Saturday, March 29

[Remake] The Untittled Story Chapter IX


Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story

Kitahara Saki

Remake from Abby Glines Story

Starring: Jung Yunho, Kim Jaejoong

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita

Chapter 9
Beberapa mobil  diparkir di luar ketika aku pulang ke rumah Yunho setelah bekerja. Paling tidak aku tidak akan memergokinya berhubungan seks. Sekarang aku tahu seberapa hebat ciumannya itu dan betapa menyenangkan rasanya saat tangannya berada di tubuhku, aku tidak yakin aku bisa menahan diri  jika melihat dia melakukan hal itu dengan orang lain.
Konyol.
Tapi itu benar.
Aku membuka pintu dan melangkah masuk. Musik seksi terdengar sangat keras dari 'sound system' yang ada di setiap ruangan. Ya, setiap kamar kecuali kamar milikku. Aku mulai melangkah ke dapur ketika aku mendengar seorang yeoja mengerang. Perutku melilit. Aku mencoba untuk mengabaikannya, tapi kakiku rasanya tertanam kuat di lantai marmer. Aku tidak bisa bergerak.
"Yaes, Yun, baby, like that. Ah… Lebih keras. Hisap lebih keras." dia berteriak.
Aku benar-benar cemburu dibuatnya dan itu membuatku marah. Aku seharusnya tidak peduli. Dia menciumku sekali dan membuatnya mengumpat dan pergi.
Aku bergerak ke arah suara itu meskipun aku tahu 'itu' adalah sesuatu yang tidak ingin kulihat. Rasanya seperti ditabrak kereta api. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatnya bahkan jika aku tidak ingin itu membuat otakku mendidih.
"Mmmmm ya, jebbal baby… sentuh aku disana." pintanya. Aku menarik diri tapi aku tetap menuju kesana.
Melangkahkan kakiku ke ruang tamu, aku menemukan mereka di sofa. Baju atasan yeoja itu benar-benar telah terlepas dengan salah satu putingnya berada di mulut Yunho. sementara tangan Yunho bermain di antara kedua kaki yeoja itu. Aku tidak bisa melihat ini. Aku harus keluar dari sini. Sekarang.
Aku berputar, bergegas ke pintu depan, tidak peduli apakah aku melakukannya dengan diam-diam atau tidak. Aku sudah berada di truk ku dan keluar dari jalan masuk sebelum salah satu dari mereka menyadari bahwa mereka telah terlihat. Dia malakukan itu di sana, di sofa siapa saja bisa masuk dan melihat apa yang mereka lakukan. Dia tahu aku bisa pulang setiap saat.
Faktanya adalah, dia ingin aku melihatnya.
Dia mengingatkan ku bahwa ia adalah sesuatu yang tidak bisa ku miliki.
Sekarang, aku tidak menginginkannya.
Aku menyetir ke arah kota dengan marah pada diriku sendiri karena membuang bensin. Harusnya aku berhemat. Aku mencari telepon umum tapi tidak dapat menemukannya di mana pun. Era telpon umum sudah lama berlalu. Jika kau tidak memiliki ponsel maka kau akan celaka. Aku tidak yakin siapa yang akan ku telpon. Aku bisa menelepon Yihan. Aku tidak berbicara dengannya sejak aku pergi minggu lalu. Biasanya kami berbicara setidaknya sekali seminggu. Tapi tanpa telepon kami tidak bisa melakukan itu.
Aku punya nomor Changmin yang tersimpan di tasku. Tapi untuk apa aku menelponnya? Itu sangat aneh. Aku tidak tahu apa yang akan ku katakan pada nya. Aku menepi ke tempat parkir dari satu-satunya kedai kopi di kota dan memarkir truk. Aku bisa pergi minum kopi dan melihat majalah selama beberapa jam. Mungkin saat itu Yunho sudah selesai dengan kegiatan bercintanya di bawah tangga.
Jika dia sedang mencoba untuk memperingatkanku, aku telah menerimanya dengan tegas dan jelas. Bukan berarti aku tidak membutuhkannya. Aku sudah menerima kenyataan bahwa namja kaya bukan untukku. Aku lebih menyukai gagasan menemukan namja baik dengan pekerjaan biasa. Namja yang akan menghargai gaun merah dan sepatu perakku.
