"Selamat pagi. Kau
kelihatan senang sekali."
"Yunho sarapan banyak,"
jawab Boa dengan wajah berseri-seri.
Jaejoong tersenyum. Cara
Boa menyebut nama Yunho seperti menyebut nama anak namja berusia empat tahun.
"Ia sudah bangun dan pergi?”
"Ah, ne." Boa
mengiyakan sambil mengarahkan pandangan ke pintu belakang. Jaejoong melangkah ke
pintu belakang sambil menghirup kopi. Tampak Yunho berdiri di samping salah
satu kuda terbaik milik keluarga Jung, berbicara dengan Kyuhyun. Jaejoong
melihat Yunho melompat naik ke atas pelana, kakinya yang panjang terentang di
badan kuda, dan ia membetulkan letak kakinya yang memakai sepatu boot di
sanggurdi. Kuda jantan itu berjingkrak-jingkrak sebelum Yunho menarik tali
kendali kuat-kuat. Yang langsung direspon si kuda. Setelah mengucapkan terima
kasih kepada Kyuhyun, Yunho dan kudanya berpacu menuju tanah lapang yang
mengarah ke jalan raya.
Bittersweet Rain
© SANDRA BROWN
yunjae version © Kitahara Saki
Yunho, Jaejoong, Siwon, Kyuhyun, Sungmin © diri mereka sendiri
Jaejoong memandanginya
sejauh matanya mampu memandang. Rambut Yunho yang hitam berkilat di bawah sinar
matahari pagi. Otot paha dan punggungnya tampak menonjol ketika tanpa kesulitan
ia melompati pagar dan mengarahkan kudanya ke pepohonan.
Waktu Jaejoong
membalikkan badan, Boa memandanginya dengan sorot mata penuh ingin tahu.
Jaejoong yang gugup memegang tenggorokannya. "Aku harus menelepon beberapa
orang, aku akan ke perpustakaan," gumam Jaejoong sebelum meninggalkan
dapur dengan tergesa-gesa. Ia memang tidak mampu menahan diri untuk tidak
hanyut bersama Yunho, tetapi ia harus sangat berhati-hati jangan sampai ada
yang menyadari sikapnya itu.
Perawat rumah sakit yang
bertugas jaga tidak banyak memberikan informasi baru ketika Jaejoong
meneleponnya.
"Ia belum bangun.
Ia tidur nyenyak hampir semalaman. Ia bangun sekali, tapi segera kami beri obat
penenang."
"Gamsahamnida
uisanim," katanya sebelum memutus hubungan telepon dan memutar nomor
telepon Yoochun.
"Apakah ada hal
yang harus kulakukan tetapi belum kuselesaikan?" tanyanya pada pengacara
itu. "Bukannya aku mau lancang, ikut campur soal kesepakatan kerja maupun
urusan pribadi Siwon, aku hanya ingin membantu sebatas yang aku mampu."
"Aku tidak pernah
menganggapmu lancang," kata Yoochun lembut. "Lagi pula itu hakmu
untuk memerhatikannya."
"Aku bukan
memikirkan diriku. Aku hanya ingin kepastian segala yang menyangkut Sungmin
sudah diatur dengan baik. Juga Yunho, tentu saja.”
Pengacara itu terdiam.
Jaejoong tahu ia tengah mengingatkan dirinya akan kerahasiaan dalam profesinya.
"Aku tidak tahu semua keinginan Siwon, Jae. Sumpah, aku tidak tahu. Ia
membuat surat wasiat baru beberapa tahun lalu, tetapi ia meminta aku mengurusnya.
Aku yakin akan ada beberapa pasal yang ia buat untukmu. Aku rasa tidak akan ada
kejutan."
Jaejoong juga sangat
berharap demikian, tetapi ia tidak mengungkapkan kecemasannya kalau-kalau ada
kejutan. Setelah selesai bertukar pikiran tentang beberapa masalah bisnis,
mereka saling mengucapkan selamat tinggal.
Begitu diletakkan,
telepon itu langsung berdering.
"Yoboseo?"
"Nyonya Jung?"
Suara hiruk-pikuk yang
terdengar di telepon jelas menunjukkan telepon itu datang dari pabrik
pengolahan ginseng. "Ne."
"Saya Changmin, Shim Changmin. Ingat mesin penumbuk yang pernah saya
ceritakan beberapa hari lalu? Pagi ini suara mesinnya berisik sekali, karena
itu kami matikan."
