Friday, March 28

[Remake] Sacrifio de Amor Chapter XVII

Jaejoong langsung membalikkan badan dan berpura-pura tertidur.
Dirasakannya Yunho bolak-balik menghadap ke arahnya, seperti ingin mengajaknya bicara tetapi kemudian ragu dan mengehentikan dirinya di detik terakhir.
Saat-saat hening itu terasa menyiksa. Tubuh Jaejoong tegang meskipun dia berakting sudah tidur dengan baik, dijaganya agar nafasnya teratur, dijaganya agar tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
Lama-lama dia merasakan tubuh Yunho berangsur-angsur santai dan namja itu tertidur. Jaejoong menanti menit demi menit, menyakinkan diri kalau Yunho sudah terlelap, dan setelah cukup yakin, pelan-pelan dia bergerak.
Tubuhnya terasa sakit. Itu tadi benar-benar perkosaan, dan Yunho sama sekali tidak mau repot-repot bersikap lembut. Bibir Jaejoong memar akibat ciuman yang terlalu kasar, lengannya sedikit lebam karena genggaman yang terlalu keras, dan masih ada kesakitan-kesakitan lainnya. Di seluruh tubuhnya, di dalam tubuhnya.
Tetapi yang paling sakit adalah hatinya.

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy Agatha
Air mata mengalir tanpa suara dari pipi Jaejoong, tapi dia menahan isakan dengan menggigir bibirnya yang sakit. Dengan hati-hati Jaejoong duduk di tepi ranjang, mengamati pakaiannya yang berserakan di lantai, dan pakaiann dalamnya yang setengah dirobek oleh Yunho saat namja itu melepaskannya dengan marah tadi.
Pelan-pelan, agar tidak menimbulkan gerakan di ranjang tempat Yunho berbaring miring dan tertidur pulas, Jaejoong bangkir berdiri dan memungut pakaiannya satu persatu. Langkahnya goyah, dan tubuhnya gemetar, tapi Jaejoong menguatkan diri.
Dipakainya pakaiannya pelan-pelan sambil menatap ranjang dengan was-was, bersiap-siap jika ada satu gerakan sesedikit apapun dari Yunho.
Tetapi namja itu tidur dengan tenang sampai Jaejoong selesai berpakaian. Jaejoong lalu mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar, tetapi di pintu dia ragu-ragu, menoleh dan menatap Yunho yang masih tertidur pulas.
Yunho pasti akan maklum jika dia pergi begitu saja. Setelah perkosaan brutal dan kejam itu, Yunho pasti maklum jika Jaejoong menjauh darinya. Tapi kemudian Jaejoong mengernyit, teringat kemarahan Yunho ketika Jaejoong menghilang tanpa pamit untuk menunggui Changmin di rumah sakit hari minggu lalu.
Kalau aku pergi tanpa pamit, apa yang akan dilakukan Yunho? apalagi dengan perjanjian tiga puluh juta itu...
Ketakutan mewarnai perasaan Jaejoong, menahan langkahnya.
Lalu Jaejoong mengeluarkan kertas dan menulis.
Maaf Yunho, aku harus pergi sementara. Butuh waktu sendirian.
Tapi Kau bisa tenang, aku tidak akan melarikan diri dari hutang-hutangku.
Aku tidak serendah itu kau tahu.
Sampai jumpa di kantor besok pagi
Jaejoong.
.
.
.
.
Pagi itu Yunho duduk di kantornya dengan muram. Hari masih pagi, para karyawan belum datang ke kantor, tapi Yunho sudah ada di situ. Dia tak tahan berada di kamar apartement itu sendirian.
Tanpa Jaejoong.
Dia terbangun pagi-pagi sekali, karena terbiasa mencari Jaejoong untuk dipeluk, tetapi yang ditemukannya hanya bantal kosong. Dengan marah Yunho langsung bangun dan murka.
Berani-beraninya pelacur itu meninggalkannya?
Tetapi kemudian, kertas yang diletakkan di bantal Jaejoong itu agak meredakan kemarahannya. Sebuah pesan singkat sederhana yang ditulis dengan huruf yang sangat rapi.
