Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki
Remake from Abby Glines
Story
Staring: Jung Yunho, Kim
Jaejoong
Marga disesuaikan untuk
kepentingan cerita
Chapter 8
Rumah itu sekali
lagi berantakan ketika aku bangun keesokan harinya. Kali ini aku meninggalkan
kekacauan itu dan bergegas pergi bekerja. Aku tidak ingin terlambat. Aku
membutuhkan pekerjaan ini sekarang lebih dari apa pun. Appaku belum menelepon
untuk memeriksaku dan aku cukup yakin Yunho tidak berbicara dengan eommanya
atau Appaku karena ia tidak mengatakan nya. Aku tidak ingin bertanya padanya
karena aku tidak ingin kemarahannya pada Appaku yang akan diarahkan padaku.
Yunho akan
memintaku pergi saat aku kembali ke
rumahnya hari ini. Dia tampaknya benar-benar tidak senang pada ku ketika ia
bergegas keluar dari kamarku tadi malam. Dan aku membalas ciumannya dan
mengisap bibirnya.
Oh Tuhan apa yang
aku pikirkan?
Aku tidak bisa
berpikir. Itulah masalahnya. Bau Yunho sangat menyenangkan dan terasa sangat
enak. Aku tak mampu untuk mengendalikan diri. Sekarang,bisa saja aku akan menemukan tasku di teras ketika aku
pulang. Setidaknya, aku punya uang untuk tinggal di sebuah motel.
Mengenakan celana
pendek dan kaus polo aku berjalan ke depan dari kantor menuju pintu depan. Aku
perlu absen dan mendapatkan kunci cart
minuman.
Jessica sudah
berada di dalam. Aku mulai berpikir jika dia tinggal di sini. Dia ada di sini
ketika aku pulang dan ketika aku datang setiap hari. Sekalipun kepribadian
angin puyuh kecil nya agak menakutkan. Kau hampir ingin memberi hormat ketika
dia berteriak memberi perintah padamu. Dia mengerutkan kening pada seorang yeoja
yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia mengacungkan jarinya dan hampir
berteriak.
"Kau tidak
bisa bergaul dengan para anggota. Itulah aturan pertama. Kau menandatangani
surat perjanjian Kim Junsu, kamu tahu aturannya. Tuan Hyunjoong datang ke sini
pagi ini memberi tahu aku bahwa appanya tidak senang dengan kejadian ini. Aku hanya memiliki tiga cart girl. Jika
aku tidak bisa mempercayai kau berhenti tidur dengan para anggota maka aku
harus membiarkan kau pergi. Ini adalah peringatan terakhirmu. Apakah kamu
mengerti?"
Yeoja itu
mengangguk. "Ye, ahjumma. Mian," gumamnya. Rambutnya yang panjang
diikat ekor kuda ke belakang dan kaus polo biru mudanya memamerkan dada yang
sangat besar. Lalu ada kaki kecokelatan panjang dan pantat bulat. Dan dia
adalah keponakan Jessica. Menarik.
Tatapan marah Jessica
bergeser kepadaku dan dia mendesah lega. "Oh, bagus, Jae kau di sini.
Mungkin kamu dapat melakukan sesuatu dengan keponakanku ini. Dia dalam masa
percobaan karena dia tidak bisa berhenti bermain mata dengan para anggota saat
dia bekerja. Kita bukan tempat pelacuran. Kita adalah Kim’s club. Aku akan
memasangkan dia dengan kau untuk minggu depan dan kau bisa mengawasinya dengan
cermat. Dia akan belajar darimu. Tuan Hyunjoong
memuji mu. Dia sangat senang dengan pekerjaan yang kau lakukan dan
memintaku untuk mengijinkanmu bekerja di ruang makan setidaknya dua kali
seminggu. Aku sekarang mencari cart girl yang lain, jadi aku tidak bisa untuk
memecat Junsu." Dia mengatakan nama keponakannya dengan geraman dan
melotot ke arahnya.
Yeoja itu
menundukkan kepala karena malu. Aku merasa kasihan padanya. Aku takut
mengganggu kemarahan Jessica. Aku tidak bisa membayangkan sedang diteriaki
seperti itu.
"Ye, gwajangnim,"
jawabku saat dia mengulurkan kunci cart kepadaku. Aku mengambil kunci-kunci itu dan menunggu Junsu mendekat
kearahku.
"Pergilah
dengan dia sekarang, agashi. Jangan berdiri di sini dan cemberut. Aku seharusnya
menelepon appamu dan mengatakan padanya apa yang kamu lakukan tapi aku tidak
melakukannya karena akan membuat oppaku sakit hati. Jadi pergi lah dan
pelajarilah beberapa pelajaran
moral." Jessica menunjuk ke pintu dan aku tidak menunggu lebih lama lagi.
