Saturday, March 29

[Remake] The Untittled Story Chapter VIII


Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya? 
The Untitled Story
Kitahara Saki

Remake from Abby Glines Story

Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita


Chapter 8
Rumah itu sekali lagi berantakan ketika aku bangun keesokan harinya. Kali ini aku meninggalkan kekacauan itu dan bergegas pergi bekerja. Aku tidak ingin terlambat. Aku membutuhkan pekerjaan ini sekarang lebih dari apa pun. Appaku belum menelepon untuk memeriksaku dan aku cukup yakin Yunho tidak berbicara dengan eommanya atau Appaku karena ia tidak mengatakan nya. Aku tidak ingin bertanya padanya karena aku tidak ingin kemarahannya pada Appaku yang akan diarahkan padaku.
Yunho akan memintaku pergi saat  aku kembali ke rumahnya hari ini. Dia tampaknya benar-benar tidak senang pada ku ketika ia bergegas keluar dari kamarku tadi malam. Dan aku membalas ciumannya dan mengisap bibirnya.
Oh Tuhan apa yang aku pikirkan?
Aku tidak bisa berpikir. Itulah masalahnya. Bau Yunho sangat menyenangkan dan terasa sangat enak. Aku tak mampu untuk mengendalikan diri. Sekarang,bisa saja  aku akan menemukan tasku di teras ketika aku pulang. Setidaknya, aku punya uang untuk tinggal di sebuah motel.
Mengenakan celana pendek dan kaus polo aku berjalan ke depan dari kantor menuju pintu depan. Aku perlu absen  dan mendapatkan kunci cart minuman.
Jessica sudah berada di dalam. Aku mulai berpikir jika dia tinggal di sini. Dia ada di sini ketika aku pulang dan ketika aku datang setiap hari. Sekalipun kepribadian angin puyuh kecil nya agak menakutkan. Kau hampir ingin memberi hormat ketika dia berteriak memberi perintah padamu. Dia mengerutkan kening pada seorang yeoja yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia mengacungkan jarinya dan hampir berteriak.
"Kau tidak bisa bergaul dengan para anggota. Itulah aturan pertama. Kau menandatangani surat perjanjian Kim Junsu, kamu tahu aturannya. Tuan Hyunjoong datang ke sini pagi ini memberi tahu aku bahwa appanya tidak senang dengan kejadian  ini. Aku hanya memiliki tiga cart girl. Jika aku tidak bisa mempercayai kau berhenti tidur dengan para anggota maka aku harus membiarkan kau pergi. Ini adalah peringatan terakhirmu. Apakah kamu mengerti?"
Yeoja itu mengangguk. "Ye, ahjumma. Mian," gumamnya. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda ke belakang dan kaus polo biru mudanya memamerkan dada yang sangat besar. Lalu ada kaki kecokelatan panjang dan pantat bulat. Dan dia adalah keponakan Jessica. Menarik.
Tatapan marah Jessica bergeser kepadaku dan dia mendesah lega. "Oh, bagus, Jae kau di sini. Mungkin kamu dapat melakukan sesuatu dengan keponakanku ini. Dia dalam masa percobaan karena dia tidak bisa berhenti bermain mata dengan para anggota saat dia bekerja. Kita bukan tempat pelacuran. Kita adalah Kim’s club. Aku akan memasangkan dia dengan kau untuk minggu depan dan kau bisa mengawasinya dengan cermat. Dia akan belajar darimu. Tuan Hyunjoong  memuji mu. Dia sangat senang dengan pekerjaan yang kau lakukan dan memintaku untuk mengijinkanmu bekerja di ruang makan setidaknya dua kali seminggu. Aku sekarang mencari cart girl yang lain, jadi aku tidak bisa untuk memecat Junsu." Dia mengatakan nama keponakannya dengan geraman dan melotot ke arahnya.
Yeoja itu menundukkan kepala karena malu. Aku merasa kasihan padanya. Aku takut mengganggu kemarahan Jessica. Aku tidak bisa membayangkan sedang diteriaki seperti itu.
"Ye, gwajangnim," jawabku saat dia mengulurkan kunci cart kepadaku. Aku mengambil  kunci-kunci itu dan menunggu Junsu mendekat kearahku.
"Pergilah dengan dia sekarang, agashi. Jangan berdiri di sini dan cemberut. Aku seharusnya menelepon appamu dan mengatakan padanya apa yang kamu lakukan tapi aku tidak melakukannya karena akan membuat oppaku sakit hati. Jadi pergi lah dan pelajarilah  beberapa pelajaran moral." Jessica menunjuk ke pintu dan aku tidak menunggu lebih lama lagi. Aku bergegas keluar pintu dan menuruni tangga. Aku akan pergi menyiapkan drink cart (mobil khusus lapangan golf untuk membawa aneka jenis minuman) dan menunggu Junsu di sana.
"Hei, chankamman," yeoja itu memanggil dari belakangku. Aku berhenti dan menengok padanya saat ia berlari untuk mengejar ketinggalan. "Mian ne, suasana nya begitu brutal disana. Aku berharap kau tidak pernah menyaksikan atau mendengarnya."
