Friday, October 2

[REMAKE] The Violiniest Chapter VI



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

 Chapter 6,

Jaejoong benar-benar terkejut. Dia ternganga menatap ke arah Yunho. Sementara seluruh mata memandangnya.
Apa yang dikatakan Yunho tadi? Apakah lelaki itu menjebaknya sehingga tidak bisa menolak di tengah begitu banyak orang?
Jaejoong melemparkan tatapan marah kepada Yunho, tetapi lelaki itu hanya tersenyum simpul dan menatap Jaejoong dengan tak tahu malu.
Pada akhirnya, mau tak mau Jaejoong melangkah ke panggung penuh dengan dorongan untuk mencaci maki Yunho di depan umum. Tapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya. Rasa frustrasi membuatnya menatap Yunho dengan marah dan mengancam, tetapi Yunho malah menatapnya dengan ekspresi geli,
"Apakah kau membawa biolamu?"
"Tidak." Jaejoong menjawab cepat sambil menggertakkan gigi.
Yunho terkekeh, "Aku membawa dua, kau boleh pinjam punyaku." Yunho mengedikkan kepala kepada pegawainya dan orang itu dengan tergoph-gopoh membawakan dua tempat biolanya kepada mereka.
Yunho mengambil satu, sebuah biola warna cokelat kemerahan, membuat Jaejoong ternganga,
"Itu Stradivarius?" Jaejoong tetap menanyakan pertanyaan itu meskipun dia sudah tahu jawabannya, tentu saja dia tahu dia telah membaca semua artikel tentang biola ini dan sekarang melihat secara langsung biola ini di depan matanya membuatnya seolah bermimpi. Biola Stradivarius adalah biola yang amat sangat langka, tidak bisa diduplikasi, karena pembuatnya, Antonio Stradivari berhasil menerapkan teknik yang misterius dan rahasia, sehingga tidak akan pernah ada yang bisa meniru caranya,  
Sang pembuat biola ini telah membakar habis semua dokumen-dokumen tentang cara-cara dan ramuan biolanya itu sebelum akhirnya dia meninggal dunia.  Biola Stradivarius terkenal memiliki suara paling jernih dan volume terbesar, dengan nada yang paling murni yang membuat mereka terlihat hampir 'hidup' di tangan seorang maestro pemain biola. Dan sekarang, dari sekitar 1.100 instrumen musik karyanya seperti gitar, biola, viola dan cello, hanya 650 saja yang masih ada hingga saat ini, dan khusus untuk biola diperkirakan hanya tinggal 100 buah saja yang masih tersisa, dan Yunho ternyata memiliki salah satu dari seratus itu. 
Yunho menganggukkan kepala seolah tidak peduli dengan ketakjuban Jaejoong,
"Ini warisan dari ayahku. Kau pakai yang satunya." Lelaki itu mengedikkan bahunya ke arah kotak yang belum dibuka. Dan Jaejoong dengan penuh rasa ingin tahu membuka kotak biola itu. Seketika itu juga dia sadar, bahwa itu adalah biola yang selalu dipakai oleh Yunho. Jaejoong selalu melihat Yunho memainkan biola ini di setiap rekaman video penampilan Yunho. Itu adalah biola Paganini yang terkenal. Berbeda dengan Stradivarius yang menciptakan suara indah dengan sendirinya, biola Paganini sangat sulit dimainkan, karena ada perbedaan yang kontras antara nada tinggi dengan nada rendahnya. 
"Kau membiarkanku memakainya?" Jaejoong ternganga, "Jemarinya menelusuri permukaan biola itu yang begitu halus. Ini adalah salah satu biola tua berumur hampir empat ratus tahun... Dan termasuk biola yang paling sulit dimainkan. 
Bisakah dia menggunakannya?
Yunho tersenyum, menarik perhatian Jaejoong.
"Aku yakin kau pantas menggunakannya. Ayo, kita harus memberikan pertunjukan yang luar biasa kepada orang-orang ini." Matanya menajam, 
"Bach's Chaconne,  bisa?"
Jaejoong mengerutkan keningnya, Yunho rupanya tak tanggung-tanggung, Bach's Chaconne adalah karya solo biola oleh Johann Sebastian Bach, Chaconne Partita in D minor for solo violin adalah bagian penutup dari keseluruhan musik, yang katanya ditulis untuk mengenang isteri pertama Johann Sebastian Bach yang telah meninggal sebelumnya. Musik ini penuh dengan nada yang sulit dan teknik tingkat tinggi, memaksa sang violinist menguasai seluruh aspek dalam bermain biola untuk memainkannya. Tetapi jika dimainkan dengan sempurna, hasilnya akan sepadan karena bisa membuat siapapun yang mendengarnya merasakan kesedihan itu, kenangan itu, dan hanyut dalam musik indah yang menyayat hati.
Jaejoong ragu, biarpun dia pernah mempelajarinya beberapa waktu yang lalu, dia masih ingat seluruh nadanya. Matanya melirik ke arah penonton yang menunggu, dan terpaku ke arah Changmin yang tersenyum lebar sambil mengedipkan persetujuan kepadanya.. Sementara Kyuhyun merapat erat di pelukannya dan sebelah lengan Changmin merangkul pinggang feminim Kyuhyun dengan intim.
Tiba-tiba Jaejoong merasakan dorongan semangat di benaknya, keinginan untuk menunjukkan kepada Changmin bahwa dia berharga, bahwa dirinya cukup menarik untuk dilihat dan dikejar... Bahwa Changmin seharusnya menyadari perasaan Jaejoong.
