Yunho juga terkejut.
Mungkinkah Sungmin mengarang-ngarang cerita itu? Tidak. Sungmin tidak mengenal Jaejoong,
setelah bekerja di perusahaan Siwon baru ia mengenalnya.
Siwon.
Sepintas kecurigaan
menyelinap di benak Yunho. Apa yang melintas di benaknya terlalu mengerikan,
bahkan untuk dipikirkan sekalipun. Tetapi bila berkaitan dengan Siwon...
"Aku dengar kau
menikah. Aku lupa siapa yang menyampaikan kabar itu padaku."
"Siapa pun orang
itu, ia keliru. Aku tidak pernah menikah selagi kuliah, aku hanya
menikah...."
"Dengan appaku."
Setelah terdiam lama, Jaejoong
menceritakan apa yang terpendam dalam hatinya selama bertahun-tahun. "Apa
yang terjadi antara kau dan Ahra?"
"Perang Korea Utara
dan Selatan,” jawab Yunho sambil tertawa.
Bittersweet Rain
© SANDRA BROWN
yunjae version © Kitahara Mizuki
Yunho, Jaejoong, Siwon, Kyuhyun, Sungmin © diri mereka sendiri
Masitge deuseyo…
.
.
.
.
Jaejoong tidak memberi
tanggapan sepatah kata pun. Ia duduk dengan sikap tegang, jari-jarinya bertaut.
"Sejak awal sudah berantakan. Ia tidak menginginkan bayi itu. Ia
manfaatkan kehamilannya untuk menjeratku agar menikahinya, dan setelah Junsu
lahir, kami mengurus perceraian."
"Kau pernah melihat
anak itu? Junsu?"
"Tidak. Tidak pernah," jawab Yunho.
Ekspresi
wajahnya sulit ditebak, tapi dari nada bicaranya jelas ia menutup topik
pembicaraan. Sikapnya itu menyakitkan hati Jaejoong, mengetahui Yunho tidak
mencintai anaknya, anak satu-satunya. Bisa-bisanya ia punya perasaan seperti
itu? Bertahun-tahun setelah kenangan musim panas yang indah tersebut, Jaejoong
bermimpi punya anak dari Yunho. Bayi itu akan jadi bukti istimewa yang
ditinggalkan Yunho buat dirinya, bagian diri Yunho untuk dicintai karena Yunho
tak tinggal di kota itu lagi.
"Akhirnya kami
bercerai, perceraian yang memakan waktu bertahun-tahun. Dan aku lebih
memusatkan perhatian pada bisnis penerbangan yang baru kurintis."
"Aku bangga padamu,
Bear," komentar Jaejoong dengan lembut dan tulus, membuat Yunho menoleh.
Senyumnya getir.
"Ya, tapi aku kerja seperti orang gila supaya bisa mencapai target. Itulah
satu-satunya hal yang memenuhi benakku dan menghindarkan aku memikirkan...
hal-hal lain."
"Hal lain?
Rumah?"
Lama mata Yunho tertuju
pada Jaejoong. Sorot matanya tajam menusuk. "Ya," jawabnya pendek
lalu berdiri. Dengan membelakangi Jaejoong, Yunho menyandarkan tubuhnya pada
salah satu pilar rumah.
"Jung mansion. Sungmin. Appa. Pabrik Ginseng. Geumsan
kampung halamanku. Sebetulnya aku tidak pernah ingin meninggalkannya."
"Kau mempunyai
kehidupan baru di Jepang...."
"Ya." Hanya
itu yang dijawab Yunho. Tepat sekali, ingin ia menambahkan. Dulu rumahnya
terlalu baru, terlalu mewah. Tidak punya karakter atau kelembutan.
Pesta-pestanya terlalu kasar.
Para perempuannya...
Para perempuannya terlalu glamor, terlalu bergaya kosmopolitan, penuh kepura-puraan.
Ia bisa masuk ke balik topeng mereka dan begitu juga sebaliknya.
Hidup yang dijalaninya
kini penuh kepalsuan. Bukan berarti ia tidak bangga pada bisnis penerbangan Eastar Jetnya. Ia bangga. Perusahaan penerbangan itu jelas merupakan
prestasi yang patut dibanggakan, karena untuk mencapai sukses seperti sekarang
dibutuhkan kerja keras bertahun-tahun.
