Monday, March 31

[Remake] The Untittled Story Chapter XI

Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?

The Untitled Story

Kitahara Saki present

Remake from Abby Glines Story

Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
Chapter 11
Aku bersandar di kepala ranjang dan mengerang frustrasi. Mengapa aku membiarkan dia di sini? Permainan konflik emosi yang ia mainkan ini bukan levelku. Aku bertanya-tanya ke mana ia akan pergi sekarang. Ada banyak yeoja di luar sana yang akan dia cium. Satu yeoja yang tidak masalah ia cium jika mereka memohon.
Hentakan orang-orang yang naik tangga berderak di atas kepalaku. Aku tidak bisa tidur untuk sementara waktu. Aku tidak ingin tinggal di sini dan Hyunjoong menungguku. Tidak ada alasan untuk membatalkan pertemuan dengannya. Aku sedang tidak mood untuk berbicara dengannya tapi aku setidaknya bisa mengatakan padanya bahwa aku tidak bisa mengobrol di pantai.
Aku berjalan ke dapur. Punggung Changmin menghadapku dan dia menekan seorang yeoja di meja dapur. Tangannya terbelit di rambut ikal liar coklat Changmin. Mereka tampak sangat sibuk. Aku diam-diam keluar pintu belakang berharap aku tidak berjalan melewati setiap sesi bercumbu lainnya.
"Aku tidak berpikir kau akan muncul," suara Hyunjoong muncul dari kegelapan.
Aku berbalik untuk melihat dia bersandar di pagar mengawasiku. Aku merasa bersalah karena tidak datang ke sini dulu dan membiarkan dia tahu aku tidak akan bertemu dengannya. Aku tidak bisa mengatur untuk membuat keputusan yang bijaksana di mana Yunho terlibat.
"Mian. Aku teralihkan." Aku tidak ingin menjelaskan.
"Aku melihat Yunho keluar dari pojokan kecil yang ia punya untukmu di belakang sana," jawabnya.
Aku menggigit bibir dan mengangguk. Aku ketahuan. Mungkin juga mengakui kesalahan.
"Dia tidak tinggal lama. Apakah itu kunjungan ramah tamah atau dia mengusirmu?"
Itu...itu adalah kunjungan yang menyenangkan. Kami melakukan pembicaraan. Sampai aku memintanya untuk menciumku itu sudah menyenangkan. Aku menikmati saat bersamanya. "Hanya mengobrol," aku menjelaskan.
Hyunjoong tertawa keras dan menggeleng. "Mengapa aku tidak percaya itu?"
Karena dia pintar. Aku mengangkat bahu.
"Kita masih jadi jalan-jalan ke pantai?"
Aku menggeleng. "Tidak. Aku lelah. Aku datang ke sini untuk menghirup udara segar dan berharap menemukanmu untuk menjelaskan. "
Hyunjoong memberiku senyum kecewa dan menjauh dari pagar. "Oke, arra. Aku tidak akan mengemis."
"Aku tidak akan mengharapkanmu begitu, " jawabku.
Ia berjalan kembali menuju pintu dan aku menunggu sampai dia kembali ke dalam sebelum bernapas lega. Itu tidak begitu buruk. Mungkin sekarang dia akan agak mundur. Sampai aku tahu apa yang harus dilakukan dengan ketertarikan yang aku miliki ini untuk Yunho, aku tidak butuh orang lain yang membuatku lebih bingung.
Aku memperhatikannya beberapa menit lalu berbalik dan mengikutinya ke dalam. Changmin tidak lagi di bar dengan yeoja itu. Mereka pergi ke tempat yang lebih terpencil rupanya. Aku mulai menuju ke pintu dapur ketika Yunho masuk ke dapur diikuti oleh yeoja berambut coklat yang cekikikan. Dia menggantung di lengan Yunho dan bertindak seperti dia tidak bisa terus berjalan. Entah itu dari alkohol atau hak sepatu enam inci yang ia pakai.
"Tapi kau bilang," dia meracau dan mencium lengan dimana ia menempel.
Ya, yeoja brengsek itu mabuk.
Mata Yunho bertemu mataku. Dia akan menciumnya malam ini. Dia bahkan tidak harus mengemis. Dia juga akan terasa seperti bir. Apakah itu sebuah rangsangan untuknya?
