Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 16.
Jaejoong terpana, merasakan pelukan Yunho yang sedemikian erat di tubuhnya. Lengan kuat Yunho melingkarinya, seakan ingin meremukkannya. Tetapi dibalik kekuatan pelukannya, Jaejoong merasakan ada kerapuhan yang dalam di sana. Kerapuhan yang tidak pernah ditunjukkan oleh Yunho sebelumnya, sisi lain yang baru diketahui oleh Jaejoong. Yunho benar-benar manusia dengan kepribadian yang amat sangat kompleks, di satu waktu, Jaejoong merasa sudah mengenali lelaki itu, tetapi kemudian di waktu yang lain, Yunho tiba-tiba saja menguakkan lapisan kepribadiannya yang lain, membuat Jaejoong terkejut.
Seperti sekarang. Yunho
memeluknya, tampak rapuh... bagaikan bocah kecil yang meminta perlindungan
kepada ibunya, meminta dikuatkan.
Didorong oleh perasaannya, Jaejoong
menggerakkan jarinya, semula ragu, tetapi kemudian dia melingkarkan lengannya
di punggung Yunho, membalas pelukannya, jemarinya kemudian bergerak dan
mengusap punggung Yunho, berusaha memberikan ketenangan.
Punggung Yunho menegang sejenak
ketika menerima usapan tangan dari jemari mungil Jaejoong. Tetapi kemudian
lelaki itu mempererat pelukannya, terdiam lama sambil menenggelamkan kepalanya
di rambut Jaejoong.
Lama kemudian, Yunho melepaskan
pelukannya. Ekspresinya tidak terbaca.
"Maaf." gumamnya,
dan sebelum Jaejoong sempat
berkata-kata, Yunho melepaskan pegangannya dan melangkah pergi meninggalkan
kamar itu, membiarkan Jaejoong yang terpana tanpa bisa berkata-kata.
.
.
.
.
Ahra mengamati dari dalam
mobilnya di depan rumah orang tua Yunho. Dia menggigit bibirnya dengan geram,
menahan rasa marah dan cemburu.
Dari berita di televisi, dia tahu
bahwa Yunho hari ini keluar dari Rumah Sakit, Ahra begitu senang, tetapi dia
menahan diri dan tidak berani mendekati Yunho, takut lelaki itu akan langsung
menuduhnya sebagai dalang atas kecelakaan yang dia alami.
Jadi disinilah dia, sengaja
memakai mobil pinjaman agar tidak dicurigai dan duduk di dalam seperti orang
bodoh, mengawasi rumah Yunho dan tidak berani mendekat.
Satu hal yang membuatnya semakin
geram adalah karena dia melihat Jaejoong. Perempuan ingusan itu - yang ternyata
tidak menderita luka parah - mengikuti Yunho masuk ke rumah itu, dan sampai
sekarang tidak keluar-keluar dari sana.
Apakah perempuan itu tinggal di
rumah Yunho?
Ahra langsung mengumpat, tidak
bisa menahan dirinya. Kalau sampai perempuan itu berani tinggal di rumah Yunho,
maka Ahra akan melenyapkannya.
Tidak boleh ada perempuan lain
yang boleh berada di dekat Yunho selain dirinya!
.
.
.
.
Ketika bertemu lagi dengan Yunho
sore harinya, Jaejoong sibuk mengamati lelaki itu, Yunho sedang bercakap-cakap
dengan ibunya di teras depan sambil menikmati teh dan kue harum yang masih
hangat, baru keluar dari panggangan.
Lelaki itu tampak ceria, sama sekali tidak tertinggal ekspresi sedih yang ditampakkannya tadi siang. Jaejoong membatin, melihat betapa Yunho tertawa lebar akan apa yang dikatakan oleh ibunya. Tentu saja Jaejoong tahu kisah tentang ibu kandung Yunho yang jahat, dan melihat keakraban Yunho dengan ibu angkatnya ini, tampaknya sang ibu benar-benar menyayangi Yunho dan berusaha menggantikan kekosongan yang ada.
Kepala Yunho terangkat dan sedikit ada kilat di matanya ketika melihat Jaejoong datang, tetapi lelaki itu dalam sekejap bisa menyembunyikannya dan memasang ekspresi datar, lalu tersenyum.
