Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Jaejoong
terpana, menatap Yunho dengan mata membelalak seolah-olah tak percaya mendengar
apapun yang dikatakan oleh lelaki itu.
“Apa?”
Yunho
berdiri dari duduknya, memandang Jaejoong dengan tatapan serius, “Kurasa aku
jatuh cinta kepadamu, Jaejoong.”
Apakah
Yunho sedang mengerjainya dengan kejahilannya seperti biasanya?
Jaejoong
berdiri di sana, menatap Yunho dengan terpaku dan kebingungan, tak tahu harus
berkata apa. Mulutnya bahkan menganga dengan suara tercekat di tenggorokannya,
tak tahu harus berkata apa.
Sementara
itu Yunho melangkah mendekat dan berdiri dekat di depan Jaejoong, lelaki itu
tampak tenang, menebarkan senyumnya yang mempesona.
“Jadi
bagaimana Jaejoong? Apakah kau membalas perasaanku?”
Sebuah
pernyataan cinta? Perempuan
mana yang tidak akan berdegup seluruh jantungnya merasakan pernyataan cinta
dari lelaki yang begitu mempesona seperti Yunho?
Jaejoong
sendiri merasakan debaran di jantungnya semakin nyata, dia ingin menjawab
tetapi tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
“Aku
tidak terbiasa ditolak seseorang.” Mata Yunho mengerjap angkuh,
“meskipun
begitu bisa kukatakan kepadamu bahwa kau sebenarnya mencintaiku, hanya saja kau
belum menyadarinya.”
Dengan
lembut jemari Yunho bergerak menyentuh rambut Jaejoong di dekat telinga dan
menyelipkannya ke balik telinga Jaejoong, “Cepatlah sadari perasaanmu kepadaku,
dan datangi aku.”
Lelaki
itu menundukkan kepalanya, dan mengecup bibir Jaejoong, lalu melangkah berlalu
melewati Jaejoong yang masih terpana dan meninggalkannya.
.
.
Beberapa
saat kemudian dan Jaejoong masih berdiri di sana, terpana, merasakan kelembutan
kecupan Jaejoong di bibirnya yang selembut kupu-kupu.
Benarkah
itu tadi pernyataan cinta?
Jaejoong
menyentuh bibirnya. Yunho tampak begitu tulus dan serius, lelaki itu sepertinya
tidak main-main.
Apakah
Yunho serius?
Dengan
pernyataan cintanya itu?
Jaejoong
masih saja tidak bisa membaca Yunho, dan lagipula, reputasinya di masa lalu
sebagai penghancur perempuan membuatnya merasa takut... takut kalau dia
menumbuhkan perasaanya kepada lelaki itu, ternyata dia hanya dipermainkan dan
menjadi korban, seorang perempuan yang dihancurkan perasaannya seperti
korban-korban Yunho sebelumnya.
Yang
dilakukan Jaejoong pertama kalinya untuk menelaah perasaannya adalah dengan
menelepon Changmin.
Lama
sekali dia menunggu dan teleponnya tidak diangkat-angkat, tetapi kemudian pada
deringan yang kesekian kali, akhirnya Changmin mengangkat teleponnya.
“Hallo
Jaejoongie?” ada suara hiduk-pikuk di belakang Changmin, membuat Jaejoong
mengerutkan keningnya.
“Halo
oppa, ramai sekali di belakangmu, kau ada di mana?”
Hening
sejenak, hanya hiruk pikuk yang terdengar sebagai background suara. Dan
kemudian Changmin bergumam.
“Aku
ada di bandara Jaejoong.”
“Di
bandara? Kenapa oppa?”
Terdengar
helaan napas Changmin di sana,
“Aku
pergi untuk menyusul Kyuhyun, Jaejoong. Kurasa kalau kami benar-benar serius
dengan hubungan ini harus ada salah satu yang berjuang.”
Seketika
itu juga Jaejoong berdiri dari duduknya, benar-benar terkejut.
“Kau
benar-benar-benar akan pergi ke luar negeri untuk menyusul Kyuhyun?” dia
setengah berteriak, terdorong oleh keterkejutannya.
Sekali
lagi Changmin menghela napas panjang, “Semula aku meragukan perasaanku, tetapi
kemudian setelah kejadian kemarin...” Changmin menghela napas panjang,
“Aku
memutuskan untuk serius terhadap Kyuhyun.”
Setelah
kejadian kemarin? Apakah yang dimaksud Changmin adalah insidennya dengan Yunho
kemarin?
Jaejoong
terdiam, menunggu, menanti apakah akan ada patah hati di benaknya yang akan
menyergap jantungnya. Apalagi mendengar kenyataan bahwa Changmin berangkat
untuk mengejar cintanya kepada Kyuhyun dan meninggalkan negara ini.
