Saturday, March 29

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter XX


Yunho mengernyit melihat senyuman itu. Senyuman itu bagaikan pisau yang menusuk hatinya, senyuman yang diberikan Jaejoong ketika membayangkan namja lain, ketika membayangkan Changmin.
“Bagus,” gumamnya datar, kemudian menatap Jaejoong lembut, “mungkin kita harus melakukan pengaturan kembali dengan perkembangan yang mendadak ini, tetapi aku tidak mau mengganggumu dulu, kau pasti ingin fokus dulu dengan kondisi Changmin... jadi kupikir aku akan kembali lagi saja nanti.”
“Gomapta Yun.” akhirnya Jaejoong bisa berkata-kata, pelan.
Yunho tersenyum miring,
“Aku meminta maaf, dan kau malah menjawabnya dengan ucapan terima kasih, kau memang aneh Boo.” dengan hati-hati Yunho mendekat, lalu setelah yakin bahwa Jaejoong tak akan menjauh, dia merengkuh Jaejoong ke dalam pelukannya,
“Ingat kata-kataku tadi.” bisiknya lembut, lalu menunduk dan memberikan Jaejoong sebuah ciuman yang singkat tetapi menggetarkan kepada Jaejoong.
Dan pergilah Yunho, meninggalkan Jaejoong yang masih berdiri terpaku, memegangi bibirnya yang terasa hangat, bekas ciuman Yunho.

