Thursday, March 27

[Remake] The Untittled Story Chapter VII

Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?

The Untitled Story

©Kitahara Saki

Remake from Abby Glines Story

Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
Chapter 7
Aku duduk di atas tempat tidurku mendengarkan tawa dan musik yang berasal dari dalam rumah. Aku berganti-ganti keputusan mengenai menghadiri pesta seharian. Terakhir kalinya aku mengambil keputusan untuk datang aku mengenakan satu-satunya gaun bagus yang masih kumiliki. Itu adalah gaun berwarna merah yang melekat erat di dada dan pinggulku kemudian tergantung di sekitar tengah pahaku dengan model baby doll mini. Aku membeli gaun ini ketika Yihan mengundangku ke pesta prom senior.
Kemudian dia dinominasikan sebagai raja prom dan Kwangyeon yang dinominasikan sebagai ratunya. Kwangyeon ingin menghadiri prom bersama dengan Yihan kemudian Yihan meneleponku untuk bertanya apakah boleh dia pergi bersama Kwangyeon saja. Semua orang berkata mereka akan menang dan akan terlihat keren kalau mereka menghadirinya sebagai pasangan. Aku menyetujuinya lalu menggantung kembali gaunku. Malam itu aku menyewa dua judul film dan membuat brownies. Eomma dan aku menonton film komedi romantis dan memakan brownies hingga kami kekenyangan. Itu merupakan salah satu kenangan yang bisa kuingat ketika eommaku tidak merasakan sakit setelah menjalani kemoterapi sehingga dia bisa memakan makanan manis seperti brownies.
Malam ini aku telah mengeluarkan gaun tersebut dari tasku. Gaunnya tidak semahal standard orang-orang di luar. Malah cukup sederhana. Bahannya terbuat dari sifon lembut. Aku melihat sekilas pada sepatu hak tinggi berwarna perak milik eommaku yang aku simpan. Ini adalah sepatu yang ia kenakan di hari pernikahannya. Aku selalu menyukainya. Eommaku tidak pernah memakainya lagi namun sepatu itu tersimpan rapat dalam sebuah kotak.
Aku mengambil resiko besar dengan keluar menghadiri pesta dan dipermalukan. Aku tidak cocok dengan mereka. Aku pun tidak pernah bisa menyesuaikan diri di SHS. Hidupku adalah satu momen yang canggung. Aku harus belajar menyesuaikan diri. Untuk meninggalkan si yeoja canggung yang harus keluar dari SHS karena dia memiliki masalah yang jauh lebih besar.
Berdiri, kujalankan tanganku diatas gaunku untuk merapikan setiap kerutan yang ada karena duduk di ranjang menimbang apakah menghadiri pesta merupakan suatu keputusan yang bijak. Aku akan berjalan keluar kesana. Mungkin mengambil segelas minuman dan melihat adakah seseorang yang mau berbicara denganku. Jika ternyata menjadi bencana, aku selalu bisa lari kembali kemari, memakai piyamaku dan meringkuk di tempat tidur. Ini adalah langkah kecil yang baik untukku.
Membuka pintu pantry, aku melangkah memasuki dapur sangat bersyukur bahwa tidak ada seorang pun disana. Berjalan keluar dari pantry akan sulit dijelaskan. Aku dapat mendengar suara tawa Changmin yang kencang  dan  berbicara dengan seseorang di ruang keluarga. Dia mungkin mau mengobrol denganku. Aku bisa melalui hal ini dengan mudah bersama Changmin. Menarik napas panjang, aku berjalan keluar dari dapur dan menuruni lorong yang mengarah ke foyer. Mawar putih dan pita perak ada dimana-mana. Ini mengingatkanku pada pernikahan daripada pesta ulang tahun. Pintu depan yang terbuka mengejutkanku. Langkahku terhenti dan melihat pada mata gelap yang familiar menatap mataku. Wajahku menghangat ketika mata Hyunjoong menilaiku dengan pelan dan lambat.
"Jae," ujarnya saat matanya kembali menatap wajahku. "Aku tidak pernah mengira kau bisa terlihat lebih seksi lagi. Ternyata aku salah."
"Hell, yeah, nona. Kau terlihat menakjubkan." Namja dengan rambut ikal dan bermata coklat tersenyum padaku. Aku tidak bisa mengingat namanya. Apakah dia pernah memberitahuku sebelumnya?