Lelaki itu tampak ceria, sama sekali tidak tertinggal ekspresi sedih yang ditampakkannya tadi siang. Jaejoong membatin, melihat betapa Yunho tertawa lebar akan apa yang dikatakan oleh ibunya. Tentu saja Jaejoong tahu kisah tentang ibu kandung Yunho yang jahat, dan melihat keakraban Yunho dengan ibu angkatnya ini, tampaknya sang ibu benar-benar menyayangi Yunho dan berusaha menggantikan kekosongan yang ada.
Kepala Yunho terangkat dan sedikit ada kilat di matanya ketika melihat Jaejoong datang, tetapi lelaki itu dalam sekejap bisa menyembunyikannya dan memasang ekspresi datar, lalu tersenyum.
"Kemarilah Jae, aku dan eomma
sedang membahas kejadian lucu di salah satu konserku waktu aku kecil."
Mau tak mau Jaejoong mendekat dan duduk di salah satu kursi yang berada di dekat Yunho. Ibu Yunho menuangkan secangkir teh untuknya dan Jaejoong mengucapkan terimakasih ketika menerima cangkir teh itu.
"Pada mulanya Yunho selalu demam panggung sebelum konser."
Mau tak mau Jaejoong mendekat dan duduk di salah satu kursi yang berada di dekat Yunho. Ibu Yunho menuangkan secangkir teh untuknya dan Jaejoong mengucapkan terimakasih ketika menerima cangkir teh itu.
"Pada mulanya Yunho selalu demam panggung sebelum konser."
Sang ibu melanjutkan kisahnya,
tersenyum lebar mengingat kenangan yang menghangatkan hati itu,
"Dia pernah menangis dan
tidak mau naik ke panggung. Aku tidak menyalahkannya, waktu itu usianya baru
duabelas tahun, dan harus menjadi violinist solo di sebuah konser internasional
yang disaksikan ribuan orang. Kami benar-benar kebingungan ketika Yunho tidak
mau naik ke panggung ketika itu."
Yunho tersenyum mendengarkan kisah ibunya, menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi,
Yunho tersenyum mendengarkan kisah ibunya, menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi,
"Aku sudah lupa tentang
kejadian itu, yang ada diingatanku hanyalah ketakutan samar-samar ketika
melihat kursi penonton begitu penuh." Sahutnya.
Jaejoong mencondongkan tubuhnya, tampak tertarik. "Lalu apa yang terjadi?"
Jaejoong mencondongkan tubuhnya, tampak tertarik. "Lalu apa yang terjadi?"
"Aku memberinya sebuah jimat
supaya dia tenang."
Sang ibu tersenyum lembut,
menatap Yunho dan mengenang.
"Jimat?" Jaejoong mengerutkan keningnya, membuat ibu Yunho tertawa.
'Bukan jimat yang punya kekuatan besar tentu saja. Aku panik dan mengambil yang pertama yang aku ingat. Aku memberinya jepit rambutku, jepit rambut berhiaskan berlian yang berbentuk kupu-kupu. Aku bilang pada Yunho bahwa jepit rambut itu mempunyai kekuatan, bisa menyerap rasa takut dan gugup." Sang ibu berkisah kembali.
"Dan Yunho percaya?"
"Jimat?" Jaejoong mengerutkan keningnya, membuat ibu Yunho tertawa.
'Bukan jimat yang punya kekuatan besar tentu saja. Aku panik dan mengambil yang pertama yang aku ingat. Aku memberinya jepit rambutku, jepit rambut berhiaskan berlian yang berbentuk kupu-kupu. Aku bilang pada Yunho bahwa jepit rambut itu mempunyai kekuatan, bisa menyerap rasa takut dan gugup." Sang ibu berkisah kembali.
"Dan Yunho percaya?"
Jaejoong tersenyum lebar,
membayangkan Yunho kecil yang sedang gugup tidaklah mudah. Yunho yang ada di
depannya selalu penuh percaya diri.
Kali ini Yunho yang menjawab, "Aku baru dua belas tahun di kala itu, dan aku mempercayai semua perkataan ibuku, jadi aku percaya."