Jaejoong bilang “Sampai jumpa di kantor besok pagi” jadi Yunho menahan diri dari kemarahannya dan memutuskan bersiap-siap dan berangkat ke kantor saat itu juga.
Sekarang dia duduk sendirian di ruangannya, memikirkan perbuatannya semalam dan mulai merasa cemas. Ia terlalu kasar. Ia tahu itu. Ia terlalu kuat dan Jaejoong terlalu rapuh untuk menahan kemarahannya.
Tapi tidak tahukah Jaejoong kalau pemandangan Jaejoong yang sedang dipeluk dan dicium oleh Yoochun itu benar-benar membuatnya marah? Seharusnya hanya dia yang boleh memeluk Jaejoong ! Seharusnya hanya dia yang boleh mencium Jaejoong!
Saat itulah pintu diketuk dengan pelan. Yunho terdiam penuh antisipasi, dia sudah menunggu. Siapa lagi yang datang sepagi ini kalau bukan Jaejoong?
"Masuk."
Pintu itu terbuka pelan, dan Jaejoong muncul disana. Hati Yunho langsung bagaikan dihantam oleh palu ketika melihat keadaan Jaejoong.
Yeoja itu masih memakai pakaiannya yang semalam meskipun kelihatan segar setelah mandi. Tapi wajahnya kelihatan pucat dan rapuh. Dan bibirnya sedikit lebam akibat ciuman-ciuman kasarnya kemarin.
Kenapa kau pucat sekali sayang?
Yunho berdehem, menahan perasaannya.
Detik itu juga Yunho memutuskan dia akan memaafkan Jaejoong. Dia tidak bisa menyalahkan Jaejoong karena merayu Yoochun, tidak ada yang bisa melarangnya kan? Tidak ada tertulis dalam perjanjian mereka bahwa Jaejoong tidak boleh menjalin hubungan dengan namja lain, disitu hanya tertulis bahwa Yunho berhak memiliki Jaejoong sesuka hatinya.
Oleh karena itu dia akan segera memastikan adanya klausul tambahan dalam perjanjian itu, bahwa Jaejoong tidak boleh disentuh namja lain, bahwa tubuh Jaejoong adalah hak eksklusifnya, miliknya.
Untuk sekarang, Yunho yakin Jaejoong akan memohon maaf padanya, dan itu bukan masalah, Yunho siap memaafkan Jaejoong atas pengkhianatannya semalam. Dia siap menerima Jaejoong lagi. Dia belum mau melepaskan Jaejoong.
"Duduk." perintahnya, berusaha sedatar mungkin.
Dengan patuh Jaejoong duduk, tapi yeoja itu tidak berkata apa-apa, hanya meremas tangannya dengan gelisah.
"Sebenarnya kau ingin bicara apa hingga harus menunggu sampai di kantor?"
Dimana kau tidur semalam? apakah kau baik-baik saja ? apakah aku menyakitimu? pertanyaan-pertanyaan itu yang bermunculan di benak Yunho, tetapi namja itu menahankannya.
Jaejoong mendongakkan kepalanya, matanya tampak penuh tekad ketika menatap Yunho. Takut, tapi penuh tekad.
"Aku...ingin melunasi semua hutangku dan mengakhiri perjanjian kontrak kita."
Yunho tertegun.
Rasanya seperti seluruh aliran darahnya dihentikan seketika. Ini adalah jawaban yang sama sekali tidak disangkanya. Yunho begitu terkejut hingga membatu seperti patung.
Tetapi ketika keterkejutannya usai. Kemarahan langsung merayapinya. Seperti api yang membakar pelan-pelan, makin lama makin berbahaya.
"Mwo?" desis Yunho di antara giginya, tangannya terkepal.
Dengan sedikit gemetar, Jaejoong meletakkan sebuah kertas di meja Yunho.
"Ini cek sebesar tiga puluh empat juta won, untuk melunasi hutangku sebesar tiga puluh juta, dan hutang ke perusahaan sebesar empat juta, dan ini..." Jaejoong meletakkan sebuah amplop di meja, "Surat pengunduran diriku dari perusahaan ini."
Hening cukup lama. Yunho hanya duduk di situ, mengamati Jaejoong dengan mata yang menyala-nyala.
Kemudian namja itu memajukan tubuhnya dan menatap Jaejoong sambil tersenyum dingin.