"Gomawo." Gumamku. Aku bersikap canggung lagi. Ini adalah kesempatanku untuk menyesuaikan diri. Aku harus mengusahakannya.
"Aku tidak tahu kalau Yunho mulai main golf lagi. Atau kau disini bersama seseorang?" Karena bingung aku terdiam sejenak untuk meresapi maksud perkataan Hyunjoong. Ketika kusadari dia mengira aku disini dengan seseorang yang kutemui di tempat kerja aku menyeringai. Itu bukan masalah sama sekali.
"Aku kemari tidak dengan siapapun. Yunho adalah um...well, eommanya Yunho menikah dengan appaku." Itulah penjelasanku.
Seringai Hyunjoong yang pelan dan santai semakin melebar ketika dia berjalan kearahku. "Benarkah? Dia membiarkan dongsaeng tirinya bekerja di club? Ck, ck. Namja itu tidak punya sopan santun. Jika aku memiliki yodongsaeng dengan wajah seperti kau, aku akan menyekapnya...sepanjang waktu," Dia berhenti sebentar dan menyapu pipiku dengan ibu jarinya. "Aku akan menemanimu tentu saja. Tidak ingin kau merasa kesepian."
Sudah pasti dia sedang merayuku. Dengan gencar. Dia berada di luar jangkauanku. Dia terlalu berpengalaman. Aku membutuhkan sedikit ruang.
"Sepasang kakimu seharusnya dipasangi peringatan. Tidak mungkin tidak disentuh," Dia merendahkan suaranya sedikit dan aku melihat sekilas melewati bahunya bahwa si pirang telah meninggalkan kami.
"Apakah kau...apakah kau berteman dengan Yunho atau uh, Boa?" Tanyaku mengingat nama yang Changmin gunakan ketika memperkenalkan kami pada malam pertama.
Hyunjoong mengangkat bahu, "Boa dan aku memiliki hubungan pertemanan yang rumit. Sedangkan Yunho dan aku telah saling mengenal seumur hidup." Tangan Hyunjoong meluncur di punggungku. "Aku berani bertaruh Boa pasti membencimu."
Aku tidak begitu yakin. Kami tidak pernah berinteraksi semenjak malam itu. "Kami tidak terlalu saling mengenal."
Hyunjoong memberengut, "Benarkah? Itu aneh."
"Hyunjoong! Kau di sini," seorang yeoja berseru saat dia memasuki ruangan. Dia menolehkan kepalanya untuk melihat yeoja berambut hitam dengan rambut panjang ikal yang tebal yang memiliki tubuh berlekuk yang dibalut oleh gaun satin hitam. Ini mungkin yang akan mengalihkan perhatiannya. Aku mulai melangkah dan kembali kearah dapur. Momen keberanianku telah hilang.
Tangan Hyunjoong mencengkeram pinggulku, dengan erat memegangku agar diam di tempat. "Sooyoung nuna," hanya itu jawaban yang Hyunjoongs berikan. Mata indah yeoja itu beralih dari Hyunjoong kepadaku. Aku memandang dengan tidak berdaya ketika dia melihat tangan Hyunjoong yang diletakkan di pinggulku. Bukan ini yang kuinginkan. Aku butuh berbaur.
"Siapakah dia?" Si yeoja memusatkan matanya dan memandang sepenuhnya padaku.
"Ini Jae. Dongsaeng barunya Yunho," Hyunjoong menjawab dengan nada bosan.
Si yeoja menyipitkan matanya dan kemudian dia tertawa. "Tidak, pasti bukan. Dia mengenakan gaun murahan dan sepatu yang lebih murah lagi. Yeoja ini, siapapun katanya, sedang berdusta padamu. Tapi kau memang selalu lemah jika berhubungan dengan wajah cantik, ya kan, Hyunjoong?"
Seharusnya aku tetap tinggal di kamarku.
"Kenapa kau tidak kembali ke pesta dan menemukan beberapa namja bodoh untuk mempertajam kukumu, Nuna?"
Hyunjoong berjalan menuju pintu dimana sebagian besar pesta berada dengan tangannya masih kokoh dipinggulku memaksaku untuk pergi bersamanya.
"Kupikir aku hanya ingin pergi kekamarku. Seharusnya aku tidak datang kesini malam ini," kataku, berusaha menghentikan kami masuk ke dalam pesta. Aku tidak perlu berjalan kesana dengan Hyunjoong. Sesuatu mengatakan kepadaku itu ide yang buruk.
"Kenapa kau tidak menunjukkan kamarmu? Aku ingin melarikan diri juga."
Aku menggeleng. "Tidak cukup ruang untuk kita berdua."
Hyunjoong tertawa dan menunduk untuk mengatakan sesuatu ditelingaku disaat mataku terkunci dengan tatapan mata musang Yunho. Dia menatapku lekat. Dia terlihat tidak senang. Undangannya hari ini hanyalah sopan santun yang keluar dan sesungguhnya tidak  diharapkan? Aku salah mengerti?