"Aku akan melepas celanaku di sini jika kau mau," katanya, bahkan tidak memperhatikan bahwa mereka tidak sendirian.
"Ahra, aku sudah bilang tidak. Aku tidak tertarik, " jawab Yunho tanpa berpaling dariku. Yunho menolaknya. Dan dia ingin aku tahu.
"Itu akan nakal," katanya keras kemudian tiba-tiba meledak tawa yang lain.
"Tidak, itu menyebalkan. Kau mabuk dan cekikikanmu membuatku sakit kepala, " jawabnya. Matanya masih belum meninggalkanku.
Aku menjatuhkan mataku dan mulai ke pintu dapur ketika Ahra akhirnya melihatku. "Hei, yeoja itu akan mencuri makananmu," bisiknya keras.
Wajahku memerah. Sial. Mengapa hal itu mempermalukanku? Aku jadi konyol. Dia mabuk berat. Siapa yang peduli apa yang dipikirkannya?
"Dia tinggal di sini, dia bisa memiliki apa pun yang dia inginkan," jawab Yunho.
Kepalaku tersentak dan matanya tidak meninggalkanku.
"Dia tinggal di sini?" Tanya yeoja itu.
Yunho tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku mengerutkan kening padanya dan memutuskan satu saksi kami tidak akan mengingat ini di pagi hari.
"Jangan biarkan dia berbohong padamu. Aku tamu tak diharapkan  yang tinggal di bawah tangganya. Aku menginginkan beberapa hal dan dia terus mengatakan tidak padaku."
Aku tidak menunggu jawabannya. Aku membuka pintu dan melangkah masuk. 1-0 untukku.
.
.
.
.
.
Aku menghabiskan sandwich selai kacang terakhirku dan membersihkan remah–remahnya dari pangkuanku. Sepertinya aku harus segera pergi ke toko makanan dan membeli makanan baru.  Sandwich selai kacang ini sudah hampir kadaluarsa.
Aku libur hari ini dan bingung mau mengerjakan apa. Aku berbaring di tempat tidur memikirkan Yunho dan betapa bodohnya aku malam itu. Apa yang dilakukannya untuk meyakinkanku kalau ia hanya ingin berteman denganku? Dia mengucapkan itu padaku lebih dari sekali. Aku harus berhenti berupaya agar ia melihatku lebih dari sekedar teman. Aku melakukan itu tadi malam. Seharusnya itu tidak kulakukan. Ia tidak ingin menciumku. Aku bahkan tidak percaya aku memohon padanya untuk menciumku.
Aku membuka pintu pantry dan melangkah ke dalam dapur. Bau nasi goreng menyeruak di hidungku dan jika saja bukan Yunho yang sedang berdiri di depan kompor hanya dengan celana piyamanya saja, aku pasti sudah menikmati aroma kelezatan ini. Pemandangan indah dari punggung telanjang Yunho sudah mengusir aroma bacon.
Dia menoleh dari bahunya dan tersenyum "Selamat pagi. Hari ini pasti hari liburmu."
Aku mengangguk dan berdiri disana memikirkan apa yang seorang teman seharusnya katakan. Aku tidak mau mematahkan aturannya lagi. Aku akan mengikuti aturannya. Lagi pula aku akan segera pergi dari sini.
"Baunya harum," balasku.
"Keluarkan dua piring. Aku membuat nasi goreng yang paling enak."
Sekarang aku berharap aku tidak memakan sandwich selai kacang tadi. "Aku sudah makan, tapi terimakasih sebelumnya."
Yunho menurunkan garpunya dan berpaling menghadapku. "Bagaimana bisa kau sudah makan? Kau baru saja bangun."
"Aku menyimpan selai kacang dan roti di kamarku. Aku baru saja makan itu sebelum aku kesini."
Dahi Yunho berkerut mencerna kata-kataku. "Kenapa kau menyimpan selai kacang dan roti di kamarmu?"
Karena aku tidak ingin teman-temannya yang banyak itu menghabiskan makananku. Tapi, tentu saja, tidak mungkin aku mengatakan itu. "Ini bukan dapurku. Aku menyimpan semua barang -barangku di kamarku."