Aku bergegas keluar pintu dan menuruni tangga. Aku akan pergi menyiapkan drink
cart (mobil khusus lapangan golf untuk membawa aneka jenis minuman) dan
menunggu Junsu di sana.
"Hei, chankamman,"
yeoja itu memanggil dari belakangku. Aku berhenti dan menengok padanya saat ia
berlari untuk mengejar ketinggalan. "Mian ne, suasana nya begitu brutal
disana. Aku berharap kau tidak pernah menyaksikan atau mendengarnya."
Dia...menyenangkan.
"Gwenchana," jawabku.
"Ngomong-ngomong
aku Junsu. Dan kau yang terkenal tidak baik Kim
Jaejoong, aku sudah mendengar begitu banyak tentangmu." Senyuman
saat dia berkata memberitahu aku bahwa dia tidak bermaksud demikian.
"Aku minta
maaf kalau bibimu telah membandingkan diriku denganmu." Aku mengakhiri
pandanganku ke arahnya dan bibir merah penuh nya melengkungkan senyuman.
"Oh, aku
tidak berbicara tentang bibiku. Aku sedang berbicara tentang para namja.
Terutama Hyunjoong yang sangat menyukai mu. Aku mendengar bahwa kau menyebabkan
sedikit kegemparan tadi malam di pesta ulang tahun si jalang Boa. Aku berharap
bisa melihat kejadian itu, tapi orang yang dipekerjakan untuk membantu tidak
mendapatkan undangan ke acara itu."
Aku mengisi cart
sementara Junsu berdiri di sana menonton aku. Dia memutar-mutar seikat rambut
panjang cokelat di sekitar jarinya dan tersenyum padaku. "Jadi, kau
satu-satunya yang dimaksud. Ceritakan padaku semua tentang hal itu."
Tidak banyak yang
bisa diceritakan. Aku mengangkat bahu dan berjalan masuk ke sisi pengemudi
setelah cart-ku terisi. "Aku pergi ke pesta karena aku tidur di bawah
tangga di rumah Yunho sampai aku punya cukup uang untuk pindah yang mana akan
segera terwujud. Ini adalah sebuah kesalahan. Dia tidak suka kehadiranku. Itu
saja."
Junsu menjatuhkan
diri di kursi di sampingku dan menyilangkan kakinya. "Itu sama sekali
tidak seperti apa yang aku dengar. Yoochun mengatakan bahwa Yunho melihat Hyunjoong
menyentuhmu dan hilang kendali."
"Yoochun
salah paham. Percayalah. Yunho tidak peduli pada siapa yang menyentuh
aku."
Junsu mendesah,
"Menyebalkan menjadi orang-orang miskin, bukan? Para namja tampan tidak
pernah serius pada kita. Kita hanya pasangan dalam berhubungan seks."
Apakah itu arti
seks baginya? Apakah dia baru saja
terlibat dengan mereka dan menjadi yeoja yang mereka campakkan? Dia
terlalu cantik untuk itu. para namja di gongju akan tunduk di kakinya. Mereka
mungkin tidak memiliki uang jutaan di bank tetapi mereka adalah orang-orang
baik dari keluarga baik-baik.
"Apakah
tidak ada orang yang menarik yang tidak kaya raya di sekitar sini? Orang-orang
yang datang ke sini tidak ada yang dapat dipilih. Tentunya kau dapat menemukan
seorang namja yang tidak menyingkirkanmu keesokan harinya."
Junsu mengerutkan
kening dan mengangkat bahu. "Molla. Aku selalu ingin menggaet jutawan, kau
tahu? Menjalani kehidupan yang baik. Tapi aku mulai melihat bahwa tidak ada kesempatan
untukku."
Aku menuju hole
pertama. "Junsu, kau menawan. Kau layak mendapatkan lebih dari apa yang
kamu dapatkan sekarang. Mulailah berburu seorang namja di tempat lain. Temukan satu
yang tidak menginginkan kau hanya untuk seks. Temukan satu yang menginginkan kau.
Hanya kau."
"Sialan, aku
mungkin baru saja jatuh cinta pada mu juga sekarang," jawabnya menggoda
dan tertawa. Dia menopangkan kakinya di dasbor saat aku bergerak menuju pegolf
pertama pagi hari.
Aku tidak melihat
seorang namja muda di mana pun. Mereka bukan lah tipikal orang yang suka bangun
pagi. Untuk beberapa saat, aku tidak perlu khawatir tentang menjaga Junsu dari
tindakan menjijikkan di semak-semak atau di mana pun itu dia melakukan saat
bekerja.