Dia...menyenangkan. "Gwenchana," jawabku.
"Ngomong-ngomong aku Junsu. Dan kau yang terkenal tidak baik Kim Jaejoong, aku sudah mendengar begitu banyak tentangmu." Senyuman saat dia berkata memberitahu aku bahwa dia tidak bermaksud demikian.
"Aku minta maaf kalau bibimu telah membandingkan diriku denganmu." Aku mengakhiri pandanganku ke arahnya dan bibir merah penuh nya melengkungkan senyuman.
"Oh, aku tidak berbicara tentang bibiku. Aku sedang berbicara tentang para namja. Terutama Hyunjoong yang sangat menyukai mu. Aku mendengar bahwa kau menyebabkan sedikit kegemparan tadi malam di pesta ulang tahun si jalang Boa. Aku berharap bisa melihat kejadian itu, tapi orang yang dipekerjakan untuk membantu tidak mendapatkan undangan ke acara itu."
Aku mengisi cart sementara Junsu berdiri di sana menonton aku. Dia memutar-mutar seikat rambut panjang cokelat di sekitar jarinya dan tersenyum padaku. "Jadi, kau satu-satunya yang dimaksud. Ceritakan padaku semua tentang hal itu."
Tidak banyak yang bisa diceritakan. Aku mengangkat bahu dan berjalan masuk ke sisi pengemudi setelah cart-ku terisi. "Aku pergi ke pesta karena aku tidur di bawah tangga di rumah Yunho sampai aku punya cukup uang untuk pindah yang mana akan segera terwujud. Ini adalah sebuah kesalahan. Dia tidak suka kehadiranku. Itu saja."
Junsu menjatuhkan diri di kursi di sampingku dan menyilangkan kakinya. "Itu sama sekali tidak seperti apa yang aku dengar. Yoochun mengatakan bahwa Yunho melihat Hyunjoong menyentuhmu dan hilang kendali."
"Yoochun salah paham. Percayalah. Yunho tidak peduli pada siapa yang menyentuh aku."
Junsu mendesah, "Menyebalkan menjadi orang-orang miskin, bukan? Para namja tampan tidak pernah serius pada kita. Kita hanya pasangan dalam berhubungan seks."
Apakah itu arti seks baginya? Apakah dia baru saja  terlibat dengan mereka dan menjadi yeoja yang mereka campakkan? Dia terlalu cantik untuk itu. para namja di gongju akan tunduk di kakinya. Mereka mungkin tidak memiliki uang jutaan di bank tetapi mereka adalah orang-orang baik dari keluarga baik-baik.
"Apakah tidak ada orang yang menarik yang tidak kaya raya di sekitar sini? Orang-orang yang datang ke sini tidak ada yang dapat dipilih. Tentunya kau dapat menemukan seorang namja yang tidak menyingkirkanmu keesokan harinya."
Junsu mengerutkan kening dan mengangkat bahu. "Molla. Aku selalu ingin menggaet jutawan, kau tahu? Menjalani kehidupan yang baik. Tapi aku mulai melihat bahwa tidak ada kesempatan untukku."
Aku menuju hole pertama. "Junsu, kau menawan. Kau layak mendapatkan lebih dari apa yang kamu dapatkan sekarang. Mulailah berburu seorang namja di tempat lain. Temukan satu yang tidak menginginkan kau hanya untuk seks. Temukan satu yang menginginkan kau. Hanya kau."
"Sialan, aku mungkin baru saja jatuh cinta pada mu juga sekarang," jawabnya menggoda dan tertawa. Dia menopangkan kakinya di dasbor saat aku bergerak menuju pegolf pertama pagi hari.
Aku tidak melihat seorang namja muda di mana pun. Mereka bukan lah tipikal orang yang suka bangun pagi. Untuk beberapa saat, aku tidak perlu khawatir tentang menjaga Junsu dari tindakan menjijikkan di semak-semak atau di mana pun itu dia melakukan saat bekerja.
.
.
.
.
Empat jam kemudian, ketika kami berhenti ke hole ketiga untuk ke tiga kalinya aku mengenali Hyunjoong dan teman teman nya. Junsu duduk tegak di kursinya dan ekspresi bersemangat di wajahnya menempatkan aku dalam siaga tinggi. Dia seperti anak  anjing kecil menunggu seseorang untuk melemparkannya tulang. Jika aku tidak menyukainya aku bahkan tidak akan repot-repot membantu dia mempertahankan pekerjaan ini. Menjadi pengasuh nya tidak ada dalam deskripsi pekerjaanku.
Hyunjoong mengerutkan kening ketika kami berhenti di samping mereka. "Kenapa kau bersama Junsu?" Tanyanya saat kami benar-benar berhenti.
"Karena dia membantu menjagaku dari teman sialanmu dan membuat mu hilang arah. Kenapa kau pergi dan memberitahu Jessica ahjumma?" Dia cemberut, menyilangkan lengannya di depan dada berisi miliknya. Aku tak ragu setiap orang yang berdiri di sekitar kita memusatkan perhatian pada dada besar miliknya.
"Aku tidak meminta dia untuk melakukan itu. Aku memintanya mempromosikan Jae bukan berpasangan dengan kau," bentaknya, dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Apa yang dia lakukan?
