©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines
Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Chapter 7
Aku duduk di atas
tempat tidurku mendengarkan tawa dan musik yang berasal dari dalam rumah. Aku
berganti-ganti keputusan mengenai menghadiri pesta seharian. Terakhir kalinya
aku mengambil keputusan untuk datang aku mengenakan satu-satunya gaun bagus
yang masih kumiliki. Itu adalah gaun berwarna merah yang melekat erat di dada dan
pinggulku kemudian tergantung di sekitar tengah pahaku dengan model baby doll
mini. Aku membeli gaun ini ketika Yihan mengundangku ke pesta prom senior.
Kemudian dia
dinominasikan sebagai raja prom dan Kwangyeon yang dinominasikan sebagai
ratunya. Kwangyeon ingin menghadiri prom bersama dengan Yihan kemudian Yihan
meneleponku untuk bertanya apakah boleh dia pergi bersama Kwangyeon saja. Semua
orang berkata mereka akan menang dan akan terlihat keren kalau mereka
menghadirinya sebagai pasangan. Aku menyetujuinya lalu menggantung kembali
gaunku. Malam itu aku menyewa dua judul film dan membuat brownies. Eomma dan
aku menonton film komedi romantis dan memakan brownies hingga kami kekenyangan.
Itu merupakan salah satu kenangan yang bisa kuingat ketika eommaku tidak
merasakan sakit setelah menjalani kemoterapi sehingga dia bisa memakan makanan
manis seperti brownies.
Malam ini aku
telah mengeluarkan gaun tersebut dari tasku. Gaunnya tidak semahal standard
orang-orang di luar. Malah cukup sederhana. Bahannya terbuat dari sifon lembut.
Aku melihat sekilas pada sepatu hak tinggi berwarna perak milik eommaku yang
aku simpan. Ini adalah sepatu yang ia kenakan di hari pernikahannya. Aku selalu
menyukainya. Eommaku tidak pernah memakainya lagi namun sepatu itu tersimpan rapat
dalam sebuah kotak.
Aku mengambil
resiko besar dengan keluar menghadiri pesta dan dipermalukan. Aku tidak cocok
dengan mereka. Aku pun tidak pernah bisa menyesuaikan diri di SHS. Hidupku
adalah satu momen yang canggung. Aku harus belajar menyesuaikan diri. Untuk
meninggalkan si yeoja canggung yang harus keluar dari SHS karena dia memiliki
masalah yang jauh lebih besar.
Berdiri,
kujalankan tanganku diatas gaunku untuk merapikan setiap kerutan yang ada
karena duduk di ranjang menimbang apakah menghadiri pesta merupakan suatu
keputusan yang bijak. Aku akan berjalan keluar kesana. Mungkin mengambil
segelas minuman dan melihat adakah seseorang yang mau berbicara denganku. Jika
ternyata menjadi bencana, aku selalu bisa lari kembali kemari, memakai piyamaku
dan meringkuk di tempat tidur. Ini adalah langkah kecil yang baik untukku.
Membuka pintu
pantry, aku melangkah memasuki dapur sangat bersyukur bahwa tidak ada seorang
pun disana. Berjalan keluar dari pantry akan sulit dijelaskan. Aku dapat
mendengar suara tawa Changmin yang kencang
dan berbicara dengan seseorang di
ruang keluarga. Dia mungkin mau mengobrol denganku. Aku bisa melalui hal ini
dengan mudah bersama Changmin. Menarik napas panjang, aku berjalan keluar dari
dapur dan menuruni lorong yang mengarah ke foyer. Mawar putih dan pita perak
ada dimana-mana. Ini mengingatkanku pada pernikahan daripada pesta ulang tahun.
Pintu depan yang terbuka mengejutkanku. Langkahku terhenti dan melihat pada
mata gelap yang familiar menatap mataku. Wajahku menghangat ketika mata
Hyunjoong menilaiku dengan pelan dan lambat.