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy Agatha
"Dia sadar." Yunho menyesap minumannya sambil berdiri terpaku menatap ke pemandangan dari jendela lantai atas kantornya.
Junsu, yang masih bersama Yoochun hanya diam terpaku. Yunho sudah menceritakan semuanya kepada mereka tadi, tentang sadarnya Changmin dari komanya. Dan sekarang namja itu hanya terdiam dan mengulang-ulang kata 'dia sadar' 'dia sadar' sambil menatap keluar.
Junsu menarik napas mulai tak sabar, sedangkan Yoochun hanya mengetuk-ketukkan tanggannya di lutut. Yunho masih belum menunjukkan tanda-tanda memaafkannya jadi dia memilih diam dan tidak mengatakan apa-apa.
"Kurasa karena perkembangan baru yang tidak terduga ini, kau akhirnya memutuskan untuk melepaskan Jaejoong?"
Pertanyaan Junsu itu membuat Yunho mendadak memutar tubuhnya dengan tajam menghadap Junsu dan menatapnya dengan mata menyala-nyala.
"Dia belum memilih," gumam Yunho setengah menggeram. "detik terakhir sebelumnya, dia menerimaku dalam pelukannya, membalas pelukanku dan aku yakin akan menerima ajakanku untuk pulang bersamaku."
"Sudahlah Yun, sekarang kan tunangannya yang setia ditungguinya selama dua tahun sudah sadar, kau tidak bisa......" tanpa sadar Yoochun bersuara memberikan pendapat seperti kebiasaannya sebelumnya. Tapi langsung berhenti mendadak ketika menerima tatapan tajam penuh permusuhan dari Yunho,
"Aku....aku hanya mencoba memaparkan kenyataan di depanmu." suara Yoochun hilang tertelan karena tatapan Yunho makin tajam.
Junsu menghela napas sekali lagi,
"Yoochun benar, Jung. sadarnya Changmin ini bukankah merupakan tujuan hidup Jaejoong selama ini? Biarkan mereka berbahagia Yunho, mereka pantas mendapatkannya setelah tahun-tahun penuh penantian dan ketidakpastian yang menyiksa."
"Shirro!" Yunho tetap bersikeras, "aku tidak bisa menyerah begitu saja dan membiarkan Jaejoong salah memilih. Dia mencintaiku. Perasaannya pada Changmin mungkin hanya kasihan."
"Kenapa kau tidak bisa berpikir kalau perasaannya kepadamulah yang mungkin hanya perasaan sesaat karena keadaan yang dipaksakan? Kau pernah dengar apa itu Stockholm Syndrome?" sela Junsu jengkel.
Yunho tercenung, tentu saja dia tahu apa itu Stockholm Syndrome, dan menyakitkan kalau menyadari bahwa perasaan Jaejoong kepadanya mungkin ditumbuhkan oleh situasi keterpaksaan. Dengan gusar diusapnya rambutnya,
"Aku akan menanyakan langsung padanya. Nanti. Setelah kondisi tunangannya lebih baik."
Junsu tidak berkata-kata. Dan Yoochun hanya diam, tak tahu harus bicara apa lagi.
.
.
.
.
Dua hari kemudian, Jaejoong berdiri di depan ruangan perawatan Changmin dengan cemas, tangannya menggenggam tangan Boa setengah menangis. Matanya semakin berkaca-kaca ketika mendengar suara teriakan dari dalam. Teriakan Changmin,
"Uisa...." hati Jaejoong terasa di iris-iris, menyadari bahwa suara pertama yang dikeluarkan Changmin setelah 2 tahun adalah teriakan kesakitan.
"Gwenchana Jae, itu pertanda bagus, Changmin memang kesakitan, mereka sedang melepas selang di tenggorokan dan di dadanya, tetapi kalau Changmin bisa mengeluarkan suara, itu pertanda kondisinya sudah semakin membaik." Boa menggenggam tangan Jaejoong, membagikan kekuatannya.
Suara teriakan itu terdengar lagi, begitu serak hingga Jaejoong hampir tak mengenalinya. Air matanya mulai menetes satu-satu tanpa dapat ditahannya,
"Berapa lama lagi suster?" menunggu di luar seperti ini terasa bagaikan siksaan yang paling mengerikan.
"Sebentar lagi, nanti mereka akan mengizinkanmu menemuinya," dengan lembut Boa mengusap-usap Jaejoong, "dia harus melalui ini Jaejoong, dan nanti akan banyak kesakitan lagi, tapi ini proses penyembuhan, dia pasti akan sembuh."
Jaejoong menganggukkan kepalanya, memejamkan matanya, menunggu.
Penantian itu terasa begitu lama, lama sekali sampai tim dokter dan perawat keluar dan mengizinkan Jaejoong masuk,
Dengan hati-hati, Jaejoong melangkah masuk ke ruangan perawatan Changmin. Ruangan yang sangat akrab, sangat dikenalinya. Tetapi sekarang berbeda, Changminnya tidak tidur. Changminnya tidak menutup mata, dia bangun, sadar dan hidup. Hati Jaejoong sesak oleh euforia yang membuncah.
