Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin,
dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 6,
Jaejoong benar-benar
terkejut. Dia ternganga menatap ke arah Yunho. Sementara seluruh mata
memandangnya.
Apa yang dikatakan Yunho
tadi? Apakah lelaki itu menjebaknya sehingga tidak bisa menolak di tengah
begitu banyak orang?
Jaejoong melemparkan
tatapan marah kepada Yunho, tetapi lelaki itu hanya tersenyum simpul dan
menatap Jaejoong dengan tak tahu malu.
Pada akhirnya, mau tak
mau Jaejoong melangkah ke panggung penuh dengan dorongan untuk mencaci maki Yunho
di depan umum. Tapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya. Rasa frustrasi
membuatnya menatap Yunho dengan marah dan mengancam, tetapi Yunho malah menatapnya
dengan ekspresi geli,
"Apakah kau
membawa biolamu?"
"Tidak." Jaejoong
menjawab cepat sambil menggertakkan gigi.
Yunho terkekeh,
"Aku membawa dua, kau boleh pinjam punyaku." Yunho mengedikkan kepala
kepada pegawainya dan orang itu dengan tergoph-gopoh membawakan dua tempat
biolanya kepada mereka.
Yunho mengambil satu,
sebuah biola warna cokelat kemerahan, membuat Jaejoong ternganga,
"Itu
Stradivarius?" Jaejoong tetap menanyakan pertanyaan itu meskipun dia sudah
tahu jawabannya, tentu saja dia tahu dia telah membaca semua artikel tentang
biola ini dan sekarang melihat secara langsung biola ini di depan matanya
membuatnya seolah bermimpi. Biola Stradivarius adalah biola yang amat sangat
langka, tidak bisa diduplikasi, karena pembuatnya, Antonio Stradivari berhasil
menerapkan teknik yang misterius dan rahasia, sehingga tidak akan pernah ada
yang bisa meniru caranya,
Sang pembuat biola ini
telah membakar habis semua dokumen-dokumen tentang cara-cara dan ramuan
biolanya itu sebelum akhirnya dia meninggal dunia. Biola
Stradivarius terkenal memiliki suara paling jernih dan volume terbesar, dengan
nada yang paling murni yang membuat mereka terlihat hampir 'hidup' di tangan
seorang maestro pemain biola. Dan sekarang, dari sekitar 1.100 instrumen musik
karyanya seperti gitar, biola, viola dan cello, hanya 650 saja yang masih ada
hingga saat ini, dan khusus untuk biola diperkirakan hanya tinggal 100 buah
saja yang masih tersisa, dan Yunho ternyata memiliki salah satu dari seratus
itu.
Yunho menganggukkan
kepala seolah tidak peduli dengan ketakjuban Jaejoong,
"Ini warisan dari
ayahku. Kau pakai yang satunya." Lelaki itu mengedikkan bahunya ke arah
kotak yang belum dibuka. Dan Jaejoong dengan penuh rasa ingin tahu membuka
kotak biola itu. Seketika itu juga dia sadar, bahwa itu adalah biola yang
selalu dipakai oleh Yunho. Jaejoong selalu melihat Yunho memainkan biola ini di
setiap rekaman video penampilan Yunho. Itu adalah biola Paganini yang terkenal.
Berbeda dengan Stradivarius yang menciptakan suara indah dengan sendirinya,
biola Paganini sangat sulit dimainkan, karena ada perbedaan yang kontras antara
nada tinggi dengan nada rendahnya.
"Kau membiarkanku
memakainya?" Jaejoong ternganga, "Jemarinya menelusuri permukaan
biola itu yang begitu halus. Ini adalah salah satu biola tua berumur hampir
empat ratus tahun... Dan termasuk biola yang paling sulit dimainkan.
Bisakah dia
menggunakannya?
Yunho tersenyum,
menarik perhatian Jaejoong.
"Aku yakin kau
pantas menggunakannya. Ayo, kita harus memberikan pertunjukan yang luar biasa
kepada orang-orang ini." Matanya menajam,
"Bach's Chaconne, bisa?"
Jaejoong mengerutkan
keningnya, Yunho rupanya tak tanggung-tanggung, Bach's Chaconne adalah
karya solo biola oleh Johann Sebastian Bach, Chaconne Partita in D minor
for solo violin adalah bagian penutup dari keseluruhan musik, yang katanya
ditulis untuk mengenang isteri pertama Johann Sebastian Bach yang telah
meninggal sebelumnya. Musik ini penuh dengan nada yang sulit dan teknik tingkat
tinggi, memaksa sang violinist menguasai seluruh aspek dalam bermain biola
untuk memainkannya. Tetapi jika dimainkan dengan sempurna, hasilnya akan
sepadan karena bisa membuat siapapun yang mendengarnya merasakan kesedihan itu,
kenangan itu, dan hanyut dalam musik indah yang menyayat hati.
