Bagaimana jika nanti tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya? Tuhan...jika dia benar-benar ada, Yunho rela berdoa di setiap detiknya demi keselamatan Jaejoong.
“Kalau
booJae tidak dapat diselamatkan...” Suara Yunho tertelan di tenggorokannya, “Aku
belum pernah bilang kalau aku mencintainya.”
Changmin
menundukkan kepalanya, tidak tahu bagaimana caranya menghibur tuannya yang
sedang cemas. Sementara Junsu diam-diam menyusut air matanya. Jadi namja ini,
yang katanya begitu kejam dan jahat, ternyata mencintai isterinya. Ternyata
mencintai Jaejoong. Dengan sepenuh hatinya Junsu berdoa.
"Kau
harus hidup Joongie, suamimu di sini, mencemaskanmu. Dia kelihatan sangat
menderita, dulu dia jahat dan kejam dengan hati yang hitam, tetapi kau telah
sedikit demi sedikit mengangkatnya ke dalam cahaya. Dan kalau kau
meninggalkannya, mungkin dia akan terpuruk lagi, jatuh ke dalam jurang yang
lebih kelam."
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung
Yunho
©their self
Sleep with the
Devil
©Shanty Agatha
Entah
berapa jam proses operasi yang menyiksa itu dan Yunho duduk di sofa dengan
seluruh tubuh menegang dan tersiksa. Changmin masih menungguinya di sana,
sementara Junsu sudah berpamitan, karena puteranya membutuhkannya. Junsu bilang
akan kembali besok pagi.
Lalu
terdengar tangis bayi. Tangis bayi yang sangat kuat dan keras, seakan memompa
seluruh udara yang ada ke dalam paru-parunya.
Yunho
terkesiap dan saling berpandangan dengan Changmin, tubuhnya makin menegang.
Apakah itu suara anaknya?
Tiba-tiba
lampu menyala hijau, dan seorang perawat keluar, memanggilnya, “Tuan Jung yunho.”
Yunho
diajak masuk ke ruangan dalam di bagian ruang persiapan operasi, yang menjadi
pembatas antara ruang tunggu dengan ruang operasi, “Ini putera anda tuan jung,
kami menunjukkannya sebelum dia dibawa ke kamar bayi.”
Bayi
itu menangis begitu keras, seolah-olah memprotes kenapa dia direnggut dari
kehangatan yang nyaman di perut ibundanya ke dunia yang penuh mara bahaya ini.
Yunho
mengamati bayi itu dengan takjub, makhluk kecil tak berdaya itu, yang selama
ini tumbuh di perut Jaejoong, darah dagingnya, yang tumbuh dari percintaannya
dengan Jaejoong Makhluk itu begitu tak berdaya, dan ingatan bahwa Yunho
memusuhinya dulu terasa begitu konyol.
Anak
laki-laki ini anaknya. Buah cintanya dengan Jaejoong
Perawat
itu menunjukkan alat kelamin bayi itu, anak laki-laki yang sehat. Dan wajahnya
itu, yang bahkan sudah menunjukkan kemiripannya dengan seluruh keturunan Jung,
lalu membawa sang bayi ke ruangan khusus.
Sejenak
Yunho masih tertegun di sana, lalu teringat kepada Jaejoong…Jaejoong..bagaimana
isterinya?
“Suster,”
Yunho memanggil suster itu, berusaha agar tidak terdengar panik, “Bagaimana dengan
isteri saya?”
Suster
itu melirik ke ruang operasi, “Masih belum sadar tuan, kondisinya cukup stabil
meskipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi waktu-waktu mendatang, Anda bisa
menengoknya nanti ketika dia sudah dipindah dari ruangan operasi ke ruangan
ICCU." Lalu suster itu pergi meninggalkannya, memaksanya menunggu ke dalam
ketidakpastian yang menyiksa lagi.
Kalau
dulu, Yunho pasti akan membentak, memaksa, menggunakan cara kasar agar bisa
dituruti kemauannya. Dia ingin melihat Jaejoong segera! Kenapa para dokter
tidak becus itu begitu lama menanganinya???
Tetapi
Yunho menahan dirinya. Tidak. Mereka sedang menyelamatkan Jaejoong Dia tidak
boleh mengganggu mereka, karena nyawa Jaejoong taruhannya.
.
.
.
.
.
Ruangan
ICCU itu sepi, hanya ada Jaejoong dan suara detak jantungnya yang dimonitor. Jaejoong
masih belum sadarkan diri, dan menurut penjelasan dokter tadi, kondisinya masih
belum lepas dari kritis.