"Jae,"
ujarnya saat matanya kembali menatap wajahku. "Aku tidak pernah mengira
kau bisa terlihat lebih seksi lagi. Ternyata aku salah."
"Hell, yeah,
nona. Kau terlihat menakjubkan." Namja dengan rambut ikal dan bermata
coklat tersenyum padaku. Aku tidak bisa mengingat namanya. Apakah dia pernah
memberitahuku sebelumnya?
"Gomawo."
Gumamku. Aku bersikap canggung lagi. Ini adalah kesempatanku untuk menyesuaikan
diri. Aku harus mengusahakannya.
"Aku tidak tahu
kalau Yunho mulai main golf lagi. Atau kau disini bersama seseorang?"
Karena bingung aku terdiam sejenak untuk meresapi maksud perkataan Hyunjoong.
Ketika kusadari dia mengira aku disini dengan seseorang yang kutemui di tempat
kerja aku menyeringai. Itu bukan masalah sama sekali.
"Aku kemari
tidak dengan siapapun. Yunho adalah um...well, eommanya Yunho menikah dengan
appaku." Itulah penjelasanku.
Seringai
Hyunjoong yang pelan dan santai semakin melebar ketika dia berjalan kearahku.
"Benarkah? Dia membiarkan dongsaeng tirinya bekerja di club? Ck, ck. Namja
itu tidak punya sopan santun. Jika aku memiliki yodongsaeng dengan wajah
seperti kau, aku akan menyekapnya...sepanjang waktu," Dia berhenti
sebentar dan menyapu pipiku dengan ibu jarinya. "Aku akan menemanimu tentu
saja. Tidak ingin kau merasa kesepian."
Sudah pasti dia
sedang merayuku. Dengan gencar. Dia berada di luar jangkauanku. Dia terlalu
berpengalaman. Aku membutuhkan sedikit ruang.
"Sepasang
kakimu seharusnya dipasangi peringatan. Tidak mungkin tidak disentuh," Dia
merendahkan suaranya sedikit dan aku melihat sekilas melewati bahunya bahwa si
pirang telah meninggalkan kami.
"Apakah
kau...apakah kau berteman dengan Yunho atau uh, Boa?" Tanyaku mengingat
nama yang Changmin gunakan ketika memperkenalkan kami pada malam pertama.
Hyunjoong
mengangkat bahu, "Boa dan aku memiliki hubungan pertemanan yang rumit.
Sedangkan Yunho dan aku telah saling mengenal seumur hidup." Tangan
Hyunjoong meluncur di punggungku. "Aku berani bertaruh Boa pasti
membencimu."
Aku tidak begitu
yakin. Kami tidak pernah berinteraksi semenjak malam itu. "Kami tidak
terlalu saling mengenal."
Hyunjoong
memberengut, "Benarkah? Itu aneh."
"Hyunjoong!
Kau di sini," seorang yeoja berseru saat dia memasuki ruangan. Dia
menolehkan kepalanya untuk melihat yeoja berambut hitam dengan rambut panjang
ikal yang tebal yang memiliki tubuh berlekuk yang dibalut oleh gaun satin
hitam. Ini mungkin yang akan mengalihkan perhatiannya. Aku mulai melangkah dan
kembali kearah dapur. Momen keberanianku telah hilang.
Tangan Hyunjoong
mencengkeram pinggulku, dengan erat memegangku agar diam di tempat.
"Sooyoung nuna," hanya itu jawaban yang Hyunjoongs berikan. Mata
indah yeoja itu beralih dari Hyunjoong kepadaku. Aku memandang dengan tidak
berdaya ketika dia melihat tangan Hyunjoong yang diletakkan di pinggulku. Bukan
ini yang kuinginkan. Aku butuh berbaur.
"Siapakah
dia?" Si yeoja memusatkan matanya dan memandang sepenuhnya padaku.
"Ini Jae.
Dongsaeng barunya Yunho," Hyunjoong menjawab dengan nada bosan.
