Kendati demikian ia
tidak bisa menyalahkan Jaejoong, seperti yang ingin ia lakukan. Tiap kali
menatap Jaejoong, ia makin menginginkan wanita itu. Ia harus segera
meninggalkan tempat ini. Segera. Sebelum ia melakukan sesuatu yang bisa
mempermalukan dirinya sendiri. Namun itu pun tidak bisa ia lakukan, apa pun
alasannya. Sungmin. Appanya. Tetapi terutama karena Jaejoong. Berjumpa lagi
dengan Jaejoong dua belas tahun kemudian membuat Yunho tidak bisa serta merta
meninggalkannya.
"Kau tahu di mana
bisa mencariku," kata Yunho sambil berjalan keluar pintu.
Bittersweet Rain
© SANDRA BROWN
yunjae version © Kitahara Saki
Jaejoong bekerja di
kantor menyelesaikan surat-surat, sementara Yunho dibantu karyawan mencari
perkakas yang dibutuhkan. Sejam kemudian Jaejoong berdiri di belakangnya,
ketika ia tengah membongkar bagian dalam mesin besar. "Yunho, aku akan
pergi ke rumah sakit sebentar. Kalau aku belum kembali tapi pekerjaanmu sudah
selesai, kau bisa minta tolong salah seorang karyawan mengantarmu pulang."
Yunho tersenyum getir.
"Tak usah repot. Aku masih agak lama di sini." Jaejoong nyengir. Yunho
melihat tangan Jaejoong setengah terangkat hendak menyentuh lengannya. Namun ia
tak jadi melakukannya, malah cepat-cepat mengucapkan selamat tinggal dan pergi.
.
.
_Mizuki Kitahara_
.
.
Rumah sakit terasa sejuk
dan tenang setelah dari pengolahan ginseng yang berisik dan hiruk-pikuk. Siwon
masih terbaring di ranjang, tatapannya lekat pada layar televisi, walaupun ia
mematikan suaranya. Tubuhnya dipasangi selang untuk makanan dan untuk mengeluarkan
kotoran. Layar monitor berkedip, mengeluarkan suara mencicit dan merekam kerja
organ tubuhnya yang penting. Kondisinya tampak sangat mengenaskan. Jaejoong
tersenyum ceria dan dengan berani mendekatinya.
"Siang, Wonnie."
Jaejoong mencium pipi Siwon yang pucat pasi. "Bagaimana keadaanmu?" Ucapan
itu terlalu kasar untuk yeoja peka sepertimu," jawab Siwon. Diamatinya
pakaian Jaejoong dan bertanya, "Kau pulang dari pabrik?"
"Ya. Sepagian ini,
sebenarnya, kalau tidak, aku pasti datang lebih awal ke sini. Ada masalah
dengan salah satu mesin pengolah."
"Masalah apa?"
"Aku belum tahu
pasti. Masalah di bagian mesinnya. Yunho sedang memeriksanya. Bunga dari
anak-anak Sekolah Minggu ini cantik sekali."
"Apa maksudmu, Yunho
sedang memeriksanya?"
Jaejoong memerhatikan
rangkaian bunga yang diantar ke rumah sakit sewaktu ia belum tiba dan membaca
kartu nama pengantarnya, agar ia tahu kepada siapa ia akan mengucapkan terima
kasih. Namun ia berbalik seketika mendengar kata-kata Siwon. Tak pernah Jaejoong
melihat air muka Siwon sedemikian mengerikan. Atau penyakit yang dideritanya
membuat wajahnya kelihatan penuh kebencian?
"Jawab
pertanyaanku, brengsek!" bentak Siwon nyaring, di luar dugaan Jaejoong.
"Apa yang dilakukan Yunho di pabrik pengolahan ginseng itu?"
Jaejoong yang merasa
sangat terkejut tidak segera dapat mengucapkan kata-kata dari mulut nya.
"Aku... aku memintanya memeriksa mesin yang rusak. Ia insinyur. Ia bisa…"
"Tanpa izinku kau
minta putraku ikut campui urusan di pabrik?" Siwon berusaha duduk "Ia
sudah melepaskan haknya atas pabrik pengolahan ginseng milik keluarga Jung
ketika ia pergi dari rumah dua belas tahun yang lalu. Aku tidak ingin ia ada di
pabrik, mendekatinya sekalipun. Kau mengerti Jae?"