Tubuh Yunho menegang dan aku berpikir apa yang salah dengan kata-kataku yang membuatnya marah.  "Apa kau memberitahuku bahwa kau hanya makan roti dan selai kacang saat kau berada disini? Begitu? Kau membelinya dan menyimpannya di kamarmu dan hanya itu yang kau makan?"
Aku mengangguk, tidak yakin kenapa hal ini dipermasalahkan.
Yunho memukul tangannya ke atas meja dapur dan membalikkan wajahnya ke arah nasi gorengnya sambil memaki pelan.
"Kemasi semua barang-barangmu dan pindah keatas. Ambil kamar mana saja di sayap sebelah kiri. Buang selai kacang sialan itu dan makan apapun yang kau ingin makan di dapur ini."
Aku tidak bergerak. Aku tidak yakin dari mana datangnya reaksi ini.
"Jae, jika kau ingin tinggal di sini, cepat pindahkan pantatmu ke atas sekarang. Lalu turun ke bawah sini dan makan sesuatu dari lemari es ku sambil aku lihat."
Dia marah. Padaku?
"Kenapa kau ingin aku pindah ke atas?" tanyaku penasaran.
Yunho memindahkan nasi goreng ke piring keduanya dan mematikan kompor gas sebelum menoleh ke arahku.
"Karena aku ingin kau pindah. Aku benci tidur di atas tempat tidurku di malam hari dan memikirkan mu yang tidur di bawah tangga. Sekarang aku punya bayangan kalau kau memakan sandwich selai kacang sialan itu sendirian di sana dan aku tidak tahan lagi."
Okay. Jadi, dia memang peduli padaku, dalam kapasitas tertentu.
Aku tidak membantahnya. Aku kembali ke kamarku di bawah tangga dan menarik kopor ku dari bawah tempat tidurku. Selai kacangku ada di dalamnya. Aku membuka tasku dan mengeluarkan botol selai yang hampir kosong dan tas roti berisi empat helai roti yang tersisa. Aku akan meninggalkan ini di dapur dan kemudian mencari kamar. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang. Kamar ini telah menjadi tempat aman bagiku. Pindah ke atas membuatku keluar dari tempat persembunyianku. Aku tidak akan sendiri lagi di atas sana.
Sembari melangkah keluar dari pantry aku meletakkan selai kacang dan roti di atas meja dapur. Aku menuju ke lantai dua tanpa melakukan kontak mata dengan Yunho. Dia sedang berdiri di bar sambil memegang ujung meja dengan kencang seakan-akan dia sedang berusaha untuk tidak memukul apapun. Apa dia berpikir untuk melemparku kembali ke dalam pantry? Aku tidak keberatan tinggal di dalam sana.
"Aku tidak harus pindah ke atas. Aku menyukai kamar itu," aku menjelaskan dan melihatnya semakin mengencangkan pegangannya di meja bar.
"Kau berhak tinggal di salah satu kamar di atas. Kau tidak berhak tinggal di bawah tangga. Tidak pernah."
Dia ingin aku pindah ke atas. Aku hanya tidak mengerti perubahan hatinya yang tiba-tiba.
"Setidaknya bisakah kau memberitahuku kamar mana yang harus kuambil? Aku merasa tidak berhak untuk memilih salah satunya. Ini bukan rumahku."
Yunho akhirnya melepaskan pegangan mautnya di meja dan berpaling menatapku. "Kamar-kamar di sebelah kiri semuanya kamar tamu. Ada 3. Aku rasa kau akan menyukai pemandangan dari kamar yang terakhir. Kamar itu langsung menghadap ke arah laut. Kamar yang di tengah bernuansa putih dengan aksen pink pucat. Kamar itu mengingatkan aku akan dirimu. Jadi, terserah padamu. Yang mana yang akan kau pilih. Pilih dan turun kembali ke sini dan makan."
Dia kembali ingin aku makan.
"Tapi aku tidak lapar. Aku baru saja makan…"
"Jika kau berkata kau makan selai kacang sialan itu lagi aku akan melemparkannya ke tembok." Dia berhenti dan mengambil napas panjang. "Jebal, Jae. Makanlah sesuatu untuk ku."
