Wednesday, November 4

[REMAKE/EPILOG] The Violiniest



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

Epilog

Penonton sangat ramai memenuhi seluruh tempat duduk elegan yang tersedia. Semua kursi penuh dan seluruh barisan orkestra telah menempati posisi masing-masing.
Yunho dan Jaejoong berada di ruang ganti. Yunho mengenakan tuxedonya dan menatap Jaejoong dengan lembut,
“Gugup?” tanyanya penuh sayang,
dalam sebulan ini mereka telah menjadi kekasih yang sedemikian dekat dan saling mencintai. Benar-benar seperti menemukan pasangan jiwa yang telah terpisah sedemikian lama.
Tidak seperti sikap dingin Yunho sebelumnya, lelaki itu ternyata bisa menjadi begitu hangat kepada Jaejoong. Dia mudah menyatakan cinta, berkali-kali, dan melimpahi Jaejoong dengan penuh kasih sayang.
Jaejoong sama sekali tidak menyangka, pertemuannya dengan Yunho yang berlanjut dengan berbagai permainan biola mereka bersama dan kemudian sambung menyambung oleh berbagai peristiwa akan berakhir menjadikan mereka sepasang kekasih.
Walaupun begitu, Jaejoong sungguh berbahagia, cara Yunho memperlakukannya, seolah dia adalah kekasih yang paling sempurna di dunia, seolah dia adalah satu-satunya yang berharga bagi Yunho, membuatnya merasa sangat berbahagia.
Mereka berdua sungguh saling melengkapi baik dalam bermain biola maupun dalam hubungan percintaan mereka.
Jaejoong menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak merasa gugup. Asal kau ada disampingku.”
Yunho tersenyum dan mengecup dahi Jaejoong.
“Kurasa akulah yang merasa gugup, aku belum pernah melakukan konser dengan tangan kiri sebelumnya.”
“Kau pasti bisa.” Jaejoong tersenyum lembut,
dengan penuh sayang.dia merapikan dasi Yunho,
“Ingat, kau adalah seorang maestro pemain biola yang sangat jenius.”
Dia lalu mengerutkan keningnya dan menatap Yunho dengan tatapan mata menggoda,
“Sayangnya aku tidak punya jepit rambut kupu-kupu berlian seperti yang dimiliki eommamu untuk meredakan rasa gugupmu.”
Yunho tertawa lalu memeluk Jaejoong dengan sayang,
“Aku tidak butuh jepit rambut itu, aku sudah memiliki yang paling berharga di dalam genggaman tanganku, bukan Boo?”
Pipi Jaejoong memerah, “Terimakasih karena mencintaiku, Yunnie.”
Mata Yunho meredup. “Dan akupun demikian adanya, BooJae, terimakasih karena telah bersedia mencintaiku.”
.
.
.
“Nanti setelah konser kau culik Jaejoong di sini, dia akan keluar dari sisi panggung sebelah sini.” Ahra berbisik kepada Andrew yang menyamar, berpakaian sebagai salah seorang kru, Ahra tentu saja sudah berdandan cantik sekali karena dia sudah mempersiapkan diri untuk berdandan secantik mungkin sebagai pasangan Yunho di pesta nanti. Mereka berdua sedang berdiri di sisi panggung, berbisik-bisik mencurigakan.
Andrew menganggukkan kepalanya,
“Oke, jadi nanti setelah Jaejoong keluar panggung, aku akan membiusnya dengan obat bius dan membawanya pergi dari sini. Lalu apa yang harus kulakukan kepadanya?”
Ahra terkekeh jahat, “Kau bisa melakukan apapun kepadanya, kau bisa menjualnya atau bahkan membunuhnya, aku tidak peduli, yang pasti Jaejoong harus menyingkir dari sisi Yunho!”
Sebelum Andrew sempat berkata-kata, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari ujung samping panggung. Ahra menoleh dengan terkejut, tetapi langsung tersenyum lebar ketika menyadari bahwa yang bertepuk tangan adalah Yunho.
