Tuesday, November 3

[REMAKE/END] The Violiniest Chapter XX



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

Chapter 20.

Jaejoong terpana, menatap Yunho dengan mata membelalak seolah-olah tak percaya mendengar apapun yang dikatakan oleh lelaki itu.
“Apa?”
Yunho berdiri dari duduknya, memandang Jaejoong dengan tatapan serius, “Kurasa aku jatuh cinta kepadamu, Jaejoong.”
Apakah Yunho sedang mengerjainya dengan kejahilannya seperti biasanya?
Jaejoong berdiri di sana, menatap Yunho dengan terpaku dan kebingungan, tak tahu harus berkata apa. Mulutnya bahkan menganga dengan suara tercekat di tenggorokannya, tak tahu harus berkata apa.
Sementara itu Yunho melangkah mendekat dan berdiri dekat di depan Jaejoong, lelaki itu tampak tenang, menebarkan senyumnya yang mempesona.
“Jadi bagaimana Jaejoong? Apakah kau membalas perasaanku?”
Sebuah pernyataan cinta? Perempuan mana yang tidak akan berdegup seluruh jantungnya merasakan pernyataan cinta dari lelaki yang begitu mempesona seperti Yunho?
Jaejoong sendiri merasakan debaran di jantungnya semakin nyata, dia ingin menjawab tetapi tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
“Aku tidak terbiasa ditolak seseorang.” Mata Yunho mengerjap angkuh,
“meskipun begitu bisa kukatakan kepadamu bahwa kau sebenarnya mencintaiku, hanya saja kau belum menyadarinya.”
Dengan lembut jemari Yunho bergerak menyentuh rambut Jaejoong di dekat telinga dan menyelipkannya ke balik telinga Jaejoong, “Cepatlah sadari perasaanmu kepadaku, dan datangi aku.”
Lelaki itu menundukkan kepalanya, dan mengecup bibir Jaejoong, lalu melangkah berlalu melewati Jaejoong yang masih terpana dan meninggalkannya.
.
.
.
Beberapa saat kemudian dan Jaejoong masih berdiri di sana, terpana, merasakan kelembutan kecupan Jaejoong di bibirnya yang selembut kupu-kupu.
Benarkah itu tadi pernyataan cinta?
Jaejoong menyentuh bibirnya. Yunho tampak begitu tulus dan serius, lelaki itu sepertinya tidak main-main.
Apakah Yunho serius?
Dengan pernyataan cintanya itu?
Jaejoong masih saja tidak bisa membaca Yunho, dan lagipula, reputasinya di masa lalu sebagai penghancur perempuan membuatnya merasa takut... takut kalau dia menumbuhkan perasaanya kepada lelaki itu, ternyata dia hanya dipermainkan dan menjadi korban, seorang perempuan yang dihancurkan perasaannya seperti korban-korban Yunho sebelumnya.
Yang dilakukan Jaejoong pertama kalinya untuk menelaah perasaannya adalah dengan menelepon Changmin.
Lama sekali dia menunggu dan teleponnya tidak diangkat-angkat, tetapi kemudian pada deringan yang kesekian kali, akhirnya Changmin mengangkat teleponnya.
“Hallo Jaejoongie?” ada suara hiduk-pikuk di belakang Changmin, membuat Jaejoong mengerutkan keningnya.
“Halo oppa, ramai sekali di belakangmu, kau ada di mana?”
Hening sejenak, hanya hiruk pikuk yang terdengar sebagai background suara. Dan kemudian Changmin bergumam.
“Aku ada di bandara Jaejoong.”
“Di bandara? Kenapa oppa?”
Terdengar helaan napas Changmin di sana,
“Aku pergi untuk menyusul Kyuhyun, Jaejoong. Kurasa kalau kami benar-benar serius dengan hubungan ini harus ada salah satu yang berjuang.”
Seketika itu juga Jaejoong berdiri dari duduknya, benar-benar terkejut.
“Kau benar-benar-benar akan pergi ke luar negeri untuk menyusul Kyuhyun?” dia setengah berteriak, terdorong oleh keterkejutannya.
Sekali lagi Changmin menghela napas panjang, “Semula aku meragukan perasaanku, tetapi kemudian setelah kejadian kemarin...” Changmin menghela napas panjang,
“Aku memutuskan untuk serius terhadap Kyuhyun.”
Setelah kejadian kemarin? Apakah yang dimaksud Changmin adalah insidennya dengan Yunho kemarin?
Jaejoong terdiam, menunggu, menanti apakah akan ada patah hati di benaknya yang akan menyergap jantungnya. Apalagi mendengar kenyataan bahwa Changmin berangkat untuk mengejar cintanya kepada Kyuhyun dan meninggalkan negara ini.
