Tuesday, April 1

[Remake] The Untittled Story Chapter XII



Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?



The Untitled Story

Kitahara Saki
 Remake from Abby Glines Story

Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita




Chapter 12
Aku  mungkin tidak punya baju untuk ke pesta-pesta Yunho tapi aku memiliki segalanya untuk pergi ke Mirotic. Sudah lama sekali semenjak terakhir kali aku memakai rok jeans biruku. Roknya lebih pendek dari yang kuingat tapi itu masih sesuai. Terutama dengan sepatu bootsku.
Yunho sudah pergi pagi tadi ketika aku sedang mandi dan dia belum kembali hingga saat ini. Aku bertanya-tanya apakah kamarku terlarang untuk temannya jika dia mengadakan pesta disini. Aku tidak suka pemikiran tentang orang asing yang berhubungan seks di ranjangku. Aku tidak suka pemikiran tentang orang selain aku berhubungan seks di ranjang tempat dimana aku tidur. Aku ingin bertanya tapi aku tidak yakin bagaimana menanyakan hal seperti ini.
Pergi sebelum Yunho kembali artinya aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Haruskah aku berencana mencuci spreiku saat aku pulang? Ide itu membuatku ngeri. Ketika kakiku menyentuh anak tangga terbawah, pintu depan mengayun terbuka dan Yunho berjalan masuk ke dalam. Ketika tatapannya menemukanku dia membeku dan perlahan menelusuri penampilanku. Aku tidak berpakaian untuk membuat teman-temannya terkesan tetapi ada sebuah kelompok lain di luar sana yang dimana mungkin aku bisa mendapatkan perhatian.
"Wow," dia bergumam dan menutup pintu di belakangnya.
Aku tidak bergerak. Aku mencoba untuk mencari tahu bagaimana cara menanyakan apakah ada orang asing berhubungan seks di ranjangku.
"Kau, uh, mengenakan baju itu untuk clubbing?" Tanyanya.
"Ya. Adakah yang salah dengan bajuku?”
Yunho menjalarkan tangannya ke rambut pendeknya dan mengeluarkan desahan yang terdengar seperti diantara agak frustasi dan agak geli. Jika dia hendak mencemooh penampilanku aku mungkin akan melempar sepatu bootku padanya.
"Bisakah aku ikut dengan kalian malam ini? Aku tidak pernah ke Mirotic sebelumnya."
Mwo? Apa aku baru saja mendengarnya dengan benar?
"Kau ingin pergi bersama kami?" aku bertanya dalam kebingungan.
Yunho mengangguk dan matanya mengamati tubuhku sekali lagi. "Yeah, aku ingin ikut."
Kupikir dia bisa ikut juga. Jika kami berteman maka kami seharusnya bisa bergaul bersama.
"Oke. Jika kau ingin ikut. Kita harus berangkat dalam sepuluh menit. Junsu ingin aku menjemputnya."
"Aku akan siap dalam lima menit," katanya dan melompati dua anak tangga secara bersamaan.
Ini bukan sesuatu yang aku sangka. Terasa aneh.
.
.
.
.
Tujuh menit kemudian, Yunho turun dari tangga dan memakai jeans yang nyaman dan kaus hitam ketat dengan tulisan Larc en Ciel pada bagian depan yang dicetak dengan tulisan gotik berwarna putih. Emblem yang terdapat di pundaknya juga menghiasi kausnya. Cincin perak di ibu jarinya juga dikenakan di tangannya lagi dan untuk pertama kali nya sejak aku bertemu dengannya dia punya beberapa jenis anting bulat kecil di telinganya. Dia makin terlihat lebih seperti anak penyanyi rock kelas dunia dari sebelumnya. Bulu mata hitamnya membuat seolah dia memakai eyeliner secara permanen dan itu hanya semakin menambahkan efek yang ada.
Ketika mataku kembali ke wajahnya dia menjulurkan lidahnya untuk memperlihatkan sekilas barbel peraknya padaku dan kemudian berkedip. "Kupikir jika aku akan datang ke Mirotic dengan namja yang memakai boots dan kemeja aku perlu tetap berada pada akarku. Rock and Roll ada di dalam darahku. Aku tidak bisa berpura pura menjadi orang lain."