"Aku harus pergi. Aku tidak berpikir Yunho ingin aku disini." Aku berbalik untuk menatap Hyunjoong dan melangkah keluar dari pelukannya.
"Omong kosong Jae. Aku yakin dia terlalu sibuk untuk khawatir tentang apa yang kau lakukan. Selain itu mengapa dia tidak ingin melihatmu di pesta yodongsaengnya yang lain?"
Ada yodongsaeng lagi. Mengapa Changmin mengatakan kepadaku bahwa Yunho tidak punya saudara kandung? Boa jelas adiknya.
"Aku, uh, baiklah, dia tidak benar benar menyatakanku sebagai keluarga. Aku hanya saudara yang tidak diinginkan dari suami baru eommanya. Aku sebenarnya hanya disini untuk beberapa minggu lagi sampai aku bisa pindah sendiri. Aku bukan penghuni tetap dirumah ini." aku memaksakan senyum, berharap Hyunjoong akan mendapatkan gambaran dan membiarkanku pergi.
"Tak ada tentangmu yang tidak diinginkan. Bahkan Yunho tidaklah sebuta itu, brengsek," kata Hyunjoong mendekatiku kembali karena aku menjauh.
"Kemarilah Jae." suara menuntut Yunho datang dari belakangku tangan besarnya menyelinap dilenganku menarikku padanya.
"Aku tidak menduga kau datang malam ini." Peringatan dalam nadanya mengatakanku bahwa aku salah mengerti tentang undangannya. Dia benar benar tidak serius.
"Mian Yun. Kukira kau bilang aku bisa datang," aku berbisik memalukan kalau Hyunjoong bisa mendengarnya. Dan yang lainnya sedang menonton. Saat ini aku memutuskan untuk menjadi berani dan keluar dari rasa malu dari kejadian ini.
"Aku tidak menduga kau muncul dengan pakaian seperti itu," jawabnya dengan tenang namun mematikan. Matanya masih diarahkan pada Hyunjoong. Apa salahnya dengan pakaianku? Eommaku telah berkorban  untuk ku agar  memiliki gaun ini dan aku tidak pernah sempat untuk memakainya. Enam puluh ribu won adalah uang yang banyak bagi kami ketika dia membelinya. Aku sudah muak dengan sekelompok orang bodoh  manja berakting seperti aku mengenakan sesuatu yang menjijikkan. Aku mencintai gaun ini. Aku mencintai sepatu ini. Bumonimku bahagia dan sudah pernah saling cinta. Sepatu ini adalah bagian dari itu. Sialan mereka semua.
Aku menghentak pergi dari Yunho dan kembali ke dapur. Jika dia tidak ingin aku disini karena teman teman menertawakannya maka ia harus mengatakannya. Sebaliknya, dia membuatku merasa seperti orang bodoh.
"Apa masalahmu Jung, dasar brengsek!" Tanya Hyunjoong marah. Aku tidak melihat kebelakang. Aku berharap mereka berkelahi. Aku berharap Hyunjoong mematahkan hidung sempurna Yunho yang menjengkelkan. Aku meragukan karena meskipun Yunho salah satu dari mereka ia terlihat lebih kuat.
"Jae, chankamman!" Changmin memanggil dan aku ingin mengabaikannya tapi sekarang dia adalah teman terdekat ku disini. Aku melambat ketika aku mencapai lorong dari semua penonton dan membiarkan Changmin  mengejarku.
"Itu tidak seperti yang kau pikirkan," kata Changmin, muncul dibelakangku. Aku ingin tertawa. Dia sangat dibutakan oleh saudaranya yang bersangkutan.
“Gwenchana. Seharusnya aku tidak datang. Seharusnya aku tahu dia hanya berbasa-basi. Aku berharap dia mengatakan kepadaku untuk tinggal dikamarku seperti yang di inginkannya. Aku tidak mengerti dengan permainan kata kata," aku menghentak dan berjalan melalui dapur langsung menuju pantry.
"Dia memiliki masalah. Aku akan memberikannya pelajaran, tetapi dia sudah melindungimu dengan caranya aneh yang mengacaukan" kata Changmin saat tanganku bertemu pegangan kuningan dingin dipintu pantry.
"Tetaplah percaya pada-nya, Min. Itulah hal terbaik yang dilakukan saudara," jawabku dan menyentak pintu terbuka dan menutupnya dibelakangku. Setelah mengambil beberapa napas  dalam untuk meringankan sakit di dadaku aku pergi ke kamarku dan tenggelam ke tempat tidur.
