Jari telunjuknya yang kurus lagi gemetar diarahkan kepada Yunho. "Ya, aku mendapatkan kembali anakku, putraku. Memang makan waktu lama untuk mendapatkannya, tetapi aku berhasil. Kau tak bisa lagi memiliki yeoja itu sekarang, Yunho. Aku kenal siapa dirimu. Harga diri sebagai Jung takkan merelakan dirimu memiliki Jaejoong."
Siwon berhenti sejenak,
kemudian melanjutkan, "Karena aku sudah teriebih dahulu memilikinya. Kau
ingat itu. Jaejoong istriku dan aku yang memilikinya untuk pertama kali!"
.
.
Keempat orang di dalam
limusin itu duduk diam saat mobil melaju di bawah pepohonan yang tumbuh di
sepanjang jalan menuju pemakaman. Yunho dan Jaejoong memandang ke luar jendela.
Sungmin duduk di antara mereka, mempermainkan saputangan di antara jemarinya. Boa,
yang duduk di belakang, mengamati mereka, juga dalam diam. Paling tidak,
membisu semampunya.
.
.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
.
"Sepertinya banyak
sekali yang melayat," komentar Boa, sambil memandang ke arah iring-iringan
mobil yang berderet di belakang mobil jenazah dan limusin mereka.
Tak ada yang memberi
tanggapan. Akhirnya Jaejoong berkata, "Kebanyakan penduduk kota,
kurasa."
"Tak banyak yang ku
ingat soal pemakaman Mama. Ada yang kau ingat, Yunho?" Sungmin bertanya
takut-takut. Saat sorot mata Yunho tajam seperti itu, Sungmin merasa takut.
"Ya," jawab Yunho
sambil menggigit bibir. "Aku masih ingat."
Setelah menyadari ia
berbicara dengan yeodongsaengnya, Yunho menoleh dan tersenyum lembut padanya.
Digamitnya tangan Sungmin, lalu diciumnya dan digenggamnya erat-erat.
"Banyak orang yang menghadiri pemakamannya juga."
"Kukira
begitu," jawab Sungmin, sambil tersenyum, lega karena tidak ada lagi sorot
mata dingin dan cemas di wajah Yunho.
"Orang pasti akan
ramai membicarakannya," ujar Boa, menduga-duga.
"Karena kalian
tidak membuat acara doa kematian di gereja. Pendeta kaget. Orang lain pun akan
merasa begitu."
"Biar saja mereka
keheranan, aku tidak peduli apa yang orang-orang katakan," kata Yunho
ketus.
"Kau tidak tinggal
di sini," kilah Boa. "Kami tinggal di sini."
"Tak ada misa di
gereja," kata Yunho, menegaskan. "Kau dengar, Boa?" Sorot
matanya yang tajam dan tak mau dibantah, serta suaranya yang berwibawa, membuat
Boa tak mengomentari lebih lanjut.
"Ya, Sir." Ia
menaikkan duduknya karena gusar. Yunho kembali memandang ke luar jendela.
Jaejoong iba melihat Boa
dan Sungmin. Manusia-manusia polos seperti mereka harus hidup bersama orang
seperti Siwon. Mereka juga takkan mengerti mengapa Yunho bersikap dingin
menghadapi kematian ayahnya. Buat dirinya sendiri, mereka akan mengira kematian
ini sangat mengejutkannya.
Boa memegang tangan Jaejoong
dan berkata, "Kau sangat tabah, Jae. Tetapi waktu menangis akan tiba.
Ketika sudah sendirian, hiruk-pikuk ini sudah berlalu, kau pasti akan
menangis."
.
.
Boa keliru. Jaejoong
tidak akan menitikkan setetes air mata pun untuk pria yang pernah menjadi
suaminya itu. Air matanya sudah kering saat ia meninggalkan kamar di rumah
sakit karena penghinaannya. Yunho mengikutinya ke luar beberapa saat kemudian,
air mukanya juga tegang. Pandangannya dingin menakutkan. Sampai detik itu pun,
kesan itu yang tetap tinggal di wajahnya.
Bermalam-malam, mereka
duduk berjaga di kursi besi ruang tunggu rumah sakit. Mereka tidak bicara.
Mereka tidak saling pandang. Betapa sering Jaejoong ingin meminta maaf karena
menuduh Yunho mengkhianati cinta mereka gara-gara Ahra. Betapa ingin ia
mengelus, memeluknya, menangisi hari-hari yang memisahkan mereka selama
bertahun-tahun. Bahkan sampai saat ini pun mereka masih terpisah. Garis wajahnya
dan tubuhnya mengatakan demikian. Itu sebabnya Jaejoong memutuskan menjaga
jarak dan berdiam diri.