Jaejoong mengusap
dahinya. Kerusakan semacam ini tidak boleh terjadi, sebab sekarang sedang musim
panen ginseng. Mesin itu digunakan untuk menumbuk ginseng. Meski hanya satu
mesin yang rusak pada masa panen, mereka bisa kehilangan berjam-jam masa
produksi.
"Aku segera ke
sana," jawab Jaejoong cepat.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Buru-buru Jaejoong
menghabiskan sisa kopinya yang sudah dingin, lalu lari naik ke lantai dua.
Setengah jam kemudian, ia sudah mandi dan berpakaian rapi. Mengenakan rok dari
bahan poplin dan blus dari bahan rajut berkerah. Ia memakai sepatu berhak
rendah. Rambutnya diikat asal, dililit pita warna cerah. Jaejoong tidak pernah
memakai baju mewah ke pabrik. Alasannya, tidak praktis. Alasan lainnya, ia
ingin para pekerjanya menganggap dirinya bagian dari mereka, bukan sekadar
istri si bos.
Ia pamit pada Boa,
menjelaskan ke mana ia akan pergi. Kemudian ia mengambil dompet, lalu lari ke
pintu depan. Yunho baru saja menarik kudanya. Ketika melihat Jaejoong, Yunho
menyerahkan kudanya pada Kyuhyun yang menunggunya, lalu lari menghampiri
Jaejoong.
"Mau ke mana,
terburu-buru? Ke rumah sakit?"
Dari ekspresi wajahnya,
Jaejoong tahu Yunho mengira ketergesa-gesaannya karena kondisi appanya yang
memburuk. Kendati keduanya tidak pernah rukun, batin Jaejoong, Yunho peduli
juga pada appanya dan tidak suka melihatnya menanggung penderitaan. Cepat-cepat
Jaejoong menenangkannya,
"Ani. Aku menelepon
ke rumah sakit tadi pagi. Siwon belum bangun, tetapi mereka bilang sepanjang
malam ia tenang. Aku mau ke pabrik pengolahan ginseng."
"Ada masalah?"
"Ne. salah satu
mesinnya rusak."
Yunho mengangguk.
"Parah?"
"Mungkin, Changmin
terpaksa harus mematikannya." Jaejoong melihat Yunho berpikir keras dan
sebelum mempertimbangkan lebih jauh, ia berkata,
"Mau menemaniku ke
sana, Yun?" Pandangan mata Yunho beralih ke Jaejoong, membuat Jaejoong
harus menelan ludah. "Barangkali, bila kau melihatnya, kau tahu apa
masalahnya. Aku butuh bantuanmu. Kalau minta bantuan orang lain, ia mungkin
saja akan menarik keuntungan dalam situasi seperti ini."
Yunho menatap Jaejoong
begitu lama dan tajam, membuat
Jaejoong berpikir pria itu akan menolak ajakannya.
Kemudian Yunho mengulurkan tangan. "Aku
yang mengemudi."
Jaejoong meletakkan
kunci mobil Lamborghininya ke telapak tangan Yunho, lalu berlari ke mobil,
mengambil sisi yang berlawanan. Cara Yunho mengemudikan mobil sama seperti ia
mengerjakan pekerjaan lainnya, agresif. Terdengar suara ban mobil mencicit
nyaring ketika dibelokkan, kerikil beterbangan dan debu mengepul.
"Mesin ini sering
mogok?" tanya Yunho pada Jaejoong.
"Beberapa kali,
ya."
"Baru-baru
ini?"
"Ya."
Jaejoong berharap mereka
bisa terus bercakap-cakap. Dekat dengan Yunho mengacaukan perasaannya. Aroma
tubuh Yunho bak udara pagi yang menyegarkan, seperti angin, seperti bau kuda,
wewangian, dan aroma namja. Gambaran Yunho yang duduk di kuda muncul kembali
dalam benaknya.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Masih segar dalam
ingatannya, Yunho yang datang ke tempat pertemuan mereka dengan berkuda.
Jaejoong merasa tubuhnya menciut melihat kuda yang demikian besar. Yunho
tertawa melihat ia gugup dan memaksanya naik kuda bersamanya. Dengan enteng Yunho
mengangkat tubuh Jaejoong ke punggung kuda. Untunglah hari itu Jaejoong memakai
rok lebar sehingga ia bisa duduk mengangkang.
