Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan
diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi
sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong
dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines
Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk
kepentingan cerita
Meskipun tidak ada jendela
di kamar ini yang memberitahukanku bahwa matahari telah terbit, aku tahu aku
telah kesiangan. Aku kelelahan selama empat jam menyetir dan derap kaki di
tangga selama berjam-jam setelah aku berbaring hingga tertidur pulas.
Meregangkan badan, aku duduk dan menyalakan saklar lampu di dinding. Bola lampu
kecil menerangi kamar dan aku meraih ke bawah ranjang untuk menarik koperku.
Aku perlu mandi dan aku
perlu memakai kamar kecil. Mungkin semua orang masih tertidur dan aku bisa
menyelinap ke kamar mandi tanpa ada seseorang yang mengetahuinya. Changmin
tidak menunjukkan padaku di mana kamar mandinya kemarin malam. Semua inilah
yang harus aku terima. Berharap dengan mandi cepat tidak akan melampaui batas.
Aku meraih celana dalam
bersih dan sebuah celana pendek hitam dan tank top putih. Jika aku beruntung,
aku bisa segera keluar dari kamar mandi sebelum Yunho turun ke lantai bawah.
Aku membuka pintu yang
menuju ke pantry kemudian berjalan melewati deretan rak yang menyimpan banyak
makanan lebih dari yang dibutuhkan semua orang. Aku dengan perlahan memutar
kenop pintu dan dengan mudah itu terbuka. Lampu dapur mati dan satu-satunya
cahaya berasal dari sinar matahari yang masuk melalui jendela besar yang
menjorok ke lautan. Jika aku tidak begitu ingin buang air kecil aku akan
menikmati pemandangan itu beberapa saat. Tapi kebutuhan alam sudah memanggil
dan aku harus pergi. Rumah ini sunyi. Botol minuman mengotori rumah, bersama dengan sisa makanan
dan beberapa potong pakaian. Aku akan membersihkannya. Jika aku ternyata lebih
berguna mungkin aku harus tinggal hingga aku dapat kerja dan gaji pertama atau
kedua.
Aku perlahan membuka pintu
pertama yang kudatangi, khawatir bisa saja itu kamar tidur. Ternyata itu hanya
tempat menyimpan baju. Menutup pintu, aku kembali menuju ke ruangan yang menuju
ke tangga. Jika hanya satu-satunya kamar mandi di sini gabung dengan kamar
tidur maka aku pasti sial. Kecuali…mungkin di luar sana ada satu kamar mandi
yang digunakan orang-orang setelah seharian di pantai. Bibi Hwang pasti mandi
dan memakai kamar kecil juga. Berbalik aku menuju ke dapur dan dua pintu kaca yang
terbuka tadi malam. Menatap sekeliling,aku melihat ada tangga turun dan menuju
bawah rumah. Aku mengikutinya.
Di bawah rumah ada dua
pintu. Aku membuka salah satunya dan ada jaket keselamatan, papan seluncur dan
pelampung menutupi dinding. Aku meninggalkannya dan membuka pintu yang lain.
Bingo.
Sebuah toilet di satu sisi
dan shower kecil ada di sisi lain ruangan itu. Shampo, kondisioner dan sabun
berjajar dengan lap badan bersih dan handuk di tempat duduk kecil di
sampingnya. Keren.
Setelah aku selesai mandi
dan berpakaian aku menggantung handuk dan lap badan di ujung shower. Kamar
mandi ini jarang digunakan. Aku bisa memakai handuk dan lap badan yang sama
sepanjang minggu dan mencucinya di akhir pekan. Jika aku tinggal di sini untuk
waktu yang lama.
Aku menutup pintu di
belakangku dan berjalan menuju lantai atas. Bau air laut begitu mengagumkan.
Saat aku sampai di atas, aku berdiri di depan pagar dan menatap air. Ombak
memecah pantai pasir putih. Ini adalah pemandangan paling indah yang pernah
kulihat.
eomma dan aku pernah
berbicara tentang pergi ke pantai bersama sama suatu hari nanti.eomma melihat
pantai saat masih kecil dan ingatannya tidak begitu bagus tetapi dia
menceritakannya cerita tentang pantai itu sepanjang hidupku. Setiap musim
dingin yang begitu dingin, kami duduk di dalam rumah dengan perapian dan
merencanakan liburan musim panas kami ke pantai. Kami tidak pernah bisa
melakukannya. Pertama eomma tidak mampu melakukannya dan kemudian dia sakit.
