"Kau sudah makan?"
"Belum. Aku kepanasan dan badanku kotor untuk makan."
Memang benar, badan Yunho kotor. Wajahnya berminyak dan
berkeringat. Membuat giginya jadi kelihatan lebih putih ketika ia tersenyum.
"Lagi pula, aku tak mau membuang waktu."
Jaejoong tersenyum lalu merogoh kantong kertas putih.
"Kubawakan makan siang untukmu. Kau tidak perlu berhenti bekerja kau bisa
meminum makan siang ini." Jaejoong memasukkan sedotan ke gelas plastik.
"Apa ini?"
Jaejoong menyerahkan gelas tinggi dan dingin itu ke tangan Yunho,
lalu berdiri.
"Milk shake cokelat.".
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Version
©Kitahara Saki
APA maksudnya? Brengsek,
mana aku tahu, Yunho menjawab pertanyaannya sendiri ketika berada di kamar
mandi dan hendak menyalakan keran air. Ia melepas pakaiannya yang berkeringat,
penuh minyak dan debu. Ia menyeruput minumannya dan meletakkannya di meja.
Pertama, milk shake
cokelat. Jelas, itu tawaran persahabatan sebagai tanda berdamai. Sepanjang sore
Jaejoong tinggal di penggilingan. Ia bilang akan menyelesaikan urusan
administrasi, tetapi ternyata ia lebih banyak berlutut di samping Yunho dan
menanyakan apa yang bisa ia lakukan untuk membantunya, atau apakah ada yang
bisa diambilkannya. Seperti perawat piawai yang membantu dokter bedah, Jaejoong
segera memberikan perkakas kepada Yunho tiap kali Yunho menjulurkan tangan.
.
.
.
Mereka mengobrol tentang
hal-hal yang tidak penting. Kebanyakan tentang topik yang mereka ketahui.
Mereka bicara soal keluarga. Yang tak satu pun ada kesamaan di antara mereka.
"Kau lihat Minnie
hari ini?" tanya Jaejoong.
"Ani. Kau lihat?"
"Ani. Kemarin ia
kelihatan depresi sekali. Aku takut itu gara-gara ia kini tahu keadaan Siwon
yang memburuk."
"Mungkin. Tetapi
bisa saja karena sesuatu yang berkaitan dengan Cho Kyuhyun." "Mengapa
kau bilang begitu?"
"Tolong berikan
obeng itu lagi."
"Yang gagang merah
atau kuning?"
"Merah. Karena pagi
tadi, ketika ia mengeluarkan kuda untukku, Kyuhyun kelihatan pendiam
sekali."
"Mungkin kau
mengintimidasinya."
"Oh, Tuhan, aku
ingin melakukan hal itu." Yunho mengharapkan argumentasi.
Meskipun kelihatan tidak
suka dengan apa yang dikatakannya, Jaejoong tidak memberi komentar. Karena
lantai pabrik sangat berdebu, Jaejoong duduk di bangku dekat Yunho, terlalu
dekat. Meskipun kepala Yunho ada di kolong mesin, meskipun tidak langsung
melihat wajah Jaejoong, ia tetap menyadari keberadaan Jaejoong. Aroma tubuhnya
seperti memenuhi seluruh ruangan, seperti hawa panas petang itu. Di balik
pakaiannya, butir-butir keringat mengucur deras. Tetapi ketika tangannya
bersentuhan dengan tangan Jaejoong, rasanya sejuk dan kering. Ingin Yunho
menempelkan tangan itu ke wajah, leher, dan dadanya.
Sambil mengumpat karena
teringat peristiwa petang itu, Yunho menyeruput minumannya lagi. Itu baru
sebagian dari tubuhnya yang ia ingin disentuh tangan Jaejoong.
Dalam perjalanan pulang,
Jaejoong banyak bicara. Ketika hampir tiba di pintu gerbang, Jaejoong menoleh
ke arahnya dan berkata,
"Mandilah dengan
tenang. Aku akan minta Boa menunda makan malam supaya kau sempat mendinginkan
badan dan beristirahat. Kusiapkan minuman untukmu. Apa yang kau suka?"
