Thursday, February 20

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 19

"Aku tidak jadi pergi hari ini," kata Yunho dengan nada tertahan ketika tinggal mereka berdua di ruangan itu.
Hati Jaejoong melonjak kegirangan, tetapi itu hanya reaksi sementara. Dengan sikap angkuh ia menaikkan dagu. "Apa yang membuatmu berubah pikiran? Apakah kau takut, ketika kau tidak ada, aku akan memengaruhi adik perempuanmu dan menghancurkan reputasi keluargamu?"
Yunho menatap Jaejoong dalam-dalam, baru menjawab, "Seperti itulah."
Mata Jaejoong berkaca-kaca. Yunho tahu persis bagaimana menyakiti Jaejoong. Bagimu, aku hanya barang mainan, bukan, Yunho? Kau menciumku, bila kau merasa ingin menciumku, tetapi tidak cukup baik untuk menjadi anggota keluargamu."
"Aku tidak jadi pergi."
Hanya itu yang dikatakan Yunho sebelum melangkah ke luar ruangan.

.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
"Selamat pagi, Nyonya Jung."
"Nyonya Jung, hari ini cuaca cerah ya?" Jaejoong membalas salam yang ditujukan kepadanya ketika memasuki pabrik. Musim panen sudah di depan mata. Para pekerja mulai lembur mengolah ginseng yang mulai berdatangan. Jam kerja yang panjang, jamjam kerja yang melelahkan, debu, panas, dan berisik. Namun tetap terpancar kesan bangga di wajah para pekerja di pabrik pabrik itu. air muka yang sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah terlihat di wajah mereka. Bukan rahasia lagi, setiap orang tahu dari mana datangnya perasaan seperti itu. Yunho.
Semua peralatan, setelah diperbaiki baru-baru ini, bisa kembali dioperasikan dengan hasil memuaskan. Para petani ginseng yang pada musim-musim panen yang lalu menjual hasil panennya ke pabrik lain, kini kembali membawanya ke pabrik keluarga Jung. Bukan rahasia lagi, setiap orang tahu mengapa terjadi hal itu, juga.
Yunho.
Keberadaannya di pabrik yang hanya beberapa minggu itu membawa perubaban drastis. Umumnya para pekerja menyambut kedatangan Yunho. Yang bersedia bekerja keras mendapat kenaikan upah. Yang biasanya datang terlambat atau melalaikan tugas dipecat. Jaejoong melihat yang dipecat adalah para pekerja yang suka melalaikan tugas. Mereka adalah orang-orang yang dipekerjakan Siwon untuk tugas khusus, pekerjaan, yang menurut perkiraan Jaejoong, lebih baik tidak diketahuinya. Dulu ia pernah meminta Siwon memberhentikan mereka. Dari peristiwa itu ia sadar, lebih baik baginya jika tidak mencampuri urusan pribadi Siwon.
"Ia suka bikin masalah," kata Jaejoong.
Siwon waktu itu hanya tersenyum manis. "Ia melakukan... tugas-tugas... bagiku, Jae. Kalau mereka 'membuat onar dengan salah satu karyawan pabrik, tolonglah, tak usah kau hiraukan."
"Tetapi ia pekerja pabrik juga."
"Memang seharusnya begitulah kesannya." Melihat ekspresi Jaejoong yang tidak menerima, Siwon hanya menambahkan secara diplomatis. "Aku akan bicara dengannya, bila ia menimbulkan banyak masalah bagimu."
Sekarang barulah Jaejoong tahu mereka itulah yang diperintahkan Siwon memata-matai Yunho musim panas itu.