Jaejoong ragu, biarpun
dia pernah mempelajarinya beberapa waktu yang lalu, dia masih ingat
seluruh nadanya. Matanya melirik ke arah penonton yang menunggu, dan terpaku ke
arah Changmin yang tersenyum lebar sambil mengedipkan persetujuan kepadanya..
Sementara Kyuhyun merapat erat di pelukannya dan sebelah lengan Changmin
merangkul pinggang feminim Kyuhyun dengan intim.
Tiba-tiba Jaejoong
merasakan dorongan semangat di benaknya, keinginan untuk menunjukkan kepada Changmin
bahwa dia berharga, bahwa dirinya cukup menarik untuk dilihat dan dikejar...
Bahwa Changmin seharusnya menyadari perasaan Jaejoong.
Jaejoong mengangguk ke
arah Yunho yang menunggunya,
"Aku siap."
Yunho tersenyum,
melihat semangat yang menyala di mata Jaejoong.
"Kalau begitu,
mari kita buat mereka semua terpesona."
Lelaki itu berdiri
dengan begitu tampan dan mempesona, bahkan dia sebenarnya tidak perlu memainkan
biola untuk membuat penonton terpesona, penampilannya yang luar biasa tampan,
dengan tuxedo hitam yang membalut tubuhnya dan rambutnya yang disisir rapi ke
belakang dengan postur tegak posisi memegang biola sudah pasti bisa membuat
semua orang tergila-gila.
Yunho memulai nada
awal, Jaejoong menyusul untuk melengkapinya. Dia menggesek biola indah milik Yunho
dan terpana akan keindahan nada yang dihasilkannya, sangat berbeda dengan biola
yang biasa dipakainya. Kemudian permainan biola Yunho yang begitu indah membawa
Jaejoong ke dalam dunia musik yang membius.
Semuanya menghilang,
para penonton, panggung yang tinggi, ruangan yang penuh orang seakan menghilang
semua. Jaejoong merasakan dirinya berdiri bersama Yunho, di sebuah padang
rumput yang luas, menatap pasangan yang sedang jatuh cinta duduk di rerumputan
sambil berangkulan, dan mereka berdua memainkan musik yang indah itu, musik
kenangan akan cinta sejati seseorang.
Rasanya begitu cepat, Jaejoong
bermain biola sambil memejamkan matanya, dan kemudian Yunho memainkan nada
penutup, Jaejoong mengiringinya dengan sempurna. Dan kemudian.....
selesai.
Yunho berdiri dan
memegang biola dengan sebelah tangannya, tersenyum menghadapi penonton.
Sementara Jaejoong membuka matanya, napasnya sedikit terengah, dan langsung
berhadapan dengan wajah-wajah takjub di sana, beberapa bahkan ada yang
ternganga.
Lalu Yunho tertawa,
dia meletakkan biolanya dan bertepuk tangan. Tepuk tangan itu memecah keadaan,
dan membawa tepuk tangan berikutnya yang susul menyusul, suasana riuh rendah
oleh tepuk tangan yang membahana memenuhi ruangan.
Sementara itu Yunho
tertawa, tampak takjub sekaligus senang, dia mendekat ke hadapan Jaejoong,
berdiri di sana,
"Kau sangat
hebat!" gumamnya antusias, dan kemudian tanpa disangka Yunho membungkuk
dan meraih pinggang Jaejoong, sedikit mengangkat tubuh mungil perempuan itu,
lalu mencium bibirnya!
Yunho mencium bibir Jaejoong
di atas panggung, di hadapan ratusan penonton yang masih diliputi ketakjuban
akan permainan biola yang begitu indah dan sempurna. Suara tepuk tangan makin
riuh rendah mengiringi ciuman mereka, sampai kemudian Yunho melepaskan bibir Jaejoong,
tidak peduli akan wajah Jaejoong yang bingung dan pucat pasi, lelaki itu masih
merangkul pinggang Jaejoong dan tertawa, kemudian membawa Jaejoong membungkuk
kepada seluruh penonton.
.
.
.
Yunho menciumnya lagi!
Jaejoong masih
setengah terpana setengah bingung ketika menuruni panggung. Orang-orang
berebutan menyalami dan memberinya selamat karena mendapat kehormatan bermain
dengan Yunho serta diangkat sebagai murid bimbingan khususnya. Beberapa
mengatakan betapa irinya mereka akan kesempatan yang diperoleh oleh Jaejoong
itu.
Tetapi yang berkecamuk
di benak Jaejoong adalah bibirnya yang panas dan membara akibat kecupan Yunho
yang tanpa ampun. Lelaki itu bersemangat dan melumat bibirnya tanpa permisi. Yunho
sudah merenggut ciuman pertamanya, dan sekarang bahkan dia juga mengambil
ciuman keduanya!
