Yunho mengernyit melihat senyuman itu. Senyuman itu bagaikan pisau yang menusuk hatinya, senyuman yang diberikan Jaejoong ketika membayangkan namja lain, ketika membayangkan Changmin.
“Bagus,” gumamnya datar, kemudian menatap Jaejoong
lembut, “mungkin kita harus melakukan pengaturan kembali dengan perkembangan
yang mendadak ini, tetapi aku tidak mau mengganggumu dulu, kau pasti ingin
fokus dulu dengan kondisi Changmin... jadi kupikir aku akan kembali lagi saja
nanti.”
“Gomapta Yun.” akhirnya Jaejoong bisa berkata-kata,
pelan.
Yunho tersenyum miring,
“Aku meminta maaf, dan kau malah menjawabnya dengan
ucapan terima kasih, kau memang aneh Boo.” dengan hati-hati Yunho mendekat,
lalu setelah yakin bahwa Jaejoong tak akan menjauh, dia merengkuh Jaejoong ke
dalam pelukannya,
“Ingat kata-kataku tadi.” bisiknya lembut, lalu
menunduk dan memberikan Jaejoong sebuah ciuman yang singkat tetapi menggetarkan
kepada Jaejoong.
Dan pergilah Yunho, meninggalkan Jaejoong yang
masih berdiri terpaku, memegangi bibirnya yang terasa hangat, bekas ciuman
Yunho.
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy
Agatha
"Dia sadar." Yunho menyesap minumannya
sambil berdiri terpaku menatap ke pemandangan dari jendela lantai atas
kantornya.
Junsu, yang masih bersama Yoochun hanya diam
terpaku. Yunho sudah menceritakan semuanya kepada mereka tadi, tentang sadarnya
Changmin dari komanya. Dan sekarang namja itu hanya terdiam dan mengulang-ulang
kata 'dia sadar' 'dia sadar' sambil menatap keluar.
Junsu menarik napas mulai tak sabar, sedangkan
Yoochun hanya mengetuk-ketukkan tanggannya di lutut. Yunho masih belum
menunjukkan tanda-tanda memaafkannya jadi dia memilih diam dan tidak mengatakan
apa-apa.
"Kurasa karena perkembangan baru yang tidak
terduga ini, kau akhirnya memutuskan untuk melepaskan Jaejoong?"
Pertanyaan Junsu itu membuat Yunho mendadak memutar
tubuhnya dengan tajam menghadap Junsu dan menatapnya dengan mata menyala-nyala.
"Dia belum memilih," gumam Yunho setengah
menggeram. "detik terakhir sebelumnya, dia menerimaku dalam pelukannya,
membalas pelukanku dan aku yakin akan menerima ajakanku untuk pulang
bersamaku."
"Sudahlah Yun, sekarang kan tunangannya yang
setia ditungguinya selama dua tahun sudah sadar, kau tidak bisa......"
tanpa sadar Yoochun bersuara memberikan pendapat seperti kebiasaannya
sebelumnya. Tapi langsung berhenti mendadak ketika menerima tatapan tajam penuh
permusuhan dari Yunho,
"Aku....aku hanya mencoba memaparkan kenyataan
di depanmu." suara Yoochun hilang tertelan karena tatapan Yunho makin
tajam.
Junsu menghela napas sekali lagi,
"Yoochun benar, Jung. sadarnya Changmin ini
bukankah merupakan tujuan hidup Jaejoong selama ini? Biarkan mereka berbahagia
Yunho, mereka pantas mendapatkannya setelah tahun-tahun penuh penantian dan
ketidakpastian yang menyiksa."
"Shirro!" Yunho tetap bersikeras,
"aku tidak bisa menyerah begitu saja dan membiarkan Jaejoong salah
memilih. Dia mencintaiku. Perasaannya pada Changmin mungkin hanya
kasihan."
"Kenapa kau tidak bisa berpikir kalau
perasaannya kepadamulah yang mungkin hanya perasaan sesaat karena keadaan yang
dipaksakan? Kau pernah dengar apa itu Stockholm Syndrome?" sela Junsu
jengkel.