Jaejoong mengangguk ke arah Yunho yang menunggunya, 
"Aku siap."
Yunho tersenyum, melihat semangat yang menyala di mata Jaejoong.
"Kalau begitu, mari kita buat mereka semua terpesona."
Lelaki itu berdiri dengan begitu tampan dan mempesona, bahkan dia sebenarnya tidak perlu memainkan biola untuk membuat penonton terpesona, penampilannya yang luar biasa tampan, dengan tuxedo hitam yang membalut tubuhnya dan rambutnya yang disisir rapi ke belakang dengan postur tegak posisi memegang biola sudah pasti bisa membuat semua orang tergila-gila.
Yunho memulai nada awal, Jaejoong menyusul untuk melengkapinya. Dia menggesek biola indah milik Yunho dan terpana akan keindahan nada yang dihasilkannya, sangat berbeda dengan biola yang biasa dipakainya. Kemudian permainan biola Yunho yang begitu indah membawa Jaejoong ke dalam dunia musik yang membius.
Semuanya menghilang, para penonton, panggung yang tinggi, ruangan yang penuh orang seakan menghilang semua. Jaejoong merasakan dirinya berdiri bersama Yunho, di sebuah padang rumput yang luas, menatap pasangan yang sedang jatuh cinta duduk di rerumputan sambil berangkulan, dan mereka berdua memainkan musik yang indah itu, musik kenangan akan cinta sejati seseorang.
Rasanya begitu cepat, Jaejoong bermain biola sambil memejamkan matanya, dan kemudian Yunho memainkan nada penutup, Jaejoong mengiringinya dengan sempurna. Dan  kemudian..... selesai.
Yunho berdiri dan memegang biola dengan sebelah tangannya, tersenyum menghadapi penonton. Sementara Jaejoong membuka matanya, napasnya sedikit terengah, dan langsung berhadapan dengan wajah-wajah takjub di sana, beberapa bahkan ada yang ternganga.
Lalu Yunho tertawa, dia meletakkan biolanya dan bertepuk tangan. Tepuk tangan itu memecah keadaan, dan membawa tepuk tangan berikutnya yang susul menyusul, suasana riuh rendah oleh tepuk tangan yang membahana memenuhi ruangan. 
Sementara itu Yunho tertawa, tampak takjub sekaligus senang, dia mendekat ke hadapan Jaejoong, berdiri di sana, 
"Kau sangat hebat!" gumamnya antusias, dan kemudian tanpa disangka Yunho membungkuk dan meraih pinggang Jaejoong, sedikit mengangkat tubuh mungil perempuan itu, lalu mencium bibirnya!
Yunho mencium bibir Jaejoong di atas panggung, di hadapan ratusan penonton yang masih diliputi ketakjuban akan permainan biola yang begitu indah dan sempurna. Suara tepuk tangan makin riuh rendah mengiringi ciuman mereka, sampai kemudian Yunho melepaskan bibir Jaejoong, tidak peduli akan wajah Jaejoong yang bingung dan pucat pasi, lelaki itu masih merangkul pinggang Jaejoong dan tertawa, kemudian membawa Jaejoong membungkuk kepada seluruh penonton.
.
.
.
Yunho menciumnya lagi! 
Jaejoong masih setengah terpana setengah bingung ketika menuruni panggung. Orang-orang berebutan menyalami dan memberinya selamat karena mendapat kehormatan bermain dengan Yunho serta diangkat sebagai murid bimbingan khususnya. Beberapa mengatakan betapa irinya mereka akan kesempatan yang diperoleh oleh Jaejoong itu.
Tetapi yang berkecamuk di benak Jaejoong adalah bibirnya yang panas dan membara akibat kecupan Yunho yang tanpa ampun. Lelaki itu bersemangat dan melumat bibirnya tanpa permisi. Yunho sudah merenggut ciuman pertamanya, dan sekarang bahkan dia juga mengambil ciuman keduanya!
Jaejoong merengut, merasa semakin kesal ketika menyadari bahwa Yunho juga menjebaknya, dia sengaja mengumumkan kesediaan Jaejoong - yang sudah pasti dikarangnya - di depan umum, membuat Jaejoong sekarang tidak bisa menolaknya.
Well, ternyata Yunho bukan hanya lelaki arogan dan bertemperamen buruk, tetapi juga pemaksa dan licik untuk mendapatkan keinginannya, terlebih lagi, lelaki itu tukang cium sembarangan!
Jaejoong masih mengerutkan keningnya ketika Yunho mendekat ke arahnya, beberapa orang masih melirik ke arah mereka, mencoba mendengarkan percakapan mereka dengan penuh ingin tahu.
"Kau harus mempunyai waktu tiga jam sehari untuk berlatih bersamaku." gumamnya arogan dan memaksa.
Jaejoong membuka mulutnya dengan marah, hendak membantah, tetapi bersamaan dengan itu, interupsi datang menyela.
"Yunho!"
Ahra menghampiri mereka berdua dengan tergesa,
"Astaga, bagus sekali sayangku, kau bermain dengan begitu indah, gesekan jarimu yang sempurna membuatku sangat bergairah."
Lalu seolah sengaja, Ahra merangkulkan lengannya di leher Yunho dan menciumnya.
Sementara itu Jaejoong menatap dengan jijik. Astaga, Yunho mungkin sudah terlalu lama hidup di luar negeri sehingga menganggap sebuah ciuman itu bukanlah hal yang tabu dilakukan di depan umum. Apalagi mengingat beberapa waktu yang lalu, lelaki itu menciumnya di atas panggung dan sekarang dia berciuman di tengah pesta dengan kekasihnya. Jaejoong harus jauh-jauh dari Yunho, kalau tidak lelaki itu mungkin akan merusak kepolosannya.