Keringat bercucuran di
dahinya. Matanya membeliak karena marah.
Jaejoong takut melihat
kemarahan Siwon dan memikirkan nyawanya. "Wonnie, tenanglah. Yang
kulakukan hanya meminta Yunho memeriksa mesin yang rusak. Ia bukan ikut campur
dalam bisnis di sana."
"Aku kenal anak
itu. Ia akan mencari-cari kesalahan di sana, menasihatimu tentang bagaimana
mengatur keuanganku." Siwon menunjuk Jaejoong dengan jari telunjuknya, dan
berbicara dengan suara melengking, "Kau dengar, dengarkan sebaik-baiknya.
Kau tidak boleh memakai satu sen pun uang pengolahan itu tanpa seizinku."
Jaejoong serasa ingin
menepis jari telunjuk yang diarahkan kepadanya itu, yang menuduhkan sesuatu
tidak pada tempatnya.
"Tidak akan pernah,
Siwon," jawab Jaejoong jujur.
"Yunho juga tidak
pernah ada."
"Dan salah siapa
itu?"
Pertanyaan Jaejoong yang
tidak cukup bijaksana itu menggema di ruangan yang steril dan berbalik
menyerangnya. Beberapa menit lamanya Jaejoong merasa tidak dapat bernapas,
hanya mampu melirik tubuh suaminya yang tak berdaya, yang sudah lemah, yang
menyiratkan bahaya, seperti binatang jinak yang terluka dan kini berusaha
menghancurkan siapa pun yang mencoba mendekatinya.
Siwon memperdengarkan
tawa yang mengerikan, kemudian ambruk di atas bantal.
"Itukah yang
dikatakan Yunho padamu? Bahwa aku mengusirnya karena ia mempermalukanku dengan
menghamili anak yeoja keluarga Go?"
Mata Jaejoong tertuju
pada tangannya. Ujung jarinya terasa kaku, AC rumah sakit hanyalah sebagian
penyebabnya. Telapak tangannya basah karena keringat.
"Tidak. Kami tidak
bicara soal itu," kata Jaejoong jujur.
"Hmm, supaya kau
tidak mendapat informasi yang salah, sebaiknya kuluruskan. Aku tidak menyuruh Yunho
meninggalkan rumah selama dua belas tahun. Tetapi ia tahu aku marah sekali
padanya, tetapi bukan karena ia menghamili yeoja itu."
Siwon tertawa terkekeh.
"Aku sudah mengira ia bisa melakukan kenakalan seperti itu. Bagaimanapun
ia namja. Mereka akan meniduri yeoja bila dapat kesempatan, bukan?"
Jaejoong membuang muka.
Kata-kata Siwon bak tombak yang dihunjamkan ke tubuhnya. "Kurasa memang
demikian."
Tawa Siwon makin nyaring.
"Percayalah padaku. Seorang namja akan melakukan apa pun, mengatakan apa
saja, asal bisa menyusup ke balik rok yeoja. Apalagi kalau yeoja itu agak
penurut.
Jaejoong memejamkan
mata, ingin menghapus air matanya, ingin menghapus kata-kata Siwon, ingin menghapus
perasaan malu yang menyergap dirinya.
"Tentu mereka tidak
suka tertangkap basah seperti yang dialami Yunho. Ketika Go Namjun datang
menemuiku dan mengatakan Yunho menghamili anak yeojanya, Ahra, aku langsung
mengatakan padanya Yunho akan menikahi putrinya. Itu tindakan terhormat yang
harus dilakukan, bukan?"
"Ya." Sakit
rasanya harus mengucapkan kata itu.
"Hmmm, tetapi anak
bajingan itu berkata bukan ia yang menghamilinya. Benar-benar memalukan. Bukan
karena Yunho tertangkap basah ketika membuka celananya, tetapi ia tidak mau
mengakui kecerobohannya. Kemudian Yunho mengatakan padaku, bila aku memaksanya
menikahi yeoja itu, ia akan pergi dari rumah dan takkan pernah kembali."