Aku tertawa saat dia menyeringai padaku. "Kau akan terlihat tidak pada tempatnya malam ini sama seperti saat aku berada di pesta-pestamu. Ini akan menyenangkan. Kkaja, rockstar" aku menggoda dan menuju ke pintu.
Yunho membukakan pintu dan mundur sehingga aku bisa keluar. Namja ini bisa menjadi aneh ketika dia menginginkannya. "Karena temanmu ingin berangkat bersama kita, kenapa kita tidak memakai salah satu mobilku saja? Kita semua akan lebih nyaman disana dari pada dengan trukmu."
Aku berhenti dan menatapnya."Tapi kita semua akan muat jika memakai trukku."
Yunho menarik remote kecil dan salah satu pintu dari garasi untuk empat mobilnya terbuka. Sebuah Audi hitam dengan pelek metalik dan cat sempurna yang mengkilap ada di tempatnya. Aku tidak bisa tidak setuju dengannya. Kami akan lebih nyaman dengan mobil ini.
"Ini luar biasa," ujarku.
"Apakah itu berarti kita bisa memakai mobilku? Aku agak keberatan berbagi tempat duduk dengan Junsu. Yeoja itu suka menyentuh sesuatu tanpa ijin." kata Yunho.
Aku tersenyum, "Ya, dia memang  seperti itu. Dia agak sedikit penggoda bukan?"
Yunho mengangkat salah satu alisnya. "Menggoda adalah ciri khasnya."
"Arra… Oke, Kita akan memakai mobil keren Jung Yunho."
Dia memberiku sebuah seringai congkak dan berjalan menuju garasi. Aku mengikutinya dari belakang.
Dia membukakan pintu untukku, perlakuan yang manis sehingga hal ini terasa seperti kencan. Aku tidak ingin dia mengacaukan pikiranku. Aku telah ditekankan olehnya bahwa kami hanya sebatas teman. Dia harus memainkan permainannya dengan benar. "Apakah kau selalu membukakan pintu mobil untuk semua temanmu?" tanyaku, berdiri disana menatapnya. Aku ingin dia melihat kekeliruan dari sikap sangat sopannya.
Senyum santainya hilang dan ekspresi serius mengambil alih wajahnya, "Ani," jawabnya, melangkah kembali menuju pintu pengemudi. Aku merasa benar-benar seperti seorang yang brengsek. Seharusnya aku cukup mengatakan terima kasih saja dan mengabaikannya. Kenapa harus aku yang mengingatkannya pada aturannya sendiri?
Ketika kami berada di dalam Audi miliknya, Yunho menyalakan mesin dan mengemudi tanpa berkata apapun. Aku benci kesunyiannya. "Mian Yun. Aku tidak bermaksud bersikap kasar"
Yunho menghembuskan nafas dan bahunya turun. Kemudian menggelengkan kepalanya. "Ani Jae. Kau benar. Aku hanya tidak pernah punya cingu dengan jenis kelamin yang sama denganmu jadi aku tidak begitu pandai memilah apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak harus kulakukan."
"Jadi, kau membukakan pintu hanya untuk teman kencanmu? Itu hal yang sangat sopan yang kau lakukan. Eommamu telah membesarkanmu dengan baik."
Aku merasakan sengatan cemburu. Ada beberapa yeoja di luar sana yang pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari Yunho. Yeoja yang diinginkannya untuk diajak berkencan dan menjadi lebih dari sekedar teman.
"Sebenarnya, tidak, aku tidak pernah melakukannya. Aku… kau… kau terlihat seperti yeoja yang layak untuk dibukakan pintunya. Itu yang ada dalam pikiranku saat itu. Tapi aku mengerti apa maksudmu. Jika kita akan berteman aku harus membuat garis pembatas dan tetap berada di belakangnya."
Hatiku meluluh lagi.
"Gomawo sudah membukakan pintunya untukku. Itu manis sekali."
Yunho mengendikkan bahunya dan tidak berkata apa apa lagi.