"Dia menggenggam jepit rambutku itu erat-erat, lalu memasukkannya ke saku dan melangkah dengan kepala tegak ke arah panggung. Pada akhirnya, konser itu sangat sukses membuat nama Yunho terkenal ke dunia internasional sebagai pemain biola jenius di usia yang masih sangat muda." Sang ibu menyambung, tersenyum lembut ke arah anak lelakinya
Yunho mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya. Pada saat yang sama, ponselnya berbunyi. Lelaki itu menatap layar ponselnya dan dahinya langsung berkerut dalam ketika melihat nama yang tertera di ponselnya.
"Kurasa aku harus menerimanya di tempat lain." Lelaki itu berdiri dan membungkuk ke arah Jaejoong dan ibunya, "Silahkan lanjutkan obrolan kalian." gumamnya sebelum melangkah pergi.
Kali ini Yunho yang menjawab, "Aku baru dua belas tahun di kala itu, dan aku mempercayai semua perkataan ibuku, jadi aku percaya."
"Dia menggenggam jepit rambutku itu erat-erat, lalu memasukkannya ke saku dan melangkah dengan kepala tegak ke arah panggung. Pada akhirnya, konser itu sangat sukses membuat nama Yunho terkenal ke dunia internasional sebagai pemain biola jenius di usia yang masih sangat muda." Sang ibu menyambung, tersenyum lembut ke arah anak lelakinya
Yunho mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya. Pada saat yang sama, ponselnya berbunyi. Lelaki itu menatap layar ponselnya dan dahinya langsung berkerut dalam ketika melihat nama yang tertera di ponselnya.
"Kurasa aku harus menerimanya di tempat lain." Lelaki itu berdiri dan membungkuk ke arah Jaejoong dan ibunya, "Silahkan lanjutkan obrolan kalian." gumamnya sebelum melangkah pergi.
Jaejoong mengamati ibu Yunho yang
masih menatap anaknya dengan senyum bangga. Hati Jaejoong tiba-tiba terasa
hangat, perempuan ini bukan ibu kandung Yunho, tetapi dari sorot matanya,
tampak jelas bahwa dia amat sangat menyayangi anaknya itu.
Sang ibu tiba-tiba menolehkan kepalanya dan menatap Jaejoong, membuat Jaejoong tergeragap.
"Aku senang pada akhirnya Yunho memutuskan untuk menjalin hubungan denganmu, Jaejoong." Ibu Yunho tersenyum tulus.
Sang ibu tiba-tiba menolehkan kepalanya dan menatap Jaejoong, membuat Jaejoong tergeragap.
"Aku senang pada akhirnya Yunho memutuskan untuk menjalin hubungan denganmu, Jaejoong." Ibu Yunho tersenyum tulus.
"Kau tahu sendiri obsesi Yunho
untuk menghancurkan yeoja-yeoja yang mirip dengan eomma kandungnya." Ada
kesedihan di suaranya,
"Aku sendiri tidak bisa menyalahkan
Yunho ketika dia menganggap jenis yeoja seperti itu harus dihukum.... sakit
hatinya kepada eomma kandungnya mungkin terlalu dalam, kau pasti sudah pernah
mendengar betapa egois dan jahatnya eomma kandung Yunho yang sekarang masih
mendekam di penjara. Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik untuknya,
supaya dia melupakan kenangan sedih di masa lalunya, tetapi rupanya Yunho
bukanlah orang yang mudah melupakan."
Jaejoong tahu kisah tentang ibu kandung Yunho, bahkan kisah itu sempat heboh dulu ketika ibu kandung Yunho ditangkap polisi karena mendalangi penculikan Junsu, adik kandung Yunho yang notabene adalah anak kandungnya sendiri demi untuk mendapatkan uang tebusan dalam jumlah besar. Bahkan Jaejoong tidak bisa membayangkan ada seorang ibu yang begitu jahat hingga tega menculik anak kandungnya sendiri hanya demi uang.
"Aku terus berharap Yunho bisa membuka hatinya untuk yeoja yang benar-benar dicintainya. Kau tahu, semakin dia menghancurkan hati banyak yeoja, semakin cemas diriku." Ibu Yunho menyambung,
Jaejoong tahu kisah tentang ibu kandung Yunho, bahkan kisah itu sempat heboh dulu ketika ibu kandung Yunho ditangkap polisi karena mendalangi penculikan Junsu, adik kandung Yunho yang notabene adalah anak kandungnya sendiri demi untuk mendapatkan uang tebusan dalam jumlah besar. Bahkan Jaejoong tidak bisa membayangkan ada seorang ibu yang begitu jahat hingga tega menculik anak kandungnya sendiri hanya demi uang.
