The Untitled Story
Kitahara Saki present
Remake from Abby Glines Story
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim
Jaejoong
Chapter 11
Aku bersandar di
kepala ranjang dan mengerang frustrasi. Mengapa aku membiarkan dia di sini? Permainan
konflik emosi yang ia mainkan ini bukan levelku. Aku bertanya-tanya ke mana ia
akan pergi sekarang. Ada banyak yeoja di luar sana yang akan dia cium. Satu yeoja
yang tidak masalah ia cium jika mereka memohon.
Hentakan
orang-orang yang naik tangga berderak di atas kepalaku. Aku tidak bisa tidur
untuk sementara waktu. Aku tidak ingin tinggal di sini dan Hyunjoong
menungguku. Tidak ada alasan untuk membatalkan pertemuan dengannya. Aku sedang
tidak mood untuk berbicara dengannya tapi aku setidaknya bisa mengatakan
padanya bahwa aku tidak bisa mengobrol di pantai.
Aku berjalan ke
dapur. Punggung Changmin menghadapku dan dia menekan seorang yeoja di meja
dapur. Tangannya terbelit di rambut ikal liar coklat Changmin. Mereka tampak
sangat sibuk. Aku diam-diam keluar pintu belakang berharap aku tidak berjalan
melewati setiap sesi bercumbu lainnya.
"Aku tidak
berpikir kau akan muncul," suara Hyunjoong muncul dari kegelapan.
Aku berbalik
untuk melihat dia bersandar di pagar mengawasiku. Aku merasa bersalah karena
tidak datang ke sini dulu dan membiarkan dia tahu aku tidak akan bertemu
dengannya. Aku tidak bisa mengatur untuk membuat keputusan yang bijaksana di
mana Yunho terlibat.
"Mian. Aku
teralihkan." Aku tidak ingin menjelaskan.
"Aku melihat
Yunho keluar dari pojokan kecil yang ia punya untukmu di belakang sana,"
jawabnya.
Aku menggigit
bibir dan mengangguk. Aku ketahuan. Mungkin juga mengakui kesalahan.
"Dia tidak
tinggal lama. Apakah itu kunjungan ramah tamah atau dia mengusirmu?"
Itu...itu adalah kunjungan yang
menyenangkan. Kami melakukan pembicaraan. Sampai aku memintanya untuk menciumku
itu sudah menyenangkan. Aku menikmati saat bersamanya. "Hanya mengobrol," aku
menjelaskan.
Hyunjoong tertawa
keras dan menggeleng. "Mengapa aku tidak percaya itu?"
Karena dia
pintar. Aku mengangkat bahu.
"Kita masih
jadi jalan-jalan ke pantai?"
Aku menggeleng.
"Tidak. Aku lelah. Aku datang ke sini untuk menghirup udara segar dan
berharap menemukanmu untuk menjelaskan. "
Hyunjoong
memberiku senyum kecewa dan menjauh dari pagar. "Oke, arra. Aku tidak akan
mengemis."
"Aku tidak
akan mengharapkanmu begitu, " jawabku.
Ia berjalan
kembali menuju pintu dan aku menunggu sampai dia kembali ke dalam sebelum
bernapas lega. Itu tidak begitu buruk. Mungkin sekarang dia akan agak mundur.
Sampai aku tahu apa yang harus dilakukan dengan ketertarikan yang aku miliki
ini untuk Yunho, aku tidak butuh orang lain yang membuatku lebih bingung.
Aku memperhatikannya
beberapa menit lalu berbalik dan mengikutinya ke dalam. Changmin tidak lagi di
bar dengan yeoja itu. Mereka pergi ke tempat yang lebih terpencil rupanya. Aku
mulai menuju ke pintu dapur ketika Yunho masuk ke dapur diikuti oleh yeoja
berambut coklat yang cekikikan. Dia menggantung di lengan Yunho dan bertindak
seperti dia tidak bisa terus berjalan. Entah itu dari alkohol atau hak sepatu
enam inci yang ia pakai.
"Tapi kau
bilang," dia meracau dan mencium lengan dimana ia menempel.
Ya, yeoja
brengsek itu mabuk.
Mata Yunho
bertemu mataku. Dia akan menciumnya malam ini. Dia bahkan tidak harus mengemis.
Dia juga akan terasa seperti bir. Apakah itu sebuah rangsangan untuknya?