Bahkan sampai saat ini
Jaejoong masih ingat bagaimana rasanya bulu-bulu kuda itu menyentuh pahanya
yang telanjang, perut Yunho yang menyentuh pinggulnya ketika pria itu duduk di
belakangnya, gerakan naik-turun paha Yunho yang menyentuh pahanya, kekokohan
lengannya yang memegang tali kendali ketika mengajaknya berkeliling. Tubuh
Yunho terasa hangat dan agak basah karena keringat. Yunho meletakkan dagunya di
rambutnya. Bahkan ia masih bisa merasakan napas Yunho di pipinya, di kelopak
matanya. Ia mencium bau yang sama hari ini seperti dua belas tahun lalu.
Tidak banyak yang ia
ingat ketika menunggang kuda di bawah pepohonan pendek yang rindang. Yang ia
ingat hanyalah dadanya yang berdebar-debar ketika Yunho meletakkan tangannya di
bawah dadanya. Ia ingat, saat itu tak ada yang ia takutkan kecuali khawatir
Yunho tidak suka ketika pria itu menyenggol payudaranya. Ia tidak mampu membeli
pakaian dalam cantik berenda seperti yang dipakai yeoja-yeoja sebayanya. Branya
hanya bra biasa, berwarna putih, sekadar fungsional dan tak menarik. Jaejoong
ingin merasa lembut, memikat, dan seksi di tangan Yunho. Ia takut ia tidak
terasa seperti itu.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Kini ia mengamati tangan
Yunho yang memegang kemudi. Tangan yang indah. Berwarna gelap dan kokoh,
ramping dan terawat. Kukunya dipotong pendek. Bulu-bulu hitam halus tumbuh pada
buku-buku tangan, punggung tangan, dan pergelangan tangan.
"Ayo kubantu
turun," kata Yunho, sambil mengulurkan tangan kepada Jaejoong.
Jaejoong menurunkan
kakinya dari punggung kuda, tubuhnya agak dimiringkan dan tangannya di pundak
Yunho. Tangan Yunho memegang lengan bagian bawahnya ketika Jaejoong perlahan
turun dari punggung kuda. Namun, kendati kaki Jaejoong sudah menyentuh tanah,
Yunho tidak melepaskan genggamannya, tangannya menyenggol payudara Jaejoong.
Saat itu Yunho mendesahkan namanya.
.
.
.
"Jae. Jaejoong?"
Jaejoong tersentak,
panggilan Yunho bukan hanya ada dalam angan-angannya tetapi betul-betul
terjadi.
"Wae Yun?" Ia
menatap Yunho, kecemasannya tak dapat disembunyikan. Matanya bagai berkabut dan
sendu, teringat ciuman yang memabukkan yang pernah mereka lakukan. Dadanya
naik-turun dengan cepat, seperti yang terjadi pada hari itu ketika tangan Yunho
menggenggam payudaranya, memijatnya perlahan, mengusapnya sampai payudaranya
menegang.
Yunho menatap Jaejoong
penuh keheranan. "Aku bertanya apakah ada tempat parkir khusus
untukmu."
"Oh. Ya..ya. Dekat
pintu. Ada tandanya." Yunho mengarahkan mobil ke tempat yang bertuliskan
nama Jaejoong di aspal dan mematikan mesin mobil. Setelah itu Jaejoong kembali
melihat Yunho menghunjamkan tatapan heran lagi. "Sudah siap masuk?"
Yunho seperti tidak yakin Jaejoong siap.
Jaejoong merasa harus
segera menjauhkan diri dari mobil, dari kenangan manis itu. Hampir meneriakkan
kata ya, ia membuka pintu mobil dan hampir terjatuh karena terburu-buru menjauh
dari mobil.
.
.
.
.
Suara hiruk pikuk dan
debu yang mengepul di pabrik pengolahan ginseng adalah sambutan selamat datang
yang sudah akrab. Jaejoong melangkah masuk bersama Yunho menuju kantor Siwon.
Yunho melihat tak banyak
yang berubah. Para pekerja yang datang mengerumuni mereka adalah orang-orang
yang sudah dikenalnya.
"Changmin!"
serunya. "Masih di sini?"
"Sampai mati."
Ia menggenggam tangan Yunho. "Senang berjumpa lagi denganmu, Yun."
Yang lain pun menyalami
Yunho dengan gembira. Yunho menanyakan kabar keluarga mereka, mengingat
nama-nama yang mungkin sudah dilupakan orang lain. Namun orang-orang ini sudah
seperti keluarga Yunho. Mereka bagian dari dirinya bak darah yang memberi
kehidupan selama hidupnya.