"Aku terus berharap Yunho bisa membuka hatinya untuk yeoja yang benar-benar dicintainya. Kau tahu, semakin dia menghancurkan hati banyak yeoja, semakin cemas diriku." Ibu Yunho menyambung,
"Kau tahu sendiri yeoja yang
sakit hati bisa melakukan apapun untuk membalas dendam, semakin banyak korban Yunho,
maka semakin banyak pula yang menyimpan sakit hati dan dendam kepadanya, hal
itu membuatku cemas kalau-kalau salah satu dari mereka mencoba menyakiti Yunho."
Mata sang ibu meredup,
"Karena itulah aku
mendesaknya untuk segera menikah, mencoba menjodohkannya dengan anak dari
teman-temanku, tetapi dasar Yunho, dia sangat keras kepada. Pada akhirnya dia
malahan membeli apartemen temannya dan pindah, menghindariku."
Sang ibu terkekeh, tampak tidak
sakit hati dengan ulah anak lelakinya itu.
"Aku senang dia menjalin
hubungan denganmu, Jaejoong, kalian cocok di semua hal. Dan aku tahu Yunho
menyimpan perasaan yang dalam kepadamu."
"Menyimpan perasaan yang dalam?"
"Menyimpan perasaan yang dalam?"
Jaejoong membelalakkan matanya,
darimana sang ibu bisa menyimpulkan hal seperti itu? dan terlihat sangat yakin
pula. Jaejoong dan Yunho memang bersandiwara sebagai sepasang kekasih....
tetapi mereka tidak pernah berpura-pura terlalu dalam, dengan menunjukkan
kemesraan misalnya. Jadi darimana ibu Yunho bisa mengambil kesimpulan itu?
"Suatu malam Yunho datang ke rumah, matanya berbinar, dia tampak bersemangat. Dia datang mengambil biola Stradivari peninggalan appanya yang selalu kusimpan di kotak kaca khusus. Yunho sudah lama tidak menggunakan biola itu dan memilih menggunakan biola Paganini miliknya." Sang ibu melanjutkan,
"Suatu malam Yunho datang ke rumah, matanya berbinar, dia tampak bersemangat. Dia datang mengambil biola Stradivari peninggalan appanya yang selalu kusimpan di kotak kaca khusus. Yunho sudah lama tidak menggunakan biola itu dan memilih menggunakan biola Paganini miliknya." Sang ibu melanjutkan,
"Dan ketika kutanya kenapa
dia mengeluarkan biola itu dari kotaknya, Yunho bercerita tentang kau, Jaejoong."
'Bercerita tentang aku?"
'Bercerita tentang aku?"
Jaejoong mulai membeo tidak sabar
menunggu perkataan ibu Yunho selanjutnya.
"Ya. Mata Yunho berbinar, dia begitu bersemangat. Aku tidak pernah melihatnya begitu antusias sebelumnya ketika membicarakan orang lain. Dia bercerita dengan semangat meluap-luap bahwa pada akhirnya dia menemukan seseorang yang bisa menggugah hatinya dengan kemampuan bermusiknya. Yunho mengambil biola Stradivari-nya yang sudah begitu lama dia simpan di dalam kotak untuk dimainkan olehnya, karena dia ingin kau bermain dengan biola Paganini miliknya." Sang ibu menatap Jaejoong dengan lembut.
"Ya. Mata Yunho berbinar, dia begitu bersemangat. Aku tidak pernah melihatnya begitu antusias sebelumnya ketika membicarakan orang lain. Dia bercerita dengan semangat meluap-luap bahwa pada akhirnya dia menemukan seseorang yang bisa menggugah hatinya dengan kemampuan bermusiknya. Yunho mengambil biola Stradivari-nya yang sudah begitu lama dia simpan di dalam kotak untuk dimainkan olehnya, karena dia ingin kau bermain dengan biola Paganini miliknya." Sang ibu menatap Jaejoong dengan lembut.