Aku melompat turun dari truk dan mulai menuju kedai kopi ketika aku melihat Junsu dengan Yoochun didalam. Mereka sedang berdiskusi panas di meja paling pojok belakang tapi aku bisa melihat mereka melalui jendela. Setidaknya dia telah mengajaknya keluar. Aku berharap yang terbaik untuknya dan membiarkannya sendiri. Aku bukan eommanya itu. Junsu mungkin lebih tua dariku. Setidaknya dia tampak lebih tua. Dia bisa mengambil keputusan sendiri dengan siapa dia ingin menghabiskan waktu nya. Udara asin laut menggelitik hidungku. Aku berjalan menyeberangi jalan menuju ke pantai. Setidaknya, Aku bisa sendirian disana.
Suara ombak menabrak karang begitu menenangkan. Aku berjalan. Aku teringat eommaku. Aku bahkan membiarkan diriku untuk mengingat unnieku, itu adalah sesuatu yang sangat jarang kulakukan karena rasanya terlalu menyakitkan setiap saat. Malam ini, aku ingin merasakannya. Aku butuh mengingat bahwa aku pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk daripada tingkah bodoh seorang namja yang benar-benar sama sekali bukan tipeku. Aku biarkan kenangan yang lebih baik membanjiri pikiranku...dan aku berjalan.
Sudah hampir tengah malam ketika aku naik ke truk ku dan kembali ke jalan menuju rumah Yunho  dan tidak ada mobil di luar rumah. Siapa pun yang ada di sini sekarang telah pergi. Aku menutup pintu truk dan berjalan menuju tangga. Lampu depan membuat  rumah terlihat temaram dan menakutkan di malam hari. Sama seperti Yunho.
Pintu terbuka sebelum aku sampai di sana dan Yunho berdiri di sana memenuhi pintu masuk. Dia di sini untuk memberitahuku untuk pergi. Lagipula aku juga mengharapkan hal itu. Aku bahkan tidak bergeming. Sebaliknya, aku melihat sekeliling mencari koper ku.
"Ke mana saja kau?" Tanyanya dengan suara serak yang dalam.
Aku mengarahkan tatapanku padanya. "Apakah itu penting?"
Dia melangkah ke luar pintu dan mempersempit ruang antara kami. "Karena aku khawatir."
Dia khawatir?
Aku menghela napas dan menyelipkan rambut yang terus saja terbang menutup wajahku ke belakang telingaku. "Aku mengerti bahwa kenyataan sulit dipercaya. Kau terlalu sibuk dengan perusahaanmu malam ini untuk memperhatikan hal lain." Aku tidak bisa menjaga kepahitan yang keluar dari mulutku.
"Kau datang lebih awal dari yang ku harapkan. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu untuk melihat hal itu."
Sepertinya perkataannya membuatnya lebih baik. Aku mengangguk dan menggeser kakiku. "Aku pulang ke rumah pada waktu yang sama tiap malam. Aku pikir kau ingin aku melihatnya. Kenapa, aku tidak yakin. Aku tidak punya perasaan padamu, Yunho. Aku hanya perlu tempat untuk tinggal selama beberapa hari lagi. Aku akan pindah  dari rumahmu dan hidup sendiri."
Dia mengumpat kemudian menatap langit sesaat sebelum melihat ke arahku. "Ada hal tentangku yang kau tidak tahu. Aku bukan salah satu dari namja yang bisa kau kuasai. Aku memiliki ruang. Sangat luas. Terlalu luas untuk orang sepertimu. Aku mengharapkan seseorang yang begitu berbeda mengingat aku sudah bertemu appamu. Kau tidak seperti dia. Kau adalah segalanya yang namja inginkan tapi  aku harus menjauhimu. Karena aku tidak baik untukmu."
Aku tertawa keras.
Itu adalah permintaan maaf terburuk untuk perilakunya yang pernah kudengar. "Jinja? Itu kah hal  yang terbaik yang kau punya? Aku tidak pernah meminta  sesuatu darimu yang lebih dari sebuah kamar. Aku tidak mengharapkan kau menginginkanku. Aku tidak pernah melakukannya. Aku sadar bahwa aku dan kau berada di dua dunia yang berbeda. kau berada di dunia yang tak pernah kubayangkan akan kugapai. Aku bukan orang yang tepat. Aku mengenakan gaun merah murah dan aku suka dengan sepasang sepatu perak karena eommaku memakainya di hari pernikahannya. Aku tidak memerlukan barang-barang desainer. Dan KAU adalah seorang perancang, Jung."