"Lunas sepenuhnya? Jadi malam-malam selama kau melayaniku itu kau anggap service gratis untukku?"
Wajah Jaejoong pucat pasi mendengar hinaan tersirat itu.
"Aku...Aku hanya ingin melepaskan diri dari perjanjian itu..."
Yunho mendesis gusar, lalu mengambil cek itu dan mengamatinya, alisnya terangkat, kemarahan tampak semakin membakarnya.
"Kau bisa memperoleh uang sebanyak ini dalam semalam, apakah kau menemukan korban lain yang bisa memberimu uang untuk melepaskan diri dariku?"
Jaejoong membelalakkan matanya tak percaya akan kesimpulan negatif yang di ambil Yunho,
"Jangan menuduhku serendah itu!!! Aku...aku bukan pelacur seperti yang kau kira!!"
"Kau pernah dengan sukarela menjadi pelacurku demi uang tiga puluh juta!! Bagaimana bisa aku tidak berpikir kau bersedia melacurkan diri pada orang lain demi melepaskan diri dariku hah???!!" Yunho menggebrak meja dengan begitu kerasnya, hingga Jaejoong terlonjak kaget dari tempat duduknya.
Lalu tanpa di duganya. Yunho mengambil surat pengunduran dirinya di meja. Dan merobek-robeknya bersama dengan cek yang diberikannya.
Jaejoong hanya ternganga, kaget dengan tindakan tak terduga Yunho itu. Sementara namja itu berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan mengancam sambil merobek-robek surat dan cek itu menjadi serpihan-serpihan kecil.
Ketika Yunho mulai mendekati Jaejoong, Jaejoong langsung berdiri menjauh, waspada.
"Kenapa kau merobek cek dan surat itu?" tanya Jaejoong gugup, takut akan suasana hati Yunho yang begitu muram.
Yunho makin mendekat. Lalu berhenti dan tersenyum sinis ketika melihat Jaejoong mundur lagi menjauhinya.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu mudah Jae, kau pikir aku akan diam saja kau bodohi? Aku akan membuatmu menerima balasan setimpal sebelum akhirnya melepaskanmu..."
Tiba-tiba Yunho bergerak cepat meraih Jaejoong sebelum dia bisa menghindar. Jaejoong mencoba meronta, tapi ia sadar dari pengalamannya bahwa percuma saja dia melawan kekuatan dan kemarahan Yunho, jadi dia hanya diam dengan wajah pucat pasi ketakutan.
"Katakan padaku Jae...Namja yang membayari hutangmu itu...Apakah dia sudah menidurimu?" mata Yunho menggelap penuh kemurkaan, "Apakah dia sudah menyentuhmu?" napas Yunho mulai memburu, "Apakah ciumannya sebaik ciumanku? Atau dia hanya namja bodoh yang tertipu oleh kepolosan palsumu yang...."
"Lepaskan aku!!!!" entah darimana Jaejoong seperti mendapatkan kekuatan untuk mendorong Yunho dan melangkah menjauh. "Aku sudah membayar hutangku. Aku sudah tidak terikat denganmu!! Kau tidak berhak melecehkanku lagi!!"
"Melecehkan katamu?? Kau bilang itu pelecehan? Kau menyambutku dengan hangat setiap aku mendatangimu dan kau bilang itu pelecehan??"
PLAK!!!!
Tangan Jaejoong tanpa disadari melayang sendiri menampar pipi Yunho sekeras mungkin, kata-kata Yunho yang luar biasa menghina itu sangat menyakiti hatinya.
Yunho berdiri disana mengusap pipinya lalu tersenyum jahat.
"Kenapa menamparku? Apakah kau merasa malu karena kekotoran moralmu terungkap disini?" gumamnya sinis.
Dengan bergegas Jaejoong melangkah ke pintu, sedikit lega karena Yunho tidak mengikutinya.
"Aku akan mengirimkan lagi cek yang baru, berikut surat pengunduran diriku...Bagiku semua sudah lunas di antara kita" gumamnya lirih.
