Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki
Remake from Abby Glines Story
Starring: Jung Yunho, Kim
Jaejoong
Marga disesuaikan untuk
kepentingan cerita
Chapter 9
Beberapa mobil diparkir di luar ketika aku pulang ke rumah Yunho
setelah bekerja. Paling tidak aku tidak akan memergokinya berhubungan seks.
Sekarang aku tahu seberapa hebat ciumannya itu dan betapa menyenangkan rasanya
saat tangannya berada di tubuhku, aku tidak yakin aku bisa menahan diri jika melihat dia melakukan hal itu dengan
orang lain.
Konyol.
Tapi itu benar.
Aku membuka pintu dan melangkah masuk.
Musik seksi terdengar sangat keras dari 'sound system' yang ada di setiap
ruangan. Ya, setiap kamar kecuali kamar milikku. Aku mulai melangkah ke dapur
ketika aku mendengar seorang yeoja mengerang. Perutku melilit. Aku mencoba
untuk mengabaikannya, tapi kakiku rasanya tertanam kuat di lantai marmer. Aku
tidak bisa bergerak.
"Yaes, Yun, baby, like that. Ah… Lebih
keras. Hisap lebih keras." dia berteriak.
Aku benar-benar cemburu dibuatnya dan itu
membuatku marah. Aku seharusnya tidak peduli. Dia menciumku sekali dan
membuatnya mengumpat dan pergi.
Aku bergerak ke arah suara itu meskipun aku
tahu 'itu' adalah sesuatu yang tidak ingin kulihat. Rasanya seperti ditabrak
kereta api. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatnya bahkan jika aku
tidak ingin itu membuat otakku mendidih.
"Mmmmm ya, jebbal baby… sentuh aku
disana." pintanya. Aku menarik diri tapi aku tetap menuju kesana.
Melangkahkan kakiku ke ruang tamu, aku
menemukan mereka di sofa. Baju atasan yeoja itu benar-benar telah terlepas
dengan salah satu putingnya berada di mulut Yunho. sementara tangan Yunho
bermain di antara kedua kaki yeoja itu. Aku tidak bisa melihat ini. Aku harus
keluar dari sini. Sekarang.
Aku berputar, bergegas ke pintu depan,
tidak peduli apakah aku melakukannya dengan diam-diam atau tidak. Aku sudah
berada di truk ku dan keluar dari jalan masuk sebelum salah satu dari mereka
menyadari bahwa mereka telah terlihat. Dia malakukan itu di sana, di sofa siapa
saja bisa masuk dan melihat apa yang mereka lakukan. Dia tahu aku bisa pulang
setiap saat.
Faktanya adalah, dia ingin aku melihatnya.
Dia mengingatkan ku bahwa ia adalah sesuatu
yang tidak bisa ku miliki.
Sekarang, aku tidak menginginkannya.
Aku menyetir ke arah kota dengan marah pada
diriku sendiri karena membuang bensin. Harusnya aku berhemat. Aku mencari
telepon umum tapi tidak dapat menemukannya di mana pun. Era telpon umum sudah
lama berlalu. Jika kau tidak memiliki ponsel maka kau akan celaka. Aku tidak
yakin siapa yang akan ku telpon. Aku bisa menelepon Yihan. Aku tidak berbicara
dengannya sejak aku pergi minggu lalu. Biasanya kami berbicara setidaknya
sekali seminggu. Tapi tanpa telepon kami tidak bisa melakukan itu.
Aku punya nomor Changmin yang tersimpan di
tasku. Tapi untuk apa aku menelponnya? Itu sangat aneh. Aku tidak tahu apa yang
akan ku katakan pada nya. Aku menepi ke tempat parkir dari satu-satunya kedai
kopi di kota dan memarkir truk. Aku bisa pergi minum kopi dan melihat majalah
selama beberapa jam. Mungkin saat itu Yunho sudah selesai dengan kegiatan
bercintanya di bawah tangga.