Tetapi bukti kesuksesan
tersebut tak punya arti apa-apa bagi dirinya. Akar kehidupannya ada di sini, di
kota ini, di tanah yang amat kaya ini, di rumah ini. Kehidupan yang lainnya
hanyalah kepalsuan. Ia tidak pernah memaafkan appanya yang membuatnya kabur
dari rumah ini. Tidak akan pernah.
Mendadak ia berbalik
menghadap Jaejoong. "Mengapa kau menikahinya?"
Jaejoong hampir takut
melihat kemarahan yang terpancar di mata Yunho. "Aku tak mau membicarakan
kehidupan pribadiku bersama appamu denganmu, Yunho."
"Aku tidak ingin
tahu kehidupan pribadimu. Aku hanya bertanya, mengapa kau menikahinya. Bahkan Ia
pantas menjadi kakekmu, Jae!" Yunho maju, mencondongkan badan ke dekat Jaejoong,
kedua tangannya bertumpu pada pegangan kursi goyang, mengurung Jaejoong yang berada
di tengahnya.
"Wae? Mengapa kau kembali ke kota ini setelah lulus jadi
sarjana? Tak ada gunanya kau tinggal di sini."
Jaejoong merasa lehernya
kaku karena medongak agar bisa menatap Yunho.
"Ibuku masih hidup. Aku
kembali, dapat pekerjaan di bank, dan menabung selama beberapa bulan agar bisa
keluar dari rumah yang mirip kandang babi itu, kemudian mengontrak rumah di
kota. Aku berjumpa ayahmu di bank. Ia sangat ramah padaku. Ketika ia menawarkan
pekerjaan dipabrik pengolahan ginsengnya, aku terima. Ia melipat gandakan
gajiku, dibandingkan dengan gajiku di bank, yang membuat aku bisa memakamkan
ibuku dengan terhormat."
Napas Yunho memburu,
wajahnya memerah. Rambutnya yang hitam tergerai di dahinya. Sejak dulu
kemejanya tidak pernah ia kancing semuanya. Begitu juga sekali ini. Mata Jaejoong
sejajar dengan dadanya yang bidang. Yunho sungguh pria sejati. Ia tampak sangat
jantan, sangat menarik sekaligus berbahaya. Jaejoong ingin memejamkan mata
supaya tidak melihat semua daya tarik yang ada pada diri Yunho.
"Setelah beberapa
lama aku mulai datang ke Jung mansion untuk bekerja di sini, bukan di pabrik."
"Aku yakin kau
pasti senang sekali, diundang ke Jung Mansion."
"Ya!" seru Jaejoong
defensif.
"Kau tahu betapa aku sangat menyukai rumah ini. Untuk ukuran
gadis lugu yang setiap hari harus berjalan kaki menembus hutan, rumah ini
seperti istana dalam dongeng. Aku tak menyangkal hal itu, Yunho."
"Lanjutkan. Aku
terpesona. Apakah appaku seperti Pangeran Tampan dalam dongeng khayalanmu?"
"Sama sekali tidak.
Jauh dari itu. Setelah ibuku meninggal, aku lebih banyak menghabiskan waktuku di
sini. Ayahmu menyerahkan hampir semua urusan bisnis padaku. Minnie dan aku
menjadi sahabat. Siwon yang mendukung persahabatan kami, karena Minnie tidak
punya teman sebaya."
Tergesa-gesa Jaejoong
membasahi bibir. Yunho menatap gerakan lidah Jaejoong dengan penuh gairah.
"Segalanya berlangsung perlahan-lahan. Rasanya hubungan kami sudah
sewajarnya setelah aku banyak menghabiskan waktu di rumah ini. Ketika appamu
melamarku untuk menjadi istrinya, aku mengiyakan. Ia bisa mewujudkan semua
mimpiku, yang tak mungkin bisa kudapat dengan cara lain."
"Nama baru."
"Ya."
"Pakaian."
"Ya."
“Uang.
"Ya."
"Rumah bagus."
"Rumah yang selalu
kudambakan."
"Untuk semua itukah
kau jual dirimu pada appaku?" bentak Yunho.
