Tuesday, March 25

[Remake] The Untittled Story Chapter III


Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story

 ©Kitahara Saki

Remake from Abby Glines Story

Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita

Chapter 3
Meskipun tidak ada jendela di kamar ini yang memberitahukanku bahwa matahari telah terbit, aku tahu aku telah kesiangan. Aku kelelahan selama empat jam menyetir dan derap kaki di tangga selama berjam-jam setelah aku berbaring hingga tertidur pulas. Meregangkan badan, aku duduk dan menyalakan saklar lampu di dinding. Bola lampu kecil menerangi kamar dan aku meraih ke bawah ranjang untuk menarik koperku.
Aku perlu mandi dan aku perlu memakai kamar kecil. Mungkin semua orang masih tertidur dan aku bisa menyelinap ke kamar mandi tanpa ada seseorang yang mengetahuinya. Changmin tidak menunjukkan padaku di mana kamar mandinya kemarin malam. Semua inilah yang harus aku terima. Berharap dengan mandi cepat tidak akan melampaui batas.
Aku meraih celana dalam bersih dan sebuah celana pendek hitam dan tank top putih. Jika aku beruntung, aku bisa segera keluar dari kamar mandi sebelum Yunho turun ke lantai bawah.
Aku membuka pintu yang menuju ke pantry kemudian berjalan melewati deretan rak yang menyimpan banyak makanan lebih dari yang dibutuhkan semua orang. Aku dengan perlahan memutar kenop pintu dan dengan mudah itu terbuka. Lampu dapur mati dan satu-satunya cahaya berasal dari sinar matahari yang masuk melalui jendela besar yang menjorok ke lautan. Jika aku tidak begitu ingin buang air kecil aku akan menikmati pemandangan itu beberapa saat. Tapi kebutuhan alam sudah memanggil dan aku harus pergi. Rumah ini sunyi. Botol minuman  mengotori rumah, bersama dengan sisa makanan dan beberapa potong pakaian. Aku akan membersihkannya. Jika aku ternyata lebih berguna mungkin aku harus tinggal hingga aku dapat kerja dan gaji pertama atau kedua.
Aku perlahan membuka pintu pertama yang kudatangi, khawatir bisa saja itu kamar tidur. Ternyata itu hanya tempat menyimpan baju. Menutup pintu, aku kembali menuju ke ruangan yang menuju ke tangga. Jika hanya satu-satunya kamar mandi di sini gabung dengan kamar tidur maka aku pasti sial. Kecuali…mungkin di luar sana ada satu kamar mandi yang digunakan orang-orang setelah seharian di pantai. Bibi Hwang pasti mandi dan memakai kamar kecil juga. Berbalik aku menuju ke dapur dan dua pintu kaca yang terbuka tadi malam. Menatap sekeliling,aku melihat ada tangga turun dan menuju bawah rumah. Aku mengikutinya.
Di bawah rumah ada dua pintu. Aku membuka salah satunya dan ada jaket keselamatan, papan seluncur dan pelampung menutupi dinding. Aku meninggalkannya dan membuka pintu yang lain. Bingo.
Sebuah toilet di satu sisi dan shower kecil ada di sisi lain ruangan itu. Shampo, kondisioner dan sabun berjajar dengan lap badan bersih dan handuk di tempat duduk kecil di sampingnya. Keren.
Setelah aku selesai mandi dan berpakaian aku menggantung handuk dan lap badan di ujung shower. Kamar mandi ini jarang digunakan. Aku bisa memakai handuk dan lap badan yang sama sepanjang minggu dan mencucinya di akhir pekan. Jika aku tinggal di sini untuk waktu yang lama.
Aku menutup pintu di belakangku dan berjalan menuju lantai atas. Bau air laut begitu mengagumkan. Saat aku sampai di atas, aku berdiri di depan pagar dan menatap air. Ombak memecah pantai pasir putih. Ini adalah pemandangan paling indah yang pernah kulihat.