.
.
.
.
Empat jam
kemudian, ketika kami berhenti ke hole ketiga untuk ke tiga kalinya aku
mengenali Hyunjoong dan teman teman nya. Junsu duduk tegak di kursinya dan
ekspresi bersemangat di wajahnya menempatkan aku dalam siaga tinggi. Dia seperti
anak anjing kecil menunggu seseorang
untuk melemparkannya tulang. Jika aku tidak menyukainya aku bahkan tidak akan
repot-repot membantu dia mempertahankan pekerjaan ini. Menjadi pengasuh nya
tidak ada dalam deskripsi pekerjaanku.
Hyunjoong
mengerutkan kening ketika kami berhenti di samping mereka. "Kenapa kau bersama
Junsu?" Tanyanya saat kami benar-benar berhenti.
"Karena dia
membantu menjagaku dari teman sialanmu dan membuat mu hilang arah. Kenapa kau
pergi dan memberitahu Jessica ahjumma?" Dia cemberut, menyilangkan
lengannya di depan dada berisi miliknya. Aku tak ragu setiap orang yang berdiri
di sekitar kita memusatkan perhatian pada dada besar miliknya.
"Aku tidak
meminta dia untuk melakukan itu. Aku memintanya mempromosikan Jae bukan
berpasangan dengan kau," bentaknya, dan mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Apa yang dia lakukan?
"Siapa yang
kau telepon?" Tanya Junsu dengan nada panik dalam posisi duduk tegak.
"ahjummamu,"
hardiknya.
"Ani,
chankamman," kata Junsu dan aku pada waktu yang sama.
"Jangan hubungi
dia. Aku baik-baik. Aku suka Junsu. Dia partner yang baik." aku
meyakinkannya.
Ia terdiam sesaat
tapi tidak menutup telepon.
"Jung
gwijangnim, ini Hyunjoong. Aku sudah berubah pikiran. Aku ingin Jae di dalam
empat hari dalam seminggu. Kau dapat menggunakannya di lapangan pada hari Jumat
dan Sabtu karena begitu sibuk dan dia adalah yang terbaik yang kau miliki,
tetapi untuk sisa waktunya aku ingin dia di dalam." Dia tidak menunggu
jawaban sebelum mengakhiri panggilan tersebut dan menjatuhkannya ponsel nya
kembali ke saku celana pendek kotak-kotak kaku nya. Pada orang lain hal
tersebut tampak konyol tapi orang seperti Hyunjoong bisa menghilangkan kesan
konyol itu. Kemeja polo putih yang ia kenakan pas di badan nya. Aku tidak akan
terkejut jika itu adalah merek baru.
"Ahjumma
akan menjadi gila. Dia telah meminta Jae menjagaku selama beberapa minggu.
Siapa yang akan menjagaku sekarang?" tanyanya melayangkan tatapan sensual
ke arah Yoochun.
"Hei Kim, tolonglah,
jika kau sedikit saja menyukai aku, alihkan pandanganmu dan biarkan aku
membawanya kembali ke rumah klub hanya untuk beberapa menit. heum," Yoochun
memohon sambil minum di hadapan Junsu yang duduk di sana dengan kakinya di
dasbor sedikit terbuka sehingga selangkangannya
terlihat jelas. Celana pendek yang kami kenakan terlalu pendek dan ketat
hingga meninggalkan banyak hal untuk diimajinasikan dalam posisi seperti itu.
"Aku tidak
peduli apa yang kau lakukan.Tiduri dia jika kau mau Tapi kalau appa mendengar
kabar itu lagi aku harus memecatnya. Dia malu mengenai keluhan itu."
Aku tahu Yoochun
tidak akan membelanya jika dia dipecat. Dia akan membiarkannya pergi dan
melanjutkan hidupnya. Tak ada cinta dalam tatapannya hanya nafsu.
"Junsu,
jangan," aku memohon pelan di sampingnya. "Pada malam aku saat aku libur,
kau dan aku akan pergi keluar dan kita akan menemukan beberapa tempat di mana
para namja menghargai mu. Jangan sampai kamu kehilangan pekerjaan gara-gara
dia," aku berbicara begitu pelan hanya Junsu yang bisa mendengarku. Yang
lain tahu aku mengatakan sesuatu kepadanya tetapi mereka tidak tahu apa.
Junsu memalingkan
tatapannya padaku dan menarik lututnya bersama-sama. "jeongmal? Kau akan
pergi keluar denganku dan mencari namja? Serius?"