"Kita harus menjemput Junsu ditempat kerjaku. Dia akan berada di kantor. Dia harus bekerja hari ini. Dia akan mandi dan berpakaian disana."
Yunho berbelok menuju ke country club. "Bagaimana kau dan Junsu bisa berteman?"
"Kami bekerja bersama suatu hari. Kupikir kami berdua sedang butuh teman. Dia ceria dan berjiwa bebas. Segala sesuatu yang tidak aku miliki."
Yunho tertawa. "Kau mengatakannya seolah itu adalah hal yang buruk.Kau tidak mau menjadi seperti Junsu. Percayalah padaku."
Dia benar. Aku tidak ingin menjadi seperti Junsu tapi dia begitu menyenangkan untuk diajak bergaul.
Aku duduk diam sementara Yunho menyibukkan diri dengan sounds system yang terlihat mahal dan rumit. Kami melalui perjalanan singkat dari rumahnya ke tempat kerjaku. "Forever of Love" sebuah lagu milik DBSK mulai mengalun dan itu membuatku tersenyum. Aku hampir menduga akan mendengar lagu-lagu Larc en ciel.
Ketika Audi berhenti di samping kantor aku membuka pintu dan melangkah keluar. Junsu tidak akan mencari mobil ini. Dia mencari trukku.
Pintu kantor terbuka dan Junsu berjalan keluar mengenakan celana pendek kulit berwarna merah, tank top cut off warna putih, dan boots kulit selutut berwarna putih.
"Apa yang kau lakukan dengan salah satu mobil Yunho?" Tanyanya, tersenyum lebar.
"Dia akan pergi bersama kita. Yunho ingin pergi ke Mirotic juga. Jadi…"Aku berhenti dan melihat ke Audi.
"Hal ini benar benar akan menghambat dirimu untuk mendapatkan seorang namja. Aku cuma mengingatkan," pungkas Junsu saat dia menuruni tangga dan melihat cepat pada penampilanku. "Atau tidak. Kau terlihat seksi. Maksudku, aku tahu kau mengagumkan tapi kau terlihat sangat seksi dengan pakaian ini. Aku ingin punya boots asli seorang cowgirl. Dimana kau membeli nya?"
Pujian nya manis. Aku sudah begitu lama tidak punya teman wanita. Ketika Jaekyung meninggal teman teman perempuan berangsur-angsur hilang dari hidupku. Seolah mereka tidak bisa berada didekatku tanpa mengenangnya. Hyunjoong menjadi satu-satunya temanku.
"Terimakasih, dan boots ini,  aku mendapatkannya saat Natal dua tahun lalu dari eomma. Boots ini miliknya, dia mendapatkannya ketika berlibur ke Dallas bersama appa. Aku menyukainya sejak dia membelinya dan setelah dia jatuh, setelah…dia jatuh sakit...dia memberikannya padaku."
Junsu mengerutkan dahi, "Eommamu sakit?"
Aku sedang tidak ingin menyulut kesedihan malam ini. Aku mengangguk dan memaksakan tersenyum cerah. "Yeah. Tapi itu kisah yang lain. Mari kita temukan para namja yang menawan."
Junsu balas tersenyum dan membuka pintu belakang  Audi disisiku. "Aku akan membiarkanmu berada di depan karena aku punya firasat kalau pengemudinya menginginkan seperti itu."
Aku tidak punya waktu untuk menimpalinya sebelum Junsu melompat naik ke Audi dan kemudian langsung menutup pintu. Aku naik ke dalam mobil dan tersenyum pada Yunho yang sedang menatapku. "Waktunya pergi untuk bersenang-senang." kataku padanya.
.
.
.
.
.
TBC

3 comments:

  1. ya ampun Yun,, dirimu misterius bgt sihhhh
    perhatian, posesif,,,tapi gimana sih perasaanmu ??

    ditambah si JJ pindah kamar ya bakal makin susah hindarin pesonamu yg begitu wowww

    tapi klo aq jadi JJ, nikmatin aja lah klo bisa minta duit jajan sekalian LOL

    ReplyDelete
  2. jaenna ♥6:04 AM

    Segitu marahnya yunho ya .. denger jj makan d kamar.. hahaha.. dia merasa bersalah

    ReplyDelete
  3. jiah yun ini kmn aja seh
    apa dia lupa yg nyuruh jae nempatin kamar itu kan dia
    saki knp lanjutannya yg 13 gk bs dibuka

    ReplyDelete