Yunho tercenung, tentu saja dia tahu apa itu
Stockholm Syndrome, dan menyakitkan kalau menyadari bahwa perasaan Jaejoong
kepadanya mungkin ditumbuhkan oleh situasi keterpaksaan. Dengan gusar diusapnya
rambutnya,
"Aku akan menanyakan langsung padanya. Nanti.
Setelah kondisi tunangannya lebih baik."
Junsu tidak berkata-kata. Dan Yoochun hanya diam,
tak tahu harus bicara apa lagi.
.
.
.
.
Dua hari kemudian, Jaejoong berdiri di depan
ruangan perawatan Changmin dengan cemas, tangannya menggenggam tangan Boa
setengah menangis. Matanya semakin berkaca-kaca ketika mendengar suara teriakan
dari dalam. Teriakan Changmin,
"Uisa...." hati Jaejoong terasa di
iris-iris, menyadari bahwa suara pertama yang dikeluarkan Changmin setelah 2
tahun adalah teriakan kesakitan.
"Gwenchana Jae, itu pertanda bagus, Changmin
memang kesakitan, mereka sedang melepas selang di tenggorokan dan di dadanya,
tetapi kalau Changmin bisa mengeluarkan suara, itu pertanda kondisinya sudah
semakin membaik." Boa menggenggam tangan Jaejoong, membagikan kekuatannya.
Suara teriakan itu terdengar lagi, begitu serak
hingga Jaejoong hampir tak mengenalinya. Air matanya mulai menetes satu-satu
tanpa dapat ditahannya,
"Berapa lama lagi suster?" menunggu di
luar seperti ini terasa bagaikan siksaan yang paling mengerikan.
"Sebentar lagi, nanti mereka akan
mengizinkanmu menemuinya," dengan lembut Boa mengusap-usap Jaejoong,
"dia harus melalui ini Jaejoong, dan nanti akan banyak kesakitan lagi,
tapi ini proses penyembuhan, dia pasti akan sembuh."
Jaejoong menganggukkan kepalanya, memejamkan
matanya, menunggu.
Penantian itu terasa begitu lama, lama sekali
sampai tim dokter dan perawat keluar dan mengizinkan Jaejoong masuk,
Dengan hati-hati, Jaejoong melangkah masuk ke
ruangan perawatan Changmin. Ruangan yang sangat akrab, sangat dikenalinya.
Tetapi sekarang berbeda, Changminnya tidak tidur. Changminnya tidak menutup
mata, dia bangun, sadar dan hidup. Hati Jaejoong sesak oleh euforia yang
membuncah.
Jaejoong duduk di sebelah ranjang, dan Changmin
langsung menyadari kehadirannya, tangannya membuka dan dengan lembut Jaejoong
menyelipkan jemarinya kesana,
"Hai", sapa Jaejoong lembut.
Changmin tersenyum, lalu mengeryit karena gerakan
sederhana itu ternyata menyakitinya,
"Ap..po", gumamnya susah payah.
Jaejoong tersenyum lembut, sebelah tangannya
mengusap dada Changmin yang kurus, berhati-hati agar tidak menyentuh luka di
dadanya,
"Mereka sudah melepas selang di tenggorokan
dan dadamu",
Changmin mengeryit lagi,
"Berapa lama?", suaranya serak dan
terpatah-patah,
"mwoga?"
"Tidur... Berapa lama?"
Jaejoong mendesah lembut,
"Dua tahun", jawabnya pelan. Dan langsung
menerima tatapan penuh kesedihan dari Changmin, "Tapi dua tahun tidak
terasa lama kok, yang penting kau bangun, kau berjuang dan aku bangga
padamu." sambung Jaejoong cepat-cepat.
Changmin tampak sedikit lega mendengar penjelasan
Jaejoong, tapi lalu dia mengernyit lagi,
"Eomma... Appa....?"
Jaejoong menggenggam tangan Changmin erat-erat,
"Mereka meninggal pada saat kecelakaan itu
Changmin-ah."
Dan hati Jaejoong bagaikan diremas-remas ketika
melihat Changmin memejamkan mata dan menangis, dengan lembut diusapnya air mata
Changmin, dikecupnya pipi namja itu yang pucat dan tirus,
"Tapi aku yakin mereka sudah tenang disana.