Yang diinginkannya dari Jaejoong
saat itu adalah penjelasan mengapa mendadak ia bersikap ramah padanya. Apakah Siwon
memintanya melakukan hal itu? Atau ini memang gagasannya? Mengapa tiba-tiba Jaejoong
bersikap seperti ibu tiri yang berusaha mengambil hati anak tirinya? Hmmm, apa
pun siasatnya, ia takkan berhasil, batin Yunho sambil melangkah ke bawah
pancuran air. Ia takkan pernah menganggap Jaejoong sebagai ibu tirinya, dan
andai Jaejoong menganggap ia bisa berperilaku seperti itu, berarti ia tidak
ingat sama sekali pengalaman di musim panas itu. Musim panas. Mengingat
peristiwa itu saja sudah membuat jantung Yunho berdebar-debar.
Yunho memaki dirinya.
Dua belas tahun kemudian, ia masih saja bertingkah seperti orang bodoh.
Hei, Jung Yunho, Namja
yang patah hati. Hah! Ia tidak pernah mendapat kesulitan dengan yeoja kecuali
saat harus melepaskan diri dari yeoja yang membosankannya. Apakah aneh bila
perasaannya terhadap Jaejoong muncul bak air bah?
Musim panas itu penuh
konflik. Ia merasa sangat bahagia sekaligus sangat sedih, seingatnya. Saat
tidak bersama Jaejoong, ia ingin waktu cepat berputar agar ia bisa segera
bersamanya. Saat bersama Jaejoong, saat yang sangat dinikmatinya setiap
detiknya, ia berharap waktu tidak cepat berlalu agar ia tidak berpisah darinya.
Ia frustrasi karena tidak bisa mengajak Jaejoong pergi ke tempat kencan
biasanya, dan takut ada yang melihat mereka bersama. Ia selalu kelaparan tetapi
tidak ada yang ingin dimakannya. Ia dililit gairah sepanjang waktu tetapi tidak
tahu bagaimana menyalurkannya. Ia tidak bisa melakukan hal itu dengan Jaejoong
tetapi juga tidak ingin melakukannya dengan yeoja lain.
Ia hanya menginginkan Kim
Jaejoong. Ia tidak bisa memiliki yeoja itu.
Siang-malam ia berdebat
dengan dirinya sendiri. Jaejoong masih di bawah umur, ya Tuhan. Lima belas
tahun! Kau hanya cari masalah, Jung. Masalah besar.
Namun setiap menunggu Jaejoong
di pinggir hutan, ia cemas kalau-kalau Jaejoong tidak muncul. Kecemasannya
tidak hilang, sampai ia melihat Jaejoong berdiri di antara pepohonan yang
bermandikan cahaya matahari.
.
.
♥Kitahara Saki♥
.
.
Namun suatu hari, di
hari terakhir itu, matahari tidak bersinar. Hari itu turun hujan....
Matahari bersinar cerah
saat ia meninggalkan rumah. Hari itu, bahkan lebih dari hari-hari sebelumnya,
ia sangat ingin berjumpa dengan Jaejoong. Ia dan appanya bertengkar pagi itu. Siwon
mengubah peraturan untuk pembelian ginseng. Apa yang dilakukan Siwon bukan
sesuatu yang melanggar hukum ataupun etika. Ketika Yunho menyinggung masalah
itu, Siwon marah sekali. Berani-beraninya anak yang masih ingusan, putranya
yang tak punya pengalaman bekerja, memberi nasihat bagaimana ia harus
menjalankan bisnis dan mengatur hidupnya? Ia belum membuat Jung corp, pabrik pengolahan
ginsengnya, mencapai sukses.
Yunho muak melihat apa
yang terjadi, tetapi ia tidak punya kekuataan untuk menentangnya. Ia merasa
harus berbicara dengan Jaejoong. Jaejoong akan mendengarkannya.
Jaejoong sudah
menunggunya di sana, duduk di bawah pohon sambil melipat kaki. Wajahnya
terangkat ketika melihat Yunho bergegas mendekatinya. Tanpa sepatah kata pun Yunho
berlutut di hadapan Jaejoong, memegang kedua pipinya lalu mencium bibirnya. Lidahnya
dijulurkan masuk ke dalam mulut Jaejoong, menemukan mata air manis yang sangat
berbeda dari kepahitan yang baru dialaminya bersama appanya. Ciuman Jaejoong
selalu melayang jauh dari kemuraman yang menyelimuti rumahnya yang cantik.
Ketika pada akhirnya ia
melepaskan bibir Jaejoong, ia bergumam, "Oh, Tuhan, betapa senangnya bisa
bertemu denganmu." Kemudian kembali ia mendaratkan bibirnya di bibir Jaejoong.