Yunho
duduk di sana, di samping ranjang Jaejoong mengamati wajah Jaejoong yang
terbaring pucat pasi. Dia pernah mengalami ini sebelumnya dan ternyata Jessica
tidak pernah terbangun lagi. Akankah Jaejoong melakukan hal yang sama pada
dirinya?
“Kau
tidak boleh meninggalkanku Boo” Yunho menggeram parau, “Kau tidak boleh
meninggalkanku sebelum aku mengizinkanmu, putera kita menunggu di sana, ingin
disusui jadi kau harus bangun dan menyusuinya, membantunya tumbuh menjadi anak
yang sehat..yang...” suara Yunho tertelan, menyadari bahwa dia sudah
berkata-kata terlalu banyak.
Yunho
lalu menyentuh jemari Jaejoong dan menggenggamnya,
“Mianhe,”
bisiknya parau, “Mian karena selalu memaksamu, menyakitimu, bahkan ketika kau
mengandung anakku, aku tidak pernah memperhatikanmu seperti seharusnya,” Dengan
lembut Yunho mengecup jemari Jaejoong “Irona boo, dan akan ku tebus semua
kesalahanku.”
Hening,
Hanya suara monitor jantung yang terdengar teratur di ruangan itu,
Yunho
menggenggam jemari Jaejoong makin erat, “Irona boo, apakah kau akan tega
meninggalkanku dan putera kita? Kau bahkan belum memberinya nama, akan aku
panggil apa dia?”
Mata
Yunho terasa panas membakar. Dia tidak pernah menangis sebelumnya, tetapi
kediaman Jaejoong yang begitu berbeda dengan kesehariannya yang berapi-api
membuatnya merasakan aliran dingin merayapi benaknya.
Ketika
kemudian panas membakar itu berubah menjadi tetesan hangat yang mengalir di
sudut matanya, suara Yunho berubah serak, “Aku mencintaimu Jae. isteriku. Dan
aku bersumpah akan mengabdikan seluruh kehidupanku kepadamu jika kau mau bangun
dari tidur pulasmu yang menakutkan ini.”
Air
mata Yunho menetes di jemari Jaejoong Dan kemudian jemari itu bergerak, membuat
Yunho terpaku. Jemari itu bergerak lagi, samar. Dan kemudian gerakannya lebih
mantap.
Bersamaan
dengan itu, bulu mata Jaejoong bergerak-gerak, membuat Yunho menunggu dengan
cemas. Lalu setelah penantian yang sepertinya terasa seumur hidupnya, mata Jaejoong
terbuka langsung menatap mata Yunho yang basah,
“Kenapa….Kau…menangis...?”
Yunho
langsung memasang muka sedatar mungkin meskipun perasaannya meluap-luap,
“Mataku
kemasukan debu.”
“Oh,”
Jaejoong memejamkan mata lagi, sepertinya percakapan itu membuatnya lelah, “Uri
aegi?”
“Dia
namja kecil yang sehat dan sempurna, tangisannya sangat keras membuat para
suster harus menutup telinga dengan kapas ketika mengurusnya.”
Jaejoong
tersenyum, dan mencoba membuka matanya lagi,
“Namanya…”
“Apa
Jae?”
“Aku
mempersiapkan namanya…” suara Jaejoong melemah, “A…..Angel”
“Angel?”
Yunho mengerutkan keningnya, dari sekian banyak nama, kenapa Jaejoong memilih
nama Angel?
Jaejoong
tersenyum lemah,
“Dia…putera…dari
seorang…malaikat”
Aku
iblis yang jahat! Bukan malaikat! Batin Yunho berteriak keras membantah.
Setelah semua yang dia lakukan kepada Jaejoong perempuan itu masih
menganggapnya sebagai malaikat?
“Men…cin….”
“Apa
Jae?” Yunho berusaha mendekatkan telinganya ke bibir Jaejoong karena suara Jaejoong
semakin lemah,
“Mencintaimu….Yunho.”
Lalu Jaejoong kembali tak sadar, meninggalkan Yunho kembali dalam tidur
lelapnya.
Air
mata mengalir lagi di mata Yunho, mata seorang iblis yang telah disentuh oleh
sang malaikat. Jaejoong salah, dia bukanlah malaikat. Jaejoong adalah
malaikatnya. Dan pernyataan cinta Jaejoong membuat dada Yunho terasa sesak.
Sesak oleh perasaan meluap-luap yang tak pernah terungkapkan sebelumnya.
.
.
.
.
.
Kondisi
Jaejoong membaik seiring berjalannya hari, bahkan pagi ini dia sudah
diperbolehkan menyusui Angel, untuk pertama kalinya. Jaejoong menerima bayi itu
di pelukan lengannya degan takjub. Bayinya, puteranya, yang selama ini
bertumbuh di perutnya dan dikandung olehnya. Sekarang ada di dunia nyata,
dengan rambut tebal cokelatnya dan mata cokelat milik ayahnya, yang sekarang
sedang penuh air mata. Ya, Angel sedang menangis keras-keras sekarang.
