Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan
diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi
sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong
dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki
Remake from Abby Glines Story
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim
Jaejoong
Marga disesuaikan untuk
kepentingan cerita
Chapter 12
Aku mungkin
tidak punya baju untuk ke pesta-pesta Yunho tapi aku memiliki segalanya untuk
pergi ke Mirotic. Sudah lama sekali semenjak terakhir kali aku memakai rok
jeans biruku. Roknya lebih pendek dari yang kuingat tapi itu masih sesuai.
Terutama dengan sepatu bootsku.
Yunho sudah pergi pagi tadi ketika aku sedang mandi
dan dia belum kembali hingga saat ini. Aku bertanya-tanya apakah kamarku
terlarang untuk temannya jika dia mengadakan pesta disini. Aku tidak suka
pemikiran tentang orang asing yang berhubungan seks di ranjangku. Aku tidak
suka pemikiran tentang orang selain aku berhubungan seks di ranjang tempat
dimana aku tidur. Aku ingin bertanya tapi aku tidak yakin bagaimana menanyakan
hal seperti ini.
Pergi sebelum Yunho kembali artinya aku tidak akan
tahu apa yang akan terjadi. Haruskah aku berencana mencuci spreiku saat aku
pulang? Ide itu membuatku ngeri. Ketika kakiku menyentuh anak tangga terbawah,
pintu depan mengayun terbuka dan Yunho berjalan masuk ke dalam. Ketika
tatapannya menemukanku dia membeku dan perlahan menelusuri penampilanku. Aku
tidak berpakaian untuk membuat teman-temannya terkesan tetapi ada sebuah
kelompok lain di luar sana yang dimana mungkin aku bisa mendapatkan perhatian.
"Wow," dia bergumam dan menutup pintu di
belakangnya.
Aku tidak bergerak. Aku mencoba untuk mencari tahu
bagaimana cara menanyakan apakah ada orang asing berhubungan seks di ranjangku.
"Kau, uh, mengenakan baju itu untuk
clubbing?" Tanyanya.
"Ya. Adakah yang salah dengan bajuku?”
Yunho menjalarkan tangannya ke rambut pendeknya dan
mengeluarkan desahan yang terdengar seperti diantara agak frustasi dan agak
geli. Jika dia hendak mencemooh penampilanku aku mungkin akan melempar sepatu
bootku padanya.
"Bisakah aku ikut dengan kalian malam ini? Aku
tidak pernah ke Mirotic sebelumnya."
Mwo? Apa aku baru saja mendengarnya dengan benar?
"Kau ingin pergi bersama kami?" aku
bertanya dalam kebingungan.
Yunho mengangguk dan matanya mengamati tubuhku
sekali lagi. "Yeah, aku ingin ikut."
Kupikir dia bisa ikut juga. Jika kami berteman maka
kami seharusnya bisa bergaul bersama.
"Oke. Jika kau ingin ikut. Kita harus berangkat
dalam sepuluh menit. Junsu ingin aku menjemputnya."
"Aku akan siap dalam lima menit," katanya
dan melompati dua anak tangga secara bersamaan.
Ini bukan sesuatu yang aku sangka. Terasa aneh.
.
.
.
.
Tujuh menit kemudian, Yunho turun dari tangga dan
memakai jeans yang nyaman dan kaus hitam ketat dengan tulisan Larc en Ciel pada
bagian depan yang dicetak dengan tulisan gotik berwarna putih. Emblem yang
terdapat di pundaknya juga menghiasi kausnya. Cincin perak di ibu jarinya juga
dikenakan di tangannya lagi dan untuk pertama kali nya sejak aku bertemu
dengannya dia punya beberapa jenis anting bulat kecil di telinganya. Dia makin
terlihat lebih seperti anak penyanyi rock kelas dunia dari sebelumnya. Bulu
mata hitamnya membuat seolah dia memakai eyeliner secara permanen dan itu hanya
semakin menambahkan efek yang ada.
Ketika mataku kembali ke wajahnya dia menjulurkan
lidahnya untuk memperlihatkan sekilas barbel peraknya padaku dan kemudian
berkedip. "Kupikir jika aku akan datang ke Mirotic dengan namja yang memakai
boots dan kemeja aku perlu tetap berada pada akarku. Rock and Roll ada di dalam
darahku. Aku tidak bisa berpura pura menjadi orang lain."