Jika dia sedang mencoba untuk
memperingatkanku, aku telah menerimanya dengan tegas dan jelas. Bukan berarti
aku tidak membutuhkannya. Aku sudah menerima kenyataan bahwa namja kaya bukan
untukku. Aku lebih menyukai gagasan menemukan namja baik dengan pekerjaan
biasa. Namja yang akan menghargai gaun merah dan sepatu perakku.
Aku melompat turun dari truk dan mulai
menuju kedai kopi ketika aku melihat Junsu dengan Yoochun didalam. Mereka
sedang berdiskusi panas di meja paling pojok belakang tapi aku bisa melihat
mereka melalui jendela. Setidaknya dia telah mengajaknya keluar. Aku berharap
yang terbaik untuknya dan membiarkannya sendiri. Aku bukan eommanya itu. Junsu
mungkin lebih tua dariku. Setidaknya dia tampak lebih tua. Dia bisa mengambil
keputusan sendiri dengan siapa dia ingin menghabiskan waktu nya. Udara asin
laut menggelitik hidungku. Aku berjalan menyeberangi jalan menuju ke pantai.
Setidaknya, Aku bisa sendirian disana.
Suara ombak menabrak karang begitu
menenangkan. Aku berjalan. Aku teringat eommaku. Aku bahkan membiarkan diriku
untuk mengingat unnieku, itu adalah sesuatu yang sangat jarang kulakukan karena
rasanya terlalu menyakitkan setiap saat. Malam ini, aku ingin merasakannya. Aku
butuh mengingat bahwa aku pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk daripada
tingkah bodoh seorang namja yang benar-benar sama sekali bukan tipeku. Aku
biarkan kenangan yang lebih baik membanjiri pikiranku...dan aku berjalan.
Sudah hampir tengah malam ketika aku naik
ke truk ku dan kembali ke jalan menuju rumah Yunho dan tidak ada mobil di luar rumah. Siapa pun
yang ada di sini sekarang telah pergi. Aku menutup pintu truk dan berjalan
menuju tangga. Lampu depan membuat rumah
terlihat temaram dan menakutkan di malam hari. Sama seperti Yunho.
Pintu terbuka sebelum aku sampai di sana
dan Yunho berdiri di sana memenuhi pintu masuk. Dia di sini untuk memberitahuku
untuk pergi. Lagipula aku juga mengharapkan hal itu. Aku bahkan tidak
bergeming. Sebaliknya, aku melihat sekeliling mencari koper ku.
"Ke mana saja kau?" Tanyanya
dengan suara serak yang dalam.
Aku mengarahkan tatapanku padanya.
"Apakah itu penting?"
Dia melangkah ke luar pintu dan
mempersempit ruang antara kami. "Karena aku khawatir."
Dia khawatir?
Aku menghela napas dan menyelipkan rambut
yang terus saja terbang menutup wajahku ke belakang telingaku. "Aku
mengerti bahwa kenyataan sulit dipercaya. Kau terlalu sibuk dengan perusahaanmu
malam ini untuk memperhatikan hal lain." Aku tidak bisa menjaga kepahitan
yang keluar dari mulutku.
"Kau datang lebih awal dari yang ku
harapkan. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu untuk melihat hal itu."
Sepertinya perkataannya membuatnya lebih
baik. Aku mengangguk dan menggeser kakiku. "Aku pulang ke rumah pada waktu
yang sama tiap malam. Aku pikir kau ingin aku melihatnya. Kenapa, aku tidak
yakin. Aku tidak punya perasaan padamu, Yunho. Aku hanya perlu tempat untuk
tinggal selama beberapa hari lagi. Aku akan pindah dari rumahmu dan hidup sendiri."
Dia mengumpat kemudian menatap langit
sesaat sebelum melihat ke arahku. "Ada hal tentangku yang kau tidak tahu.
Aku bukan salah satu dari namja yang bisa kau kuasai. Aku memiliki ruang.
Sangat luas. Terlalu luas untuk orang sepertimu. Aku mengharapkan seseorang
yang begitu berbeda mengingat aku sudah bertemu appamu. Kau tidak seperti dia.