Perlahan-lahan, tanpa basa-basi, ia merebahkan Jaejoong ke tanah, di atas
rumpunan lembut tanaman pakis dan lumut. Tanpa melawan, Jaejoong berbaring dan Yunho
ikut di sampingnya, menyilangkan salah satu pahanya ke tubuh Jaejoong.
Yunho mengangkat kepala
dan memandangi Jaejoong. Mata Jaejoong yang keabu-abuan memancarkan keteduhan
di balik bulu matanya. Bibirnya basah dan memesona karena ciumannya. Rambutnya
dibiarkan tergerai di belakang kepalanya seperti untaian benang sutra yang
terhampar di padang hijau. Angin yang bertiup menerpa pipinya dengan lembut.
"Kau cantik sekali,
Jae" bisik Yunho. Ia membungkuk dan mencium kelopak mata Jaejoong.
"Kau juga
tampan."
Yunho menggeleng,
menyangkal. "Aku bajingan egois. Kaupikir aku ini siapa, datang menemuimu
seperti ini, menciumimu, merasa yakin kau bersedia dicium, bahkan tanpa
berbasa-basi lebih dulu? Mengapa kaubiarkan aku melakukan semua ini
padamu?"
Tangan Jaejoong yang
mulus terangkat dan menepis rambut yang jatuh di dekat alis. "Karena kau
butuh aku seperti ini hari ini," jawab Jaejoong.
Yunho meletakkan
kepalanya di lekukan bahu Jaejoong. Jaejoong meletakkan tangannya pada leher Yunho.
"Kau benar. Appa dan aku bertengkar hebat pagi tadi."
"Aku sedih
mendengarnya."
"Begitu pun aku, Jae."
Suara Yunho terdengar parau, nada suara orang yang sangat putus asa.
"Mengapa ia dan aku tidak bisa saling menyayangi? Atau saling
menyukai?"
"Kau tidak
bisa?"
Yunho diam, mencari
jawaban yang pas. Ia paham, betapa pentingnya bersikap begitu. "Tidak.
Kami tidak bisa. Sedikit pun. Aku sangat membenci situasi ini, tetapi
demikianlah adanya."
"Coba ceritakan
keadaannya padaku."
"Ia menikah dengan eommaku
untuk mendapatkan nama baik dan uang eommaku. Ia tidak mencintai eommaku dan eomma
tahu hal itu. Appaku orang yang harus disalahkan atas ketidakbahagiaan eommaku
selama hidupnya dan menyebabkan ia mati muda. Maksudku, Eomma meninggal karena
sakit hati. Dan appaku tidak menyukaiku karena aku tahu perbuatannya dan ia
tidak tahan melihat sikapku. Banyak orang yang berhasil dibodohinya, tetapi ia
tidak bisa menipu putranya sendiri dan itulah yang menyulut kemarahannya."
Jari-jari Jaejoong yang
menenangkan itu terus mengelus rambut Yunho. "Mungkin kau terlalu
menghakiminya. Bagaimanapun ia manusia biasa, Yunho, bukan dewa. Ia juga bisa
berbuat kekeliruan. Apa orang tua harus tanpa cela?" Jaejoong mengelus
leher Yunho dan menekan ringan rahangnya sampai Yunho mengangkat kepala dan
menatapnya.
"Kurasa kau agak
picik. Maafkan aku mengatakan hal ini. Kau menuntut kesempurnaan dan tidak bisa
menerima kegagalan dalam dirimu sendiri. Kau mengharapkan hal yang sama dari
orang lain dan itu tidak fair, Yunnie. Tidak adil memaksakan ukuranmu pada
orang lain. Kita semua kan hanya manusia biasa."
Jaejoong mengelus bibir Yunho
dengan ujung jarinya. "Aku sedih mendengar hubunganmu dengan appamu tidak
sebagaimana mestinya. Seburuk apa pun appaku, aku tidak bisa berbuat lain,
kecuali menyayanginya. Alasannya, terutama, karena ia sangat membutuhkan
cinta."
Jaejoong tersenyum ceria
pada Yunho. "Bersabarlah, Yun. Jangan suka tidak sabar. Bertahun-tahun
sudah appamu hidup dengan cara begitu. Tidak mudah menerima perubahan."