Mereka pasti bahagia sekarang, mengetahui kau sudah sadar."
Changmin membuka matanya dan menatap Jaejoong
lembut,
"Mian."
"Wae?" Jaejoong mengernyit.
"Karena... Kau... Ditinggal..sendiri..."
Air mata ikut mengalir di pipi Jaejoong,
"Gwenchana, lihat? Aku sehat dan baik-baik
saja. Aku bertahan untukmu. Dan sekarang kau yang harus berjuang untukku, untuk
kita, kau harus berjuang untuk pulih lagi, bersamaku."
Changmin mengangguk dan memejamkan mata, percakapan
singkat itu membuatnya begitu kelelahan,
Dengan lembut Jaejoong mengusap rambut Changmin,
"Istirahatlah Changmin, tidurlah, aku akan ada
saat kau terlelap, aku akan ada saat kau bangun lagi. Jalja"
Dengan lembut Jaejoong terus mengusap rambut
Changmin sampai nafas namja itu berubah teratur dan tertidur pulas.
"Dia kuat, dia akan baik-baik saja."
Suara dari arah pintu yang terdengar tiba-tiba itu
mengejutkan Jaejoong, dia menoleh dan mendapati Junsu sudah berdiri di sana,
entah sejak berapa lama.
"Kim Uisa?"
Junsu tersenyum dan melangkah mendekat,
"Yah kau pasti tidak menduga kedatanganku, aku
kesini bersama seseorang." Junsu mengedikkan kepalanya ke arah pintu,
Jaejoong mengikuti arah pandangan Junsu dan wajahnya memucat melihat Yoochun
berdiri di sana, tidak melangkah masuk, hanya berdiri di ambang pintu dengan
ragu-ragu.
"Dia datang untuk minta maaf." jelas Junsu
lembut begitu melihat ekspresi takut Jaejoong, "dia sudah meminta maaf
kepada Yunho dan Yunho mengusirnya, menyuruhnya meminta maaf padamu karena
kaulah yang dilukainya."
Yunho. Nama itu melintas di benak Jaejoong. Yunho
dan pernyataan cintanya. Tiba-tiba dada Jaejoong terasa penuh, tapi lalu dia
mengernyit. Tidak, dia harus membunuh perasaan apapun itu yang muncul untuk
Yunho. Dia harus fokus kepada Changmin,
"Mungkin kita bisa berbicara di luar?" Junsu
berucap setengah berbisik, melirik ke Changmin yang sedang tertidur pulas.
Jaejoong mengangguk mengikuti dokter Junsu sampai
ke ujung lorong, dengan diam-diam Yoochun mengikuti mereka.
"Mian," gumam Yoochun ketika mereka sudah
ada di lorong yang sepi, dia mengeryit sedikit ketika melihat bahwa Jaejoong
menjaga jarak kepadanya, sedikit berlindung di belakang Junsu, terlihat takut
kepadanya.
Yoochun mengusap rambutnya penuh perasaan bersalah,
"aku sendiri tak tahu setan apa yang menghinggapiku saat itu, aku salah
paham dan berbuat fatal... Mungkin aku memang pantas menerima luka-luka akibat
semua pukulan ini...." Yoochun mencoba menatap Jaejoong selembut mungkin,
menunjukkan ketulusannya sebesar mungkin agar Jaejoong yakin,
"Jebal jangan takut kepadaku Jaejoong-shi, mianhe,
jeongmal, aku malu."
Kata-kata itu merasuk ke dalam jiwa Jaejoong, dia
menatap namja di depannya ini. Dia memang tidak terlalu akrab dengan pengacara
Yunho ini, mereka berinteraksi hanya kalau perlu dan kebanyakan Yoochun hanya
berinteraksi dengan Yunho, mengabaikannya. Tetapi sekarang namja ini terlihat
begitu tulus, tulus dan berantakan, dengan memar di mana-mana, meskipun tidak
mengurangi ketampanannya.
Jaejoong mencoba menganguk dan memunculkan senyum
kecil meskipun dia masih menjaga jarak,
"Ne", jawabnya pelan.