Pesta bukanlah untuk ku. Itu  kedua kali nya kualami dan yang pertama tidak jauh lebih baik. Sebenarnya itu mungkin lebih buruk .Aku pergi untuk mengejutkan Yihan dan ia justru yang mengejutkanku. Dia ada di kamar Tiffany Hwang dengan payudara telanjang nya ada di mulut Yihan. Mereka belum berhubungan seks tapi tentu saja mereka akan segera melakukannya. Aku menutup pintu diam diam dibelakangku dan keluar melalui pintu belakang. Beberapa orang melihatku dan tahu apa yg sudah kualami. Yihan muncul di rumahku satu jam kemudian memintaku untuk memaafkannya dan menangis sambil berlutut.
Aku mencintainya sejak aku berusia tiga belas  tahun dan ia adalah ciuman pertamaku. Aku tidak bisa membencinya. Aku hanya membiarkannya pergi. Itu adalah akhir dari hubungan kami. Aku menenangkan hati nuraninya dan kita tetap berteman. Terkadang ia dalam kondisi  buruk dan mengatakan bahwa dia mencintaiku dan ingin aku kembali tetapi dari semua itu ia memiliki seorang yeoja berbeda di atas motornya disetiap akhir pekan. Aku hanyalah kenangan masa kecilnya.
Malam ini tidak ada yang menghianatiku. Aku baru saja dipermalukan. Meraih kebawah aku melepaskan sepatu eomma dan menempatkan mereka kembali dengan aman dikotaknya penyimpanan nya. Lalu aku menempatkannya kembali ke dalam koperku. Aku seharusnya tidak mengenakannya malam ini. Lain kali aku mengenakan sepatunya akan menjadi saat istimewa. Pasti untuk seseorang yang istimewa.
Aku melakukan hal yang sama pada gaun ini. Ketika aku menaruh kembali aku akan memakainya untuk seseorang yang mencintaiku dan berpikir aku cantik. Label harga pada gaunku tidak masalah. Aku mengulurkan tangan untuk membuka ritsleting ketika pintu terbuka dan ruangan kecil itu terisi Yunho. Yunho yang sangat marah.
Dia tidak mengatakan apa apa dan aku membiarkan tanganku jatuh kembali kesisiku. Aku tidak akan mengambil pakaianku yang baru saja terlepas. Dia melangkah masuk dan menutup pintu dibelakangnya. Dia terlalu besar untuk ruangan kecil ini. Aku harus mundur dan duduk ditempat tidur sehingga ia bisa  menyesuaikan tanpa kita bersentuhan.
"Bagaimana kau mengenal Hyunjoong?" dia menggertak.
Bingung aku menatapnya dan bertanya tanya mengapa ia tidak suka aku mengenal Hyunjoong. Bukankah mereka berteman? Apa itu? dia tidak ingin aku berada disekitar teman temannya. "Appanya pemilik Kim’s Club.Dia bermain golf. Aku melayani minumannya."
"kenapa kau memakai itu?" Tanyanya dengan suara keras yang dingin.
Ini adalah keadaan tersudut yang tidak menyenangkan. Aku kembali berdiri kemudian berjinjit pada ujung jari kakiku, agar aku berhadapan dengannya. "karena eommaku membelikannya untuk  kukenakan. Aku mempertahankannya dan tidak pernah mendapat kesempatan. Malam ini kau mengundangku dan aku ingin menyesuaikan diri jadi aku memakai yangg terbaik yang kupunya. Mian jika menurutmu apa yang kukenakan adalah barang murahan. Kau tau bagaimanapun aku tidak peduli. Kau dan semua teman teman mu yg sombong dan manja bersikap terlalu berlebihan."
Aku mendorong dadanya dengan jariku dan melotot menantangnya untuk mengatakan sekali lagi tentang pakaianku.
Yunho membuka mulutnya kemudian memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya. "Sial!" geramnya.
Kemudian matanya terbuka lebar dan tangannya tiba tiba dirambutku dan bibirnya ada dibibirku. Aku tidak tahu bagaimana untuk bereaksi. Bibirnya lembut tapi menuntut saat ia menjilat dan menggigit bibir bawahku. Lalu ia menarik bibir atasku kemulutnya dan menghisapnya lembut.
"Aku sudah lama ingin mencicipi bibir penuh yang manis ini sejak kau berjalan kedalam ruang tamuku" gumamnya sebelum menggelincirkan lidahnya kedalam mulutku saat aku tersentak mendengar kata katanya.