Jaejoong duduk di sebelah ranjang, dan Changmin langsung menyadari kehadirannya, tangannya membuka dan dengan lembut Jaejoong menyelipkan jemarinya kesana,
"Hai", sapa Jaejoong lembut.
Changmin tersenyum, lalu mengeryit karena gerakan sederhana itu ternyata menyakitinya,
"Ap..po", gumamnya susah payah.
Jaejoong tersenyum lembut, sebelah tangannya mengusap dada Changmin yang kurus, berhati-hati agar tidak menyentuh luka di dadanya,
"Mereka sudah melepas selang di tenggorokan dan dadamu",
Changmin mengeryit lagi,
"Berapa lama?", suaranya serak dan terpatah-patah,
"mwoga?"
"Tidur... Berapa lama?"
Jaejoong mendesah lembut,
"Dua tahun", jawabnya pelan. Dan langsung menerima tatapan penuh kesedihan dari Changmin, "Tapi dua tahun tidak terasa lama kok, yang penting kau bangun, kau berjuang dan aku bangga padamu." sambung Jaejoong cepat-cepat.
Changmin tampak sedikit lega mendengar penjelasan Jaejoong, tapi lalu dia mengernyit lagi,
"Eomma... Appa....?"
Jaejoong menggenggam tangan Changmin erat-erat,
"Mereka meninggal pada saat kecelakaan itu Changmin-ah."
Dan hati Jaejoong bagaikan diremas-remas ketika melihat Changmin memejamkan mata dan menangis, dengan lembut diusapnya air mata Changmin, dikecupnya pipi namja itu yang pucat dan tirus,
"Tapi aku yakin mereka sudah tenang disana. Mereka pasti bahagia sekarang, mengetahui kau sudah sadar."
Changmin membuka matanya dan menatap Jaejoong lembut,
"Mian."
"Wae?" Jaejoong mengernyit.
"Karena... Kau... Ditinggal..sendiri..."
Air mata ikut mengalir di pipi Jaejoong,
"Gwenchana, lihat? Aku sehat dan baik-baik saja. Aku bertahan untukmu. Dan sekarang kau yang harus berjuang untukku, untuk kita, kau harus berjuang untuk pulih lagi, bersamaku."
Changmin mengangguk dan memejamkan mata, percakapan singkat itu membuatnya begitu kelelahan,
Dengan lembut Jaejoong mengusap rambut Changmin,
"Istirahatlah Changmin, tidurlah, aku akan ada saat kau terlelap, aku akan ada saat kau bangun lagi. Jalja"
Dengan lembut Jaejoong terus mengusap rambut Changmin sampai nafas namja itu berubah teratur dan tertidur pulas.
"Dia kuat, dia akan baik-baik saja."
Suara dari arah pintu yang terdengar tiba-tiba itu mengejutkan Jaejoong, dia menoleh dan mendapati Junsu sudah berdiri di sana, entah sejak berapa lama.
"Kim Uisa?"
Junsu tersenyum dan melangkah mendekat,
"Yah kau pasti tidak menduga kedatanganku, aku kesini bersama seseorang." Junsu mengedikkan kepalanya ke arah pintu, Jaejoong mengikuti arah pandangan Junsu dan wajahnya memucat melihat Yoochun berdiri di sana, tidak melangkah masuk, hanya berdiri di ambang pintu dengan ragu-ragu.
"Dia datang untuk minta maaf." jelas Junsu lembut begitu melihat ekspresi takut Jaejoong, "dia sudah meminta maaf kepada Yunho dan Yunho mengusirnya, menyuruhnya meminta maaf padamu karena kaulah yang dilukainya."
Yunho. Nama itu melintas di benak Jaejoong. Yunho dan pernyataan cintanya. Tiba-tiba dada Jaejoong terasa penuh, tapi lalu dia mengernyit. Tidak, dia harus membunuh perasaan apapun itu yang muncul untuk Yunho. Dia harus fokus kepada Changmin,
"Mungkin kita bisa berbicara di luar?" Junsu berucap setengah berbisik, melirik ke Changmin yang sedang tertidur pulas.
Jaejoong mengangguk mengikuti dokter Junsu sampai ke ujung lorong, dengan diam-diam Yoochun mengikuti mereka.
"Mian," gumam Yoochun ketika mereka sudah ada di lorong yang sepi, dia mengeryit sedikit ketika melihat bahwa Jaejoong menjaga jarak kepadanya, sedikit berlindung di belakang Junsu, terlihat takut kepadanya.
Yoochun mengusap rambutnya penuh perasaan bersalah, "aku sendiri tak tahu setan apa yang menghinggapiku saat itu, aku salah paham dan berbuat fatal... Mungkin aku memang pantas menerima luka-luka akibat semua pukulan ini...." Yoochun mencoba menatap Jaejoong selembut mungkin, menunjukkan ketulusannya sebesar mungkin agar Jaejoong yakin,
"Jebal jangan takut kepadaku Jaejoong-shi, mianhe, jeongmal, aku malu."
Kata-kata itu merasuk ke dalam jiwa Jaejoong, dia menatap namja di depannya ini. Dia memang tidak terlalu akrab dengan pengacara Yunho ini, mereka berinteraksi hanya kalau perlu dan kebanyakan Yoochun hanya berinteraksi dengan Yunho, mengabaikannya. Tetapi sekarang namja ini terlihat begitu tulus, tulus dan berantakan, dengan memar di mana-mana, meskipun tidak mengurangi ketampanannya.