Yoochun menatap Jaejoong dalam-dalam, mencari
kepastian di sana, dan yang dilihat di mata Jaejoong adalah ketulusan,
"Aku dimaafkan?" tanyanya pelan.
Jaejoong akhirnya tersenyum lepas,
"Ne."
Dengan lembut Yoochun membalas senyuman Jaejoong,
"Sekarang aku tahu kenapa hati Yunho yang
keras itu bisa melumer menjadi begitu lembut." gumamnya pelan, membuat
pipi Jaejoong merona.
Dengan lega Junsu menarik napas panjang,
"Kalau begini masalah sudah selesai," Junsu
menoleh ke arah Yoochun, "nah Yoochun bisakah kau ke tempat lain dulu? Aku
ingin berbicara berdua dengan Jaejoong, percakapan dokter dengan keluarga
pasien, kau tahu."
Yoochun meringis dengan pengusiran itu, lalu
mengangguk,
"Oke, telpon aku kalau kalian sudah
selesai." gumamnya dan membalikkan tubuh melangkah pergi setengah diseret
mengingat kondisinya yang babak belur setelah dihajar habis-habisan.
Mereka berdua menatap kepergian Yoochun dan Junsu
tersenyum,
"Dia sangat menyesal kau tahu."
Jaejoong mengangguk,
"Saya mengerti," lalu Jaejoong menatap Junsu
dengan penuh ingin tahu, "Anda ingin berbicara tentang apa kepada
saya?" kecemasan tampak terdengar dari suara Jaejoong, apakah terjadi
sesuatu dengan Changmin?
Junsu tersenyum mencoba menenangkan Jaejoong,
"Tenang saja, Changmin-shi akan baik-baik
saja. Aku sudah berbicara dengan dokter yang menangani Changmin, dia bilang
Changmin bisa kembali pulih meski proses pemulihannya bisa berlangsung
lama," dengan lembut Junsu menggenggam tangan Jaejoong,
"Jaejoong-shi apakah dokter sudah
memberitahukan kepadamu tentang kemungkinan.... Kemungkinan bahwa Changmin bisa
lumpuh selamanya?"
Jaejoong mengangguk, tidak tampak terkejut,
"Pada saat Changmin jatuh koma pun, dokter
sudah memberitahukan kemungkinan itu kepada saya, dokter bilang kalau meskipun
nanti Changmin sadar, dia bisa lumpuh selamanya."
"Tapi kemungkinannya tidak seratus persen,
masih ada harapan 20 persen bahwa Changmin bisa berjalan lagi kalau dia ada di
tangan yang tepat....."
"Maksud dokter?", Jaejoong mengernyitkan
keningnya,
"Maksudku, aku merekomendasikan diriku untuk
merawat Changmin, kau tahu aku sedang mendalami spesialisasi pemulihan tulang
dan saraf, jadi aku bisa merawat Changmin dengan baik..... Nanti ketika dia
sudah boleh keluar dari rumah sakit, Changmin harus terus menjalani terapi
dengan begitu masih ada kemungkinan dia bisa berjalan lagi."
"Apakah.... Apakah Anda diminta Yunho
melakukannya?" Jaejoong menatap Junsu sedikit curiga. Kebaikan hati yeoja
cantik di depannya ini tampak diluar dugaan, apakah Yunho memaksa Junsu
menawarkan ini kepadanya?
Junsu mengangkat bahu dan tersenyum lagi,
"Yunho memintaku memang, tapi bukan itu alasan
aku ingin merawat Changmin-shi," Junsu menepuk pundak Jaejoong hangat,
"Kau tahu almarhum suamiku.... Dia meninggal dalam kecelakaan beruntun di
jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan kedua orang tuamu dan melukai
changmin."
"Ya Tuhan", Jaejoong menutup mulutnya
dengan jemarinya, terkejut,
Junsu tersenyum, "dunia ini sempit bukan?
Kadang kebetulan-kebetulan yang terjadi sering membuatku bertanya-tanya,"
tatapan Junsu berubah serius, "tapi sungguh Jaejoong-shi, kondisi Changmin
ini kupandang sebagai kesempatan kedua,
“aku tidak bisa merawat suamiku pada saat itu, tapi
kurasa Tuhan memberiku kesempatan untuk merawat korban yang selamat dari
kecelakaan yang sama, itupun kalau kau mengizinkan."
