"Ssst," ujar Yunho, perlahan menurunkan tangan Jaejoong ke samping. Beberapa saat lamanya, satu-satunya suara yang terdengar di sekeliling mereka hanyalah suara titik hujan. Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan kagum. Blus yang basah itu memperlihatkan segalanya, payudara yang lembut, puncaknya yang mencuat.
"Kurasa, kudengar
suara geledek," bisik Jaejoong dengan tubuh gemetar.
Yunho mengangkat tangan
dan memegang kemejanya yang basah. "Bukan. Itu suara debar
jantungku."
Yunho membungkuk dan
menyentuh bibir Jaejoong dengan bibirnya. Ciumannya begitu lembut dan manis,
sangat penuh kelembutan. Perlahan lidahnya menjilat ujung-ujung bibir Jaejoong,
dengan lembut menelusuri garis bibir-nya. Telinga Yunho menangkap suara
mendesah yang keluar dari tenggorokan Jaejoong. "Oh, Jae," desah Yunho.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Version
©Kitahara Saki
Ciuman pun berubah…
Tidak lagi lembut.…
Yunho memiringkan bibir di atas
bibir Jaejoong, berusaha membukanya. Lidahnya dijulurkan masuk ke mulut
Jaejoong. Tangannya memeluk pinggang Jaejoong, makin rapat, sesenti demi sesenti,
pelan, peJan, sampai akhirnya tangannya diletakkan di pinggang Jaejoong, agak
mencengkeram, kemudian pelan-pelan naik, sampai akhirnya mencapai buah dada
Jaejoong.
Seumur hidup Yunho, tidak pernah ia
merasakan memegang payudara yeoja seperti payudara Jaejoong yang belum tumbuh
sepenuhnya tetapi sudah penuh itu, terasa demikian nikmat di tangannya. Digenggamnya
bagian yang lembut itu, diremas, dan dipijatnya dengan gerakan memutar. Ia
mengeksplorasi payudara itu dengan ekstra lembut agar Jaejoong tidak terkejut,
namun dengan piawai membangkitkan sensualitas Jaejoong agar ia ikut merespons.
Jaejoong merapatkan tubuhnya ke tubuh Yunho, setiap gerakan tanpa disengaja
menimbulkan rangsangan dan semakin membangkitkan hasrat.
Ketika jari-jari Yunho menyentuh
puncak payudaranya, Jaejoong melengkungkan punggung dan mendesah lembut. Bagian
tubuh yang sensitif itu mencuat. Jari-jari Yunho terus mempermain-kannya dengan
hati-hati sampai puncak itu mengeras. Sementara jarinya sibuk dengan payudara,
lidahnya sibuk menjilati langit-langit mulut Jaejoong. Suara yang keluar dari
tenggorokannya tanpa disadarinya dan napasnya yang panas lagi memburu menerpa
wajah dan leher Jaejoong.
Tangan Yunho membuka kancing blus
Jaejoong paling bawah, dan kancing-kancing lainnya dengan cepat. Jaejoong
tercekat dan memegang tangan dan baju basah yang dipegang Yunho.
"Yunho, jangan," bisik
Jaejoong, yang sebenarnya berarti ya.
Jaejoong menggeleng ke kanan dan ke
kiri. Giginya menggigit-gigit bibir bawahnya.
"Sayang, oh, sayangku,"
gumam Yunho. "Aku tidak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin melihatnya,
menyentuhnya."
Bibir Yunho kembali menciumi bibir
Jaejoong dengan gerakan mengisap. Yunho merasa seperti mendapat kehidupan dan
cinta dari Jaejoong ketika berhasil membuka blusnya dan menggenggam payudara
Jaejoong yang lembut. Ketika telapak tangannya merasakan kelembutan payudara
itu, Yunho tersulut gelora, yang lebih panas, lebih menggebu, hampir sulit
dikendalikan, yang belum pernah dirasakannya selama ia pernah merasakan
dorongan seks dalam hidupnya.
Dan ia menyadari seketika itu, tak
ada perempuan mana pun di dunia yang bisa membuatnya merasa menjadi namja
sejati, seperti yang dirasakannya saat itu. Ia telah menemukan orangnya, yeoja
yang membuat dirinya menjadi namja sejati.