"Siapa yang kau telepon?" Tanya Junsu dengan nada panik dalam posisi duduk tegak.
"ahjummamu," hardiknya.
"Ani, chankamman," kata Junsu dan aku pada waktu yang sama.
"Jangan hubungi dia. Aku baik-baik. Aku suka Junsu. Dia partner yang baik." aku meyakinkannya.
Ia terdiam sesaat tapi tidak menutup telepon.
"Jung gwijangnim, ini Hyunjoong. Aku sudah berubah pikiran. Aku ingin Jae di dalam empat hari dalam seminggu. Kau dapat menggunakannya di lapangan pada hari Jumat dan Sabtu karena begitu sibuk dan dia adalah yang terbaik yang kau miliki, tetapi untuk sisa waktunya aku ingin dia di dalam." Dia tidak menunggu jawaban sebelum mengakhiri panggilan tersebut dan menjatuhkannya ponsel nya kembali ke saku celana pendek kotak-kotak kaku nya. Pada orang lain hal tersebut tampak konyol tapi orang seperti Hyunjoong bisa menghilangkan kesan konyol itu. Kemeja polo putih yang ia kenakan pas di badan nya. Aku tidak akan terkejut jika itu adalah merek baru.
"Ahjumma akan menjadi gila. Dia telah meminta Jae menjagaku selama beberapa minggu. Siapa yang akan menjagaku sekarang?" tanyanya melayangkan tatapan sensual ke arah Yoochun.
"Hei Kim, tolonglah, jika kau sedikit saja menyukai aku, alihkan pandanganmu dan biarkan aku membawanya kembali ke rumah klub hanya untuk beberapa menit. heum," Yoochun memohon sambil minum di hadapan Junsu yang duduk di sana dengan kakinya di dasbor sedikit terbuka sehingga selangkangannya  terlihat jelas. Celana pendek yang kami kenakan terlalu pendek dan ketat hingga meninggalkan banyak hal untuk diimajinasikan dalam posisi seperti itu.
"Aku tidak peduli apa yang kau lakukan.Tiduri dia jika kau mau Tapi kalau appa mendengar kabar itu lagi aku harus memecatnya. Dia malu mengenai keluhan itu."
Aku tahu Yoochun tidak akan membelanya jika dia dipecat. Dia akan membiarkannya pergi dan melanjutkan hidupnya. Tak ada cinta dalam tatapannya hanya nafsu.
"Junsu, jangan," aku memohon pelan di sampingnya. "Pada malam aku saat aku libur, kau dan aku akan pergi keluar dan kita akan menemukan beberapa tempat di mana para namja menghargai mu. Jangan sampai kamu kehilangan pekerjaan gara-gara dia," aku berbicara begitu pelan hanya Junsu yang bisa mendengarku. Yang lain tahu aku mengatakan sesuatu kepadanya tetapi mereka tidak tahu apa.
Junsu memalingkan tatapannya padaku dan menarik lututnya bersama-sama. "jeongmal? Kau akan pergi keluar denganku dan mencari namja? Serius?"
Aku mengangguk dan senyum merekah di wajahnya. "Deal. Kita akan pergi. "
"Oke" jawabku sambil mengedipkan mata.
Dia terkekeh dengan keras dan menurunkan kakinya. "Oke guys apa yang kalian ingin minum? Kami punya hole (lubang golf) lainnya untuk di kunjungi," katanya melangkah keluar dari cart dan berjalan ke belakang. Aku mengikutinya dan kami membagikan minuman dan menerima uang pembayarannya.
Yoochun mencoba untuk meraih pantatnya beberapa kali dan berbisik di telinganya. Dia akhirnya berbalik dan tersenyum padanya. "Aku sudah selesai menjadi teman bercintamu. Aku akan keluar dengan sahabatku  disini akhir pekan ini dan kami akan menemukan beberapa namja sejati. Tipe namja yang tidak memiliki dana perwalian, tetapi memiliki kapalan di tangan mereka akibat dari kerja keras. Kupikir mereka tahu bagaimana membuat seorang yeoja merasa benar-benar istimewa."
Aku harus menahan tawa yang meluap di dalam dadaku melihat ekspresi kaget Yoochun. Aku menyalakan mobil cart saat Junsu melompat kembali di sampingku.
"Sialan, rasanya menyenangkan. Ke mana saja kau selama ini?" Tanyanya menepukkan tangannya saat aku melaju memberi senyuman dan melambaikan tangan pada Hyunjoong saat kami menuju ke lubang berikutnya.
Kami sudah melewati hampir semua lapangan  kemudian berhenti untuk mengisi kembali. Tak ada masalah lagi. Aku tahu kita mungkin bisa melihat Hyunjoong dan teman-temannya lagi tapi aku percaya Junsu bisa  mempertahankan pendiriannya. Junsu telah mengobrol dengan riang gembira tentang segala sesuatu dari warna rambutnya hingga kehamilan terakhir yang mereka takuti dengan seorang pekerja dan anggota.
Aku tidak memperhatikan anggota pada hole pertama. Aku berkendara dan mencoba berkonsentrasi pada obrolan tak berujung Junsu. Makian Junsu menarik perhatianku.