"Dalam beberapa
hal, kurasa demikian." Reaksi yang ditunjukkan Yunho membuat Jaejoong merasa
dirinya seperti manusia tidak berharga. Namun ia berusaha membela diri.
"Aku
ingin menjadi sahabat Minnie. Aku ingin menolong appamu."
"Jadi motivasinya
pengorbanan."
"Ani," kilah Jaejoong
sambil menunduk.
"Aku ingin tinggal di sini. Aku ingin orang menghormatiku
karena aku istri Siwon. Ya, aku menginginkan semua itu. Aku dibesarkan di rumah
gubuk, hidup susah setiap hari, mengenakan pakaian rombeng sementara
gadis-gadis sebayaku memakai baju dan rok cantik. Aku harus bekerja sepulang
sekolah setiap hari, juga di hari Minggu, sementara para gadis lain bisa pergi
ke Dairy Mart, menonton kompetisi menembak, sedangkan aku hanyalah anak
pemabuk. Kau takkan bisa memahami semua itu, Jung Yunho!"
Sambil menyebut nama Yunho,
Jaejoong bergerak hendak bangkit, tetapi Yunho bergeming dari tempatnya. Tubuh Jaejoong
berhadapan dengan Yunho. Yunho mencengkeram lengan Jaejoong. Napas keduanya
memburu, keduanya seperti habis berlari cepat.
Jaejoong tidak mau
mengangkat kepalanya dan menatap Yunho. Bila berbuat begitu, ia tidak tahu apa
yang harus dilakukannya selanjutnya. Maka pandangannya hanya diarahkannya
sampai ke bagian lekukan tenggorokan Yunho yang berbentuk V, mengamati denyut
nadinya yang cepat. Jaejoong merasakan tubuh bagian bawahnya bergetar, lemas
karena gairah. Bibirnya gemetar ketika mengucapkan kata-kata,
"Tolong,
biarkan aku lewat, Yun, kumohon."
Yunho tidak memedulikan
permintaan Jaejoong. Ia malah membenamkan wajahnya di leher Jaejoong. Seperti
orang yang tak berdaya, Jaejoong menengadahkan leher. Bibir Yunho menciumi
lehernya, di bagian depan, di bagian belakang, meninggalkan uap basah yang
diembuskan napasnya, yang menggelitik dan menggairahkan Jaejoong.
"Meski tahu kau
istri ayahku, tahu alasan kau menikahinya, mengapa aku tetap menginginkan
dirimu?" Dengan gerakan makin liar karena dipenuhi perasaan putus asa, Yunho
menciumi sisi lain leher Jaejoong. Jaejoong mendongakkan kepalanya, membiarkan Yunho
menciuminya.
Dengan lemah Jaejoong
melawan respons dirinya sendiri, "Tidak, tidak, Yunho, ini tidak boleh."
"Aku sangat
merindukanmu sampai sakit rasanya." Yunho terus menciumi leher Jaejoong
dengan penuh gairah. Bahkan giginya menggigit-gigit kecil.
"Aku
menginginkanmu. Wae, mengapa kau orangnya, Waeyo?"
Jaejoong mengerang.
"Oh, Tuhan, kumohon...." gumamnya sambil menarik napas.
Yang paling
diinginkan Jaejoong saat itu, lebih daripada apa pun, adalah memasrahkan diri
pada Yunho. Ia membutuhkan Yunho sebagaimana Yunho membutuhkannya, untuk
menggantikan tahun-tahun penuh kepedihan yang harus mereka jalani. Dalam
beberapa menit yang sangat berharga itu, mereka ingin melupakan segalanya,
kecuali diri mereka berdua.
Namun hal itu tak
mungkin dilakukan. Kesadaran akan hal yang tak mungkin itu memberikan kekuatan
bagi Jaejoong untuk menahan letupan emosinya dan kembali bergulat untuk
menjauhkan diri dari Yunho.
Secepat tangannya
memeluk Jaejoong, secepat itu pula Yunho melepaskan cengkeraman dan menjatuhkan
tangannya di kedua sisi badannya. Ia melangkah mundur, napasnya memburu dan cepat.