“Yunho! Sayangku!”
Ahra setengah melompat ingin menghampiri Yunho, tetapi kemudian langkahnya terhenti ketika dari sisi lain ada banyak polisi yang muncul, dengan posisi melingkar, mengepungnya dan Andrew. Wajah Ahra langsung pucat pasi, dia menatap Yunho kebingungan.
“Yunho? Apa-apaan?” dia bertanya suaranya tercekat di tenggorokannya, ketakutan karena polisi yang mengepungnya.
Yunho hanya terdiam, berdiri dan menatap Ahra tanpa ekspresi. Lalu lelaki itu mengeluarkan perekam dari balik saku jasnya.
Suara perekam itu sungguh lantang, mengulang kembali semua percakapan Ahra dengan Andrew sebelumnya yang berencana melukai Jaejoong.
“...........Kau bisa melakukan apapun kepadanya, kau bisa menjualnya atau bahkan membunuhnya, aku tidak peduli, yang pasti Jaejoong harus menyingkir dari sisi Yunho!”
Segera setelah rekaman itu berakhir, polisi bergerak maju dan meringkus Ahra bersama Andrew, Ahra meronta-ronta, menatap Yunho dengan tidak percaya, benar-benar tidak percaya bahwa Yunho akan melakukan hal ini kepadanya.
“kenapa kau melakukan hal ini Yunho? Kenapa kau tega melakukannya kepadaku? Aku mencintaimu Yunho... Aku mencintaimuuu...”
Ahra berteriak-teriak seperti orang gila, berusaha meronta-ronta ketika polisi meringkusnya dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah Ahra dan Andrew menghilang dibawa polisi, Jaejoong muncul di sebelah Yunho.
“Kurasa kita bisa tenang sekarang.”
Yunho tersenyum. “ya, kita bisa tenang sekarang BooJae.” Diraihnya jemari Jaejoong dan dikecupnya,
“Ayo, penonton sudah menunggu, mari kita berikan konser terindah kita.”
Yunho dan Jaejoong, membawa biola masing-masing, berjalan melangkah menuju panggung yang terbuka.
Suara penonton langsung riuh menyambut kedatangan mereka, pasangan duet sempurna yang telah lama dinanti-nanti, apalagi kondisi Yunho yang sudah vakum hampir sebulan bermain biola karena lukanya, membuat perasaan antisipasi penonton semakin dalam.
Suara applause semakin riuh rendah dan beberapa penonton bahkan berdiri, padahal Yunho dan Jaejoong belum mulai bermain biola.
Jaejoong menatap penonton yang begitu banyaknya mememenuhi kursi penonton, dia menghela napas panjang dan menatap ke arah Yunho, lelaki itu tersenyum kepadanya, memberinya senyuman menguatkan.
I Love U
Yunho menggerakkan mulutnya tanpa suara, memberikan Jaejoong ketenangan dan perasaan bahagia yang luar biasa.
Dia meletakkan biola itu di pundaknya, dan kemudian menghela napas panjang, menunggu Yunho menggesekkan nada awal musik mereka, dan menyusulnya dengan permainan biolanya sendiri yang tak kalah indahnya.
Suara musik yang begitu sempurna, penuh dengan nada simponi yang mempesona, memenuhi gedung orkestra yang sangat besar itu, membuat seluruh penonton terpana.
Suara musik yang indah juga mengalir di benak Yunho dan Jaejoong, benak dua orang yang diprsatukan oleh nada, dipeluk oleh nada hingga kemudian saling mencintai satu sama lain.
.
.
.
.
END
Beneran End oke. Sampai jumpa di cerita selanjutnya

1 comment:

  1. Akhirnya happy end jg deh..
    Sebenernya masih pengen yunjae moment lg.
    Tapi apa mau dikata kl emng ceritanya cm sampe disini.

    Pokoknya makasih banyak utk Saki yg selalu rajin remake novel2 bagus.
    Semangat terus dan kutunggu remake-mu selanjutnya...^^

    ReplyDelete