Yunho, dengan persetujuan Jaejoong, tidak mau menunda waktu semenit pun untuk menendang orang-orang yang tak berguna dan menaikkan gaji karyawan yang bisa dipercaya lagi setia. Mereka menghormati Yunho. Mereka bekerja keras bukan karena takut pada Yunho, seperti waktu mereka bekerja pada ayah Yunho, mereka bersedia bekerja keras karena menyukai Yunho. Yunho punya kemampuan memotivasi mereka. Ia memberi kritik-kritik yang membangun pada mereka. Ia memberikan pujian bila mereka pantas dipuji. Ia ikut bekerja keras bersama mereka. Tak heran, batin Jaejoong, Yunho menjadi pebisnis yang sukses.
Sepuluh hari telah berlalu sejak peristiwa perkelahian di kandang kuda antara Kyuhyun dan Yunho. Yunho lebih banyak menghabiskan waktu di pabrik. Jaejoong senang Yunho di sana. Keberadaannya menambah kepercayaan diri Jaejoong. Jaejoong tahu beberapa pekerja itu dipecat karena mengkritik Jaejoong.
Meskipun tidak diungkapkan secara gamblang, keduanya berusaha berdamai.
Kitahara Saki
Suatu pagi di pabrik, waktu Jaejoong sibuk mengurus surat-surat bisnis, Yunho masuk ke ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu. "Jae, aku ingin memperkenalkan seseorang padamu, bila kau tidak sibuk."
Jaejoong tersenyum manis dan merentangkan tangan ke arah kertas-kertas yang berserakan di mejanya. "Oh, tidak. Aku tidak sibuk."
Yunho tersenyum ganjil. "Ini penting, kalau tidak, aku tidak akan mengganggumu."
Sambil berdiri, Jaejoong bertanya, penasaran, "Nugu?" Kejutan.
Dengan jari-jari menempel di punggung Jaejoong, Yunho mengajak wanita itu melewati ruang pabrik yang bising, ke luar, menuju mobil yang memuat ginseng, siap diantar ke gudang.
.
.
Seorang pria bertubuh tambun dengan setelan warna putih tampak mengambil ginseng sambil mengisap cerutu yang menyebarkan bau menyengat dan tidak menyenangkan, mengingatkan Jaejoong pada Siwon. Tetapi tak terlihat kepribadian mendominasi seperti Siwon pada orang itu, yang kini mengangkat kepala dan tersenyum ramah ketika melihat Jaejoong yang bersama Yunho berjalan menghampirinya.
"Tuan Kim Kangin, kenalkan, Jung Jaejoong."
"Tuan Kangin." Jaejoong menjulurkan tangan. Tangan Jaejoong yang kecil tenggelam dalam genggaman tangan Kangin yang menyalami Jaejoong dengan tulus. Andai kenal kakeknya, ingin Jaejoong membayangkan rupa kakeknya seperti Tuan Kangin ini.
"Senang bisa berkenalan dengan Anda, Nyonya Jung. Sangat senang sekali. Anda punya... uh... ehm... anak tiri Anda, Yunho, ini, mengatakan pada saya, berkat pengelolaan Anda yang saksama, pabrik keluarga Jung berkembang pesat."
Pipi Jaejoong langsung memerah ketika ia melirik Yunho, kemudian kembali menghadap tamunya. "Yunho sangat banyak membantu saya, saya rasa. Tetapi saya sangat bangga dengan produk ginseng yang kami hasilkan sekarang."
"Tuan Kangin calon pembeli ginseng kita dari Kim Corp di Seoul."
Jaejoong menghadap ke arah Yunho, karena itu hanya Yunho yang melihat alis Jaejoong yang terangkat dan mulutnya yang ternganga kecil karena terkejut. Mata Yunho berbinar nakal. Susah payah ia menekan dorongan hatinya untuk tertawa.
"Saya... saya mengerti," gagap Jaejoong lalu kembali menghadap ke arah calon pembeli ginsengnya. Setiap petani ginseng di daerah Selatan atau penjual ginseng kenal baik perusahaan Kim Corp. Mereka memproduksi produk kualitas terbaik di
dunia.