Siwon menarik napas
panjang, seakan ingatan akan peristiwa tersebut menyakiti hatinya.
"Aku harus
melakukan apa yang menjadi kewajibanku, bukan demikian, Jae? Aku harus memaksanya
menikahi yeoja itu. Ia yang memutuskan pergi dari rumah setelah itu, bukan aku.
Makanya, tak perlu mengasihani Yunho, apa pun yang dikatakannya padamu. Ia yang
berbuat, ia yang harus menanggung akibat perbuatannya seumur hidupnya."
Siwon terdiam, beberapa
saat Jaejoong hanya melempar pandang ke luar jendela. Bila ia berbalik, Siwon
akan menangkap keputusasaan yang melanda perasaannya saat itu, Siwon pasti akan
tahu. Setelah berhasil mengendalikan perasaan, barulah Jaejoong kembali ke
pinggir ranjang.
Siwon memejamkan mata
ketika Jaejoong menyandarkan tubuhnya ke tubuh suaminya.
Jaejoong mengira Siwon
sudah tidur. Perlahan-lahan ia beranjak meninggalkan kamar, tetapi secepat
kilat Siwon mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat. Jaejoong terkejut dan
merasa sesak napas.
"Kau tetap
berperilaku sebagai istri, kan, Jae?"
Sorot mata Siwon yang
berapi-api membuat Jaejoong takut sekali, juga pertanyaannya.
"Tentu saja. Apa
maksudmu?"
"Maksudku, kau akan
menyesal bila melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya sebagai istri yang
tengah berduka, sangat sedih menyaksikan suaminya dalam keadaan sekarat."
Jari-jari Siwon
mencengkeram pergelangan tangan Jaejoong yang rapuh sampai membuat Jaejoong
merasa tulang pergelangannya mau remuk. Dari mana Siwon punya kekuatan seperti
itu?
"Jangan bicara soal
kematian, Wonnie."
"Mengapa tidak? Itu
kenyataannya. Tetapi kau harus ingat ini."
Kembali Siwon berusaha
duduk. Air ludah terkumpul di ujung bibirnya yang biru ketika ia mendengus pada
Jaejoong. "Sampai aku mati pun, kau tetap istriku. Dan sebaiknya kau
berperilaku seperti itu."
"Aku
berjanji," kata Jaejoong, yang mengucapkan janji dengan panik, dan
berusaha melepaskan tangannya. "Maksudku, aku akan bersikap seperti
itu."
"Aku bukan pemeluk
agama yang patuh, tetapi ada satu hal yang aku yakini. Berniat melanggar hukum
Tuhan sama berdosanya dengan melakukannya. Kau belajar tentang hukum itu waktu
di Sekolah Minggu, kan?"
"Ne," jawab Jaejoong,
hampir menangis, putus asa, takut pada Siwon, dan tidak tahu apa sebabnya ia
merasa seperti itu.
"Pernah terpikir
ingin melanggar hukum Tuhan?"
"Ani."
"Misalnya
berzina?"
"Tidak!"
"Kau istriku."
"Ya."
"Sebaiknya
kaucamkan itu."
Sesudah itu kekuatan Siwon
lenyap. Kembali ia jatuh terkulai di bantalnya, sesak napas. Jaejoong
melepaskan tangannya dari cengkeraman Siwon, lalu lari ke pintu. Ia ingin
melarikan diri dari tempat itu tetapi hati nuraninya menegurnya, dan ia segera
memanggil perawat.
"Suami saya,"
katanya dengan napas megap-megap.
"Saya... saya kira
ia perlu disuntik. Ia sangat kacau."
"Kami akan
menanganinya, Mrs. Jung," jawab perawat itu ramah.
"Kalau boleh saya
bicara, Anda kelihatan sangat letih. Sebaiknya Anda pulang saja dulu."
"Ya, ya,"
jawab Jaejoong, mencoba mengumpulkan kekuatan. Jantungnya berdebar-debar. Ia
gemetar ketakutan. Mengapa ia merasa demikian takut pada suaminya sendiri?
"Saya rasa, ya saya
akan pulang."
.
.
_Mizuki Kitahara_
.
.