Kami tetap merencanakannya. Itu membantu untuk mimpi besar kami.
Sekarang, aku berdiri di
sini menatap ombak yang hanya bisa kami bayangkan.Ini bukanlah liburan dongeng
yang telah kami rencanakan tapi aku disini melihatnya untuk kami berdua.
"Pemandangan itu
tidak akan pernah membosankan." Suara dalam Yunho mengejutkanku. Aku
berbalik untuk melihat Yunho yang bersandar di pintu. Telanjang dada. Oh. My.
Aku tidak bisa
berkata-kata. Satu-satunya dada telanjang seorang namja yang pernah kulihat
adalah Hyunjoong. Dan itu terjadi sebelum eommaku sakit ketika aku punya waktu
untuk berkencan dan bersenang-senang. Dada Hyunjoong yang berusia enam belas tahun tidak ada apa-apanya
dibanding dengan dada bidang, berotot di depanku. Dia bahkan punya six pack di
perutnya.
"Kau sedang menikmati
pemandangan?" Nada gelinya tidak membuatku lari. Aku mengerjap dan
mengalihkan tatapanku untuk melihat seringai di bibirnya. Sialan. Dia
menangkapku sedang mengaguminya.
"Jangan biarkan aku
mengganggumu. Aku juga sedang menikmatinya," jawabnya,kemudian menyesap
secangkir kopi di tangannya.
Wajahku memanas dan aku
tahu wajahku memerah.Berbalik, aku menatap keluar pada lautan. Sungguh
memalukan. Aku mencoba agar namja ini membiarkan aku tinggal sedikit lebih
lama. Meneteskan air liur bukanlah hal yang baik.
Tawa kecil dibelakangku hanya
membuat segalanya lebih buruk. Dia menertawakan aku . benar-benar hebat.
"Di sini kau rupanya.
Aku merindukanmu di ranjang pagi ini," suara lembut seorang yeoja datang
dari belakangku. Ingin tahu lebih yang terjadi di belakangku dan aku pun
berbalik. Seorang yeoja yang hanya memakai bra dan celana dalam merapatkan
dirinya pada tubuh Yunho dan menjalankan kuku panjang merah mudanya di dada Yunho.
Aku tidak menyalahkannya karena menyentuh dadanya. Aku pun sangat tergoda.
"Waktunya kau
pergi," jawabnya sambil mengangkat tangan yeoja itu dari dadanya dan
menjauh darinya. Aku melihat saat dia menunjuk kearah pintu depan.
"Mwo?" jawab yeoja
itu. Ekspresi kebingungan di wajahnya seolah mengatakan dia tidak mengharapkan
ini.
"Kau sudah dapat apa
yang kau inginkan, sayang. Kau ingin aku berada di antara pahamu. Kau
mendapatkannya. Sekarang aku sudah selesai."
Nada dingin suaranya
mengejutkanku.Apa dia serius?
"Kau bercanda!" yeoja
itu membentak dan menghentakkan kakinya.
Yunho menggelengkan
kepalanya dan menyesap lagi kopi dari cangkirnya.
"Kau tidak bisa
melakukan ini padaku. Semalam begitu mengagumkan. Kau tahu itu." Yeoja itu
meraih lengannya dan dia dengan cepat menghempaskannya.
"Aku sudah
memperingatkanmu semalam ketika kau memohon padaku dan melepas pakaianmu bahwa
ini hanya akan menjadi seks satu malam saja. Tidak lebih."
Aku mengalihkan
perhatianku pada yeoja itu.Wajahnya marah dan dia membuka mulutnya untuk
berdebat tapi menutupnya lagi. Dengan hentakan lain kakinya dia berjalan keluar
rumah.