"Aku akan
melepas celanaku di sini jika kau mau," katanya, bahkan tidak
memperhatikan bahwa mereka tidak sendirian.
"Ahra, aku
sudah bilang tidak. Aku tidak tertarik, " jawab Yunho tanpa berpaling
dariku. Yunho menolaknya. Dan dia ingin aku tahu.
"Itu akan
nakal," katanya keras kemudian tiba-tiba meledak tawa yang lain.
"Tidak, itu
menyebalkan. Kau mabuk dan cekikikanmu membuatku sakit kepala, " jawabnya.
Matanya masih belum meninggalkanku.
Aku menjatuhkan
mataku dan mulai ke pintu dapur ketika Ahra akhirnya melihatku. "Hei, yeoja
itu akan mencuri makananmu," bisiknya keras.
Wajahku memerah.
Sial. Mengapa hal itu mempermalukanku? Aku jadi konyol. Dia mabuk berat. Siapa
yang peduli apa yang dipikirkannya?
"Dia tinggal
di sini, dia bisa memiliki apa pun yang dia inginkan," jawab Yunho.
Kepalaku
tersentak dan matanya tidak meninggalkanku.
"Dia tinggal
di sini?" Tanya yeoja itu.
Yunho tidak
mengatakan apa-apa lagi. Aku mengerutkan kening padanya dan memutuskan satu
saksi kami tidak akan mengingat ini di pagi hari.
"Jangan
biarkan dia berbohong padamu. Aku tamu tak diharapkan yang tinggal di bawah tangganya. Aku
menginginkan beberapa hal dan dia terus mengatakan tidak padaku."
Aku tidak
menunggu jawabannya. Aku membuka pintu dan melangkah masuk. 1-0 untukku.
.
.
.
.
.
Aku menghabiskan sandwich selai kacang
terakhirku dan membersihkan remah–remahnya dari pangkuanku. Sepertinya aku
harus segera pergi ke toko makanan dan membeli makanan baru. Sandwich selai kacang ini sudah hampir
kadaluarsa.
Aku libur hari ini dan bingung mau
mengerjakan apa. Aku berbaring di tempat tidur memikirkan Yunho dan betapa
bodohnya aku malam itu. Apa yang dilakukannya untuk meyakinkanku kalau ia hanya
ingin berteman denganku? Dia mengucapkan itu padaku lebih dari sekali. Aku
harus berhenti berupaya agar ia melihatku lebih dari sekedar teman. Aku
melakukan itu tadi malam. Seharusnya itu tidak kulakukan. Ia tidak ingin
menciumku. Aku bahkan tidak percaya aku memohon padanya untuk menciumku.
Aku membuka pintu pantry dan melangkah ke
dalam dapur. Bau nasi goreng menyeruak di hidungku dan jika saja bukan Yunho
yang sedang berdiri di depan kompor hanya dengan celana piyamanya saja, aku
pasti sudah menikmati aroma kelezatan ini. Pemandangan indah dari punggung
telanjang Yunho sudah mengusir aroma bacon.
Dia menoleh dari bahunya dan tersenyum
"Selamat pagi. Hari ini pasti hari liburmu."
Aku mengangguk dan berdiri disana
memikirkan apa yang seorang teman seharusnya katakan. Aku tidak mau mematahkan
aturannya lagi. Aku akan mengikuti aturannya. Lagi pula aku akan segera pergi
dari sini.
"Baunya harum," balasku.
"Keluarkan dua piring. Aku membuat
nasi goreng yang paling enak."
Sekarang aku berharap aku tidak memakan
sandwich selai kacang tadi. "Aku sudah makan, tapi terimakasih
sebelumnya."
Yunho menurunkan garpunya dan berpaling
menghadapku. "Bagaimana bisa kau sudah makan? Kau baru saja bangun."
"Aku menyimpan selai kacang dan roti
di kamarku. Aku baru saja makan itu sebelum aku kesini."
Dahi Yunho berkerut mencerna kata-kataku.
"Kenapa kau menyimpan selai kacang dan roti di kamarmu?"
Karena aku tidak ingin teman-temannya yang
banyak itu menghabiskan makananku. Tapi, tentu saja, tidak mungkin aku
mengatakan itu. "Ini bukan dapurku. Aku menyimpan semua barang -barangku
di kamarku."