Tetapi ternyata perasaan itu tidak muncul di dalam hatinya, dia menunggu dan terus menunggu, yang muncul malahan perasaan sayang dan dorongan untuk memberi semangat kepada Changmin.
“Semoga kau berhasil menyelesaikan permasalahanmu dengan Kyuhyun, oppa, semoga kau berbahagia bersama Kyuhyun.” Gumam Jaejoong dengan tulus.
Hening sejenak, kemudian ketika Changmin berkata-kata, Jaejoong bisa mendengar ada senyum di dalam suaranya,
“Terimakasih Jaejoong, kuharap kau juga berbahagia bersama Yunho. Semula aku memang tidak setuju, tetapi kemudian kulihat dia sangat serius kepadamu, dan dia tampaknya sangat melindungimu, mungkin kau adalah yeoja yang pada akhirnya bisa menaklukkan Yunho dan menghentikan reputasinya sebagai yeoja killer.”
Jaejoong tercekat, dia teringat akan keraguannya kepada pernyataan cinta Yunho, dan kemudian mulai merasakan rasa hangat di dadanya.
Changmin bisa melihat bahwa Yunho serius kepadanya, ibu Yunho juga sudah pernah mengatakan bahwa Yunho menyimpan perasaan yang dalam kepadanya. Apakah itu berarti bahwa Jaejoong harus mulai mempercayai Yunho dan membuka hatinya kepada lelaki itu?.
.
.
.
Yunho sedang berada di ruang musik, melatih nada-nada yang indah dari alunan biolanya, ketika Jaejoong muncul di ambang pintu dengan hati-hati, takut mengganggu latihan Yunho.
Tetapi ternyata Yunho menyadari kehadirannya, dan lelaki itu menghentikan latihan biolanya.
Setelah meletakkan biolanya dengan hati-hati pada meja yang tersedia, Yunho tersenyum kepada Jaejoong.
“Apakah kau sudah siap untuk berlatih biola bersamaku, Jaejoong?”
Jaejoong menganggukkan kepalanya, dan melangkah memasuki ruang musik itu.
“Aku siap.” Gumam Jaejoong pelan.
Yunho tersenyum lembut dan mengedikkan bahunya ke arah biola Paganini yang sudah menjadi milik Jaejoong dan diletakkan di kotaknya di atas meja,
“Ayo. Ambil biolamu.” Gumamnya.
Dengan penuh semangat Jaejoong mengambil biola itu dari kotaknya dan meletakkan di pundak kirinya.
Yunho sudah berdiri dan meletakkan biola itu di pundak kirinya sama seperti Jaejoong, berdiri tegak dengan posisi sempurna seorang violinist.
“Kau ingin memainkan lagu apa?”
Jaejoong menarik napas panjang, memandang Yunho dengan tatapan mantap.
“Beethoven Violin Romance no 2” jawabnya tak kalah mantap.
Yunho mengangkat alisnya mendengar pilihan lagu Jaejoong.
“Violin Romance ya?”
lelaki itu tersenyum penuh arti, kemudian menganggukkan kepalanya,
“Mari kita mainkan, sepertinya benakku sedang dipenuhi oleh hal-hal romantis.”
Pipi Jaejoong memerah menerima tatapan tersirat Yunho, dia menganggukkan kepalanya. Dan kemudian memulai nada awal. Seketika itu juga, seperti sudah bisa membaca nadanya, Yunho langsung memasukkan nada pendamping yang menyempurnakan permainan musik itu.
Permainan musik yang mencerminkan perdamaian hati Beethoven dalam menghadapi penyakitnya, musik yang mencerminkan sisi lembut dan ringan dari Beethoven.
Nada-nada berpadu sempurna, luar biasa indahnya, memenuhi ruang musik itu. Alunan musiknya seolah-olah dimainkan oleh dua orang yang memiliki satu hati, sungguh kesempurnaan yang tidak terkatakan.
Kalau ada orang yang mendengarkan permainan musik duet mereka ini, pastilah mereka akan terpana.
Dari awal sampai akhir, keseluruhan keindahan nadanya terus dan terus berpadu, sampai akhirnya, Jaejoong mengeluarkan nada penutup dan Yunho mengikutinya.
Mereka menyelesaikan permainan duet mereka dengan sempurna.
Luar biasa sempurnanya bagi Yunho. Lelaki itu meletakkan biolanya dan menatap Jaejoong dengan lembut.
“Kau adalah pasangan yang sangat sempurna bagiku, BooJaejoongie.”
Jaejoong menatap Yunho dengan hati-hati.
“Apakah kau serius dengan perkataanmu?”