"Apa
masalahnya?" tanya Yunho pada Changmin, sambil berjalan ke mesin
pengolahan yang rusak di deretan mesin.
"Tua,
umumnya," jawab mandor itu resah. "sudah terlalu tua, Yunho. Tak tahu
apakah masih bisa dipakai. Terutama kalau panen tahun ini sebaik tahun lalu.
Harus dihidupkan siang dan malam."
Yunho menjumput ginseng
yang mencuat keluar dari mesin dan mengelusnya dengan jari-jarinya. Ada serpihan daun dan pasir terselip di antara
serat-seratnya. Changmin dan Jaejoong
menghindari pandangan mata Yunho ketika memerhatikan ginseng itu dengan
saksama. "Kualitas apa ginseng ini?"
"Menengah,"
jawab Jaejoong, akhirnya, ketika melihat Changmin terdiam.
"Keluarga Jung
selalu memproduksi ginseng kualitas terbaik. Apa yang terjadi di sini?"
"Ayo keruanganku
Yun," ajak Jaejoong lembut. Ia langsung berbalik dan berjalan lebih dulu,
berharap Yunho mengikutinya dan tidak berargumentasi dengannya di depan
karyawan.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Jaejoong duduk di kursi
kulit di belakang meja ketika Yunho masuk ke ruangan dan membanting pintu,
sampai membuat kacanya bergetar.
"Dulu ini
pengolahan ginseng terbaik di Korea," kata Yunho marah tanpa basa-basi.
"Sekarang pun
masih."
"Tidak mungkin bila
kualitas ginseng yang diproduksi seperti itu, tidak mungkin. Andai aku petani
ginseng, hasil panenku pasti akan kuolah di pabrik pengolahan yang lain. Tidak
bisakah kita mengolah ginseng yang lebih baik?"
"Sudah kubilang,
yang jadi persoalan adalah peralatannya. Mesin-mesin itu...."
"Sudah kuno,"
potong Yunho. "Brengsek, apakah Appa tidak ingin memperbaiki atau
memperbaruinya?"
"Ia merasa tidak
perlu," jawab Jaejoong, pelan.
"Tidak perlu?"
ulang Yunho dengan suara nyaring. "Lihatlah tempat ini. Lebih mirip
kandang dinosaurus ketimbang pabrik pengolahan ginseng modern. Kita tidak jujur
pada diri kita, juga pada para penanam ginseng. Aneh mereka tidak membawa
ginseng mereka ke pabrik pengolahan ginseng yang lain…" Mendadak Yunho
berhenti bicara, matanya disipitkan. "Atau banyak yang sudah pindah?"
"Kita kehilangan
beberapa tahun lalu, beberapa dari mereka memutuskan untuk pindah."
Yunho mengaitkan ujung
sepatu botnya ke kaki kursi, lalu menarik kursi itu ke dekatnya. Yunho, setelah
duduk di kursi, mencondongkan tubuh ke meja dan berkata dengan nada yang tidak
bisa diterima Jaejoong. "Ceritakan semua yang terjadi padaku."
"Beberapa penanam
ginseng yang biasa menjual panennya pada Jung Gin memang ada yang membawa
ginseng mereka ke pabrik lain. Mereka hanya membayar biaya pengolahan kemudian
menjual langsung ke pedagang."
Jaejoong duduk resah di
kursi kulit yang berderit sementara Yunho memandanginya. "Jadi mereka
lebih suka repot-repot mengusung panen ginseng mereka ke tempat lain dan
membayar ongkos mengolahnya ketimbang menjualnya kepada kita, mengolahnya,
mengepaknya, dan menjualnya ke pedagang ramuan herbal." Jaejoong
mengangguk. Yunho menyuarakan apa yang masih terpendam dalam benak mereka. "Mereka
mendapat lebih banyak uang dengan cara itu, daripada mengolahnya di tempat
kita, karena mereka hanya membayar dengan ongkos lebih murah untuk ginseng yang
kualitasnya lebih rendah."
"Kurasa begitulah
cara berpikir mereka."
Yunho bangkit dari kursi
dan berjalan ke jendela. Ia membalik tangannya, lalu memasukkannya ke saku
jins. Kelihatannya ia sedang memandang alam sekitar, tetapi Jaejoong tahu bukan
pemandangan itu yang tengah dilihatnya. "Kau tahu akar persoalan ini,
bukan? Tahu, kan?" ulang Yunho, langsung membalikkan badan ketika Jaejoong
tidak cepat menjawab pertanyaannya.