Yunho mengelus, mendorong payudara
Jaejoong tinggi-tinggi dengan tangannya, membelai puncaknya dengan ibu jari. Ia
merendahkan tubuhnya beberapa sentimeter, lalu mencium tenggorokan dan leher
Jaejoong. Kemudian ia mengulum salah satu puncak yang kemerahan itu dan
mengisapnya dengan lembut. Jaejoong mengerang. Ia merenggut rambut Yunho dan
memegang kepala namja tersebut erat-erat. Jiwa Yunho dipenuhi gelora cinta
ketika mendengar Jaejoong mendesah nikmat karena apa yang dilakukannya dengan
penuh cinta untuk Jaejoong.
Jaejoong agak menaikkan lutut,
nalurinya memintanya melakukan hal itu, tanpa disadarinya. Yunho mengelus lutut
Jaejoong yang telanjang.
Kakinya yang panjang lagi mulus
terasa halus sekali ketika tangannya mengelusnya sampai jauh ke atas. Rok dari
bahan katun yang dikenakan Jaejoong sama sekali tidak menghalangi Yunho. Ia
tidak mau berhenti untuk memuaskan keinginannya sampai ia berhasil meyentuh
celana dalam Jaejoong.
Jaejoong melengkungkan punggungnya
lebih tinggi, tangannya mencengkeram bahu Yunho. "Yunnie, bear."
Rintihan Jaejoong menyiratkan kenikmatan sekaligus ketakutan yang keduanya
dipahami Yunho.
"Tak apa-apa, boo. Aku tidak
akan menyakitimu. Aku berjanji, aku tidak akan pernah menyakitimu."
Sentuhan tangan Yunho terasa
selembut kapas. Ia terus membelai dan mengelus, sampai akhirnya tak ada lagi
pakaian yang melekat di tubuh Jaejoong. Jari-jari Yunho mengelus kewanitaan
Jaejoong.
"Oh, Tuhan," desah Yunho,
menenggelamkan bibimya di leher Jaejoong. "Kau begitu cantik. Oh,
Tuhan...."
Jari-jari Yunho terus mempermainkan,
membuka, dan menemukan. Ketika Jaejoong menggeliat-geliatkan tubuh, Yunho tahu
ia berhasil menemukan sumber keajaibannya. Dengan piawai ia agak menekan,
membentuk lingkaran-lingkaran, dan mengelus bagian tubuh itu sampai terdengar
suara mengerang dari tenggorokan Jaejoong, dengan kepala terkulai ke belakang.
Suara rintihan Jaejoong berbaur dengan gemerisik angin dan hujan yang jatuh
membasahi pepohonan.
Yunho mengamati wajah Jaejoong, yang
tenggelam dalam kenikmatan, tidak menyadari ekspresinya. Dilihatnya mata
Jaejoong mengerjap-ngerjap ketika ia menyadarkan Jaejoong dan perlahan
mengembalikannya ke dunia nyata, lepas dari cengkeraman kenikmatan yang
menghanyutkan itu.
Kenyataan menimbulkan kebingungan.
Jaejoong menurunkan roknya yang menyingkap sampai pinggang. "Bear?"
Jaejoong memanggil Yunho dengan nada tinggi. "Bear, apa yang terjadi atas
diriku? Peluk aku. Aku takut sekali."
Yunho merendahkan tubuhnya, seperti
hendak memberi perlindungan pada Jaejoong. Ia mendekap Jaejoong erat-erat,
tangannya memegang kedua sisi kepala Jaejoong. Ia mengecup lembut seluruh wajah
Jaejoong dan menenangkannya.
"Kau tidak tahu apa yang
terjadi atas dirimu, Boo?" Letupan emosi di hatinya membuat suaranya
terdengar parau.
Jaejoong mencari-cari mata Yunho,
memperhatikan bibir Yunho, menyentuhnya, seperti orang yang mengagumi keindahan
yang dimiliki Yunho dan apa yang baru saja diperkenalkan namja itu padanya.
"Tetapi kau tidak...
maksudku... kau tidak... berada dalam tubuhku."
Sambil mendesah lirih, Yunho
menekankan dahinya ke dahi Jaejoong.
"Tidak, aku tidak melakukannya.
Tetapi aku ingin sekali. Aku ingin berada jauh di dalam tubuhmu, memenuhi
dirimu dengan diriku, memberimu segala yang kupunya."