Yunho meraih tanganku dan menarikku ke dalam. Tanpa sepatah kata pun, dia mendorongku ke dinding dan mengurungku dengan kedua tangannya yang menekan dinding di samping kepalaku. "Aku bukan desainer. Tanamkan itu di kepalamu. Aku tidak bisa menyentuhmu. Aku begitu ingin menyentuh mu hingga terasa menyakitkan seperti sebuah siksaan tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin menyakitimu. Kau...kau terlalu sempurna dan tak tersentuh. Dan pada akhirnya kau tidak akan pernah memaafkanku."
Hatiku berdebar menyakitkan. Kesedihan di matanya bukan sesuatu yang mampu Ku lihat di luar. Aku bisa melihat emosi di kedalaman mata perak itu. Dahinya berkerut seolah-olah ada sesuatu yang menyakitinya.
"Bagaimana jika aku ingin kau menyentuhku? Mungkin aku bukan tak tersentuh. Mungkin aku sudah tercemar. "
Tubuhku tak tersentuh tetapi menatap ke mata Yunho aku ingin mengurangi sakit nya. Aku tidak ingin dia menjaga jarak dariku. Aku ingin membuatnya tersenyum. Wajah tampannya tidak seharusnya terlihat begitu menakutkan.
Dia menjalankan jarinya menelusuri sisi wajahku dan menelusuri lekuk telingaku kemudian dia menggosokkan jempolnya diatas daguku. "Aku sudah melakukannya dengan banyak yeoja, Jae. dan percayalah, aku belum pernah bertemu dengan orang yang sangat sempurna sepertimu. Tatapan polosmu berteriak padaku. Aku ingin membuka setiap inci pakaianmu dan mengubur diriku di dalam dirimu, tapi aku tidak bisa. Kau melihatku malam ini. Aku adalah bajingan. Aku tidak bisa menyentuhmu."
Aku telah melihatnya malam ini. Dan Aku melihatnya di malam yang lain juga. Dia melakukannya dengan banyak yeoja, tapi dia tidak ingin menyentuhku. Dia pikir aku terlalu sempurna. Aku berada di atas awan dan ia ingin menjaga ku di sana.Mungkin dia harus seperti itu. Aku tidak bisa tidur dengannya dan tidak memberinya sepotong hatiku. Dia sudah bersusah payah menjaga diri nya. jika aku membiarkan dia memiliki tubuhku, dia bisa saja menyakitiku dengan cara yang tidak pernah terbayangkan. Pertahanan diriku akan runtuh.
"Arra," kataku. Aku tidak akan berdebat. Ini benar. "Bisakah kita setidaknya berteman? Aku tidak ingin kau membenciku. aku ingin berteman."
Aku terdengar menyedihkan. Aku merasa sangat kesepian, aku membungkuk untuk memohon agar memiliki teman.
Dia menutup matanya dan mengambil napas dalam-dalam. "Aku akan menjadi temanmu. Aku akan mencoba sekuat tenaga untuk menjadi temanmu, tapi aku harus berhati-hati. aku tidak bisa terlalu dekat. Kau membuatku menginginkan hal-hal yang tak bisa ku memiliki. Tubuhmu yang kecil dan manis terasa terlalu luar biasa jika berada di bawahku"
ia merendahkan suaranya dan mendekatkan bibirnya ke telingaku, "dan rasa tubuhmu itu memabukkan. Aku memimpikan tentang hal itu. Aku berfantasi tentang hal itu. Aku tahu kau akan terasa sangat lezat di dalam...bagian...yang lainnya."
Aku bersandar padanya dan menutup mata saat napasnya terasa berat di telingaku. "Kita tidak bisa. Brengsek. Kita tidak bisa. Teman, ya Jae. Hanya teman," bisiknya kemudian menjauh dariku dan berjalan menuju tangga.
Aku bersandar ke dinding dan memperhatikannya pergi. Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku mendesis akibat kata-kata dan kedekatannya.
"Aku tidak ingin kau berada bawah tangga sialan. Aku benci itu. Tapi aku tidak bisa membawamu kesini. Aku tidak akan pernah bisa menjauh darimu. Aku ingin kau aman, "katanya tanpa melihat ke arahku.
Tangannya mencengkeram pagar di tangga sampai buku-buku jarinya memutih. Dia berdiri di sana satu menit lagi sebelum memaksa dirinya untuk melangkah pergi dan menaiki tangga. Ketika kudengar pintu tertutup aku merosot ke lantai.
"Oh, Yun. Bagaimana kita bisa seperti ini? Aku butuh jarak," bisikku ke ruangan kosong.
Aku harus menemukan orang lain sebagai fokus baruku. Seseorang yang bukan Yunho. Seseorang yang bersedia. Itu satu-satunya caraku agar tidak jatuh terlalu jauh. Yunho sangat berbahaya untuk hatiku. Jika kami akan menjadi teman maka aku harus menemukan orang lain untuk memusatkan perhatianku. Secepatnya.
.
.
.
.
To Be Continue

