Dirasakannya Yunho bolak-balik menghadap ke
arahnya, seperti ingin mengajaknya bicara tetapi kemudian ragu dan
mengehentikan dirinya di detik terakhir.
Saat-saat hening itu terasa menyiksa. Tubuh
Jaejoong tegang meskipun dia berakting sudah tidur dengan baik, dijaganya agar
nafasnya teratur, dijaganya agar tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
Lama-lama dia merasakan tubuh Yunho
berangsur-angsur santai dan namja itu tertidur. Jaejoong menanti menit demi
menit, menyakinkan diri kalau Yunho sudah terlelap, dan setelah cukup yakin,
pelan-pelan dia bergerak.
Tubuhnya terasa sakit. Itu tadi benar-benar
perkosaan, dan Yunho sama sekali tidak mau repot-repot bersikap lembut. Bibir
Jaejoong memar akibat ciuman yang terlalu kasar, lengannya sedikit lebam karena
genggaman yang terlalu keras, dan masih ada kesakitan-kesakitan lainnya. Di
seluruh tubuhnya, di dalam tubuhnya.
Tetapi yang paling sakit adalah hatinya.
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy
Agatha
Air mata mengalir tanpa suara dari pipi Jaejoong,
tapi dia menahan isakan dengan menggigir bibirnya yang sakit. Dengan hati-hati
Jaejoong duduk di tepi ranjang, mengamati pakaiannya yang berserakan di lantai,
dan pakaiann dalamnya yang setengah dirobek oleh Yunho saat namja itu
melepaskannya dengan marah tadi.
Pelan-pelan, agar tidak menimbulkan gerakan di
ranjang tempat Yunho berbaring miring dan tertidur pulas, Jaejoong bangkir
berdiri dan memungut pakaiannya satu persatu. Langkahnya goyah, dan tubuhnya
gemetar, tapi Jaejoong menguatkan diri.
Dipakainya pakaiannya pelan-pelan sambil menatap
ranjang dengan was-was, bersiap-siap jika ada satu gerakan sesedikit apapun
dari Yunho.
Tetapi namja itu tidur dengan tenang sampai
Jaejoong selesai berpakaian. Jaejoong lalu mengambil tas kerjanya dan melangkah
keluar, tetapi di pintu dia ragu-ragu, menoleh dan menatap Yunho yang masih
tertidur pulas.
Yunho pasti akan maklum jika dia pergi begitu saja.
Setelah perkosaan brutal dan kejam itu, Yunho pasti maklum jika Jaejoong
menjauh darinya. Tapi kemudian Jaejoong mengernyit, teringat kemarahan Yunho
ketika Jaejoong menghilang tanpa pamit untuk menunggui Changmin di rumah sakit
hari minggu lalu.
Kalau aku pergi tanpa pamit, apa yang akan
dilakukan Yunho? apalagi dengan perjanjian tiga puluh juta itu...
Ketakutan mewarnai perasaan Jaejoong, menahan
langkahnya.
Lalu Jaejoong mengeluarkan kertas dan menulis.
Maaf Yunho, aku harus pergi sementara. Butuh waktu sendirian.
Tapi Kau bisa tenang, aku tidak akan melarikan diri dari
hutang-hutangku.
Aku tidak serendah itu kau tahu.
Sampai jumpa di kantor besok pagi
Jaejoong.
.
.
.
.
Pagi itu Yunho duduk di kantornya dengan muram.
Hari masih pagi, para karyawan belum datang ke kantor, tapi Yunho sudah ada di
situ. Dia tak tahan berada di kamar apartement itu sendirian.
Tanpa Jaejoong.
Dia terbangun pagi-pagi sekali, karena terbiasa
mencari Jaejoong untuk dipeluk, tetapi yang ditemukannya hanya bantal kosong.
Dengan marah Yunho langsung bangun dan murka.
Berani-beraninya pelacur itu meninggalkannya?
Tetapi kemudian, kertas yang diletakkan di bantal
Jaejoong itu agak meredakan kemarahannya. Sebuah pesan singkat sederhana yang
ditulis dengan huruf yang sangat rapi.