Aku tidak percaya apa yang
baru saja kulihat. Apa seperti ini cara orang orang ini bersikap? Satu-satunya
pengalaman pacaran yang kumiliki hanyalah bersama Hyunjoong. Meskipun kami
tidak pernah tidur bersama dia selalu berhati-hati dan bersikap manis padaku. Namja
ini sangat kasar dan kejam.
"Jadi,bagaimana
tidurmu semalam?" tanya Yunho seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku mengalihkan tatapanku
dari pintu dimana yeoja itu pergi dan mengamatinya. Apa yang mempengaruhi yeoja
itu untuk tidur dengan seseorang yang mengatakan padanya bahwa tidak akan ada
hal lain selain seks? Tentu saja, Yunho punya tubuh yang akan membuat model
pakaian dalam iri dan matanya itu bisa membuat seorang yeoja menjadi gila. Tapi
tetap saja. Dia begitu kejam.
"Apa kau sering
melakukannya?" tanyaku sebelum aku bisa menghentikan diriku sendiri.
Yunho mengangkat alisnya.
"Mwo? Bertanya apakah seseorang tidur nyenyak?"
Dia tahu apa yang aku
tanyakan. Dia menghindarinya. Ini bukanlah urusanku. Aku harus menjauh, jadi
dia tetap membiarkanku tinggal di tempatnya. Membuka mulutku untuk memarahinya
bukanlah ide yang bagus.
"Berhubungan seks
dengan seorang yeoja dan membuangnya seperti sampah?" tanyaku ketus. Aku
menutup mulutku, terkejut akan kata-kata yang baru saja kuucapkan bergema di
kepalaku. Apa yang telah aku lakukan? Mencoba untuk mendapatkan penjelasan?
Yunho meletakkan
cangkirnya pada meja disampingnya dan duduk. Dia bersandar sambil meregangkan
kaki panjangnya. Kemudian menatapku. "Apakah kau selalu ikut campur hal
yang bukan urusanmu?" jawabnya.
Aku ingin marah padanya.
Tapi aku tidak bisa. Siapa yang bisa aku salahkan? Aku tidak mengenal namja
ini.
"Tidak pernah, tidak.
Aku minta maaf," kataku dan buru-buru masuk ke dalam. Aku tidak ingin
memberinya kesempatan untuk mengusirku keluar juga. Aku butuh kamar di bawah
tangga itu paling tidak selama dua minggu.
Aku menyibukkan diri
dengan membersihkan gelas kotor dan botol bir. Tempat ini perlu dibersihkan dan
aku bisa melakukannya sebelum aku mendapatkan pekerjaan. Aku hanya berharap dia
tidak mengadakan pesta seperti ini setiap malam. Jika dia melakukannya, aku
tidak akan mengeluh dan siapa tahu, setelah beberapa malam aku bisa tidur
nyenyak.
"Kau tidak perlu
melakukannya. Bibi Hwang akan datang besok."
Aku memasukkan botol yang
kukumpulkan ke dalam tempat sampah dan kemudian menatapnya. Dia berdiri di
depan pintu lagi sedang menatapku.
"Aku pikir aku bisa
membantu."
Yunho menyeringai.
"Aku sudah punya asisten rumah tangga. Aku tidak akan menambah satu lagi
jika itu yang kau pikirkan."
Aku menggelengkan kepala.
"Arra. Aku hanya ingin membantu. Kau mengijinkanku tidur di rumahmu
semalam."
Yunho berjalan mendekat
dan berdiri di depan lemari menyilangkan tangan di depan dadanya. "Tentang
itu. Kita harus bicara."
Oh, sial. Ini dia. Satu
malam sudah kulalui.
"Oke," jawabku
Yunho mengerutkan dahi
padaku dan detak jantungku bertambah cepat. Dia tidak akan memberikan berita
yang menyenangkan.
"Aku tidak suka Appamu.
Dia adalah parasit. Eommaku selalu saja
bersama namja seperti dia. Itu adalah bakatnya. Tapi kupikir kau sudah tahu hal
ini. Yang membuatku curiga, kenapa kau datang minta tolong padanya padahal kau
tahu dia seperti apa?"