Tubuh Yunho menegang dan aku berpikir apa
yang salah dengan kata-kataku yang membuatnya marah. "Apa kau memberitahuku bahwa kau hanya
makan roti dan selai kacang saat kau berada disini? Begitu? Kau membelinya dan
menyimpannya di kamarmu dan hanya itu yang kau makan?"
Aku mengangguk, tidak yakin kenapa hal ini
dipermasalahkan.
Yunho memukul tangannya ke atas meja dapur
dan membalikkan wajahnya ke arah nasi gorengnya sambil memaki pelan.
"Kemasi semua barang-barangmu dan
pindah keatas. Ambil kamar mana saja di sayap sebelah kiri. Buang selai kacang
sialan itu dan makan apapun yang kau ingin makan di dapur ini."
Aku tidak bergerak. Aku tidak yakin dari
mana datangnya reaksi ini.
"Jae, jika kau ingin tinggal di sini,
cepat pindahkan pantatmu ke atas sekarang. Lalu turun ke bawah sini dan makan
sesuatu dari lemari es ku sambil aku lihat."
Dia marah. Padaku?
"Kenapa kau ingin aku pindah ke
atas?" tanyaku penasaran.
Yunho memindahkan nasi goreng ke piring
keduanya dan mematikan kompor gas sebelum menoleh ke arahku.
"Karena aku ingin kau pindah. Aku
benci tidur di atas tempat tidurku di malam hari dan memikirkan mu yang tidur
di bawah tangga. Sekarang aku punya bayangan kalau kau memakan sandwich selai
kacang sialan itu sendirian di sana dan aku tidak tahan lagi."
Okay. Jadi, dia memang peduli padaku, dalam
kapasitas tertentu.
Aku tidak membantahnya. Aku kembali ke
kamarku di bawah tangga dan menarik kopor ku dari bawah tempat tidurku. Selai kacangku
ada di dalamnya. Aku membuka tasku dan mengeluarkan botol selai yang hampir
kosong dan tas roti berisi empat helai roti yang tersisa. Aku akan meninggalkan
ini di dapur dan kemudian mencari kamar. Tiba-tiba saja jantungku berdegup
kencang. Kamar ini telah menjadi tempat aman bagiku. Pindah ke atas membuatku
keluar dari tempat persembunyianku. Aku tidak akan sendiri lagi di atas sana.
Sembari melangkah keluar dari pantry aku
meletakkan selai kacang dan roti di atas meja dapur. Aku menuju ke lantai dua
tanpa melakukan kontak mata dengan Yunho. Dia sedang berdiri di bar sambil
memegang ujung meja dengan kencang seakan-akan dia sedang berusaha untuk tidak
memukul apapun. Apa dia berpikir untuk melemparku kembali ke dalam pantry? Aku
tidak keberatan tinggal di dalam sana.
"Aku tidak harus pindah ke atas. Aku
menyukai kamar itu," aku menjelaskan dan melihatnya semakin mengencangkan
pegangannya di meja bar.
"Kau berhak tinggal di salah satu
kamar di atas. Kau tidak berhak tinggal di bawah tangga. Tidak pernah."
Dia ingin aku
pindah ke atas. Aku hanya tidak mengerti perubahan hatinya yang tiba-tiba.
"Setidaknya
bisakah kau memberitahuku kamar mana yang harus kuambil? Aku merasa tidak
berhak untuk memilih salah satunya. Ini bukan rumahku."
Yunho akhirnya
melepaskan pegangan mautnya di meja dan berpaling menatapku. "Kamar-kamar
di sebelah kiri semuanya kamar tamu. Ada 3. Aku rasa kau akan menyukai
pemandangan dari kamar yang terakhir. Kamar itu langsung menghadap ke arah
laut. Kamar yang di tengah bernuansa putih dengan aksen pink pucat. Kamar itu
mengingatkan aku akan dirimu. Jadi, terserah padamu. Yang mana yang akan kau
pilih. Pilih dan turun kembali ke sini dan makan."
Dia kembali ingin
aku makan.
"Tapi aku
tidak lapar. Aku baru saja makan…"
"Jika kau
berkata kau makan selai kacang sialan itu lagi aku akan melemparkannya ke
tembok." Dia berhenti dan mengambil napas panjang. "Jebal, Jae.
Makanlah sesuatu untuk ku."