"Kami akan dengan senang hati memberikan contoh ginseng kami kepada Anda, Tuan Kangin," kata Jaejoong setenang mungkin. Ia merasa adrenalinnya mengalir cepat ke seluruh tubuhnya. Bila ia dan Yunho berhasil menjual ginseng mereka ke perusahaan Kim Corp, itu berarti lompatan bisnis besar buat mereka.
"Terima kasih atas sambutanmu, Yunho, aku sudah mengambil contohnya." Ia mengambil sejumput ginseng dan mengamatinya sehingga ia dapat mengirakualitasnya.
"Ini ginseng berkualitas prima," katanya kagum. "Kurasa kau bisa menjualnya kepada kami sebagian."
Baik Jaejoong maupun Yunho berusaha menekan lonjakan kegembiraan hati mereka. "Kami sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan pembeli lain," kata Yunho, pura-pura menolak.
"Aku menghormati keputusanmu, Yunho," kata pembeli itu. "Berapa banyak ginseng yang bisa kau jual kepadaku?"
Sementara Jaejoong berdiri di sampingnya, dengan perasaaan resah berganti-ganti posisi berdirinya, Yunho tawar-menawar dengan si calon pembeli. Akhirnya mereka sepakat atas sejumlah ginseng yang akan dikirim dan harganya. Harga paling mahal yang pernah diperoleh Jung Corp.
"Tentu saja, kami akan mengantar ginseng Anda dengan pesawat," kata Yunho tanpa pikir panjang ketika mengantar Tuan Kangin menuju kamar kerja Jaejoong untuk menandatangani kontrak.
"Dengan pesawat?" tanya Tuan Kangin, menatap Yunho tidak percaya. Tetapi bukan hanya Tuan Kangin yang terkejut, Jaejoong juga.
"Kami berikan servis istimewa kepada pembeli pilihan kami," jawab Yunho sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Ketika Tuan Kangin berbalik hendak melangkah masuk ke ruang kantor, Yunho mengedipkan mata pada Jaejoong yang masih terkejut dan tidak dapat berkata-kata.
Setelah Kangin meninggalkan tempat itu, Jaejoong memandang Yunho dengan jengkel.
.
.
"Dengan pesawat?" tanyanya, dengan nada tinggi. "Mengapa tidak dikirim dengan kereta api?"
Yunho tertawa, lalu membuka laci, membuka lemari, mencari-cari sesuatu. "Tidak masalah," jawab Yunho seenaknya.
"Aha, aku tahu pasti ada di sini." Ia mengeluarkan sebotol minuman bourbon dari laci lemari paling bawah.
"Ada gelas minuman? Ah, persetan dengan gelas." Yunho membuka tutup botol, mendongakkan kepala dan langsung menenggak minuman dari botol. Wajahnya meringis ketika carian yang membakar itu mengalir turun ke tenggorokannya.
"Aku punya pesawat barang yang sudah ku perbaiki sendiri. Kita kan ingin menanamkan citra baik pada perusahaan Kim Corp, bukan? Apa kau pikir mereka akan mengacuhkan perusahaan yang bisa mengantarkan ginseng mereka dengan pesawat terbang?"
"Tetapi biaya bahan bakarnya saja sudah berapa... Yunho, biayanya sangat mahal."
"Tidak, bila aku yang mengangkut dan menerbangkan pesawat itu," jawab Yunho, sambil melempar senyum lebar pada Jaejoong. "Yang harus dibayar cuma biaya bahan bakar dan beberapa jam terbangku. Tetapi bila kontrak kerja sama dengan Kim Corp berkesinambungan, itu investasi besar, menurutku. Bagi kita."
Yunho mengangkat botol sebagai tanda hormat pada Jaejoong sebelum kembali menenggak minuman bourbon itu, kemudian menyodorkannya ke hadapan Jaejoong. "Ini."