Yoochun melangkah keluar
dari lift ketika Jaejoong akan masuk.
"Jae, ada
apa?" Yoochun terkejut melihat air muka Jaejoong.
"Tidak, tidak ada
apa-apa. Aku mau ke pabrik. Ada masalah di sana, tetapi jangan beritahu Siwon
soal kepergianku. Ia sedang kacau."
Dengan napas tak
beraturan, Jaejoong menyandarkan diri ke dinding lift, seakan itu tempat
persembunyian yang aman baginya dari ancaman teror yang menakutkan.
"Ada yang bisa
kubantu...."
"Tak usah,"
jawab Jaejoong, sambil menggeleng saat pintu lift mulai tertutup.
"Aku tak apa-apa.
Cepat temui Siwon. Ia membutuhkanmu."
Pintu lift tertutup di
antara mereka. Jaejoong menutup mulut dengan tangan, menekan kesedihan yang
dirasakannya mulai menyesakkan tenggorokannya.
"Tuhan, oh,
Tuhan," rintihnya, tidak menyangka Siwon bisa begitu menakutkan. Perutnya
terasa seperti diaduk-aduk. Tubuhnya panas-dingin.
Jaejoong berusaha
menguatkan diri untuk berjalan di sepanjang lobi lantai satu rumah sakit tanpa
sedikit pun kelihatan dalam keadaan tertekan. Ketika sampai di mobil, gemetar
tubuhnya berkurang. Dengan jendela mobil terbuka, Jaejoong mengemudikan mobil
menyusuri tepi sungai. Angin menerpa rambutnya, membawa aroma musim panas. Lalu
lintas tidak ramai dan ia mengemudi dengan cepat, berusaha mengusir ketakutan
yang mencekam dirinya beberapa saat lalu.
Ia biarkan pikirannya
mengembara. Siwon tak mungkin tahu apa yang terjadi antara ia dan Yunho musim
panas itu. Yunho tidak mungkin menceritakan hal tersebut padanya. Jelas. Tak
seorang pun pernah melihat mereka berdua atau menggosipkan mereka di kota. Tidak,
Siwon pasti tidak tahu. Ia juga tak mungkin berpikiran Jaejoong dan Yunho
saling tertarik. Siwon mengira ia dan Yunho baru saling mengenal beberapa hari
lalu.
Ancaman terselubung dan
peringatan yang diungkapkan Siwon semata-mata hanyalah khayalan dan perasaan bersalah
dalam dirinya. Barangkali kata-kata yang dengan cermat dipilihnya tadi bukan
dimaksudkan sebagai ancaman. Ya, batin Jaejoong sambil menggeleng. Kata-kata Siwon
ingin dianggapnya punya makna yang sebaliknya. Namun mengapa Siwon mengatakan
demikian?
Apa lagi yang dipikirkan
Siwon? Tidak ada yang bisa dilakukannya, kecuali berpikir, menduga-duga, merasa
ketakutan dan curiga. Pria yang otaknya biasa aktif seperti otak Siwon pasti
merasa tersiksa ketika hanya bisa terbaring di ranjang sepanjang hari. Siwon
paling benci duduk berdiam diri, tidak melakukan aktivitas apa pun. Makanya,
kekuatan mental adalah satu-satunya yang tersisa dalam dirinya, sehingga
pikirannya bekerja lebih keras untuk kompensasi bagi tubuhnya yang kini tak
berdaya lagi.
Perasaan sakit hati dan
marah memperbesar segala yang melintas di benak Siwon, membesar-besarkan
masalah kecil. Ia memiliki istri yang tiga puluh tahun lebih muda darinya. Ia
punya putra yang tampan dan sangat jantan. Saat ini keduanya tinggal serumah. Siwon
menggabung-gabungkan fakta tersebut, yang kemudian menimbulkan kecurigaan yang
menakutkan.
Siwon keliru! Jaejoong
tidak melakukan perbuatan yang tidak boleh dilakukan seorang istri.
Namun kecurigaan Siwon
ada benarnya. Membayangkan bercinta dengan Yunho sudah termasuk melanggar hukum
Tuhan. Dan Jaejoong merasa tidak mampu menghilangkan bayangan itu.