Si yeoja
menyipitkan matanya dan kemudian dia tertawa. "Tidak, pasti bukan. Dia
mengenakan gaun murahan dan sepatu yang lebih murah lagi. Yeoja ini, siapapun
katanya, sedang berdusta padamu. Tapi kau memang selalu lemah jika berhubungan
dengan wajah cantik, ya kan, Hyunjoong?"
Seharusnya aku
tetap tinggal di kamarku.
"Kenapa kau tidak kembali ke pesta dan
menemukan beberapa namja bodoh untuk mempertajam kukumu, Nuna?"
Hyunjoong berjalan menuju pintu dimana
sebagian besar pesta berada dengan tangannya masih kokoh dipinggulku memaksaku
untuk pergi bersamanya.
"Kupikir aku hanya ingin pergi
kekamarku. Seharusnya aku tidak datang kesini malam ini," kataku, berusaha
menghentikan kami masuk ke dalam pesta. Aku tidak perlu berjalan kesana dengan Hyunjoong.
Sesuatu mengatakan kepadaku itu ide yang buruk.
"Kenapa kau tidak menunjukkan kamarmu?
Aku ingin melarikan diri juga."
Aku menggeleng. "Tidak cukup ruang
untuk kita berdua."
Hyunjoong tertawa dan menunduk untuk
mengatakan sesuatu ditelingaku disaat mataku terkunci dengan tatapan mata musang
Yunho. Dia menatapku lekat. Dia terlihat tidak senang. Undangannya hari ini
hanyalah sopan santun yang keluar dan sesungguhnya tidak diharapkan? Aku salah mengerti?
"Aku harus pergi. Aku tidak berpikir Yunho
ingin aku disini." Aku berbalik untuk menatap Hyunjoong dan melangkah
keluar dari pelukannya.
"Omong kosong Jae. Aku yakin dia
terlalu sibuk untuk khawatir tentang apa yang kau lakukan. Selain itu mengapa
dia tidak ingin melihatmu di pesta yodongsaengnya yang lain?"
Ada yodongsaeng lagi. Mengapa Changmin
mengatakan kepadaku bahwa Yunho tidak punya saudara kandung? Boa jelas adiknya.
"Aku, uh, baiklah, dia tidak benar
benar menyatakanku sebagai keluarga. Aku hanya saudara yang tidak diinginkan
dari suami baru eommanya. Aku sebenarnya hanya disini untuk beberapa minggu
lagi sampai aku bisa pindah sendiri. Aku bukan penghuni tetap dirumah
ini." aku memaksakan senyum, berharap Hyunjoong akan mendapatkan gambaran
dan membiarkanku pergi.
"Tak ada tentangmu yang tidak
diinginkan. Bahkan Yunho tidaklah sebuta itu, brengsek," kata Hyunjoong
mendekatiku kembali karena aku menjauh.
"Kemarilah Jae." suara menuntut Yunho
datang dari belakangku tangan besarnya menyelinap dilenganku menarikku padanya.
"Aku tidak menduga kau datang malam ini."
Peringatan dalam nadanya mengatakanku bahwa aku salah mengerti tentang
undangannya. Dia benar benar tidak serius.
"Mian Yun. Kukira kau bilang aku bisa
datang," aku berbisik memalukan kalau Hyunjoong bisa mendengarnya. Dan
yang lainnya sedang menonton. Saat ini aku memutuskan untuk menjadi berani dan
keluar dari rasa malu dari kejadian ini.
"Aku tidak menduga kau muncul dengan
pakaian seperti itu," jawabnya dengan tenang namun mematikan. Matanya
masih diarahkan pada Hyunjoong. Apa salahnya dengan pakaianku? Eommaku telah
berkorban untuk ku agar memiliki gaun ini dan aku tidak pernah sempat
untuk memakainya. Enam puluh ribu won adalah uang yang banyak bagi kami ketika
dia membelinya. Aku sudah muak dengan sekelompok orang bodoh manja berakting seperti aku mengenakan
sesuatu yang menjijikkan. Aku mencintai gaun ini. Aku mencintai sepatu ini. Bumonimku
bahagia dan sudah pernah saling cinta. Sepatu ini adalah bagian dari itu.