Aku ingin mengatakan
padanya bahwa ini bukanlah urusannya. Kecuali pada kenyataan bahwa aku
membutuhkan bantuannya membuat hal ini menjadi urusannya. Aku tidak
mengharapkan dia membiarkanku tidur di rumahnya dan tidak menjelaskan apa pun
padanya. Dia layak tahu mengapa dia membantuku. Aku tidak ingin dia berpikir
aku juga parasit.
"Eommaku baru saja
meninggal. Dia sakit kanker. Ditambah tiga tahun perawatan. Satu-satunya yang kami
miliki hanya rumah halmonie yang diwariskan untuk kami. Aku harus menjual rumah
dan semuanya untuk membayar biaya perawatan eomma. Aku tidak pernah bertemu Appaku
sejak dia meninggalkan kami lima tahun yang lalu. Tapi hanya dia satu-satunya
keluarga yang aku miliki. Aku tidak punya keluarga lain untuk dimintai tolong.
Aku butuh tempat tinggal sampai aku punya pekerjaan dan mendapat beberapa gaji.
Kemudian aku bisa pindah. Aku tidak pernah berniat untuk tinggal lama. Aku tahu
Appaku tidak ingin aku ada di sini," aku mengeluarkan tawa miris yang
tidak aku kenal. "Meskipun aku tidak pernah berharap dia akan pergi
sebelum aku datang."
Tatapan Yunho tetap kuat
kearahku. Aku lebih suka informasi ini tidak diketahui siapa pun. Aku bercerita
pada Hyunjoong tentang kepergian Appaku yang begitu menyakitkan. Kehilangan
saudari dan Appaku menjadi hal terberat bagiku dan eomma. Lalu Hyunjoong ingin
lebih dan aku tidak bisa menjadi orang yang dia butuhkan. Aku harus menjaga eommaku
yang sakit. Aku melepaskan Hyunjoong agar dia bisa berkencan dengan yeoja lain
dan bersenang-senang. Aku hanya menambah beban beratnya. Persahabatan kami
tetap berjalan tapi aku tahu kalau namja yang aku cintai itu hanya akan menjadi
kenangan masa kecil.
"Aku turut berduka
tentang eommamu," Yunho akhirnya menjawab. "Itu buruk sekali. Kau
bilang dia sakit selama tiga tahun, jadi sejak kau berusia enam belas
tahun?"
Aku mengangguk, tidak
yakin apa lagi yang harus kukatakan. Aku tidak menginginkan belas kasihannya.
Aku hanya butuh tempat untuk tidur.
"Kau berencana
mencari kerja dan tempat tinggal untukmu," dia tidak bertanya. Dia
memperhatikan apa yang aku katakan. Jadi aku tidak menjawab.
"Kamar di bawah
tangga itu milikmu selama sebulan. Kau bisa mencari kerja dan mendapat cukup
gaji untuk mendapat sebuah apartemen. Tidak terlalu jauh dari sini ada tempat
dengan biaya hidup yang terjangkau. Jika orang tua kita kembali sebelum waktu
yang kuperkirakan aku harap Appamu bisa membantumu untuk keluar."
Menghembuskan nafas lega
aku menelan gumpalan di tenggorokanku."Gomapta."
Yunho menatap pada
belakang pantry yang mengarah ke tempatku tidur. Kemudian dia kembali
menatapku. "Aku harus melakukan sesuatu. Semoga beruntung dalam pencarian
kerjamu," jawab Yunho. Dia meninggalkan meja dan pergi.
Aku tidak punya bensin di
trukku tapi aku punya kamar. Aku juga masih punya dua puluh ribu won. Aku
bergegas ke kamarku untuk mengambil dompet dan kunci. Aku harus mencari kerja
secepat mungkin.
.
.
.
.
.
To Be Continue

ga sabar nunggu yunjae saling tertarik satu sama lain seiring berjalannya waktu
ReplyDeletelanjutt saki
Aku br bc chap ini.. yg sblmny aku blm bc.. ini menarik aku akan bc dr chap awal.kekeke
ReplyDeleteGa sabar nunggu moment yunjae ^^
ReplyDeleteSakiii d tunggu chap selanjut'yaaaa