Terhanyut kegembiraan untuk merayakannya, Jaejoong menatap botol minuman, dan tergoda ingin meminumnya juga. "Tapi aku tidak biasa," katanya, berbohong dan malu-malu, dan melempar pandang ke arah pintu.
"Tentu saja kau bisa minum."
"Bagaimana bila ada yang datang dan melihat kita minum-minum di sini?"
"Mereka akan mengerti. Kita baru saja menandatangani kontrak kerja besar. Di samping itu, aku sudah memberitahu mereka, siapa pun tidak boleh masuk ke ruang kerja ini tanpa mengetuk pintu lebih dulu."
"Kau selalu masuk tanpa mengetuk."
Yunho kelihatan jengkel. "Kau mau minum atau tidak?"
Dengan berani Jaejoong memegang leher botol dan meniru gerakan Yunho, kepalanya ditengadahkan dan ia membiarkan minuman itu meluncur turun ke tenggorokannya. Jaejoong terbatuk-batuk dan berdecap-decap, air matanya menitik dan ia merasakan perutnya terbakar. Yunho mengambil botol minuman dari tangan Jaejoong ketika melihat Jaejoong terbungkuk-bungkuk karena batuk. Ia menepukkan telapak tangannya pada punggung Jaejoong dan tertawa terbahak-bahak.
"Lebih enak?" Perlahan Jaejoong menegakkan tubuh, menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"Kurasa ya," jawab Jaejoong dengan suara parau, lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Oh Tuhan, Jae. Tadi aku khawatir sekali," kata Yunho penuh semangat. "Aku takut ia bilang tidak atau meninggalkan kita tanpa membuat kesepakatan pasti."
"Mengapa kau tidak memberitahu aku lebih dulu ia akan ke sini?"
"Aku tidak ingin membuatmu berharap."
"Aku senang kau tidak memberitahuku. Aku suka kejutan."
“Oh ya?”
"Ya." Jaejoong melempar senyum pada Yunho, senyumnya makin lebar ketika menyadari kembali apa yang tengah mereka rayakan. "Ya, ya, ya."
Semua itu tidak direncanakan. Sama sekali tidak direncanakan. Yunho memeluk pinggang Jaejoong, mengangkat tubuh perempuan itu beberapa sentimeter dari lantai lalu memutar-mutarnya. Keduanya tertawa-tawa. Yunho menengadah ketika memandang Jaejoong. Jaejoong tersenyum dengan posisi tubuh yang masih terangkat dan meletakkan tangannya di bahu Yunho.
"Kita berhasil! Kita berhasil membuat kontrak kerja sama paling mahal dalam sejarah perusahaan Jung. Kau sadar apa arti kesepakatan ini, Jaejoong? Pembeli-pembeli baru akan berdatangan ke sini. Petani ginseng akan berdatangan ke tempat kita," kata Yunho, menjawab pertanyaan Jaejoong.
"Bukan tahun ini, tetapi tahun depan. Kita bisa mengembangkan perusahaan ini." Yunho mendekap Jaejoong, memutarnya seperti orang yang berdansa waltz.
Kitahara Saki
Ketika Yunho menurunkan tubuh Jaejoong, wajar bila timbul keinginan Yunho untuk mencium wanita itu. Bibir Yunho mencium bibir Jaejoong. Bukan ciuman kekasih, tetapi ciuman antar kawan, merayakan kesuksesan pekerjaan mereka.
Namun begitu bibir mereka bersentuhan, nuansa ciuman pun berubah. Mustahil mereka bersentuhan tanpa merasakan sentuhan itu sebagai sentuhan sepasang kekasih. Sewaktu merasakan bibir Jaejoong yang lembut, basah, dan pasrah menyentuh bibirnya, seketika gelora hasrat langsung menguasai Yunho. Yunho mengangkat kepala hendak melihat reaksi Jaejoong.
