat dengan sikap
angkuh. "Aku ingin tahu. Apakah pernah hati kecilmu terusik, bagaimana kau
bisa menikah dengan Appa setelah kita menjadi sepasang kekasih?"
"Aku ingin menjadi
kekasihmu, ingat. Kau yang tidak ingin menjadi kekasihku. Kau tidak berani
mengambil risiko."
"Benar. Aku tidak
berani mengambil risiko yang bisa menyakitimu."
"Aku ingin kau
menyakitiku." Jaejoong mengatakan hal itu dengan sangat emosional di
antara sedu sedannya.
Yunho mengertakkan gigi
dan suaranya merendah. "Aku ingin menyakitimu dengan cara seperti tadi
itu, ya. Aku ingin menjadi orang pertama, yang menyakitimu, yang memungkinkan
kau menjadi milikku untuk selamanya." Yunho maju selangkah, dengan emosi
yang menggelegak.
"Tetapi harga
diriku disalahgunakan. Dan lebih tololnya, perasaanku terhadapmu lebih
istimewa, tidak bisa dibandingkan dengan gadis-gadis yang pernah kuajak
kencan."
"Pacarmu memang
banyak, kan?"
"Ya."
"Sebelum dan
sesudahnya."
"Ya."
"Lalu, mengapa kau
menyalahkan aku menikah dengan Siwon?"
"Karena kau bilang
kau mencintaiku."
"Apakah kau juga
mencintai gadis-gadis itu, Yunho? Cintakah?" Seketika Yunho memalingkan
wajah, tetapi Jaejoong sempat melihat ekspresi bersalah di wajahnya.
"Kau tidak ada di
sini waktu itu, Yunho. Kau sudah menikah dengan perempuan lain. Sepanjang yang
kutahu, aku hanyalah boneka mainan bagimu selama musim panas itu. Paling tidak,
kau kan bisa menulis surat, atau menelepon, atau apalah. Aku tidak yakin kau
pernah mengingatku. Andai kau ingat pun, paling aku sebagai gadis sederhana
dibandingkan gadis-gadis yang biasa bersamamu."
"Kau tahu apa
sebabnya aku tidak mengontakmu. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam persoalanku
dengan Ahra. Ketika masalahku beres, kau sudah kuliah dan aku mendapat kabar
kau sudah menikah. Aku menghapus harapan untuk bertemu denganmu. Kabar
berikutnya yang kudapat, kau sudah berbagi ranjang dengan ayahku!"
Jaejoong menutup
wajahnya dengan kedua tangan. la dapat menangkap gelombang kebencian yang
ditujukan kepadanya. Jaejoong menurunkan tangan, dengan berani balik menatap
mata Yunho yang penuh kemarahan. "Kita tidak bisa begini terus, Yun,"
katanya lembut. "Kita saling menghancurkan."
Bahu Yunho terkulai.
Untuk kesekian kali ia menyibakkan rambut. "Aku tahu. Aku akan
meninggalkan tempat ini besok pagi."
Hati Jaejoong hancur
berkeping-keping. Ia tidak bermaksud menyuruh Yunho pergi, ia hanya ingin
mereka berdua berdamai. "Kau tidak harus meninggalkan tempat ini. Aku yang
akan pergi. Ini rumahmu. Ini hanya tempat tinggal sementara bagiku. Aku tahu,
setelah Siwon meninggal, aku tidak berhak tinggal di sini lagi."
"Bila kau pergi dan
aku tinggal, apa kata orang nanti? Mereka akan bilang aku mengusir janda
ayahku. Tidak. Aku akan kembali ke Jepang besok."
"Tetapi pembacaan
surat wasiat dan pabrik...." Jaejoong mencoba memberi alasan yang masuk
akal agar Yunho tetap tinggal di situ. Memang tak ada masa depan untuk mereka
berdua, tetapi ia tidak kuasa melihat Yunho meninggalkannya untuk kesekian
kalinya. Jangan pergi dulu. Nanti saja, jangan sekarang.
"Aku akan datang ke
sini lagi pada hari pembacaan surat wasiat. Setelah itu baru kita atur
bagaimana yang terbaik. Menurutku lebih baik kau di sini besama Sungmin. Soal pabrik...."
Yunho tersenyum sinis. "Jalankan saja seperti saat kau menjalankannya
semasa Siwon masih hidup."
Mata Jaejoong yang muram
membingungkan Yunho. Ia maju beberapa langkah agar berada dekat Jaejoong. Ia
merangkul Jaejoong, mendekatkannya. Kepala Jaejoong terkulai ke belakang ketika
Yunho menunduk ke dekat mukanya.
"Jangan pandang aku
seperti itu. Kau kira aku ingin meninggalkan tempat ini? Rumahku? Tempat
tinggalku? Sungmin dan Boa?" Suara Yunho tiba-tiba merendah. "Kau?'
Ia menarik tubuh Jaejoong
lebih rapat dan mendesah ketika tubuh wanita itu bersentuhan dengan tubuhnya.
"Keparat kau. Keparat kau, Jae."
Bibirnya didaratkannya
di bibir Jaejoong dengan penuh gairah, tetapi sekali ini Jaejoong memang sudah
menunggu. Ia membuka mulut dan membiarkan bibir Yunho melumatnya. Lidah Yunho
meluncur masuk ke mulut Jaejoong yang manis tapi hangat. Diciuminya Jaejoong
berlama-lama. Pertama ia memiringkan kepala ke satu sisi, kemudian pindah ke
sisi lain, seperti ingin menikmati seluruh bibir Jaejoong secara utuh.
Tangannya memegangi muka Jaejoong, sementara bibirnya menciumi bibir wanita
tersebut.
Mendadak Yunho
menghentikan ciumannya. yang membuat Jaejoong gamang. Suara Yunho parau, suara
orang yang terluka karena harus menahan kerinduan yang dalam pada Jaejoong.
"Brengsek kau, mengapa kau harus menjadi miliknya untuk pertama
kali?"
Sedegup detak jantung
kemudian, Jaejoong sendirian.
.
.
.
.
.
To Be Continued

siwon keren bgt bs buat yunjae porak poranda..
ReplyDeletedan msh ada surat wasiat ya?? sprtinya yunho ga dpt nie ;-;
sungguh kejam siwon. benci ank cwonya sendiri smpai ky gitu
lanjut next aja lah :D
ReplyDeleteNasi udah jadi bubur, aku juga sedih Yun~
ReplyDelete