Jaejoong bilang “Sampai jumpa di kantor besok pagi”
jadi Yunho menahan diri dari kemarahannya dan memutuskan bersiap-siap dan
berangkat ke kantor saat itu juga.
Sekarang dia duduk sendirian di ruangannya,
memikirkan perbuatannya semalam dan mulai merasa cemas. Ia terlalu kasar. Ia
tahu itu. Ia terlalu kuat dan Jaejoong terlalu rapuh untuk menahan
kemarahannya.
Tapi tidak tahukah Jaejoong kalau pemandangan
Jaejoong yang sedang dipeluk dan dicium oleh Yoochun itu benar-benar membuatnya
marah? Seharusnya hanya dia yang boleh memeluk Jaejoong ! Seharusnya hanya dia
yang boleh mencium Jaejoong!
Saat itulah pintu diketuk dengan pelan. Yunho
terdiam penuh antisipasi, dia sudah menunggu. Siapa lagi yang datang sepagi ini
kalau bukan Jaejoong?
"Masuk."
Pintu itu terbuka pelan, dan Jaejoong muncul
disana. Hati Yunho langsung bagaikan dihantam oleh palu ketika melihat keadaan
Jaejoong.
Yeoja itu masih memakai pakaiannya yang semalam
meskipun kelihatan segar setelah mandi. Tapi wajahnya kelihatan pucat dan rapuh.
Dan bibirnya sedikit lebam akibat ciuman-ciuman kasarnya kemarin.
Kenapa kau pucat sekali sayang?
Yunho berdehem, menahan perasaannya.
Detik itu juga Yunho memutuskan dia akan memaafkan
Jaejoong. Dia tidak bisa menyalahkan Jaejoong karena merayu Yoochun, tidak ada
yang bisa melarangnya kan? Tidak ada tertulis dalam perjanjian mereka bahwa
Jaejoong tidak boleh menjalin hubungan dengan namja lain, disitu hanya tertulis
bahwa Yunho berhak memiliki Jaejoong sesuka hatinya.
Oleh karena itu dia akan segera memastikan adanya
klausul tambahan dalam perjanjian itu, bahwa Jaejoong tidak boleh disentuh
namja lain, bahwa tubuh Jaejoong adalah hak eksklusifnya, miliknya.
Untuk sekarang, Yunho yakin Jaejoong akan memohon
maaf padanya, dan itu bukan masalah, Yunho siap memaafkan Jaejoong atas
pengkhianatannya semalam. Dia siap menerima Jaejoong lagi. Dia belum mau
melepaskan Jaejoong.
"Duduk." perintahnya, berusaha sedatar
mungkin.
Dengan patuh Jaejoong duduk, tapi yeoja itu tidak
berkata apa-apa, hanya meremas tangannya dengan gelisah.
"Sebenarnya kau ingin bicara apa hingga harus
menunggu sampai di kantor?"
Dimana kau tidur semalam? apakah kau baik-baik saja
? apakah aku menyakitimu? pertanyaan-pertanyaan itu yang bermunculan di benak
Yunho, tetapi namja itu menahankannya.
Jaejoong mendongakkan kepalanya, matanya tampak
penuh tekad ketika menatap Yunho. Takut, tapi penuh tekad.
"Aku...ingin melunasi semua hutangku dan
mengakhiri perjanjian kontrak kita."
Yunho tertegun.
Rasanya seperti seluruh aliran darahnya dihentikan seketika.
Ini adalah jawaban yang sama sekali tidak disangkanya. Yunho begitu terkejut
hingga membatu seperti patung.
Tetapi ketika keterkejutannya usai. Kemarahan
langsung merayapinya. Seperti api yang membakar pelan-pelan, makin lama makin
berbahaya.
"Mwo?" desis Yunho di antara giginya,
tangannya terkepal.
Dengan sedikit gemetar, Jaejoong meletakkan sebuah
kertas di meja Yunho.
"Ini cek sebesar tiga puluh empat juta won,
untuk melunasi hutangku sebesar tiga puluh juta, dan hutang ke perusahaan
sebesar empat juta, dan ini..." Jaejoong meletakkan sebuah amplop di meja,
"Surat pengunduran diriku dari perusahaan ini."