Aku mengangguk
dan senyum merekah di wajahnya. "Deal. Kita akan pergi. "
"Oke"
jawabku sambil mengedipkan mata.
Dia terkekeh
dengan keras dan menurunkan kakinya. "Oke guys apa yang kalian ingin
minum? Kami punya hole (lubang golf) lainnya untuk di kunjungi," katanya
melangkah keluar dari cart dan berjalan ke belakang. Aku mengikutinya dan kami
membagikan minuman dan menerima uang pembayarannya.
Yoochun mencoba
untuk meraih pantatnya beberapa kali dan berbisik di telinganya. Dia akhirnya
berbalik dan tersenyum padanya. "Aku sudah selesai menjadi teman
bercintamu. Aku akan keluar dengan sahabatku
disini akhir pekan ini dan kami akan menemukan beberapa namja sejati.
Tipe namja yang tidak memiliki dana perwalian, tetapi memiliki kapalan di
tangan mereka akibat dari kerja keras. Kupikir mereka tahu bagaimana membuat
seorang yeoja merasa benar-benar istimewa."
Aku harus menahan
tawa yang meluap di dalam dadaku melihat ekspresi kaget Yoochun. Aku menyalakan
mobil cart saat Junsu melompat kembali di sampingku.
"Sialan,
rasanya menyenangkan. Ke mana saja kau selama ini?" Tanyanya menepukkan
tangannya saat aku melaju memberi senyuman dan melambaikan tangan pada Hyunjoong
saat kami menuju ke lubang berikutnya.
Kami sudah melewati
hampir semua lapangan kemudian berhenti
untuk mengisi kembali. Tak ada masalah lagi. Aku tahu kita mungkin bisa melihat
Hyunjoong dan teman-temannya lagi tapi aku percaya Junsu bisa mempertahankan pendiriannya. Junsu telah
mengobrol dengan riang gembira tentang segala sesuatu dari warna rambutnya
hingga kehamilan terakhir yang mereka takuti dengan seorang pekerja dan
anggota.
Aku tidak
memperhatikan anggota pada hole pertama. Aku berkendara dan mencoba
berkonsentrasi pada obrolan tak berujung Junsu. Makian Junsu menarik
perhatianku.
Aku melirik ke
arahnya dan kemudian mengikuti tatapannya ke pasangan pada hole pertama. Yunho
bisa langsung dikenali. Celana pendek cokelat yang dikenakannya dan kaos polo
biru pucat yang nyaman tampak begitu cocok dengan nya. Baju itu tidak cocok
dengan tato yang aku tahu menutupi punggungnya. Dia adalah anak seorang rocker
dan darah itu mengalir dalam dirinya bahkan dengan pakaian pegolf yang di
tubuhnya. Dia memutar kepalanya dan matanya bertemu dengan ku. Dia tidak
tersenyum. Dia melihat kearah lain seolah dia tidak melihatku. Tidak ada
pengakuan. Tidak ada.
"Dasar
jalang," bisik Junsu. Aku mengalihkan pandanganku dari dia kepada yeoja
yang bersamanya. Boa, dongsaeng Yunho. Sesuatu yang tidak suka dia bicarakan.
Dia mengenakan rok putih kecil yang tampak seperti ia bersiap-siap untuk pergi
bermain tenis. Dia mengenakan polo biru yang sesuai dan topi putih yang bertengger
di atas rambutnya.
"Kau bukan
penggemar Boa?" Aku sudah tahu jawaban jawabannya dari komentarnya.
Junsu tertawa
pendek. "Eh, Ani. Dan kau juga tidak. Kau musuh nomor satu untuknya.
"
Apa maksudnya?
Aku tidak bisa menanyai dia karena kami telah berhenti hanya enam meter dari
tee (paku untuk bola golf) dan duo kakak beradik itu.
Aku tidak mencoba
untuk melakukan kontak mata dengan Yunho lagi. Dia tampaknya tidak ingin
berbasa-basi.
"Kau
bercanda. Hyunjoong mempekerjakannya? "Boa mendesis.
"Jangan,"
jawab Yunho dengan nada peringatan. Aku tidak yakin apakah ia melindungi
adiknya atau aku atau hanya mencoba untuk menghentikan sebuah adegan drama. Apa
pun alasan nya itu mengganggu ku.
"Bisakah aku
mengambilkan minuman untuk kalian?" Tanyaku dengan senyum yang sama yang
aku berikan pada setiap anggota lainnya ketika aku mengajukan pertanyaan ini.
"Setidaknya
dia tahu tempatnya," kata Boa dengan nada sinis sedikit geli.
"Aku minta
Corona (beer). Dengan lemon, tolong," kata Yunho.