"Bagiku belum," desis Yunho tenang, "Kau boleh kabur kemanapun Jae, dan aku bersumpah akan mendapatkanmu. Dan ketika itu terjadi aku tidak akan main-main lagi, aku bahkan akan merantaimu di kamar jika perlu. Dan tak usah repot-repot mengirimkan cek ataupun surat apapun, aku akan merobek-robeknya lagi."
Tangan Jaejoong yang memegang gagang pintu gemetaran.
"Kenapa kau begitu kejam padaku...?" Rintihnya putus asa, matanya berkaca-kaca.
Sejenak Yunho terpaku. Jaejoong tampak begitu hancur, begitu luluh, hingga seketika itu juga Yunho ingin memeluk Jaejoong dan menghiburnya, meminta maaf atas kata-kata kasarnya. Tapi akal sehatnya segera mengambil alih. Itu akting, teriaknya pada diri sendiri, jangan tertipu, yeoja ini pandai memanipulasi orang dengan berpura-pura rapuh. Kau sendiri sudah merasakannya bukan?
"A...Aku tetap akan pergi..." Jaejoong bergumam ketika Yunho hanya berdiam diri, "Kau boleh memaksaku semaumu, tapi aku akan melawanmu sekuat tenaga."
Dengan cepat Jaejoong membuka handel pintu. Lalu menolehkan kepalanya untuk menatap Yunho, mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Diserapnya sosok itu baik-baik, sosok dingin yang berdiri kaku, menatap Jaejoong dengan penuh kebencian. Disimpannya sosok itu baik baik, dan tiba-tiba saja hatinya terasa teriris. Air mata mulai menetes dari sudut matanya, dan dengan segera Jaejoong melangkah keluar dari ruangan itu.
Setengah berlari dia memasuki lift tanpa mempedulikan tatapan bingung sekertaris Yunho.
Di lobby, boa yang menunggu dengan gelisah dari tadi langsung berdiri begitu melihat Jaejoong muncul di lift.
"Ottokkhe..?"
Pertanyaannya tak terjawab karena Jaejoong langsung mengajaknya keluar dari lobby menuju parkiran, menaiki mobil jemputan rumah sakit yang diminta boa mengantar mereka ke sini tadi.
Di mobil air mata Jaejoong tak terbendung lagi dan boa langsung memeluknya untuk menenangkannya.
"Ssshhh...Semuanya tak berjalan baik ya?"
"Dia...Dia tidak mau menerima uang itu...." jaejoong tersedak oleh tangisan yang dalam, "Dia...Dia menuduhku menjual diriku kepada namja lain demi mendapatkan uang itu..." tangis Jaejoong meledak lagi dengan kuatnya.
Dan boa langsung memeluknya. Matanya sendiri berkaca-kaca melihat penderitaan Jaejoong.
"Apakah...kau mencintainya, Jae?" tanya boa hati-hati.
Jaejoong langsung tersentak, menatap Boa dengan pandangan nanar.
"Mwo...? Itu...Itu tidak mungkin...."
"Jae, mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kebersamaan kalian selama ini mungkin saja menumbuhkan sesuatu yang dalam di antara kalian..." boa menatap Jaejoong lembut, "Dan kau...Tidak mungkin menangis semenderita ini jika kau tidak punya perasaan apa-apa kepada Yunho, sayang."
Jaejoong hanya termangu. Air matanya masih mengalir, hatinya sakit sekali. Dan memang benar, penghinaan dan perlakuan kasar Yunho telah menyakitinya lebih daripada yang seharusnya. Tapi Jaejoong tidak mau memikirkan kemungkinan apapun. Dia tidak mau, dan tidak bisa. Ada Changmin di sisinya bukan?
Boa mendesah melihat kediaman Jaejoong.
"Yah, setidaknya, suatu saat ketika Yunho menyadari kesalahannya, dia akan menyesal dan kuharap aku ada di sana ketika dia memohon maaf padamu."
.
.
.
.
.
To Be Continue
Oke, Saki update 2 chap sekaligus, ah tadi ada  yang kelewatan, Jae hamil kok, tapi nanti ya, abisnya klimaks... masih lama kok, mungkin chapt 20an, FF ini berakhir di chapter 27, semoga para tamu Saki tidak bosan untuk selalu main kesini.