Yunho mencium Jaejoong, seakan
tengah bercinta, menciumi bibir Jaejoong dengan lidahnya, memasukkan lidahnya
jauh ke dalam mulut Jaejoong. Tetapi ciuman itu justru semakin mengingatkannya
pada apa yang tak boleh dilakukannya, lalu ia melepaskannya.
Jaejoong menangis tersedu-sedu. Air
matanya bercampur air hujan. Yunho menyeka air mata dari pipi Jaejoong dengan
ibu jarinya.
"Uljima boo, uljima."
Yunho bangkit dan menarik Jaejoong berdiri juga, mendekapnya erat-erat.
Jaejoong masih saja menangis. "Mengapa kau menangis, boo?"
Oh, Tuhan, andai ia sampai melanggar
janjinya dan melukai Jaejoong, ia takkan pernah memaafkan dirinya. Apakah
Jaejoong tidak menghargainya lagi sekarang, takut dengannya? "Katakan,
kenapa kau menangis?"
"Kau takkan datang menemuiku
lagi. Setelah peristiwa hari ini. Setelah apa yang kulakukan, kau akan
menganggapku yeoja murahan."
Kelegaan menyelimuti hati Yunho.
"Oh, boo," bisik Yunho sambil mendekap tubuh Jaejoong lebih erat ke
tubuhnya. "Saranghae."
Perlahan-lahan Jaejoong mengangkat
kepala dan menatap Yunho. "Kau mencintaiku?"
"Saranghae boo," kata
Yunho, karena ia tahu itulah perasaannya yang sesungguhnya terhadap Jaejoong.
Andai ia tidak mencintainya, mereka masih akan berbaring di rerumputan dan ia
akan memuaskan hasratnya.
"Aku mencintaimu. Betapa pun
sulit, aku akan datang ke sini lagi besok." Yunho memeluk Jaejoong
erat-erat, menciuminya sampai Jaejoong sesak napas. Kemudian, sambil mendekap Jaejoong
seakan ia sudah menjadi miliknya.
Yunho berbisik di telinga Jaejoong,
"Kita hampir melewati batas tadi, boo." Yunho agak menjauhkan dirinya
dari Jaejoong, mencari-cari mata Jaejoong. "Kau mengerti apa yang
kumaksud, bukan?"
"Tentu saja!" jawab Jaejoong
sambil terisak pelan. "Aku tahu, apa pun yang terjadi di antara kita
takkan ada masa depan."
"Bukan tidak ada masa depan.
Aku akan mencari jalan keluar. Malam ini."
"Malam ini? Apa maksudmu?"
"Aku akan mencari cara
bagaimana supaya kita bisa berkencan dengan pantas, berada di antara orang
banyak, tidak lagi bertemu sembunyi-sembunyi begini."
Jaejoong memeluk lengan atas Yunho.
"Jangan, bear, jangan lakukan hal itu. Biarkan seperti sekarang ini,
selama kita bisa."
"Aku bisa mati kalau begini
terus."
"Wae?"
"Bila berduaan saja seperti
ini, sulit bagiku untuk menghentikan apa yang sudah kumulai."
Jaejoong terdiam dan membisu
beberapa saat, hanya memandangi tenggorokan Yunho sementara jarinya menelusuri
kerah kemeja Yunho. Jaejoong membasahi bibir. "Yunho, aku tidak keberatan
bila kau... Aku bersedia bila kau ingin me... ....
Dengan jari telunjuk Yunho menaikkan
dagu Jaejoong. "Ani." Suara Yunho tenang tetapi berwibawa. "Aku
tidak suka main sembunyi-sembunyi seperti ini. Aku tidak suka memperumit
masalah, mengambil risiko menyakitimu, dengan bercinta denganmu." Ia
menundukkan wajah hendak mencium Jaejoong yang tak jauh darinya. Yunho
memejamkan mata rapat-rapat, mengembuskan napas, dan mengertakkan gigi. Ketika
membuka mata kembali, Yunho berkata," Aku ingin sekali. Oh Tuhan. Aku
ingin sekali melakukannya. Tetapi seperti yang kukatakan padamu, aku tidak
ingin melakukan sesuatu yang bisa menyakiti hatimu."