Mata Jaejoong berkaca-kaca.
"Terapi aku kagum
kau berani mempertahankan prinsipmu, kendati sikapmu menyulut kemarahan appamu."
Perlahan Yunho
tersenyum, penuh kelembutan. "Kau sungguh istimewa, kau tahu? Bagaimana
kau bisa menganggap semua itu baik? Hmmm' Mengapa setiap kali bersamamu aku tak
merasakan kegelapan, tidak kehilangan harapan? Mengapa aku selalu merasa punya
jalan keluar ketika bersamamu? Dan aku merasa kau juga bisa menegurku,
mengembalikan kepercayaan diriku?"
Kegembiraan yang
dirasakan Jaejoong mendengar apa yang dikatakan Yunho jelas terpancar.
Mata Jaejoong meredup
karena perasaan malu. "Betulkah aku melakukan semua hal itu untukmu?"
Mata musang Yunho
melembut. Ia merapatkan tubuhnya ke rubuh Jaejoong, dan menindihnya.
Yunho menegang.
"Banyak hal yang kaulakukan untukku," ujar Yunho parau, sambil
menggerakkan tubuhnya ke tubuh Jaejoong.
Mata Jaejoong membeliak,
tubuhnya gemetar.
Sambil mengumpat
dirinya, Yunho menjauh. "Brengsek! Apa yang terjadi atas diriku? Aku tidak
boleh melakukan hal seperti itu padamu. Mianhe Jae."
Sambil meraih Yunho, Jaejoong
berkata, "Bukan soal itu."
Jaejoong mengangkat
tangan dan memperlihatkan kulitnya yang meremang. "Udaranya lebih dingin.
Kurasa mau hujan."
Kata-kata itu belum lama
meluncur keluar dari bibir Jaejoong, titik hujan sudah jatuh menimpa wajahnya. Yunho
menutupi tubuh Jaejoong dengan punggung dan menatap awan tebal di langit. Titik
hujan jatuh makin cepat dan deras. Keduanya tertawa girang seperti anak-anak
ketika merebahkan diri di tanah dan membiarkan air hujan membasahi tubuh
mereka. Badai yang mengamuk di musim panas itu perlahan mereda, hujan yang
tadinya lebat kini tinggal titik-titik air gerimis.
Yunho menopang tubuh
dengan siku dan memandangi Jaejoong. Wajah Jaejoong tetap cantik biarpun tidak
memakai kosmetik. Ia malah ke-lihatan segar dan memikat sekali. Mata Yunho
tertuju ke leher Jaejoong, dan turun lagi. Napasnya memburu. Blus putih yang
dikenakan Jaejoong basah kuyub dan membentuk buah dadanya. Hari ini Jaejoong
tidak memakai bra.
Yunho menatap Jaejoong
dengan pandangan bertanya-tanya.
Suara Jaejoong rendah
dan parau karena perasaan malu. "Aku tidak punya sesuatu yang cantik untuk
kupakai. Kupikir... bila aku tidak memakai apa-apa, jadi kelihatan tidak
terlalu jelek... aku... oh...."
Jaejoong seperti mau
menangis dan melipat tangannya di dada. "Aku tidak bermaksud...."
"Ssst," ujar Yunho,
perlahan menurunkan tangan Jaejoong ke samping. Beberapa saat lamanya,
satu-satunya suara yang terdengar di sekeliling mereka hanyalah suara titik
hujan. Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan kagum. Blus yang basah itu
memperlihatkan segalanya, payudara yang lembut, puncaknya yang mencuat.
"Kurasa, kudengar
suara geledek," bisik Jaejoong dengan tubuh gemetar.
Yunho mengangkat tangan dan
memegang kemejanya yang basah. "Bukan. Itu suara debar jantungku."
Yunho membungkuk dan
menyentuh bibir Jaejoong dengan bibirnya. Ciumannya begitu lembut dan manis,
sangat penuh kelembutan. Perlahan lidahnya menjilat ujung-ujung bibir Jaejoong,
dengan lembut menelusuri garis bibir-nya. Telinga Yunho menangkap suara
mendesah yang keluar dari tenggorokan Jaejoong. "Oh, Jae," desah Yunho.
.
.
.
.
.
To Be Continued

apakah mrk melakukannya
ReplyDeletehujan" an making love
Oh Bittersweet Rain yah
ReplyDeleteIya iya~ :')