Jaejoong merengut,
merasa semakin kesal ketika menyadari bahwa Yunho juga menjebaknya, dia sengaja
mengumumkan kesediaan Jaejoong - yang sudah pasti dikarangnya - di depan umum,
membuat Jaejoong sekarang tidak bisa menolaknya.
Well, ternyata Yunho
bukan hanya lelaki arogan dan bertemperamen buruk, tetapi juga pemaksa dan
licik untuk mendapatkan keinginannya, terlebih lagi, lelaki itu tukang cium
sembarangan!
Jaejoong masih
mengerutkan keningnya ketika Yunho mendekat ke arahnya, beberapa orang masih
melirik ke arah mereka, mencoba mendengarkan percakapan mereka dengan penuh
ingin tahu.
"Kau harus
mempunyai waktu tiga jam sehari untuk berlatih bersamaku." gumamnya arogan
dan memaksa.
Jaejoong membuka
mulutnya dengan marah, hendak membantah, tetapi bersamaan dengan itu, interupsi
datang menyela.
"Yunho!"
Ahra menghampiri
mereka berdua dengan tergesa,
"Astaga, bagus
sekali sayangku, kau bermain dengan begitu indah, gesekan jarimu yang sempurna
membuatku sangat bergairah."
Lalu seolah sengaja, Ahra
merangkulkan lengannya di leher Yunho dan menciumnya.
Sementara itu Jaejoong
menatap dengan jijik. Astaga, Yunho mungkin sudah terlalu lama hidup di luar
negeri sehingga menganggap sebuah ciuman itu bukanlah hal yang tabu dilakukan
di depan umum. Apalagi mengingat beberapa waktu yang lalu, lelaki itu
menciumnya di atas panggung dan sekarang dia berciuman di tengah pesta dengan
kekasihnya. Jaejoong harus jauh-jauh dari Yunho, kalau tidak lelaki itu mungkin
akan merusak kepolosannya.
Yunho sendiri membalas
ciuman Ahra, dan ketika selesai, dia mengangkat alisnya menatap Ahra,
"Untuk apa ciuman
itu Ahra?" Yunho tersenyum,
Ahra melirik ke arah Jaejoong dengan
penuh arti. Tentu saja ciuman itu untuk menunjukkan kepada anak ingusan yang
beruntung menjadi murid istimewa Yunho itu, bahwa Ahra memiliki Yunho. Perasaan
cemburu membuat Ahra lupa diri, cemburu dan waspada, karena Yunho tidak pernah
memberikani perhatian dan keistimewaan seperti yang diberikannnya kepada Jaejoong
sebelumnya.
Dan Jaejoong menerima
pesan dari Ahra dengan jelas, dia hanya mencibir. Kenapa perempuan itu
sepertinya takut kepadanya? padahal dia sama sekali tidak berpikiran untuk
mendekati Yunho. Tidak selama bumi masih berputar!
"Untuk ucapan
selamat sayang, kau hebat seperti biasanya dan membuatku tergila-gila." Ahra
menyapukan jemari lentiknya ke pipi Yunho, lalu dengan gerakan sengaja seolah
melecehkan Jaejoong, dia menolehkan kepalanya, berpura-pura baru menyadari
kehadiran Jaejoong dan mengangkat alisnya,
"Dan selamat juga
untukmu, kau harusnya bersyukur bisa menjadi murid Yunho." gumamnya ketus
setengah menghina.
Jaejoong mencibir,
"Saya tidak pernah minta kok, terimakasih." Setelah menganggukkan
kepalanya mencoba sopan, Jaejoong membalikkan badannya dan tergesa menjauh
sejauh mungkin dari Yunho.
Sementara itu mata Yunho
terus mengawasi sampai Jaejoong menghilang, hal itu tidak luput dari pandangan Ahra,
membuat hatinya panas.
Dia harus bisa menarik
perhatian Yunho lagi!
"Apakah kau
tertarik padanya?"
pada akhirnya Ahra
tidak bisa menahan diri, dia mencoba mengalihkan perhatian Yunho dengan
bertanya.
Rupanya berhasil
karena Yunho menatap Ahra lagi,
"Apa
maksudmu?"
"Perempuan
ingusan itu." Ahra memandang ke arah Jaejoong pergi,
"Apakah kau
tertarik kepadanya?"
Yunho langsung
tertawa. "Tertarik kepadanya? tentu saja Ahra, kau pasti tahu bahwa aku
selalu tertarik dengan siapapun yang memiliki bakat besar di bidang musik,
terutama biola. Anak itu adalah berlian yang belum terasah, dan di tanganku dia
akan menjadi berkilauan." Yunho melirik Ahra dan tersenyum,
"Apakah kau
cemburu?"