eomma dan aku pernah berbicara tentang pergi ke pantai bersama sama suatu hari nanti.eomma melihat pantai saat masih kecil dan ingatannya tidak begitu bagus tetapi dia menceritakannya cerita tentang pantai itu sepanjang hidupku. Setiap musim dingin yang begitu dingin, kami duduk di dalam rumah dengan perapian dan merencanakan liburan musim panas kami ke pantai. Kami tidak pernah bisa melakukannya. Pertama eomma tidak mampu melakukannya dan kemudian dia sakit. Kami tetap merencanakannya. Itu membantu untuk mimpi besar kami.
Sekarang, aku berdiri di sini menatap ombak yang hanya bisa kami bayangkan.Ini bukanlah liburan dongeng yang telah kami rencanakan tapi aku disini melihatnya untuk kami berdua.
"Pemandangan itu tidak akan pernah membosankan." Suara dalam Yunho mengejutkanku. Aku berbalik untuk melihat Yunho yang bersandar di pintu. Telanjang dada. Oh. My.
Aku tidak bisa berkata-kata. Satu-satunya dada telanjang seorang namja yang pernah kulihat adalah Hyunjoong. Dan itu terjadi sebelum eommaku sakit ketika aku punya waktu untuk berkencan dan bersenang-senang. Dada Hyunjoong yang berusia  enam belas tahun tidak ada apa-apanya dibanding dengan dada bidang, berotot di depanku. Dia bahkan punya six pack di perutnya.
"Kau sedang menikmati pemandangan?" Nada gelinya tidak membuatku lari. Aku mengerjap dan mengalihkan tatapanku untuk melihat seringai di bibirnya. Sialan. Dia menangkapku sedang mengaguminya.
"Jangan biarkan aku mengganggumu. Aku juga sedang menikmatinya," jawabnya,kemudian menyesap secangkir kopi di tangannya.
Wajahku memanas dan aku tahu wajahku memerah.Berbalik, aku menatap keluar pada lautan. Sungguh memalukan. Aku mencoba agar namja ini membiarkan aku tinggal sedikit lebih lama. Meneteskan air liur bukanlah hal yang baik.
Tawa kecil dibelakangku hanya membuat segalanya lebih buruk. Dia menertawakan aku . benar-benar hebat.
"Di sini kau rupanya. Aku merindukanmu di ranjang pagi ini," suara lembut seorang yeoja datang dari belakangku. Ingin tahu lebih yang terjadi di belakangku dan aku pun berbalik. Seorang yeoja yang hanya memakai bra dan celana dalam merapatkan dirinya pada tubuh Yunho dan menjalankan kuku panjang merah mudanya di dada Yunho. Aku tidak menyalahkannya karena menyentuh dadanya. Aku pun sangat tergoda.
"Waktunya kau pergi," jawabnya sambil mengangkat tangan yeoja itu dari dadanya dan menjauh darinya. Aku melihat saat dia menunjuk kearah pintu depan.
"Mwo?" jawab yeoja itu. Ekspresi kebingungan di wajahnya seolah mengatakan dia tidak mengharapkan ini.
"Kau sudah dapat apa yang kau inginkan, sayang. Kau ingin aku berada di antara pahamu. Kau mendapatkannya. Sekarang aku sudah selesai."
Nada dingin suaranya mengejutkanku.Apa dia serius?
"Kau bercanda!" yeoja itu membentak dan menghentakkan kakinya.
Yunho menggelengkan kepalanya dan menyesap lagi kopi dari cangkirnya.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Semalam begitu mengagumkan. Kau tahu itu." Yeoja itu meraih lengannya dan dia dengan cepat menghempaskannya.
"Aku sudah memperingatkanmu semalam ketika kau memohon padaku dan melepas pakaianmu bahwa ini hanya akan menjadi seks satu malam saja. Tidak lebih."