“Dia
lapar.” suster Boa terkekeh geli dan membantu Jaejoong setengah duduk, Jaejoong
membuka gaun pasiennya dan mendekatkan payudaranya, Secara otomatis Angel
langsung mencari dan melahap puting itu. Lalu menghisapnya dengan begitu rakus.
Jaejoong takjub merasakan bahwa puteranya berbagi makanan dengan dirinya, bahwa
tubuhnyalah yang memberikan makanan untuk puteranya.
“Dia
sepertinya sangat lapar.” suara itu berasal dari ambang pintu dan Jaejoong menoleh.
Mendapati Yunho berdiri di sana. Hari ini jam sembilan pagi, dan Yunho
sepertinya belum pernah pulang dari rumah sakit, lelaki itu tampak lelah.
Yunho
berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, matanya tak lepas dari puteranya
yang menyusu. Puteranya sedang menyusu di tubuh isterinya. Sungguh pemandangan
yang luar biasa indahnya.
“Kau
tampak lelah.” Jaejoong menatap Yunho lembut.
Lelaki
itu mengalihkan pandangan dari puteranya ke mata Jaejoong menatap Jaejoong dengan
mata beningnya yang berwarna cokelat,
“Aku
belum pulang, Changmin membawakanku baju ganti dan aku mandi serta bercukur di
sini, di lantai atas aku punya kamar sendiri.”
Jaejoong
baru sadar bahwa ini rumah sakit yang sama tempatnya dirawat setelah kecelakaan
dan kemudian diculik oleh psikopat kejam itu. Ini adalah rumah sakit milik Yunho,
“Yah
ini rumah sakit yang sama,” Yunho tersenyum meminta maaf, “Tetapi kali ini
tidak ada lagi penjagaan di depan, aku sibuk mengurusmu sampai aku tidak sempat
mencari musuh.”
Jaejoong
tersenyum mendengarnya. Tepat ketika Angel melepaskan putingnya dan tertidur
lelap dengan pipi montoknya masih menempel di payudara ibunya. Diperbaikinya
posisi tidur Angel sehingga nyaman, dan Yunho mengikuti semua itu dengan
pandangannya.
“Kau
mungkin bisa pulang dan beristirahat Yun.”
Yunho
mengangkat bahu, “Aku akan pulang untuk beberapa urusan, mungkin beberapa jam,
lalu aku akan kembali,” dengan canggung Yunho berdiri, sejenak hanya menatap
lama, lalu mengangguk dan melangkah pergi.
Seorang
suster masuk dan berpapasan dengan Yunho di pintu, dia bertugas mengambil Angel
dan membawanya ke kamar bayi.
“Sungguh
Anda isteri yang beruntung memiliki suami sebaik itu,” suster itu tersenyum
menatap punggung Yunho yang hilang di balik pintu. “Dan seorang Jung yunho
pula, Anda sungguh beruntung dicintai seperti itu.”
Jaejoong
mengernyit, menyerahkan Angel untuk digendong sang suster dengan hati-hati.
Beruntung?
Apakah maksud suster itu dia beruntung karena memiliki suami seperti Jung yunho?
“Oh
Anda tidak tahu ya?” suster itu meletakkan Angel dengan lembut di kereta kaca
khusus bayi yang dibawanya, “Tuan jung sangat setia menunggui ketika Anda tak
sadarkan diri hampir 2 hari lamanya. Dia selalu ada di sana tak pernah
meninggalkan Anda. Kondisi Anda saat itu masih belum pasti, kadang Anda tersadar
dan menceracau. Lalu tak sadarkan diri lagi, kadang kondisi Anda sangat drop
sehingga kami harus menangani Anda secara intensif, dan tuan jung menuntut
untuk ada di sini, setiap detiknya mendampingi Anda. Ketika kondisi Anda
stabil, dia ada di sebelah ranjang Anda, mengajak Anda berbicara dan
menggenggam tangan Anda. Sepertinya semua penantiannya tidak sia-sia karena
akhirnya Anda bangun dan membaik,” suster itu tersenyum memuji, “Sungguh suatu
anugerah yang tak terkira, bisa memiliki suami sebaik itu.”
Lalu
dengan mendorong kereta bayi suster itu pergi meninggalkan Jaejoong yang masih
termenung di atas ranjang. Benarkah Yunho, Beruangnya yang sombong, arogan, dan
pemarah itu melakukan semua yang dikatakan oleh suster itu? Benarkah Yunho
mencemaskannya sampai sedemikian? Rasanya tidak bisa dipercaya….