"Ya, dan aku percaya
padamu."
"Kalau begitu serahkan
segalanya padaku. Tak ada yang perlu kaukhawatirkan. Aku akan membereskan
segalanya, sehingga kita tidak perlu bertemu sembunyi-sembunyi seperti ini
lagi."
"Kau yakin, bear?"
Perasaan cemas itu masih terpancar di wajah Jaejoong. Yunho tahu Jaejoong
mengkhawatirkan dirinya, bukan diri Jaejoong, dirinya sendiri.
"Aku yakin. Besok aku akan
membawa berita baik. Besok, boo. Di sini. Di tempat kita berada ini."
Tangan Yunho mendekap wajah Jaejoong.
"Oh, Tuhan, boo, cium aku
lagi." Bibir Yunho mencari-cari bibir Jaejoong, tetapi ciumannya hanya
ciuman kecil. Ia tidak yakin dirinya bisa memenuhi janjinya. Ia ingin menikahi
Jaejoong, dan tak peduli apa pun risikonya.
"Besok, besok," kata Yunho
berulang-ulang sambil mundur, merentangkan tangannya, sampai akhirnya ujung
jari mereka berpisah. Yunho lari menembus hutan di bawah rintik hujan ke tempat
ia memarkir mobilnya, ingin cepat-cepat tiba di rumah....
.
.
♥Kitahara Saki♥
.
.
"Kau bodoh," kata Yunho
pada dirinya di depan cermin setelah keluar dari kamar mandi. Wajah-nya jadi
kabur, yang tepat menggambarkan dirinya setelah peristiwa dua belas tahun yang
lalu itu.
"Apa yang membuatku berpikir
sepolos itu, mengira segalanya berjalan sesuai rencanaku?"
Ia menghabiskan minumannya,
membiarkan cairan itu menuruni tenggorokannya tanpa menikmati rasanya sedikit
pun. Ia hanya menyesali es batu yang mencair itu mengurangi rasa bourbonnya. Ia
teringat apa yang terjadi malam itu ketika ia menemui appanya di ruang kerja,
meminta waktu untuk bicara. Seperti racun yang masih mengendap, kebencian dan
kemarahan menyelimuti dirinya setiap kali ia ingat kebodohan dirinya yang
begitu percaya diri. Betapa bodohnya. Betapa bodohnya. Dirinya seperti Daud
yang berdiri di hadapan Goliat. Oh, ia punya keberanian seperti itu. Hanya saja
ia tidak punya ketapel dan batu. Sementara Siwon punya meriam.
.
.
Ia melangkah masuk ke ruang kerja dan berkata, "Appa,
aku sudah menemukan yeoja yang ingin kunikahi."
"Pasti kau bisa menemukannya," jawab Siwon sambil
memindahkan cerutunya dari sudut bibir yang satu ke sudut lainnya.
"Go Nam Sun meneleponku tadi malam. Ahra hamil. Sudah
tiga atau empat bulan. Ia bilang, mata putrinya sampai bengkak karena menangis
sebab kau tidak datang lagi menemuinya. Selamat, anakku. Kau sebentar lagi
menjadi suami dan appa."
.
.
Sampai detik ini kata-kata appanya
itu masih sangat dibencinya sampai ke tulang sumsum. Kata-kata bandit itu.
Kata-kata bajingan yang penuh kebencian, manipulasi, kelicikan. Dan Jaejoong, Jaejoong-nya yang
dijumpainya di tepi sungai di bawah rintik hujan, kini menjadi istri appanya.
Kini bajingan itulah yang harus didengarkan kata-katanya oleh Jaejoong, bicara
dengannya, memberikan ketenangan dan kehidupan pada Jaejoong. Dengan Siwon,
Jaejoong memberikan bibirnya yang manis, payu-daranya, pahanya.
.
.
.
.
.
To Be Continued

hampir aja yunjae kelepasan eoh
ReplyDeleteSayang sekali yah, dulu bukan waktu yg tepat, wktu berlalu dan Jae jadi milik siwon (Di Ff ini dan bbro chap), hiks :'(
ReplyDeleteperutku jadi sakit
Di awal-awal chap aku kira Yun cuma manfaatin doang tapi baca chap-chap selanjutnya Aku paham, cinta mereka kuat. Everlasting.