Sialan mereka semua.
Aku menghentak pergi dari Yunho dan kembali
ke dapur. Jika dia tidak ingin aku disini karena teman teman menertawakannya
maka ia harus mengatakannya. Sebaliknya, dia membuatku merasa seperti orang
bodoh.
"Apa masalahmu Jung, dasar brengsek!"
Tanya Hyunjoong marah. Aku tidak melihat kebelakang. Aku berharap mereka berkelahi.
Aku berharap Hyunjoong mematahkan hidung sempurna Yunho yang menjengkelkan. Aku
meragukan karena meskipun Yunho salah satu dari mereka ia terlihat lebih kuat.
"Jae, chankamman!" Changmin
memanggil dan aku ingin mengabaikannya tapi sekarang dia adalah teman terdekat
ku disini. Aku melambat ketika aku mencapai lorong dari semua penonton dan
membiarkan Changmin mengejarku.
"Itu tidak seperti yang kau
pikirkan," kata Changmin, muncul dibelakangku. Aku ingin tertawa. Dia
sangat dibutakan oleh saudaranya yang bersangkutan.
“Gwenchana. Seharusnya aku tidak datang.
Seharusnya aku tahu dia hanya berbasa-basi. Aku berharap dia mengatakan
kepadaku untuk tinggal dikamarku seperti yang di inginkannya. Aku tidak
mengerti dengan permainan kata kata," aku menghentak dan berjalan melalui
dapur langsung menuju pantry.
"Dia memiliki masalah. Aku akan
memberikannya pelajaran, tetapi dia sudah melindungimu dengan caranya aneh yang
mengacaukan" kata Changmin saat tanganku bertemu pegangan kuningan dingin
dipintu pantry.
"Tetaplah percaya pada-nya, Min.
Itulah hal terbaik yang dilakukan saudara," jawabku dan menyentak pintu
terbuka dan menutupnya dibelakangku. Setelah mengambil beberapa napas dalam untuk meringankan sakit di dadaku aku
pergi ke kamarku dan tenggelam ke tempat tidur.
Pesta bukanlah untuk ku. Itu kedua kali nya kualami dan yang pertama tidak
jauh lebih baik. Sebenarnya itu mungkin lebih buruk .Aku pergi untuk
mengejutkan Yihan dan ia justru yang mengejutkanku. Dia ada di kamar Tiffany
Hwang dengan payudara telanjang nya ada di mulut Yihan. Mereka belum
berhubungan seks tapi tentu saja mereka akan segera melakukannya. Aku menutup
pintu diam diam dibelakangku dan keluar melalui pintu belakang. Beberapa orang
melihatku dan tahu apa yg sudah kualami. Yihan muncul di rumahku satu jam
kemudian memintaku untuk memaafkannya dan menangis sambil berlutut.
Aku mencintainya sejak aku berusia tiga
belas tahun dan ia adalah ciuman
pertamaku. Aku tidak bisa membencinya. Aku hanya membiarkannya pergi. Itu
adalah akhir dari hubungan kami. Aku menenangkan hati nuraninya dan kita tetap
berteman. Terkadang ia dalam kondisi
buruk dan mengatakan bahwa dia mencintaiku dan ingin aku kembali tetapi
dari semua itu ia memiliki seorang yeoja berbeda di atas motornya disetiap
akhir pekan. Aku hanyalah kenangan masa kecilnya.