.
.
.
.
.
Jaejoong
sudah boleh pulang bersama Angel, dan Yunho menjemputnya tepat waktu. Lelaki
itu tidak berubah, tetap begitu dingin hingga Jaejoong berpikir jangan-jangan
yang dikatakan suster waktu itu hanyalah kebohongan atau khayalan semata. Yunho
duduk di sebelah Jaejoong dalam mobil itu diam dan menatap ke jendela, tampak
menjaga jarak,
“Kau...eh,
sudah baikan,” Akhirnya Yunho memecah keheningan, menatap ringan pada Angel
yang tertidur di pelukan Jaejoong dan tatapannya melembut, “Dia sepertinya
sangat sehat.”
“Dia
menyusu dengan kuat,” Jaejoong tersenyum dan mengecup dahi Angel dengan sayang.
Semula Jaejoong merasa sedikit takut atas reaksi Yunho kepada Angel. Lelaki itu
membenci Angel dengan alasannya ketika dia di dalam kandungan Jaejoong apakah
lelaki itu akan membenci Angel ketika dia sudah lahir ke dunia ini?
Sepertinya
Yunho menyayangi Angel, meski tidak ditunjukkannya dengan kata-kata. Jaejoong sering
menangkap tatapan penuh kelembutan yang dilemparkan Yunho kepada Angel. Oh ya, Jaejoong
mengerti, seorang Jung Yunho mungkin tidak bisa lepas dalam menunjukkan kasih
sayangnya kepada anak kecil, tetapi Angel telah mencuri hati Yunho dan Jaejoong
mensyukuri itu. Mereka sampai di rumah, dan dengan takjub Jaejoong menyadari
bahwa kamar bayi sudah disiapkan. Kamar itu terletak di kamar kecil yang
memiliki pintu penghubung dengan kamar mereka sehingga Jaejoong bisa dengan
mudah mendatangi Angel ketika putera mereka membutuhkannya.
Dengan
lembut, Jaejoong meletakkan Angel yang tertidur pulas di boks bayi barunya.
Bayi itu sangat pandai, tidak rewel, dan mudah menyesuaikan diri dengan
perubahan suasana di tempat barunya. Yunho berdiri di ambang pintu penghubung
dan mengamati Jaejoong kemudian membalikkan badannya hendak pergi,
“Yun,”
Lelaki
itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap Jaejoong
“Wae?”
“Apakah…apakah
setelah sekarang kita mempunyai putera, kau masih menganggapku sebagai
pengganti Jessica?” Jaejoong harus bertanya, dia tak tahan lagi memendamnya.
Sekarang mereka sudah mempunyai seorang putera dan Jaejoong tidak mampu hidup
dalam ketidakpastian semacam ini. Anaknya harus tumbuh di keluarga yang saling
mencintai, dan ketika Yunho tidak bisa memberikannya. Maka Jaejoong akan pergi,
“Mwo?”
ada nyala di mata Yunho dan itu seharusnya sudah bisa menjadi tanda peringatan
buat Jaejoong tetapi dia tidak mau mundur, dan dia tidak bisa.
“Kau
selama ini selalu menganggapku sebagai pengganti Jessica. Sekarang kita
mempunyai Angel, aku hanya ingin menunjukkan sikapku. Aku tak mau menjadi
pengganti seseorang, jadi mungkin aku akan pergi bersama Angel.”
.
.
.
.
.
To Be Continue

saki-yah.. aku lebih suka klu nama anak yunjae jadi angel tpi yg versi korea x.. klu gak salah chonsa.. aku sering dengar junsu dipanggil kyak gtu dlu..
ReplyDeletehehe.. tpi kalau ttap angel jga gak papa..
hua.. suka bgt, walau pun dulu udah pernah baca, tpi ttap penasaran..
Susah ya yun nurunin gengsi.. apa salahnua perhatianmi ku tunjukkan langsung
ReplyDeletekyaaaa baru nemu nih heheehhe
ReplyDeleteaku sangat suka salang ui ba mu . ^_^
BTW im gothiclolita89 nice to know you.
kapan2 maen ke blogku ya hehehe
dasar beruang so2 an msih bersikap dingin dan cuek padahal. diam2 merhatiin juga
ReplyDeleteyunjae bakalan adu mulut lagi ni
Aigoo Jae~ kenapa gak percaya banget #kecupinAngel
ReplyDeleteSay something Yun, Say Something~
Oke saya kaget nama bayi mereka Angel, dari sekian banyak nama pria Jae milih Angel, oh baik lah Angel juga bagus kalau begitu :D
Kalo nama anaknya Yunjae Cheonsa boleh jg kali ya tp Angel jg gpp siy...
ReplyDelete