Seperti setiap
perempuan di planet ini yang tidak dapat menolak permintaan Yunho. Aku
mengangguk dan menuju ke atas. Aku akan memilih kamarku.
Kamar pertama
tidak terlalu menyenangkan. Kamar itu berwarna gelap dengan pemandangan
langsung ke halaman depan. Belum lagi itu adalah kamar terdekat dari tangga dan
pasti suara bising dari pesta masih akan terdengar. Aku melangkah ke kamar
berikutnya dan terlihat ranjang king size ditutup sprei renda putih dan
bantal-bantal cantik berwarna pink. Lampu gantung berwarna pink tergantung
indah dari plafon. Benar-benar cantik. Tidak seperti yang aku harapkan akan kutemui
di rumah Yunho. Tapi, ibunya tinggal sini untuk waktu yang lama.
Aku buka pintu
terakhir di sayap sebelah kiri. Ada sebuah jendela yang sangat besar memanjang
dari lantai sampai ke plafon, dan memperlihatkan pemandangan yang sangat indah
dari lautan. Benar-benar menakjubkan. Warna biru pucat dan hijau yang
mendominasi kamar dipercantik dengan ranjang king size yang terbuat dari kayu
apung. Setidaknya headboard dan footboardnya terlihat seperti itu. Aku
menyukainya. Tidak. Lupakan itu. Aku jatuh cinta pada kamar ini. Aku meletakkan
tasku dan berjalan ke arah pintu yang sepertinya kamar mandi pribadi. Kamar
mandinya sangat besar dengan handuk putih dan sabun-sabun mandi yang mahal yang
menghiasi meja marmer putih. Ada sedikit warna biru dan hijau tetapi warna utamanya adalah putih.
Bak mandinya
berbentuk bulat dengan spray jet di dalamnya. Walaupun aku tidak pernah melihat
sebelumnya tapi aku tahu kalau ini adalah Jacuzzi. Mungkin aku salah masuk
kamar. Tidak mungkin ini adalah kamar tamu. Aku pasti menginginkan kamar ini
apabila aku tinggal di rumah ini.
Akan tetapi, ini
adalah kamar terakhir di sebelah kiri hall. Ini pasti kamar yang dimaksud oleh
Yunho. Aku melangkah keluar dari kamar mandi. Aku akan menemui Yunho dan
mengatakan kalau aku memilih kamar ini dan apabila bukan ini maksudnya, ia
pasti akan memberitahuku. Aku meletakkan tasku di dinding di belakang pintu dan
kembali turun ke bawah.
Yunho sedang
duduk dimeja pantry dengan dua piring nasi goreng dan telur orak arik saat aku
masuk ke dalam dapur. Matanya langsung menatapku.
"Apa kau
sudah memilih kamar?" dia bertanya.
Aku mengangguk
dan berjalan memutar untuk berdiri di ujung sebelah meja. "Iya. Aku pikir begitu. Kamar yang kau
bilang mempunyai pemandangan indah itu…berwarna hijau dan biru?"
Yunho tersenyum.
"Iya. Benar sekali."
"Dan kau
setuju kalau aku tinggal di kamar itu? Kamar itu indah sekali. Aku pasti
menginginkan kamar itu kalau ini adalah rumahku."
Senyum Yunho
melebar. "Kau belum melihat kamarku."
Kamarnya pasti lebih bagus lagi. "Apakah kamarmu
ada di lantai yang sama?"
Yunho mengambil
sepotong bacon. "Tidak, kamarku ada di lantai paling atas."
"Maksudmu
kamar dengan semua jendela-jendela itu? Satu satu nya kamar paling besar?"
Lantai paling atas seperti terbuat dari kaca kalau dilihat dari luar. Aku
selalu berpikir kalau itu hanya sebuah ilusi atau itu adalah beberapa kamar.
Yunho menganguk,
"Ya."
Aku ingin sekali
melihat kamarnya. Tapi dia tidak menawarkan sehingga aku tidak berani bertanya.
"Apa kau
sudah menata barangmu?" dia bertanya, lalu menyendok nasi dipiringnya.
"Belum, aku
ingin bertanya dulu padamu sebelum aku menata nya. Mungkin lebih baik aku tetap
menyimpannya di dalam tasku. Akhir minggu depan aku harus siap-siap untuk
pindah. Tips yang kudapat dari klub cukup besar dan aku sudah
menyimpannya."