Aku tertawa saat dia menyeringai padaku. "Kau
akan terlihat tidak pada tempatnya malam ini sama seperti saat aku berada di
pesta-pestamu. Ini akan menyenangkan. Kkaja, rockstar" aku menggoda dan
menuju ke pintu.
Yunho membukakan pintu dan mundur sehingga aku bisa
keluar. Namja ini bisa menjadi aneh ketika dia menginginkannya. "Karena
temanmu ingin berangkat bersama kita, kenapa kita tidak memakai salah satu
mobilku saja? Kita semua akan lebih nyaman disana dari pada dengan
trukmu."
Aku berhenti dan menatapnya."Tapi kita semua
akan muat jika memakai trukku."
Yunho menarik remote kecil dan salah satu pintu
dari garasi untuk empat mobilnya terbuka. Sebuah Audi hitam dengan pelek
metalik dan cat sempurna yang mengkilap ada di tempatnya. Aku tidak bisa tidak
setuju dengannya. Kami akan lebih nyaman dengan mobil ini.
"Ini luar biasa," ujarku.
"Apakah itu berarti kita bisa memakai mobilku?
Aku agak keberatan berbagi tempat duduk dengan Junsu. Yeoja itu suka menyentuh
sesuatu tanpa ijin." kata Yunho.
Aku tersenyum, "Ya, dia memang seperti itu. Dia agak sedikit penggoda
bukan?"
Yunho mengangkat salah satu alisnya. "Menggoda
adalah ciri khasnya."
"Arra… Oke, Kita akan memakai mobil keren Jung
Yunho."
Dia memberiku sebuah seringai congkak dan berjalan
menuju garasi. Aku mengikutinya dari belakang.
Dia membukakan pintu untukku, perlakuan yang manis
sehingga hal ini terasa seperti kencan. Aku tidak ingin dia mengacaukan
pikiranku. Aku telah ditekankan olehnya bahwa kami hanya sebatas teman. Dia
harus memainkan permainannya dengan benar. "Apakah kau selalu membukakan
pintu mobil untuk semua temanmu?" tanyaku, berdiri disana menatapnya. Aku
ingin dia melihat kekeliruan dari sikap sangat sopannya.
Senyum santainya hilang dan ekspresi serius
mengambil alih wajahnya, "Ani," jawabnya, melangkah kembali menuju
pintu pengemudi. Aku merasa benar-benar seperti seorang yang brengsek.
Seharusnya aku cukup mengatakan terima kasih saja dan mengabaikannya. Kenapa
harus aku yang mengingatkannya pada aturannya sendiri?
Ketika kami berada di dalam Audi miliknya, Yunho
menyalakan mesin dan mengemudi tanpa berkata apapun. Aku benci kesunyiannya.
"Mian Yun. Aku tidak bermaksud bersikap kasar"
Yunho menghembuskan nafas dan bahunya turun.
Kemudian menggelengkan kepalanya. "Ani Jae. Kau benar. Aku hanya tidak pernah
punya cingu dengan jenis kelamin yang sama denganmu jadi aku tidak begitu
pandai memilah apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak harus
kulakukan."
"Jadi, kau membukakan pintu hanya untuk teman
kencanmu? Itu hal yang sangat sopan yang kau lakukan. Eommamu telah
membesarkanmu dengan baik."
Aku merasakan sengatan cemburu. Ada beberapa yeoja
di luar sana yang pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari Yunho. Yeoja
yang diinginkannya untuk diajak berkencan dan menjadi lebih dari sekedar teman.
"Sebenarnya, tidak, aku tidak pernah
melakukannya. Aku… kau… kau terlihat seperti yeoja yang layak untuk dibukakan
pintunya. Itu yang ada dalam pikiranku saat itu. Tapi aku mengerti apa
maksudmu. Jika kita akan berteman aku harus membuat garis pembatas dan tetap
berada di belakangnya."
Hatiku meluluh lagi.
"Gomawo sudah membukakan pintunya untukku. Itu
manis sekali."
Yunho mengendikkan bahunya dan tidak berkata apa
apa lagi.
"Kita harus menjemput Junsu ditempat kerjaku.
Dia akan berada di kantor. Dia harus bekerja hari ini. Dia akan mandi dan
berpakaian disana."