Matanya memandang wajah Jaejoong lekat-lekat, mengamati garis-garisnya. Pipinya yang kemerahan, rambutnya yang pirang, sorot matanya yang bening bak titik hujan yang berkilau, bibirnya, semua menarik hatinya.
Jaejoong menanti penuh harap, merasakan napas Yunho yang makin memburu, melihat sorot matanya yang makin berbinar.
Ia menginginkannya. Oh, Tuhan, ia masih menginginkan Jaejoong. Betapa ingin ia melumat Jaejoong, menjadikannya pelabuhan terakhirnya, selamalamanya. Namun Jaejoong sudah bersumpah akan setia sampai mati pada ayahnya. Dan Yunho yakin, kendati telah meninggal dunia, pengaruh orang seperti ayahnya yang sudah di liang kubur akan tetap ada. Jaejoong masih menjadi milik Siwon dan karena alasan itulah Yunho tak berani mewujudkan apa yang sangat didambakannya. Gejolak hasrat dalam tubuhnya seperti mencekik dirinya, ia harus melepaskan cengkeraman itu dan melepaskan Jaejoong.
Ia tidak ingin melakukannya.
Pertama, ia menarik tangannya dari belakang pinggang Jaejoong ke samping. Dibiarkannya kedua tangannya terkulai di sisi tubuhnya. Seperti ada perekat tak kasatmata yang melekatkan keduanya, perlahan-lahan mereka saling menarik diri sebelum akhirnya Yunho melangkah mundur. Yang terakhir dilepaskannya dari Jaejoong adalah matanya, yang tetap memandangi Jaejoong dan harus dipaksanya agar berpaling.
Jaejoong kecewa dan terguncang, tetapi berusaha tidak memperlihatkannya ketika Yunho membalikkan badan untuk melihatnya sebelum membuka pintu.
"Kurasa aku akan mengundang seluruh karyawan minum bir untuk merayakan peristiwa ini. Ini bisa mendorong mereka bekerja lebih giat lagi untuk menghasilkan ginseng berkualitas untuk perusahaan Kim Corp."
"Kurasa itu hal yang baik sekali, Yunho. Kutunggu kau di rumah?"
Yunho mengangguk. "Aku takkan terlambat."
.
.
Di pusat perbelanjaanlah pertama kali Jaejoong mendengar hal yang ramai digosipkan orang-orang.
Boa menelepon pabrik, meminta Jaejoong singgah ke toko sebelum pulang. Jaejoong mencatat barang-barang yang diminta Boa. "Terima kasih atas bantuanmu."
"Terima kasih kembali," jawab Jaejoong.
"Aku akan pulang secepatnya. Yunho akan keluar seusai kerja, berarti kau bisa menyiapkan makan malam setengah jam lebih lambat daripada biasanya."
Jaejoong tengah mendorong kereta belanja di lorong toserba sambil memeriksa daftar barang yang harus dibeli waktu ia melihat dua ibu yang memandanginya terang-terangan. Jaejoong kenal mereka. Salah seorang di antaranya penggosip nomor satu di kota itu. Ia punya putri yang usianya sama dengan Jaejoong, yang kini menikah dengan buruh pabrik. Kabarnya, karena suka mabuk, menantunya itu sering dipecat dari pekerjaannya. Sementara putrinya dulu sangat populer, salah satu anggota "geng", kelompok yang tidak mau bergaul dengan Jaejoong. Namun yang menyakitkan, kini justru putri keluarga Kim yang pemabuk itu menikah baik-baik! Ibu yang satunya lagi menuju ke bagian penatu, bertukar gosip sambil memeriksa pakaian kotor yang akan dicuci.
.
.
Tidak perlu menghindari mereka, batin Jaejoong, meyakinkan diri agar bisa melakukan hal itu. la mengangkat dagu dan sengaja mendorong kereta belanja melewati mereka.
"Anyonghaseyo, Nyonya Hwang, nyonya Song."