Buru-buru Jaejoong berjalan ke pintu depan.
"Boo."
Panggilannya menghentikan langkah Jaejoong dan seperti perintah yang menyuruhnya
membalikkan badan.
"Aku selalu sulit menerima hal-hal yang tidak kusukai.
Aku tidak berhak melukaimu dengan cara itu. Seharusnya aku tidak ikut
campur."
Sosok Yunho menjadi
kabur karena air mata yang merebak di matanya. Jaejoong mengerti, betapa Yunho
mengorbankan keangkuhan dirinya untuk mengatakan hal itu. Jaejoong melempar
senyum lembut, senyum yang penuh makna, yang artinya tak mungkin diungkapkan
dengan kata-kata.
"Betulkah begitu, Yun?" ujar Jaejoong tenang.
Kemudian ia masuk dan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
.
.
_Kitahara Mizuki_
.
.
Jaejoong berbaring di
ranjang dengan pakaian lengkap karena malas mengganti pakaian, menatap
langit-langit. Merenung. Ia tidak tahu apakah besok ia berharap bertemu Yunho
lagi atau tidak. Tetapi Yunho ada di rumah....
.
.
.
.
.
"Hai."
"Kau Sedang apa Yun?"
"Memancing." Yunho memiringkan kepala
ke arah tangkai yang mencuat di permukaan lumpur di tepi sungai. Tali pancing
tampak bergetar di dalam air. Yunho memang tidak terlalu serius memancing.
"Kau lebih awal dari kemarin."
Wajah Jaejoong memerah, ia memalingkan wajah
dari namja dengan senyum yang amat menawan itu. Ketika keluar rumah setengah jam
lebih awal, Jaejoong mengatakan pada dirinya bahwa alasan kepergiannya bukanlah
karena kemungkinan Yunho ada di hutan dan ia akan punya waktu untuk
bercengkerama bersama pria itu. Jaejoong berusaha tampil sebaik-baiknya,
memakai rok dan blus yang terbaik, menyisir rapi rambutnya setelah ia
mencucinya sampai kulit kepalanya terasa geli, memeriksa kuku-kuku tangannya.
la harus lari dalam kegelapan hutan menuju rumah
setelah turun dari mobil Yunho kemarin malam. Yunho menciumnya. Setelah itu
Yunho bersikap lembut padanya, menanyakan apakah ia baik-baik saja. Namun ia
tidak mengira akan berjumpa lagi dengan Yunho.
Ternyata sekarang Yunho ada di sini, duduk di
bawah pohon dengan mengenakan celana jins pendek dan kaus tanpa lengan.
Kelihatan sangat percaya diri dan tampan seperti bintang film. Otot-otot tangan
dan kakinya yang atletis tampak menonjol. Bulu-bulu halus di tangan dan kaki
Yunho memesona Jaejoong, tetapi setelah memandanginya beberapa saat, perutnya
terasa seperti diaduk-aduk.
"Aku minta Boa, pengurus rumah kami,
membuatkan beberapa potong sandwich. Kau suka daging ayam asap?"
"Entahlah. Aku belum pernah
mencobanya."
"Hmm, sekarang kau akan mencobanya,"
kata Yunho sambil tersenyum. Ia menggelar tikar di rumput dan meminta Jaejoong
duduk. Kemudian ia membuka keranjang dan menyodorkan sepotong sandwich yang
dibungkus plastik pada Jaejoong. Mereka mengobrol sambil makan.
"Apakah kau akan mulai kerja di pabrik?
Omong-omong, daging ayam ini enak juga."
"Aku senang kau menyukainya." Yunho
bersandar di batang pohon sambil mengunyah. "Kurasa begitulah,"
jawabnya sambil menerawang.
"Bila appa dan aku bisa sepakat dalam beberapa
hal." Jaejoong ingin menanyakan hal apa saja, tetapi tidak jadi. Ia tidak
mau Yunho berpikir ia ikut campur urusan Yunho.