"Jangan salah Jaejoong, Yunho
sangat menyayangi kedua biolanya, begitu protektif menjaganya hingga dia tidak
akan membiarkan orang lain menyentuhnya tanpa seizinnya....Tetapi dia
membiarkanmu memainkan salah satunya, itu menunjukkan bahwa kau sangat istimewa
baginya. Amat sangat istimewa, karena itulah aku yakin, anakku menyimpan
perasaan yang dalam kepadamu."
Jaejoong tercenung. Bahkan Yunho bukan hanya membiarkan Jaejoong memainkan biolanya, dia memberikan Paganini miliknya kepada Jaejoong.....
Apakah itu berarti Jaejoong benar-benar istimewa bagi Yunho?
.
.
.
Jaejoong tercenung. Bahkan Yunho bukan hanya membiarkan Jaejoong memainkan biolanya, dia memberikan Paganini miliknya kepada Jaejoong.....
Apakah itu berarti Jaejoong benar-benar istimewa bagi Yunho?
.
.
.
Ahra. Perempuan itu meneleponnya
di ponselnya. Berani-beraninya dia melakukannya setelah semua insiden yang
melukai dirinya dan Jaejoong.
Yunho menggertakkan giginya, berusaha menahan emosinya.
Ketika dia mengangkat teleponnya, suaranya terdengar ramah dan santai, tanpa sedikitpun kemarahan tersisa.
"Ahra? Apa kabar?"
Ahra tercenung di seberang sana, jelas perempuan itu tidak menyangka bahwa Yunho akan menjawab teleponnya dengan ramah. Tiba-tiba dia merasa yakin bahwa Yunho memang masih mempunyai perasaan kepadanya dan membelanya, tidak menyalahkannya karena dia mencoba menyakiti Jaejoong.
"Aku baik-baik saja Yunho sayang." Suaranya berubah serak, genit dan merayu,
Yunho menggertakkan giginya, berusaha menahan emosinya.
Ketika dia mengangkat teleponnya, suaranya terdengar ramah dan santai, tanpa sedikitpun kemarahan tersisa.
"Ahra? Apa kabar?"
Ahra tercenung di seberang sana, jelas perempuan itu tidak menyangka bahwa Yunho akan menjawab teleponnya dengan ramah. Tiba-tiba dia merasa yakin bahwa Yunho memang masih mempunyai perasaan kepadanya dan membelanya, tidak menyalahkannya karena dia mencoba menyakiti Jaejoong.
"Aku baik-baik saja Yunho sayang." Suaranya berubah serak, genit dan merayu,
"Bagaimana keadaanmu Yunho?
selama kau di rumah sakit aku selalu mencemaskanmu, aku hampir menangis tiap
malam karena memikirkanmu."
Untung saja Ahra berada jauh di seberang telepon, kalau tidak mungkin dia akan menyadari ekspresi jijik di wajah Yunho ketika mendengar perkataannya.
"Aku baik-baik saja Ahra."
Untung saja Ahra berada jauh di seberang telepon, kalau tidak mungkin dia akan menyadari ekspresi jijik di wajah Yunho ketika mendengar perkataannya.
"Aku baik-baik saja Ahra."
suara Yunho terdengar ceria,
berusaha bersandiwara sebaik mungkin. Dia harus membuat Ahra yakin bahwa dia
sama sekali tidak curiga atau menyalahkan Ahra atas insiden yang terjadi,
ketika Ahra lengah, itu akan memuluskan rencananya untuk membalas perempuan
itu.
"Kudengar kau sudah pulang dari rumah sakit." Ahra tampak ragu,
"Kudengar kau sudah pulang dari rumah sakit." Ahra tampak ragu,
“Dan aku mendengar gosip bahwa
kau tinggal bersama Jaejoong di rumahmu."
Ada nada cemburu yang sangat
kental di sana, kecemburuan yang tak mampu disembunyikan oleh Ahra.
Yunho tersenyum simpul, mulai menjalankan rencananya untuk memancing Ahra.
"Ya. Jaejoong tinggal di sini untuk sementara. Aku melatihnya secara intensif di sela proses penyembuhanku. Lagipula eommaku berharap banyak akan hubungan kami, jadi..."