"Ya."
"Tetapi kau tidak
melakukan apa-apa."
"Apa yang bisa
kulakukan, Yunho? Pertama-tama, tugasku hanya mengurus pembukuan. Aku belajar
tentang proses pengolahan ginseng, pemasarannya, hanya dengan mendengarkan,
mengamati, menjengkelkan diriku sendiri dengan berada di antara para pekerja.
Aku bukan pengambil keputusan."
"Kau kan istrinya!
Tidakkah itu membuatmu punya hak untuk melakukan sesuatu?" Yunho
mengangkat kedua tangannya. "Kutarik kembali ucapanku. Mereka yang menjadi
istri Jung Siwon tidak akan mengkritik, melakukan apapun yang dikerjakan Siwon,
mereka hanya pasrah melakukan perintah... istri-istri yang tugasnya
menyenangkan suami."
Jaejoong mengangkat
dagu, mengepalkan tangan, dan berkacak pinggang. "Aku pernah mengatakan
padamu aku tidak akan pernah bicara soal hubunganku dengan Siwon padamu."
"Dan aku pernah
mengatakan padamu aku tidak peduli apa yang kaulakukan dengan Siwon di
ranjang."
Keduanya tahu apa yang
mereka katakan sebetulnya tidak benar. Yunho merasa agak malu karena menyadari
ia berbohong. Jaejoong dengan bijaksana memilih tidak menantangnya. "Andai
menghinaku adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk memecahkan masalah
ini, kurasa kau tidak usah ikut campur."
Yunho mengumpat dan
menyibakkan rambut dengan jari-jarinya dengan kesal. Mereka saling pandang
sampai akhirnya diam-diam mengalah. "Aku akan menolong semampuku,"
gumam Yunho.
"Kau bisa
memperbaiki mesinnya?" tanya Jaejoong, menekan kesombongannya.
"Aku butuh beberapa
peralatan, tetapi kurasa bisa kuperbaiki. Aku pernah membongkar mesin pesawat
terbang dan memperbaikinya. Pasti mesin ini tidak lebih rumit daripada mesin
pesawat terbang. Tetapi aku tidak berani menjanjikan apa-apa, Jae. Perbaikan
yang kulakukan bukan jawaban atas masalahmu."
"Aku paham."
Jaejoong melunak, tubuhnya tidak setegang tadi ketika ia tersenyum malu-malu,
meminta maaf atas perilakunya. "Apa pun bantuanmu, sangat kuhargai."
.
.
.
Kali ini umpatan Yunho
makin kasar, tetapi hanya dalam hati. Umpatan itu ditujukan kepada dirinya
sendiri karena perasaan bersalah. Tak ada hal yang lebih diinginkannya saat itu
kecuali memeluk Jaejoong, melindunginya, mengecup bibirnya, merapatkan tubuh
yeoja itu ke tubuhnya. Betapa tololnya dirinya dulu. Pikiran itu membawanya
membayangkan tubuh Jaejoong berpelukan dengan appanya. Oh, Tuhan! Terkadang ia
merasa seperti akan gila bila membayangkan hal itu.
Kendati demikian ia
tidak bisa menyalahkan Jaejoong, seperti yang ingin ia lakukan. Tiap kali
menatap Jaejoong, ia makin menginginkan wanita itu. Ia harus segera
meninggalkan tempat ini. Segera. Sebelum ia melakukan sesuatu yang bisa
mempermalukan dirinya sendiri. Namun itu pun tidak bisa ia lakukan, apa pun
alasannya. Sungmin. Appanya. Tetapi terutama karena Jaejoong. Berjumpa lagi
dengan Jaejoong dua belas tahun kemudian membuat Yunho tidak bisa serta merta
meninggalkannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

yun cemburu bgt tuch hny dgn membayangkan siwon yg memeluk jaenya
ReplyDeleteToh semuanya sudah terjadi dan berlalu, gak bisa di rubah, setidaknya gak ada kata terlambat untuk memperbaiki semua, mau di apa apainpun masa lalu juga gak bisa?
ReplyDeleteEh buset, Siwon medit atau apa sih, itu alat-alat bisa bisa satu persatu rusak kalau begini, itu baru satu looh