Namun Yunho meliriknya, dan melihat sikapnya
yang mendengarkan dengan saksama,
ia melanjutkan, "Kau tahu, appaku tidak
ingin menambahkan modal ke penggilingan agar mendapat untung lebih banyak. Ia
sudah puas dengan apa yang didapatnya dari pabrik sekarang. Padahal banyak cara
yang bisa dilakukan untuk meningkatkan, memperbarui, menjadikan tempat bekerja
yang lebih nyaman untuk para karyawan. Aku belum berhasil meyakinkannya bahwa
bila ia menambahkan modal lagi ke pabriknya itu sekarang, nantinya ia akan
memanen hasilnya dalam jangka waktu panjang."
"Mungkin kau harus mengalah dalam beberapa
hal pada awalnya."
"Mungkin juga," jawab Yunho,
ragu-ragu. Ia memasukkan tangan ke keranjang, mengeluarkan sekaleng minuman
dingin. Ia mengedipkan mata pada Jaejoong.
"Aku ingin sekali minum bir
dingin, tetapi takut tertangkap basah meminumnya bersama gadis di bawah umur
seperti dirimu. Aku bisa dipenjara."
Andai tertangkap basah, mereka jelas takkan
mencemaskan apa yang sedang mereka minum, keduanya menyadari hal itu. Mereka
selesai makan siang dan dengan rapi Jaejoong membantu Yunho memasukkan makanan
yang tersisa ke keranjang. Jaejoong bersandar di batang pohon, menggantikan
Yunho. Yunho berbaring di sampingnya sambil menopang kepalanya dengan tangan.
Ia memandangi Jaejoong.
"Apa yang sedang kaupikirkan?"
tanyanya.
Jaejoong bertemu pandang dengannya.
"Eommamu."
"Eomma?" Nada terkejut dalam suara
Yunho tak bisa disembunyikannya.
"Aku ikut sedih mendengarnya sudah
meninggal, Yun. Ia yeoja yang sangat baik."
"Kapan kau bertemu eommaku?"
"Tidak pernah, tetapi ia sesekali ke Hanbang kafe. Aku selalu menganggap ia perempuan yang...
yang paling rapi yang pernah kukenal."
Yunho tertawa. "Ya, memang. Aku tidak
pernah melihat eommaku dalam keadaan tidak rapi."
"Ia juga cantik, dan selalu berpakaian
indah." Ekspresi Jaejoong melembut.
"Ia meninggal karena apa, Yun?"
Yunho mengamati tepi rok Jaejoong, jarinya
menelusuri sulaman pada pinggir rok itu.
"Patah hati," jawab Yunho
pelan.
Jaejoong melihat kepedihan di wajah Yunho,
membuat perasaan Jaejoong tersentuh. Ingin ia merebahkan kepala Yunho di
dadanya, menghiburnya, mengelus rambutnya. "Bagaimana bisa orang yang
tinggal di rumah seperti rumahmu patah hati?"
Yunho tidak menanggapi pertanyaan Jaejoong, ia
malah balik bertanya.
"Kau suka rumahku?"
Mata Jaejoong berbinar.
"Itu rumah paling indah di dunia," jawab Jaejoong kagum dan Yunho
tertawa. Jaejoong memerah.
"Yah, paling tidak, itu rumah paling indah yang
pernah kulihat."
Yunho kelihatan terkejut. "Kau pernah
masuk?"
"Oh, tidak, tidak pernah. Tetapi aku sering
melewati rumahmu. Aku suka berdiri memandanginya. Aku bersedia melakukan apa
pun untuk bisa tinggal di rumah seperti rumahmu."
Mata Jaejoong menerawang
jauh. "Kau mungkin berpikir aku sinting."
Yunho menggeleng. "Aku juga suka rumahku.
Aku juga tidak pernah bosan memandanginya. Suatu hari nanti kuundang kau ke
rumah."
Mereka berdua tahu Yunho tidak akan
melakukannya, dan selama beberapa saat kemudian mereka tidak sanggup
berpandangan.
Akhirnya Jaejoong berkata, "yodongsaengmu cantik sekali. Aku
pernah melihatnya dengan eommamu beberapa kali."
"Namanya Sungmin."
"Aku tak pernah melihatnya di sekolah.
Apakah ia pergi ke sekolah khusus?"
Yunho mematahkan sebatang rumput dan menggigiti
batangnya. Giginya rata dan putih sekali.