Siwon tak sadarkan diri
setelah Yunho meninggalkan kamarnya. Ketika menemui Jaejoong dan berlutut di
hadapannya, dokter menggenggam tangannya. "Takkan lama lagi. Anda boleh
pulang kalau mau. Toh ia tidak akan tahu Anda ada di kamar atau tidak."
Jaejoong menggeleng. Ia
tidak ingin melihat wajah Siwon lagi. Ketika dokter memberitahunya Siwon
meninggal, Jaejoong meninggalkan rumah sakit bersama Yunho, dengan air mata
yang mengering dan hati hampa.
.
.
Kini ia harus
berpura-pura berduka, seperti kebanyakan istri yang ditinggalkan suami. Limusin
berhenti. Ia dibantu turun oleh petugas pemakaman dan diajak ke tenda yang
dibangun di dekat liang kubur. Ia duduk di kursi yang disediakan, duduk dengan
kaku, Yunho di sebelahnya, Sungmin di sebelah Yunho. Boa memilih berdiri di
belakang Sungmin, meletakkan tangannya di bahu yeoja muda itu untuk
menenangkannya.
Jaejoong berusaha
menutup telinga, tidak mau mendengarkan khotbah Pendeta. Matanya nanar
memandang peti mayat yang penuh bertabur mawar putih.
Ketika acara doa
kematian berakhir, ia menerima ucapan duka cita dari para pelayat. "Ia
tegar sekali ya?" bisik mereka pada satu sama lain.
"Tanpa setitik air
mata pun."
"Tentu saja, sejak Siwon
dioperasi, ia sudah tahu semua ini hanya masalah waktu." "Ya. Ia
sudah mempersiapkan diri."
"Kendati demikian, ia
harusnya memperlihatkan kesedihan. Kau tahu bagaimana orang yang mendapat
musibah. Mereka jadi emosional di depan orang banyak."
"Aku tak tahu
bagaimana nasib pabrik penggilingannya nanti."
"Jaejoong tetap
akan menjalankannya, kurasa."
"Bagaimana dengan Yunho?"
"Ia akan tinggal di
sini."
"Ia akan kembali ke
Jepang."
"Aku tidak tahu
pasti."
.
.
Jaejoong mendengar
desas-desus yang dipergunjingkan orang itu ketika berjalan ke arah limusin yang
menunggunya. Namun sedikitpun ia tidak merasa terganggu oleh gosip itu.
Kelicikan dan tipu muslihat Siwon yang amat keji terhadap dirinya masih segar
dalam ingatannya. Kalau sampai tidak bisa mengendalikan diri, ia akan
kehilangan muka karena akan berteriak-teriak seperti orang gila. Oleh sebab itu
ia biarkan saja mereka menganggap dirinya sebagai orang yang pandai menahan emosi.
Ia tidak akan berdoa atau menangisi kepergian Jung Siwon. Siwon tidak hanya
menyakitnya, tetapi juga satu-satunya pria yang pernah ia kasihi. Tak ada kata
maaf dalam hatinya buat kejahatan yang dilakukannya.
"Syukur, akhirnya
selesai sudah," kata Yunho ketika ia duduk di bangku belakang sambil
menjabat tangan pendeta untuk terakhir kalinya.
Namun segalanya belum
berakhir. Sepanjang petang penuh sesak oleh orang-orang yang berdatangan ke Jung
Mansion untuk menyampaikan penghormatan terakhir pada Siwon. Jaejoong yakin
umumnya mereka datang karena didorong perasaan ingin tahu. Mereka ingin melihat
perubahan apa yang dilakukan Jaejoong pada rumah yang ditinggalkan Jung Kibum.
Ia mendapat kesan kebanyakan dari mereka kecewa ketika melihat tak ada yang
berubah di rumah itu. Apakah mereka berharap dindingnya ditempeli wallpaper dan
lampu remang-remang?
.
.
Rupanya tak pernah rasa
ingin tahu mereka tentang Jaejoong terpuaskan. Jaejoong yang duduk dengan penuh
wibawa dalam kemuraman diam-diam memerhatikan para pelayat yang mengamatinya.
Ia penasaran, apa yang diharapkan orang-orang itu.
Apakah mereka berharap
melihat dirinya mengenakan sesuatu selain baju hitam pekat?
Apakah mereka
mengharapkan dirinya menangis tersedu-sedu?
Atau mereka berharap
melihatnya kini tertawa-tawa karena suaminya yang sudah tua tapi kaya itu sudah
meninggal?
Sabagaimana mereka
kecewa melihat tak ada perubahan dalam Jung Mansion, begitu pun perasaan mereka
ketika melihat dirinya. Putri keluarga Kim itu tidak memberi kesempatan kepada
mereka untuk berbicara banyak dengannya.