"Eommamu berharap apa?" Ahra langsung menyambar, nada suaranya meninggi.
"Eommaku menjodohkan diriku dengan Jaejoong, kau tahu dia bahkan sudah berbicara dengan eomma Jaejoong..."
"Dan kau mau begitu saja?" Ahra hampir saja berteriak.
Yunho tersenyum simpul, mulai menjalankan rencananya untuk memancing Ahra.
"Ya. Jaejoong tinggal di sini untuk sementara. Aku melatihnya secara intensif di sela proses penyembuhanku. Lagipula eommaku berharap banyak akan hubungan kami, jadi..."
"Eommamu berharap apa?" Ahra langsung menyambar, nada suaranya meninggi.
"Eommaku menjodohkan diriku dengan Jaejoong, kau tahu dia bahkan sudah berbicara dengan eomma Jaejoong..."
"Dan kau mau begitu saja?" Ahra hampir saja berteriak.
"Jadi benar Yunho? kau
meninggalkanku karena kau mempunyai perasaan kepada Jaejoong?"
"Mungkin bisa dibilang begitu dan dulu aku tidak menyadarinya."
"Mungkin bisa dibilang begitu dan dulu aku tidak menyadarinya."
Yunho tersenyum lebar, yakin
bahwa pancingannya mengena. Setelah ini Ahra akan terbakar rasa cemburu sampai
hangus dan kemudian akan melakukan tindakan bodoh lainnya. Yunho akan
menggunakannya untuk mempermalukan Ahra nantinya, membuat perempuan itu jera
selamanya.
"Sudah ya, eommaku dan Jaejoong
memanggil. Terimakasih atas perhatianmu, Ahra."
Dan kemudian, dengan tanpa perasaan Yunho mengakhiri percakapan itu, tak peduli bahwa Ahra masih memanggil-manggil namanya di seberang sana.
.
.
.
Dan kemudian, dengan tanpa perasaan Yunho mengakhiri percakapan itu, tak peduli bahwa Ahra masih memanggil-manggil namanya di seberang sana.
.
.
.
Ahra menatap ponselnya dengan
tatapan panas membara.
Sialan! Sialan Jaejoong! Perempuan itu sekarang bahkan berhasil mempengaruhi ibu Yunho.
Tentu saja ibu Yunho sangat senang ketika Jaejoong mendekati anak lelakinya... sudah terlihat jelas kalau disuruh memilih, ibu Yunho akan memilih Jaejoong yang muda dan cantik sebagai menantunya daripada Ahra yang notabene seorang janda dan berusia jauh lebih tua daripada Yunho.
Kenyataan tentang hal itu Ahra sudah tahu. Bahkan kenyataan bahwa Yunho hanya menjalin hubungan main-main dengannya dia juga tahu. Tetapi perasaannya kepada Yunho yang sempurna telah menjadi semakin dalam, menguasai hatinya hingga dia hampir gila.
Tidak! Dia tidak boleh menyerah. Yunho harus kembali menjadi miliknya, dia tidak akan rela jika Yunho dimiliki oleh perempuan ingusan yang jelek itu!
.
.
.
Sialan! Sialan Jaejoong! Perempuan itu sekarang bahkan berhasil mempengaruhi ibu Yunho.
Tentu saja ibu Yunho sangat senang ketika Jaejoong mendekati anak lelakinya... sudah terlihat jelas kalau disuruh memilih, ibu Yunho akan memilih Jaejoong yang muda dan cantik sebagai menantunya daripada Ahra yang notabene seorang janda dan berusia jauh lebih tua daripada Yunho.
Kenyataan tentang hal itu Ahra sudah tahu. Bahkan kenyataan bahwa Yunho hanya menjalin hubungan main-main dengannya dia juga tahu. Tetapi perasaannya kepada Yunho yang sempurna telah menjadi semakin dalam, menguasai hatinya hingga dia hampir gila.
Tidak! Dia tidak boleh menyerah. Yunho harus kembali menjadi miliknya, dia tidak akan rela jika Yunho dimiliki oleh perempuan ingusan yang jelek itu!
.
.
.
Dia harus melindungi Jaejoong
dengan intens setelah ini.
Yunho menyimpulkan sambil berjalan kembali ke teras tempat ibunya dan Jaejoong masih mengobrol.