Malam ini tidak ada yang menghianatiku. Aku
baru saja dipermalukan. Meraih kebawah aku melepaskan sepatu eomma dan
menempatkan mereka kembali dengan aman dikotaknya penyimpanan nya. Lalu aku
menempatkannya kembali ke dalam koperku. Aku seharusnya tidak mengenakannya
malam ini. Lain kali aku mengenakan sepatunya akan menjadi saat istimewa. Pasti
untuk seseorang yang istimewa.
Aku melakukan hal yang sama pada gaun ini.
Ketika aku menaruh kembali aku akan memakainya untuk seseorang yang mencintaiku
dan berpikir aku cantik. Label harga pada gaunku tidak masalah. Aku mengulurkan
tangan untuk membuka ritsleting ketika pintu terbuka dan ruangan kecil itu
terisi Yunho. Yunho yang sangat marah.
Dia tidak mengatakan apa apa dan aku
membiarkan tanganku jatuh kembali kesisiku. Aku tidak akan mengambil pakaianku
yang baru saja terlepas. Dia melangkah masuk dan menutup pintu dibelakangnya.
Dia terlalu besar untuk ruangan kecil ini. Aku harus mundur dan duduk ditempat
tidur sehingga ia bisa menyesuaikan
tanpa kita bersentuhan.
"Bagaimana kau mengenal Hyunjoong?"
dia menggertak.
Bingung aku menatapnya dan bertanya tanya
mengapa ia tidak suka aku mengenal Hyunjoong. Bukankah mereka berteman? Apa
itu? dia tidak ingin aku berada disekitar teman temannya. "Appanya pemilik
Kim’s Club.Dia bermain golf. Aku melayani minumannya."
"kenapa kau memakai itu?"
Tanyanya dengan suara keras yang dingin.
Ini adalah keadaan tersudut yang tidak
menyenangkan. Aku kembali berdiri kemudian berjinjit pada ujung jari kakiku,
agar aku berhadapan dengannya. "karena eommaku membelikannya untuk kukenakan. Aku mempertahankannya dan tidak
pernah mendapat kesempatan. Malam ini kau mengundangku dan aku ingin
menyesuaikan diri jadi aku memakai yangg terbaik yang kupunya. Mian jika
menurutmu apa yang kukenakan adalah barang murahan. Kau tau bagaimanapun aku
tidak peduli. Kau dan semua teman teman mu yg sombong dan manja bersikap
terlalu berlebihan."
Aku mendorong dadanya dengan jariku dan
melotot menantangnya untuk mengatakan sekali lagi tentang pakaianku.
Yunho membuka mulutnya kemudian memejamkan
matanya dan menggelengkan kepalanya. "Sial!" geramnya.
Kemudian matanya terbuka lebar dan
tangannya tiba tiba dirambutku dan bibirnya ada dibibirku. Aku tidak tahu bagaimana
untuk bereaksi. Bibirnya lembut tapi menuntut saat ia menjilat dan menggigit
bibir bawahku. Lalu ia menarik bibir atasku kemulutnya dan menghisapnya lembut.
"Aku sudah lama ingin mencicipi bibir
penuh yang manis ini sejak kau berjalan kedalam ruang tamuku" gumamnya
sebelum menggelincirkan lidahnya kedalam mulutku saat aku tersentak mendengar
kata katanya.
Yunho terasa seperti mint dan sesuatu yang mahal.
Lututku lemas dan aku mengulurkan tangan meraih bahunya untuk menahan
kestabilan ku. Kemudian lidahnya membelaiku seakan memintaku untuk bergabung
dengannya. Aku melakukan usapan kecil dimulutnya dan kemudian menggigit lembut
bibir bawahnya. Sebuah erangan kecil keluar dari tenggorokannya dan hal berikut
yang kutahu aku sedang diturunkan ketempat tidur di belakangku.
Tubuh Yunho menimpa tubuhku dan rasa keras
itu adalah ereksinya menekan kedua kakiku.Mata ku berputar di dalam kepala ku
dan aku mendengar erangan tak berdaya datang dari bibirku.