9 comments:

  1. Tbc di saat yNg tidak tepat
    Aku penasaran bngt saki baca 2 chapter rasanya masih kurang dan saki harus tau aku nunggu bngt klanjutan ini dari pgi aku ngcek truk blog saki barang kali udah update
    #hihihihi

    Abis penasaran banget sama klanjutannya ........

    Siapa tuch yang ngasih jae uang buat bnyr hutang ke yunho
    klo boa kayanya ga mungkin mungkin kah yuchun dan junsu
    barangkali untuk menebus kesalahan

    tapi semuanya ga di terima yunho
    Tapi aku seneng itu artinya jae tetep milik yunho selamanya

    Jae bkalan hamil apa stelah ntr di paksa lgi tinggal sama yunho
    yunho sengaja bikin jae hamil supaya ga ninggalin dia
    aku penasaran sama kelanjutannya saki ....
    Di tunggu ^___^

    ReplyDelete
  2. Anonymous8:27 PM

    Lagi saki lagi,
    Penasaran pas yunpa tau kebenarannya,
    Udah mulai tumbuh cibta,, cue cie,,

    Ayo yunpa, hilangkan egomu, jngn smpe menyesal low,,,rengkuh jaema

    Q mau jae umma hamil..ya ya ya unnie

    ReplyDelete
  3. aq jg sama kayak Riyanti,,,
    tiap saat ngintip k rumah Saki,,,bahkan kemaren tengah malampun aq ngintip dan alhasil ada apdetan hohoho

    bener bgt,,,gk 'kenyang' rasanya walopun 2 chapter #plakk

    ohhh,,,Boa uisa~nim, tolong bantu JJ menyadari perasaannya sama yunho
    dan yunho,,,aq dukung buat gk ngelepasin JJ apapun yg terjadi krena JJ cuman milikku 'ehh??' milikmu lol

    Saki.....pengen lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
    fighting !!!!!

    ReplyDelete
  4. kasihan banget jae, yunho bnr2 ya prcya aja gt sm yoochun,

    oiya aku mo curcol ni knp klo mo komen lwt hp susah banget ya? login lwt hp buat komen jg susah banget tp klo lwt laptop bisa tapi msih pke kaya pw ato sndi gtu

    updt jg donk lg laen, fighting,,,,

    ReplyDelete
  5. Penasaran bgt. Rasanya pengen cepet2 baca semuanya sampe abis. Suka bgt sama crita ini

    ReplyDelete
  6. Jaenna ♥10:43 PM

    Tbc nya nanggung...hahaha.. but ini dua chap lho readerdul... hihihi.. tetep yah kagak puas.. Saki.. ini remake dr novelny Santi Agatha khan.. sm ky Salng ui ba.
    Tp aku lbh memfav kan yg ini lho.. entahlah.. emosiku lbh main klo di sini. Bahasany nya jg lbh halus..apaa cobaaa.. udh ah..

    ReplyDelete
  7. Anonymous11:12 PM

    aku tak bosan, setiap crita hampir aku anggap klimaks masa karena bagus aja situasi mereka dan semakin memanas. wkwk smoga update lancar yah :)
    #retno

    ReplyDelete
  8. Anonymous5:47 AM

    Gomao udah d jwb pertanyaanku sakiii

    Kalo ada little yunjae, apa mungkin ada pernikahaan?????

    Kyaaaaaa jd ga sabar nungguin chap selanjut'y ><

    Sakiii up date kilat yaaaaaaa

    ReplyDelete
  9. Yunho jahat bgt sih sma Jaejae..
    Jd kontrak mrk bnrn selesai tuh?
    Rada ga rela tp Yunho pasti ga akan diem aja donk..
    Mrk udah jelas saling cinta..

    ReplyDelete