"Ia bersekolah di Sekolah Luar
Biasa. Ia tidak sepenuhnya terbelakang, tetapi perkembangan otaknya lambat. Ia
tidak bisa belajar secepat anak yang lain."
Pipi Jaejoong terasa panas. "Aku... mianhe Yun... aku tidak bermaksud...."
"Hei," ujar Yunho sambil menarik
tangan Jaejoong.
"Tidak apa-apa. Sungguh. Sungmin gadis yang menakjubkan.
Aku sangat mencintainya."
"Beruntung sekali ia punya oppa
sepertimu."
Kembali Yunho menopang kepalanya dengan tangan
dan melemparkan pandangan nakal pada Jaejoong. Sinar matahari menimpa lentik bulu
matanya yang hitam.
"Begitukah?"
"Ya."
Keduanya hanya saling pandang ketika tak ada
kata-kata lagi yang perlu diucapkan. Mata Yunho tertuju pada tangan Jaejoong
yang diletakkan di pahanya. Diambilnya, dibalik dan diamatinya garis-garis
tangan pada telapak tangan itu. Telunjuk Yunho menelusuri tangan Jaejoong mulai
dari telapak sampai ke lekukan tangan yang paling sensitif. Sentuhan tangan
Yunho membuat sekujur tubuh Jaejoong menggelenyar. Dadanya bergemuruh tak
menentu. Ia heran merasakan payudaranya tiba-tiba menegang.
"Aku harus pergi," katanya dengan
napas memburu.
"Aku tidak ingin kau pergi," sahut
Yunho dengan suara parau. Tatapannya perlahan bertemu pandangan Jaejoong.
"Aku berharap kita berdua bisa seharian di sini, seperti ini,
mengobrol."
"Aku yakin kau punya banyak teman untuk
mengobrol. Mereka bisa ngobrol denganmu, kan?"
"Mereka sangat suka bicara," jawab
Yunho.
"Tak ada yang suka mendengarkan, hanya mendengarkan, seperti yang
kaulakukan, Jae."
Sambil memandang Jaejoong dengan bola matanya
yang keemasan, perlahan Yunho berdiri. Tangannya menepis rambut Jaejoong ke
belakang leher yang jenjang. Ditariknya Jaejoong merapat ke tubuhnya. Jaejoong
tidak menolak sedikit pun sampai akhirnya bibir Yunho menyentuh bibirnya.
Keduanya terhanyut, saling mendesah nikmat.
Bibir Yunho. sama lembutnya dengan malam
kemarin, tetapi karena Jaejoong memberi respons, Yunho jadi langsung bergairah.
Ciumannya makin lama makin panas.
Jaejoong hanyut dalam arus hasrat menggebu
Yunho. Jiwanya menggelora tidak menentu, terperangkap dalam gairah, keharuman
tubuh, sentuhan tubuh Yunho pada tubuhnya. Menit berikutnya, Jaejoong berbaring
tertindih paha Yunho yang telanjang, sementara Yunho membungkuk di atas tubuh
Jaejoong. Lidahnya menjelajahi mulut Jaejoong dengan penuh gairah sementara
jari-jari Jaejoong mencengkeram rambut Yunho.
Yunho mengangkat kepalanya, terengah-engah, lalu
kembali menghujani Jaejoong dengan ciuman hangat.
"Jae, hentikan aku,
katakan jangan. Jangan biarkan aku melakukannya."
Yunho menarik kerah blus
Jaejoong ke bahunya, lalu menyelipkan tangannya ke balik blus itu. Kulit
Jaejoong terasa hangat dan halus tersentuh telapak tangannya. Ia mempermainkan
tali bra Jaejoong. Ujung jarinya mengelus dada Jaejoong, dan ia mendesah.
"Kau masih di bawah umur. Masih anak-anak. Ya Tuhan, tolong. Kau belum
cukup umur untuk tahu lebih jauh, tetapi aku boleh. Kita bermain api, Sayang.
Hentikan aku. Tolonglah." Kembali Yunho menciumi Jaejoong, lama.
Keresahan merayapi perasaan Jaejoong. Kakinya
bergerak-gerak meronta. Dadanya berdebar-debar, ia ingin menutupinya dengan
tangannya. Dengan tangan Yunho. Jaejoong melingkarkan tangannya di leher Yunho.