Yunho sendiri membalas ciuman Ahra, dan ketika selesai, dia mengangkat alisnya menatap Ahra,
"Untuk apa ciuman itu Ahra?" Yunho tersenyum,
Ahra melirik ke arah Jaejoong dengan penuh arti. Tentu saja ciuman itu untuk menunjukkan kepada anak ingusan yang beruntung menjadi murid istimewa Yunho itu, bahwa Ahra memiliki Yunho. Perasaan cemburu membuat Ahra lupa diri, cemburu dan waspada, karena Yunho tidak pernah memberikani perhatian dan keistimewaan seperti yang diberikannnya kepada Jaejoong sebelumnya.
Dan Jaejoong menerima pesan dari Ahra dengan jelas, dia hanya mencibir. Kenapa perempuan itu sepertinya takut kepadanya? padahal dia sama sekali tidak berpikiran untuk mendekati Yunho. Tidak selama bumi masih berputar!
"Untuk ucapan selamat sayang, kau hebat seperti biasanya dan membuatku tergila-gila." Ahra menyapukan jemari lentiknya ke pipi Yunho, lalu dengan gerakan sengaja seolah melecehkan Jaejoong, dia menolehkan kepalanya, berpura-pura baru menyadari kehadiran Jaejoong dan mengangkat alisnya,
"Dan selamat juga untukmu, kau harusnya bersyukur bisa menjadi murid Yunho." gumamnya ketus setengah menghina.
Jaejoong mencibir, "Saya tidak pernah minta kok, terimakasih." Setelah menganggukkan kepalanya mencoba sopan, Jaejoong membalikkan badannya dan tergesa menjauh sejauh mungkin dari Yunho.
Sementara itu mata Yunho terus mengawasi sampai Jaejoong menghilang, hal itu tidak luput dari pandangan Ahra, membuat hatinya panas.
Dia harus bisa menarik perhatian Yunho lagi!
"Apakah kau tertarik padanya?"
pada akhirnya Ahra tidak bisa menahan diri, dia mencoba mengalihkan perhatian Yunho dengan bertanya.
Rupanya berhasil karena Yunho menatap Ahra lagi,
"Apa maksudmu?"
"Perempuan ingusan itu." Ahra memandang ke arah Jaejoong pergi,
"Apakah kau tertarik kepadanya?"
Yunho langsung tertawa. "Tertarik kepadanya? tentu saja Ahra, kau pasti tahu bahwa aku selalu tertarik dengan siapapun yang memiliki bakat besar di bidang musik, terutama biola. Anak itu adalah berlian yang belum terasah, dan di tanganku dia akan menjadi berkilauan." Yunho melirik Ahra dan tersenyum,
"Apakah kau cemburu?"
Ahra mengerucutkan bibirnya dengan manja,
"Tentu saja, kau memperhatikannya terus dari tadi."
Yunho tertawa lagi, mengecup bibir Ahra dengan ringan,
"Jangan kuatir sayang, saat ini aku sepenuhnya milikmu." bisiknya dengan mesra,
membuat senyum Ahra melebar dan matanya berbinar penuh cinta.
Saat ini aku sepenuhnya milikmu, jadi nikmatilah selagi bisa...
Yunho bergumam dalam hati, dan bibirnya tersenyum sinis membayangkan saatnya nanti dia menghancurkan hati Ahra, seperti yang selalu dilakukannya kepada perempuan-perempuan lainnya.
.
.
.
Jaejoong berhadapan dengan Changmin yang masih merangkul pinggang Kyuhyun dengan mesra, lelaki itu tersenyum lebar,
"Jadi Yunho yang cerdik membuatmu mau tidak mau menerima tawarannya." gumamnya setengah geli.
Jaejoong langsung cemberut, "Dia namja licik." desisnya pelan.
"Kau tidak boleh berkata begitu tentangnya."
Kyuhyun tiba-tiba menyahut, tampak tidak suka,
"Seharusnya kau beruntung dia mau membimbingmu, banyak orang di sini yang mau melakukan apa saja supaya bisa menjadi murid bimbingan khusus Yunho, dan kau seolah tidak menghargainya dan tidak tahu terimakasih."
Jaejoong memucat mendengar kata-kata ketus Kyuhyun kepadanya, dia juga menerima tatapan kebencian Kyuhyun kepadanya, dan sebelum bisa berkata apa-apa, Kyuhyun tib-tiba mendongak dan menatap Changmin penuh penyesalan,
"Kurasa aku harus segera pulang, papaku sudah memberi isyarat sejak tadi." gumamnya lembut, lalu mengecup pipi Changmin,
"Terimakasih atas dansanya yang menyenangkan sayang."
Changmin menganggukkan kepalanya, mengecup jemari Kyuhyun sebelum perempuan itu melangkah pergi. Lelaki itu lalu menatap Jaejoong yang masih menatap kepergian Kyuhyun dengan bingung dan kemudian mengangkat bahu,
"Maafkan kata-kata ketusnya tadi." gumam Changmin lembut,
"Kau tahu, Kyuhyun juga termasuk penggemar Yunho, dia memang pemain piano dan dia memuja kejeniusan Yunho, dia pernah bercerita salah satu impiannya adalah mendapatkan kesempatan untuk resital piano dan biola duet bersama Yunho...."
Changmin mencolek ujung hidung Jaejoong dengan menggoda,
"Kau adalah orang paling beruntung di ruangan ini, hanya saja kau tidak menyadarinya."
Beruntung? 
Jaejoong mengedarkan pandangannya dan menemukan Yunho tengah mengecup bibir Ahra lagi dan lagi.
Dia mengerutkan keningnya, apakah semua orang dibutakan oleh kejeniusan Yunho sehingga tidak memperhatikan betapa buruknya sikap lelaki itu?
.
.
.