Seperti setiap perempuan di planet ini yang tidak dapat menolak permintaan Yunho. Aku mengangguk dan menuju ke atas. Aku akan memilih kamarku.
Kamar pertama tidak terlalu menyenangkan. Kamar itu berwarna gelap dengan pemandangan langsung ke halaman depan. Belum lagi itu adalah kamar terdekat dari tangga dan pasti suara bising dari pesta masih akan terdengar. Aku melangkah ke kamar berikutnya dan terlihat ranjang king size ditutup sprei renda putih dan bantal-bantal cantik berwarna pink. Lampu gantung berwarna pink tergantung indah dari plafon. Benar-benar cantik. Tidak seperti yang aku harapkan akan kutemui di rumah Yunho. Tapi, ibunya tinggal sini untuk waktu yang lama.
Aku buka pintu terakhir di sayap sebelah kiri. Ada sebuah jendela yang sangat besar memanjang dari lantai sampai ke plafon, dan memperlihatkan pemandangan yang sangat indah dari lautan. Benar-benar menakjubkan. Warna biru pucat dan hijau yang mendominasi kamar dipercantik dengan ranjang king size yang terbuat dari kayu apung. Setidaknya headboard dan footboardnya terlihat seperti itu. Aku menyukainya. Tidak. Lupakan itu. Aku jatuh cinta pada kamar ini. Aku meletakkan tasku dan berjalan ke arah pintu yang sepertinya kamar mandi pribadi. Kamar mandinya sangat besar dengan handuk putih dan sabun-sabun mandi yang mahal yang menghiasi meja marmer putih. Ada sedikit warna biru dan hijau tetapi warna  utamanya adalah putih.
Bak mandinya berbentuk bulat dengan spray jet di dalamnya. Walaupun aku tidak pernah melihat sebelumnya tapi aku tahu kalau ini adalah Jacuzzi. Mungkin aku salah masuk kamar. Tidak mungkin ini adalah kamar tamu. Aku pasti menginginkan kamar ini apabila aku tinggal di rumah ini.
Akan tetapi, ini adalah kamar terakhir di sebelah kiri hall. Ini pasti kamar yang dimaksud oleh Yunho. Aku melangkah keluar dari kamar mandi. Aku akan menemui Yunho dan mengatakan kalau aku memilih kamar ini dan apabila bukan ini maksudnya, ia pasti akan memberitahuku. Aku meletakkan tasku di dinding di belakang pintu dan kembali turun ke bawah.
Yunho sedang duduk dimeja pantry dengan dua piring nasi goreng dan telur orak arik saat aku masuk ke dalam dapur. Matanya langsung menatapku.
"Apa kau sudah memilih kamar?" dia bertanya.
Aku mengangguk dan berjalan memutar untuk berdiri di ujung sebelah meja.  "Iya. Aku pikir begitu. Kamar yang kau bilang mempunyai pemandangan indah itu…berwarna hijau dan biru?"
Yunho tersenyum. "Iya. Benar sekali."
"Dan kau setuju kalau aku tinggal di kamar itu? Kamar itu indah sekali. Aku pasti menginginkan kamar itu kalau ini adalah rumahku."
Senyum Yunho melebar. "Kau belum melihat kamarku."
Kamarnya  pasti lebih bagus lagi. "Apakah kamarmu ada di lantai yang sama?"
Yunho mengambil sepotong bacon. "Tidak, kamarku ada di lantai paling atas."
"Maksudmu kamar dengan semua jendela-jendela itu? Satu satu nya kamar paling besar?" Lantai paling atas seperti terbuat dari kaca kalau dilihat dari luar. Aku selalu berpikir kalau itu hanya sebuah ilusi atau itu adalah beberapa kamar.
Yunho menganguk, "Ya."
Aku ingin sekali melihat kamarnya. Tapi dia tidak menawarkan sehingga aku tidak berani bertanya.
"Apa kau sudah menata barangmu?" dia bertanya, lalu menyendok nasi dipiringnya.
"Belum, aku ingin bertanya dulu padamu sebelum aku menata nya. Mungkin lebih baik aku tetap menyimpannya di dalam tasku. Akhir minggu depan aku harus siap-siap untuk pindah. Tips yang kudapat dari klub cukup besar dan aku sudah menyimpannya."