Akhirnya, para pelayat
itu pamit, sampai akhirnya rumah kosong. Bayang-bayang malam yang panjang mulai
menyelinap di antara jendela, membentuk jalur-jalur di lantai kayu.
.
.
Boa sibuk membereskan
gelas dan tisu bekas pakai, dan membuang debu rokok dari asbak. "Ada yang
mau makan malam?"
"Aku tidak mau,
terima kasih, Boa," jawab Jaejoong dengan galau.
"Tidak, terima
kasih." Yunho menuang minuman bourbon ke dalam gelas tinggi. "Tidurlah,
Boa. Kau sudah bekerja keras sepanjang hari."
Boa mengangkat baki yang
penuh gelas-gelas. "Setelah selesai mencuci gelas-gelas ini, aku tidur.
Ada hal lain yang kau butuhkan, Jae?"
Jaejoong tersenyum dan
mengucapkan terima kasih, lalu menggeleng. "Selamat malam, Boa."
"Hmmm, di kulkas
banyak makanan bila ada yang lapar. Selamat malam."
Boa meninggalkan Jaejoong
dan Yunho berduaan di kamar tamu. Jaejoong menyandarkan kepak di bantal sofa
dan memijat-mijat pelipisnya sambil memejamkan mata. Ia membuka kancing blusnya
dan melepas separu, menarik napas lega.
Setelah membuka setelan
jas hitamnya, Yunho menggulung lengan kemeja. Ia berdiri di salah satu sudut
jendela yang tinggi. Satu tangan dimasukkan ke saku celana, tangan yang lainnya
sesekali mendekatkan gelas minuman ke bibirnya. Ini pertama kalinya mereka
berduaan sejak meninggalkan rumah sakit dua malam yang lalu. Sepertinya mereka
tak punya bahan obrolan.
Perlahan mata Jaejoong
membuka. Diamatinya Yunho dari seberang ruangan. Asyik ia memperhatikan siluet
tubuh Yunho di saat malam mulai menjelang itu.
Rambutnya yang hitam
tampak kontras sekali dengan kerah kemejanya yang putih. Bahunya bidang. Jaejoong
memerhatikan garis rompi yang dikenakan Yunho sampai ke pinggangnya. Bokongnya
kecil tapi kelihatan bagus di balik celana yang dijahit rapi itu, pahanya
kencang, ramping lagi panjang.
Tak ada hal lain yang
diinginkan Jaejoong saat itu kecuali mendekatinya. Ia bisa merasakan bagaimana
tangannya menyelinap di antara kemeja Yunho, memeluk erat perutnya yang ia tahu
rata tapi keras. Jaejoong merasakan dadanya sesak karena menekan keinginan
merasakan kekokohan punggung Yunho yang bersentuhan dengan payudaranya. Ia
ingin meletakan pipinya di bahu laki-laki itu, menikmati bau tubuhnya,
menghirup aroma tubuhnya, setiap nuansa dirinya.
Selagi Jaejoong asyik
mengamatinya, mendadak Yunho tampak tegang dan mengumpat, "Apa-apaan
mereka itu?"
Yunho meletakkan gelas
minuman di meja antik lalu menghambur ke luar ruangan. Air mukanya tampak
tegang. Karena terkejut, Jaejoong melompat dari sofa dan cepat-cepat lari ke
jendela.
Tampak Kyuhyun dan Sungmin
di halaman. Mereka berjalan perlahan menuju rumah. Tangan Kyuhyun merangkul
pundak Sungmin, tubuh mereka rapat. Sungmin merebahkan kepala di dada Kyuhyun. Kyuhyun
menunduk, menempelkan kepalanya ke kepala Sungmin. Jaejoong melihat bibir Kyuhyun
bergerak-gerak, berbicara pada gadis itu dengan lembut. Kemudian dilihatnya
bibir Kyuhyun mengecup pelipis Sungmin, memberikan ciuman lembut.
Jaejoong menghambur ke
luar dengan kaki yang hanya mengenakan stoking, karena tahu apa yang dilihat Yunho.
Ia harus mengejar Yunho sebelum,...
Jaejoong bisa
membayangkan apa yang bakal terjadi, ia mendengar pintu kasa depan dibanting Yunho
keras-keras, langkahnya menggema di lantai teras rumah. "Sungmin!"
seru Yunho.
.
.
♥Kitahara Saki♥
.
.
Jaejoong mengejar Yunho,
tergesa-gesa menuruni anak tangga. "Yunho, jangan."