“Perkataan yang mana?” Yunho tersenyum lebar, membuat pipi Jaejoong memerah.
“Pernyataan cintamu tadi.”
Yunho memasang ekspresi penuh makna, meskipun begitu, ada keseriusan di dalam nada suaranya,
“Apakah kau tidak tahu? Aku menjalin hubungan dengan banyak yeoja, tetapi tidak pernah sekalipun aku menyatakan cintaku kepada mereka semua.”
Mata Yunho berubah tajam, “Kau adalah satu-satunya yeoja di mana aku menyatakan cintaku.”
Pipi Jaejoong memerah, meskipun begitu dia masih belum yakin.
“Dan apakah kau serius dengan kata-katamu? Kau tidak sedang mempermainkanku bukan?”
Yunho melangkah mendekat, selangkah lebih dekat di depan Jaejoong.
“Apakah aku terlihat seperti sedang bermain-main?’ tangannya terulur, meraih dagu Jaejoong. “Padamulanya aku jatuh cinta setengah mati kepada permainan biolamu. Sungguh-sungguh jatuh cinta sehingga aku rela melakukan apa saja supaya kau mau menjadi muridku dan aku bisa terus menerus mendengarkan permainan biolamu yang indah itu, bagiku kau adalah yeoja yang sempurna, yeoja yang bisa memeluk semua nada, dan kemudian, tanpa kusadari, pikiranku terlalu fokus kepadamu dan kau kemudian menguasai seluruh pikiranku.”
Mata Yunho menggelap, “Aku tidak pernah berencana jatuh cinta kepada siapapun, Jaejoong, dan aku bahkan tidak mengira aku bisa jatuh cinta, tetapi aku mencintaimu, dan perasaan ini bukan main-main.”
Ya. Pada akhirnya, Jaejoong meyakinin perasaan Yunho. Siapa yang tidak percaya ketika melihat betapa ekspresi Yunho begitu seriusnya kepadanya?
“Dan sekarang, apakah kau masih belum mempercayaiku?” Yunho bertanya, menatap Jaejoong dengan penuh tanda tanya,
“Apakah kau membalas perasaanku, Jaejoong?”
Tidak perlu menunggu lama lagi, Jaejoong menganggukkan kepalanya, menatap Yunho dengan pipi merona.
“Kurasa aku... aku membalas perasaanmu.”
“Kau apa?” Yunho tampaknya tidak puas dengan pengakuan Jaejoong.
Pipi Jaejoong semakin merona.
“Aku.. kurasa aku juga mencintaimu.”
“Benarkah?” Yunho mengangkat alisnya,
“Lalu bagaimana perasaanmu kepada Changmin?”
Jaejoong menghela napas panjang,
“Changmin oppa memutuskan pergi ke luar negeri untuk mengejar Kyuhyun.”
‘Bagus.” Tanpa perasaan Yunho bergumam,
“Jadi dia tidak akan mengganggu kita lagi.”
Tetapi kemudian lelaki itu menatap Jaejoong dengan tatapan mata menyelidik,
“Apa kau menerima cintaku karena Changmin meninggalkanmu?”
Jaejoong langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat,
“Tidak!”
kata-kata itu seolah-olah susah keluar dari bibirnya,
“Ketika Changmin oppa mengatakan bahwa dia akan pergi mengejar Kyuhyun, aku tidak merasakan apa-apa selain rasa yang tulus suapaya dia berhasil mengejar cintanya, pada saat itu aku sadar bahwa aku sudah tidak merasakan apa-apa kepada Changmin oppa.”
Senyum Yunho melebar, dan kemudian tanpa permisi, lelaki itu mendekat dan merengkuh Jaejoong ke dalam pelukannya,
“Kalau begitu sekarang kita tidak bersandiwara lagi? Kau benar-benar menjadi kekasihku?”
Jaejoong mengangguk malu-malu dengan pertanyaan Yunho itu.
Yunho terkekeh, memeluk Jaejoong semakin rapat dan mengecup dahi Jaejoong.
“Menjadi kekasihku tidaklah mudah, kadangkala aku bisa menjadi sangat egois dan posesif, kuharap kau siap.”
Jaejoong mengerucutkan bibirnya, “Kau sudah sangat egois, angkuh, jahil, tukang memaksa, dan tukang cium sembarangan, meskipun begitu aku tetap saja jatuh cinta kepadamu.” Jaejoong tersenyum lucu,
“Kurasa aku siap menghadapi segalanya.”
Yunho tertawa.“Kalau begitu, mari kita berlatih biola dan mempersembahkan duet sepasang kekasih yang mempesona.”
.
,
.
.
END
Ye, tinggal satu chapter epilog
See ya….

2 comments:

  1. Awwww.....
    Chap ini bener2 bisa bikin diabetes deh..
    Akhirnya mereka bener2 jadian...^^

    Semoga changmin bisa bahagia sama kyu.

    ReplyDelete
  2. so sweet banget......

    ReplyDelete