Yunho berhenti mengunyah dan matanya menatap tajam ke arah luar. Aku mengikuti pandangannya, tapi tidak menemukan apa-apa kecuali pantai yang kosong.
"Kau boleh tinggal selama yang kau mau, Jae."
Sejak kapan? Dia pernah berkata aku hanya mempunyai waktu sebulan. Aku tidak menjawab.
"Duduk di sampingku dan makan nasi goreng yang ada dipiiringmu."  Yunho menarik kursi di sampingnya dan menyuruhku duduk tanpa membantah. Nasi gorengnya tercium sangat lezat dan perutku siap untuk diisi makanan selain selai kacang.
Yunho meletakkan piring nya di depanku. "Makan."
Aku menyendok nasi goreng yang ada dipiring yang Yunho maksud. Seperti baunya, nasi goreng buatan Yunho sangat enak. “Habiskan makananmu.”
Aku melawan rasa geliku melihat caranya memerintahku untuk makan. Apa yang terjadi dengannya?
"Apa rencanamu hari ini?" Yunho bertanya setelah aku menelan makananku.
Aku mengangkat bahu. "Aku belum tahu. Aku pikir aku akan mencari apartemen."
Otot leher Yunho mengencang dan tubuhnya kembali tegang. "Berhenti bicara tentang pindah dari sini, Jae? Aku tidak ingin kau pergi dari sini sebelum orang tua kita datang. Kau perlu bicara dengan appamu sebelum kau pergi dan memulai hidupmu sendiri. Itu tidak aman. Kau masih terlalu muda."
Saat ini aku benar-benar tertawa. Dia bersikap tidak masuk akal. "Aku tidak terlalu muda. Ada apa denganmu dan usiaku? Usiaku 19 tahun. Aku sudah dewasa. Aku bisa hidup aman sendirian. Lagi pula, aku bisa membidik objek yang bergerak lebih baik dari polisi kebanyakan. Aku sangat hebat dengan pistol. Jadi, hentikan pembicaraan tentang tidak aman dan umurku yang terlalu muda."
Yunho menautkan alisnya. "Jadi kau benar-benar mempunyai pistol?"
Aku mengangguk.
"Aku pikir Changmin hanya bercanda. Kadang-kadang humornya suka melewati batas."
"Tidak. Aku menodongkan pistolku ke arahnya saat dia mengagetkan aku di malam pertama aku tiba di sini."
Yunho tertawa kecil dan bersandar di kursi nya sambil menyilangkan lengan di dada bidangnya. Aku memaksakan diri untuk tetap melihat ke arahnya dan tidak melihat ke bawah.
"Aku akan suka sekali menyaksikan itu."
Aku tidak mengatakan apa-apa. Itu adalah malam yang buruk buatku. Mengingat itu kembali bukanlah sesuatu yang kurencanakan untuk hari ini.
"Aku tidak ingin kau tinggal di sini hanya karena kau masih muda. Aku percaya kalau kau dapat menjaga dirimu sendiri, atau paling tidak itu seperti yang kau pikirkan. Aku ingin kau di sini karena.. aku suka kau di sini. Jangan pergi. Tunggulah sampai appamu datang. Sepertinya kalian berdua sudah lama tidak bertemu. Setelah itu kau bisa memutuskan apa pun yang akan kau lakukan. Untuk saat ini, bagaimana kalau kau naik ke atas dan menyusun barang-barangmu? Pikirkan berapa banyak uang yang dapat kau simpan selama kau di sini. Apabila kau keluar dari sini, kau akan memiliki tabungan yang cukup banyak."
Dia menginginkan aku untuk tinggal. Senyum konyol tersungging di bibirku tidak bisa ku tahan. Aku akan tinggal dan dia benar soal aku bisa menghemat uangku. Saat appa datang aku akan bicara dengannya dan setelah itu aku akan pergi dari sini. Tidak ada alasan untuk pergi kalau Yunho ingin aku tinggal disini.
"Okay. Jika kau bersungguh-sungguh soal itu, Gomawo."
Yunho mengangguk dan memajukan tubuhnya ke depan dengan sikunya bertumpu di meja. Pandangan matanya tepat mengarah kepadaku. "Aku bersungguh-sungguh. Tapi hal itu juga berarti pertemanan di antara kita harus tetap berlanjut."