6 comments:

  1. oh my Jae,,,, Yun,, sesempurna dan seberharga itukah neng Jaejae ???
    tapi salut ma pertahanan Yun biar gk nyakitin JJ

    Sakiiiiiii,,,,apa yg diomongin Junsu ma Jae soal Yun ma Boa ????
    jeballllllll,,,,penasaran bgtttttt

    Dan seseorg bwt mengalihkan perhatian Jae aka pelarian sapa tuh ? Chang, Chun, taw hyunjoong ????

    apdettt lgi Sakiiiiii

    fighting !!!!

    ReplyDelete
  2. oh ya ketinggalanm....

    *lope lope lope* dah buah Saki yg bisa ngertiin readers yg kagak sabaran pengen tau lanjutannya,,,salah satunya diriku ini
    Gomapta, chingu~ya !!!!! ^_^

    ReplyDelete
  3. Entah knp kalo yunjae jd main cast aq suka slightnya minjae, hahahaha....km sm aja ky dongsaengq suka bgt sm let it go

    ReplyDelete
  4. Terlalu rumit. Apa yg ngebuat BoA begitu posesif dg Yunho? Yunho tau dirinya brengsek dan dia nggak bisa menjanjikan kebahagiaan tp bisakah utk mencoba? Jae jg galau antara tertarik dg Yunho krn cinta atau krn nafsu? Yunho begitu sempurna utk diabaikan

    ReplyDelete
  5. Jaenna ♥10:53 PM

    Apa alasan yunho sbnrny.. ga mungkin karna ia meraaa jj terlalu sempurna khan? Klo cm itu sih mnrtku dia cukup meninggalkan yeoja2 itu dan brsaha mjd org yg lbh baik lg.

    I dunno...entah ada apa dg yunho sbnrny? Apa ada hubungannya dg sikap Boa yg possesive pd oppany, yunho?

    Tetep ya saki SDA masih jd my fav..huehehe

    ReplyDelete
  6. jae ditolak
    pdhl yun mupeng loh

    ReplyDelete