Tetapi
ternyata perasaan itu tidak muncul di dalam hatinya, dia menunggu dan terus
menunggu, yang muncul malahan perasaan sayang dan dorongan untuk memberi
semangat kepada Changmin.
“Semoga
kau berhasil menyelesaikan permasalahanmu dengan Kyuhyun, oppa, semoga kau
berbahagia bersama Kyuhyun.” Gumam Jaejoong dengan tulus.
Hening
sejenak, kemudian ketika Changmin berkata-kata, Jaejoong bisa mendengar ada
senyum di dalam suaranya,
“Terimakasih
Jaejoong, kuharap kau juga berbahagia bersama Yunho. Semula aku memang tidak
setuju, tetapi kemudian kulihat dia sangat serius kepadamu, dan dia tampaknya
sangat melindungimu, mungkin kau adalah yeoja yang pada akhirnya bisa
menaklukkan Yunho dan menghentikan reputasinya sebagai yeoja killer.”
Jaejoong
tercekat, dia teringat akan keraguannya kepada pernyataan cinta Yunho, dan
kemudian mulai merasakan rasa hangat di dadanya.
Changmin
bisa melihat bahwa Yunho serius kepadanya, ibu Yunho juga sudah pernah
mengatakan bahwa Yunho menyimpan perasaan yang dalam kepadanya. Apakah itu
berarti bahwa Jaejoong harus mulai mempercayai Yunho dan membuka hatinya kepada
lelaki itu?.
.
.
.
Yunho
sedang berada di ruang musik, melatih nada-nada yang indah dari alunan
biolanya, ketika Jaejoong muncul di ambang pintu dengan hati-hati, takut
mengganggu latihan Yunho.
Tetapi
ternyata Yunho menyadari kehadirannya, dan lelaki itu menghentikan latihan biolanya.
Setelah
meletakkan biolanya dengan hati-hati pada meja yang tersedia, Yunho tersenyum
kepada Jaejoong.
“Apakah
kau sudah siap untuk berlatih biola bersamaku, Jaejoong?”
Jaejoong
menganggukkan kepalanya, dan melangkah memasuki ruang musik itu.
“Aku
siap.” Gumam Jaejoong pelan.
Yunho
tersenyum lembut dan mengedikkan bahunya ke arah biola Paganini yang sudah
menjadi milik Jaejoong dan diletakkan di kotaknya di atas meja,
“Ayo.
Ambil biolamu.” Gumamnya.
Dengan
penuh semangat Jaejoong mengambil biola itu dari kotaknya dan meletakkan di
pundak kirinya.
Yunho
sudah berdiri dan meletakkan biola itu di pundak kirinya sama seperti Jaejoong,
berdiri tegak dengan posisi sempurna seorang violinist.
“Kau
ingin memainkan lagu apa?”
Jaejoong
menarik napas panjang, memandang Yunho dengan tatapan mantap.
“Beethoven
Violin Romance no 2” jawabnya tak kalah mantap.
Yunho
mengangkat alisnya mendengar pilihan lagu Jaejoong.
“Violin
Romance ya?”
lelaki
itu tersenyum penuh arti, kemudian menganggukkan kepalanya,
“Mari
kita mainkan, sepertinya benakku sedang dipenuhi oleh hal-hal romantis.”
Pipi
Jaejoong memerah menerima tatapan tersirat Yunho, dia menganggukkan kepalanya.
Dan kemudian memulai nada awal. Seketika itu juga, seperti sudah bisa membaca
nadanya, Yunho langsung memasukkan nada pendamping yang menyempurnakan
permainan musik itu.
Permainan
musik yang mencerminkan perdamaian hati Beethoven dalam menghadapi penyakitnya,
musik yang mencerminkan sisi lembut dan ringan dari Beethoven.
Nada-nada
berpadu sempurna, luar biasa indahnya, memenuhi ruang musik itu. Alunan
musiknya seolah-olah dimainkan oleh dua orang yang memiliki satu hati, sungguh
kesempurnaan yang tidak terkatakan.
Kalau
ada orang yang mendengarkan permainan musik duet mereka ini, pastilah mereka
akan terpana.
Dari
awal sampai akhir, keseluruhan keindahan nadanya terus dan terus berpadu,
sampai akhirnya, Jaejoong mengeluarkan nada penutup dan Yunho mengikutinya.
Mereka
menyelesaikan permainan duet mereka dengan sempurna.
Luar
biasa sempurnanya bagi Yunho. Lelaki itu meletakkan biolanya dan menatap Jaejoong
dengan lembut.
“Kau
adalah pasangan yang sangat sempurna bagiku, BooJaejoongie.”
Jaejoong
menatap Yunho dengan hati-hati.
“Apakah
kau serius dengan perkataanmu?”
“Perkataan
yang mana?” Yunho tersenyum lebar, membuat pipi Jaejoong memerah.
“Pernyataan
cintamu tadi.”