Yunho berhenti
mengunyah dan matanya menatap tajam ke arah luar. Aku mengikuti pandangannya,
tapi tidak menemukan apa-apa kecuali pantai yang kosong.
"Kau boleh
tinggal selama yang kau mau, Jae."
Sejak kapan? Dia
pernah berkata aku hanya mempunyai waktu sebulan. Aku tidak menjawab.
"Duduk di
sampingku dan makan nasi goreng yang ada dipiiringmu." Yunho menarik kursi di sampingnya dan
menyuruhku duduk tanpa membantah. Nasi gorengnya tercium sangat lezat dan
perutku siap untuk diisi makanan selain selai kacang.
Yunho meletakkan
piring nya di depanku. "Makan."
Aku menyendok
nasi goreng yang ada dipiring yang Yunho maksud. Seperti baunya, nasi goreng
buatan Yunho sangat enak. “Habiskan makananmu.”
Aku melawan rasa
geliku melihat caranya memerintahku untuk makan. Apa yang terjadi dengannya?
"Apa
rencanamu hari ini?" Yunho bertanya setelah aku menelan makananku.
Aku mengangkat
bahu. "Aku belum tahu. Aku pikir aku akan mencari apartemen."
Otot leher Yunho
mengencang dan tubuhnya kembali tegang. "Berhenti bicara tentang pindah
dari sini, Jae? Aku tidak ingin kau pergi dari sini sebelum orang tua kita
datang. Kau perlu bicara dengan appamu sebelum kau pergi dan memulai hidupmu
sendiri. Itu tidak aman. Kau masih terlalu muda."
Saat ini aku benar-benar
tertawa. Dia bersikap tidak masuk akal. "Aku tidak terlalu muda. Ada apa
denganmu dan usiaku? Usiaku 19 tahun. Aku sudah dewasa. Aku bisa hidup aman
sendirian. Lagi pula, aku bisa membidik objek yang bergerak lebih baik dari
polisi kebanyakan. Aku sangat hebat dengan pistol. Jadi, hentikan pembicaraan
tentang tidak aman dan umurku yang terlalu muda."
Yunho menautkan
alisnya. "Jadi kau benar-benar mempunyai pistol?"
Aku mengangguk.
"Aku pikir
Changmin hanya bercanda. Kadang-kadang humornya suka melewati batas."
"Tidak. Aku
menodongkan pistolku ke arahnya saat dia mengagetkan aku di malam pertama aku
tiba di sini."
Yunho tertawa
kecil dan bersandar di kursi nya sambil menyilangkan lengan di dada bidangnya.
Aku memaksakan diri untuk tetap melihat ke arahnya dan tidak melihat ke bawah.
"Aku akan
suka sekali menyaksikan itu."
Aku tidak
mengatakan apa-apa. Itu adalah malam yang buruk buatku. Mengingat itu kembali
bukanlah sesuatu yang kurencanakan untuk hari ini.
"Aku tidak
ingin kau tinggal di sini hanya karena kau masih muda. Aku percaya kalau kau
dapat menjaga dirimu sendiri, atau paling tidak itu seperti yang kau pikirkan.
Aku ingin kau di sini karena.. aku suka kau di sini. Jangan pergi. Tunggulah
sampai appamu datang. Sepertinya kalian berdua sudah lama tidak bertemu.
Setelah itu kau bisa memutuskan apa pun yang akan kau lakukan. Untuk saat ini,
bagaimana kalau kau naik ke atas dan menyusun barang-barangmu? Pikirkan berapa
banyak uang yang dapat kau simpan selama kau di sini. Apabila kau keluar dari sini,
kau akan memiliki tabungan yang cukup banyak."
Dia menginginkan
aku untuk tinggal. Senyum konyol tersungging di bibirku tidak bisa ku tahan.
Aku akan tinggal dan dia benar soal aku bisa menghemat uangku. Saat appa datang
aku akan bicara dengannya dan setelah itu aku akan pergi dari sini. Tidak ada
alasan untuk pergi kalau Yunho ingin aku tinggal disini.
"Okay. Jika
kau bersungguh-sungguh soal itu, Gomawo."
Yunho mengangguk
dan memajukan tubuhnya ke depan dengan sikunya bertumpu di meja. Pandangan
matanya tepat mengarah kepadaku. "Aku bersungguh-sungguh. Tapi hal itu
juga berarti pertemanan di antara kita harus tetap berlanjut."