Aku melirik ke arahnya dan kemudian mengikuti tatapannya ke pasangan pada hole pertama. Yunho bisa langsung dikenali. Celana pendek cokelat yang dikenakannya dan kaos polo biru pucat yang nyaman tampak begitu cocok dengan nya. Baju itu tidak cocok dengan tato yang aku tahu menutupi punggungnya. Dia adalah anak seorang rocker dan darah itu mengalir dalam dirinya bahkan dengan pakaian pegolf yang di tubuhnya. Dia memutar kepalanya dan matanya bertemu dengan ku. Dia tidak tersenyum. Dia melihat kearah lain seolah dia tidak melihatku. Tidak ada pengakuan. Tidak ada.
"Dasar jalang," bisik Junsu. Aku mengalihkan pandanganku dari dia kepada yeoja yang bersamanya. Boa, dongsaeng Yunho. Sesuatu yang tidak suka dia bicarakan. Dia mengenakan rok putih kecil yang tampak seperti ia bersiap-siap untuk pergi bermain tenis. Dia mengenakan polo biru yang sesuai dan topi putih yang bertengger di atas rambutnya.
"Kau bukan penggemar Boa?" Aku sudah tahu jawaban jawabannya dari komentarnya.
Junsu tertawa pendek. "Eh, Ani. Dan kau juga tidak. Kau musuh nomor satu untuknya. "
Apa maksudnya? Aku tidak bisa menanyai dia karena kami telah berhenti hanya enam meter dari tee (paku untuk bola golf) dan duo kakak beradik itu.
Aku tidak mencoba untuk melakukan kontak mata dengan Yunho lagi. Dia tampaknya tidak ingin berbasa-basi.
"Kau bercanda. Hyunjoong mempekerjakannya? "Boa mendesis.
"Jangan," jawab Yunho dengan nada peringatan. Aku tidak yakin apakah ia melindungi adiknya atau aku atau hanya mencoba untuk menghentikan sebuah adegan drama. Apa pun alasan nya itu mengganggu ku.
"Bisakah aku mengambilkan minuman untuk kalian?" Tanyaku dengan senyum yang sama yang aku berikan pada setiap anggota lainnya ketika aku mengajukan pertanyaan ini.
"Setidaknya dia tahu tempatnya," kata Boa dengan nada sinis sedikit geli.
"Aku minta Corona (beer). Dengan lemon, tolong," kata Yunho.
Aku memandangnya dan matanya bertemu milikku sekilas sebelum ia berpaling ke Boa. "Pesanlah minuman. Cuacanya panas," katanya.
Dia menyeringai padaku dan menaruh tangannya yang terawat baik di pinggulnya. "Sparkling water (soda). Seka botolnya karena aku benci air yang keluar hingga membuatnya basah."
Junsu meraih ke dalam pendingin dan mengeluarkan soda. Aku kira dia khawatir aku akan melemparkannya ke kepala Boa. "Aku belum pernah melihatmu di sini akhir-akhir ini, Boa," kata Junsu sambil menyeka botol dengan handuk yang telah kami sediakan untuk alasan ini.
"Mungkin karena kau terlalu sibuk di semak-semak dengan hanya Tuhan yang tahu dengan siapa kau membuka kakimu, bukannya bekerja," jawab Boa.
Aku menggertakkan gigi dan membuka penutup Corona Yunho. Aku ingin melempar minuman ke wajah sinis  Boa.
"Cukup, Boa," Yunho memarahinya pelan. Apa dia anak Yunho? Yunho bertindak seperti Boa berusia lima tahun. Dia sudah dewasa untuk menangis dengan suara nyaring.
Aku menyerahkan Corona kepada Yunho hati-hati untuk tidak melihat Boa. Aku takut aku mungkin akan mengalami kelemahan ku. Sebaliknya, mataku bertemu miliknya saat ia mengambil botol.
"Gomawo," katanya dan menyelipkan tagihan ke dalam saku milikku. Aku tidak punya waktu untuk bereaksi sebelum ia melangkah pergi menggandeng  Boa.
"Ayolah dan tunjukkan bagaimana kamu masih tidak bisa mengalahkan aku di sini," katanya dengan nada menggoda.
Boa menyenggol lengan Yunho dengan bahunya. "Kau akan kalah oppa." Rasa suka yang tulus dalam suara Boa saat ia berbicara dengan Yunho mengejutkan aku. Aku tidak bisa membayangkan seseorang yang kelihatannya seperti dia, bersikap baik kepada siapa pun.
"Kkaja, kita pergi," desis Junsu, meraih lenganku. Aku sadar aku telah berdiri di sana menonton mereka.
Aku mengangguk dan mulai berbelok ketika Yunho melirik ke belakang ke arahku. Senyum kecil menyentuh bibirnya dan kemudian dia melihat Boa lagi menceritakan klub mana yang akan digunakan. Saat-saat kami sudah berakhir. Bahkan jika itu disebut sebuah peristiwa.
Setelah kami berada di luar jangkauan pendengaran aku melihat Junsu. "Mengapa kau mengatakan itu? tentang aku menjadi musuh nomor satu?"
Junsu menggeliat di kursinya. "Sejujurnya, aku tidak tahu persis. Tapi Boa posesif kepada Yunho. Semua orang tahu bahwa..."dia terhenti dan dia tidak mau menatap aku.
Dia tahu sesuatu tapi apa yang dia tahu?
Apa telah  yang aku lewatkan?
.
.
.
.
.
To Be Continue