Ahra pasti akan berbuat nekad, lebih nekad dari sebelumnya dan sadar atau tidak, demi memancing Ahra, Yunho telah menempatkan Jaejoong ke dalam bahaya. Mungkin kali ini bahaya yang mengincar Jaejoong akan lebih besar daripada sebelumnya.... Well, Yunho harus selalu waspada kalau begitu, sambil berharap dia bisa segera menjebak Ahra.
Yunho berdiri di ambang pintu, menatap ke arah Jaejoong yang sedang tertawa mendengarkan kelakar ibunya, wajahnya yang mungil dan polos tampak bercahaya dan berpadu dengan mata cemerlangnya. Dia menghentikan langkahnya di sana, tahu bahwa baik Jaejoong maupun ibunya tidak menyadari dia ada di sana. Matanya mengamati dalam diam ke arah Jaejoong.
Seketika itu juga Yunho terpesona. Jaejoong tidak pernah mengenakan riasan, dia selalu tampil polos apa adanya dengan kesederhanannya, jauh berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah dipacarinya. Tetapi entah bagaimana, perempuan itu berhasil memancarkan kecantikan alami yang berasal dari dalam jiwanya. Jaejoong cantik, dengan caranya sendiri.
Yunho tersenyum masam, menyadari bahwa dirinya sedang menatap terpesona kepada anak ingusan berusia delapan belas tahun, jauh di bawah umurnya....
Dengan perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan, Yunho membalikkan badan, memilih menjauhi Jaejoong dan mencoba menelaah perasaannya sendiri.
.
.
.
Yunho menyimpulkan sambil berjalan kembali ke teras tempat ibunya dan Jaejoong masih mengobrol.
Ahra pasti akan berbuat nekad, lebih nekad dari sebelumnya dan sadar atau tidak, demi memancing Ahra, Yunho telah menempatkan Jaejoong ke dalam bahaya. Mungkin kali ini bahaya yang mengincar Jaejoong akan lebih besar daripada sebelumnya.... Well, Yunho harus selalu waspada kalau begitu, sambil berharap dia bisa segera menjebak Ahra.
Yunho berdiri di ambang pintu, menatap ke arah Jaejoong yang sedang tertawa mendengarkan kelakar ibunya, wajahnya yang mungil dan polos tampak bercahaya dan berpadu dengan mata cemerlangnya. Dia menghentikan langkahnya di sana, tahu bahwa baik Jaejoong maupun ibunya tidak menyadari dia ada di sana. Matanya mengamati dalam diam ke arah Jaejoong.
Seketika itu juga Yunho terpesona. Jaejoong tidak pernah mengenakan riasan, dia selalu tampil polos apa adanya dengan kesederhanannya, jauh berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah dipacarinya. Tetapi entah bagaimana, perempuan itu berhasil memancarkan kecantikan alami yang berasal dari dalam jiwanya. Jaejoong cantik, dengan caranya sendiri.
Yunho tersenyum masam, menyadari bahwa dirinya sedang menatap terpesona kepada anak ingusan berusia delapan belas tahun, jauh di bawah umurnya....
Dengan perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan, Yunho membalikkan badan, memilih menjauhi Jaejoong dan mencoba menelaah perasaannya sendiri.
.
.
.
Malam beranjak kelam ketika Yunho
berdiri di tengah kamarnya yang luas. Suasana cukup sepi, seluruh penghuni
rumah itu mungkin sudah larut di dalam tidurnya. Yunho terpekur di sana, menatap
ke arah biolaStradivari miliknya yang berada di atas meja dengan
kotaknya yang terbuka.
Terakhir kalinya dia memainkan biola ini, dia tidak bisa menahan kesakitan dan tidak sanggup menyelesaikan permainannya....
Yunho sudah menutup rapat pintu kamarnya. Kamar ini memang dibuat khusus untuknya, dengan peredam suara di sekeliling dindingnya, memungkinkan Yunho berlatih biola kapanpun dia mau tanpa mengganggu orang-orang di luar.
Sejak kecil Yunho terbiasa memainkan biola malam-malam, berlatih nada-nada yang sulit dan memainkannya.
Jemari rampingnya menelusuri permukaan biola yang dipernis halus hingga mengkilat itu.