Hening cukup lama. Yunho hanya duduk di situ,
mengamati Jaejoong dengan mata yang menyala-nyala.
Kemudian namja itu memajukan tubuhnya dan menatap
Jaejoong sambil tersenyum dingin.
"Lunas sepenuhnya? Jadi malam-malam selama kau
melayaniku itu kau anggap service gratis untukku?"
Wajah Jaejoong pucat pasi mendengar hinaan tersirat
itu.
"Aku...Aku hanya ingin melepaskan diri dari
perjanjian itu..."
Yunho mendesis gusar, lalu mengambil cek itu dan
mengamatinya, alisnya terangkat, kemarahan tampak semakin membakarnya.
"Kau bisa memperoleh uang sebanyak ini dalam
semalam, apakah kau menemukan korban lain yang bisa memberimu uang untuk
melepaskan diri dariku?"
Jaejoong membelalakkan matanya tak percaya akan
kesimpulan negatif yang di ambil Yunho,
"Jangan menuduhku serendah itu!!! Aku...aku
bukan pelacur seperti yang kau kira!!"
"Kau pernah dengan sukarela menjadi pelacurku
demi uang tiga puluh juta!! Bagaimana bisa aku tidak berpikir kau bersedia
melacurkan diri pada orang lain demi melepaskan diri dariku hah???!!"
Yunho menggebrak meja dengan begitu kerasnya, hingga Jaejoong terlonjak kaget
dari tempat duduknya.
Lalu tanpa di duganya. Yunho mengambil surat
pengunduran dirinya di meja. Dan merobek-robeknya bersama dengan cek yang
diberikannya.
Jaejoong hanya ternganga, kaget dengan tindakan tak
terduga Yunho itu. Sementara namja itu berdiri di sana, menatapnya dengan
tatapan mengancam sambil merobek-robek surat dan cek itu menjadi
serpihan-serpihan kecil.
Ketika Yunho mulai mendekati Jaejoong, Jaejoong
langsung berdiri menjauh, waspada.
"Kenapa kau merobek cek dan surat itu?"
tanya Jaejoong gugup, takut akan suasana hati Yunho yang begitu muram.
Yunho makin mendekat. Lalu berhenti dan tersenyum
sinis ketika melihat Jaejoong mundur lagi menjauhinya.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu mudah Jae,
kau pikir aku akan diam saja kau bodohi? Aku akan membuatmu menerima balasan
setimpal sebelum akhirnya melepaskanmu..."
Tiba-tiba Yunho bergerak cepat meraih Jaejoong
sebelum dia bisa menghindar. Jaejoong mencoba meronta, tapi ia sadar dari
pengalamannya bahwa percuma saja dia melawan kekuatan dan kemarahan Yunho, jadi
dia hanya diam dengan wajah pucat pasi ketakutan.
"Katakan padaku Jae...Namja yang membayari
hutangmu itu...Apakah dia sudah menidurimu?" mata Yunho menggelap penuh
kemurkaan, "Apakah dia sudah menyentuhmu?" napas Yunho mulai memburu,
"Apakah ciumannya sebaik ciumanku? Atau dia hanya namja bodoh yang tertipu
oleh kepolosan palsumu yang...."
"Lepaskan aku!!!!" entah darimana
Jaejoong seperti mendapatkan kekuatan untuk mendorong Yunho dan melangkah
menjauh. "Aku sudah membayar hutangku. Aku sudah tidak terikat denganmu!!
Kau tidak berhak melecehkanku lagi!!"
"Melecehkan katamu?? Kau bilang itu pelecehan?
Kau menyambutku dengan hangat setiap aku mendatangimu dan kau bilang itu
pelecehan??"
PLAK!!!!
Tangan Jaejoong tanpa disadari melayang sendiri
menampar pipi Yunho sekeras mungkin, kata-kata Yunho yang luar biasa menghina
itu sangat menyakiti hatinya.
Yunho berdiri disana mengusap pipinya lalu
tersenyum jahat.