Yunho berbelok menuju ke country club. "Bagaimana
kau dan Junsu bisa berteman?"
"Kami bekerja bersama suatu hari. Kupikir kami
berdua sedang butuh teman. Dia ceria dan berjiwa bebas. Segala sesuatu yang
tidak aku miliki."
Yunho tertawa. "Kau mengatakannya seolah itu
adalah hal yang buruk.Kau tidak mau menjadi seperti Junsu. Percayalah
padaku."
Dia benar. Aku tidak ingin menjadi seperti Junsu
tapi dia begitu menyenangkan untuk diajak bergaul.
Aku duduk diam sementara Yunho menyibukkan diri
dengan sounds system yang terlihat mahal dan rumit. Kami melalui perjalanan
singkat dari rumahnya ke tempat kerjaku. "Forever of Love" sebuah
lagu milik DBSK mulai mengalun dan itu membuatku tersenyum. Aku hampir menduga
akan mendengar lagu-lagu Larc en ciel.
Ketika Audi berhenti di samping kantor aku membuka
pintu dan melangkah keluar. Junsu tidak akan mencari mobil ini. Dia mencari
trukku.
Pintu kantor terbuka dan Junsu berjalan keluar
mengenakan celana pendek kulit berwarna merah, tank top cut off warna putih,
dan boots kulit selutut berwarna putih.
"Apa yang kau lakukan dengan salah satu mobil Yunho?"
Tanyanya, tersenyum lebar.
"Dia akan pergi bersama kita. Yunho ingin
pergi ke Mirotic juga. Jadi…"Aku berhenti dan melihat ke Audi.
"Hal ini benar benar akan menghambat dirimu
untuk mendapatkan seorang namja. Aku cuma mengingatkan," pungkas Junsu
saat dia menuruni tangga dan melihat cepat pada penampilanku. "Atau tidak.
Kau terlihat seksi. Maksudku, aku tahu kau mengagumkan tapi kau terlihat sangat
seksi dengan pakaian ini. Aku ingin punya boots asli seorang cowgirl. Dimana
kau membeli nya?"
Pujian nya manis. Aku sudah begitu lama tidak punya
teman wanita. Ketika Jaekyung meninggal teman teman perempuan berangsur-angsur
hilang dari hidupku. Seolah mereka tidak bisa berada didekatku tanpa
mengenangnya. Hyunjoong menjadi satu-satunya temanku.
"Terimakasih, dan boots ini, aku mendapatkannya saat Natal dua tahun lalu
dari eomma. Boots ini miliknya, dia mendapatkannya ketika berlibur ke Dallas
bersama appa. Aku menyukainya sejak dia membelinya dan setelah dia jatuh,
setelah…dia jatuh sakit...dia memberikannya padaku."
Junsu mengerutkan dahi, "Eommamu sakit?"
Aku sedang tidak ingin menyulut kesedihan malam
ini. Aku mengangguk dan memaksakan tersenyum cerah. "Yeah. Tapi itu kisah
yang lain. Mari kita temukan para namja yang menawan."
Junsu balas tersenyum dan membuka pintu
belakang Audi disisiku. "Aku akan
membiarkanmu berada di depan karena aku punya firasat kalau pengemudinya
menginginkan seperti itu."
Aku tidak punya waktu untuk menimpalinya sebelum Junsu
melompat naik ke Audi dan kemudian langsung menutup pintu. Aku naik ke dalam
mobil dan tersenyum pada Yunho yang sedang menatapku. "Waktunya pergi
untuk bersenang-senang." kataku padanya.
.
.
.
.
.
TBC

ya ampun Yun,, dirimu misterius bgt sihhhh
ReplyDeleteperhatian, posesif,,,tapi gimana sih perasaanmu ??
ditambah si JJ pindah kamar ya bakal makin susah hindarin pesonamu yg begitu wowww
tapi klo aq jadi JJ, nikmatin aja lah klo bisa minta duit jajan sekalian LOL
Segitu marahnya yunho ya .. denger jj makan d kamar.. hahaha.. dia merasa bersalah
ReplyDeletejiah yun ini kmn aja seh
ReplyDeleteapa dia lupa yg nyuruh jae nempatin kamar itu kan dia
saki knp lanjutannya yg 13 gk bs dibuka