"Nyonya Jung," jawab mereka serentak. Sikap pura-pura mereka jelas terlihat. "Kasihan sekali Anda," kata salah seorang ibu. "Bagaimana keadaan Anda sekarang, setelah tuan Jung meninggal?"
"Saya rasa pemakamannya berjalan sangat baik.”
“Sangat baik," sahut ibu yang lain.
"Gomawoyo, Nega gwencanayo." Seharusnya Jaejoong langsung mendorong kereta belanjanya, karena ia berhasil memaksa ibuibu itu untuk bersikap santun, tetapi salah seorang di antara mereka mengajak Jaejoong bicara.
"Pasti Anda terhibur Yunho ada di rumah pada saat seperti ini."
“Hati-hati, Jae.” batin Jaejoong mengingatkan dirinya. Mereka ganas seperti ikan piranha, dan mereka bisa mencabik-cabik dirimu.
"Kepulangan Yunho ke Jung mansion sangat berarti buat Sungmin dan Boa, pengurus rumah tangga kami. Terutama, dalam situasi seperti sekarang ini, mereka senang sekali Yunho ada di rumah lagi."
Ibu-ibu itu benar-benar menyimak setiap kata yang meluncur keluar dari mulut Jaejoong. "Berapa lama ia akan tinggal di sini? Bukankah bisnisnya sukses di Jepang? Di mata dia, pastilah kita hanya orang-orang kampung."
"Yunho sangat mencintai Korea. Jung mansion akan senantiasa menjadi rumahnya."
Jawaban Jaejoong makin membangkitkan rasa ingin tahu mereka. Mereka makin rapat, seperti binatang buas yang mengerumuni mangsa dan siap melahapnya.
"Tetapi bagaimana dengan Anda? Setelah Anda menikah dengan Mr. Jung, tidakkah Jung mansion itu akan menjadi milik Anda? Atau Anda merencanakan tinggal di sana bersama-sama? Seperti satu keluarga besar?"
"Kami memang satu keluarga besar," sabut Jaejoong sambil tersenyum dingin. "Satu keluarga besar yang sangat bahagia."
"Oh, pasti," jawab mereka, mengiakan penuh semangat.
"Salam saya untuk Tiffany," kata Jaejoong kepada ibu teman sekelasnya sambil menjauh. "Saya dengar ia punya anak lagi."
"Yang keempat." Mata yang tak berwarna itu memandangi Jaejoong yang memakai gaun dari katun dengan iri. "Sayang sekali Mr. Jung tidak memberikan seorang anak pun. Anak bisa menjadi hiburan yang menyenangkan di saat duka."
keprihatinan yang paling palsu yang pernah didengar Jaejoong dalam hidupnya. Andai Jaejoong tidak sedang bergulat menahan marah, ia pasti sudah menertawai sikap yang sangat berpura-pura itu.
"Untuk apa anak baginya, Hwang?" Sepasang mata yang lain, yang sama dengkinya, penuh prasangka, menatap tubuh Jaejoong. "Kan ada Yunho yang bisa menemaninya tinggal di rumah itu dan memberikan hiburan yang dibutuhkannya.
"Oh, ya, Yunho. Kita tidak boleh lupa, ada Yunho tinggal bersama dia."
"Selamat sore, nyonya" sahut Jaejoong, bergegas. Ia memaksakan diri mengambil barang-barang dalam daftar yang harus dibeli sebelum langsung pergi ke kasir dan meninggalkan tempat itu. Penghinaan itu membuat matanya terasa panas.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

3 comments:

  1. yunjaeddiction8:43 PM

    orgnya udh meninggal tp msh ky org hidup :'(
    siwon rip (lagi)

    ReplyDelete
  2. Anonymous6:45 AM

    Ternyata siwon tetep berpengaruh neee

    ReplyDelete
  3. hoalah, sabar umma, jangan dengerin ibu-ibu ga penting itu

    ReplyDelete