Ia harus menghapus
pikiran tersebut dari benaknya. Barangkali bila ia memperlakukan Yunho sebagai
teman, meskipun kelihatan ganjil, bersikap sebagai ibu tiri yang menjaga
kedamaian dalam keluarga, kenangan akan masa lalunya akan lenyap. Ia harus
melihat kesalahannya dengan sudut pandang baru, menempatkannya ke masa
sekarang, dan melupakan segala yang pernah terjadi di masa lalu.
.
.
_Mizuki Kitahara_
.
.
Ketika tiba kembali di
pabrik pengolahan ginseng, sinar matahari sore yang sudah condong ke Barat
masuk menyinari lantai melalui jendela yang terletak jauh tinggi di tembok. Jaejoong
memandang ke sekelilingnya dengan jengkel. Pabrik sudah ditinggalkan para pekerja,
hanya ada Yunho, yang telentang di lantai, satu kaki ditekuk, mengamati kerja
mesin pengolah. Yunho sedang memukul besi mesin. Suaranya yang nyaring
menggema, menenggelamkan suara langkah kaki Jaejoong.
"Ke mana
orang-orang?"
Suara besi beradu
berhenti. Kepala Yunho muncul dari balik salah satu peralatan dan ia duduk.
Disekanya keringat di dahinya dengan sapu-tangan.
"Hai, aku tidak
mendengar kau datang. Aku menyuruh orang-orang pulang satu jam lebih cepat. Tak
ada yang bisa mereka kerjakan selama aku membetulkan mesin ini." Yunho
mengarahkan ibu jarinya ke balik bahu, ke mesin yang tengah diperbaikinya.
"Debu di mana-mana.
Kalau ada kabel yang tidak beres di ruangan ini, bisa berbahaya."
Seharusnya Jaejoong
memarahi Yunho yang menyuruh para karyawan pulang lebih cepat, karena Yunho
tidak berhak melakukan hal itu, tetapi itu tidak dilakukannya. Sewaktu
mengemudi mobil tadi, Jaejoong yakin keputusan yang dibuat Siwon diambil karena
ia harus tinggal di rumah sakit. Tindakan yang dilakukan tanpa izin darinya
adalah hal yang sangat dibenci Siwon. Tetapi Jaejoong membela diri, bila Siwon
tidak tahu, itu tidak akan menyakiti hatinya. Pada akhirnya, apa yang baik
untuk pengolahan Jung adalah apa yang Siwon ingin Jaejoong lakukan.
Jaejoong berjongkok di
dekat Yunho. "Otte? Sudah ketemu masalahnya?"
"Ya, dan cukup
rumit."
"Bisa
diperbaiki?"
"Sementara." Yunho
menarik napas dan menyeka keringat di alis dengan lengan baju. "Bagaimana
kondisi Appa hari ini?"
Mengingat apa yang
terjadi di dalam ruangan rumah sakit membuat Jaejoong menggigil. "Tidak
terlalu baik. Hampir sama saja."
Yunho mengamati Jaejoong,
tetapi Jaejoong tidak ingin memperlihatkan perasaannya. Cepat-cepat ia mengubah
topik pembicaraan dengan bertanya,
"Kau sudah
makan?"
"Belum. Aku
kepanasan dan badanku kotor untuk makan."
Memang benar, badan Yunho
kotor. Wajahnya berminyak dan berkeringat. Membuat giginya jadi kelihatan lebih
putih ketika ia tersenyum.
"Lagi pula, aku tak
mau membuang waktu."
Jaejoong tersenyum lalu
merogoh kantong kertas putih. "Kubawakan makan siang untukmu. Kau tidak
perlu berhenti bekerja kau bisa meminum makan siang ini." Jaejoong
memasukkan sedotan ke gelas plastik.
"Apa ini?"
Jaejoong menyerahkan
gelas tinggi dan dingin itu ke tangan Yunho, lalu berdiri. "Milk shake
cokelat."
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

ow ow...
ReplyDeleteapa siwon udh tw hub yunjae waktu dulu
Apa Siwon tahu? Atau dia hanya curiga khawatir?
ReplyDeleteJae gak segan-segan di kasarin kalau berhubungan dengan Yun
eh emang aslinya kasar ding