"Kenapa menamparku? Apakah kau merasa malu
karena kekotoran moralmu terungkap disini?" gumamnya sinis.
Dengan bergegas Jaejoong melangkah ke pintu, sedikit
lega karena Yunho tidak mengikutinya.
"Aku akan mengirimkan lagi cek yang baru,
berikut surat pengunduran diriku...Bagiku semua sudah lunas di antara
kita" gumamnya lirih.
"Bagiku belum," desis Yunho tenang,
"Kau boleh kabur kemanapun Jae, dan aku bersumpah akan mendapatkanmu. Dan
ketika itu terjadi aku tidak akan main-main lagi, aku bahkan akan merantaimu di
kamar jika perlu. Dan tak usah repot-repot mengirimkan cek ataupun surat
apapun, aku akan merobek-robeknya lagi."
Tangan Jaejoong yang memegang gagang pintu
gemetaran.
"Kenapa kau begitu kejam padaku...?"
Rintihnya putus asa, matanya berkaca-kaca.
Sejenak Yunho terpaku. Jaejoong tampak begitu
hancur, begitu luluh, hingga seketika itu juga Yunho ingin memeluk Jaejoong dan
menghiburnya, meminta maaf atas kata-kata kasarnya. Tapi akal sehatnya segera
mengambil alih. Itu akting, teriaknya pada diri sendiri, jangan tertipu, yeoja
ini pandai memanipulasi orang dengan berpura-pura rapuh. Kau sendiri sudah
merasakannya bukan?
"A...Aku tetap akan pergi..." Jaejoong
bergumam ketika Yunho hanya berdiam diri, "Kau boleh memaksaku semaumu,
tapi aku akan melawanmu sekuat tenaga."
Dengan cepat Jaejoong membuka handel pintu. Lalu
menolehkan kepalanya untuk menatap Yunho, mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Diserapnya sosok itu baik-baik, sosok dingin yang
berdiri kaku, menatap Jaejoong dengan penuh kebencian. Disimpannya sosok itu
baik baik, dan tiba-tiba saja hatinya terasa teriris. Air mata mulai menetes
dari sudut matanya, dan dengan segera Jaejoong melangkah keluar dari ruangan
itu.
Setengah berlari dia memasuki lift tanpa
mempedulikan tatapan bingung sekertaris Yunho.
Di lobby, boa yang menunggu dengan gelisah dari
tadi langsung berdiri begitu melihat Jaejoong muncul di lift.
"Ottokkhe..?"
Pertanyaannya tak terjawab karena Jaejoong langsung
mengajaknya keluar dari lobby menuju parkiran, menaiki mobil jemputan rumah
sakit yang diminta boa mengantar mereka ke sini tadi.
Di mobil air mata Jaejoong tak terbendung lagi dan
boa langsung memeluknya untuk menenangkannya.
"Ssshhh...Semuanya tak berjalan baik ya?"
"Dia...Dia tidak mau menerima uang
itu...." jaejoong tersedak oleh tangisan yang dalam, "Dia...Dia
menuduhku menjual diriku kepada namja lain demi mendapatkan uang itu..."
tangis Jaejoong meledak lagi dengan kuatnya.
Dan boa langsung memeluknya. Matanya sendiri
berkaca-kaca melihat penderitaan Jaejoong.
"Apakah...kau mencintainya, Jae?" tanya
boa hati-hati.
Jaejoong langsung tersentak, menatap Boa dengan
pandangan nanar.
"Mwo...? Itu...Itu tidak mungkin...."
"Jae, mungkin kau tidak menyadarinya, tapi
kebersamaan kalian selama ini mungkin saja menumbuhkan sesuatu yang dalam di
antara kalian..." boa menatap Jaejoong lembut, "Dan kau...Tidak
mungkin menangis semenderita ini jika kau tidak punya perasaan apa-apa kepada
Yunho, sayang."
Jaejoong hanya termangu. Air matanya masih
mengalir, hatinya sakit sekali. Dan memang benar, penghinaan dan perlakuan
kasar Yunho telah menyakitinya lebih daripada yang seharusnya. Tapi Jaejoong
tidak mau memikirkan kemungkinan apapun. Dia tidak mau, dan tidak bisa. Ada
Changmin di sisinya bukan?