Dan kemudian, setelah menghela napas panjang, Yunho meraih biola itu dan meletakkannya di pundaknya. Tangan kanannya masih sakit tentu saja dan yang pasti tidak akan mampu digunakan untuk menggerakkan penggesek biola dengan intens ketika dia memainkan nada-nada yang sulit.
Yunho meletakkan biola itu di pundak kanannya. Dan memegang penggesek itu di tangan kirinya, tangan yang tidak terluka.
Ya. Dia memegang penggesek itu di tangan kirinya.
Tidak pernah ada yang tahu, bahwa sebagai seorang pemain biola jenius, Yunho pernah belajar memainkan biola dengan penggesek di tangan kirinya. Dan waktu itu, dia bisa memainkan biolanya dengan tangan kiri, sama baiknya ketika dia menggunakan tangan kanannya. Meskipun seorang pemain biola yang menggunakan tangan kirinya sangat jarang, bahkan pemain biola kidalpun kebanyakan tetap memainkan biola dengan tangan kanannya.
Sudah lama sekali Yunho tidak melakukannya, dan dia ragu, tidak tahu apakah tangan kirinya yang tidak terlatih sekian lama mampu melakukannya sebaik tangan kanannya yang rutin digunakannya bermain. Tetapi dia harus mencoba. Mungkin saja tangan kanannya tidak bisa pulih sepenuhnya, tetapi setidaknya Yunho masih memiliki tangan kiri yang sama hebatnya.
Dia hanya harus berlatih dengan lebih intens, bukan?
Maka digeseknya biola itu dengan tangan kiri, memainkan lagu tersulit yang pernah dimainkannya.
.
Terakhir kalinya dia memainkan biola ini, dia tidak bisa menahan kesakitan dan tidak sanggup menyelesaikan permainannya....
Yunho sudah menutup rapat pintu kamarnya. Kamar ini memang dibuat khusus untuknya, dengan peredam suara di sekeliling dindingnya, memungkinkan Yunho berlatih biola kapanpun dia mau tanpa mengganggu orang-orang di luar.
Sejak kecil Yunho terbiasa memainkan biola malam-malam, berlatih nada-nada yang sulit dan memainkannya.
Jemari rampingnya menelusuri permukaan biola yang dipernis halus hingga mengkilat itu.
Dan kemudian, setelah menghela napas panjang, Yunho meraih biola itu dan meletakkannya di pundaknya. Tangan kanannya masih sakit tentu saja dan yang pasti tidak akan mampu digunakan untuk menggerakkan penggesek biola dengan intens ketika dia memainkan nada-nada yang sulit.
Yunho meletakkan biola itu di pundak kanannya. Dan memegang penggesek itu di tangan kirinya, tangan yang tidak terluka.
Ya. Dia memegang penggesek itu di tangan kirinya.
Tidak pernah ada yang tahu, bahwa sebagai seorang pemain biola jenius, Yunho pernah belajar memainkan biola dengan penggesek di tangan kirinya. Dan waktu itu, dia bisa memainkan biolanya dengan tangan kiri, sama baiknya ketika dia menggunakan tangan kanannya. Meskipun seorang pemain biola yang menggunakan tangan kirinya sangat jarang, bahkan pemain biola kidalpun kebanyakan tetap memainkan biola dengan tangan kanannya.
Sudah lama sekali Yunho tidak melakukannya, dan dia ragu, tidak tahu apakah tangan kirinya yang tidak terlatih sekian lama mampu melakukannya sebaik tangan kanannya yang rutin digunakannya bermain. Tetapi dia harus mencoba. Mungkin saja tangan kanannya tidak bisa pulih sepenuhnya, tetapi setidaknya Yunho masih memiliki tangan kiri yang sama hebatnya.
Dia hanya harus berlatih dengan lebih intens, bukan?
Maka digeseknya biola itu dengan tangan kiri, memainkan lagu tersulit yang pernah dimainkannya.
.
.
.
.
To Be Continue

Cieee...Jj udah dapet restu nih dari calon mertua.
ReplyDeleteGa cm biola kesayangan yunho yg dikasih ke Jj tapi hatinya yunho pun jg udah dikasih utk Jj.
Yunho bnr2 jenius kl bs main biola dgn tangan kiri.