Kau adalah segalanya yang namja inginkan tapi
aku harus menjauhimu. Karena aku tidak baik untukmu."
Aku tertawa keras.
Itu adalah permintaan maaf terburuk untuk perilakunya
yang pernah kudengar. "Jinja? Itu kah hal
yang terbaik yang kau punya? Aku tidak pernah meminta sesuatu darimu yang lebih dari sebuah kamar.
Aku tidak mengharapkan kau menginginkanku. Aku tidak pernah melakukannya. Aku
sadar bahwa aku dan kau berada di dua dunia yang berbeda. kau berada di dunia
yang tak pernah kubayangkan akan kugapai. Aku bukan orang yang tepat. Aku
mengenakan gaun merah murah dan aku suka dengan sepasang sepatu perak karena eommaku
memakainya di hari pernikahannya. Aku tidak memerlukan barang-barang desainer.
Dan KAU adalah seorang perancang, Jung."
Yunho meraih tanganku dan menarikku ke
dalam. Tanpa sepatah kata pun, dia mendorongku ke dinding dan mengurungku
dengan kedua tangannya yang menekan dinding di samping kepalaku. "Aku
bukan desainer. Tanamkan itu di kepalamu. Aku tidak bisa menyentuhmu. Aku
begitu ingin menyentuh mu hingga terasa menyakitkan seperti sebuah siksaan tapi
aku tidak bisa. Aku tidak ingin menyakitimu. Kau...kau terlalu sempurna dan tak
tersentuh. Dan pada akhirnya kau tidak akan pernah memaafkanku."
Hatiku berdebar menyakitkan. Kesedihan di
matanya bukan sesuatu yang mampu Ku lihat di luar. Aku bisa melihat emosi di
kedalaman mata perak itu. Dahinya berkerut seolah-olah ada sesuatu yang
menyakitinya.
"Bagaimana jika aku ingin kau
menyentuhku? Mungkin aku bukan tak tersentuh. Mungkin aku sudah tercemar.
"
Tubuhku tak tersentuh tetapi menatap ke
mata Yunho aku ingin mengurangi sakit nya. Aku tidak ingin dia menjaga jarak
dariku. Aku ingin membuatnya tersenyum. Wajah tampannya tidak seharusnya
terlihat begitu menakutkan.
Dia menjalankan jarinya menelusuri sisi
wajahku dan menelusuri lekuk telingaku kemudian dia menggosokkan jempolnya
diatas daguku. "Aku sudah melakukannya dengan banyak yeoja, Jae. dan
percayalah, aku belum pernah bertemu dengan orang yang sangat sempurna
sepertimu. Tatapan polosmu berteriak padaku. Aku ingin membuka setiap inci
pakaianmu dan mengubur diriku di dalam dirimu, tapi aku tidak bisa. Kau
melihatku malam ini. Aku adalah bajingan. Aku tidak bisa menyentuhmu."
Aku telah melihatnya malam ini. Dan Aku
melihatnya di malam yang lain juga. Dia melakukannya dengan banyak yeoja, tapi
dia tidak ingin menyentuhku. Dia pikir aku terlalu sempurna. Aku berada di atas
awan dan ia ingin menjaga ku di sana.Mungkin dia harus seperti itu. Aku tidak
bisa tidur dengannya dan tidak memberinya sepotong hatiku. Dia sudah bersusah payah
menjaga diri nya. jika aku membiarkan dia memiliki tubuhku, dia bisa saja
menyakitiku dengan cara yang tidak pernah terbayangkan. Pertahanan diriku akan
runtuh.
"Arra," kataku. Aku tidak akan
berdebat. Ini benar. "Bisakah kita setidaknya berteman? Aku tidak ingin
kau membenciku. aku ingin berteman."
Aku terdengar menyedihkan. Aku merasa
sangat kesepian, aku membungkuk untuk memohon agar memiliki teman.