Dia benar,tentu saja. Kami tinggal bersama dan berhubungan yang lebih dari teman tentu akan menyulitkan. Lagi pula, begitu musim panas ini selesai dia akan pindah ke rumahnya yang lain. Aku tidak ingin patah hati karena itu.
"Setuju," Aku menjawabnya. Bahunya tetap tegang dan tubuhnya tidak juga mengendur.
"Selain itu, kau juga harus mulai makan makanan di rumah ini saat kau berada di sini."
Aku menggelengkan kepalaku. Tidak akan. Aku bukan penjilat.
"Jae, ini bukan sesuatu yang bisa dibantah. Aku serius soal ini. Makan makananku di sini."
Aku mendorong kursiku ke belakang dan berdiri. "Tidak. Aku akan membeli makananku sendiri dan memakannya. Aku bukan…Aku tidak seperti appaku."
Yunho menggerutu dan dia mendorong kursi nya ke belakang dan berdiri. "Apa kau pikir aku tidak tahu itu? Kau tidur di kamar sempit di bawah tangga tanpa mengeluh. Kau merapikan rumahku. Bahkan kau makan dengan tidak layak. Aku benar-benar sadar kalau kau tidak sama dengan appamu. Kau adalah tamu di rumahku dan aku ingin kau makan makanan dari dapurku dan bersikap apa adanya."
Ini akan menjadi persoalan besar. "Aku akan meletakkan makananku di dapur ini dan memakannya di sini. Apa kau setuju?"
"Jika yang kau beli adalah roti dan selai kacang, Shirro! Aku ingin kau makan dengan layak."
Aku mulai menggelengkan kepalaku saat Yunho meraih tanganku dan menggenggamnya. "Jae, aku akan sangat senang kalau kau makan. Bibi Hwang berbelanja seminggu sekali dan menyediakan stok makanan di sini beranggapan kalau aku akan menerima banyak tamu. Makanan di sini lebih dari cukup. Tolong. Makan. Makananku."
Aku menggigit bibir bawahku, menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi wajahnya yang penuh harap itu.
"Apa kau menertawakanku?" Ia bertanya dengan senyuman kecil di bibirnya.
"Yeah. Sedikit," Aku mengakui.
"Apa itu berarti kau akan makan makananku?"
Aku menghela napas, "hanya jika kau mengijinkanku membayarmu per minggu."
Yunho mulai menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dan aku menarik tanganku dari genggamannya dan berjalan menjauh.
"Kau mau ke mana?" Yunho bertanya dari belakangku.
"Aku sudah selesai berbicara denganmu. Aku akan memakan makananmu jika aku membayarmu sesuai dengan harga makanan itu. Itu kesepakatan yang akan aku setujui. Jadi, terserah kau, setuju atau tidak."
Yunho menggeram, "Okay, baiklah. Kau boleh bayar."
Aku menoleh ke arahnya. "Aku akan merapikan barang-barangku. Lalu aku akan mandi di bath tub yang sangat besar itu, lalu.. aku tidak tahu lagi. Aku tidak punya rencana apa-apa sampai nanti malam."
Yunho terdiam. Lalu dia bertanya, "dengan siapa?"
"Junsu," jawabku singkat.
"Junsu? Cartgirl yang berkencan dengan Yoochun?"
"Salah. Cartgirl yang dulu pernah berkencan dengan Yoochun. Dia telah berubah lebih dewasa dan dia bisa melewatinya. Malam ini kami akan pergi Mirotic. Dan kami akan memillih namja keren."
Aku tidak menunggu jawabannya. Aku bergegas naik ke atas sambil berlari menaiki anak-anak tangga. Setelah sampai di kamar, aku menutup pintu, kututup mataku dan menghirup napas lega.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

3 comments:

  1. omajae,,,pertahanan bang Yun mantep ya
    mangsa dah didepan mata, ditolak juga lol

    nambah lgi nih ttg appanya Yun,,,

    nunggu lanjutannya aja deh,,, bener2 dibuat mikir nih

    ReplyDelete
  2. Tumben yunho kuat....kkkkk....#ditimpuk yunho

    ReplyDelete
  3. apa seh mw nya yun
    bikin jae bingung aja dgn tarik ulurnya

    ReplyDelete