Jaejoong mencoba menganguk dan memunculkan senyum kecil meskipun dia masih menjaga jarak,
"Ne", jawabnya pelan.
Yoochun menatap Jaejoong dalam-dalam, mencari kepastian di sana, dan yang dilihat di mata Jaejoong adalah ketulusan,
"Aku dimaafkan?" tanyanya pelan.
Jaejoong akhirnya tersenyum lepas,
"Ne."
Dengan lembut Yoochun membalas senyuman Jaejoong,
"Sekarang aku tahu kenapa hati Yunho yang keras itu bisa melumer menjadi begitu lembut." gumamnya pelan, membuat pipi Jaejoong merona.
Dengan lega Junsu menarik napas panjang,
"Kalau begini masalah sudah selesai," Junsu menoleh ke arah Yoochun, "nah Yoochun bisakah kau ke tempat lain dulu? Aku ingin berbicara berdua dengan Jaejoong, percakapan dokter dengan keluarga pasien, kau tahu."
Yoochun meringis dengan pengusiran itu, lalu mengangguk,
"Oke, telpon aku kalau kalian sudah selesai." gumamnya dan membalikkan tubuh melangkah pergi setengah diseret mengingat kondisinya yang babak belur setelah dihajar habis-habisan.
Mereka berdua menatap kepergian Yoochun dan Junsu tersenyum,
"Dia sangat menyesal kau tahu."
Jaejoong mengangguk,
"Saya mengerti," lalu Jaejoong menatap Junsu dengan penuh ingin tahu, "Anda ingin berbicara tentang apa kepada saya?" kecemasan tampak terdengar dari suara Jaejoong, apakah terjadi sesuatu dengan Changmin?
Junsu tersenyum mencoba menenangkan Jaejoong,
"Tenang saja, Changmin-shi akan baik-baik saja. Aku sudah berbicara dengan dokter yang menangani Changmin, dia bilang Changmin bisa kembali pulih meski proses pemulihannya bisa berlangsung lama," dengan lembut Junsu menggenggam tangan Jaejoong,
"Jaejoong-shi apakah dokter sudah memberitahukan kepadamu tentang kemungkinan.... Kemungkinan bahwa Changmin bisa lumpuh selamanya?"
Jaejoong mengangguk, tidak tampak terkejut,
"Pada saat Changmin jatuh koma pun, dokter sudah memberitahukan kemungkinan itu kepada saya, dokter bilang kalau meskipun nanti Changmin sadar, dia bisa lumpuh selamanya."
"Tapi kemungkinannya tidak seratus persen, masih ada harapan 20 persen bahwa Changmin bisa berjalan lagi kalau dia ada di tangan yang tepat....."
"Maksud dokter?", Jaejoong mengernyitkan keningnya,
"Maksudku, aku merekomendasikan diriku untuk merawat Changmin, kau tahu aku sedang mendalami spesialisasi pemulihan tulang dan saraf, jadi aku bisa merawat Changmin dengan baik..... Nanti ketika dia sudah boleh keluar dari rumah sakit, Changmin harus terus menjalani terapi dengan begitu masih ada kemungkinan dia bisa berjalan lagi."
"Apakah.... Apakah Anda diminta Yunho melakukannya?" Jaejoong menatap Junsu sedikit curiga. Kebaikan hati yeoja cantik di depannya ini tampak diluar dugaan, apakah Yunho memaksa Junsu menawarkan ini kepadanya?
Junsu mengangkat bahu dan tersenyum lagi,
"Yunho memintaku memang, tapi bukan itu alasan aku ingin merawat Changmin-shi," Junsu menepuk pundak Jaejoong hangat, "Kau tahu almarhum suamiku.... Dia meninggal dalam kecelakaan beruntun di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan kedua orang tuamu dan melukai changmin."
"Ya Tuhan", Jaejoong menutup mulutnya dengan jemarinya, terkejut,
Junsu tersenyum, "dunia ini sempit bukan? Kadang kebetulan-kebetulan yang terjadi sering membuatku bertanya-tanya," tatapan Junsu berubah serius, "tapi sungguh Jaejoong-shi, kondisi Changmin ini kupandang sebagai kesempatan kedua,
“aku tidak bisa merawat suamiku pada saat itu, tapi kurasa Tuhan memberiku kesempatan untuk merawat korban yang selamat dari kecelakaan yang sama, itupun kalau kau mengizinkan."
Jaejoong menganggukkan kepalanya, terharu,
"Iya Uisa, saya akan senang dan lega sekali menyerahkan perawatan Changmin di tangan uisa."
.
.
.
.
.
To Be Continue
Saki update SdA lagi
 ye.....
Untuk Chap 20 ini, Saki persembahkan untuk tamu Saki yang paling cantik, dan paling panjang kalo komen(?)
Jaena... si anonim yang sekarang sudah tobat (?)
Saegil chukae hamnida ne Un... traktirannya buat Saki mana?
Saki minta Jaejoong oppa di transfer ke malang ne? akomodasi Saki tanggung deh (tidur di rumah Saki, tapi Jae oppa yang masakin Saki) hehehe
wish you get and be the best...
Saranghae Jaena (teriak bareng Jae oppa)
muachh....