Yunho
memasang ekspresi penuh makna, meskipun begitu, ada keseriusan di dalam nada
suaranya,
“Apakah
kau tidak tahu? Aku menjalin hubungan dengan banyak yeoja, tetapi tidak pernah
sekalipun aku menyatakan cintaku kepada mereka semua.”
Mata
Yunho berubah tajam, “Kau adalah satu-satunya yeoja di mana aku menyatakan
cintaku.”
Pipi
Jaejoong memerah, meskipun begitu dia masih belum yakin.
“Dan
apakah kau serius dengan kata-katamu? Kau tidak sedang mempermainkanku bukan?”
Yunho
melangkah mendekat, selangkah lebih dekat di depan Jaejoong.
“Apakah
aku terlihat seperti sedang bermain-main?’ tangannya terulur, meraih dagu Jaejoong.
“Padamulanya aku jatuh cinta setengah mati kepada permainan biolamu. Sungguh-sungguh
jatuh cinta sehingga aku rela melakukan apa saja supaya kau mau menjadi muridku
dan aku bisa terus menerus mendengarkan permainan biolamu yang indah itu,
bagiku kau adalah yeoja yang sempurna, yeoja yang bisa memeluk semua nada, dan
kemudian, tanpa kusadari, pikiranku terlalu fokus kepadamu dan kau kemudian
menguasai seluruh pikiranku.”
Mata
Yunho menggelap, “Aku tidak pernah berencana jatuh cinta kepada siapapun, Jaejoong,
dan aku bahkan tidak mengira aku bisa jatuh cinta, tetapi aku mencintaimu, dan
perasaan ini bukan main-main.”
Ya.
Pada akhirnya, Jaejoong meyakinin perasaan Yunho. Siapa yang tidak percaya
ketika melihat betapa ekspresi Yunho begitu seriusnya kepadanya?
“Dan
sekarang, apakah kau masih belum mempercayaiku?” Yunho bertanya, menatap Jaejoong
dengan penuh tanda tanya,
“Apakah
kau membalas perasaanku, Jaejoong?”
Tidak
perlu menunggu lama lagi, Jaejoong menganggukkan kepalanya, menatap Yunho
dengan pipi merona.
“Kurasa
aku... aku membalas perasaanmu.”
“Kau
apa?” Yunho tampaknya tidak puas dengan pengakuan Jaejoong.
Pipi
Jaejoong semakin merona.
“Aku..
kurasa aku juga mencintaimu.”
“Benarkah?”
Yunho mengangkat alisnya,
“Lalu
bagaimana perasaanmu kepada Changmin?”
Jaejoong
menghela napas panjang,
“Changmin
oppa memutuskan pergi ke luar negeri untuk mengejar Kyuhyun.”
‘Bagus.”
Tanpa perasaan Yunho bergumam,
“Jadi
dia tidak akan mengganggu kita lagi.”
Tetapi
kemudian lelaki itu menatap Jaejoong dengan tatapan mata menyelidik,
“Apa
kau menerima cintaku karena Changmin meninggalkanmu?”
Jaejoong
langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat,
“Tidak!”
kata-kata
itu seolah-olah susah keluar dari bibirnya,
“Ketika
Changmin oppa mengatakan bahwa dia akan pergi mengejar Kyuhyun, aku tidak
merasakan apa-apa selain rasa yang tulus suapaya dia berhasil mengejar
cintanya, pada saat itu aku sadar bahwa aku sudah tidak merasakan apa-apa
kepada Changmin oppa.”
Senyum
Yunho melebar, dan kemudian tanpa permisi, lelaki itu mendekat dan merengkuh Jaejoong
ke dalam pelukannya,
“Kalau
begitu sekarang kita tidak bersandiwara lagi? Kau benar-benar menjadi
kekasihku?”
Jaejoong
mengangguk malu-malu dengan pertanyaan Yunho itu.
Yunho
terkekeh, memeluk Jaejoong semakin rapat dan mengecup dahi Jaejoong.
“Menjadi
kekasihku tidaklah mudah, kadangkala aku bisa menjadi sangat egois dan posesif,
kuharap kau siap.”
Jaejoong
mengerucutkan bibirnya, “Kau sudah sangat egois, angkuh, jahil, tukang memaksa,
dan tukang cium sembarangan, meskipun begitu aku tetap saja jatuh cinta
kepadamu.” Jaejoong tersenyum lucu,
“Kurasa
aku siap menghadapi segalanya.”
Yunho
tertawa.“Kalau begitu, mari kita berlatih biola dan mempersembahkan duet
sepasang kekasih yang mempesona.”
.
,
.
.
END
Ye,
tinggal satu chapter epilog
See
ya….

Awwww.....
ReplyDeleteChap ini bener2 bisa bikin diabetes deh..
Akhirnya mereka bener2 jadian...^^
Semoga changmin bisa bahagia sama kyu.
so sweet banget......
ReplyDelete