Ahra mengerucutkan
bibirnya dengan manja,
"Tentu saja, kau
memperhatikannya terus dari tadi."
Yunho tertawa lagi,
mengecup bibir Ahra dengan ringan,
"Jangan kuatir
sayang, saat ini aku sepenuhnya milikmu." bisiknya dengan mesra,
membuat senyum Ahra
melebar dan matanya berbinar penuh cinta.
Saat ini aku
sepenuhnya milikmu, jadi nikmatilah selagi bisa...
Yunho bergumam dalam
hati, dan bibirnya tersenyum sinis membayangkan saatnya nanti dia menghancurkan
hati Ahra, seperti yang selalu dilakukannya kepada perempuan-perempuan lainnya.
.
.
.
Jaejoong berhadapan
dengan Changmin yang masih merangkul pinggang Kyuhyun dengan mesra, lelaki itu
tersenyum lebar,
"Jadi Yunho yang
cerdik membuatmu mau tidak mau menerima tawarannya." gumamnya setengah
geli.
Jaejoong langsung
cemberut, "Dia namja licik." desisnya pelan.
"Kau tidak boleh
berkata begitu tentangnya."
Kyuhyun tiba-tiba
menyahut, tampak tidak suka,
"Seharusnya kau
beruntung dia mau membimbingmu, banyak orang di sini yang mau melakukan apa
saja supaya bisa menjadi murid bimbingan khusus Yunho, dan kau seolah tidak
menghargainya dan tidak tahu terimakasih."
Jaejoong memucat
mendengar kata-kata ketus Kyuhyun kepadanya, dia juga menerima tatapan
kebencian Kyuhyun kepadanya, dan sebelum bisa berkata apa-apa, Kyuhyun tib-tiba
mendongak dan menatap Changmin penuh penyesalan,
"Kurasa aku harus
segera pulang, papaku sudah memberi isyarat sejak tadi." gumamnya lembut,
lalu mengecup pipi Changmin,
"Terimakasih atas
dansanya yang menyenangkan sayang."
Changmin menganggukkan
kepalanya, mengecup jemari Kyuhyun sebelum perempuan itu melangkah pergi.
Lelaki itu lalu menatap Jaejoong yang masih menatap kepergian Kyuhyun dengan
bingung dan kemudian mengangkat bahu,
"Maafkan
kata-kata ketusnya tadi." gumam Changmin lembut,
"Kau tahu, Kyuhyun
juga termasuk penggemar Yunho, dia memang pemain piano dan dia memuja
kejeniusan Yunho, dia pernah bercerita salah satu impiannya adalah mendapatkan
kesempatan untuk resital piano dan biola duet bersama Yunho...."
Changmin mencolek
ujung hidung Jaejoong dengan menggoda,
"Kau adalah orang
paling beruntung di ruangan ini, hanya saja kau tidak menyadarinya."
Beruntung?
Jaejoong mengedarkan
pandangannya dan menemukan Yunho tengah mengecup bibir Ahra lagi dan lagi.
Dia mengerutkan
keningnya, apakah semua orang dibutakan oleh kejeniusan Yunho sehingga tidak
memperhatikan betapa buruknya sikap lelaki itu?
.
.
.
"Jadi kau akan
menjadi murid khusus Yunho, akhirnya." ibu Jaejoong tersenyum puas, senang
karena apa yang dia harapkan menjadi nyata.
Jaejoong menyesap susu
cokelatnya dan cemberut, hari ini dia akan mengikuti kelas khusus untuk 20
siswa terpilih yang akan diajar sendiri oleh Yunho. Setelah itu, 19 murid lain
boleh pulang dan hanya dia sendiri yang akan mendapatkan tiga jam tambahan
bersama Yunho.
Tiga jam berduaan
bersama lelaki arogan itu... semoga Jaejoong bisa menahankannya. Dengan cepat
dia meneguk susunya, berdiri, bersiap menghadapi semuanya.
Lalu ada suara mobil
berderum di halaman depan rumah mereka. Jaejoong dan ibu Jaejoong saling
berpandangan.
Siapa yang bertamu
sepagi ini?
Dan kemudian suara ketukan
pintu terdengar, Jaejoong-lah yang duluan berdiri dan membuka pintu itu.
Dan kemudian dia
terpana.
Yunho berdiri di sana
dengan ekspresi datarnya yang biasa.
.
.
.
.
To Be Continue

Yunho suka nyium Jae -.-
ReplyDeleteKasian si Ahra,ntar diputusin sama Yunho. Nah, si Kyu kok ketus banget sama Jae?
Astaga!!
ReplyDeleteYunho cium Jj lagi? Diatas panggung?!
Ga diragukan lg kl yunho emng bener2 tertarik sama Jj..