Boa mendesah melihat kediaman Jaejoong.
"Yah, setidaknya, suatu saat ketika Yunho
menyadari kesalahannya, dia akan menyesal dan kuharap aku ada di sana ketika
dia memohon maaf padamu."
.
.
.
.
.
To Be Continue
Oke, Saki update 2 chap sekaligus, ah tadi ada yang kelewatan, Jae hamil kok, tapi nanti ya, abisnya klimaks... masih lama kok, mungkin chapt 20an, FF ini berakhir di chapter 27, semoga para tamu Saki tidak bosan untuk selalu main kesini.

Tbc di saat yNg tidak tepat
ReplyDeleteAku penasaran bngt saki baca 2 chapter rasanya masih kurang dan saki harus tau aku nunggu bngt klanjutan ini dari pgi aku ngcek truk blog saki barang kali udah update
#hihihihi
Abis penasaran banget sama klanjutannya ........
Siapa tuch yang ngasih jae uang buat bnyr hutang ke yunho
klo boa kayanya ga mungkin mungkin kah yuchun dan junsu
barangkali untuk menebus kesalahan
tapi semuanya ga di terima yunho
Tapi aku seneng itu artinya jae tetep milik yunho selamanya
Jae bkalan hamil apa stelah ntr di paksa lgi tinggal sama yunho
yunho sengaja bikin jae hamil supaya ga ninggalin dia
aku penasaran sama kelanjutannya saki ....
Di tunggu ^___^
Lagi saki lagi,
ReplyDeletePenasaran pas yunpa tau kebenarannya,
Udah mulai tumbuh cibta,, cue cie,,
Ayo yunpa, hilangkan egomu, jngn smpe menyesal low,,,rengkuh jaema
Q mau jae umma hamil..ya ya ya unnie
aq jg sama kayak Riyanti,,,
ReplyDeletetiap saat ngintip k rumah Saki,,,bahkan kemaren tengah malampun aq ngintip dan alhasil ada apdetan hohoho
bener bgt,,,gk 'kenyang' rasanya walopun 2 chapter #plakk
ohhh,,,Boa uisa~nim, tolong bantu JJ menyadari perasaannya sama yunho
dan yunho,,,aq dukung buat gk ngelepasin JJ apapun yg terjadi krena JJ cuman milikku 'ehh??' milikmu lol
Saki.....pengen lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
fighting !!!!!
kasihan banget jae, yunho bnr2 ya prcya aja gt sm yoochun,
ReplyDeleteoiya aku mo curcol ni knp klo mo komen lwt hp susah banget ya? login lwt hp buat komen jg susah banget tp klo lwt laptop bisa tapi msih pke kaya pw ato sndi gtu
updt jg donk lg laen, fighting,,,,
Penasaran bgt. Rasanya pengen cepet2 baca semuanya sampe abis. Suka bgt sama crita ini
ReplyDeleteTbc nya nanggung...hahaha.. but ini dua chap lho readerdul... hihihi.. tetep yah kagak puas.. Saki.. ini remake dr novelny Santi Agatha khan.. sm ky Salng ui ba.
ReplyDeleteTp aku lbh memfav kan yg ini lho.. entahlah.. emosiku lbh main klo di sini. Bahasany nya jg lbh halus..apaa cobaaa.. udh ah..
aku tak bosan, setiap crita hampir aku anggap klimaks masa karena bagus aja situasi mereka dan semakin memanas. wkwk smoga update lancar yah :)
ReplyDelete#retno
Gomao udah d jwb pertanyaanku sakiii
ReplyDeleteKalo ada little yunjae, apa mungkin ada pernikahaan?????
Kyaaaaaa jd ga sabar nungguin chap selanjut'y ><
Sakiii up date kilat yaaaaaaa
Yunho jahat bgt sih sma Jaejae..
ReplyDeleteJd kontrak mrk bnrn selesai tuh?
Rada ga rela tp Yunho pasti ga akan diem aja donk..
Mrk udah jelas saling cinta..