"Manis, terlalu manis." Yunho
berbisik dibibirku sebelum mulutnya tiba tiba menjauh dan melompat kebelakang
lepas dariku. Matanya memusatkan perhatian pada gaunku. Aku menyadari sekarang
gaunku ada di sekeliling pinggangku dan celana dalamku terlihat.
"Brengsek!" ia mengutuk kemudian
memukul tangannya kedinding sebelum menyentak pintu terbuka dan keluar seperti
sedang dikejar.
Dinding bergetar dari tenaga yang
dikeluarkan saat menutup pintu. Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa. Jantungku
berdebar debar dan ada sakit yang kukenal diantara kedua kakiku. Aku sudah pernah
terangsang sebelum melihat adegan seks di TV tetapi tidak pernah seintens ini.
Aku merasa sangat dekat. Dia tidak mengiginkannya tapi dia memilikinya. Aku
merasakannya tapi kemudian aku juga melihat dia berhubungan seks dengan seorang
yeoja. Selain itu, aku tahu semalam dia berhubungan seks dengan yeoja lain dan
kemudian mengirimnya pergi. Mendapatkan Yunho keras bukanlah sebuah prestasi
besar. Aku tidak benar benar mencapai apapun. Dia hanya marah karena miliknya
sudah kurangsang.
Itu menyakitkan. Mengetahui dia sangat
tidak menyukaiku bahwa dia tidak ingin berpikir aku menarik untuknya. Denyutan
di antara kedua kakiku perlahan lahan memudar karena kenyataan yang ada. Yunho
tidak ingin meyentuhku. Dia sangat marah karena itulah dia.Meskipun terangsang
dia masih bisa menjauh dari ku. Aku punya perasaan aku berada dikelompok kecil.
Kebanyakan yeoja yeoja yang diinginkan dimilikinya. Dia tidak bisa memaksaku
mengacaukan dirinya. Aku adalah orang miskin yang terjebak dengannya sampai aku
punya cukup uang untuk pindah.
Aku berguling dan meringkuk menjadi bola.
Mungkin aku tidak akan mengenakan gaun ini lagi. Hanya akan menjadi kenangan
menyedihkan. Sudah waktunya aku mengemasnya pergi demi kebaikan. Meskipun malam
ini aku akan tidur di dalamnya. Ini akan menjadi perpisahan di dalam mimpiku.
Yang mana aku cukup diinginkan bagi beberapa namja.
.
.
.
.
To Be Continue

aaaaa kenapa ma yunho ???
ReplyDeleteyunho punya perasaan apa ma Jae ?
suka, sayang taw cuma nafsu doank ???
tapi aq lebih penasaran ma yg dibilang Saki, "Saki juga frustasi pengen ngebunuh orang yang bikin Yun pengen ngejauh mulu dari Jae..."
penasaran !!!
jgn bilang Boa orgnya ??? lol
soalnya chapter sblomnya da yg ngmong Boa gk bkal biarin gitu,,,klo gk salah.
Pengen lanjut lagi......
fighting !!!!!
Bnr bgt saki.. ff kt cm bwt having fun...bkn bwt d tiru... jeje jgn d bash donk..aq jg fans ny jeje. Aku jg sesih klo idolaku bnran menyimpang.tp kli jadianny sama beruang endut yunyun sih ga apa lah...ahahaha. kata gay itu br spekulasi org aja. Jeje sndiri blm pernah nunjukin atwpun ngaku lho.
ReplyDeleteDan klo ada di depan mata ky tmn saki itu yg incest pasti syerem..hhhh
Hohoho.. yunho mulai ga tahan tuhh... tp dia masih gengsi ngakuin hatinya.
Jeje mau pindah yahh.. aku stuju..biarin ntr si beruang pasti ngejer2.
Aku penasaran saki ..siapa orang yang bikin yun ngejauhin jae ???
ReplyDeleteBerarti selama ini yun punya rasa ama jae ...
loh koq gk diterusin
ReplyDeletekykx yunnahan gtu y
wae