Dia menutup matanya dan mengambil napas
dalam-dalam. "Aku akan menjadi temanmu. Aku akan mencoba sekuat tenaga untuk
menjadi temanmu, tapi aku harus berhati-hati. aku tidak bisa terlalu dekat. Kau
membuatku menginginkan hal-hal yang tak bisa ku memiliki. Tubuhmu yang kecil
dan manis terasa terlalu luar biasa jika berada di bawahku"
ia merendahkan suaranya dan mendekatkan
bibirnya ke telingaku, "dan rasa tubuhmu itu memabukkan. Aku memimpikan
tentang hal itu. Aku berfantasi tentang hal itu. Aku tahu kau akan terasa
sangat lezat di dalam...bagian...yang lainnya."
Aku bersandar padanya dan menutup mata saat
napasnya terasa berat di telingaku. "Kita tidak bisa. Brengsek. Kita tidak
bisa. Teman, ya Jae. Hanya teman," bisiknya kemudian menjauh dariku dan
berjalan menuju tangga.
Aku bersandar ke dinding dan
memperhatikannya pergi. Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku mendesis akibat
kata-kata dan kedekatannya.
"Aku tidak ingin kau berada bawah
tangga sialan. Aku benci itu. Tapi aku tidak bisa membawamu kesini. Aku tidak
akan pernah bisa menjauh darimu. Aku ingin kau aman, "katanya tanpa
melihat ke arahku.
Tangannya mencengkeram pagar di tangga
sampai buku-buku jarinya memutih. Dia berdiri di sana satu menit lagi sebelum
memaksa dirinya untuk melangkah pergi dan menaiki tangga. Ketika kudengar pintu
tertutup aku merosot ke lantai.
"Oh, Yun. Bagaimana kita bisa seperti
ini? Aku butuh jarak," bisikku ke ruangan kosong.
Aku harus menemukan orang lain sebagai
fokus baruku. Seseorang yang bukan Yunho. Seseorang yang bersedia. Itu
satu-satunya caraku agar tidak jatuh terlalu jauh. Yunho sangat berbahaya untuk
hatiku. Jika kami akan menjadi teman maka aku harus menemukan orang lain untuk
memusatkan perhatianku. Secepatnya.
.
.
.
.
To Be Continue

oh my Jae,,,, Yun,, sesempurna dan seberharga itukah neng Jaejae ???
ReplyDeletetapi salut ma pertahanan Yun biar gk nyakitin JJ
Sakiiiiiii,,,,apa yg diomongin Junsu ma Jae soal Yun ma Boa ????
jeballllllll,,,,penasaran bgtttttt
Dan seseorg bwt mengalihkan perhatian Jae aka pelarian sapa tuh ? Chang, Chun, taw hyunjoong ????
apdettt lgi Sakiiiiii
fighting !!!!
oh ya ketinggalanm....
ReplyDelete*lope lope lope* dah buah Saki yg bisa ngertiin readers yg kagak sabaran pengen tau lanjutannya,,,salah satunya diriku ini
Gomapta, chingu~ya !!!!! ^_^
Entah knp kalo yunjae jd main cast aq suka slightnya minjae, hahahaha....km sm aja ky dongsaengq suka bgt sm let it go
ReplyDeleteTerlalu rumit. Apa yg ngebuat BoA begitu posesif dg Yunho? Yunho tau dirinya brengsek dan dia nggak bisa menjanjikan kebahagiaan tp bisakah utk mencoba? Jae jg galau antara tertarik dg Yunho krn cinta atau krn nafsu? Yunho begitu sempurna utk diabaikan
ReplyDeleteApa alasan yunho sbnrny.. ga mungkin karna ia meraaa jj terlalu sempurna khan? Klo cm itu sih mnrtku dia cukup meninggalkan yeoja2 itu dan brsaha mjd org yg lbh baik lg.
ReplyDeleteI dunno...entah ada apa dg yunho sbnrny? Apa ada hubungannya dg sikap Boa yg possesive pd oppany, yunho?
Tetep ya saki SDA masih jd my fav..huehehe
jae ditolak
ReplyDeletepdhl yun mupeng loh