Jaejoong menganggukkan kepalanya, terharu,
"Iya Uisa, saya akan senang dan lega sekali
menyerahkan perawatan Changmin di tangan uisa."
.
.
.
.
.
To Be Continue
Saki update SdA lagiye.....
Untuk Chap 20 ini, Saki persembahkan untuk tamu Saki yang paling cantik, dan paling panjang kalo komen(?)
Jaena... si anonim yang sekarang sudah tobat (?)
Saegil chukae hamnida ne Un... traktirannya buat Saki mana?
Saki minta Jaejoong oppa di transfer ke malang ne? akomodasi Saki tanggung deh (tidur di rumah Saki, tapi Jae oppa yang masakin Saki) hehehe
wish you get and be the best...
Saranghae Jaena (teriak bareng Jae oppa)
muachh....

Hahahaaa.. siapa yg ultah hari ini.. ade2 ajah nih Saki...oke..oke.. gumawwo nee.. nomu2 Gumawoo. .kkekeke.
ReplyDeleteJae oppa lg sibuk bwt drama barubya.. jgankan masak..ketemuan ama yunho aja jd jarang..#lho.
Jd klo d transfer ke malang ntr malah saki ga jd bikin ff dan malah asik pelototin jae oppa latiahan jadi preman.. hohoho
Klo di dunia nyata mungkin bnr kt junsu.. yunho itu ibarat pelampiasan smentra bwt jj..kyny klo posis nya nyata org bakal milih SETIA. But this is just story..yg d perlukan untuk mengolah emosi. Yoosudahlah...kt liat sejauh mana keteguhan jae.
Last.. nado Saranghae Saki (teriak baren Yunyun)
oh Jae,,, jgn buang perasaanmu ma Yun. tapi dipupuk biar tumbuh dgn baik. #elahhhhh
ReplyDeleteJunsu mo ngerawat Min ?? ada 'udang dibalik bakwan' kah ???
tapi aq mlah mikir klo Min mending ma Jun chan aja
"MINSU,,,MINSU,,,MINSU" #tendangUchun
Tinggal nunggu reaksi Min klo tau ttg YunJae.
fighting Saki !!!!!!
Sulit bagi Jae utk memilih. Disatu sisi Changmin butuh Jae tp disisi lain Jae mulai jatuh cinta dg Yunho. Rumit
ReplyDeleteDi saat jae baru sadar klo dia cinta sama yun
ReplyDeletejae harus di hadapkan pada pilihan yang sulit
tapi aku yakin hati jae cuma buat yun kan
tinggal nunggu gimana akhirnya changmin tau tentang hubungan yunjae selama ini
secara yun masih belum mau ngelepasin jae
jangan" junsu jatuh cinta sama changmin nich ?????
ReplyDeleteoh si yunho plustasi
#hohohohoh
semiga cepet kelar ini ff ya sudah kebelet pengen liat yunjae nc 'an lagi
#tabokpakeember
saki update lagi pleaseeee
Yunho masih mau pertahanin jae, aku suka hal tsb itu membuat yunho terlihat sejati bukan psikopat walaupun msh sedikit maksain supaya jeje balik sama dia. aduh adegan changmin tuh rasanya menyentuh bgt, gak kebayang disaat lemahnya dia dgn kondisi begitu berjuang untuk sembuh buat jeje, tiba" hrs terima kenyataan jeje rela melakukan perjanjian sama yunho demi uang operasi changmin, dan gak kebayang aja nanti jeje galau milih changmin atau yunho. jujur aku nyesek bgt sama changmin T_T pas masuk di chapter ini lagunya yg keputer JYJ - W, kayaknya cocok aja jd back sound..
ReplyDeleteSaki unnie, Daebak lah!! #retno
huaaa akhirnya ada kolombwt coment
ReplyDeletemin sadar disaat yg gk tepat
pdhl jae td hampir aja mw nerima yun lgi
Junsu bener2 baik hati..
ReplyDeleteKl Changmin sembuh, Jaejae makin gampang ninggalinnya & balik lg ke Yunho. /mian changmin ah/