Aku mengalihkan perhatianku pada yeoja itu.Wajahnya marah dan dia membuka mulutnya untuk berdebat tapi menutupnya lagi. Dengan hentakan lain kakinya dia berjalan keluar rumah.
Aku tidak percaya apa yang baru saja kulihat. Apa seperti ini cara orang orang ini bersikap? Satu-satunya pengalaman pacaran yang kumiliki hanyalah bersama Hyunjoong. Meskipun kami tidak pernah tidur bersama dia selalu berhati-hati dan bersikap manis padaku. Namja ini sangat kasar dan kejam.
"Jadi,bagaimana tidurmu semalam?" tanya Yunho seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku mengalihkan tatapanku dari pintu dimana yeoja itu pergi dan mengamatinya. Apa yang mempengaruhi yeoja itu untuk tidur dengan seseorang yang mengatakan padanya bahwa tidak akan ada hal lain selain seks? Tentu saja, Yunho punya tubuh yang akan membuat model pakaian dalam iri dan matanya itu bisa membuat seorang yeoja menjadi gila. Tapi tetap saja. Dia begitu kejam.
"Apa kau sering melakukannya?" tanyaku sebelum aku bisa menghentikan diriku sendiri.
Yunho mengangkat alisnya. "Mwo? Bertanya apakah seseorang tidur nyenyak?"
Dia tahu apa yang aku tanyakan. Dia menghindarinya. Ini bukanlah urusanku. Aku harus menjauh, jadi dia tetap membiarkanku tinggal di tempatnya. Membuka mulutku untuk memarahinya bukanlah ide yang bagus.
"Berhubungan seks dengan seorang yeoja dan membuangnya seperti sampah?" tanyaku ketus. Aku menutup mulutku, terkejut akan kata-kata yang baru saja kuucapkan bergema di kepalaku. Apa yang telah aku lakukan? Mencoba untuk mendapatkan penjelasan?
Yunho meletakkan cangkirnya pada meja disampingnya dan duduk. Dia bersandar sambil meregangkan kaki panjangnya. Kemudian menatapku. "Apakah kau selalu ikut campur hal yang bukan urusanmu?" jawabnya.
Aku ingin marah padanya. Tapi aku tidak bisa. Siapa yang bisa aku salahkan? Aku tidak mengenal namja ini.
"Tidak pernah, tidak. Aku minta maaf," kataku dan buru-buru masuk ke dalam. Aku tidak ingin memberinya kesempatan untuk mengusirku keluar juga. Aku butuh kamar di bawah tangga itu paling tidak selama dua minggu.
Aku menyibukkan diri dengan membersihkan gelas kotor dan botol bir. Tempat ini perlu dibersihkan dan aku bisa melakukannya sebelum aku mendapatkan pekerjaan. Aku hanya berharap dia tidak mengadakan pesta seperti ini setiap malam. Jika dia melakukannya, aku tidak akan mengeluh dan siapa tahu, setelah beberapa malam aku bisa tidur nyenyak.
"Kau tidak perlu melakukannya. Bibi Hwang akan datang besok."
Aku memasukkan botol yang kukumpulkan ke dalam tempat sampah dan kemudian menatapnya. Dia berdiri di depan pintu lagi sedang menatapku.
"Aku pikir aku bisa membantu."
Yunho menyeringai. "Aku sudah punya asisten rumah tangga. Aku tidak akan menambah satu lagi jika itu yang kau pikirkan."
Aku menggelengkan kepala. "Arra. Aku hanya ingin membantu. Kau mengijinkanku tidur di rumahmu semalam."
Yunho berjalan mendekat dan berdiri di depan lemari menyilangkan tangan di depan dadanya. "Tentang itu. Kita harus bicara."
Oh, sial. Ini dia. Satu malam sudah kulalui.
"Oke," jawabku
Yunho mengerutkan dahi padaku dan detak jantungku bertambah cepat. Dia tidak akan memberikan berita yang menyenangkan.
"Aku tidak suka Appamu. Dia adalah parasit.  Eommaku selalu saja bersama namja seperti dia. Itu adalah bakatnya. Tapi kupikir kau sudah tahu hal ini. Yang membuatku curiga, kenapa kau datang minta tolong padanya padahal kau tahu dia seperti apa?"