8 comments:

  1. Jaenna ♥3:13 PM

    Hahahaaa.. siapa yg ultah hari ini.. ade2 ajah nih Saki...oke..oke.. gumawwo nee.. nomu2 Gumawoo. .kkekeke.
    Jae oppa lg sibuk bwt drama barubya.. jgankan masak..ketemuan ama yunho aja jd jarang..#lho.
    Jd klo d transfer ke malang ntr malah saki ga jd bikin ff dan malah asik pelototin jae oppa latiahan jadi preman.. hohoho

    Klo di dunia nyata mungkin bnr kt junsu.. yunho itu ibarat pelampiasan smentra bwt jj..kyny klo posis nya nyata org bakal milih SETIA. But this is just story..yg d perlukan untuk mengolah emosi. Yoosudahlah...kt liat sejauh mana keteguhan jae.

    Last.. nado Saranghae Saki (teriak baren Yunyun)

    ReplyDelete
  2. oh Jae,,, jgn buang perasaanmu ma Yun. tapi dipupuk biar tumbuh dgn baik. #elahhhhh

    Junsu mo ngerawat Min ?? ada 'udang dibalik bakwan' kah ???

    tapi aq mlah mikir klo Min mending ma Jun chan aja

    "MINSU,,,MINSU,,,MINSU" #tendangUchun

    Tinggal nunggu reaksi Min klo tau ttg YunJae.

    fighting Saki !!!!!!

    ReplyDelete
  3. Sulit bagi Jae utk memilih. Disatu sisi Changmin butuh Jae tp disisi lain Jae mulai jatuh cinta dg Yunho. Rumit

    ReplyDelete
  4. Di saat jae baru sadar klo dia cinta sama yun
    jae harus di hadapkan pada pilihan yang sulit

    tapi aku yakin hati jae cuma buat yun kan
    tinggal nunggu gimana akhirnya changmin tau tentang hubungan yunjae selama ini
    secara yun masih belum mau ngelepasin jae

    ReplyDelete
  5. Anonymous5:42 PM

    jangan" junsu jatuh cinta sama changmin nich ?????

    oh si yunho plustasi
    #hohohohoh

    semiga cepet kelar ini ff ya sudah kebelet pengen liat yunjae nc 'an lagi

    #tabokpakeember

    saki update lagi pleaseeee

    ReplyDelete
  6. Anonymous11:45 PM

    Yunho masih mau pertahanin jae, aku suka hal tsb itu membuat yunho terlihat sejati bukan psikopat walaupun msh sedikit maksain supaya jeje balik sama dia. aduh adegan changmin tuh rasanya menyentuh bgt, gak kebayang disaat lemahnya dia dgn kondisi begitu berjuang untuk sembuh buat jeje, tiba" hrs terima kenyataan jeje rela melakukan perjanjian sama yunho demi uang operasi changmin, dan gak kebayang aja nanti jeje galau milih changmin atau yunho. jujur aku nyesek bgt sama changmin T_T pas masuk di chapter ini lagunya yg keputer JYJ - W, kayaknya cocok aja jd back sound..
    Saki unnie, Daebak lah!! #retno

    ReplyDelete
  7. huaaa akhirnya ada kolombwt coment
    min sadar disaat yg gk tepat
    pdhl jae td hampir aja mw nerima yun lgi

    ReplyDelete
  8. Junsu bener2 baik hati..
    Kl Changmin sembuh, Jaejae makin gampang ninggalinnya & balik lg ke Yunho. /mian changmin ah/

    ReplyDelete