Namun Yunho menarik tubuhnya, menarik napas,
memejamkan mata rapat-rapat.
"Tidak boleh diteruskan, Jae. Kalau tidak
kita hentikan, segalanya akan tak terkendali. Kau mengerti apa yang
kumaksud?"
Seperti orang tolol, Jaejoong mengangguk,
berharap Yunho kembali memeluknya, menciuminya lagi, menyentuh tubuhnya di
bagian yang dirasakannya membengkak dan hangat.
Yunho membantu Jaejoong berdiri. Jaejoong
bergelayut di badan Yunho dan pria itu mendekapnya erat, membelai punggungnya,
membisikkan kata-kata manis di balik rambutnya. Tanpa malu-malu, lengan
Jaejoong memeluk pinggang Yunho. Ketika Yunho menjauhkan tubuh Jaejoong
darinya, senyumnya tampak getir.
"Aku takkan pernah memaafkan diriku bila
kau dipecat dari pekerjaanmu," bisik Yunho.
"Omo!" ujar Jaejoong, sambil
memukul-mukulkan telapak tangan ke pipinya yang memerah.
"Jam berapa
sekarang?"
"Kau masih punya waktu bila pergi
sekarang."
"Sampai jumpa," kata Jaejoong sambil
memasukkan blusnya kembali ke rok dan menggelengkan kepala untuk merapikan
rambutnya.
Yunho menggenggam tangannya. "Aku tidak
bisa menjemputmu nanti malam."
"Aku juga tidak berharap begitu, Yun," jawab Jaejoong polos.
"Aku ingin, tetapi ada yang harus kulakukan
nanti malam."
"Tidak apa-apa. Jeongmal." Jaejoong
mulai melangkah. "Gomapta untuk makan siangnya." Sambil berbalik, ia
menghilang di balik pepohonan. Yunho mengejarnya.
"Jae!" Yunho memanggilnya dengan nada
penuh wibawa, membuat Jaejoong menghentikan larinya dan berbalik.
"Ye?"
"Aku tunggu kau besok. Di sini. Oke?"
Ekspresi Jaejoong yang berseri-seri bersaing
dengan kecerahan sinar matahari ketika ia tersenyum pada Yunho. "Ne,"
jawabnya sambil ter-tawa. "Ya... ya... ya...."
Yunho menemui Jaejoong keesokan harinya, sehari
setelah itu dan hari-hari selanjutnya, hampir setiap hari dalam beberapa minggu
berturut-turut. Bila sempat, Yunho menjemput Jaejoong dari tempat kerja dan
mengantarnya sampai ke dekat rumah.
Jaejoong memiringkan tubuh dan memandang bulan
yang memancarkan sinarnya di antara dahan pepohonan di luar jendela. Betapa
membahagiakannya hari-hari itu. Ia hidup dalam kegembiraan, hari-hari penuh
ciuman, sekaligus kesedihan karena ia menginginkan sesuatu yang lebih daripada
ciuman. Yunho mengutarakan niatnya menempuh masa depan bersama Jaejoong.
Jaejoong juga menceritakan semua rahasia pribadinya. Mereka sama-sama
mengungkapkan rahasia yang tak pernah diketahui orang lain.
Setiap jam yang mereka curi untuk dilewati
bersama sangat membahagiakan, sebagian dikarenakan sinar matahari musim panas
yang hangat. Karena suatu hari ketika mereka bertemu, turun hujan. Itulah hari yang paling indah daripada hari-hari yang mereka
lewati bersama.
Jaejoong tersedu-sedan,
dibiarkannya air mata membasahi pipinya. Ia berdoa memohon ampun tetapi tak
yakin doanya dikabulkan. Karena ia ingin menangis untuk Siwon, suaminya, tetapi
air mata yang menitik turun justru untuk Yunho, kekasihnya.
.
.
.
To Be Continued

cinta jae ternyata ttp utk yun smp skrg
ReplyDeleteYun udah cerai yah, tapi Jae sudah jadi istri, bisakah berharap YunJae?
ReplyDeletePerasaan dan gejolak mereka masih sama hanya saja kini semakin kuat berjuta juta kali lipat.