5 comments:

  1. Aku berharap yunho nggak menjauh lagi dari jae. Apapun alasannya aku ingin yunho lepas kendali dan nggak akan lagi menyia2kan jae

    ReplyDelete
  2. SAKIIIIIIIIIIIIIII mau lagiiiii
    gantung !!!!!

    apa dugaanku benar dgn org yg bikin Yun jaihin Jae itu Boa ????

    Junchan jadi 'nakal' ya dsini,,,,asik jga...sekali2 lahhhh #plakkk

    tapi hubungan Yun ma Boa sebenernya tuh apa sih ????

    hyunjoong bakal muncul gak nanti ???

    *banyak nanya*

    penasaran bgt Saki ma kelanjutannya sumpah menarik bgt ceritanya.

    lagi dong Saki,,,masih 'laper' nih lol

    ReplyDelete
  3. Jaenna ♥1:22 PM

    Oooowww.. aku masih kurang ngerti sm2 kata2.. tp ist ok yg akutangkep jeje gadis yg tdklah polos dan ua gadis yg pemberani.. entahlah mungkin d otak ku aku masih ngebayangin SDA.....hehhee sakiii #puppyeyes
    Semangat saki yahhh.. readres mu bny yg menyukai ff ini.. jadi upadate lagiiiii~~~ #modus
    Than Gumawoo. . Lupp u poll

    ReplyDelete
  4. ntu boa pst brother complex
    sbnrnya sapanya yun seh boa itu

    ReplyDelete
  5. boa pst brother complex

    ReplyDelete