"Jadi kau akan menjadi murid khusus Yunho, akhirnya." ibu Jaejoong tersenyum puas, senang karena apa yang dia harapkan menjadi nyata. 
Jaejoong menyesap susu cokelatnya dan cemberut, hari ini dia akan mengikuti kelas khusus untuk 20 siswa terpilih yang akan diajar sendiri oleh Yunho. Setelah itu, 19 murid lain boleh pulang dan hanya dia sendiri yang akan mendapatkan tiga jam tambahan bersama Yunho.
Tiga jam berduaan bersama lelaki arogan itu... semoga Jaejoong bisa menahankannya. Dengan cepat dia meneguk susunya, berdiri, bersiap menghadapi semuanya.
Lalu ada suara mobil berderum di halaman depan rumah mereka. Jaejoong dan ibu Jaejoong saling berpandangan. 
Siapa yang bertamu sepagi ini? 
Dan kemudian suara ketukan pintu terdengar, Jaejoong-lah yang duluan berdiri dan membuka pintu itu.
Dan kemudian dia terpana.
Yunho berdiri di sana dengan ekspresi datarnya yang biasa.
.
.
.
.
To Be Continue

2 comments:

  1. Yunho suka nyium Jae -.-
    Kasian si Ahra,ntar diputusin sama Yunho. Nah, si Kyu kok ketus banget sama Jae?

    ReplyDelete
  2. Astaga!!
    Yunho cium Jj lagi? Diatas panggung?!
    Ga diragukan lg kl yunho emng bener2 tertarik sama Jj..

    ReplyDelete