Dia benar,tentu
saja. Kami tinggal bersama dan berhubungan yang lebih dari teman tentu akan
menyulitkan. Lagi pula, begitu musim panas ini selesai dia akan pindah ke
rumahnya yang lain. Aku tidak ingin patah hati karena itu.
"Setuju,"
Aku menjawabnya. Bahunya tetap tegang dan tubuhnya tidak juga mengendur.
"Selain itu,
kau juga harus mulai makan makanan di rumah ini saat kau berada di sini."
Aku menggelengkan
kepalaku. Tidak akan. Aku bukan penjilat.
"Jae, ini
bukan sesuatu yang bisa dibantah. Aku serius soal ini. Makan makananku di
sini."
Aku mendorong
kursiku ke belakang dan berdiri. "Tidak. Aku akan membeli makananku
sendiri dan memakannya. Aku bukan…Aku tidak seperti appaku."
Yunho menggerutu
dan dia mendorong kursi nya ke belakang dan berdiri. "Apa kau pikir aku
tidak tahu itu? Kau tidur di kamar sempit di bawah tangga tanpa mengeluh. Kau
merapikan rumahku. Bahkan kau makan dengan tidak layak. Aku benar-benar sadar
kalau kau tidak sama dengan appamu. Kau adalah tamu di rumahku dan aku ingin
kau makan makanan dari dapurku dan bersikap apa adanya."
Ini akan menjadi
persoalan besar. "Aku akan meletakkan makananku di dapur ini dan memakannya
di sini. Apa kau setuju?"
"Jika yang
kau beli adalah roti dan selai kacang, Shirro! Aku ingin kau makan dengan
layak."
Aku mulai
menggelengkan kepalaku saat Yunho meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Jae, aku akan sangat senang kalau kau makan. Bibi Hwang berbelanja
seminggu sekali dan menyediakan stok makanan di sini beranggapan kalau aku akan
menerima banyak tamu. Makanan di sini lebih dari cukup. Tolong. Makan.
Makananku."
Aku menggigit
bibir bawahku, menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi wajahnya yang
penuh harap itu.
"Apa kau
menertawakanku?" Ia bertanya dengan senyuman kecil di bibirnya.
"Yeah.
Sedikit," Aku mengakui.
"Apa itu
berarti kau akan makan makananku?"
Aku menghela
napas, "hanya jika kau mengijinkanku membayarmu per minggu."
Yunho mulai
menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dan aku menarik tanganku dari
genggamannya dan berjalan menjauh.
"Kau mau ke
mana?" Yunho bertanya dari belakangku.
"Aku sudah
selesai berbicara denganmu. Aku akan memakan makananmu jika aku membayarmu
sesuai dengan harga makanan itu. Itu kesepakatan yang akan aku setujui. Jadi,
terserah kau, setuju atau tidak."
Yunho menggeram,
"Okay, baiklah. Kau boleh bayar."
Aku menoleh ke
arahnya. "Aku akan merapikan barang-barangku. Lalu aku akan mandi di bath
tub yang sangat besar itu, lalu.. aku tidak tahu lagi. Aku tidak punya rencana
apa-apa sampai nanti malam."
Yunho terdiam.
Lalu dia bertanya, "dengan siapa?"
"Junsu,"
jawabku singkat.
"Junsu?
Cartgirl yang berkencan dengan Yoochun?"
"Salah.
Cartgirl yang dulu pernah berkencan dengan Yoochun. Dia telah berubah lebih
dewasa dan dia bisa melewatinya. Malam ini kami akan pergi Mirotic. Dan kami
akan memillih namja keren."
Aku tidak
menunggu jawabannya. Aku bergegas naik ke atas sambil berlari menaiki anak-anak
tangga. Setelah sampai di kamar, aku menutup pintu, kututup mataku dan
menghirup napas lega.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

omajae,,,pertahanan bang Yun mantep ya
ReplyDeletemangsa dah didepan mata, ditolak juga lol
nambah lgi nih ttg appanya Yun,,,
nunggu lanjutannya aja deh,,, bener2 dibuat mikir nih
Tumben yunho kuat....kkkkk....#ditimpuk yunho
ReplyDeleteapa seh mw nya yun
ReplyDeletebikin jae bingung aja dgn tarik ulurnya