Aku ingin mengatakan padanya bahwa ini bukanlah urusannya. Kecuali pada kenyataan bahwa aku membutuhkan bantuannya membuat hal ini menjadi urusannya. Aku tidak mengharapkan dia membiarkanku tidur di rumahnya dan tidak menjelaskan apa pun padanya. Dia layak tahu mengapa dia membantuku. Aku tidak ingin dia berpikir aku juga parasit.
"Eommaku baru saja meninggal. Dia sakit kanker. Ditambah tiga tahun perawatan. Satu-satunya yang kami miliki hanya rumah halmonie yang diwariskan untuk kami. Aku harus menjual rumah dan semuanya untuk membayar biaya perawatan eomma. Aku tidak pernah bertemu Appaku sejak dia meninggalkan kami lima tahun yang lalu. Tapi hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku tidak punya keluarga lain untuk dimintai tolong. Aku butuh tempat tinggal sampai aku punya pekerjaan dan mendapat beberapa gaji. Kemudian aku bisa pindah. Aku tidak pernah berniat untuk tinggal lama. Aku tahu Appaku tidak ingin aku ada di sini," aku mengeluarkan tawa miris yang tidak aku kenal. "Meskipun aku tidak pernah berharap dia akan pergi sebelum aku datang."
Tatapan Yunho tetap kuat kearahku. Aku lebih suka informasi ini tidak diketahui siapa pun. Aku bercerita pada Hyunjoong tentang kepergian Appaku yang begitu menyakitkan. Kehilangan saudari dan Appaku menjadi hal terberat bagiku dan eomma. Lalu Hyunjoong ingin lebih dan aku tidak bisa menjadi orang yang dia butuhkan. Aku harus menjaga eommaku yang sakit. Aku melepaskan Hyunjoong agar dia bisa berkencan dengan yeoja lain dan bersenang-senang. Aku hanya menambah beban beratnya. Persahabatan kami tetap berjalan tapi aku tahu kalau namja yang aku cintai itu hanya akan menjadi kenangan masa kecil.
"Aku turut berduka tentang eommamu," Yunho akhirnya menjawab. "Itu buruk sekali. Kau bilang dia sakit selama tiga tahun, jadi sejak kau berusia enam belas tahun?"
Aku mengangguk, tidak yakin apa lagi yang harus kukatakan. Aku tidak menginginkan belas kasihannya. Aku hanya butuh tempat untuk tidur.
"Kau berencana mencari kerja dan tempat tinggal untukmu," dia tidak bertanya. Dia memperhatikan apa yang aku katakan. Jadi aku tidak menjawab.
"Kamar di bawah tangga itu milikmu selama sebulan. Kau bisa mencari kerja dan mendapat cukup gaji untuk mendapat sebuah apartemen. Tidak terlalu jauh dari sini ada tempat dengan biaya hidup yang terjangkau. Jika orang tua kita kembali sebelum waktu yang kuperkirakan aku harap Appamu bisa membantumu untuk keluar."
Menghembuskan nafas lega aku menelan gumpalan di tenggorokanku."Gomapta."
Yunho menatap pada belakang pantry yang mengarah ke tempatku tidur. Kemudian dia kembali menatapku. "Aku harus melakukan sesuatu. Semoga beruntung dalam pencarian kerjamu," jawab Yunho. Dia meninggalkan meja dan pergi.
Aku tidak punya bensin di trukku tapi aku punya kamar. Aku juga masih punya dua puluh ribu won. Aku bergegas ke kamarku untuk mengambil dompet dan kunci. Aku harus mencari kerja secepat mungkin.
.
.
.
.
.
To Be Continue

3 comments:

  1. ga sabar nunggu yunjae saling tertarik satu sama lain seiring berjalannya waktu
    lanjutt saki

    ReplyDelete
  2. Anonymous10:14 PM

    Aku br bc chap ini.. yg sblmny aku blm bc.. ini menarik aku akan bc dr chap awal.kekeke

    ReplyDelete
  3. Anonymous2:40 PM

    Ga sabar nunggu moment yunjae ^^

    Sakiii d tunggu chap selanjut'yaaaa

    ReplyDelete