Aku memandangnya
dan matanya bertemu milikku sekilas sebelum ia berpaling ke Boa. "Pesanlah
minuman. Cuacanya panas," katanya.
Dia menyeringai
padaku dan menaruh tangannya yang terawat baik di pinggulnya. "Sparkling
water (soda). Seka botolnya karena aku benci air yang keluar hingga membuatnya
basah."
Junsu meraih ke
dalam pendingin dan mengeluarkan soda. Aku kira dia khawatir aku akan
melemparkannya ke kepala Boa. "Aku belum pernah melihatmu di sini
akhir-akhir ini, Boa," kata Junsu sambil menyeka botol dengan handuk yang
telah kami sediakan untuk alasan ini.
"Mungkin
karena kau terlalu sibuk di semak-semak dengan hanya Tuhan yang tahu dengan
siapa kau membuka kakimu, bukannya bekerja," jawab Boa.
Aku menggertakkan
gigi dan membuka penutup Corona Yunho. Aku ingin melempar minuman ke wajah
sinis Boa.
"Cukup, Boa,"
Yunho memarahinya pelan. Apa dia anak Yunho? Yunho bertindak seperti Boa berusia
lima tahun. Dia sudah dewasa untuk menangis dengan suara nyaring.
Aku menyerahkan
Corona kepada Yunho hati-hati untuk tidak melihat Boa. Aku takut aku mungkin
akan mengalami kelemahan ku. Sebaliknya, mataku bertemu miliknya saat ia
mengambil botol.
"Gomawo,"
katanya dan menyelipkan tagihan ke dalam saku milikku. Aku tidak punya waktu
untuk bereaksi sebelum ia melangkah pergi menggandeng Boa.
"Ayolah dan
tunjukkan bagaimana kamu masih tidak bisa mengalahkan aku di sini,"
katanya dengan nada menggoda.
Boa menyenggol
lengan Yunho dengan bahunya. "Kau akan kalah oppa." Rasa suka yang
tulus dalam suara Boa saat ia berbicara dengan Yunho mengejutkan aku. Aku tidak
bisa membayangkan seseorang yang kelihatannya seperti dia, bersikap baik kepada
siapa pun.
"Kkaja, kita
pergi," desis Junsu, meraih lenganku. Aku sadar aku telah berdiri di sana
menonton mereka.
Aku mengangguk
dan mulai berbelok ketika Yunho melirik ke belakang ke arahku. Senyum kecil
menyentuh bibirnya dan kemudian dia melihat Boa lagi menceritakan klub mana
yang akan digunakan. Saat-saat kami sudah berakhir. Bahkan jika itu disebut
sebuah peristiwa.
Setelah kami
berada di luar jangkauan pendengaran aku melihat Junsu. "Mengapa kau
mengatakan itu? tentang aku menjadi musuh nomor satu?"
Junsu menggeliat
di kursinya. "Sejujurnya, aku tidak tahu persis. Tapi Boa posesif kepada Yunho.
Semua orang tahu bahwa..."dia terhenti dan dia tidak mau menatap aku.
Dia tahu sesuatu
tapi apa yang dia tahu?
Apa telah yang aku lewatkan?
.
.
.
.
.
To Be Continue

Aku berharap yunho nggak menjauh lagi dari jae. Apapun alasannya aku ingin yunho lepas kendali dan nggak akan lagi menyia2kan jae
ReplyDeleteSAKIIIIIIIIIIIIIII mau lagiiiii
ReplyDeletegantung !!!!!
apa dugaanku benar dgn org yg bikin Yun jaihin Jae itu Boa ????
Junchan jadi 'nakal' ya dsini,,,,asik jga...sekali2 lahhhh #plakkk
tapi hubungan Yun ma Boa sebenernya tuh apa sih ????
hyunjoong bakal muncul gak nanti ???
*banyak nanya*
penasaran bgt Saki ma kelanjutannya sumpah menarik bgt ceritanya.
lagi dong Saki,,,masih 'laper' nih lol
Oooowww.. aku masih kurang ngerti sm2 kata2.. tp ist ok yg akutangkep jeje gadis yg tdklah polos dan ua gadis yg pemberani.. entahlah mungkin d otak ku aku masih ngebayangin SDA.....hehhee sakiii #puppyeyes
ReplyDeleteSemangat saki yahhh.. readres mu bny yg menyukai ff ini.. jadi upadate lagiiiii~~~ #modus
Than Gumawoo. . Lupp u poll
ntu boa pst brother complex
ReplyDeletesbnrnya sapanya yun seh boa itu
boa pst brother complex
ReplyDelete