Yunho terasa seperti mint dan sesuatu yang mahal. Lututku lemas dan aku mengulurkan tangan meraih bahunya untuk menahan kestabilan ku. Kemudian lidahnya membelaiku seakan memintaku untuk bergabung dengannya. Aku melakukan usapan kecil dimulutnya dan kemudian menggigit lembut bibir bawahnya. Sebuah erangan kecil keluar dari tenggorokannya dan hal berikut yang kutahu aku sedang diturunkan ketempat tidur di belakangku.
Tubuh Yunho menimpa tubuhku dan rasa keras itu adalah ereksinya menekan kedua kakiku.Mata ku berputar di dalam kepala ku dan aku mendengar erangan tak berdaya datang dari bibirku.
"Manis, terlalu manis." Yunho berbisik dibibirku sebelum mulutnya tiba tiba menjauh dan melompat kebelakang lepas dariku. Matanya memusatkan perhatian pada gaunku. Aku menyadari sekarang gaunku ada di sekeliling pinggangku dan celana dalamku terlihat.
"Brengsek!" ia mengutuk kemudian memukul tangannya kedinding sebelum menyentak pintu terbuka dan keluar seperti sedang dikejar.
Dinding bergetar dari tenaga yang dikeluarkan saat menutup pintu. Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa. Jantungku berdebar debar dan ada sakit yang kukenal diantara kedua kakiku. Aku sudah pernah terangsang sebelum melihat adegan seks di TV tetapi tidak pernah seintens ini. Aku merasa sangat dekat. Dia tidak mengiginkannya tapi dia memilikinya. Aku merasakannya tapi kemudian aku juga melihat dia berhubungan seks dengan seorang yeoja. Selain itu, aku tahu semalam dia berhubungan seks dengan yeoja lain dan kemudian mengirimnya pergi. Mendapatkan Yunho keras bukanlah sebuah prestasi besar. Aku tidak benar benar mencapai apapun. Dia hanya marah karena miliknya sudah kurangsang.
Itu menyakitkan. Mengetahui dia sangat tidak menyukaiku bahwa dia tidak ingin berpikir aku menarik untuknya. Denyutan di antara kedua kakiku perlahan lahan memudar karena kenyataan yang ada. Yunho tidak ingin meyentuhku. Dia sangat marah karena itulah dia.Meskipun terangsang dia masih bisa menjauh dari ku. Aku punya perasaan aku berada dikelompok kecil. Kebanyakan yeoja yeoja yang diinginkan dimilikinya. Dia tidak bisa memaksaku mengacaukan dirinya. Aku adalah orang miskin yang terjebak dengannya sampai aku punya cukup uang untuk pindah.
Aku berguling dan meringkuk menjadi bola. Mungkin aku tidak akan mengenakan gaun ini lagi. Hanya akan menjadi kenangan menyedihkan. Sudah waktunya aku mengemasnya pergi demi kebaikan. Meskipun malam ini aku akan tidur di dalamnya. Ini akan menjadi perpisahan di dalam mimpiku. Yang mana aku cukup diinginkan bagi beberapa namja.
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. aaaaa kenapa ma yunho ???
    yunho punya perasaan apa ma Jae ?
    suka, sayang taw cuma nafsu doank ???
    tapi aq lebih penasaran ma yg dibilang Saki, "Saki juga frustasi pengen ngebunuh orang yang bikin Yun pengen ngejauh mulu dari Jae..."
    penasaran !!!
    jgn bilang Boa orgnya ??? lol
    soalnya chapter sblomnya da yg ngmong Boa gk bkal biarin gitu,,,klo gk salah.

    Pengen lanjut lagi......
    fighting !!!!!

    ReplyDelete
  2. Jaenna ♥5:38 AM

    Bnr bgt saki.. ff kt cm bwt having fun...bkn bwt d tiru... jeje jgn d bash donk..aq jg fans ny jeje. Aku jg sesih klo idolaku bnran menyimpang.tp kli jadianny sama beruang endut yunyun sih ga apa lah...ahahaha. kata gay itu br spekulasi org aja. Jeje sndiri blm pernah nunjukin atwpun ngaku lho.
    Dan klo ada di depan mata ky tmn saki itu yg incest pasti syerem..hhhh

    Hohoho.. yunho mulai ga tahan tuhh... tp dia masih gengsi ngakuin hatinya.
    Jeje mau pindah yahh.. aku stuju..biarin ntr si beruang pasti ngejer2.

    ReplyDelete
  3. Aku penasaran saki ..siapa orang yang bikin yun ngejauhin jae ???
    Berarti selama ini yun punya rasa ama jae ...

    ReplyDelete
  4. loh koq gk diterusin
    kykx yunnahan gtu y
    wae

    ReplyDelete