Sungmin mengangkat
kepala dari dada Kyuhyun, tetapi tidak kelihatan ia hendak menjauhkan diri dari
Kyuhyun. Sebaliknya, ia malah menggandeng Kyuhyun ke hadapan Yunho yang
memanggilnya. Jaejoong melihat langkah Kyuhyun yang bimbang. Kyuhyun bukanlah
orang lugu seperti Sungmin. Seketika ia menangkap kegusaran yang terkandung
dalam suara Yunho. Namun Kyuhyun tidak mengalihkan pandangan dari Yunho ketika
mereka mendekati pria itu.
"Ya, Yunho?"
ujar Sungmin.
"Dari mana
kau?"
"Aku dari tempat
tinggal Kyuhyun, nonton televisi." Sungmin tersenyum pada Kyuhyun.
"Kyuhyun ingin
menghiburku, melupakan kedukaanku karena ditinggal appa."
Api kemarahan yang
menggelora dalam hati Yunho seperti disiram bensin. "Hmmm, kau tahu ini
sudab larut malam. Sebaiknya kau cepat pergi tidur."
"Tadi Kyuhyun juga
bilang begitu padaku," jawab Sungmin sambil menarik napas. "Selamat
malam, semuanya." Sungmin tersenyum manis pada Kyuhyun sebelum masuk
rumah.
Yunho membiarkan
beberapa detik berlalu, sampai akhirnya terdengar suara pintu depan ditutup Sungmin.
Kemudian ia cepat-cepat mendekati Kyuhyun. "Jangan pernah sentuh adikku
lagi, arra? Jika aku melihatmu
menyentuhnya sekali lagi, kau akan kehilangan pekerjaan dan langsung harus
pergi dari sini."
"Aku tidak
mengerayangi Sungmin, Tuan Jung," jawab Kyuhyun dengan nada datar.
"Aku hanya ingin menghiburnya. Ia sedih karena kehilangan ayah dan...
beberapa hal lainnya."
"Hmmm, tapi ia
tidak perlu 'hiburan' dari-mu."
"Yunho," sela Jaejoong
sambil memegang tangan Yunho, mengingatkan. Yunho menepis tangan Jaejoong.
"Apa maksud…"
"Kau tahu apa yang
kumaksud. Kau pura-pura menghiburnya, padahal kau menginginkannya."
Kyuhyun menggigit bibir
bawahnya. Jaejoong tahu hanya karena takut kehilangan pekerjaan, harus
meninggalkan Jung Mansion dan Sungmin lah yang menyebabkan Kyuhyun tidak
menanggapi kata-kata Yunho.
"Terserah apa yang
Anda pikirkan tentang saya, tuan Jung, tetapi begitulah faktanya. Saya tak pernah
melakukan sesuatu yang menyakiti Sungmin, dan takkan pernah."
Yunho menatap Kyuhyun
dengan marah. "Kalau begitu, berarti tak ada masalah, bukan? Tetapi untuk
lebih meyakinkan, jangan sampai aku salah paham apa yang kau lakukan, jauhilah Sungmin."
Setelah mengatakan itu Yunho berbalik dan masuk ke rumah.
.
.
♥Kitahara Saki♥
.
.
Setelah melempar pandang
minta maaf pada Kyuhyun, Jaejoong buru-buru mengejar Yunho. Ia berhasil mengejarnya
ketika sampai di teras, ditariknya tangan Yunho berbalik menghadap ke arahnya.
"Kau keterlaluan!
Apakah memuntahkan kemarahanmu pada Kyuhyun memberikan kepuasan padamu? Kau
merasa lebih enak sekarang?"
"Tidak juga."
Yunho membalik situasi,
kini ia yang menjadi penyerang. Dicengkeramnya kedua lengan Jaejoong, didorongnya
masuk sampai ke ruang tamu, lalu ditutupnya pintu ruang tamu. Dipepetnya Jaejoong
ke dinding dengan tubuhnya, mukanya ditundukkan sampai dekat sekali de-ngan
wajah Jaejoong, napasnya memburu.
Ia bertanya,
"Bagaimana kau bisa sampai hati tidur dengan ayahku? Bagaimana mungkin, Jaejoong?"
.
.
.
.
To Be Continued

siwon rip « di fic ini ya hehe
ReplyDeletesungmin polos bgt!!!
huahhh yunjae bnrn nahan abiz2an napsu mrk. hueeeeehhhhh
yahhh yunho ga terima tuh.. dy mendiamkan jaejoong mgkn mikir sijae d bed ㅋㅋㅋ
Setelah siwo wafat apa maslah yunjae akan selesai. ?
ReplyDeleteakhirnya siwon die, ehh*mian buat fans siwon oppa XP
ReplyDeletelanjutannya gimana? next chap
Apa setelah ini YunJae bisa bersama?
ReplyDelete